Seorang perempuan yang tengah hamil muda harusnya cukup disibukkan menata kehamilannya agar kelak tak terjadi apa-apa. Namun lain halnya dengan ESTI WAHYUNINGTIAS, atau yang lebih ngetop dijuluki ADE KUPU-KUPU KECIL itu, ia malah sibuk menebar dusta dan memutarbalikkan fakta kemana-mana.
Alasannya, tak terima diputusin, tak terima ditolak ketika ngajakin aku balikan, ia mulai menyebar racun dengan mulut kotornya. Mulai dari menjelek-jelekkanku ke seantero teman-teman lesbian lewat dunia maya, tetapi karena tak kutanggapi ia kian gusar. Ia menyebar nomor hapeku kepada lelaki-lelaki via chatting. Tiap hari hampir sepuluh lelaki yang menelepon atau sms ngajakin ML mampir ke hapeku. Pun kali ini aku diam. Dan kediamanku menambah kegusarannya. Perempuan tiga puluh tahun beranak satu itu ganti menyebarkan nomor telepon kantor tempatku bekerja pada lelaki-lelaki hidung belang itu. Praktis, hampir tiap saat telepon kantor berdering menanyakan namaku, padahal tak satu pun dari mereka kukenal. Semua teman kantor akhirnya mengetahui hal tsb. Aku jadi tak enak, persoalan pribadi yang menurutku telah selesai seiring berakhirnya hubungan kami, malah merembet pada aktivitas kantor. Aku geram, karena kredibilitasku dipertaruhkan. Namun beruntung, semua teman kantor yang memang telah mengenalnya karena ia pernah melamar sebagai staf keuangan di kantor tempatku bekerja tetapi tidak diterima itu mendukungku bahkan akan mengambil tindakan tegas padanya jika ia masih menyebarkan nomor kantor. Aku sedikit lega.
Aku bukan tengah mencari dukungan, tetapi orang-orang yang mengenal keseharianku tentu jauh lebih memahami siapa dan bagaimana aku daripada mendengar ceracauan nggak jelas fakta dan kebenarannya.
Aku memilih diam bukan karena aku mengalah, atau bahkan kalah. Justru dengan hasutan-hasutan bertubi-tubi itu kian memperjelas siapa aku dan siapa ESTI. Aku tak perlu berkoar-koar menjabarkan kejelekan seorang ADE KUPU-KUPU KECIL, malahan aku menyilahkan dengan hormat untuk ANDA-ANDA semua yang termakan omongan manisnya agar mengenalnya lebih dalam. Toh aku yakin dan percaya akan mempunyai penilaian tersendiri tentangnya. Jangan dikira aku akan marah karena hasutannya, aku justru kasihan. Kasihan pada anak-anaknya! Aku diam karena aku respek terhadap perempuan yang telah dua tahun mengisi hidupku itu. Meski kini aku sudah memilih untuk tak lagi meneruskan hubungan yang membuatnya membarakan isu aku masih berusaha menghubungi dan mengganggu hidupnya padahal fakta yang terjadi adalah kebalikannya. Aku sudah menutup semua akses informasi dengan memblokir fesbuknya agar ia tak merecoki teman-temanku dan aku sudah tak mau ada komunikasi lagi, meski ia terus menjelekkanku via sms kepada teman2 yang kukenal (meski cekokannya tak ada hasil). Aku bukan tengah menebar permusuhan, hanya ketika sebuah hubungan berakhir, setelahnya aku harap tak saling ganggu.Tapi rupanya ia memilih permusuhan.
Belum usai "teror" telepon, seorang perempuan lagi muncul bak malaikat penolong kesiangan. Alih-alih jadi pembela kebenaran, ia tiba-tiba menyambangi inbox fesbukku dan seolah telah tahu segalanya ia menuliskan unek-unek yang membuatku eneg. Enegnya, aku bahkan tak mengenalnya! KAWAI WIE, aku hanya pernah tau, ketika itu aku masih berhubungan dengan ADE KUPU-KUPU KECIL, dua perempuan itu dulunya adalah sepasang kekasih, entah sekarang. Dan jika kini si KAWAI WIE itu tiba-tiba sok teu (entah apa saja yang dicekokkan padanya) mewejangiku dengan nasehat yang seharusnya dicerminkan lebih dahulu pada dirinya sendiri sebagai orang yang hanya menjadi tempat sampah ADE KUPU-KUPU KECIL, yang bahkan ia sendiri tak bisa memilah mana sampah yang busuk dan mana yang tidak. Mempropaganda namaku dan -mati2an mencoba tetapi tak berhasil- meyakinkan semua orang bahwa ADE KUPU-KUPU KECIL adalah korban, what the hell you done? Hanya membuat orang-orang yang benar-benar mengenal aku dan siapa ADE KUPU-KUPU KECIL tertawa!
