Ada satu hal yang tidak kusukai dari kamu dan paling sering kau ulangi,
Tiap hari kamu tiap hari terus hanya mendengar kau mengeluh dan mengeluh...
Apa kamu bisa lebih rileks saja daripada kamu mengeluh dan mengeluh,
Tenang, tenang, aku masih dengan kamu!
Eh, eh, kok gitu sih, loh kok -tiap hari- marah2, jangan gitu dunk sayank...
***
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Berpasangan adalah saling melengkapi. Menutup kurangku dengan kelebihanku, begitu juga sebaliknya.
Namun jika kau hanya bisa menuntut karena kekuranganku, sedang aku dituntut untuk mengerti dan menerima kekuranganmu, adil kah?
Aku tak ingin merunut kekurangan orang yang kusayang, berkaca dari segala kekurangan yang melekat pada diriku sendiri. Seyogyianya, kau pun demikian.
Mencintai dan menyayangi adalah kesadaran pribadi. Bukan perintah dari diktator dengan jabatan kekasih yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang.
Memiliki seutuhnya tak selalu berarti mengungkung kebebasan seseorang dengan mengharuskan ia memilih antara pasangan ataukah teman-teman di sekelilingnya.
Kau berkata aku egois, tapi tak pernah merasakah bahwa justru kamu lah yang lebih egois dengan sifat-sifat Maha benarmu dan Maha salahku. Aku tak ingin saling menuding. Hanya, -tolong- buka matamu, mata yang berada dalam hati dan batinmu bahwa aku juga seorang manusia, dan hanya seorang manusia, yang juga bisa merasakan sakit hati, perih, tangis, dan semua yang tertoreh dalam sanubari. Bukan kau saja.
Kukira sudah terlampau sering aku menuliskan ini, hingga jemariku lelah tuk merangkai kata demi kata. Karena kau tak juga mengerti, paling tidak menyadari, apalagi berubah menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Merasa selalu benar, sadarilah kau tak selamanya benar.
Mengalah, aku bukannya salah.
Jika aku selalu saja keliru di matamu, lalu apa yang benar menurutmu juga tentu benar bagiku? Sebegitu naif kah?
Wednesday, December 24, 2008
Renungan Di Titik Nol
Hidup. Menyajikan aneka senang, sedih, bahagia dan nestapa dalam mangkuk besar yang teraduk menjadi satu. Kadang terasa asin garam, tergigit bongkahan kecil asamnya dan tak jarang menelan rasa manis. Tak ada yang tahu kapan asin, manis atau asam itu akan dikecap oleh lidah. Karena disaat bersamaan dua bahkan tiga rasa itu dapat bersamaan terjadi.
Kebanyakan orang bilang, syukurilah hidup, apapun yang tengah kau jalani. Dan sekali lagi, seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pula, bahwa teori lebih mudah daripada prakteknya.
Berada di titik nol dalam hidup, siapapun (baca: mayoritas), pasti pernah mengalami. Dan antisipasinya pun beragam. Ada yang lari ke hal-hal negatif, juga ada yang bisa bangkit dari keterpurukan dengan sisa-sisa semangat yang terkumpulkan. Sekali lagi, hidup selalu menghidangkan pilihan dengan bermacam rasa menghampiri kerongkongan dan berimbas ke seluruh tubuh.
Aku. Berada di titik nol.
Kebanyakan orang bilang, syukurilah hidup, apapun yang tengah kau jalani. Dan sekali lagi, seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pula, bahwa teori lebih mudah daripada prakteknya.
Berada di titik nol dalam hidup, siapapun (baca: mayoritas), pasti pernah mengalami. Dan antisipasinya pun beragam. Ada yang lari ke hal-hal negatif, juga ada yang bisa bangkit dari keterpurukan dengan sisa-sisa semangat yang terkumpulkan. Sekali lagi, hidup selalu menghidangkan pilihan dengan bermacam rasa menghampiri kerongkongan dan berimbas ke seluruh tubuh.
Aku. Berada di titik nol.
Monday, December 8, 2008
It's Enough!!!
Sudah cukup selama hampir satu setengah tahun aku tak pernah sedikitpun dianggap olehmu!" hardikmu via pesan singkat. "Blogmu hanya sedikit berisi tentang aku!" imbuh sms berikutnya. " Facebook dan Friendsterku nggak kamu add lagi!" Topik jadi agak melenceng:)
"Nggak seperti yang lain yang selalu kamu tulis, yang selalu kamu anggap penting! Nggak kayak aku! Percuma satu setengah tahun hubungan kita!"
Bla bla bla hujan makian tentu saja tak berakhir sampai disini. Masih banyak jenis pesan singkat yang intinya sih masih seputar itu-itu saja yang kamu kirimkan padaku. Aku terhenyak! Sungguh, terkadang aku dibuat merenung, namun seperti biasa aku tak pernah memahami jalan pikirannya. Di matamu, di kepalamu, di pikiranmu dan mungkin juga di hatimu, aku selalu saja salah dan kamu selalu benar. Jika diibaratkan ujian, kamu dapat nilai seratus dan aku nol.
Tapi benarkah nilai seratusmu adalah nilai sempurna, sedangkan nilai nolku adalah sebuah ketidaklulusan karena kebodohanku? Yaa, mungkin aku bodoh, karena aku hanya diam.
Tapi tak pernah kah terfikir olehmu., atau setidaknya sedikit saja pernah terlintas dibenakmu akan arti kehadiranku disini, di kotamu, di kota yang jujur saja sangat tak kusukai untuk kukunjungi, bahkan kini -terpaksa, mau tak mau, suka tak suka- harus kupijak untuk kucari tempat bertapak dalam secercah hidupku. Tak pernah sadarkah kau untuk siapa semua itu kulakukan?
Aku diam. Berkali-kali aku diam dan coba mengertimu sembari berharap engkau akan pernah terbersit untuk menjadi sepertiku, berada di posisiku sekarang. Apa kita harus bertukar tubuh terlebih dahulu untuk bisa bertukar peran dan bertukar perasaan agar engkau bisa merasakan, setidaknya mencicipi bagaimana rasanya diperlakukan layaknya kau memperlakukanku selama ini.
Aku bukan robot tanpa hati nurani. Aku hanya seorang perempuan yang juga bisa merasa, meski aku lebih banyak memilih diam atas cercaan, makian, ketidakpuasanmu akan kekuranganku. Robot pun bisa rusak, tak ubahnya hati jika selalu dikikis oleh ketidaksediaanmu untuk menyisihkan hati menjadi sepertiku.
Aku menghargai semua diantara kita. Jika ditinjau ulang, waktu satu setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengecap sebuah hubungan dengan fikiran yang terlalu dangkal. Bagimu, lebih kah berarti intensitas tulisanku tentangmu di blog, FS dan FB yang tak lagi pernah kujamah, atau hal-hal lain diluar hal yang teramat penting dalam sebuah hubungan?
Kurasa bukan lagi waktunya berpikiran seperti remaja belasan. Namun aku juga tak akan -dan tak pernah memaksa untuk- memintamu mengerti pemikiranku, sudut pandangku, dan merasakan perasaanku. Jikalau memang ada aku di hatimu, semua kesadaran dan kedewasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu kuberlutut untuk meminta.
Satu setengah tahun tidaklah singkat, namun akan menjadi pendek jika tak kau pernah pelajari mencerna makna, bukan hanya menyerap keburukan dan kebobrokannya...
Love u
"Nggak seperti yang lain yang selalu kamu tulis, yang selalu kamu anggap penting! Nggak kayak aku! Percuma satu setengah tahun hubungan kita!"
Bla bla bla hujan makian tentu saja tak berakhir sampai disini. Masih banyak jenis pesan singkat yang intinya sih masih seputar itu-itu saja yang kamu kirimkan padaku. Aku terhenyak! Sungguh, terkadang aku dibuat merenung, namun seperti biasa aku tak pernah memahami jalan pikirannya. Di matamu, di kepalamu, di pikiranmu dan mungkin juga di hatimu, aku selalu saja salah dan kamu selalu benar. Jika diibaratkan ujian, kamu dapat nilai seratus dan aku nol.
Tapi benarkah nilai seratusmu adalah nilai sempurna, sedangkan nilai nolku adalah sebuah ketidaklulusan karena kebodohanku? Yaa, mungkin aku bodoh, karena aku hanya diam.
Tapi tak pernah kah terfikir olehmu., atau setidaknya sedikit saja pernah terlintas dibenakmu akan arti kehadiranku disini, di kotamu, di kota yang jujur saja sangat tak kusukai untuk kukunjungi, bahkan kini -terpaksa, mau tak mau, suka tak suka- harus kupijak untuk kucari tempat bertapak dalam secercah hidupku. Tak pernah sadarkah kau untuk siapa semua itu kulakukan?
Aku diam. Berkali-kali aku diam dan coba mengertimu sembari berharap engkau akan pernah terbersit untuk menjadi sepertiku, berada di posisiku sekarang. Apa kita harus bertukar tubuh terlebih dahulu untuk bisa bertukar peran dan bertukar perasaan agar engkau bisa merasakan, setidaknya mencicipi bagaimana rasanya diperlakukan layaknya kau memperlakukanku selama ini.
Aku bukan robot tanpa hati nurani. Aku hanya seorang perempuan yang juga bisa merasa, meski aku lebih banyak memilih diam atas cercaan, makian, ketidakpuasanmu akan kekuranganku. Robot pun bisa rusak, tak ubahnya hati jika selalu dikikis oleh ketidaksediaanmu untuk menyisihkan hati menjadi sepertiku.
Aku menghargai semua diantara kita. Jika ditinjau ulang, waktu satu setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengecap sebuah hubungan dengan fikiran yang terlalu dangkal. Bagimu, lebih kah berarti intensitas tulisanku tentangmu di blog, FS dan FB yang tak lagi pernah kujamah, atau hal-hal lain diluar hal yang teramat penting dalam sebuah hubungan?
Kurasa bukan lagi waktunya berpikiran seperti remaja belasan. Namun aku juga tak akan -dan tak pernah memaksa untuk- memintamu mengerti pemikiranku, sudut pandangku, dan merasakan perasaanku. Jikalau memang ada aku di hatimu, semua kesadaran dan kedewasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu kuberlutut untuk meminta.
Satu setengah tahun tidaklah singkat, namun akan menjadi pendek jika tak kau pernah pelajari mencerna makna, bukan hanya menyerap keburukan dan kebobrokannya...
Love u
Tuesday, December 2, 2008
Urusan Ranjang: Ketawa, kok malah Ngambek?
"Aku pulang!" cetus perempuanku. Mimik mukanya telah ditekuk dalam-dalam. Dengan cekatan ia mengenakan satu persatu pakaiannya, padahal sekian menit yang lalu kami telah "siap tempur". Aku hanya duduk termangu di tepi tempat tidur. Mencoba mencerna dimana letak "kesalahan fatal" yang kulakukan hingga membuyarkan apa yang kami ingin nikmati sebelumnya. Aku tak mengantarnya ke bawah seperti biasa. Kudengar derum motor keluar. Aku masih terpaku di sudut yang sama.
Alasan kemarahannya -bagiku- terbilang sepele dan nggak penting.
Tertawa. Yaa... Karena ketika aku baru saja menaiki tubuhnya, aku tertawa. Bukan karena menertawakan lekuk tubuhnya. Bukan juga karena ada sesuatu hal yang lucu. Aku tertawa karena sedari awal ia melucuti pakaiannya, mulai dari kancing bajunya yang susah sekali untuk dilepaskan, larangan-larangannya untuk tidak begini dan begitu ketika bercinta, serta saat ia bilang "Lalu... Lalu..." yang memicu tawaku. Siapa yang tidak akan tertawa jika hendak bercinta, ia malah bilang: Lalu... Apalagi... Terus..., seperti program acara memasak di tivi saja, menjelaskan step by step hidangan yang akan dibuat. Tapi ia terlanjur ngambek, tak bisa dibendung dan ditahan untuk segera enyah dari hadapanku. Malah tak mau mendengarkanku dan keukeuh pergi. Aku melepasnya, menyerah.
Ini bukan pertama kali ia pulang dengan masih menyisakan marah. Malah hampir tiap ia kemari, ada saja pertengkaran-pertengkaran kecil yang kemudian merembet. Selama ini aku selalu diam, mengalah menurut versiku. Pertimbanganku hanya satu, aku memutuskan untuk tinggal satu kota dengannya adalah demi hubungan yang lebih baik. Bukannya malah keseringan bertengkar seperti saat kami jauh dulu. Jauh dekat jadi tak ada beda jika salah satu dari kami tak berusaha mengekang ego masing-masing. Aku sadar betul, kami berdua sama-sama keras kepala. Ia sulung yang tak mau diatur dan aku bungsu yang tak mau kalah. Jika tetap pada pendirian masing-masing, maka habis cerita. Tak heran, selama disini aku mencoba untuk lebih sabar dan mengalah -dalam versiku- dibanding ke-temperamental-anku ketika kami LDR dulu.
Salahkah ada rinai tawa diatas tubuh yang akan berpacu dalam gelora? Bagiku, wajar saja. Tapi mungkin tak untuk buatmu.
***
Aku memang bukan orang yang romantis
Tutur kataku hampir tak pernah puitis
Perilakuku kerap kali garing abis
Namun dibalik semua kekuranganku yang membuatmu miris
Aku disini telah mencoba dan semampuku beri yang termanis
Bukan hanya barang saja
Cinta pun ada kadaluarsa
Meski tak tertera secara kasat mata
Namun aku berharap semoga
Disaat kebersamaan kita
Yang mungkin tak sepanjang usia
Persembahan hati dan jiwa
Tetap utuh adanya
Hingga waktu itu tiba
PS: Maaf ya, tulisan ini aku pajang juga. Tapi kalo setelah baca ini kamu nggak setuju, nanti aku hapus deh! Aniwei, kapan nih ngelanjutin pertempuran yang tertunda?
Alasan kemarahannya -bagiku- terbilang sepele dan nggak penting.
Tertawa. Yaa... Karena ketika aku baru saja menaiki tubuhnya, aku tertawa. Bukan karena menertawakan lekuk tubuhnya. Bukan juga karena ada sesuatu hal yang lucu. Aku tertawa karena sedari awal ia melucuti pakaiannya, mulai dari kancing bajunya yang susah sekali untuk dilepaskan, larangan-larangannya untuk tidak begini dan begitu ketika bercinta, serta saat ia bilang "Lalu... Lalu..." yang memicu tawaku. Siapa yang tidak akan tertawa jika hendak bercinta, ia malah bilang: Lalu... Apalagi... Terus..., seperti program acara memasak di tivi saja, menjelaskan step by step hidangan yang akan dibuat. Tapi ia terlanjur ngambek, tak bisa dibendung dan ditahan untuk segera enyah dari hadapanku. Malah tak mau mendengarkanku dan keukeuh pergi. Aku melepasnya, menyerah.
Ini bukan pertama kali ia pulang dengan masih menyisakan marah. Malah hampir tiap ia kemari, ada saja pertengkaran-pertengkaran kecil yang kemudian merembet. Selama ini aku selalu diam, mengalah menurut versiku. Pertimbanganku hanya satu, aku memutuskan untuk tinggal satu kota dengannya adalah demi hubungan yang lebih baik. Bukannya malah keseringan bertengkar seperti saat kami jauh dulu. Jauh dekat jadi tak ada beda jika salah satu dari kami tak berusaha mengekang ego masing-masing. Aku sadar betul, kami berdua sama-sama keras kepala. Ia sulung yang tak mau diatur dan aku bungsu yang tak mau kalah. Jika tetap pada pendirian masing-masing, maka habis cerita. Tak heran, selama disini aku mencoba untuk lebih sabar dan mengalah -dalam versiku- dibanding ke-temperamental-anku ketika kami LDR dulu.
Salahkah ada rinai tawa diatas tubuh yang akan berpacu dalam gelora? Bagiku, wajar saja. Tapi mungkin tak untuk buatmu.
***
Aku memang bukan orang yang romantis
Tutur kataku hampir tak pernah puitis
Perilakuku kerap kali garing abis
Namun dibalik semua kekuranganku yang membuatmu miris
Aku disini telah mencoba dan semampuku beri yang termanis
Bukan hanya barang saja
Cinta pun ada kadaluarsa
Meski tak tertera secara kasat mata
Namun aku berharap semoga
Disaat kebersamaan kita
Yang mungkin tak sepanjang usia
Persembahan hati dan jiwa
Tetap utuh adanya
Hingga waktu itu tiba
PS: Maaf ya, tulisan ini aku pajang juga. Tapi kalo setelah baca ini kamu nggak setuju, nanti aku hapus deh! Aniwei, kapan nih ngelanjutin pertempuran yang tertunda?
Friday, November 28, 2008
Cinta Sekonyong-Konyong Mak-Terrr...
Cinta...
Lagi-lagi ngebahas soal cinta dan memang tidak akan ada habisnya mengutak-atik kata dengan berjuta definisi, situasi, kondisi dan beragam hal lain yang melingkupinya namun tetap menjabarkan satu kesamaan makna, yaitu sebuah ketulusan, perasaan suci terhadap seseorang yang bermuara dari lubuk hati yang belum terjamah logika, akal pikiran, rasio yang perlahan mungkin menjadi racun terselubung menggoyahkan apa yang tumbuh dalam nurani.
Seorang sahabat -mungkin bisa kugarisbawahi sebagai saudara-, sebut saja namanya An, entah bagaimana ikhwal ceritanya, namun akhir-akhir ini ia sedang terkena panah asmara sebegitu dahsyatnya seakan menembus tulang.
Ia curhat tiap saat dan tiap detil cerita padaku. Malah aku tak menyangka ia akan begitu dalam memberi arti kehadiran perempuan yang dikenalnya hampir tujuh tahunan itu. Dulu, perempuan itu pernah menyatakan cinta, namun An menolaknya. Kini, kondisi berbalik, An teramat menaruh hati padanya, sedang perempuan itu acuh tak acuh, datang dan pergi sesuka hati. An pernah berprasangka, bahwa perempuan itu memang tengah membalaskan sakit hatinya beberapa tahun lalu agar An juga bisa merasakan apa yang ia rasakan dulu. Namun, anggapan itu ditepis oleh si empunya.
"Tak ada balas dendam! Aku sedang konsentrasi mengurus "perceraian"ku dengan mantan! Meski memang pada akhirnya kau bisa merasakan kan bagaimana perasaanku tujuh tahun lalu ketika orang yang kau cintai menolakmu?" kilah perempuan itu.
Aku dan perempuan itu satu kota. Atas rekomendasi An, kami bertemu. Mendengar jejalan cerita dari An, awalnya aku tak simpatik pada perempuan itu. Kebetulan kami ke rumah salah seorang temannya dan ia bercerita banyak tentang masalah "perceraian" yang ribet itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya, mengetahui satu demi satu prinsip dan pemikirannya, hingga aku memperoleh kesimpulanku sendiri tentang perempuan itu tanpa versi dari An.
Pengalaman "perceraian" perempuan itu sekaligus juga membuatku berpikir tentang realita kehidupan belok. Perempuan itu dan pasangannya telah menjalin kasih dan tinggal satu atap kurang lebih lima tahunan. Semuanya mungkin begitu indah pada awalnya, padahal -mengutip dari blog tetangga- segala sesuatu memang ada batas kadaluarsanya, meski untuk masalah hati ini kita tidak mengetahui masa aktif dan masa tenggang atau bahkan masa berakhirnya. Tak ada seorang pun yang menginginkan jalinan asmara yang telah matang -tukar cincin dan menikah di hadapan pemuka agama- tiba-tiba terputus di tengah jalan dengan menyisakan serentetan sengketa dan konflik tak ada ujung tentang harta gono-gini.
Mengkaitkan perasaan suci An dengan situasi yang tengah dihadapi perempuan itu -maaf sebelumnya untuk sahabatku- aku merasa WAJAR jika perempuan itu menolak An. Aku bahkan menilai ia gentle dengan tak memberi harapan kosong yang ia sendiri tak tahu kapan ia bisa menaruh hatinya pada An, meski rasa sayang -biasa- memanglah ada. Dan aku berada di tengah antara keduanya. Sedikit serba salah memang, meski aku mengambil sikap netral, hanya menjadi pendengar keduanya. Di satu sisi An adalah sahabat, sementara perempuan itu walau baru kukenal namun juga telah banyak curhat padaku tentang An dan kondisi "rumah tangga"nya yang amburadul.
Cinta... Seberapa dalam pun orang yang dicintai telah menyakiti, sebisa mungkin hati akan bertahan, meski telah tak bisa diterima logika, seolah buta.
"Aku hanya menunggu..." desah An. "Menunggu sampai hatiku tak merasa sakit ketika ia menyakiti. Disaat itulah aku akan ringan untuk melangkah pergi, meninggalkan perasaan yang telah mati."
An sungguh menyadari, melupakan perasaan yang telah mengakar memang tak mudah untuk dikompomi. Rindu kerap bergolak, berusaha tuk patahkan gengsi yang terlalu rapuh. Sampai kapan... An tak pernah tahu...
Lagi-lagi ngebahas soal cinta dan memang tidak akan ada habisnya mengutak-atik kata dengan berjuta definisi, situasi, kondisi dan beragam hal lain yang melingkupinya namun tetap menjabarkan satu kesamaan makna, yaitu sebuah ketulusan, perasaan suci terhadap seseorang yang bermuara dari lubuk hati yang belum terjamah logika, akal pikiran, rasio yang perlahan mungkin menjadi racun terselubung menggoyahkan apa yang tumbuh dalam nurani.
Seorang sahabat -mungkin bisa kugarisbawahi sebagai saudara-, sebut saja namanya An, entah bagaimana ikhwal ceritanya, namun akhir-akhir ini ia sedang terkena panah asmara sebegitu dahsyatnya seakan menembus tulang.
Ia curhat tiap saat dan tiap detil cerita padaku. Malah aku tak menyangka ia akan begitu dalam memberi arti kehadiran perempuan yang dikenalnya hampir tujuh tahunan itu. Dulu, perempuan itu pernah menyatakan cinta, namun An menolaknya. Kini, kondisi berbalik, An teramat menaruh hati padanya, sedang perempuan itu acuh tak acuh, datang dan pergi sesuka hati. An pernah berprasangka, bahwa perempuan itu memang tengah membalaskan sakit hatinya beberapa tahun lalu agar An juga bisa merasakan apa yang ia rasakan dulu. Namun, anggapan itu ditepis oleh si empunya.
"Tak ada balas dendam! Aku sedang konsentrasi mengurus "perceraian"ku dengan mantan! Meski memang pada akhirnya kau bisa merasakan kan bagaimana perasaanku tujuh tahun lalu ketika orang yang kau cintai menolakmu?" kilah perempuan itu.
Aku dan perempuan itu satu kota. Atas rekomendasi An, kami bertemu. Mendengar jejalan cerita dari An, awalnya aku tak simpatik pada perempuan itu. Kebetulan kami ke rumah salah seorang temannya dan ia bercerita banyak tentang masalah "perceraian" yang ribet itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya, mengetahui satu demi satu prinsip dan pemikirannya, hingga aku memperoleh kesimpulanku sendiri tentang perempuan itu tanpa versi dari An.
Pengalaman "perceraian" perempuan itu sekaligus juga membuatku berpikir tentang realita kehidupan belok. Perempuan itu dan pasangannya telah menjalin kasih dan tinggal satu atap kurang lebih lima tahunan. Semuanya mungkin begitu indah pada awalnya, padahal -mengutip dari blog tetangga- segala sesuatu memang ada batas kadaluarsanya, meski untuk masalah hati ini kita tidak mengetahui masa aktif dan masa tenggang atau bahkan masa berakhirnya. Tak ada seorang pun yang menginginkan jalinan asmara yang telah matang -tukar cincin dan menikah di hadapan pemuka agama- tiba-tiba terputus di tengah jalan dengan menyisakan serentetan sengketa dan konflik tak ada ujung tentang harta gono-gini.
Mengkaitkan perasaan suci An dengan situasi yang tengah dihadapi perempuan itu -maaf sebelumnya untuk sahabatku- aku merasa WAJAR jika perempuan itu menolak An. Aku bahkan menilai ia gentle dengan tak memberi harapan kosong yang ia sendiri tak tahu kapan ia bisa menaruh hatinya pada An, meski rasa sayang -biasa- memanglah ada. Dan aku berada di tengah antara keduanya. Sedikit serba salah memang, meski aku mengambil sikap netral, hanya menjadi pendengar keduanya. Di satu sisi An adalah sahabat, sementara perempuan itu walau baru kukenal namun juga telah banyak curhat padaku tentang An dan kondisi "rumah tangga"nya yang amburadul.
Cinta... Seberapa dalam pun orang yang dicintai telah menyakiti, sebisa mungkin hati akan bertahan, meski telah tak bisa diterima logika, seolah buta.
"Aku hanya menunggu..." desah An. "Menunggu sampai hatiku tak merasa sakit ketika ia menyakiti. Disaat itulah aku akan ringan untuk melangkah pergi, meninggalkan perasaan yang telah mati."
An sungguh menyadari, melupakan perasaan yang telah mengakar memang tak mudah untuk dikompomi. Rindu kerap bergolak, berusaha tuk patahkan gengsi yang terlalu rapuh. Sampai kapan... An tak pernah tahu...
Thursday, November 27, 2008
Indah, tak untuk dimiliki!
"Oops... Sorry..." ujar Rien usai menubruk perempuan yang berjalan dari arah berlawanan.
Perempuan dengan pangkasan rambut pendek itu hanya tersenyum sebentar pada Rien, tanpa berkata sepatah pun ia melanjutkan kembali langkahnya sembari nampak serius mengobrol bersama laki-laki partner kerjanya.
Insiden kecil barusan bukan tak disengaja. Rien memang telah merekayasanya, tercetus spontan ketika melihat perempuan itu akan berpapasan dengannya. Ide klise namun kerap kali tokcer membuahkan sebuah hubungan antar dua orang yang sebelumnya tak pernah saling kenal. Meski ide itu ternyata tak cukup manjur, paling tidak ia sempat dihadiahi sebuah senyuman kharismatik oleh pemilik wajah serius itu.
Rien baru sebulan di kantor ini. Dan perempuan berpenampilan butch itu telah menarik perhatiannya sejak awal. Indah, nama perempuan itu. Sebuah nama yang terdengar "cewek banget" untuk penampilan dan tingkah laku yang maskulin. Perempuan itu juga sungguh teramat sangat cool, sedingin kulkas.Beberapa kali Rien telah memutar otak untuk mendapatkan cara agar bisa mengenalnya, paling tidak bisa bertegur sapa, tapi dewi fortuna belum berpihak padanya. Rien bukannya keganjenan, namun "keangkuhan" perempuan itulah yang seakan membuat Rien ingin meruntuhkannya.
Maka momen kebetulan barusan kemudian menjadi salah satu senjata Rien dan melihat sekian jurus masih tak manjur, pasti lebih banyak lagi trik-trik yang akan dilancarkannya guna meraih perhatian si tomboy. Dan bukan Rien namanya jikalau ia tak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
***
Outbound. Mendengar namanya saja sebenarnya Rien sudah malas ikut, tapi karena acara weekend kantornya itu adalah sebuah keharusan, suka tak suka ia harus ikut.
"Kamu mau outbound atau ke mall sih?" ejek teman kerja Rien melihat busana dan anting-anting yang ia kenakan.
"Biarin deh!" sahut Rien keki. Ia memang tak pernah tahu apa itu outbound, meski sehari sebelumnya sahabatnya telah memberikan gambaran, tapi setelah ia mengobrak-abrik isi lemarinya, ia merasa atasan ungu tanpa banyak motif dan celana jeans inilah yang dirasanya paling nyaman.
"Anting-anting dan tasmu itu lho yang bikin kayak mau ke mall!" protes teman kerja Rien tak henti-henti.
Soal anting-anting, bagi Rien aksesoris telinga itu nampak wajar. Kalau soal tas, Rien memang dibuat agak kebingungan tadi. Masalahnya tas yang kerap dipakainya ngantor berukuran terlalu besar. Tak membawa tas juga tak enak. Pilihan kemudian jatuh pada tas kecil ungu tua.
Dan aktivitas outbound itu ternyata diluar dugaan Rien. Memeras keringat dan melelahkan serta harus diikuti. Belum pulih tenaga dari satu aktivitas, pindah ke aktivitas lain.
Empat peserta telah siap di posisi masing-masing. Kaki-kaki mereka telah tertambat pada balok kayu panjang yang menyerupai sandal.Bedanya ini dipakai bersamaan, saling memeluk pinggang dan butuh kekompakan dalam melangkah. Rien di urutan ketiga. Di tengah ayunan kaki, grup Rien oleng. Puncaknya keseimbangan sudah tak bisa dipertahankan. Rien tak merobohkan tubuh pada lelaki kurus di belakang dan menghempaskan tubuh ke samping, namun malang ia malah "kejatuhan" gajah. Pria gemuk di depannya tak bisa menguasai diri, menindih Rien yang hanya bisa meringis.
"Kau tak apa-apa kan?" Suara berat mengagetkannya. Perempuan kurus nan jangkung itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Yaa... Aku nggak apa-apa..." Dengan sigap Rien menerima uluran tangan perempuan super cuek itu. Pegal dan letih tubuh Rien yang bercampur menjadi satu seolah-olah musnah seketika perempuan itu mempertontonkan barisan putih giginya. Ia bahkan tak menyangka tanpa terlebih dahulu susah payah mencari akal, perempuan itu malah hadir di pelupuk matanya. Outbound yang tadinya membosankan kini terasa menyenangkan. Ternyata perempuan itu tak seserius raut muka dibalik kaca mata minusnya. Ia kerap melempar joke-joke ringan yang makin memikat dan melambungkan hati Rien. Puncaknya, perempuan yang hari ini terlihat sporty itu mengantar Rien sampai kost. Hanya senyum dan tawa merekah yang membias dari bibir Rien tiap kali memutar ulang detil detik waktu yang dilaluinya bersama perempuan itu. Dan Rien begitu ingin hari lekas berganti, menikmati kembali lompatan waktu bersama perempuan itu.
***
Pagi ini, tak seperti biasa, Rien teramat perfect untuk urusan riasannya. Padahal tiap harinya Rien hanya berdandan natural. Dan satu lagi, Rien berangkat lebih pagi. Hatinya begitu ringan hari ini.
"Nah, itu dia!" sorak Rien melihat perempuan itu keluar dari ruang meeting. Rien "menyiapkan" diri. Baju, riasan, semua... Perfect!
Sepersekian detik lagi mereka akan berpapasan. Perempuan itu seperti biasa nampak serius berdiskusi dengan partner kerjanya.
"Haruskah aku berpura-pura menyenggolnya lagi?" bimbang Rien. Mengingat kejadian kemarin, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan insiden kecil itu lagi.
Secara tak sengaja, mata keduanya beradu. Rien menyuguhkan senyum termanisnya dan butuh cukup lama jeda waktu bagi perempuan itu untuk membalas senyum Rien. Dan hanya sebuah senyuman singkat, kemudian ia berlalu. Respon yang sama seperti insiden lalu. Seolah lupa akan kejadian kemarin, yah meski tak terjadi apa-apa memang, tapi Rien merasa paling tidak sikapnya kemarin sudah sedikit lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Tapi kenapa barusan ia seperti amnesia tak mengenal Rien dan memperlakukan Rien layaknya belum saling mengenal?
Rien tertegun. Indah, kemarin memang begitu indah, tapi tak untuk kumiliki...
Perempuan dengan pangkasan rambut pendek itu hanya tersenyum sebentar pada Rien, tanpa berkata sepatah pun ia melanjutkan kembali langkahnya sembari nampak serius mengobrol bersama laki-laki partner kerjanya.
Insiden kecil barusan bukan tak disengaja. Rien memang telah merekayasanya, tercetus spontan ketika melihat perempuan itu akan berpapasan dengannya. Ide klise namun kerap kali tokcer membuahkan sebuah hubungan antar dua orang yang sebelumnya tak pernah saling kenal. Meski ide itu ternyata tak cukup manjur, paling tidak ia sempat dihadiahi sebuah senyuman kharismatik oleh pemilik wajah serius itu.
Rien baru sebulan di kantor ini. Dan perempuan berpenampilan butch itu telah menarik perhatiannya sejak awal. Indah, nama perempuan itu. Sebuah nama yang terdengar "cewek banget" untuk penampilan dan tingkah laku yang maskulin. Perempuan itu juga sungguh teramat sangat cool, sedingin kulkas.Beberapa kali Rien telah memutar otak untuk mendapatkan cara agar bisa mengenalnya, paling tidak bisa bertegur sapa, tapi dewi fortuna belum berpihak padanya. Rien bukannya keganjenan, namun "keangkuhan" perempuan itulah yang seakan membuat Rien ingin meruntuhkannya.
Maka momen kebetulan barusan kemudian menjadi salah satu senjata Rien dan melihat sekian jurus masih tak manjur, pasti lebih banyak lagi trik-trik yang akan dilancarkannya guna meraih perhatian si tomboy. Dan bukan Rien namanya jikalau ia tak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
***
Outbound. Mendengar namanya saja sebenarnya Rien sudah malas ikut, tapi karena acara weekend kantornya itu adalah sebuah keharusan, suka tak suka ia harus ikut.
"Kamu mau outbound atau ke mall sih?" ejek teman kerja Rien melihat busana dan anting-anting yang ia kenakan.
"Biarin deh!" sahut Rien keki. Ia memang tak pernah tahu apa itu outbound, meski sehari sebelumnya sahabatnya telah memberikan gambaran, tapi setelah ia mengobrak-abrik isi lemarinya, ia merasa atasan ungu tanpa banyak motif dan celana jeans inilah yang dirasanya paling nyaman.
"Anting-anting dan tasmu itu lho yang bikin kayak mau ke mall!" protes teman kerja Rien tak henti-henti.
Soal anting-anting, bagi Rien aksesoris telinga itu nampak wajar. Kalau soal tas, Rien memang dibuat agak kebingungan tadi. Masalahnya tas yang kerap dipakainya ngantor berukuran terlalu besar. Tak membawa tas juga tak enak. Pilihan kemudian jatuh pada tas kecil ungu tua.
Dan aktivitas outbound itu ternyata diluar dugaan Rien. Memeras keringat dan melelahkan serta harus diikuti. Belum pulih tenaga dari satu aktivitas, pindah ke aktivitas lain.
Empat peserta telah siap di posisi masing-masing. Kaki-kaki mereka telah tertambat pada balok kayu panjang yang menyerupai sandal.Bedanya ini dipakai bersamaan, saling memeluk pinggang dan butuh kekompakan dalam melangkah. Rien di urutan ketiga. Di tengah ayunan kaki, grup Rien oleng. Puncaknya keseimbangan sudah tak bisa dipertahankan. Rien tak merobohkan tubuh pada lelaki kurus di belakang dan menghempaskan tubuh ke samping, namun malang ia malah "kejatuhan" gajah. Pria gemuk di depannya tak bisa menguasai diri, menindih Rien yang hanya bisa meringis.
"Kau tak apa-apa kan?" Suara berat mengagetkannya. Perempuan kurus nan jangkung itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Yaa... Aku nggak apa-apa..." Dengan sigap Rien menerima uluran tangan perempuan super cuek itu. Pegal dan letih tubuh Rien yang bercampur menjadi satu seolah-olah musnah seketika perempuan itu mempertontonkan barisan putih giginya. Ia bahkan tak menyangka tanpa terlebih dahulu susah payah mencari akal, perempuan itu malah hadir di pelupuk matanya. Outbound yang tadinya membosankan kini terasa menyenangkan. Ternyata perempuan itu tak seserius raut muka dibalik kaca mata minusnya. Ia kerap melempar joke-joke ringan yang makin memikat dan melambungkan hati Rien. Puncaknya, perempuan yang hari ini terlihat sporty itu mengantar Rien sampai kost. Hanya senyum dan tawa merekah yang membias dari bibir Rien tiap kali memutar ulang detil detik waktu yang dilaluinya bersama perempuan itu. Dan Rien begitu ingin hari lekas berganti, menikmati kembali lompatan waktu bersama perempuan itu.
***
Pagi ini, tak seperti biasa, Rien teramat perfect untuk urusan riasannya. Padahal tiap harinya Rien hanya berdandan natural. Dan satu lagi, Rien berangkat lebih pagi. Hatinya begitu ringan hari ini.
"Nah, itu dia!" sorak Rien melihat perempuan itu keluar dari ruang meeting. Rien "menyiapkan" diri. Baju, riasan, semua... Perfect!
Sepersekian detik lagi mereka akan berpapasan. Perempuan itu seperti biasa nampak serius berdiskusi dengan partner kerjanya.
"Haruskah aku berpura-pura menyenggolnya lagi?" bimbang Rien. Mengingat kejadian kemarin, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan insiden kecil itu lagi.
Secara tak sengaja, mata keduanya beradu. Rien menyuguhkan senyum termanisnya dan butuh cukup lama jeda waktu bagi perempuan itu untuk membalas senyum Rien. Dan hanya sebuah senyuman singkat, kemudian ia berlalu. Respon yang sama seperti insiden lalu. Seolah lupa akan kejadian kemarin, yah meski tak terjadi apa-apa memang, tapi Rien merasa paling tidak sikapnya kemarin sudah sedikit lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Tapi kenapa barusan ia seperti amnesia tak mengenal Rien dan memperlakukan Rien layaknya belum saling mengenal?
Rien tertegun. Indah, kemarin memang begitu indah, tapi tak untuk kumiliki...
Iseng: Butchy atau Sekedar Tomboy?
Di kosan-ku, tepatnya di lantai bawah, ada seorang perempuan berambut cepak yang menurut pasanganku adalah seorang butch. Malahan, salah satu alasan ia memilihkan kos ini adalah karena keberadaan perempuan itu. Bahkan parahnya, tiap kali pasanganku kemari, ia langsung stereo begitu mendengar suara perempuan itu. Ia bahkan mengacuhkanku dan melongok ke bawah untuk mengintip aktivitas si tomboy. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan tingkahnya. Bukan cemburu, hanya tak habis pikir ia teramat yakin bahwa perempuan itu berorientasi seksual sama dengan kami. Dan bukan ingin mengurusi pilihan orientasi seksual seseorang, memang jika dilihat secara fisik, suara dan gaya bicara, ia seperti butchy kebanyakan.
Aku kemudian mengetahui namanya dan dimana ia bekerja. Ternyata ia lebih dulu tahu namaku. Kukira ia akan ramah, namun -gaya khas butchy-nya kerap kali keluar, cuek. Aku juga model orang yang kadang ogah untuk menyapa duluan. Jadinya, kami diam-diaman karena tak ada yang memulai.
Kemarin, hujan lumayan deras mengguyur, mengurungkan niatku yang hendak menonton teater di ALKID. Namun ketika reda, seorang teman berniat menjemput. Aku menunggunya di depan gang. Tak lama si "butchy" muncul mengendarai motor. Ia menghentikan motor tak jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki tengah menunggunya. Keduanya kemudian berbincang. Disinilah, rasa penasaranku tumbuh. Siapa laki-laki itu? Benarkah perempuan itu belok? Aku jadi mengamatinya, meski hanya tampak belakang. Perempuan itu mengenakan jeans "cewek" dan kemeja pendek ala "cewek" kantoran. Yah, ia memang "cewek" dan orientasi seksual seseorang memang tak bisa dipatenkan semata dari penampilan luar, sekaligus juga kurang kerjaan sekali ingin tahu tentang orientasi seksual orang lain, tapi diluar itu semua dan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, rasa-rasanya aku akan mematahkan persepsi pasanganku tentang perempuan itu.
Kurasa ia hanya sekedar tomboy, entah karena memang begitulah karakternya yang sebenarnya atau hanya tuntutan pekerjaan yang ia geluti, yaitu sebagai sekuriti sebuah pabrik lampu.
"Mungkin cowok itu temennya kali..." Perempuanku masih keukeuh dengan pendapatnya.
Hmm... Sungguh kurang kerjaan memang, tapi setidaknya kami berbeda argumen kali ini.
Aku kemudian mengetahui namanya dan dimana ia bekerja. Ternyata ia lebih dulu tahu namaku. Kukira ia akan ramah, namun -gaya khas butchy-nya kerap kali keluar, cuek. Aku juga model orang yang kadang ogah untuk menyapa duluan. Jadinya, kami diam-diaman karena tak ada yang memulai.
Kemarin, hujan lumayan deras mengguyur, mengurungkan niatku yang hendak menonton teater di ALKID. Namun ketika reda, seorang teman berniat menjemput. Aku menunggunya di depan gang. Tak lama si "butchy" muncul mengendarai motor. Ia menghentikan motor tak jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki tengah menunggunya. Keduanya kemudian berbincang. Disinilah, rasa penasaranku tumbuh. Siapa laki-laki itu? Benarkah perempuan itu belok? Aku jadi mengamatinya, meski hanya tampak belakang. Perempuan itu mengenakan jeans "cewek" dan kemeja pendek ala "cewek" kantoran. Yah, ia memang "cewek" dan orientasi seksual seseorang memang tak bisa dipatenkan semata dari penampilan luar, sekaligus juga kurang kerjaan sekali ingin tahu tentang orientasi seksual orang lain, tapi diluar itu semua dan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, rasa-rasanya aku akan mematahkan persepsi pasanganku tentang perempuan itu.
Kurasa ia hanya sekedar tomboy, entah karena memang begitulah karakternya yang sebenarnya atau hanya tuntutan pekerjaan yang ia geluti, yaitu sebagai sekuriti sebuah pabrik lampu.
"Mungkin cowok itu temennya kali..." Perempuanku masih keukeuh dengan pendapatnya.
Hmm... Sungguh kurang kerjaan memang, tapi setidaknya kami berbeda argumen kali ini.
Wednesday, November 26, 2008
M E R I N D U M U
Hampir tiga minggu aku di kota ini. Kota tempat tinggalmu meski kita tak tiap hari ketemu. Namun begitu ada sedikit, kalau boleh kubilang banyak, pergeseran perasaan yang cukup mencolok yang kurasakan sejak dan selama aku di kota ini.
Dulu, saat kita masih terpisah, Jakarta-Jogja, Jawa Timur-Jogja, jujur perasaanku tak seberapa menggebu meski hampir tiap menit hapeku berdering. Sepertinya hape menjadi sahabat mengalahkan apapun, padahal aku tipe orang yang agak-agak nggak betah ditelpon dalam frekuensi lama oleh orang yang sama di hari yang sama, terkecuali jika memang ada keperluan yang benar-benar penting. Kadang jengah juga jika hape selalu berdering. Logikanya, pacaran kok sama hape? Yang dicium kok malah handsfree, ampe bau jigong lagi!
Tapi sejak menetap di satu kota yang sama, sekali lagi, aku bisa merasakan begitu besar pergeseran itu terjadi. Meski intensitas pertemuan tak terlalu sering, namun waktu-waktu dimana tak bertemu itulah seakan kurasa makin membuat kentara pergeseran perasaan yang kurang menggebu kini berubah kangen setengah hidup itu. Malahan jika tak ada dering nomormu di layar hapeku, aku kerap menduga-duga sedang apakah kau disana, seperti orang yang baru pertama jatuh cinta saja! Ah, aku tak sedang menggombal, hanya coba menggambarkan realita yang aku sendiri kadang dibuat tersenyum akannya.
Rindu... Sebuah perasaan yang mungkin dulu tak kurasakan karena tak menemukan sosok yang kurindukan dalam rentang jarak dan waktu, namun ketika sosokmu membelit hari-hari nyataku, perasaan itu sanggup luluh, bercampur putaran waktu di hidupku ketika kau tak sedang ada dalam selayang pandangku.
Semoga kau pun begitu...
Dulu, saat kita masih terpisah, Jakarta-Jogja, Jawa Timur-Jogja, jujur perasaanku tak seberapa menggebu meski hampir tiap menit hapeku berdering. Sepertinya hape menjadi sahabat mengalahkan apapun, padahal aku tipe orang yang agak-agak nggak betah ditelpon dalam frekuensi lama oleh orang yang sama di hari yang sama, terkecuali jika memang ada keperluan yang benar-benar penting. Kadang jengah juga jika hape selalu berdering. Logikanya, pacaran kok sama hape? Yang dicium kok malah handsfree, ampe bau jigong lagi!
Tapi sejak menetap di satu kota yang sama, sekali lagi, aku bisa merasakan begitu besar pergeseran itu terjadi. Meski intensitas pertemuan tak terlalu sering, namun waktu-waktu dimana tak bertemu itulah seakan kurasa makin membuat kentara pergeseran perasaan yang kurang menggebu kini berubah kangen setengah hidup itu. Malahan jika tak ada dering nomormu di layar hapeku, aku kerap menduga-duga sedang apakah kau disana, seperti orang yang baru pertama jatuh cinta saja! Ah, aku tak sedang menggombal, hanya coba menggambarkan realita yang aku sendiri kadang dibuat tersenyum akannya.
Rindu... Sebuah perasaan yang mungkin dulu tak kurasakan karena tak menemukan sosok yang kurindukan dalam rentang jarak dan waktu, namun ketika sosokmu membelit hari-hari nyataku, perasaan itu sanggup luluh, bercampur putaran waktu di hidupku ketika kau tak sedang ada dalam selayang pandangku.
Semoga kau pun begitu...
Thursday, November 20, 2008
Funtastik Four In Memorial
Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada hati bicara
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga...
***
Malam -dini hari- ini entah kenapa mataku begitu sulit terpejam, mengembara tak tentu arah. Mungkin ini efek kopi Nescafe yang kutenggak sehabis maghrib tadi, tapi kalaupun ya, wow dahsyat banget hingga khasiatnya masih merasuk setelah enam jam.
Aku mengutak-atik ponsel sembari melirik jam yang tertera di pojok atas. Pukul dua belas lewat tiga menit. Mataku sebenarnya ingin istirahat tapi benakku entah kenapa melayang-layang tak mau ditidurkan.
Kuperiksa kembali beberapa lagu baru dan lama yang sejenak lalu kupindahkan dari komputer. Termasuk lagu Kla Project diatas. Salah satu lagu kesukaanku. Juga lagu Lembayung Bali milik Saras Dewi, namun dalam format MP4. Dan aku baru tau ternyata hapeku juga bisa dipakai untuk menyimpan file dengan format tersebut hehehe ndeso!
Mendengarkan lagu-lagu mellow bukannya bikin ngantuk malah mata yang tadinya nggak kuat melek jadi makin stereo. Apalagi ketika tak sengaja memeriksa kapasitas memori hape yang tersisa hanya belasan MB saja, kontan dengan cekatan jemariku men-delete lagu-lagu yang jarang kudengarkan. Ruang memori memang telah lowong, namun aku masih bergerilya pada satu demi satu folder untuk menghapus file atau foto yang tak perlu.
Pada folder Rekaman, ada empat file. Iseng, aku membukanya. Ternyata tiga diantaranya kurekam saat Funtastik Four tengah ber-conference ria. Aku bahkan tak ingat aku pernah merekam momen ini. Dua rekaman berisi acara nyanyi-nyanyi. Dan satunya tentang ide bikin friendster keroyokannya F4. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya, sekaligus trenyuh. Senyum karena ketiga orang peserta conference itu tak sadar aku tengah merekam suara mereka, bahkan kebingungan mendengar bunyi TUT TUT di sepanjang pembicaraan dan mereka-reka apa yang sesungguhnya tengah kulakukan. Trenyuh karena rencana indah yang pernah terucap kini hanya menjadi serpihan memori yang mungkin telah terlupakan.
Tragis. Pertikaian tak berujung pangkal memupuskan apa-apa yang terjanjikan kemudian teringkari. Keangkuhan hati untuk memulai lagi. Ego yang begitu tinggi. Ah, aku juga tak sedang berharap semua akan kembali seperti dulu. Karena aku sangat menyadari ini tak semudah membalik telapak tangan seperti semua termusnahkan dengan sebegitu gampang. Mendengarkan rekaman itulah yang mencetuskan ide menuliskannya disini sebagai In Memorial akan F4 yang telah tiada. Dan kok pas banget Mas Katon juga lagi nyeliwer nyanyiin lagu diatas.
Kuharap masih ada hati bicara
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga...
***
Malam -dini hari- ini entah kenapa mataku begitu sulit terpejam, mengembara tak tentu arah. Mungkin ini efek kopi Nescafe yang kutenggak sehabis maghrib tadi, tapi kalaupun ya, wow dahsyat banget hingga khasiatnya masih merasuk setelah enam jam.
Aku mengutak-atik ponsel sembari melirik jam yang tertera di pojok atas. Pukul dua belas lewat tiga menit. Mataku sebenarnya ingin istirahat tapi benakku entah kenapa melayang-layang tak mau ditidurkan.
Kuperiksa kembali beberapa lagu baru dan lama yang sejenak lalu kupindahkan dari komputer. Termasuk lagu Kla Project diatas. Salah satu lagu kesukaanku. Juga lagu Lembayung Bali milik Saras Dewi, namun dalam format MP4. Dan aku baru tau ternyata hapeku juga bisa dipakai untuk menyimpan file dengan format tersebut hehehe ndeso!
Mendengarkan lagu-lagu mellow bukannya bikin ngantuk malah mata yang tadinya nggak kuat melek jadi makin stereo. Apalagi ketika tak sengaja memeriksa kapasitas memori hape yang tersisa hanya belasan MB saja, kontan dengan cekatan jemariku men-delete lagu-lagu yang jarang kudengarkan. Ruang memori memang telah lowong, namun aku masih bergerilya pada satu demi satu folder untuk menghapus file atau foto yang tak perlu.
Pada folder Rekaman, ada empat file. Iseng, aku membukanya. Ternyata tiga diantaranya kurekam saat Funtastik Four tengah ber-conference ria. Aku bahkan tak ingat aku pernah merekam momen ini. Dua rekaman berisi acara nyanyi-nyanyi. Dan satunya tentang ide bikin friendster keroyokannya F4. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya, sekaligus trenyuh. Senyum karena ketiga orang peserta conference itu tak sadar aku tengah merekam suara mereka, bahkan kebingungan mendengar bunyi TUT TUT di sepanjang pembicaraan dan mereka-reka apa yang sesungguhnya tengah kulakukan. Trenyuh karena rencana indah yang pernah terucap kini hanya menjadi serpihan memori yang mungkin telah terlupakan.
Tragis. Pertikaian tak berujung pangkal memupuskan apa-apa yang terjanjikan kemudian teringkari. Keangkuhan hati untuk memulai lagi. Ego yang begitu tinggi. Ah, aku juga tak sedang berharap semua akan kembali seperti dulu. Karena aku sangat menyadari ini tak semudah membalik telapak tangan seperti semua termusnahkan dengan sebegitu gampang. Mendengarkan rekaman itulah yang mencetuskan ide menuliskannya disini sebagai In Memorial akan F4 yang telah tiada. Dan kok pas banget Mas Katon juga lagi nyeliwer nyanyiin lagu diatas.
Monday, November 17, 2008
Perempuanmu Yang Lain
Bodoh nan tolol. Itulah aku dan perasaanku. Kenapa hal itu tak pernah sedikit pun terlintas di benakku? Kau dan perempuan itu ada affair apapun lah namanya, sebab perempuan itu juga mempunyai kekasih, sama seperti kau yang telah cukup lama menjalin kasih denganku. Kenapa hal itu tak terfikir olehku? Aku juga bertanya-tanya sendiri. Dalam hening kamar, ketika aku memeras otak untuk mencari jawaban atas solusi masalah kita, yah barulah terbersit pemikiran tersebut yang kemudian kutelaah satu demi satu rentetan kejadian akhir-akhir ini.
Perempuan itu... Namanya tak pernah sekali pun kau sebut di depanku. Hanya ketika aku "mengecek" ponselmu kutemukan nama itu dalam barisan smsmu. Dan aku baru menyadari satu hal, nomor hapeku pun tak kau simpan dalam phonebook, tak seperti nama perempuan itu. Singkat, namun jelas.
Aku tak mempermasalahkannya waktu itu. Walau aku juga tak tahu alasanmu untuk tak memberikan ruang bagi namaku dalam buku teleponmu. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya. Satu hal ketika itu aku memintamu untuk menelepon perempuan itu di depanku.
"Kalo jam segini ia kerja, pasti nggak akan diangkat!" kilahmu. Tapi aku keukeuh memanggil nomor perempuan itu. Lama... Terdengar suara perempuan di seberang.
"Halo..." Suara perempuan itu lembut. Kau memang telah memberi tahu bahwa perempuan itu adalah FEMME.
Kau mengobrol dengan perempuan itu, basa basi. Entah ini hanya perasaanku atau memang demikian adanya, aku melihat kau tampak kikuk berbicara dengan perempuan itu. Namun aku kemudian menepis kecurigaanku. Kau hanya menyayangiku, begitu kepercayaan yang selalu kutanam dalam hati dan pikiranku.
Esoknya, aku mendapat kabar bahwa putri semata wayangmu harus opname di rumah sakit.
"Aku mau jenguk ya.." tawarku.
"Nggak!" sergahmu spontan. "Apa kau ingin membunuhku?"
"Emang kenapa?" Alisku berkerut.
"Bapak ibuku ada disini. Lagian penampilanmu itu kan kayak laki-laki, nanti mereka tanya macam-macam!"
Aku tak berkutik. Kau melarang keras aku menjenguk meski malam itu orangtuamu pulang karena pasien cukup dijaga satu orang.
"Semalam T (inisial perempuan itu) kesini lho..." ujarmu pagi hari setelah sekali lagi aku menawarkan diri menjenguk namun kau tetap saja melarangku.
Deg. Perempuan itu lagi. Dan caramu memberitahuku itu... Aku menangkap rona kegirangan mendalam dalam nada suaramu.
"Kok dia boleh jenguk, sedang aku tidak?" protesku.
"Dia kan femme. Lagian dia ngajak temennya, juga feminin,"
Lagi-lagi soal penampilan!
***
Dan kini, setelah semua hal yang menyangkut perempuan itu terputar dalam rekaman otakku, aku mulai sedikit mengerti. Aku tak ingin curiga. Sungguh, aku tak hendak berprasangka. Nalarku hanya mengeja satu demi satu aliran cerita di depan mata.
Shit! Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa aku sebegitu bodoh dan tololnya dikelabui oleh manis bibirmu yang melantunkan cinta. Kau merapuh dalam pelukku, namun ah entah apa isi benakmu. Mungkin aku yang telah keliru, kepercayaan yang tak hanya kulafalkan dalam lisanku, namun juga perilaku, yang kerap kau tuduhkan sebagai bentuk kecuekanku, telah kau tangkap dengan pengartian yang juga keliru.
Dalam ruang 3x3 ini otakku berpacu bersama waktu. Kadang menerawang, terbang, lalu terjaga dari lamunku. Aku sedang mencari solusi. Pemecahan atas himpitan tuduhan dan ketidakpercayaan yang menyesakkan dadaku. Siapapun, ketika dituduh atas sesuatu hal yang tak pernah kita lakukan, lama kelamaan membuat kesabaran tumbang, menyisakan tumpukan kekesalan yang awalnya mungkin terbiarkan sebagai sebuah lelucon tak berarti.
Butchie tidak boleh menangis! Siapa bilang? Kadang ketika manusia berada di titik dimana ia terlalu letih atas beban pikiran yang bahkan otak pun tak kuat setelah terus menerus digerus, maka tetesan airmata terasa begitu melegakan. Karena dalam tiap biji airmata yang tumpah bagiku dibarengi oleh kesadaran, mungkin bukan pemecahan masalah, namun setidaknya sesuatu hal yang membuat kita bangkit layaknya tamparan keras yang menggugah segenap urat syaraf kita untuk kembali pada fungsi semula. Meletakkan apa-apa pada tempat yang semestinya.
Hahh... Ketika buliran air yang meretas dari kelopak mataku mengering, ada sebongkah senyuman yang merekah. Bukan karena aku telah menemukan solusi. Bukan karena praduga yang membelit otakku telah kudapat jawabannya. Hanya sebuah kelegaan. Longgarnya dinding-dinding hati yang tadinya tersumpal dan teracuni.
Aku memang tak pernah dan tak akan pernah tahu isi otakmu, meski beragam kata cinta dan cemburu kau umbar hiasi hariku.
Lelah hati ini meyakinkanmu... Cinta ini [tak akan] membunuhku...
Perempuan itu... Namanya tak pernah sekali pun kau sebut di depanku. Hanya ketika aku "mengecek" ponselmu kutemukan nama itu dalam barisan smsmu. Dan aku baru menyadari satu hal, nomor hapeku pun tak kau simpan dalam phonebook, tak seperti nama perempuan itu. Singkat, namun jelas.
Aku tak mempermasalahkannya waktu itu. Walau aku juga tak tahu alasanmu untuk tak memberikan ruang bagi namaku dalam buku teleponmu. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya. Satu hal ketika itu aku memintamu untuk menelepon perempuan itu di depanku.
"Kalo jam segini ia kerja, pasti nggak akan diangkat!" kilahmu. Tapi aku keukeuh memanggil nomor perempuan itu. Lama... Terdengar suara perempuan di seberang.
"Halo..." Suara perempuan itu lembut. Kau memang telah memberi tahu bahwa perempuan itu adalah FEMME.
Kau mengobrol dengan perempuan itu, basa basi. Entah ini hanya perasaanku atau memang demikian adanya, aku melihat kau tampak kikuk berbicara dengan perempuan itu. Namun aku kemudian menepis kecurigaanku. Kau hanya menyayangiku, begitu kepercayaan yang selalu kutanam dalam hati dan pikiranku.
Esoknya, aku mendapat kabar bahwa putri semata wayangmu harus opname di rumah sakit.
"Aku mau jenguk ya.." tawarku.
"Nggak!" sergahmu spontan. "Apa kau ingin membunuhku?"
"Emang kenapa?" Alisku berkerut.
"Bapak ibuku ada disini. Lagian penampilanmu itu kan kayak laki-laki, nanti mereka tanya macam-macam!"
Aku tak berkutik. Kau melarang keras aku menjenguk meski malam itu orangtuamu pulang karena pasien cukup dijaga satu orang.
"Semalam T (inisial perempuan itu) kesini lho..." ujarmu pagi hari setelah sekali lagi aku menawarkan diri menjenguk namun kau tetap saja melarangku.
Deg. Perempuan itu lagi. Dan caramu memberitahuku itu... Aku menangkap rona kegirangan mendalam dalam nada suaramu.
"Kok dia boleh jenguk, sedang aku tidak?" protesku.
"Dia kan femme. Lagian dia ngajak temennya, juga feminin,"
Lagi-lagi soal penampilan!
***
Dan kini, setelah semua hal yang menyangkut perempuan itu terputar dalam rekaman otakku, aku mulai sedikit mengerti. Aku tak ingin curiga. Sungguh, aku tak hendak berprasangka. Nalarku hanya mengeja satu demi satu aliran cerita di depan mata.
Shit! Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa aku sebegitu bodoh dan tololnya dikelabui oleh manis bibirmu yang melantunkan cinta. Kau merapuh dalam pelukku, namun ah entah apa isi benakmu. Mungkin aku yang telah keliru, kepercayaan yang tak hanya kulafalkan dalam lisanku, namun juga perilaku, yang kerap kau tuduhkan sebagai bentuk kecuekanku, telah kau tangkap dengan pengartian yang juga keliru.
Dalam ruang 3x3 ini otakku berpacu bersama waktu. Kadang menerawang, terbang, lalu terjaga dari lamunku. Aku sedang mencari solusi. Pemecahan atas himpitan tuduhan dan ketidakpercayaan yang menyesakkan dadaku. Siapapun, ketika dituduh atas sesuatu hal yang tak pernah kita lakukan, lama kelamaan membuat kesabaran tumbang, menyisakan tumpukan kekesalan yang awalnya mungkin terbiarkan sebagai sebuah lelucon tak berarti.
Butchie tidak boleh menangis! Siapa bilang? Kadang ketika manusia berada di titik dimana ia terlalu letih atas beban pikiran yang bahkan otak pun tak kuat setelah terus menerus digerus, maka tetesan airmata terasa begitu melegakan. Karena dalam tiap biji airmata yang tumpah bagiku dibarengi oleh kesadaran, mungkin bukan pemecahan masalah, namun setidaknya sesuatu hal yang membuat kita bangkit layaknya tamparan keras yang menggugah segenap urat syaraf kita untuk kembali pada fungsi semula. Meletakkan apa-apa pada tempat yang semestinya.
Hahh... Ketika buliran air yang meretas dari kelopak mataku mengering, ada sebongkah senyuman yang merekah. Bukan karena aku telah menemukan solusi. Bukan karena praduga yang membelit otakku telah kudapat jawabannya. Hanya sebuah kelegaan. Longgarnya dinding-dinding hati yang tadinya tersumpal dan teracuni.
Aku memang tak pernah dan tak akan pernah tahu isi otakmu, meski beragam kata cinta dan cemburu kau umbar hiasi hariku.
Lelah hati ini meyakinkanmu... Cinta ini [tak akan] membunuhku...
Cuapek Duech!!!
Awalnya kukira -dan juga logikanya- jika sepasang kekasih yang dalam kurun waktu setahun lebih dibentangkan oleh jarak dan cemburu, kini berdekatan meski tak satu atap namun intensitas pertemuan jauh lebih sering akan membuat sepasang kekasih tersebut solid, rukun dan sejenisnya. Tapi ternyata tak kutemui dalam kenyataan hubunganku sendiri.
Kecemburuan yang selalu menghiasi tiap pergerakanku selama kita tak tinggal satu kota -entah ponselku yang sibuk karena menerima telepon teman atau ketika waktuku banyak tersita oleh keluarga- kuanggap sebagai suatu kewajaran dalam relationship. Tapi kini, ketika tak lagi ada jarak -kecuali jarak antara rumahmu bersama suami atau orangtuamu dengan kosku-, ketika aku tak lagi jauh dari arah pandangmu, kenapa masih saja kecemburuan itu tak jua sirna dari otakmu? Aku mempertanyakan, juga sekaligus bingung, kecemburuan ataukah ada yang kau sembunyikan dariku?
Sebab menurut pemikiranku -dan mungkin kebanyakan orang juga-, ketika seseorang berpikir terlalu negatif akan orang lain, ada (baca: banyak) kemungkinan dirinya sendiri lah yang tengah melakukan hal negatif tersebut. Karena ia tak akan berpikir terlalu buruk pada orang lain jika ia sendiri tak melakukannya. Jadi ketika ia berpikiran orang lain melakukan hal yang buruk adalah kamuflase atas perilaku yang MUNGKIN dilakukannya sendiri.
Tentu saja aku tak sedang berpikiran buruk kau tengah melakukan hal-hal yang sering kau tuduhkan padaku (SELINGKUH-red). Namun wallahu a'lam jika kau benar-benar melakukannya:)
Balik ke topik JELES diatas. Kadang ketika narsis mode on- ku kumat aku berpikiran: Emang secakep apa sih diriku ini hingga kau teramat sangat mencemburuiku sekali (biarin dah keluar dari EYD deh!). Padahal kau tahu dengan pasti ku ada dimana, bersama siapa, sedang berbuat apa... Hehe kok jadi kayak lagu ya.. Gitu masih saja kecurigaan yang kau tuliskan lewat sms mengalir deras ke ponselku. Bahkan yang paling parah nih, ketika pagi-pagi aku boker (B.A.B), kudengar hape berdering beberapa kali, lalu diakhiri sebuah sms. Selesai buang hajat, kubaca isinya: "Kamu kemana sih, kok mencurigakan?" Ampyun deh, orang lagi pup juga di otak kotorin!
Aku bukannya tak senang dicemburui, tapi jika sudah dalam porsi berlebihan dan jauh dari batas kewajaran, lama-lama jengah juga diperlakukan demikian. Aku berpikir seolah-olah aku harus di rumah, tidur, sendiri (jadi kayak iklan ajah!) agar kau tak berkata macam-macam. Apakah memang itu yang kau inginkan? Berada dalam kotak 3x3, terisolir dari dunia luar, tak ada sosialisasi dengan orang lain. Hanya berteman dengan komputer dan telepon-telepon darimu. Itukah yang kau ingin perbuat padaku? Sebab ketika diluaran, kau pikir aku seperti remaja belasan tahun yang belum bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan yang buruk, hingga kau MERASA perlu mewejangiku ini itu.
Seperti hari ini, aku berada di titik terendah untuk meredam emosi yang kurang lebih dua minggu selama aku disini, tertahan.
Aku hanya ingin membuatmu berpikir, merenungi untuk kemudian kau tarik garis kesimpulan sendiri, hubungan seperti apa sih yang kau inginkan hingga kau tak lagi selalu berpikiran buruk terhadap pasanganmu?
Baca, pahami, resapi, renungi dan ambil jalan tengah terbaik.
KEPERCAYAAN tidak butuh terucap melalui lisan, jikalau hatimu masih meragukan.
Kecemburuan yang selalu menghiasi tiap pergerakanku selama kita tak tinggal satu kota -entah ponselku yang sibuk karena menerima telepon teman atau ketika waktuku banyak tersita oleh keluarga- kuanggap sebagai suatu kewajaran dalam relationship. Tapi kini, ketika tak lagi ada jarak -kecuali jarak antara rumahmu bersama suami atau orangtuamu dengan kosku-, ketika aku tak lagi jauh dari arah pandangmu, kenapa masih saja kecemburuan itu tak jua sirna dari otakmu? Aku mempertanyakan, juga sekaligus bingung, kecemburuan ataukah ada yang kau sembunyikan dariku?
Sebab menurut pemikiranku -dan mungkin kebanyakan orang juga-, ketika seseorang berpikir terlalu negatif akan orang lain, ada (baca: banyak) kemungkinan dirinya sendiri lah yang tengah melakukan hal negatif tersebut. Karena ia tak akan berpikir terlalu buruk pada orang lain jika ia sendiri tak melakukannya. Jadi ketika ia berpikiran orang lain melakukan hal yang buruk adalah kamuflase atas perilaku yang MUNGKIN dilakukannya sendiri.
Tentu saja aku tak sedang berpikiran buruk kau tengah melakukan hal-hal yang sering kau tuduhkan padaku (SELINGKUH-red). Namun wallahu a'lam jika kau benar-benar melakukannya:)
Balik ke topik JELES diatas. Kadang ketika narsis mode on- ku kumat aku berpikiran: Emang secakep apa sih diriku ini hingga kau teramat sangat mencemburuiku sekali (biarin dah keluar dari EYD deh!). Padahal kau tahu dengan pasti ku ada dimana, bersama siapa, sedang berbuat apa... Hehe kok jadi kayak lagu ya.. Gitu masih saja kecurigaan yang kau tuliskan lewat sms mengalir deras ke ponselku. Bahkan yang paling parah nih, ketika pagi-pagi aku boker (B.A.B), kudengar hape berdering beberapa kali, lalu diakhiri sebuah sms. Selesai buang hajat, kubaca isinya: "Kamu kemana sih, kok mencurigakan?" Ampyun deh, orang lagi pup juga di otak kotorin!
Aku bukannya tak senang dicemburui, tapi jika sudah dalam porsi berlebihan dan jauh dari batas kewajaran, lama-lama jengah juga diperlakukan demikian. Aku berpikir seolah-olah aku harus di rumah, tidur, sendiri (jadi kayak iklan ajah!) agar kau tak berkata macam-macam. Apakah memang itu yang kau inginkan? Berada dalam kotak 3x3, terisolir dari dunia luar, tak ada sosialisasi dengan orang lain. Hanya berteman dengan komputer dan telepon-telepon darimu. Itukah yang kau ingin perbuat padaku? Sebab ketika diluaran, kau pikir aku seperti remaja belasan tahun yang belum bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan yang buruk, hingga kau MERASA perlu mewejangiku ini itu.
Seperti hari ini, aku berada di titik terendah untuk meredam emosi yang kurang lebih dua minggu selama aku disini, tertahan.
Aku hanya ingin membuatmu berpikir, merenungi untuk kemudian kau tarik garis kesimpulan sendiri, hubungan seperti apa sih yang kau inginkan hingga kau tak lagi selalu berpikiran buruk terhadap pasanganmu?
Baca, pahami, resapi, renungi dan ambil jalan tengah terbaik.
KEPERCAYAAN tidak butuh terucap melalui lisan, jikalau hatimu masih meragukan.
Friday, November 14, 2008
Lai... (6x) Aku Ketemu Jablay...
Aku baru seminggu menginjakkan kaki di kota ini, kemudian diajak seorang teman ke rumah salah seorang teman perempuannya. Sebuah kos2an yang menurutku terpencil. Siapapun tak akan mengira ada kos2an disana. Bentuknya memanjang bersebelahan dan tidak berhadapan. Kamar perempuan yang kami temui ini berada di ujung.
Perempuan itu tampak sedang mengutak atik wajahnya yang dalam proses perawatan pengelupasan kulit mati. Jemarinya dengan cekatan mengambil secuil demi secuil kulit yang mengelupas bak ular ganti kulit.
"Perawatan gini ini harus seminggu, sedangkan ini masih dua hari!" jelasnya tanpa berpaling dari cermin.
Waduh, aku sih ogah kalau disuruh bersahabat dengan cermin lama-lama. Mending jerawatan deh daripada ribet dengan ritual perawatan pengangkatan sel-sel kulit mati halah halah...
Seorang teman menyikutku untuk melihat perempuan berkulit putih dengan rambut kecoklatan yang sedang membasuh muka di kran tak jauh dari tempat kami duduk.
"Cantik!" desis temanku itu sambil matanya tak lepas mengikuti tiap lekukan tubuh si perempuan.
Ketika perempuan itu melewati kami hendak ke kamarnya, temanku tak menyiakan kesempatan.
"Namanya siapa, mbak?" Tanpa diminta temanku mengulurkan tangan.
"Eva," jawab perempuan itu malu-malu karena temanku tak juga melepaskan tangannya dari sambutan tangan perempuan yang wajahnya agak kearab-araban itu. Dan temanku makin beringas menggoda. Dasar player, uggh!
Seorang perempuan lagi muncul. Memakai tanktop hitam merah, wajah dan kulitnya khas oriental. Raut mukanya sedikit tak bersahabat. Bibirnya manyun, terkesan judes. Ataukah mungkin memang sehari-hari ia demikian, aku kurang tahu!
Perempuan ini tak menarik minat teman-temanku. Justru aku yang "terpikat". Wajahnya mirip sekali dengan Nyak belokku di Jakarta dulu. Omongannya lumayan kasar. Sedikit-sedikit kata ASU (Baca: Anj***) terlontar dari bibirnya. Ia kemudian membawa motornya pergi sebelum sempat kujelajah sosoknya lebih jauh. Eits, bukan naksir lho ya, hanya mengenal saja coz she's straight and I hear ia baru aja putus ama cowoknya.
Menit berganti jam kulewati dengan memperhatikan temanku yang asyik menggoda perempuan bernama Eva yang sedari tadi sibuk dengan dua hapenya yang bergantian berdering. Ia bicara berbisik-bisik sambil sesekali mengintip ke kamarnya. Awalnya aku nggak ngeh, apa yang ia tutupi, rupanya ada laki-laki dalam kamarnya. Sedang terlelap. Entah habis berapa ronde.
Kesan pertamaku pada perempuan ini bertolak belakang dari dua temanku yang beropini ia "menarik". Wajahnya memang tergolong cantik. Tapi entah kenapa dimataku tetap saja ia tidak "menarik". Apalagi ketika suaranya menggelegar seantero kos, makin memudarkan pesonanya. Ternyata bukan hanya aku, dua temanku kemudian beralih opini terhadap perempuan bahenol (Baca: BAdan HEbat Otak NOL!). Meski begitu ada saja kelakuan temanku yang tergolong AGAK PENDIAM (Baca: Malu2 Kuciang) secara sembunyi-sembunyi memotret selangkangannya. Duduknya memang tak santun. Menganga seperti siap digagahi saja. Belum lagi ketika teriak-teriak, bagian bawahnya seolah menjadi bass sound systemnya hahahaha.
Pergi karaoke. Ide itu dicetuskan si malu-malu kucing. Pemilik wajah oriental bernama Evi itu pulang dan ikut bersama kami. Hanya Eva yang tidak.
Musik mulai menghentak. Dibuka oleh si pencetus ide. Ia memang sering ke karaoke. Suaranya juga lumayan bagus.
Evi pamer suara. Dan vokalnya merdu pula. Bukan hanya suara, goyangannya pun wow hehehe. Ia paling suka musik dangdut, meski ia juga menyumbangkan pita suaranya lewat bait melankolis Indonesia dan lagu asing. Tapi kurasa, dangdut lah yang menurutku PAS. Bernyanyi dan berjoget mirip Inul, benar-benar padanan yang pas, ya kan:) Bahkan salah satu kakinya dinaikkan ke meja. Namun ada satu kebiasaan yang menarik perhatian banyak mata, tiap kali bergoyang ia selalu memegangi tengah-tengah selangkangannya. Aku tak tahu apa penyebabnya, bukan hendak mengundang syahwat, tapi begitulah kebiasaannya.
"Tanyain nmr hape cewek di sebelahmu dong! Sekalian tanya dia udah punya pacar belum!" Si malu2 kuciang menyuruhku. Aku menolehnya, heran. Tadi ia bilang ia tak tertarik sama sekali dengan pemilik wajah oriental yang makin hot bernyanyi dan bergoyang, tapi kenapa justru sekarang ia malah tergila-gila. Jadinya, aku menjadi mediator mereka. Sebagai pengorek keterangan tepatnya.
"Udah punya pacar belum?" tanyaku basa basi meski aku sudah tau ia baru putus.
"Baru putus, TOYING COY!" Alisku seketika berkerut tajam membaca kalimat diatas. Toying... Gila!!
"Kalau berhubungan dengan cewek gimana?" Aku mulai memancingnya.
"Gak kepikiran. Belum pernah siy!"
"Kalau berhubungan ama cewek, pake hati atau pake duit?" tanyaku tanpa tedeng aling2. Aku tak suka banyak basa basi.
"Nggak tau. Seperti yang kubilang, aku gak kepikiran,"
"Kalau temanku pengen kenal kamu, boleh?"
Ia tampak berpikir sebelum menjawab. "PDKT aja dulu!
Aku mengacungkan jempol pada si malu2 kuciang pertanda jalan sudah terbuka baginya.
Perempuan itu... Dimatanya tersiratkan sebuah beban pikiran. Mungkin masalah dengan lelakinya belumlah selesai benar. Jika tak mengolah suara, ia memilih duduk diam dengan benak menerawang serta berbatang-batang rokok. Ia tau betul aku kerap memperhatikannya. Dan kalo gitu ia akan cepat-cepat pasang senyum yang dipaksakan. Tapi tetap saja mata itu tak bisa menipu.
Beberapa hari kemudian aku dapat kabar si malu2 kuciang sudah jadian dengan perempuan straight patah hati itu. Entah karena suatu alasan apa...
Perempuan itu tampak sedang mengutak atik wajahnya yang dalam proses perawatan pengelupasan kulit mati. Jemarinya dengan cekatan mengambil secuil demi secuil kulit yang mengelupas bak ular ganti kulit.
"Perawatan gini ini harus seminggu, sedangkan ini masih dua hari!" jelasnya tanpa berpaling dari cermin.
Waduh, aku sih ogah kalau disuruh bersahabat dengan cermin lama-lama. Mending jerawatan deh daripada ribet dengan ritual perawatan pengangkatan sel-sel kulit mati halah halah...
Seorang teman menyikutku untuk melihat perempuan berkulit putih dengan rambut kecoklatan yang sedang membasuh muka di kran tak jauh dari tempat kami duduk.
"Cantik!" desis temanku itu sambil matanya tak lepas mengikuti tiap lekukan tubuh si perempuan.
Ketika perempuan itu melewati kami hendak ke kamarnya, temanku tak menyiakan kesempatan.
"Namanya siapa, mbak?" Tanpa diminta temanku mengulurkan tangan.
"Eva," jawab perempuan itu malu-malu karena temanku tak juga melepaskan tangannya dari sambutan tangan perempuan yang wajahnya agak kearab-araban itu. Dan temanku makin beringas menggoda. Dasar player, uggh!
Seorang perempuan lagi muncul. Memakai tanktop hitam merah, wajah dan kulitnya khas oriental. Raut mukanya sedikit tak bersahabat. Bibirnya manyun, terkesan judes. Ataukah mungkin memang sehari-hari ia demikian, aku kurang tahu!
Perempuan ini tak menarik minat teman-temanku. Justru aku yang "terpikat". Wajahnya mirip sekali dengan Nyak belokku di Jakarta dulu. Omongannya lumayan kasar. Sedikit-sedikit kata ASU (Baca: Anj***) terlontar dari bibirnya. Ia kemudian membawa motornya pergi sebelum sempat kujelajah sosoknya lebih jauh. Eits, bukan naksir lho ya, hanya mengenal saja coz she's straight and I hear ia baru aja putus ama cowoknya.
Menit berganti jam kulewati dengan memperhatikan temanku yang asyik menggoda perempuan bernama Eva yang sedari tadi sibuk dengan dua hapenya yang bergantian berdering. Ia bicara berbisik-bisik sambil sesekali mengintip ke kamarnya. Awalnya aku nggak ngeh, apa yang ia tutupi, rupanya ada laki-laki dalam kamarnya. Sedang terlelap. Entah habis berapa ronde.
Kesan pertamaku pada perempuan ini bertolak belakang dari dua temanku yang beropini ia "menarik". Wajahnya memang tergolong cantik. Tapi entah kenapa dimataku tetap saja ia tidak "menarik". Apalagi ketika suaranya menggelegar seantero kos, makin memudarkan pesonanya. Ternyata bukan hanya aku, dua temanku kemudian beralih opini terhadap perempuan bahenol (Baca: BAdan HEbat Otak NOL!). Meski begitu ada saja kelakuan temanku yang tergolong AGAK PENDIAM (Baca: Malu2 Kuciang) secara sembunyi-sembunyi memotret selangkangannya. Duduknya memang tak santun. Menganga seperti siap digagahi saja. Belum lagi ketika teriak-teriak, bagian bawahnya seolah menjadi bass sound systemnya hahahaha.
Pergi karaoke. Ide itu dicetuskan si malu-malu kucing. Pemilik wajah oriental bernama Evi itu pulang dan ikut bersama kami. Hanya Eva yang tidak.
Musik mulai menghentak. Dibuka oleh si pencetus ide. Ia memang sering ke karaoke. Suaranya juga lumayan bagus.
Evi pamer suara. Dan vokalnya merdu pula. Bukan hanya suara, goyangannya pun wow hehehe. Ia paling suka musik dangdut, meski ia juga menyumbangkan pita suaranya lewat bait melankolis Indonesia dan lagu asing. Tapi kurasa, dangdut lah yang menurutku PAS. Bernyanyi dan berjoget mirip Inul, benar-benar padanan yang pas, ya kan:) Bahkan salah satu kakinya dinaikkan ke meja. Namun ada satu kebiasaan yang menarik perhatian banyak mata, tiap kali bergoyang ia selalu memegangi tengah-tengah selangkangannya. Aku tak tahu apa penyebabnya, bukan hendak mengundang syahwat, tapi begitulah kebiasaannya.
"Tanyain nmr hape cewek di sebelahmu dong! Sekalian tanya dia udah punya pacar belum!" Si malu2 kuciang menyuruhku. Aku menolehnya, heran. Tadi ia bilang ia tak tertarik sama sekali dengan pemilik wajah oriental yang makin hot bernyanyi dan bergoyang, tapi kenapa justru sekarang ia malah tergila-gila. Jadinya, aku menjadi mediator mereka. Sebagai pengorek keterangan tepatnya.
"Udah punya pacar belum?" tanyaku basa basi meski aku sudah tau ia baru putus.
"Baru putus, TOYING COY!" Alisku seketika berkerut tajam membaca kalimat diatas. Toying... Gila!!
"Kalau berhubungan dengan cewek gimana?" Aku mulai memancingnya.
"Gak kepikiran. Belum pernah siy!"
"Kalau berhubungan ama cewek, pake hati atau pake duit?" tanyaku tanpa tedeng aling2. Aku tak suka banyak basa basi.
"Nggak tau. Seperti yang kubilang, aku gak kepikiran,"
"Kalau temanku pengen kenal kamu, boleh?"
Ia tampak berpikir sebelum menjawab. "PDKT aja dulu!
Aku mengacungkan jempol pada si malu2 kuciang pertanda jalan sudah terbuka baginya.
Perempuan itu... Dimatanya tersiratkan sebuah beban pikiran. Mungkin masalah dengan lelakinya belumlah selesai benar. Jika tak mengolah suara, ia memilih duduk diam dengan benak menerawang serta berbatang-batang rokok. Ia tau betul aku kerap memperhatikannya. Dan kalo gitu ia akan cepat-cepat pasang senyum yang dipaksakan. Tapi tetap saja mata itu tak bisa menipu.
Beberapa hari kemudian aku dapat kabar si malu2 kuciang sudah jadian dengan perempuan straight patah hati itu. Entah karena suatu alasan apa...
Monday, November 10, 2008
Anakmu "Butchie" Sekalee...:)
Seperti judul diatas, begitulah komentarku ketika bertemu untuk pertama kalinya dengan putri semata wayang Kupu2 Kecilku. Aku memang telah pernah melihat bocah kecil itu dalam foto dan video, kala itu aku dengan nada meledek bilang padamu wajah anakmu tampak maskulin, eh ketika bersua langsung pun ternyata ledekanku kuulang kembali.
Wajah bocah kecil itu seketika mendung saat bersirobok mata denganku. Sedetik kemudian tangisnya tumpah. Aku memang payah dalam berurusan dengan anak kecil terutama yang masih berusia batita. Pasalnya bukan sekali ini saja anak kecil "takut" padaku, tapi tiap kali aku bertemu yang namanya batita, respon mereka pasti kurang bersahabat padaku. Kukira bukan karna raut mukaku menakutkan, tapi karna memang aku tak suka dengan anak kecil. Ditambah kekikukanku dalam mengajak mereka bercanda, upps payah banget deh!
Bahkan ketika dulu aku punya adik aku tak pernah sekalipun menggendongnya. Tertarik untuk mengajaknya bercanda saja tidak. Entahlah, sampai teman-temanku heran ketika mereka gemas mencubiti pipi si bayi, aku malah tak ada hasrat sedikitpun. Sekalinya aku "disukai" bocah kecil aku malah kelimpungan, bingung apa yang mesti kulakukan. Paling dengan sangat terpaksa aku melempar candaan khas bayi yang terlihat kaku.
Balik lagi tentang bocah perempuan Kupu2 Kecilku. Meski di awal ia kurang bersahabat, bahkan tak mau menjulurkan tangan menyalamiku, perlahan ketakutannya luntur. Meski agak malu-malu ia menerima biskuit yang kusuapkan padanya. Dan kekakuan sikapnya kemudian mencair, ia sudah tak segan untuk mengacak-acak kamarku.
Untung saja aku belum merapikan semua barangku. Hanya perlengkapan mandi dan tas kecil tempat alat-alat yang penting-penting saja kutaruh sekenanya, sementara barang-barang lain masih rapat dalam kardus.
Bocah perempuan yang menurutku tak mirip dengan ibunya itu (hehehe sori dear... But its true..) benar-benar sangat hiperaktif. Aku yang melihat tingkahnya saja capek, apalagi ibunya yang tiap detik memantau tiap gerakannya. Habis main yang ini, minta yang itu, main yang ini lagi, tunjuk yang lain lagi.. Fiuuh... Capek! Tapi ketika si bocah terlihat antheng "menikmati" bermain dengan mengobrak-abrik barangku, si ibu malah enak-enakan tiduran. Waduh, pokoknya kamar yang masih berantakan ini jadi makin acak adul saja!
Tak terasa hari menjelang sore. Kupu2 Kecil berpamitan, meski berat. Bocah kecil dalam rengkuhannya terlihat mengantuk. Berbeda di kesan awal tadi, ia menjulurkan tangan dengan menahan kantuk ketika ibunya menyuruh menyalamiku. Tak berapa lama ia sudah tenggelam di alam mimpi.
Hmm... Aku memang tak suka anak kecil, tapi aku ingin segera bertemu dengannya kembali.
PS: Kata orang kalo sayang ama ibunya, maka juga harus bisa deket ama anaknya. Satu paket gitu loch! Okey, I'll try to learn bout that...
Wajah bocah kecil itu seketika mendung saat bersirobok mata denganku. Sedetik kemudian tangisnya tumpah. Aku memang payah dalam berurusan dengan anak kecil terutama yang masih berusia batita. Pasalnya bukan sekali ini saja anak kecil "takut" padaku, tapi tiap kali aku bertemu yang namanya batita, respon mereka pasti kurang bersahabat padaku. Kukira bukan karna raut mukaku menakutkan, tapi karna memang aku tak suka dengan anak kecil. Ditambah kekikukanku dalam mengajak mereka bercanda, upps payah banget deh!
Bahkan ketika dulu aku punya adik aku tak pernah sekalipun menggendongnya. Tertarik untuk mengajaknya bercanda saja tidak. Entahlah, sampai teman-temanku heran ketika mereka gemas mencubiti pipi si bayi, aku malah tak ada hasrat sedikitpun. Sekalinya aku "disukai" bocah kecil aku malah kelimpungan, bingung apa yang mesti kulakukan. Paling dengan sangat terpaksa aku melempar candaan khas bayi yang terlihat kaku.
Balik lagi tentang bocah perempuan Kupu2 Kecilku. Meski di awal ia kurang bersahabat, bahkan tak mau menjulurkan tangan menyalamiku, perlahan ketakutannya luntur. Meski agak malu-malu ia menerima biskuit yang kusuapkan padanya. Dan kekakuan sikapnya kemudian mencair, ia sudah tak segan untuk mengacak-acak kamarku.
Untung saja aku belum merapikan semua barangku. Hanya perlengkapan mandi dan tas kecil tempat alat-alat yang penting-penting saja kutaruh sekenanya, sementara barang-barang lain masih rapat dalam kardus.
Bocah perempuan yang menurutku tak mirip dengan ibunya itu (hehehe sori dear... But its true..) benar-benar sangat hiperaktif. Aku yang melihat tingkahnya saja capek, apalagi ibunya yang tiap detik memantau tiap gerakannya. Habis main yang ini, minta yang itu, main yang ini lagi, tunjuk yang lain lagi.. Fiuuh... Capek! Tapi ketika si bocah terlihat antheng "menikmati" bermain dengan mengobrak-abrik barangku, si ibu malah enak-enakan tiduran. Waduh, pokoknya kamar yang masih berantakan ini jadi makin acak adul saja!
Tak terasa hari menjelang sore. Kupu2 Kecil berpamitan, meski berat. Bocah kecil dalam rengkuhannya terlihat mengantuk. Berbeda di kesan awal tadi, ia menjulurkan tangan dengan menahan kantuk ketika ibunya menyuruh menyalamiku. Tak berapa lama ia sudah tenggelam di alam mimpi.
Hmm... Aku memang tak suka anak kecil, tapi aku ingin segera bertemu dengannya kembali.
PS: Kata orang kalo sayang ama ibunya, maka juga harus bisa deket ama anaknya. Satu paket gitu loch! Okey, I'll try to learn bout that...
Saturday, November 8, 2008
First Coming...
Brakk... Brakk... Brakk...
Suara itu membuatku seketika terjaga. Mobil berhenti. "Dimana ini?" desisku setengah sadar.
Brakk... Brakk...
Suara itu kembali terdengar di belakangku.
"Yang turun Solo, bangun, pak," lantang sang sopir berulang-ulang karena dua penumpang di belakang masih saja ngorok.
"Solo..." Aku teringat pemberitahuan sopir barusan. Bergegas kutengok penunjuk waktu di layar ponsel. "Masih jam satu kurang..." Jarak Solo-Jogja kurang lebih sejam setengah. Mati aku, desisku. "Masa aku mau gedor-gedor yang punya kos pagi buta gini!" batinku sembari berharap waktu lebih cepat beranjak atau kalau tidak mobil melambat. Ah, tak mungkin aku menyuruh sopir mengurangi kecepatan, justru kukira ia ingin cepat-cepat sampai dan beristirahat, makanya ia ngebut banget. Bayangkan, ketika mataku tak kuat menahan kantuk tadi mobil yang kutumpangi baru memasuki wilayah Madiun, dan bleepp... Dalam sekejab mata ia sudah sampai Solo.
Pukul dua. Entah ini berada dimana. Aku sudah tak konsen, bingung merangkai kata yang nanti kuutarakan pada pemilik rumah. Hampir setengah tiga ketika tiba-tiba sopir menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada apa, pak?" tanyaku pada lelaki kurus yang umurnya paling cuma diatasku sedikit.
"Lupa jalannya, mbak!" sahutnya sembari memencet ponsel.
"Semoga saja ia tak segera menemukan alamat yang kuberi!" pintaku dalam-dalam.
Nomor yang ia hubungi rupanya tidak tersambung. Laki-laki itu turun, bertanya pada segerombolan pria di warung pinggir jalan. Tak lama ia duduk kembali di balik kemudi, putar balik mobil.
"Kelewatan ya, pak?"
"Iya, saya lupa daerah sini!" ujarnya sambil melongokkan kepala ke kanan kiri jalan.
Masih pukul tiga kurang. Apa yang harus kulakukan untuk mengulur waktu? Sudah tak ada! Mobil telah menikung di gang yang kuberitahukan.
Rupanya Dewi fortuna masih menemaniku. Rumahnya susah dicari. Aku dan sopir itu turun. Berkeliling dan tetap tak ketemu. Nomor rumah acak. Aku sedikit bersorak. Paling tidak akan memperlambat waktu. Tapi tak bertahan lama. Laki-laki itu berhasil menemukan rumah yang ternyata telah kami lewati.
Rumah berpagar rendah itu UNTUNG SAJA tak dikunci. Aku melihat kilatan-kilatan blitz televisi yang menyala dari celah angin diatas pintu. Berarti orangnya belum tidur, pikirku. Dengan semangat 45 segera kuketuk pintu.
Satu, dua, bahkan hingga tujuh kali tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Si sopir mengetuk lebih keras, tapi orang yang didalam seolah tewas saja tidurnya.
Aku memutuskan menurunkan barangku dan menunggu saja sampai pagi ada yang membukakan pintu. Baru setengah barangku mencicipi teras, kudengar bunyi kunci diputar dari dalam. Seorang kakek muncul menghampiriku. Aku langsung mengungkapkan maksudku. Laki-laki renta yang nada bicaranya kebarat-baratan itu (habisnya aku dibilang YOU2 an, jadi pengen ngakak dengernya!) menghilang dibalik pintu, kemudian muncul kembali bersama perempuan seumuranku.
"Mari, mbak, masuk..." Perempuan itu santun menyilahkanku. Ia menuntunku ke kamar. Di lantai 2. Gelap pula. Ia pergi usai berkata ini itu. Tinggal aku sendiri. Terpekur di bangunan 3x3 ini seorang diri. Aku berinisiatif menelepon perempuanku. Berulang. Tak diangkat. Jam segini mana pernah ia menerima panggilanku. Paling juga hapenya disilent.
Oahm... Kantuk menderaku. Sayup kudengar suara orang mengaji di masjid. Sebentar lagi subuh. Mataku terpejam.
Suara itu membuatku seketika terjaga. Mobil berhenti. "Dimana ini?" desisku setengah sadar.
Brakk... Brakk...
Suara itu kembali terdengar di belakangku.
"Yang turun Solo, bangun, pak," lantang sang sopir berulang-ulang karena dua penumpang di belakang masih saja ngorok.
"Solo..." Aku teringat pemberitahuan sopir barusan. Bergegas kutengok penunjuk waktu di layar ponsel. "Masih jam satu kurang..." Jarak Solo-Jogja kurang lebih sejam setengah. Mati aku, desisku. "Masa aku mau gedor-gedor yang punya kos pagi buta gini!" batinku sembari berharap waktu lebih cepat beranjak atau kalau tidak mobil melambat. Ah, tak mungkin aku menyuruh sopir mengurangi kecepatan, justru kukira ia ingin cepat-cepat sampai dan beristirahat, makanya ia ngebut banget. Bayangkan, ketika mataku tak kuat menahan kantuk tadi mobil yang kutumpangi baru memasuki wilayah Madiun, dan bleepp... Dalam sekejab mata ia sudah sampai Solo.
Pukul dua. Entah ini berada dimana. Aku sudah tak konsen, bingung merangkai kata yang nanti kuutarakan pada pemilik rumah. Hampir setengah tiga ketika tiba-tiba sopir menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada apa, pak?" tanyaku pada lelaki kurus yang umurnya paling cuma diatasku sedikit.
"Lupa jalannya, mbak!" sahutnya sembari memencet ponsel.
"Semoga saja ia tak segera menemukan alamat yang kuberi!" pintaku dalam-dalam.
Nomor yang ia hubungi rupanya tidak tersambung. Laki-laki itu turun, bertanya pada segerombolan pria di warung pinggir jalan. Tak lama ia duduk kembali di balik kemudi, putar balik mobil.
"Kelewatan ya, pak?"
"Iya, saya lupa daerah sini!" ujarnya sambil melongokkan kepala ke kanan kiri jalan.
Masih pukul tiga kurang. Apa yang harus kulakukan untuk mengulur waktu? Sudah tak ada! Mobil telah menikung di gang yang kuberitahukan.
Rupanya Dewi fortuna masih menemaniku. Rumahnya susah dicari. Aku dan sopir itu turun. Berkeliling dan tetap tak ketemu. Nomor rumah acak. Aku sedikit bersorak. Paling tidak akan memperlambat waktu. Tapi tak bertahan lama. Laki-laki itu berhasil menemukan rumah yang ternyata telah kami lewati.
Rumah berpagar rendah itu UNTUNG SAJA tak dikunci. Aku melihat kilatan-kilatan blitz televisi yang menyala dari celah angin diatas pintu. Berarti orangnya belum tidur, pikirku. Dengan semangat 45 segera kuketuk pintu.
Satu, dua, bahkan hingga tujuh kali tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Si sopir mengetuk lebih keras, tapi orang yang didalam seolah tewas saja tidurnya.
Aku memutuskan menurunkan barangku dan menunggu saja sampai pagi ada yang membukakan pintu. Baru setengah barangku mencicipi teras, kudengar bunyi kunci diputar dari dalam. Seorang kakek muncul menghampiriku. Aku langsung mengungkapkan maksudku. Laki-laki renta yang nada bicaranya kebarat-baratan itu (habisnya aku dibilang YOU2 an, jadi pengen ngakak dengernya!) menghilang dibalik pintu, kemudian muncul kembali bersama perempuan seumuranku.
"Mari, mbak, masuk..." Perempuan itu santun menyilahkanku. Ia menuntunku ke kamar. Di lantai 2. Gelap pula. Ia pergi usai berkata ini itu. Tinggal aku sendiri. Terpekur di bangunan 3x3 ini seorang diri. Aku berinisiatif menelepon perempuanku. Berulang. Tak diangkat. Jam segini mana pernah ia menerima panggilanku. Paling juga hapenya disilent.
Oahm... Kantuk menderaku. Sayup kudengar suara orang mengaji di masjid. Sebentar lagi subuh. Mataku terpejam.
Friday, November 7, 2008
The Day
Ponselku berdering pendek. Sebuah pesan singkat yang mengabarkan bahwa mobil yang kan membawaku ke kota Gudeg baru saja berangkat. Itu berarti ia sampai sini sekitar sejam lagi. Lebih cepat dari yang kuperkirakan. Karena ketika ke Jogja bulan Februari lalu mobil berangkat pukul delapan malam. Jika tepat waktu, mobil itu akan memasuki kotaku ba'da maghrib. Kecemasan mulai merasuk. Jika kuhitung-hitung, sekitar sembilan jam perjalanan berarti sampai Jogja pukul tiga pagi. Busyet! Ah, mungkin sopirnya pengen nyetir santai, jadi nyampenya sama kayak biasanya, subuh. Begitu pikirku.
Aku dengan dibantu ayah dan pamanku menyeret barang-barang bawaanku ke depan. Sembari menunggu kami mengobrol. Semua anggota keluarga lengkap berkumpul. Aku, orang tuaku, adik ibuku dan suaminya serta dua sepupuku.
Dan waktunya tiba. Mobil telah datang. Haru tangis ibu menyertai. Satu anaknya telah pergi, ia berlinang airmata. Padahal aku tak pergi jauh, paling tidak tak sejauh Jakarta seperti beberapa tahun lalu. Apalagi nanti, beberapa hari lagi, kakak lelakiku juga akan berpamitan ke Sumatra Selatan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nangis Bombaynya perempuan paruh baya itu.
Sepanjang perjalanan yang terlukis hanya wajah ibu yang kutinggalkan, bergantian dengan wajah perempuanku yang akan kutemui di kota yang kutuju. Perasaanku... Campur aduk. Rasa iba pada sosok sayu ibu menyelimuti layaknya dingin AC yang merasuk pori-pori. Sementara di sisi lain, perempuan yang oleh ibu disangka lelakiku tengah menanti disana. Meski beberapa hari ini masih saja ia mencurigaiku macam-macam, padahal sudah jelas-jelas dalam hitungan jam aku tak akan jauh dari arah pandangnya.
Inilah hidup!
Aku dengan dibantu ayah dan pamanku menyeret barang-barang bawaanku ke depan. Sembari menunggu kami mengobrol. Semua anggota keluarga lengkap berkumpul. Aku, orang tuaku, adik ibuku dan suaminya serta dua sepupuku.
Dan waktunya tiba. Mobil telah datang. Haru tangis ibu menyertai. Satu anaknya telah pergi, ia berlinang airmata. Padahal aku tak pergi jauh, paling tidak tak sejauh Jakarta seperti beberapa tahun lalu. Apalagi nanti, beberapa hari lagi, kakak lelakiku juga akan berpamitan ke Sumatra Selatan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nangis Bombaynya perempuan paruh baya itu.
Sepanjang perjalanan yang terlukis hanya wajah ibu yang kutinggalkan, bergantian dengan wajah perempuanku yang akan kutemui di kota yang kutuju. Perasaanku... Campur aduk. Rasa iba pada sosok sayu ibu menyelimuti layaknya dingin AC yang merasuk pori-pori. Sementara di sisi lain, perempuan yang oleh ibu disangka lelakiku tengah menanti disana. Meski beberapa hari ini masih saja ia mencurigaiku macam-macam, padahal sudah jelas-jelas dalam hitungan jam aku tak akan jauh dari arah pandangnya.
Inilah hidup!
Choice & Decision
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang saling berkaitan dan selalu muncul di tiap bidang kehidupan manusia. Tak terkecuali padaku.
Ketika disuguhi himpitan kepenatan berada di kota yang belum genap setahun kutinggali ini, kian hari aku sepertinya kian dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan dan mencoba untuk membeli lebih banyak sabar di toko pak Sabar atau meninggalkan kota ini dengan konsekuensi kembali menorehkan beban pikiran pada perempuan yang mengandung dan melahirkanku yang tak menginginkanku jauh dari pandangnya untuk kedua kali.
Dua pilihan yang sama-sama sulit, bahkan jika memungkinkan tak ingin kupilih dua-duanya. Tapi kenyataannya malah kebalikannya. Tiap detakan waktu seolah memperjelas bagaimanapun aku harus memilih.
Dan akhirnya aku mengambil pilihan kedua. Meninggalkan kota kecil tempat kelahiran ibuku. Namun bukan tanpa pikir panjang. Berulang kali rencana itu muncul, namun berulang kali pula pupus. Yang membuatku berat hanya ibu. Meski aku kerap clash dengan pemikiran konvensionalnya yang cukup parah, tapi jika mengingat ibu, rasanya lutut kakiku lemas tak kuat tuk melangkah mewujudkan benakku yang ingin lari karena tak kuasa dengan penat ini.
Kali ini aku memantapkan tekad. Seperti yang kuduga, kelopak mata beliau tergenang ketika aku mengutarakan niatku. Pun ketika melepasku. Padahal aku tak hendak lari kemana. Menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya soal masa depan. Pilihan dan keputusan itu aku yakini juga akan berpengaruh pada garis asmaraku.
Tengah membawa sebuah kapal berlayar, jika tak dari sekarang berbenah, menengok tiap sudut memastikan takkan bocor jika ombak tinggi. Walau aku tak pernah tahu kapan dan seberapa tinggi ombak serta karang-karang terjal yang tak terlihat kan menghantam kapalku.
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang telah kulalui dan telah siap untuk kutuai, apapun bentuknya.
Ketika disuguhi himpitan kepenatan berada di kota yang belum genap setahun kutinggali ini, kian hari aku sepertinya kian dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan dan mencoba untuk membeli lebih banyak sabar di toko pak Sabar atau meninggalkan kota ini dengan konsekuensi kembali menorehkan beban pikiran pada perempuan yang mengandung dan melahirkanku yang tak menginginkanku jauh dari pandangnya untuk kedua kali.
Dua pilihan yang sama-sama sulit, bahkan jika memungkinkan tak ingin kupilih dua-duanya. Tapi kenyataannya malah kebalikannya. Tiap detakan waktu seolah memperjelas bagaimanapun aku harus memilih.
Dan akhirnya aku mengambil pilihan kedua. Meninggalkan kota kecil tempat kelahiran ibuku. Namun bukan tanpa pikir panjang. Berulang kali rencana itu muncul, namun berulang kali pula pupus. Yang membuatku berat hanya ibu. Meski aku kerap clash dengan pemikiran konvensionalnya yang cukup parah, tapi jika mengingat ibu, rasanya lutut kakiku lemas tak kuat tuk melangkah mewujudkan benakku yang ingin lari karena tak kuasa dengan penat ini.
Kali ini aku memantapkan tekad. Seperti yang kuduga, kelopak mata beliau tergenang ketika aku mengutarakan niatku. Pun ketika melepasku. Padahal aku tak hendak lari kemana. Menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya soal masa depan. Pilihan dan keputusan itu aku yakini juga akan berpengaruh pada garis asmaraku.
Tengah membawa sebuah kapal berlayar, jika tak dari sekarang berbenah, menengok tiap sudut memastikan takkan bocor jika ombak tinggi. Walau aku tak pernah tahu kapan dan seberapa tinggi ombak serta karang-karang terjal yang tak terlihat kan menghantam kapalku.
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang telah kulalui dan telah siap untuk kutuai, apapun bentuknya.
Saturday, October 25, 2008
Curhat Malah Dicurhatin!
Tut... Tut... Tut... Tut...
"Halo..." Terdengar suara perempuan di ujung telepon satu detik sebelum jempolku memencet tombol merah untuk mengakhiri panggilan pada dering kelima.
"Halo..." sahutku.
"Ada apa?" Nada suara di seberang parau nampak sekali jiwanya belum terkumpul seratus persen pada raganya.
"Woi, bangun, dah siang!" teriakku kenceng-kenceng.
"Jam berapa sih ini?" Suara lembut perempuan itu masih terkesan bermalas-malasan.
"Udah jam setengah delapan nih!" kibulku pengen bikin perempuan itu panik karena telat masuk kantor, padahal sebenarnya baru jam setengah enam.
"Kalo setengah delapan yo wes aku tidur lagi aja!" Malah perempuan itu yang balik bikin aku keki.
"Woii..." teriakku. Ia terkekeh dalam kantuk. "Dasar femme kok mbangkong!" ledekku.
"Biar aja, yang penting banyak yang mau sama aku!" Kumat deh narsisnya. "Termasuk kamu juga kan, makanya pagi-pagi kamu sudah nelpon-nelpon aku, ya kan?" Bener-bener deh perempuan satu ini emang super narsis.
"Stop deh jadi orang narsis!" sergahku gerah membuatnya makin terkekeh. Terus terang aku sedang tidak mood bercanda hari ini. Pikiranku sedang tinggi.
"Entahlah, Rey, aku lagi suntuk dengan hidupku..." suara lembutnya berubah pecah. Ada kesedihan disana.
"Kenapa lagi?" tanyaku meski jujur saja aku sedang tak ingin dicurhati. Bahkan awalnya justru aku yang ingin berkeluh kesah.
"Aku juga nggak tau aku ini kenapa... Nggak tau aku ingin apa..."
"Soal apa lagi, mantanmu itu?" Terakhir ia bercerita sudah tak ada masalah lagi dengan perempuan yang masih mengisi relung hatinya itu. Ia bilang ia sudah tau apa dan bagaimana ia menangani hatinya untuk itu.
"Bukan tentang dia..." sangkalnya.
"Lalu..." kejarku.
"Aku tadi dimarahi temanku!"
"Masalahnya apa?"
"Karena aku bersikap buruk pada temannya yang dikenalkannya padaku..."
"Emang kenapa kamu bersikap kayak gitu?"
"Aku juga nggak tau! Tapi tiap kali aku dikenalin orang, selalu saja aku jawabnya asal-asalan dan boongin mereka tentang diriku, padahal awalnya aku yang minta dikenalin..."
Aku mendesah panjang. "Kalo kamu merasa belum siap menerima kehadiran orang lain di hatimu, jangan pernah memaksa untuk cepat-cepat membuka diri!" Aku yakin betul sahabatku satu ini belum bisa melupakan mantan kekasihnya yang sudah mengkhianati tapi tetap tak bisa ia lupakan itu.
"Aku nggak mau terus-terusan gini, Rey, aku juga ingin bahagia! Tapi kenapa ketika ingin mengenal orang baru, aku malah bersikap seperti itu!" Suara perempuan di seberang serak. Butiran air sepertinya telah meretas.
"Makanya jangan memaksakan diri! Dan kalau pun kenal, ya anggap biasa aja, nggak usah dianggap serius..."
"Tapi justru mereka yang serius!"
"Ya sudah, berarti dari kamunya yang harus meng-handle semuanya!"
"Aku kenapa sih, Rey? Apa aku jahat?"
"Bukan jahat, kamu belum siap aja!""Lalu sampai kapan aku akan begini?" Isakan perempuan itu terdengar jelas.
"Yang bisa memutuskan kapan kau bisa keluar dari belenggu yang dibuat olehmu sendiri adalah hatimu!"
Aku jadi teringat awal perkenalan aku dengan perempuan ini. Dua tahun lalu, dua orang yang sama-sama patah hati. Hanya bedanya aku sudah terlepas dari kungkungan lingkaran setan yang membelit perasaan yang kubuat sendiri, sementara perempuan di ujung telepon ini belum, meski lisannya beberapa waktu lalu dengan bangga menyerukan kebebasan belenggu perasaannya.
"Aku cuma pengen bahagia, Rey, kenapa rasanya kok susah sekali!"
Kembali aku hanya menarik nafas panjang. Sebenarnya tak beda jauh dengan yang kurasakan saat ini.
"Udah, ah, kok jadi termehek-mehek gini. Tadi kamu mau cerita apa?"
"Nggak, cuma mau nelpon kamu aja kok!" boongku.
Kebahagiaan... Sepertinya terkesan sederhana, namun ternyata tak mudah karena acapkali kita merasa di titik nol akan kehidupan. Dan aku rasa wajar, asal tak berlarut-larut dan secepatnya memupuk hati untuk mulai melakukan kembali hal-hal positif dalam hidup. Sound easy, but not always easy... Then just make it easier!
"Halo..." Terdengar suara perempuan di ujung telepon satu detik sebelum jempolku memencet tombol merah untuk mengakhiri panggilan pada dering kelima.
"Halo..." sahutku.
"Ada apa?" Nada suara di seberang parau nampak sekali jiwanya belum terkumpul seratus persen pada raganya.
"Woi, bangun, dah siang!" teriakku kenceng-kenceng.
"Jam berapa sih ini?" Suara lembut perempuan itu masih terkesan bermalas-malasan.
"Udah jam setengah delapan nih!" kibulku pengen bikin perempuan itu panik karena telat masuk kantor, padahal sebenarnya baru jam setengah enam.
"Kalo setengah delapan yo wes aku tidur lagi aja!" Malah perempuan itu yang balik bikin aku keki.
"Woii..." teriakku. Ia terkekeh dalam kantuk. "Dasar femme kok mbangkong!" ledekku.
"Biar aja, yang penting banyak yang mau sama aku!" Kumat deh narsisnya. "Termasuk kamu juga kan, makanya pagi-pagi kamu sudah nelpon-nelpon aku, ya kan?" Bener-bener deh perempuan satu ini emang super narsis.
"Stop deh jadi orang narsis!" sergahku gerah membuatnya makin terkekeh. Terus terang aku sedang tidak mood bercanda hari ini. Pikiranku sedang tinggi.
"Entahlah, Rey, aku lagi suntuk dengan hidupku..." suara lembutnya berubah pecah. Ada kesedihan disana.
"Kenapa lagi?" tanyaku meski jujur saja aku sedang tak ingin dicurhati. Bahkan awalnya justru aku yang ingin berkeluh kesah.
"Aku juga nggak tau aku ini kenapa... Nggak tau aku ingin apa..."
"Soal apa lagi, mantanmu itu?" Terakhir ia bercerita sudah tak ada masalah lagi dengan perempuan yang masih mengisi relung hatinya itu. Ia bilang ia sudah tau apa dan bagaimana ia menangani hatinya untuk itu.
"Bukan tentang dia..." sangkalnya.
"Lalu..." kejarku.
"Aku tadi dimarahi temanku!"
"Masalahnya apa?"
"Karena aku bersikap buruk pada temannya yang dikenalkannya padaku..."
"Emang kenapa kamu bersikap kayak gitu?"
"Aku juga nggak tau! Tapi tiap kali aku dikenalin orang, selalu saja aku jawabnya asal-asalan dan boongin mereka tentang diriku, padahal awalnya aku yang minta dikenalin..."
Aku mendesah panjang. "Kalo kamu merasa belum siap menerima kehadiran orang lain di hatimu, jangan pernah memaksa untuk cepat-cepat membuka diri!" Aku yakin betul sahabatku satu ini belum bisa melupakan mantan kekasihnya yang sudah mengkhianati tapi tetap tak bisa ia lupakan itu.
"Aku nggak mau terus-terusan gini, Rey, aku juga ingin bahagia! Tapi kenapa ketika ingin mengenal orang baru, aku malah bersikap seperti itu!" Suara perempuan di seberang serak. Butiran air sepertinya telah meretas.
"Makanya jangan memaksakan diri! Dan kalau pun kenal, ya anggap biasa aja, nggak usah dianggap serius..."
"Tapi justru mereka yang serius!"
"Ya sudah, berarti dari kamunya yang harus meng-handle semuanya!"
"Aku kenapa sih, Rey? Apa aku jahat?"
"Bukan jahat, kamu belum siap aja!""Lalu sampai kapan aku akan begini?" Isakan perempuan itu terdengar jelas.
"Yang bisa memutuskan kapan kau bisa keluar dari belenggu yang dibuat olehmu sendiri adalah hatimu!"
Aku jadi teringat awal perkenalan aku dengan perempuan ini. Dua tahun lalu, dua orang yang sama-sama patah hati. Hanya bedanya aku sudah terlepas dari kungkungan lingkaran setan yang membelit perasaan yang kubuat sendiri, sementara perempuan di ujung telepon ini belum, meski lisannya beberapa waktu lalu dengan bangga menyerukan kebebasan belenggu perasaannya.
"Aku cuma pengen bahagia, Rey, kenapa rasanya kok susah sekali!"
Kembali aku hanya menarik nafas panjang. Sebenarnya tak beda jauh dengan yang kurasakan saat ini.
"Udah, ah, kok jadi termehek-mehek gini. Tadi kamu mau cerita apa?"
"Nggak, cuma mau nelpon kamu aja kok!" boongku.
Kebahagiaan... Sepertinya terkesan sederhana, namun ternyata tak mudah karena acapkali kita merasa di titik nol akan kehidupan. Dan aku rasa wajar, asal tak berlarut-larut dan secepatnya memupuk hati untuk mulai melakukan kembali hal-hal positif dalam hidup. Sound easy, but not always easy... Then just make it easier!
Perempuan Misterius
"Perempuan itu lagi..." desisku lirih. Kerja jantungku dibuat berdegup lebih dan sangat cepat, bahkan detakannya bisa ditangkap oleh telingaku dengan teramat jelas. Hal yang kulakukan berikutnya setelah berhasil menormalkan kembali peredaran oksigen dalam darahku adalah menggali ingatanku. Ya, memacu kerja otakku agar bekerja lebih keras mengingat-ingat, memutar kembali rekaman alam bawah yang baru saja masuk ke otakku.
Ahh... Sialan! Sama seperti kemarin. Ingatanku menemui jalan buntu. Bahkan tak satupun dapat kueja seolah apa yang terjadi barusan telah terhapus sama sekali, tak menyisakan secuil jejak pun sebagai bukti otentik aku habis bermimpi.
Hari pertama aku tak perduli. Ketika terulang esok harinya, aku mencoba sejenak mencermati, namun tak begitu ambil pusing. Dihantui perempuan yang sama untuk ketiga kali mau tak mau membuatku berpikir, berusaha mereka-reka lebih detil. Keempat kalinya ini tak bisa dipandang sebelah mata, aku harus memaksa prosesor bernama otak itu bekerja lebih keras.
Ada apa ini? Atau lebih tepatnya mimpi apa aku ini? Kalau cuma sekedar mimpi sekali ini saja sudah barang tentu aku tak akan ambil pusing, tapi ini sudah keempat kalinya dan anehnya tak ada satupun yang berhasil kuingat. Setelah terjaga, praktis semua hilang bersamaan dengan berakhirnya alam mimpiku. Bahkan jalan cerita, awal hingga akhir mimpiku pun lenyap. Yang tersisa hanya sosok perempuan dalam mimpi, tapi anehnya tak kutahu bagaimana wajahnya dan detil-detil lain yang bisa kujadikan patokan siapa sebenarnya perempuan yang kuimpikan.
Sekuat apapun otakku digerus, tetap tak menemukan memori yang berarti. Aku hanya ingat aku bermimpi tentang seorang perempuan yang dahsyatnya mampu menelurkan peluh sebesar butiran biji jagung dan sukses mempercepat kerja jantungku, namun dahsyatnya pula sosok itu begitu buram, entah kukenal atau tak pernah hadir dalam hidupku sama sekali.
Apa arti mimpiku? Terlebih, siapa perempuan misterius itu? Kembali aku dibuat merenung sendiri.
Ahh... Sialan! Sama seperti kemarin. Ingatanku menemui jalan buntu. Bahkan tak satupun dapat kueja seolah apa yang terjadi barusan telah terhapus sama sekali, tak menyisakan secuil jejak pun sebagai bukti otentik aku habis bermimpi.
Hari pertama aku tak perduli. Ketika terulang esok harinya, aku mencoba sejenak mencermati, namun tak begitu ambil pusing. Dihantui perempuan yang sama untuk ketiga kali mau tak mau membuatku berpikir, berusaha mereka-reka lebih detil. Keempat kalinya ini tak bisa dipandang sebelah mata, aku harus memaksa prosesor bernama otak itu bekerja lebih keras.
Ada apa ini? Atau lebih tepatnya mimpi apa aku ini? Kalau cuma sekedar mimpi sekali ini saja sudah barang tentu aku tak akan ambil pusing, tapi ini sudah keempat kalinya dan anehnya tak ada satupun yang berhasil kuingat. Setelah terjaga, praktis semua hilang bersamaan dengan berakhirnya alam mimpiku. Bahkan jalan cerita, awal hingga akhir mimpiku pun lenyap. Yang tersisa hanya sosok perempuan dalam mimpi, tapi anehnya tak kutahu bagaimana wajahnya dan detil-detil lain yang bisa kujadikan patokan siapa sebenarnya perempuan yang kuimpikan.
Sekuat apapun otakku digerus, tetap tak menemukan memori yang berarti. Aku hanya ingat aku bermimpi tentang seorang perempuan yang dahsyatnya mampu menelurkan peluh sebesar butiran biji jagung dan sukses mempercepat kerja jantungku, namun dahsyatnya pula sosok itu begitu buram, entah kukenal atau tak pernah hadir dalam hidupku sama sekali.
Apa arti mimpiku? Terlebih, siapa perempuan misterius itu? Kembali aku dibuat merenung sendiri.
Thursday, October 23, 2008
Become Romantic...
"Lo sih nggak romantis! Nggak kayak gue nih selalu memperlakukan cewek dengan romantis, makanya mereka jadi klepek-klepek..." ujar seorang teman belok yang baru bertransformasi jadi butchie, narsis campur ngebanyol.
Pagi kemarin aku mendapat sms dari Kupu-Kupu Kecil setelah baca tulisan di blogku ini katanya -ada bagian- yang romantis -mungkin puitis maksudnya hehehe- sementara dalam keseharianku ia tak menemukan kesamaan.
Am I Romantic? Hehehe ga mau narsis untuk kasi tau jawabannya, tapi menurutku -dan juga kata beberapa perempuan- aku itu tidak romantis, bahkan termasuk cuek dan nggak perhatian sama sekali. Bukan saja tidak romantis pada perbuatan, mengungkapkan perasaan terhadap seseorang saja kadang membuatku geli sendiri jika harus berkata SAYANG, I LOVE U dan sejenisnya. Malahan, seorang teman pernah bilang kalau aku terlalu LUGAS (baca: agak kasar) dalam melisankan pemikiranku terhadap sesuatu hal. Apa adanya. Padahal kadang basa-basi juga diperlukan, meski cuma jadi pemanis mulut.
Malah kalo lagi jalan atau bduaan ama pasangan misalnya, kadang suka telmi (telat mikir), suka nggak kepikir hal-hal romantis yang mau dilakuin, ntar kepikirnya pas udah di rumah setelah nginget-nginget lagi, baru deh nggerutu kenapa tadi aku nggak gini ya, nggak gitu ya... Dah telat kan?
Kadang jadi suka mikir, gimana sih biar bisa lebih romantis? But not become totally romantic, just wanna know, how 2 treat a girl better lah... Ada yang bersedia kasi tips n trik hehe...
Pagi kemarin aku mendapat sms dari Kupu-Kupu Kecil setelah baca tulisan di blogku ini katanya -ada bagian- yang romantis -mungkin puitis maksudnya hehehe- sementara dalam keseharianku ia tak menemukan kesamaan.
Am I Romantic? Hehehe ga mau narsis untuk kasi tau jawabannya, tapi menurutku -dan juga kata beberapa perempuan- aku itu tidak romantis, bahkan termasuk cuek dan nggak perhatian sama sekali. Bukan saja tidak romantis pada perbuatan, mengungkapkan perasaan terhadap seseorang saja kadang membuatku geli sendiri jika harus berkata SAYANG, I LOVE U dan sejenisnya. Malahan, seorang teman pernah bilang kalau aku terlalu LUGAS (baca: agak kasar) dalam melisankan pemikiranku terhadap sesuatu hal. Apa adanya. Padahal kadang basa-basi juga diperlukan, meski cuma jadi pemanis mulut.
Malah kalo lagi jalan atau bduaan ama pasangan misalnya, kadang suka telmi (telat mikir), suka nggak kepikir hal-hal romantis yang mau dilakuin, ntar kepikirnya pas udah di rumah setelah nginget-nginget lagi, baru deh nggerutu kenapa tadi aku nggak gini ya, nggak gitu ya... Dah telat kan?
Kadang jadi suka mikir, gimana sih biar bisa lebih romantis? But not become totally romantic, just wanna know, how 2 treat a girl better lah... Ada yang bersedia kasi tips n trik hehe...
Wednesday, October 22, 2008
KOMITMEN
Salah satu kosakata rana perbelokan yang sering kudengar tapi belum pernah kuhembuskan. Sangat familiar di kupingku dari bentuk hubungan orang lain, tapi asing kulakukan bagi relationshipku sendiri. Bukan karna tak mau, hanya belum pernah terjadi dari satu, dua... etc hubunganku.
Komitmen. Apa sih definisinya? Mungkin bisa diartikan luas sebab pandangan, batasan, aturan de el el masing-masing orang tentu akan berbeda-beda. Dari kacamataku, Komitmen itu kunilai sebagai tindak lanjut hubungan yang aku setarafkan layaknya pernikahan dalam arti harafiah. Pandangan tiap orang -sekali lagi- tidak sama, tapi menurutku pernikahan -dalam arti sebenar-benarnya- dalam dunia homoseksual -sampai detik ini, mengacu pada penerimaan masyarakat yang masih homophobic- adalah sebuah KEKONYOLAN alias sesuatu yang wasting time, sebab meski menurut sebuah agama -mungkin- sah, tetap saja di mata masyarakat tak ada penerimaan sejati.
Aku pernah mendengar ada pasangan lesbian yang menikah secara adat di Kediri, juga pernah kubaca di milis ada seorang pendeta perempuan yang bersedia menikahkan pasangan sesama jenis secara kristen, toh dimataku kata MENIKAH tetap saja kuanggap "aneh". Aku setuju dengan pendapat seorang teman: "Kita (lesbian) aja oleh masyarakat dianggap abnormal, kenapa harus menambah kelakuan abnormal-abnormal lain -di mata mereka- seperti menikah!"
Ya mungkin ada yang berkomentar, "Ngapain mikirin kata orang, kan yang menjalani hubungan itu adalah kita sendiri, jadi nggak peduli kata orang!" Well, semua emang kembali pada pemikiran dan pribadi masing-masing, yang jelas untuk membawa arah biduk rumah tanggaku kelak, (ciee berat neh kata-katanya...) aku lebih memilih KOMITMEN (entah dalam bentuk living together de el el) daripada MENIKAH.
***
"Komitmen seperti apa yang kamu terapkan kelak?" Pertanyaan itu pernah diajukan seseorang beberapa waktu lalu.
Hmm... Jawabanku waktu itu dan sekarang masih tetap sama. Tak muluk-muluk. Selain karna belum pernah melakoni, aku juga tak ingin berkata banyak dulu tentang sesuatu yang masih buram di masa mendatang, alias nggak mau janji-janji ntar takutnya jadi merpati yang nggak janji deh! (Hehehe...)
Pastinya, jika menginginkan sebuah hubungan yang serius, komitmen harus dibicarakan dan direncanakan sedari sekarang. Selebihnya melihat kemana waktu dan kenyataan berhembus, tentu dengan kembali pada komitmen awal masing-masing. Jika pondasi kuat, angin puting beliung bahkan badai Katrina pun, tak mampu membuat sebuah hubungan tergoyahkan. (Ceilee... Mantab!)
Hmm... Tampaknya sangat indah tuk dibayangkan... Namun aku tak pernah tau kemana kapalku kelak akan bermuara... Ya, jika aku mendengar kisah lesbian couple yang "sukses" menata relationship, kadang aku berkata -juga berharap- dalam hatiku, Kapan aku bisa seperti mereka? Hopefully, someday...:-)
Komitmen. Apa sih definisinya? Mungkin bisa diartikan luas sebab pandangan, batasan, aturan de el el masing-masing orang tentu akan berbeda-beda. Dari kacamataku, Komitmen itu kunilai sebagai tindak lanjut hubungan yang aku setarafkan layaknya pernikahan dalam arti harafiah. Pandangan tiap orang -sekali lagi- tidak sama, tapi menurutku pernikahan -dalam arti sebenar-benarnya- dalam dunia homoseksual -sampai detik ini, mengacu pada penerimaan masyarakat yang masih homophobic- adalah sebuah KEKONYOLAN alias sesuatu yang wasting time, sebab meski menurut sebuah agama -mungkin- sah, tetap saja di mata masyarakat tak ada penerimaan sejati.
Aku pernah mendengar ada pasangan lesbian yang menikah secara adat di Kediri, juga pernah kubaca di milis ada seorang pendeta perempuan yang bersedia menikahkan pasangan sesama jenis secara kristen, toh dimataku kata MENIKAH tetap saja kuanggap "aneh". Aku setuju dengan pendapat seorang teman: "Kita (lesbian) aja oleh masyarakat dianggap abnormal, kenapa harus menambah kelakuan abnormal-abnormal lain -di mata mereka- seperti menikah!"
Ya mungkin ada yang berkomentar, "Ngapain mikirin kata orang, kan yang menjalani hubungan itu adalah kita sendiri, jadi nggak peduli kata orang!" Well, semua emang kembali pada pemikiran dan pribadi masing-masing, yang jelas untuk membawa arah biduk rumah tanggaku kelak, (ciee berat neh kata-katanya...) aku lebih memilih KOMITMEN (entah dalam bentuk living together de el el) daripada MENIKAH.
***
"Komitmen seperti apa yang kamu terapkan kelak?" Pertanyaan itu pernah diajukan seseorang beberapa waktu lalu.
Hmm... Jawabanku waktu itu dan sekarang masih tetap sama. Tak muluk-muluk. Selain karna belum pernah melakoni, aku juga tak ingin berkata banyak dulu tentang sesuatu yang masih buram di masa mendatang, alias nggak mau janji-janji ntar takutnya jadi merpati yang nggak janji deh! (Hehehe...)
Pastinya, jika menginginkan sebuah hubungan yang serius, komitmen harus dibicarakan dan direncanakan sedari sekarang. Selebihnya melihat kemana waktu dan kenyataan berhembus, tentu dengan kembali pada komitmen awal masing-masing. Jika pondasi kuat, angin puting beliung bahkan badai Katrina pun, tak mampu membuat sebuah hubungan tergoyahkan. (Ceilee... Mantab!)
Hmm... Tampaknya sangat indah tuk dibayangkan... Namun aku tak pernah tau kemana kapalku kelak akan bermuara... Ya, jika aku mendengar kisah lesbian couple yang "sukses" menata relationship, kadang aku berkata -juga berharap- dalam hatiku, Kapan aku bisa seperti mereka? Hopefully, someday...:-)
Sunday, October 19, 2008
S E N D I R I
Sendiri...
Itulah yang kuingini
Hanya berteman nurani
Berkawan mimpi
Bersahabat letih hati
Sendiri dengan diri sendiri
Sepi...
Lirih...
Perih...
Namun tak terperi...
Dalam sunyi...
Hidup ini...
Ada damai...
Tak terdefinisi...
Duka tlah terajam, mati...
Hampa yang mengiring, pasi...
Kecewa yang membara, lari...
Kini, sendiri...
Sendiri dalam diri sendiri...
***
Itulah yang kuingini
Hanya berteman nurani
Berkawan mimpi
Bersahabat letih hati
Sendiri dengan diri sendiri
Sepi...
Lirih...
Perih...
Namun tak terperi...
Dalam sunyi...
Hidup ini...
Ada damai...
Tak terdefinisi...
Duka tlah terajam, mati...
Hampa yang mengiring, pasi...
Kecewa yang membara, lari...
Kini, sendiri...
Sendiri dalam diri sendiri...
***
Friday, October 17, 2008
EPILOG
Note: Aku nggak ngerti kenapa butuh waktu begitu lama untuk menulis epilog ini. Aku sepertinya ingin semua sempurna, cermat dalam pemilihan kata agar tak menimbulkan salah paham namun tetap apa adanya.
***
Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Ada peran wajah
Dan ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara?
***
Plekkk!!
Aku menepuk jidatku lumayan keras ketika mendapati kenyataan yang harus kutelan, sekaligus berharap akan membuatku tersadar, bukan hanya secara logika tapi juga secara perasaan yang memang bandel sekali untuk dibunuh.
Satu persatu detil kejadian yang terekam dalam benakku kemudian silih berganti terputar dengan sendirinya bak piringan hitam yang secara otomatis mengalunkan lagu dari awal hingga akhir.
Menemukan kenyataan pahit tentang perempuan itu sebenarnya tidak sekali ini saja terjadi. Selama belum ketemu perempuan yang umurnya jauh diatasku itu pun aku sudah pernah dihadapkan pada fakta bahwa omongan perempuan itu seperti belut, terlalu licin untuk dipegang. Namun entah kenapa semua minus tentangnya seolah-olah dibantai oleh sesuatu yang tak ku tau apakah itu, yang pasti telah sanggup membutakan mataku. Yang ada, semua perbedaan, perdebatan dan benturan-benturan lain yang pernah tercipta, terkikis lalu menguap.
"Anj**ng!!"
Saking kesalnya, aku mengirimkan umpatan itu dalam smsku. Bahkan kalau perempuan tersebut ada dihadapanku saat ini, aku malah akan lebih lega melantangkan di depan mukanya. Tak pandang perbedaan usia yang semestinya meski marah kayak apapun kata itu tak pantas untuk keluar. Tapi kesalahan tak memandang usia, mau muda atau bahkan renta, jika salah dimataku tetaplah salah.
***
"Aku sayang kamu, Al!"
"Aku ingin jalan denganmu!"
"Semua terjadi karena rasa sayang, kalau tidak... Tidak akan pernah terjadi!"
Tatapan itu...
Kata sayang itu...
Perlakuan istimewa itu...
Pelukan itu...
Pagutan itu...
Ah, setan! Semuanya palsu! Bullshit!!! Aku tak henti-hentinya merutuki kelakuan perempuan paling munafik di negeriku Indonesia ini. Bayangannya seolah tengah mengejekku. Seperti setan melayang-layang sembari menertawakan kebodohanku.
"Ah, kenapa aku juga jadi psikis begini!" makiku pada diri sendiri. Aku kemudian mengatur nafasku yang naik turun. Menghempaskan halusinasi negatif yang diajarkan setan yang tengah asyik menari-nari di otakku.
Lompatan waktu dalam rentang malam itu melamban namun ampuh membuatku menilik kembali apa yang akan dan harus kulakukan.
Kadang aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri. Cara kerja otak dan hatiku, tepatnya. Kesadaranku bisa sekaligus bersemi dalam kemarahan hebat.
Kesadaran. Yah, mungkin itu kata yang tepat. Kesadaran yang selama ini tak kupilih karena hanya mengandalkan emosi dalam penyelesaian masalah hati.
Kesadaran bagian dari pendewasaan diri untuk mencoba memandang seseorang dari sisi orang lain dan bukan memaksakan penilaian atas nama pribadi.
***
Kamu...
Aku memang tak pernah tau keinginan, pikiran dan hatimu.
Perasaanku telah kau tau. Dan jika perasaan itu nantinya hanya akan jadi milikku tanpamu. Maka akan kuiring dengan senyum kebesaran hatiku.
Aku tak sedang meminta. Aku tak sedang memohon.
Apalagi menghiba. Aku hanya ingin kau tau hatiku. Hati yang selama ini kau pertanyakan sebagai sebuah bentuk permainan. Diantara aku, kamu dengan dirinya.
Aku juga tak sedang menuntut. Apalagi memaksa. Karna ku tau sekuat apapun aku menginginkanmu tapi jika sekuat itu pula kau tak menginginkannya, maka sebuah hubungan takkan terjadi.
Belajarlah untuk menetapkan hati. Bukan malah terbang kesana kemari. Entah apa yang kau cari. Namun jika memang kau menikmati kepakan sayapmu dari satu dahan ke dahan yang lain, maka nikmatilah apa yang memang kau ingini.
Aku -kami bertiga, mungkin- hanya akan melihat dari bawah ketika melepasmu layaknya merpati yang terbang tinggi. Kemarin, dalam marahku, kudoakan merpati itu suatu ketika kan jatuh. Namun kini dalam sadarku, aku bukanlah dahan tempat kau singgah disaat letih. Aku hanyalah orang awam yang secara kasat mata kan menatap merpati terlepas dari sangkar emas yang menginginkan dan -mudah-mudahan- menemukan apa yang ia cari.
Aku tak ingin mendahului waktu. Aku tak ingin mendahului garis takdirku. Karenanya aku tak ingin berkata ini itu. Tentang sesuatu hal yang masih semu. Hanya saja kini aku sudah memastikan tempatmu di hatiku. Kilometer sebelas, tak berada diantara nol sampai sepuluh.
Sekali lagi EPILOG ini bukan tulisan perempuan patah hati, melainkan kesadaranku sebagai perempuan dalam mengenal dan memaknai kemudian menutup kehadiran perempuan dalam hidup dan hatiku.
***
Dan mungkin bila nanti
Kita akan bertemu lagi
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
Rasa yang kutinggal mati
Seperti hari kemarin
Saat semua disini
Tak usah kau tanyakan lagi
Simpan untukmu sendiri
Semua sesal yang kau cari
Semua rasa yang kau beri
Mungkin saja ku bukan yang dulu lagi,
Mungkin saja rasa telah pergi...
***
Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Ada peran wajah
Dan ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara?
***
Plekkk!!
Aku menepuk jidatku lumayan keras ketika mendapati kenyataan yang harus kutelan, sekaligus berharap akan membuatku tersadar, bukan hanya secara logika tapi juga secara perasaan yang memang bandel sekali untuk dibunuh.
Satu persatu detil kejadian yang terekam dalam benakku kemudian silih berganti terputar dengan sendirinya bak piringan hitam yang secara otomatis mengalunkan lagu dari awal hingga akhir.
Menemukan kenyataan pahit tentang perempuan itu sebenarnya tidak sekali ini saja terjadi. Selama belum ketemu perempuan yang umurnya jauh diatasku itu pun aku sudah pernah dihadapkan pada fakta bahwa omongan perempuan itu seperti belut, terlalu licin untuk dipegang. Namun entah kenapa semua minus tentangnya seolah-olah dibantai oleh sesuatu yang tak ku tau apakah itu, yang pasti telah sanggup membutakan mataku. Yang ada, semua perbedaan, perdebatan dan benturan-benturan lain yang pernah tercipta, terkikis lalu menguap.
"Anj**ng!!"
Saking kesalnya, aku mengirimkan umpatan itu dalam smsku. Bahkan kalau perempuan tersebut ada dihadapanku saat ini, aku malah akan lebih lega melantangkan di depan mukanya. Tak pandang perbedaan usia yang semestinya meski marah kayak apapun kata itu tak pantas untuk keluar. Tapi kesalahan tak memandang usia, mau muda atau bahkan renta, jika salah dimataku tetaplah salah.
***
"Aku sayang kamu, Al!"
"Aku ingin jalan denganmu!"
"Semua terjadi karena rasa sayang, kalau tidak... Tidak akan pernah terjadi!"
Tatapan itu...
Kata sayang itu...
Perlakuan istimewa itu...
Pelukan itu...
Pagutan itu...
Ah, setan! Semuanya palsu! Bullshit!!! Aku tak henti-hentinya merutuki kelakuan perempuan paling munafik di negeriku Indonesia ini. Bayangannya seolah tengah mengejekku. Seperti setan melayang-layang sembari menertawakan kebodohanku.
"Ah, kenapa aku juga jadi psikis begini!" makiku pada diri sendiri. Aku kemudian mengatur nafasku yang naik turun. Menghempaskan halusinasi negatif yang diajarkan setan yang tengah asyik menari-nari di otakku.
Lompatan waktu dalam rentang malam itu melamban namun ampuh membuatku menilik kembali apa yang akan dan harus kulakukan.
Kadang aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri. Cara kerja otak dan hatiku, tepatnya. Kesadaranku bisa sekaligus bersemi dalam kemarahan hebat.
Kesadaran. Yah, mungkin itu kata yang tepat. Kesadaran yang selama ini tak kupilih karena hanya mengandalkan emosi dalam penyelesaian masalah hati.
Kesadaran bagian dari pendewasaan diri untuk mencoba memandang seseorang dari sisi orang lain dan bukan memaksakan penilaian atas nama pribadi.
***
Kamu...
Aku memang tak pernah tau keinginan, pikiran dan hatimu.
Perasaanku telah kau tau. Dan jika perasaan itu nantinya hanya akan jadi milikku tanpamu. Maka akan kuiring dengan senyum kebesaran hatiku.
Aku tak sedang meminta. Aku tak sedang memohon.
Apalagi menghiba. Aku hanya ingin kau tau hatiku. Hati yang selama ini kau pertanyakan sebagai sebuah bentuk permainan. Diantara aku, kamu dengan dirinya.
Aku juga tak sedang menuntut. Apalagi memaksa. Karna ku tau sekuat apapun aku menginginkanmu tapi jika sekuat itu pula kau tak menginginkannya, maka sebuah hubungan takkan terjadi.
Belajarlah untuk menetapkan hati. Bukan malah terbang kesana kemari. Entah apa yang kau cari. Namun jika memang kau menikmati kepakan sayapmu dari satu dahan ke dahan yang lain, maka nikmatilah apa yang memang kau ingini.
Aku -kami bertiga, mungkin- hanya akan melihat dari bawah ketika melepasmu layaknya merpati yang terbang tinggi. Kemarin, dalam marahku, kudoakan merpati itu suatu ketika kan jatuh. Namun kini dalam sadarku, aku bukanlah dahan tempat kau singgah disaat letih. Aku hanyalah orang awam yang secara kasat mata kan menatap merpati terlepas dari sangkar emas yang menginginkan dan -mudah-mudahan- menemukan apa yang ia cari.
Aku tak ingin mendahului waktu. Aku tak ingin mendahului garis takdirku. Karenanya aku tak ingin berkata ini itu. Tentang sesuatu hal yang masih semu. Hanya saja kini aku sudah memastikan tempatmu di hatiku. Kilometer sebelas, tak berada diantara nol sampai sepuluh.
Sekali lagi EPILOG ini bukan tulisan perempuan patah hati, melainkan kesadaranku sebagai perempuan dalam mengenal dan memaknai kemudian menutup kehadiran perempuan dalam hidup dan hatiku.
***
Dan mungkin bila nanti
Kita akan bertemu lagi
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
Rasa yang kutinggal mati
Seperti hari kemarin
Saat semua disini
Tak usah kau tanyakan lagi
Simpan untukmu sendiri
Semua sesal yang kau cari
Semua rasa yang kau beri
Mungkin saja ku bukan yang dulu lagi,
Mungkin saja rasa telah pergi...
Thursday, October 16, 2008
LE-BAY
"Segala sesuatu yang berlebihan pasti akan berakibat lebih juga"
Aku sangat percaya pada pepatah diatas. Jadi ketika segala sesuatu kurasakan berlebihan, sepertinya ada sesuatu dari dalam diriku berfungsi layaknya antibodi menolak dengan berbagai cara.
Begitu juga ketika kami, (Aku, Ani, Arya dan Butet) Funtastik Four -begitu aku menyebut kami berempat pada awalnya- terlalu sering melakukan conference selama awal hubungan persahabatan kami, aku sudah ada feeling kalau semuanya ini akan berakibat buruk. Aku sendiri saja sudah antisipasi dengan tak terlalu banyak conference dan menikmati duniaku seperti sedia kala. Lagian memang aku tak terlalu senang ngobrol rame-rame dengan topik tak tentu arah begitu.
Aku pun sudah mengungkapkan opiniku pada mereka, tapi mereka tetap jalan terus pada kebiasaan tersebut kerap tanpa aku. Disamping karena alasan tak seberapa suka conference, kondisiku juga tak tepat dengan "jadwal" conference mereka, yaitu jam dua belas malam keatas, dimana sekat-sekat dalam rumah bisa menembus alunan suara selirih apapun.
Namun sesuai dengan pepatah yang aku percaya itu, lambat laun efeknya kelihatan juga. Dimulai ketika kedatanganku dan Ani ke Jogja, Ani dan Butet yang awalnya lebih intens berkomunikasi via hape ketimbang denganku, ujung-ujungnya jadi merenggang satu sama lain karena sesuatu hal yang tak bisa kujelaskan detil dalam hal ini. Dan makin hari hubungan keduanya kian meruncing.
Begitu juga dengan Arya yang sedari awal meletakkan diri dalam posisi netral, kini juga jadi serba salah dalam bersikap. Meski ia memang menunjukkan langkah senetral apapun, namun tetap saja berada diantara dua pemikiran yang jelas-jelas berbeda tentu saja rentan, karena jika tergesek sedikit saja, api bisa cepat menyebar membakar apapun tanpa ampun.
Ditambah adanya "konflik" pribadiku dengan Butet. Sebenarnya tak berkaitan dengan Funtastik Four karena menurutku itu adalah internal kami, tapi ketika Ani memandangnya juga ngaru dalam hubungan persahabatan, mau tak mau akhirnya ada efeknya juga dalam hubungan kami berempat.
Kini, dimana Funtastik Four itu? Lepas dari ego masing-masing, jika pada awalnya berucap akan selalu bersama, kenapa janji itu begitu mudah tergoyahkan?
Jadi pada intinya, apa dan bagaimanapun bentuknya, segala sesuatu yang -bahasa kerennya- LE-BAY itu, memang akan berakibat LE-BAY juga! So... Just behave as usual, not become unusual alias LE-BAY bo'!
Aku sangat percaya pada pepatah diatas. Jadi ketika segala sesuatu kurasakan berlebihan, sepertinya ada sesuatu dari dalam diriku berfungsi layaknya antibodi menolak dengan berbagai cara.
Begitu juga ketika kami, (Aku, Ani, Arya dan Butet) Funtastik Four -begitu aku menyebut kami berempat pada awalnya- terlalu sering melakukan conference selama awal hubungan persahabatan kami, aku sudah ada feeling kalau semuanya ini akan berakibat buruk. Aku sendiri saja sudah antisipasi dengan tak terlalu banyak conference dan menikmati duniaku seperti sedia kala. Lagian memang aku tak terlalu senang ngobrol rame-rame dengan topik tak tentu arah begitu.
Aku pun sudah mengungkapkan opiniku pada mereka, tapi mereka tetap jalan terus pada kebiasaan tersebut kerap tanpa aku. Disamping karena alasan tak seberapa suka conference, kondisiku juga tak tepat dengan "jadwal" conference mereka, yaitu jam dua belas malam keatas, dimana sekat-sekat dalam rumah bisa menembus alunan suara selirih apapun.
Namun sesuai dengan pepatah yang aku percaya itu, lambat laun efeknya kelihatan juga. Dimulai ketika kedatanganku dan Ani ke Jogja, Ani dan Butet yang awalnya lebih intens berkomunikasi via hape ketimbang denganku, ujung-ujungnya jadi merenggang satu sama lain karena sesuatu hal yang tak bisa kujelaskan detil dalam hal ini. Dan makin hari hubungan keduanya kian meruncing.
Begitu juga dengan Arya yang sedari awal meletakkan diri dalam posisi netral, kini juga jadi serba salah dalam bersikap. Meski ia memang menunjukkan langkah senetral apapun, namun tetap saja berada diantara dua pemikiran yang jelas-jelas berbeda tentu saja rentan, karena jika tergesek sedikit saja, api bisa cepat menyebar membakar apapun tanpa ampun.
Ditambah adanya "konflik" pribadiku dengan Butet. Sebenarnya tak berkaitan dengan Funtastik Four karena menurutku itu adalah internal kami, tapi ketika Ani memandangnya juga ngaru dalam hubungan persahabatan, mau tak mau akhirnya ada efeknya juga dalam hubungan kami berempat.
Kini, dimana Funtastik Four itu? Lepas dari ego masing-masing, jika pada awalnya berucap akan selalu bersama, kenapa janji itu begitu mudah tergoyahkan?
Jadi pada intinya, apa dan bagaimanapun bentuknya, segala sesuatu yang -bahasa kerennya- LE-BAY itu, memang akan berakibat LE-BAY juga! So... Just behave as usual, not become unusual alias LE-BAY bo'!
Menjadi Kupu-Kupu Kecil...
Aku sedang ingin menjadi Kupu-Kupu Kecil.
Sedikit polos. Banyak sok tau.
Sedikit lucu. Banyak menyebalkan.
Sedikit menjawab. Banyak bertanya.
Sedikit pemalu. Banyak tingkah(hanya lewat telpon).
Sedikit tawa. Banyak nyengir.
Sedikit kedewasaan. Banyak kekonyolan.
Sedikit kutho. Banyak ndeso.
Sedikit membenciku. Banyak mencintaiku.
***
Tak banyak yang bisa kuberi, namun -semoga- tak sedikit ku beri arti.
Tak banyak kau beriku tawa, namun tak sedikit kau limpahiku cinta.
Tak banyak waktu tuk bersua, namun tak sedikit hapeku bersuara.
Tak banyak romantisme, tak sedikit sinisme.
Tak banyak jera, tak sedikit lelah.
***
Apakah aku tak adil padamu?
Apakah aku jahat padamu?
Apakah aku senang mempermainkan perasaanmu?
Apakah aku tidak mencintaimu?
Jika pertanyaan itu diajukan padamu, jawabmu atas semuanya pastilah YA.
Kamu kerap mengarang pertanyaan sekaligus jawabanmu sendiri. Kini dapatkah kau lakukan, pernahkah terfikir olehmu untuk menjadi aku???
Terima kasih untuk segenap cinta...
Nobody's perfect, but nothing wrong to try to be perfect!
Sedikit polos. Banyak sok tau.
Sedikit lucu. Banyak menyebalkan.
Sedikit menjawab. Banyak bertanya.
Sedikit pemalu. Banyak tingkah(hanya lewat telpon).
Sedikit tawa. Banyak nyengir.
Sedikit kedewasaan. Banyak kekonyolan.
Sedikit kutho. Banyak ndeso.
Sedikit membenciku. Banyak mencintaiku.
***
Tak banyak yang bisa kuberi, namun -semoga- tak sedikit ku beri arti.
Tak banyak kau beriku tawa, namun tak sedikit kau limpahiku cinta.
Tak banyak waktu tuk bersua, namun tak sedikit hapeku bersuara.
Tak banyak romantisme, tak sedikit sinisme.
Tak banyak jera, tak sedikit lelah.
***
Apakah aku tak adil padamu?
Apakah aku jahat padamu?
Apakah aku senang mempermainkan perasaanmu?
Apakah aku tidak mencintaimu?
Jika pertanyaan itu diajukan padamu, jawabmu atas semuanya pastilah YA.
Kamu kerap mengarang pertanyaan sekaligus jawabanmu sendiri. Kini dapatkah kau lakukan, pernahkah terfikir olehmu untuk menjadi aku???
Terima kasih untuk segenap cinta...
Nobody's perfect, but nothing wrong to try to be perfect!
Wednesday, October 15, 2008
Pagi Itu Aku Tercengang!
"Uffs..." Aku menghela nafas dalam-dalam. Berusaha meredam murka tertahan yang sejak beberapa hari lalu menguasai kepalaku. "Ini sudah tak bisa dibiarkan!" cetusku setelah kemarahan itu kutepis semalaman dengan masih mencoba untuk keep positive thinking.
Semalam aku memang sudah mendapat jawaban bahwa Kupu-Kupu Kecil sudah tak lagi ada kontak dengan perempuan yang bikin sarafku menegang beberapa hari ini. Aku memegang ucapan Kupu-Kupu Kecilku, tapi kegusaran tak bisa begitu saja hilang sampai aku berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan. Segera kuhubungi nomor telpon yang diam-diam kucuri dari hape Butet ketika di Jogja kemarin.
Tanpa banyak basa-basi aku mengungkapkan maksudku akan keengganan dan keberatanku jika perempuan ini selalu menyebut namaku dan bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Kupu-Kupu Kecil ketika bertelepon dengan Butet. Karena bagiku dua orang bertelepon adalah untuk membicarakan tentang mereka sendiri, bukannya malah memperbincangkan orang lain, apalagi jika dilakukan pertelepon. Mending kalau yang diomongin bener, lha kalo masih KATA SI INI, KATA SI ITU, kan jadi gerah juga aku.
Obrolan yang tadinya datar, berubah meninggi. Ia tak terima kupersalahkan.
"Coba kamu tanya Butet apa saja yang aku obrolkan waktu nelpon dia!" tantangnya. Perempuan yang namanya barusan disebut kemudian bergabung di tengah-tengah kami.
Aku, yang tadinya cuma ingin menegur kelakuan perempuan yang belakangan kuketahui ada hati ama Butet itu agar tak menyebut namaku dalam obrolannya bersama Butet, malah mendapati pengakuan yang mencengangkan dari mulut Butet yang jauh diluar topik semula.
"Aku sayang ama kamu, Al. Dari awal kamu sudah tau hal itu," Pernyataan itu ditujukan padaku, namun perempuan itu mengumumkan di depan kami berempat (Entah berlima, karena ternyata aku salah pencet memasukkan nomor private number yang meneleponku yang tadinya kukira salah satu peserta conference (Aku, Butet, Kupu-Kupu Kecil, dan perempuan itu) namun ternyata adalah Sakura yang notabene tak tau apa-apa.) "Dan aku mau jalan dengan dirimu!"
Tiba-tiba hening. Kami bertiga seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tak tahu apa yang difikirkan kedua orang itu, yang jelas pengakuan mengejutkan itu sudah bikin fikiranku campur aduk. Berani amat perempuan ini berkoar di depan 2 perempuan yang salah satunya jelas-jelas menaruh hati padanya, dan perempuan satunya juga jelas-jelas jatuh hati padaku, batinku.
"Perlu keberanian buatku untuk bicara seperti ini di depan kalian, dan buat Al juga, aku tidak meminta kamu percaya aku tapi aku hanya ingin menjelaskan begitulah perasaanku padamu!"
Masih hening. Hanya perempuan yang di benakku masih unpredict inilah yang terus nyerocos.
"Tapi... Ketika aku kian memasuki hidupmu, aku mulai menemukan Kupu-Kupu Kecil dan semua ceritamu dengannya yang ternyata belum selesei... Juga ketika aku dihadapkan pada pilihan antara dirimu atau persahabatan, aku jadi mikir, kenapa kok kayaknya susah banget buat kita untuk bersama..."
Benakku memutar ulang konflik asmara vs persahabatan beberapa waktu lalu. Mengedepankan persahabatan, memilih kehilangan satu orang Alvi daripada tiga orang sekaligus, yang salah satunya adalah aku. Meski bagiku pilihan tersebut hanyalah kamuflase, pengalihan -disaat yang benar-benar tepat- atas kebebasan yang masih ingin direguk perempuan itu. Tapi entahlah, ada sesuatu yang tak bisa kudefinisikan apakah itu yang kemudian masih membawaku pada "KARISMA" perempuan itu hingga membawa ragaku ke hadapannya di kota Gudeg.
"Sebelum Al ke Jogja, kita pernah bertemu empat mata, kan?" Ucapan Butet kali ini mengarah pada Kupu-Kupu Kecil. "Saat itu kamu berjanji akan benar-benar serius untuk kembali pada Al dan aku akan menjauh dari Al dengan membuatnya berpikiran aku player dan semua yang buruk tentang aku, yang intinya aku memberi jalan padamu untuk mendapatkan hatinya kembali, tapi kenyataannya tak ada perubahan sedikitpun dari kamu!"
"Berubah itu kan tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu proses!" Kupu-Kupu Kecil angkat bicara.
"Iya memang, tapi kenapa kau masih saja mengirimiku sms-sms nggak mutu... Masih ingatkan apa yang kau tulis tentang pikiran kotormu dalam smsmu pagi hari setelah Al datang ke Jogja malamnya?"
Kupu-Kupu Kecil membisu.
"Iya, ke aku juga!" Perempuan yang ada hati dengan Butet menimpali. Perempuan ini dulu di awal-awal sebenarnya diniati oleh Kupu-Kupu Kecil untuk "diumpankan" pada Butet agar kami berdua jauh. Tak disangka jika kemudian perempuan ini benar-benar jatuh hati.
"Udah, topiknya sekarang bukan itu!" sergahku. Aku tau betul sumber masalahnya memang ada pada Kupu-Kupu Kecil, tapi kalau tak ditambahi aksi muka dua perempuan yang sudah lama kenal dengan Kupu-Kupu Kecil itu tentu aku tak akan semarah ini. Marah bukan karena ia sering bertelepon dengan Butet, tapi karena ia selalu menyebut namaku. Aku sendiri tak tau bagaimana perasaan Butet pada perempuan ini, dan memang aku nggak kepingin tau! Yang membuatku banyak berfikir justru ungkapan mencengangkan Butet tadi. Akan kemana ia bawa ujung dari pengakuan tersebut? Karena terus terang bagiku banyak sekali keganjilan antara pernyataan dan kenyataan di depan mataku tentangnya yang masih perlu dijabarkan bukan hanya dengan kata-kata, namun realita. Akankah?
TO BE CONTINUED...
Semalam aku memang sudah mendapat jawaban bahwa Kupu-Kupu Kecil sudah tak lagi ada kontak dengan perempuan yang bikin sarafku menegang beberapa hari ini. Aku memegang ucapan Kupu-Kupu Kecilku, tapi kegusaran tak bisa begitu saja hilang sampai aku berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan. Segera kuhubungi nomor telpon yang diam-diam kucuri dari hape Butet ketika di Jogja kemarin.
Tanpa banyak basa-basi aku mengungkapkan maksudku akan keengganan dan keberatanku jika perempuan ini selalu menyebut namaku dan bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Kupu-Kupu Kecil ketika bertelepon dengan Butet. Karena bagiku dua orang bertelepon adalah untuk membicarakan tentang mereka sendiri, bukannya malah memperbincangkan orang lain, apalagi jika dilakukan pertelepon. Mending kalau yang diomongin bener, lha kalo masih KATA SI INI, KATA SI ITU, kan jadi gerah juga aku.
Obrolan yang tadinya datar, berubah meninggi. Ia tak terima kupersalahkan.
"Coba kamu tanya Butet apa saja yang aku obrolkan waktu nelpon dia!" tantangnya. Perempuan yang namanya barusan disebut kemudian bergabung di tengah-tengah kami.
Aku, yang tadinya cuma ingin menegur kelakuan perempuan yang belakangan kuketahui ada hati ama Butet itu agar tak menyebut namaku dalam obrolannya bersama Butet, malah mendapati pengakuan yang mencengangkan dari mulut Butet yang jauh diluar topik semula.
"Aku sayang ama kamu, Al. Dari awal kamu sudah tau hal itu," Pernyataan itu ditujukan padaku, namun perempuan itu mengumumkan di depan kami berempat (Entah berlima, karena ternyata aku salah pencet memasukkan nomor private number yang meneleponku yang tadinya kukira salah satu peserta conference (Aku, Butet, Kupu-Kupu Kecil, dan perempuan itu) namun ternyata adalah Sakura yang notabene tak tau apa-apa.) "Dan aku mau jalan dengan dirimu!"
Tiba-tiba hening. Kami bertiga seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tak tahu apa yang difikirkan kedua orang itu, yang jelas pengakuan mengejutkan itu sudah bikin fikiranku campur aduk. Berani amat perempuan ini berkoar di depan 2 perempuan yang salah satunya jelas-jelas menaruh hati padanya, dan perempuan satunya juga jelas-jelas jatuh hati padaku, batinku.
"Perlu keberanian buatku untuk bicara seperti ini di depan kalian, dan buat Al juga, aku tidak meminta kamu percaya aku tapi aku hanya ingin menjelaskan begitulah perasaanku padamu!"
Masih hening. Hanya perempuan yang di benakku masih unpredict inilah yang terus nyerocos.
"Tapi... Ketika aku kian memasuki hidupmu, aku mulai menemukan Kupu-Kupu Kecil dan semua ceritamu dengannya yang ternyata belum selesei... Juga ketika aku dihadapkan pada pilihan antara dirimu atau persahabatan, aku jadi mikir, kenapa kok kayaknya susah banget buat kita untuk bersama..."
Benakku memutar ulang konflik asmara vs persahabatan beberapa waktu lalu. Mengedepankan persahabatan, memilih kehilangan satu orang Alvi daripada tiga orang sekaligus, yang salah satunya adalah aku. Meski bagiku pilihan tersebut hanyalah kamuflase, pengalihan -disaat yang benar-benar tepat- atas kebebasan yang masih ingin direguk perempuan itu. Tapi entahlah, ada sesuatu yang tak bisa kudefinisikan apakah itu yang kemudian masih membawaku pada "KARISMA" perempuan itu hingga membawa ragaku ke hadapannya di kota Gudeg.
"Sebelum Al ke Jogja, kita pernah bertemu empat mata, kan?" Ucapan Butet kali ini mengarah pada Kupu-Kupu Kecil. "Saat itu kamu berjanji akan benar-benar serius untuk kembali pada Al dan aku akan menjauh dari Al dengan membuatnya berpikiran aku player dan semua yang buruk tentang aku, yang intinya aku memberi jalan padamu untuk mendapatkan hatinya kembali, tapi kenyataannya tak ada perubahan sedikitpun dari kamu!"
"Berubah itu kan tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu proses!" Kupu-Kupu Kecil angkat bicara.
"Iya memang, tapi kenapa kau masih saja mengirimiku sms-sms nggak mutu... Masih ingatkan apa yang kau tulis tentang pikiran kotormu dalam smsmu pagi hari setelah Al datang ke Jogja malamnya?"
Kupu-Kupu Kecil membisu.
"Iya, ke aku juga!" Perempuan yang ada hati dengan Butet menimpali. Perempuan ini dulu di awal-awal sebenarnya diniati oleh Kupu-Kupu Kecil untuk "diumpankan" pada Butet agar kami berdua jauh. Tak disangka jika kemudian perempuan ini benar-benar jatuh hati.
"Udah, topiknya sekarang bukan itu!" sergahku. Aku tau betul sumber masalahnya memang ada pada Kupu-Kupu Kecil, tapi kalau tak ditambahi aksi muka dua perempuan yang sudah lama kenal dengan Kupu-Kupu Kecil itu tentu aku tak akan semarah ini. Marah bukan karena ia sering bertelepon dengan Butet, tapi karena ia selalu menyebut namaku. Aku sendiri tak tau bagaimana perasaan Butet pada perempuan ini, dan memang aku nggak kepingin tau! Yang membuatku banyak berfikir justru ungkapan mencengangkan Butet tadi. Akan kemana ia bawa ujung dari pengakuan tersebut? Karena terus terang bagiku banyak sekali keganjilan antara pernyataan dan kenyataan di depan mataku tentangnya yang masih perlu dijabarkan bukan hanya dengan kata-kata, namun realita. Akankah?
TO BE CONTINUED...
Spirit Song of The Day
Mulai nyalakan kembali
Dunia yang terlupa
Cukup sudah bermimpi
Kini asaku memutih
Dan ku kian meninggi
Ini semua akan nyata
Mampu ku tatap kembali
Dunia yang terbenam
Terbitku dari mimpi
Kini saksikan sayapku
Apungkan puing bumi
Ini semua pasti nyata
Dunia yang terlupa
Cukup sudah bermimpi
Kini asaku memutih
Dan ku kian meninggi
Ini semua akan nyata
Mampu ku tatap kembali
Dunia yang terbenam
Terbitku dari mimpi
Kini saksikan sayapku
Apungkan puing bumi
Ini semua pasti nyata
Monday, October 13, 2008
Nepsong A/N Cintrong
"Kenapa ya dalam hubungan sejenis, ML itu kebanyakan dilakukan kayak suatu keharusan gitu?"
Aku jadi terngiang pertanyaan seorang teman perempuan yang tak mau dibilang lesbian beberapa waktu lalu mengenai mantan partner lesbinya yang menurutnya terlalu memaksakan diri harus ML padahal temanku itu belum merasa siap karena batinnya masih berperang antara benar atau kah salah perasaan -yang menurutnya- tak normal itu.
Sejauh kasus yang pernah kutemui pun demikian. Sepertinya BERCINTA -termasuk foreplay, klimaks bahkan anti klimaks- itu diibaratkan barang murah alias obralan, mentang-mentang sesama perempuan. Dirasa tak akan hamil meski dengan gaya jungkir balik bahkan salto sekalipun.
Keinget juga jawaban -kurang waras- dua perempuan -yang boleh dibilang cukup umur tapi kok nggak mutu- tentang topik yang sama.
Kenapa ML/hanya sebatas foreplay/apalah bentuknya, yang pasti bersentuhan kulit, entah itu kulit bibir atau kulit-kulit lainnya (asal bukan kacang kulit hehe) yang bagiku hanya bisa dilakukan pake hati untuk menuju tahap lebih dalam, ternyata bisa mereka lakukan tanpa status yang jelas? Dengan kata lain, belum GF an kok udah diijinin grepe2?
Berikut jawaban kedua orang -yang menurutku kurang waras- tersebut?
1. Karena sama-sama perempuan, jadi nggak bakalan ngaru! Gak kalong, begitu bahasa inggrisnya. Nggak rugi apapun kasarannya. Bener-bener jawaban yang kurang waras bukan?
Masih jawaban dari orang yang sama. Ia bilang ia foreplay dengan orang yang "dekat" dengannya -belum jadi GF- hanya untuk coba-coba. Makin membuatku mikir, ia ngebiarin tubuhnya diobok-obok hanya untuk coba-coba? Gila nggak?
2. Jawaban dari perempuan yang kedua lebih pake hati, tapi nggak bisa diterima akal sehat. Ia bilang ia mau bersentuhan kulit karna ia menyayangi perempuan itu, tapi untuk berhubungan lebih lanjut ia tak bisa. Dengan alasan bejibun ngeles sana sini. Dari yang tadinya masuk akal ampe masuk dengkul saking nggak masuk akalnya.
Logikanya, jika sudah tau kalau sebuah hubungan tak mungkin diteruskan, harusnya perempuan itu melarang alias tidak mengijinkan seseorang menyentuh tubuhnya, meski dihatinya menyimpan sayang pada orang tersebut.
Berdasar jawaban kedua perempuan diatas, aku jadi bertanya-tanya, bukankah yang mereka lakukan hampir sama saja dengan PEREK versi dunia belok? Hanya mungkin bedanya perek dibayar, sedang mereka tidak.
Aku sendiri dalam hal ini sebagai pihak PENGGEREPE -hehe gak tau istilahnya apa?- merasa jengah juga menemukan situasi dan pemikiran, apalagi kenyataan seperti itu.
Yaa... Semua orang memang punya persepsi masing-masing tentang BERCINTA yang katanya hanya bisa dilakukan karena sama-sama mau dan seyogyanya menjadi aktivitas sakral bagi dua manusia. Namun betapa munafiknya jika untuk alasan apapun mengatasnamakan hati dan kata sayang dibalik nafsu terselubung.
Menurut persepsi kalian, apakah sebutan paling layak bagi perempuan yang kuibaratkan dengan PEREK versi dunia belok diatas?
Aku jadi terngiang pertanyaan seorang teman perempuan yang tak mau dibilang lesbian beberapa waktu lalu mengenai mantan partner lesbinya yang menurutnya terlalu memaksakan diri harus ML padahal temanku itu belum merasa siap karena batinnya masih berperang antara benar atau kah salah perasaan -yang menurutnya- tak normal itu.
Sejauh kasus yang pernah kutemui pun demikian. Sepertinya BERCINTA -termasuk foreplay, klimaks bahkan anti klimaks- itu diibaratkan barang murah alias obralan, mentang-mentang sesama perempuan. Dirasa tak akan hamil meski dengan gaya jungkir balik bahkan salto sekalipun.
Keinget juga jawaban -kurang waras- dua perempuan -yang boleh dibilang cukup umur tapi kok nggak mutu- tentang topik yang sama.
Kenapa ML/hanya sebatas foreplay/apalah bentuknya, yang pasti bersentuhan kulit, entah itu kulit bibir atau kulit-kulit lainnya (asal bukan kacang kulit hehe) yang bagiku hanya bisa dilakukan pake hati untuk menuju tahap lebih dalam, ternyata bisa mereka lakukan tanpa status yang jelas? Dengan kata lain, belum GF an kok udah diijinin grepe2?
Berikut jawaban kedua orang -yang menurutku kurang waras- tersebut?
1. Karena sama-sama perempuan, jadi nggak bakalan ngaru! Gak kalong, begitu bahasa inggrisnya. Nggak rugi apapun kasarannya. Bener-bener jawaban yang kurang waras bukan?
Masih jawaban dari orang yang sama. Ia bilang ia foreplay dengan orang yang "dekat" dengannya -belum jadi GF- hanya untuk coba-coba. Makin membuatku mikir, ia ngebiarin tubuhnya diobok-obok hanya untuk coba-coba? Gila nggak?
2. Jawaban dari perempuan yang kedua lebih pake hati, tapi nggak bisa diterima akal sehat. Ia bilang ia mau bersentuhan kulit karna ia menyayangi perempuan itu, tapi untuk berhubungan lebih lanjut ia tak bisa. Dengan alasan bejibun ngeles sana sini. Dari yang tadinya masuk akal ampe masuk dengkul saking nggak masuk akalnya.
Logikanya, jika sudah tau kalau sebuah hubungan tak mungkin diteruskan, harusnya perempuan itu melarang alias tidak mengijinkan seseorang menyentuh tubuhnya, meski dihatinya menyimpan sayang pada orang tersebut.
Berdasar jawaban kedua perempuan diatas, aku jadi bertanya-tanya, bukankah yang mereka lakukan hampir sama saja dengan PEREK versi dunia belok? Hanya mungkin bedanya perek dibayar, sedang mereka tidak.
Aku sendiri dalam hal ini sebagai pihak PENGGEREPE -hehe gak tau istilahnya apa?- merasa jengah juga menemukan situasi dan pemikiran, apalagi kenyataan seperti itu.
Yaa... Semua orang memang punya persepsi masing-masing tentang BERCINTA yang katanya hanya bisa dilakukan karena sama-sama mau dan seyogyanya menjadi aktivitas sakral bagi dua manusia. Namun betapa munafiknya jika untuk alasan apapun mengatasnamakan hati dan kata sayang dibalik nafsu terselubung.
Menurut persepsi kalian, apakah sebutan paling layak bagi perempuan yang kuibaratkan dengan PEREK versi dunia belok diatas?
Sunday, October 12, 2008
S0uLm4t3
Aku merenungi kata itu. Kata yang semalam diucapkan abang Arya tentang dedek femnya. Soulmate. Belahan Jiwa. Jika ditengok sekilas dari cerita abangku, pengertian yang cukup dalam dan istimewa tentang arti seseorang bagi abangku, meski tak untuk dimiliki selamanya namun bermakna indah dalam rentang jarak dan waktu. Kebersamaan yang untuk dinikmati tanpa perlu pusing soal status, cukup dengan saling memiliki hati, selebihnya tak perduli. Suci. Meski abang pernah berujar tak ada hati, tapi apakah mungkin menjalin hubungan bertahun-tahun tanpa melibatkan hati? Disitulah letak tanda tanya besar dariku.
Mungkin itu juga yang tengah coba dilakukan oleh seseorang yang kukenal akhir-akhir ini. Main hati tapi kebablasan. Bablasnya adalah melanggar batas yang digariskan abang Arya tentang TTM dan Dedek Fem. Membuat arti belahan jiwa tak lagi suci dengan mengatasnamakan rasa sayang untuk mengcover sesuatu hal yang aku sendiri tak faham.
Mungkin itu juga yang tengah coba dilakukan oleh seseorang yang kukenal akhir-akhir ini. Main hati tapi kebablasan. Bablasnya adalah melanggar batas yang digariskan abang Arya tentang TTM dan Dedek Fem. Membuat arti belahan jiwa tak lagi suci dengan mengatasnamakan rasa sayang untuk mengcover sesuatu hal yang aku sendiri tak faham.
Lebaran in Jogjaa... (8-end)
Kucium tangan perempuan tua yang ramah, yang diawal kusalami berkomentar modelku sama saja dengan Butet, anak sulungnya itu, hormat.
Semua masuk mobil. Ani duduk di belakang. Adik perempuan Butet sibuk mengatur tempat duduk. Maklum, banyak anak kecil yang ikut.
"Al, duduk depan!" lirih Butet padaku. Aku menggeleng. Kulihat ada yang lebih berhak daripada aku. Adik laki-laki Butet yang berambut gondrong dengan anak laki-lakinya menempati posisi yang ditawarkan Butet padaku, sementara aku duduk pas di belakang Butet, berbagi dengan keponakannya yang berusia belasan.
Beruntung, adik laki-laki Butet tau jalan tikus menuju Lempuyangan. Kalau tidak, jika memang kereta akan berangkat pukul enam, tentu kami sudah telat karena kami tiba hampir jam enam. Beruntung pula ternyata kereta mangkat pukul setengah delapan.
"Di mobil tadi aku selalu liat jam, kuatir juga kok nggak nyampe-nyampe stasiun.. Alhamdulillah, keretanya berangkat agak siang..." ujar adik perempuan Butet lepas dari kepanikan.
Tiket ditangan, kami langsung mencari tempat duduk, bercanda ria sembari menunggu keberangkatan kurang lebih sejam lagi.
Dua keponakan kecil Butet yang baru datang dari Salatiga, tiba-tiba minta ikut ke Surabaya. Rencana dadakan itu makin menambah jumlah rombongan yang tadinya tujuh menjadi sembilan. Praktis empat seat penuh oleh kami.
Pemberitahuan kereta akan berangkat memaksa Butet turun dari kereta.
"Ikut juga, yukk..." tawarku yang disambut tatapan Butet. Mungkin sebenarnya ia ingin ikut, tapi karena satu dan banyak hal mengharuskannya tertahan di Jogja. Keponakan dan adik Butet bergantian menyalaminya. Tak ketinggalan aku dan Ani.
Aku sedang menata posisi dudukku, ketika adik Butet memberitahukan kakaknya memanggilku di depan pintu. Kereta memang belum akan berangkat. Para penumpang mulai naik.
Aku berbincang dengan Butet dibawah. Ah, tatapan sayu itu muncul kembali. "Sudah, wajahmu jangan seperti itu, kayak nggak akan ketemu lagi aja!" sergahku.
"Itu yang aku takutkan! Aku nggak tau apa yang akan terjadi mengenai hubungan kita ketika nanti kau sudah berada di kotamu..."
"Maksudmu?" Alisku berkerut.
"Yah, nggak usah difikirkan! Semoga saja apa yang kuduga tak akan terjadi!"
Sikap Butet benar-benar tak bisa kucerna. Apalagi perlakuannya. Ekor mataku tak sengaja menangkap sosok keponakan Butet yang sedari tadi sepertinya "menyengajakan diri" berada diantara kami. Menurutku ia curiga melihat "kedekatan" kami serta cara bicara Budhe-nya yang sepertinya "tak biasa" untuk ukuran teman perempuan.
Bukan hanya keponakannya, kukira adik perempuannya juga menyimpan praduga yang sama, hanya saja ia tak berkomentar pura-pura seperti tak melihat hal tersebut. Karenanya, aku lebih banyak mengelak jikalau ada perlakuan yang kelewat "intim".
Lucunya, adik perempuan Butet ini memanggilku Kak, padahal usiaku jauh lebih muda empat belas tahun dibanding dia. "Mungkin karena kau temanku, makanya ia panggil kamu Kakak!" jelas Butet.
Peringatan terakhir agar penumpang segera naik ke kereta, membuat perpisahan tak terelakkan. Ia memelukku. Erat. Lama. Seolah takkan pernah ketemu lagi. Dan tatapan itu... Apa arti tatapan mata itu?
Aku telah diatas kereta, masih di pintu melihat tatapan mata itu. Menuju tempat dudukku dibarengi iringan matanya di sepanjang kaca. Kereta perlahan beranjak. Kemudian melaju makin kencang membawa sebongkah tanya yang tak terjawabkan akan arti tatapan mata.
Jogja kali ini memberiku pe-er besar tentang hati. Hatiku sendiri.
Naik kereta ekonomi untuk pertama kalinya dalam hidup ternyata jauh dari kata SERU seperti yang kubayangkan. Penumpang penuh sesak. Belum lagi sering berhenti lama untuk alasan nggak jelas. Apalagi ketika harus sendirian sepanjang Surabaya hingga ke kotaku, benar-benar sangat tak menyenangkan. Kapok deh rasanya naik ekonomi! Bayangkan, Jogja sampai kotaku ditempuh dua belas jam, biasanya hanya delapan jam. Capek!
Turun dari kereta, ada beberapa sms dan miskol. Kupu-Kupu Kecil dan Butet. Serta Ani yang menanyakan apa aku sudah sampai rumah.
Baru saja menginjakkan kaki di kamar, ponselku berdering. Butet. Berbincang sebentar tentang pengalaman sepanjang perjalanan, lantas harus kuakhiri karena tanteku sudah menunggu pesanannya.
"I MISS U, MUACH..." Telepon buru-buru ditutup. Aku terpatung. Kalimat itu diucapkan Butet ketika mengakhiri pembicaraan yang terus terang makin memperdalam tanyaku tentang hatinya. Tatapan mata yang mengartikan sebentuk rasa sayang yang tak pernah sedikitpun terealisasi dari mulut dan perilaku. Entah bagaimana pula isi hatinya. Ah, aku tak mau dibuat pusing untuk sesuatu yang tak pasti!
Yang pasti, terima kasih Jogja telah mempertemukanku pada orang-orang yang mempunyai porsi masing-masing dalam hidup dan hatiku.
Semua masuk mobil. Ani duduk di belakang. Adik perempuan Butet sibuk mengatur tempat duduk. Maklum, banyak anak kecil yang ikut.
"Al, duduk depan!" lirih Butet padaku. Aku menggeleng. Kulihat ada yang lebih berhak daripada aku. Adik laki-laki Butet yang berambut gondrong dengan anak laki-lakinya menempati posisi yang ditawarkan Butet padaku, sementara aku duduk pas di belakang Butet, berbagi dengan keponakannya yang berusia belasan.
Beruntung, adik laki-laki Butet tau jalan tikus menuju Lempuyangan. Kalau tidak, jika memang kereta akan berangkat pukul enam, tentu kami sudah telat karena kami tiba hampir jam enam. Beruntung pula ternyata kereta mangkat pukul setengah delapan.
"Di mobil tadi aku selalu liat jam, kuatir juga kok nggak nyampe-nyampe stasiun.. Alhamdulillah, keretanya berangkat agak siang..." ujar adik perempuan Butet lepas dari kepanikan.
Tiket ditangan, kami langsung mencari tempat duduk, bercanda ria sembari menunggu keberangkatan kurang lebih sejam lagi.
Dua keponakan kecil Butet yang baru datang dari Salatiga, tiba-tiba minta ikut ke Surabaya. Rencana dadakan itu makin menambah jumlah rombongan yang tadinya tujuh menjadi sembilan. Praktis empat seat penuh oleh kami.
Pemberitahuan kereta akan berangkat memaksa Butet turun dari kereta.
"Ikut juga, yukk..." tawarku yang disambut tatapan Butet. Mungkin sebenarnya ia ingin ikut, tapi karena satu dan banyak hal mengharuskannya tertahan di Jogja. Keponakan dan adik Butet bergantian menyalaminya. Tak ketinggalan aku dan Ani.
Aku sedang menata posisi dudukku, ketika adik Butet memberitahukan kakaknya memanggilku di depan pintu. Kereta memang belum akan berangkat. Para penumpang mulai naik.
Aku berbincang dengan Butet dibawah. Ah, tatapan sayu itu muncul kembali. "Sudah, wajahmu jangan seperti itu, kayak nggak akan ketemu lagi aja!" sergahku.
"Itu yang aku takutkan! Aku nggak tau apa yang akan terjadi mengenai hubungan kita ketika nanti kau sudah berada di kotamu..."
"Maksudmu?" Alisku berkerut.
"Yah, nggak usah difikirkan! Semoga saja apa yang kuduga tak akan terjadi!"
Sikap Butet benar-benar tak bisa kucerna. Apalagi perlakuannya. Ekor mataku tak sengaja menangkap sosok keponakan Butet yang sedari tadi sepertinya "menyengajakan diri" berada diantara kami. Menurutku ia curiga melihat "kedekatan" kami serta cara bicara Budhe-nya yang sepertinya "tak biasa" untuk ukuran teman perempuan.
Bukan hanya keponakannya, kukira adik perempuannya juga menyimpan praduga yang sama, hanya saja ia tak berkomentar pura-pura seperti tak melihat hal tersebut. Karenanya, aku lebih banyak mengelak jikalau ada perlakuan yang kelewat "intim".
Lucunya, adik perempuan Butet ini memanggilku Kak, padahal usiaku jauh lebih muda empat belas tahun dibanding dia. "Mungkin karena kau temanku, makanya ia panggil kamu Kakak!" jelas Butet.
Peringatan terakhir agar penumpang segera naik ke kereta, membuat perpisahan tak terelakkan. Ia memelukku. Erat. Lama. Seolah takkan pernah ketemu lagi. Dan tatapan itu... Apa arti tatapan mata itu?
Aku telah diatas kereta, masih di pintu melihat tatapan mata itu. Menuju tempat dudukku dibarengi iringan matanya di sepanjang kaca. Kereta perlahan beranjak. Kemudian melaju makin kencang membawa sebongkah tanya yang tak terjawabkan akan arti tatapan mata.
Jogja kali ini memberiku pe-er besar tentang hati. Hatiku sendiri.
Naik kereta ekonomi untuk pertama kalinya dalam hidup ternyata jauh dari kata SERU seperti yang kubayangkan. Penumpang penuh sesak. Belum lagi sering berhenti lama untuk alasan nggak jelas. Apalagi ketika harus sendirian sepanjang Surabaya hingga ke kotaku, benar-benar sangat tak menyenangkan. Kapok deh rasanya naik ekonomi! Bayangkan, Jogja sampai kotaku ditempuh dua belas jam, biasanya hanya delapan jam. Capek!
Turun dari kereta, ada beberapa sms dan miskol. Kupu-Kupu Kecil dan Butet. Serta Ani yang menanyakan apa aku sudah sampai rumah.
Baru saja menginjakkan kaki di kamar, ponselku berdering. Butet. Berbincang sebentar tentang pengalaman sepanjang perjalanan, lantas harus kuakhiri karena tanteku sudah menunggu pesanannya.
"I MISS U, MUACH..." Telepon buru-buru ditutup. Aku terpatung. Kalimat itu diucapkan Butet ketika mengakhiri pembicaraan yang terus terang makin memperdalam tanyaku tentang hatinya. Tatapan mata yang mengartikan sebentuk rasa sayang yang tak pernah sedikitpun terealisasi dari mulut dan perilaku. Entah bagaimana pula isi hatinya. Ah, aku tak mau dibuat pusing untuk sesuatu yang tak pasti!
Yang pasti, terima kasih Jogja telah mempertemukanku pada orang-orang yang mempunyai porsi masing-masing dalam hidup dan hatiku.
Lebaran in Jogjaa... (7)
Melongok ke kamar, Ani tak di tempat. "Ia pamit pergi ke depan tadi!" ujar ibu Butet.
Aku menelepon Ani. "Kamu dimana?"
"Nggak tau ini dimana? Habis kalian nggak dateng-dateng, jadi aku keluar cari rokok ama pulsa. Tadi aku nurutin jalan aja sampai ke jalan besar dan aku nggak tau jalan pulang..." Ani merengek minta jemput. Perempuan satu itu memang selalu berulah dan memang kerap bikin repot! Tak berapa lama batang hidungnya nongol sambil nyengir. Semprul!
Agak siangan aku dan Butet ke Malioboro, membelikan pesanan orang rumah yang makin bejibun aja permintaannya. Kami naik motor. Jarang sekali kami ada waktu berdua, kecuali ke seperti tadi ke pasar. Di tengah jalan Kupu-Kupu Kecil menelepon, hanya untuk bilang: "Jangan macem-macem lho ya!"
Usai berbelanja oleh-oleh, Butet membawaku mencicipi batagor dan sup buah di salah satu belokan daerah UGM. "Kata temenku enak!" Begitu promosi Butet. Cukup banyak waktu untuk kami bicara tentang semuanya. Berbicara dari hati ke hati. Meski tanpa solusi. Ani menelepon.
"Kalian lama amat sih, kapan pulangnya? Itu dua keponakan kakak udah dateng dari Salatiga..." Ani kasi info. "Buruan pulang ya, aku sendirian nih!" rajuk Ani.
Hampir Maghrib kami tiba. Dua keponakan Butet langsung menyambut Budhe-nya dengan pelukan erat. Aku masuk kamar, tak ingin mengganggu acara kangen-kangenan tante dan keponakannya itu.
Lupa apa penyebabnya, tiba-tiba acara makan malam bersama kami bertiga berakhir dingin. Hatiku sedang tak enak, pada keduanya. Sehabis makan, aku segera meninggalkan meja. Butet kemudian menyusul.
"Tolong balik ke meja makan!" tukasnya padaku. Aku mengekor.
"Ada apa?" tanyaku bernada sengak.
"Nggak ada apa-apa. Kalo kamu mau di kamar, ya nggak pa-pa!" sahut Butet nggak kalah sengak. Aku buru-buru angkat kaki.
Selebihnya aku diam di kamar. Juga tak banyak bicara dengan Ani. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang tak enak saja.
"Alvi sudah tidur ya..." Aku mendengar seruan Butet, tapi tak beringsut dari posisiku yang menghadap tembok. Entahlah, males banget mau noleh! Butet berlalu. Kurang lebih tiga jam kemudian, entah darimana, ia muncul sudah dengan pakaian tinju, eh salah, tidurnya.
Menepi di dinding pucat pasi. Tepis tangan-tangan yang hinggap. Hingar bingar lagu cinta. Buatku sontak naik darah. Tak bisa pejam mata. Sudah itu hening. Tenggelam bersama ocehan nyamuk. Derap kaki keluar. Bantingan pintu ditemani dahak menahun. Entah berapa lama bercengkrama dengan makhluk penghisap darah. Ia masuk. Dalam prasangka. Akan hal yang hanya ada dalam benaknya. Terlelap bersama praduga.
Dinding menyempit. Tak ada sekat. Hanya rongga bernyawa. Berirama. Dibalik sponge tak bercelah. Karang es mencair. Meluap. Membebaskan akhir tak berujung. Fajar telah mengintip. Dalam senyumku.
ITS TIME 2 SAY GOODBYE!
Alarm hapeku berdering tepat pukul 4 dini hari. Aku sebenarnya telah terbangun sejak tadi. Tapi ketika kutengok yang lain masih pada ngorok dan diluar masih sunyi senyap alias tak ada tanda-tanda aktivitas mudik seperti yang dijadwalkan adik Butet yang ikut pula rombongan ke Surabaya, yaitu jam setengah lima semua sudah harus siap, aku kembali rebahan dan sedikit banyak terbawa kantukku yang belum tertuntaskan.
Barulah pukul setengah lima tepat kudengar suara gaduh diluar. Tepatnya suara adik perempuan Butet yang membangunkan kami semua.
"Ayo, cepetan, sudah jam berapa ini!" omelnya. "Kemarin kan sudah dibilangin keretanya jam enam, jadi setengah lima semua harus siap berangkat, lha ini kok nggak ada yang bangun satupun!"
"Tadi jam empat udah bangun, berhubung masih sepi aku tidur lagi!" kilahku. "Tapi kata temanku, keretanya berangkat jam delapan kok?" Aku dikasi info oleh Rie yang terbiasa memakai jasa transportasi tersebut.
Sembari mengecek jadwal keberangkatan, kami bersiap. Masuk ke kamar mandi, air di bak tersisa sedikit lagi. Cukup buat cuci muka saja.
Butuh waktu tak berapa lama aku sudah selesai berkemas. Tak seperti Ani yang masih tampak tenang-tenang saja. Walhasil, ia orang paling bontot siap sementara yang lain telah menunggu.
TO BE CONTINUED...
Aku menelepon Ani. "Kamu dimana?"
"Nggak tau ini dimana? Habis kalian nggak dateng-dateng, jadi aku keluar cari rokok ama pulsa. Tadi aku nurutin jalan aja sampai ke jalan besar dan aku nggak tau jalan pulang..." Ani merengek minta jemput. Perempuan satu itu memang selalu berulah dan memang kerap bikin repot! Tak berapa lama batang hidungnya nongol sambil nyengir. Semprul!
Agak siangan aku dan Butet ke Malioboro, membelikan pesanan orang rumah yang makin bejibun aja permintaannya. Kami naik motor. Jarang sekali kami ada waktu berdua, kecuali ke seperti tadi ke pasar. Di tengah jalan Kupu-Kupu Kecil menelepon, hanya untuk bilang: "Jangan macem-macem lho ya!"
Usai berbelanja oleh-oleh, Butet membawaku mencicipi batagor dan sup buah di salah satu belokan daerah UGM. "Kata temenku enak!" Begitu promosi Butet. Cukup banyak waktu untuk kami bicara tentang semuanya. Berbicara dari hati ke hati. Meski tanpa solusi. Ani menelepon.
"Kalian lama amat sih, kapan pulangnya? Itu dua keponakan kakak udah dateng dari Salatiga..." Ani kasi info. "Buruan pulang ya, aku sendirian nih!" rajuk Ani.
Hampir Maghrib kami tiba. Dua keponakan Butet langsung menyambut Budhe-nya dengan pelukan erat. Aku masuk kamar, tak ingin mengganggu acara kangen-kangenan tante dan keponakannya itu.
Lupa apa penyebabnya, tiba-tiba acara makan malam bersama kami bertiga berakhir dingin. Hatiku sedang tak enak, pada keduanya. Sehabis makan, aku segera meninggalkan meja. Butet kemudian menyusul.
"Tolong balik ke meja makan!" tukasnya padaku. Aku mengekor.
"Ada apa?" tanyaku bernada sengak.
"Nggak ada apa-apa. Kalo kamu mau di kamar, ya nggak pa-pa!" sahut Butet nggak kalah sengak. Aku buru-buru angkat kaki.
Selebihnya aku diam di kamar. Juga tak banyak bicara dengan Ani. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang tak enak saja.
"Alvi sudah tidur ya..." Aku mendengar seruan Butet, tapi tak beringsut dari posisiku yang menghadap tembok. Entahlah, males banget mau noleh! Butet berlalu. Kurang lebih tiga jam kemudian, entah darimana, ia muncul sudah dengan pakaian tinju, eh salah, tidurnya.
Menepi di dinding pucat pasi. Tepis tangan-tangan yang hinggap. Hingar bingar lagu cinta. Buatku sontak naik darah. Tak bisa pejam mata. Sudah itu hening. Tenggelam bersama ocehan nyamuk. Derap kaki keluar. Bantingan pintu ditemani dahak menahun. Entah berapa lama bercengkrama dengan makhluk penghisap darah. Ia masuk. Dalam prasangka. Akan hal yang hanya ada dalam benaknya. Terlelap bersama praduga.
Dinding menyempit. Tak ada sekat. Hanya rongga bernyawa. Berirama. Dibalik sponge tak bercelah. Karang es mencair. Meluap. Membebaskan akhir tak berujung. Fajar telah mengintip. Dalam senyumku.
ITS TIME 2 SAY GOODBYE!
Alarm hapeku berdering tepat pukul 4 dini hari. Aku sebenarnya telah terbangun sejak tadi. Tapi ketika kutengok yang lain masih pada ngorok dan diluar masih sunyi senyap alias tak ada tanda-tanda aktivitas mudik seperti yang dijadwalkan adik Butet yang ikut pula rombongan ke Surabaya, yaitu jam setengah lima semua sudah harus siap, aku kembali rebahan dan sedikit banyak terbawa kantukku yang belum tertuntaskan.
Barulah pukul setengah lima tepat kudengar suara gaduh diluar. Tepatnya suara adik perempuan Butet yang membangunkan kami semua.
"Ayo, cepetan, sudah jam berapa ini!" omelnya. "Kemarin kan sudah dibilangin keretanya jam enam, jadi setengah lima semua harus siap berangkat, lha ini kok nggak ada yang bangun satupun!"
"Tadi jam empat udah bangun, berhubung masih sepi aku tidur lagi!" kilahku. "Tapi kata temanku, keretanya berangkat jam delapan kok?" Aku dikasi info oleh Rie yang terbiasa memakai jasa transportasi tersebut.
Sembari mengecek jadwal keberangkatan, kami bersiap. Masuk ke kamar mandi, air di bak tersisa sedikit lagi. Cukup buat cuci muka saja.
Butuh waktu tak berapa lama aku sudah selesai berkemas. Tak seperti Ani yang masih tampak tenang-tenang saja. Walhasil, ia orang paling bontot siap sementara yang lain telah menunggu.
TO BE CONTINUED...
Saturday, October 11, 2008
Lebaran in Jogjaa... (6)
Aku kemudian bergabung dengan yang lain di ALKID. Keroyokan di warung tenda. Tak lama dua teman CH datang. Satu butchie 17 tahunan, satunya lagi laki-laki, sahabatnya. Seru juga ngeliat tingkah butchie belasan tahun ini. Apalagi ternyata Ani cocok banget bercanda dengannya. Upps... Hampir saja terlewat, kuperhatikan wajah perempuan atletis di sebelahku ini sedari tadi lesu. Ia kemudian mengajakku ngobrol sambil menikmati langit penuh kembang api. Bahkan sampai rumah pun, tak ada gairah di wajah ala butchie nya itu. Kenapa gerangan dia?
"Temenmu itu kenapa Ani?" tanyaku ketika tiba di kamar. "Wajahnya kok sayu banget kelihatannya?"
"Nggak tau! Sejak kamu sama bojomu pergi tadi, ia mulai tak banyak bicara!"
Alisku mengernyit. "Maksudnya?" batinku. Benakku mulai mengembara. Sejak di warung tenda tadi sikap dan raut mukanya memang terkesan "aneh". Dibilang mellow iya, romantis juga nggak jelas, marah tapi karna apa, ngebingungin deh sama kayak hatinya yang unpredict! Aku juga nggak mau terlalu mikirin. Bagiku ia tetap saja unpredict, meski tatapan dan perlakuannya padaku boleh dikategorikan "istimewa" dibanding ke Ani. Aku hanya tak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali. Percaya pada tatapan, namun hati belumlah pasti.
Perempuan itu masuk kamar tampak habis mandi. Wangi sekali.
"Kak, wangi badan kakak akan bikin aku cepet tidur nih..." ujar Ani yang disambut senyuman perempuan yang malam ini tampak "gagah" mengenakan celana basket selutut dan singlet coklat. Ah, wajah itu... Tatapan itu... Tak terdefinisikan!
Silent Mode On
Hening
Tak berbunyi
Mulut mengatup rapat
Hanya suara-suara tak tentu
Nyanyian tokek
Tarian nyamuk
Hari berganti...
THE LAST DAY IN JOGJAA... I Thought...
Sejak kemarin aku dan Ani telah membahas akan pulang naik apa. Luput dari rencana semula yang tadinya aku akan pulang belakangan, tiba-tiba aku mengubah pulang bareng Ani. Tetap pada perdebatan yang sama. Soal transportasi. Aku kereta, dia bis. Akhirnya kami menemukan kesepakatan, naik kereta sore.
Namun rencana berubah lagi ketika ibu Butet memberi tahu tentang kepulangan tiga cucunya ke Surabaya besok pagi. Beliau menyuruh kami bareng mereka. Ani setuju. Butet girang. Wajah sendu itu mengguratkan binar keceriaan kembali.
Pagi-pagi ketika baru bangun tidur, ia tergopoh-gopoh datang menyodoriku sepiring kecil mie dan sebaris senyuman.
Dan cuma sepiring. Padahal dalam kamar itu ada dua orang. Aku dan Ani yang duduk dibawah menghisap batang nikotin serta segelas kopi menyanding.
"Apalagi ini, kemarin SilverQueen sekarang mie..." batinku agak tak enak juga pada Ani, meski Ani tak berkomentar sedikit pun.
Kukira ia mau menepati janjinya membuatkanku omelet seperti yang ia katakan kemarin. Ternyata mie untuk sarapan sekeluarga. Dan ia menungguiku.
"Makan sayurnya!" titahnya ketika melihat aku meminggirkan sayuran hijau yang membaur dengan mie. Ia tau betul aku nggak doyan sayur-sayuran. Aku nyengir sembari melahap habis mie hingga tak tersisa.
"Mau ikut?" tawarnya.
"Kemana?"
"Pasar!"
Aku mengangguk. Ini kedua kalinya aku dan dia ke pasar. Kali ini pasar yang berbeda.
"Dua butchie ke pasar!" kelakar Butet. Lucunya, ada seorang penjual berusia paruh baya yang memanggilnya Mas. Aku terkekeh. Dan lucunya lagi, para penjual di pasar itu memanggil Mbak padaku.
"Mereka kalo manggil Mbak ngeliat ke kamu..." ledek Butet. Hohoho maklum sih rambutku sudah gondrong. Sebelum kemari aku sudah punya planning potong rambut dahulu, berhubung rencananya dimajukan, keduluan nyampe Jogjanya daripada potong rambutnya.
"Kenapa wajahmu dari kemarin ditekuk?" Aku memberanikan diri bertanya setelah tak lagi ada mendung menggelanyuti si pemilik wajah serius itu.
"Mau tau?" Ia menatapku. Aku tidak tau kenapa, tapi ia suka sekali memandangiku hingga lama. Dan selalu aku yang kalah, memilih membuang muka ke arah lain. "Aku sebenarnya nggak rela kamu pergi!" Ia mengucapkan dengan jelas, cukup mampu membuatku terhenyak.
"Kayak nggak akan ketemu lagi aja!" ujarku sembari menepuk pundaknya, coba mencairkan suasana.
"Itu yang aku takutkan!" Mimik perempuan itu terlampau serius, aku sedikit bergidik bercampur bingung.
"Apa sebenarnya isi pikiran dan hati perempuan ini?" selidikku coba tuk mencerna arti tatapan nan meneduhkan perempuan di hadapanku.
Dering ponselnya membuyarkan obrolan kami. Dari perempuan yang dikenalkan Ani padanya, tapi tak dikenalkan Ani padaku. Entah karena apa, akhir-akhir ini Ani sedang giat-giatnya mengenalkan hampir seluruh temannya pada Butet, namun anehnya tak pernah barang sekalipun hal serupa dilakukannya padaku.
Butet kemudian membawaku berkeliling. Ia menunjukkan rumah laki-laki cinta monyetnya ketika SMP dulu. Kebetulan laki-laki itu sedang mengadakan pesta pertunangan putri sulungnya. Tak terduga. Bahkan mata istri laki-laki itu berkaca-kaca ketika menyalami Butet. Cerita masa lalu yang agak ribet.
Perjalanan dilanjut ke rumah nenek Butet. Sayangnya beliau sedang tidur. Setelah bercakap sebentar dengan laki-laki saudara Butet, kami pulang.
TO BE CONTINUED...
"Temenmu itu kenapa Ani?" tanyaku ketika tiba di kamar. "Wajahnya kok sayu banget kelihatannya?"
"Nggak tau! Sejak kamu sama bojomu pergi tadi, ia mulai tak banyak bicara!"
Alisku mengernyit. "Maksudnya?" batinku. Benakku mulai mengembara. Sejak di warung tenda tadi sikap dan raut mukanya memang terkesan "aneh". Dibilang mellow iya, romantis juga nggak jelas, marah tapi karna apa, ngebingungin deh sama kayak hatinya yang unpredict! Aku juga nggak mau terlalu mikirin. Bagiku ia tetap saja unpredict, meski tatapan dan perlakuannya padaku boleh dikategorikan "istimewa" dibanding ke Ani. Aku hanya tak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali. Percaya pada tatapan, namun hati belumlah pasti.
Perempuan itu masuk kamar tampak habis mandi. Wangi sekali.
"Kak, wangi badan kakak akan bikin aku cepet tidur nih..." ujar Ani yang disambut senyuman perempuan yang malam ini tampak "gagah" mengenakan celana basket selutut dan singlet coklat. Ah, wajah itu... Tatapan itu... Tak terdefinisikan!
Silent Mode On
Hening
Tak berbunyi
Mulut mengatup rapat
Hanya suara-suara tak tentu
Nyanyian tokek
Tarian nyamuk
Hari berganti...
THE LAST DAY IN JOGJAA... I Thought...
Sejak kemarin aku dan Ani telah membahas akan pulang naik apa. Luput dari rencana semula yang tadinya aku akan pulang belakangan, tiba-tiba aku mengubah pulang bareng Ani. Tetap pada perdebatan yang sama. Soal transportasi. Aku kereta, dia bis. Akhirnya kami menemukan kesepakatan, naik kereta sore.
Namun rencana berubah lagi ketika ibu Butet memberi tahu tentang kepulangan tiga cucunya ke Surabaya besok pagi. Beliau menyuruh kami bareng mereka. Ani setuju. Butet girang. Wajah sendu itu mengguratkan binar keceriaan kembali.
Pagi-pagi ketika baru bangun tidur, ia tergopoh-gopoh datang menyodoriku sepiring kecil mie dan sebaris senyuman.
Dan cuma sepiring. Padahal dalam kamar itu ada dua orang. Aku dan Ani yang duduk dibawah menghisap batang nikotin serta segelas kopi menyanding.
"Apalagi ini, kemarin SilverQueen sekarang mie..." batinku agak tak enak juga pada Ani, meski Ani tak berkomentar sedikit pun.
Kukira ia mau menepati janjinya membuatkanku omelet seperti yang ia katakan kemarin. Ternyata mie untuk sarapan sekeluarga. Dan ia menungguiku.
"Makan sayurnya!" titahnya ketika melihat aku meminggirkan sayuran hijau yang membaur dengan mie. Ia tau betul aku nggak doyan sayur-sayuran. Aku nyengir sembari melahap habis mie hingga tak tersisa.
"Mau ikut?" tawarnya.
"Kemana?"
"Pasar!"
Aku mengangguk. Ini kedua kalinya aku dan dia ke pasar. Kali ini pasar yang berbeda.
"Dua butchie ke pasar!" kelakar Butet. Lucunya, ada seorang penjual berusia paruh baya yang memanggilnya Mas. Aku terkekeh. Dan lucunya lagi, para penjual di pasar itu memanggil Mbak padaku.
"Mereka kalo manggil Mbak ngeliat ke kamu..." ledek Butet. Hohoho maklum sih rambutku sudah gondrong. Sebelum kemari aku sudah punya planning potong rambut dahulu, berhubung rencananya dimajukan, keduluan nyampe Jogjanya daripada potong rambutnya.
"Kenapa wajahmu dari kemarin ditekuk?" Aku memberanikan diri bertanya setelah tak lagi ada mendung menggelanyuti si pemilik wajah serius itu.
"Mau tau?" Ia menatapku. Aku tidak tau kenapa, tapi ia suka sekali memandangiku hingga lama. Dan selalu aku yang kalah, memilih membuang muka ke arah lain. "Aku sebenarnya nggak rela kamu pergi!" Ia mengucapkan dengan jelas, cukup mampu membuatku terhenyak.
"Kayak nggak akan ketemu lagi aja!" ujarku sembari menepuk pundaknya, coba mencairkan suasana.
"Itu yang aku takutkan!" Mimik perempuan itu terlampau serius, aku sedikit bergidik bercampur bingung.
"Apa sebenarnya isi pikiran dan hati perempuan ini?" selidikku coba tuk mencerna arti tatapan nan meneduhkan perempuan di hadapanku.
Dering ponselnya membuyarkan obrolan kami. Dari perempuan yang dikenalkan Ani padanya, tapi tak dikenalkan Ani padaku. Entah karena apa, akhir-akhir ini Ani sedang giat-giatnya mengenalkan hampir seluruh temannya pada Butet, namun anehnya tak pernah barang sekalipun hal serupa dilakukannya padaku.
Butet kemudian membawaku berkeliling. Ia menunjukkan rumah laki-laki cinta monyetnya ketika SMP dulu. Kebetulan laki-laki itu sedang mengadakan pesta pertunangan putri sulungnya. Tak terduga. Bahkan mata istri laki-laki itu berkaca-kaca ketika menyalami Butet. Cerita masa lalu yang agak ribet.
Perjalanan dilanjut ke rumah nenek Butet. Sayangnya beliau sedang tidur. Setelah bercakap sebentar dengan laki-laki saudara Butet, kami pulang.
TO BE CONTINUED...
Friday, October 10, 2008
Lebaran in Jogjaa... (5)
Satu lagi pertemuan dengan perempuan yang selama ini hanya dihubungkan dengan handphone. CH.
Mobil Butet berhenti tak jauh dari gang tempat perempuan yang kami tunggu muncul. Ketika perempuan kurus dengan rambut dikuncir berdiri depan gang, kami nyamperin. Fotonya memang ada di FS ku. Tapi ternyata aslinya menurutku nggak sama dengan fotonya hehehe.
"Gimana, jadi jemput bojomu?" tanya CH padaku.
"Iya, susul bojomu ya?" timpal Ani.
CH, begitu juga Ani, memang selalu menyebut Kupu-Kupu Kecilku dengan sebutan BOJO.
Aku menggeleng dan balik menunjuk Butet yang pegang kemudi.
"Terserah sih, tapi aku nggak tau jalan!" sahut perempuan yang tampak cool dengan kaus sporty warna putih. Kaus yang akhirnya dipilihnya setelah padanan kaus biru dengan jeans kegombrongan mendapat komplain habis-habisan dari Ani sampai pede nya ancur lebur. Tak puas dengan penilaian Ani, ia masih bertanya pada dua keponakan laki-lakinya. Ketika mendapat jawaban serupa Ani, ia mengganti total pakaian yang dikenakannya. T-Shirt putih garis-garis dipadu celana bahan berwarna coklat gelap.
Berbeda dengan Ani, aku tipe orang yang tak pernah mau ikut campur dengan apa yang dikenakan orang lain karena aku sendiri juga tak mau orang lain komplain ini itu dengan apa yang kukenakan. Jujur, bagiku ia terlihat seperti butchie keren sehabis keramas. Seperti kemarin.
"Keren ya.. Coba lihat kalo begini.." Ia mengeluarkan dompet merah, mengambil bedak dan lipstik. Cukup membuatku melongo, meski awalnya sudah kukatakan "Jangan". "Whatss!?!" pekikku dalam hati. Perempuan yang gaya sehari-harinya bagai pinang dibelah dua denganku ini kemudian memoles wajahnya dengan bedak lalu lipstik merah. OMG!!
Kupu-Kupu Kecilku memandu kami ke rumahnya. CH meresapi tiap informasi dengan seksama karena hanya ia yang tau jalan. Dalam perjalanan ini aku kembali mewejangkan Butet tentang Maha Besar ALLAH yang menciptakan kuping dengan begitu sempurna, tapi tetap saja baginya hanya angin lalu.
Kupu-Kupu Kecilku telah menunggu. Mobil berputar arah, berhenti tepat di depan perempuan 29 tahun yang sedang mengayun-ayunkan kaki mirip bocah sepuluh tahunan saja. Di dalam mobil, Ani langsung ngakak melihat tingkahnya.
"Gitu bilangnya mau coba jadi buci!" kekeh Ani. "Tingkahnya saja masih kayak anak kecil!" Ani tak berhenti tertawa.
Aku bergerak turun. Kupu-Kupu Kecil mengajakku ke dalam untuk memintakan ijin keluar kepada suami dan mertuanya. Aku mewakilkannya pada Ani. Bukannya apa, aku nggak pandai basa-basi, kuatir kekikukanku nanti malah bikin runyam.
Sudah sekian menit Ani masuk dan tak kunjung keluar. Datang-datang keduanya tak membawa si kecil seperti rencana semula.
"Mana anakmu, katanya diajak?" tanyaku.
"Anaknya nggak enak badan, mertuanya ngelarang." sahut Ani. "Alasan klise tapi tepat!"
"Al, duduk di belakang, biar CH di depan!" perintah Butet padaku.
"Kenapa emang?" tanyaku tak mengerti.
"Pokoknya pindah saja ke belakang!" desak Butet tak mau tau.
Secara tak sengaja ekor mataku menangkap tatapan Kupu-Kupu Kecil yang menyiratkan kesinisan. Aku beranjak di jok paling belakang. Sendirian. Ani dan Kupu-Kupu Kecil duduk di tengah. Sedang CH dan Butet telah akrab layaknya lama kenal.
"Sekarang kita kemana?" tanya Butet. "Sebelum pergi, harus tau tujuannya kemana?" Mobil melaju.
Aku yang duduk paling belakang, jadi pemantau. Butet sudah sibuk menulari CH yang duduk di sebelahnya kebiasaan bertelepon dengan mengenalkan si penelepon pada CH yang nggak kusangka orangnya geblek juga. Di jok tengah, Ani sedang menginterview Kupu-Kupu Kecil tentang kondisi rumah tangganya. Dan mendadak, airmata Kupu-Kupu Kecil mengalir deras.
"Aku sudah nggak kuat, mbak!" curhatnya disela isakan. Airmata tak kunjung berhenti, malah makin membanjir.
Ani memegang tangan Kupu-Kupu Kecil, menegarkan. "Menangislah, kalau itu bisa membuatmu lega, keluarkan semuanya..." kata Ani penuh empati. Aku akui untuk soal seperti ini Ani jagonya, sedang aku paling tak bisa melihat perempuan menangis. Yang kulakukan hanya mengelus punggungnya, menguatkan, tanpa sepatah pun terlontar dari bibirku, membiarkannya melepas tangis batinnya. Jika bukan karena Ani, Kupu-Kupu Kecil takkan meleburkan beban rumah tangganya, karena di depanku ia hanya memberiku tawa tanpa pernah membawaku masuk dalam dukanya.
Mendengar gaduh di belakang, CH dan Butet sontak menoleh. Ekspresi Butet menyiratkan Kupu-Kupu Kecil menangis karenaku, sisa masalah kemarin. Langsung kutepis prasangka di wajahnya.
"Ia menangis karna masalah rumah tangganya, bukan karna aku, jadi jangan salah paham!"
"Nggak ikut-ikut deh!"
Keduanya membalikkan muka, asyik berceloteh kembali.
Malas ke Mall, atas usulan CH, kami mampir di Warung Goeboek yang katanya tempat nongkrongnya anak-anak belok. Begitu akan ke tempat tujuan selanjutnya, yaitu Alun-Alun Kidul, karena GF CH telah menunggu disana, Kupu-Kupu Kecil tak bisa ikut merasa telah kesorean. Sedang untuk mengantarnya kembali ke rumah juga tak mungkin.
Ia pulang naik taksi bersamaku. Takut jika pulang sendirian. Sikapnya berbeda ketika berdua. Tak sesinis ketika beramai-ramai tadi dan kemarin. Pancaran mata yang tak pernah sanggup ia bohongi.
TO BE CONTINUED...
Mobil Butet berhenti tak jauh dari gang tempat perempuan yang kami tunggu muncul. Ketika perempuan kurus dengan rambut dikuncir berdiri depan gang, kami nyamperin. Fotonya memang ada di FS ku. Tapi ternyata aslinya menurutku nggak sama dengan fotonya hehehe.
"Gimana, jadi jemput bojomu?" tanya CH padaku.
"Iya, susul bojomu ya?" timpal Ani.
CH, begitu juga Ani, memang selalu menyebut Kupu-Kupu Kecilku dengan sebutan BOJO.
Aku menggeleng dan balik menunjuk Butet yang pegang kemudi.
"Terserah sih, tapi aku nggak tau jalan!" sahut perempuan yang tampak cool dengan kaus sporty warna putih. Kaus yang akhirnya dipilihnya setelah padanan kaus biru dengan jeans kegombrongan mendapat komplain habis-habisan dari Ani sampai pede nya ancur lebur. Tak puas dengan penilaian Ani, ia masih bertanya pada dua keponakan laki-lakinya. Ketika mendapat jawaban serupa Ani, ia mengganti total pakaian yang dikenakannya. T-Shirt putih garis-garis dipadu celana bahan berwarna coklat gelap.
Berbeda dengan Ani, aku tipe orang yang tak pernah mau ikut campur dengan apa yang dikenakan orang lain karena aku sendiri juga tak mau orang lain komplain ini itu dengan apa yang kukenakan. Jujur, bagiku ia terlihat seperti butchie keren sehabis keramas. Seperti kemarin.
"Keren ya.. Coba lihat kalo begini.." Ia mengeluarkan dompet merah, mengambil bedak dan lipstik. Cukup membuatku melongo, meski awalnya sudah kukatakan "Jangan". "Whatss!?!" pekikku dalam hati. Perempuan yang gaya sehari-harinya bagai pinang dibelah dua denganku ini kemudian memoles wajahnya dengan bedak lalu lipstik merah. OMG!!
Kupu-Kupu Kecilku memandu kami ke rumahnya. CH meresapi tiap informasi dengan seksama karena hanya ia yang tau jalan. Dalam perjalanan ini aku kembali mewejangkan Butet tentang Maha Besar ALLAH yang menciptakan kuping dengan begitu sempurna, tapi tetap saja baginya hanya angin lalu.
Kupu-Kupu Kecilku telah menunggu. Mobil berputar arah, berhenti tepat di depan perempuan 29 tahun yang sedang mengayun-ayunkan kaki mirip bocah sepuluh tahunan saja. Di dalam mobil, Ani langsung ngakak melihat tingkahnya.
"Gitu bilangnya mau coba jadi buci!" kekeh Ani. "Tingkahnya saja masih kayak anak kecil!" Ani tak berhenti tertawa.
Aku bergerak turun. Kupu-Kupu Kecil mengajakku ke dalam untuk memintakan ijin keluar kepada suami dan mertuanya. Aku mewakilkannya pada Ani. Bukannya apa, aku nggak pandai basa-basi, kuatir kekikukanku nanti malah bikin runyam.
Sudah sekian menit Ani masuk dan tak kunjung keluar. Datang-datang keduanya tak membawa si kecil seperti rencana semula.
"Mana anakmu, katanya diajak?" tanyaku.
"Anaknya nggak enak badan, mertuanya ngelarang." sahut Ani. "Alasan klise tapi tepat!"
"Al, duduk di belakang, biar CH di depan!" perintah Butet padaku.
"Kenapa emang?" tanyaku tak mengerti.
"Pokoknya pindah saja ke belakang!" desak Butet tak mau tau.
Secara tak sengaja ekor mataku menangkap tatapan Kupu-Kupu Kecil yang menyiratkan kesinisan. Aku beranjak di jok paling belakang. Sendirian. Ani dan Kupu-Kupu Kecil duduk di tengah. Sedang CH dan Butet telah akrab layaknya lama kenal.
"Sekarang kita kemana?" tanya Butet. "Sebelum pergi, harus tau tujuannya kemana?" Mobil melaju.
Aku yang duduk paling belakang, jadi pemantau. Butet sudah sibuk menulari CH yang duduk di sebelahnya kebiasaan bertelepon dengan mengenalkan si penelepon pada CH yang nggak kusangka orangnya geblek juga. Di jok tengah, Ani sedang menginterview Kupu-Kupu Kecil tentang kondisi rumah tangganya. Dan mendadak, airmata Kupu-Kupu Kecil mengalir deras.
"Aku sudah nggak kuat, mbak!" curhatnya disela isakan. Airmata tak kunjung berhenti, malah makin membanjir.
Ani memegang tangan Kupu-Kupu Kecil, menegarkan. "Menangislah, kalau itu bisa membuatmu lega, keluarkan semuanya..." kata Ani penuh empati. Aku akui untuk soal seperti ini Ani jagonya, sedang aku paling tak bisa melihat perempuan menangis. Yang kulakukan hanya mengelus punggungnya, menguatkan, tanpa sepatah pun terlontar dari bibirku, membiarkannya melepas tangis batinnya. Jika bukan karena Ani, Kupu-Kupu Kecil takkan meleburkan beban rumah tangganya, karena di depanku ia hanya memberiku tawa tanpa pernah membawaku masuk dalam dukanya.
Mendengar gaduh di belakang, CH dan Butet sontak menoleh. Ekspresi Butet menyiratkan Kupu-Kupu Kecil menangis karenaku, sisa masalah kemarin. Langsung kutepis prasangka di wajahnya.
"Ia menangis karna masalah rumah tangganya, bukan karna aku, jadi jangan salah paham!"
"Nggak ikut-ikut deh!"
Keduanya membalikkan muka, asyik berceloteh kembali.
Malas ke Mall, atas usulan CH, kami mampir di Warung Goeboek yang katanya tempat nongkrongnya anak-anak belok. Begitu akan ke tempat tujuan selanjutnya, yaitu Alun-Alun Kidul, karena GF CH telah menunggu disana, Kupu-Kupu Kecil tak bisa ikut merasa telah kesorean. Sedang untuk mengantarnya kembali ke rumah juga tak mungkin.
Ia pulang naik taksi bersamaku. Takut jika pulang sendirian. Sikapnya berbeda ketika berdua. Tak sesinis ketika beramai-ramai tadi dan kemarin. Pancaran mata yang tak pernah sanggup ia bohongi.
TO BE CONTINUED...
Lebaran in Jogjaa... (4)
Dan ternyata endingnya pun tak jauh berbeda dengan Ani. Hanya aku berusaha mengalihkan kekesalanku -karena terus menerus dipojokkan atas kesalahan yang akarnya pada dirinya sendiri- dengan candaan ditengah wajah -yang dipaksakan- serius milik perempuan itu. Namun ketika ia pergi, kejengkelan itu tak terbendung. Aku memilih membisu sepanjang perjalanan pulang. Tak menghiraukan gurauan Ani atau ajakan Butet untuk bercerita masalahku. Aku sendiri justru bingung, aku sebenarnya marah pada siapa?
Moodku kembali pulih ketika Ani sukses membuatku tak tahan aroma kentutnya sementara ia terkekeh hebat sembari memegangi perutnya yang kaku, entah karena memang kebelet atau melihat ekspresiku akan bau tak sedap itu. Ani memang paling pintar membangun suasana. Sama ketika ia sedang tak enak hati, aku lah yang bisa membuatnya tertawa lagi.
"Sejelek apapun saudara, pasti lebih dicari daripada teman manapun!" Begitu ungkapnya.
Perempuan si empunya rumah masuk, masih dengan pakaian tidur yang sama yang dikenakannya semalam.
Tangan-tangan yang hinggap
Dalam dering telepon
Mulut-mulut berbicara
Ada irama dibalik kata
Tertata seperti nada
Kadang pelan kadang menghentak
Meski rancu oleh suara-suara tak tentu
Namun sanggup layu Dalam buaian wangi surga
Pagi tiba...
HARI KEDUA DI JOGJA
Hari ini nyaris berjalan cepat tanpa aktivitas. Dari mulai bangun kesiangan. Lalu praktis didominasi ocehan Ani dan Butet dengan benda elektronik bernama handphone itu.
"Untung saja pendengaran kalian itu buatan Yang Maha Kuasa, coba kalo Made in China ato Amrik, pasti sudah berapa kali beli kuping baru di Glodok!" sinisku. Bukan karena iri. Kalau aku mau aku bisa saja seperti mereka. Tapi hal itu cukup terjadi di masa lalu dan aku tak ingin mengulangnya.
Akhirnya aku iseng menelepon CH. Ketika kemari Februari kemarin, aku tidak sempat bertemu dengannya. Mungkin hari ini kami berjodoh bertemu.
Disinilah ada kelucuan terjadi. Benar-benar korban hape! Sewaktu aku menelepon CH, belum lama berbincang Butet tiba-tiba masuk dan menyodoriku hapenya. Aku nggak ngeh!
"Sakura mau ngomong sama kamu!" jelasnya. Aku memberi kode bahwa aku juga sedang bertelepon.
"Siapa?" tanya Butet ingin tahu. Kembali aku menggerakkan tanganku seolah berkata, "Kau tidak mengenalnya," Namun mendadak dengan gerakan cepat ia mengambil alih hapeku dan menyodorkan hapenya padaku.
"Nggak sopan!" batinku. Aku menganggap ia sudah lancang karena mencomot hapeku tanpa ijin, apalagi ia tak kenal temanku itu. Akhirnya aku ngobrol dengan Sakura.
"Apa kabar, Vi? Kok jarang angkat telponku, masih ngambek?" ledeknya. "Gimana blogmu, masih diisi?"
"Iya, masih. Tapi berhubung lebaran jadi mandeg dulu,"
"Sama kalo gitu,"
Belum selesai ngobrol, Ani menyodoriku hapenya. Kupu-Kupu Kecilku di ujung telepon.
"Aku lagi nelpon!" sergahku.
"Dia pengen ngomong ama kamu!"
Yah, jadinya masing-masing dari kami pegang hape bukan punya sendiri. Hapeku disaut Butet yang langsung berakrab ria dengan CH. Ani ngobrol sama Sakura pake hape Butet dan aku memakai hape Ani. Bener-bener deh benda elektronik bernama handphone ini emang bikin yang nggak mungkin jadi mungkin!
Tak berapa lama semuanya kembali normal. Hape balik ke tangan pemiliknya. Jadwal hari ini adalah bersua dengan CH lalu menjemput Kupu-Kupu Kecilku di rumah mertuanya. Aku sebenarnya agak nggak enak dan serba salah juga, mengingat tempat yang dituju itu ibarat dari ujung ke ujung, alias jauh bo'! Apalagi melihat ekspresi muka Butet yang tak menolak juga tak mengiyakan. Posisi yang sulit!
Merasa ada janji ketemuan, aku segera mandi. Namun tidak dengan kedua korban hape itu. Mereka masih saja sibuk ngoceh entah dengan siapa.
"Jadi pergi nggak sih sebenernya?" tanyaku geregetan melihat keleletan mereka. "Kalo emang jadi, Ani buruan mandi dan Butet buruan nyuci!" Tetap saja keduanya tak beranjak. Menjengkelkan!
Sembari menunggu Ani mandi, aku menemani Butet nyuci. Hapenya bunyi bergiliran. Tak berapa lama Ani datang. Ia bercakap dengan ibu Butet. Aku ikutan nimbrung sembari membenahi settingan ponsel Ani.
Baru jam setengah dua belas, semuanya sudah stand by. Halangan muncul. Butet lupa naruh kunci mobil setelah memindahkannya semalam. Jadinya masih muter lagi nyari kunci yang ternyata nyempil di kamar belakang.
TO BE CONTINUED...
Moodku kembali pulih ketika Ani sukses membuatku tak tahan aroma kentutnya sementara ia terkekeh hebat sembari memegangi perutnya yang kaku, entah karena memang kebelet atau melihat ekspresiku akan bau tak sedap itu. Ani memang paling pintar membangun suasana. Sama ketika ia sedang tak enak hati, aku lah yang bisa membuatnya tertawa lagi.
"Sejelek apapun saudara, pasti lebih dicari daripada teman manapun!" Begitu ungkapnya.
Perempuan si empunya rumah masuk, masih dengan pakaian tidur yang sama yang dikenakannya semalam.
Tangan-tangan yang hinggap
Dalam dering telepon
Mulut-mulut berbicara
Ada irama dibalik kata
Tertata seperti nada
Kadang pelan kadang menghentak
Meski rancu oleh suara-suara tak tentu
Namun sanggup layu Dalam buaian wangi surga
Pagi tiba...
HARI KEDUA DI JOGJA
Hari ini nyaris berjalan cepat tanpa aktivitas. Dari mulai bangun kesiangan. Lalu praktis didominasi ocehan Ani dan Butet dengan benda elektronik bernama handphone itu.
"Untung saja pendengaran kalian itu buatan Yang Maha Kuasa, coba kalo Made in China ato Amrik, pasti sudah berapa kali beli kuping baru di Glodok!" sinisku. Bukan karena iri. Kalau aku mau aku bisa saja seperti mereka. Tapi hal itu cukup terjadi di masa lalu dan aku tak ingin mengulangnya.
Akhirnya aku iseng menelepon CH. Ketika kemari Februari kemarin, aku tidak sempat bertemu dengannya. Mungkin hari ini kami berjodoh bertemu.
Disinilah ada kelucuan terjadi. Benar-benar korban hape! Sewaktu aku menelepon CH, belum lama berbincang Butet tiba-tiba masuk dan menyodoriku hapenya. Aku nggak ngeh!
"Sakura mau ngomong sama kamu!" jelasnya. Aku memberi kode bahwa aku juga sedang bertelepon.
"Siapa?" tanya Butet ingin tahu. Kembali aku menggerakkan tanganku seolah berkata, "Kau tidak mengenalnya," Namun mendadak dengan gerakan cepat ia mengambil alih hapeku dan menyodorkan hapenya padaku.
"Nggak sopan!" batinku. Aku menganggap ia sudah lancang karena mencomot hapeku tanpa ijin, apalagi ia tak kenal temanku itu. Akhirnya aku ngobrol dengan Sakura.
"Apa kabar, Vi? Kok jarang angkat telponku, masih ngambek?" ledeknya. "Gimana blogmu, masih diisi?"
"Iya, masih. Tapi berhubung lebaran jadi mandeg dulu,"
"Sama kalo gitu,"
Belum selesai ngobrol, Ani menyodoriku hapenya. Kupu-Kupu Kecilku di ujung telepon.
"Aku lagi nelpon!" sergahku.
"Dia pengen ngomong ama kamu!"
Yah, jadinya masing-masing dari kami pegang hape bukan punya sendiri. Hapeku disaut Butet yang langsung berakrab ria dengan CH. Ani ngobrol sama Sakura pake hape Butet dan aku memakai hape Ani. Bener-bener deh benda elektronik bernama handphone ini emang bikin yang nggak mungkin jadi mungkin!
Tak berapa lama semuanya kembali normal. Hape balik ke tangan pemiliknya. Jadwal hari ini adalah bersua dengan CH lalu menjemput Kupu-Kupu Kecilku di rumah mertuanya. Aku sebenarnya agak nggak enak dan serba salah juga, mengingat tempat yang dituju itu ibarat dari ujung ke ujung, alias jauh bo'! Apalagi melihat ekspresi muka Butet yang tak menolak juga tak mengiyakan. Posisi yang sulit!
Merasa ada janji ketemuan, aku segera mandi. Namun tidak dengan kedua korban hape itu. Mereka masih saja sibuk ngoceh entah dengan siapa.
"Jadi pergi nggak sih sebenernya?" tanyaku geregetan melihat keleletan mereka. "Kalo emang jadi, Ani buruan mandi dan Butet buruan nyuci!" Tetap saja keduanya tak beranjak. Menjengkelkan!
Sembari menunggu Ani mandi, aku menemani Butet nyuci. Hapenya bunyi bergiliran. Tak berapa lama Ani datang. Ia bercakap dengan ibu Butet. Aku ikutan nimbrung sembari membenahi settingan ponsel Ani.
Baru jam setengah dua belas, semuanya sudah stand by. Halangan muncul. Butet lupa naruh kunci mobil setelah memindahkannya semalam. Jadinya masih muter lagi nyari kunci yang ternyata nyempil di kamar belakang.
TO BE CONTINUED...
Subscribe to:
Posts (Atom)