Ah, sudahlah! Berpanjang-panjang kata dengan dua perempuan yang dua-duanya juga seorang ibu, bagiku nggak penting. Kayak bicara ama tembok, bikin capek diri sendiri. Hubunganku dengan ADE KUPU-KUPU KECIL sudah berakhir, aku tak ingin mengganggu dan diganggu lagi karena kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku cuma ingin melanjutkan hidup.
Tentang hari IBU, kalian adalah IBU, cerminkan itu sebagai contoh dan panutan untuk anak-anak kalian, jadi jangan kayak orang nggak ada kerjaan aja kerjaannya kok merecoki hidup orang lain. Kalau mau bikin sensasi, malu ama umur and ama cindil2 (anak2 tikus) yang pernah kalian kandung. Bangkai yang ditutupi selimut emas sekalipun tetap saja disebut bangkai dan cepat atau lambat akan tercium kebusukannya.Stop ngerecoki orang karena perilaku kalian tak lebih dari orang-orang "sakit" tak punya kerjaan yang bisanya menyalahkan orang lain atas apa yang telah diperbuat oleh diri sendiri!
Tulisan ini adalah tulisan terakhir tentang kalian. Selebihnya aku akan diam. Bagiku, cerita ini sudah selesai. TAMAT.
Thursday, December 24, 2009
Wednesday, December 16, 2009
MUDAH JATUH CINTA
Aku mudah jatuh cinta? Benarkah? Aku mengajukan pertanyaan itu kepada diriku. Dan jawabnya... MUNGKIN. Karena tak kupungkiri ketika ada orang baru menggelitik hatiku, aku merasakannya. Tersenyum, tertawa, kalau boleh kubilang sih hepi-hepi nggak jelas gitu sih. Tapi mudah dag dig dug mudah pula ilfilnya jika ternyata sosok yang menggelitik itu hanya mampu memesona mata, bukan hatiku.
Akankah ia mengalami nasib seperti sosok-sosok sebelumnya? Entah kenapa aku semakin banyak pertimbangan. Selain masalah hati bukanlah prioritas buatku saat ini.
Namun perempuan ini bukanlah wajah baru. Aku mengenalnya telah hampir tiga tahunan. Ini kali kedua kami bersua. Wajah lama penampilan baru. Bagaimana tidak, tubuhnya lebih berisi daripada setahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku menemukannya duduk sendiri menantiku di terminal dengan getaran-getaran aneh menjalari segenap nadiku.
Ketika itu aku bukan apa-apa. Aku masih sibuk menata hidupku. Pun menata perasaanku atasnya. Perasaan yang kuduga juga tumbuh di dasar hatinya namun cepat-cepat ia patahkan karena keberadaanku saat itu tengah menjadi milik orang lain. Ia mungkin memandangku tak serius. Meski aku hanya mencoba menjabarkan bagaimana perasaan itu memang benar ada tapi tak untuk memiliki dan dimilikinya.
Kini kondisinya berbalik, aku tak punya siapa-siapa, sedang ia tengah bimbang oleh dua orang yang sedang beradu mendapatkan hatinya. Ia berkisah kegamangannya tentang kedua orang tsb. Nampak ia menguji apakah aku akan masuk dalam arena aduan untuk memperoleh tempat di hatinya, meski tak kupungkiri rasa itu belum sepenuhnya mati. Namun satu hal yang tak akan kulanggar sebagai prinsip yang selalu kujunjung tinggi: aku tak suka kompetensi, apalagi hanya untuk memperebutkan perempuan.
Perasaannya padaku memang hanya siratan. Ia sepertinya tak mau mempertontonkannya, bahkan mencoba membungkusnya rapat-rapat, meski aku bisa menangkap seraup wajah yang mencuri-curi pandang.
Jual-mahal. Aku menyebutnya demikian. Padahal jika merunut kembali ke belakang, beberapa bulan setelah kami saling mengenal tiga tahun lalu, ia terang-terangan ingin menjalani hari-hari denganku meski via telepon, namun kala itu aku menolak. Aku belum bertemu muka dengannya, maka aku tak ingin berspekulasi membina hubungan tanpa rupa.
Ia mungkin kecewa. Tapi kami tetap bersahabat. Hingga setahun lalu kami saling mengetahui sosok masing-masing dan membalikkan keadaan. Dan pertemuan kedua ini entah hendak kunamakan apa, bingung, sama nggak jelasnya dengan perasaanku.
Awalnya aku memang hendak menantang hatiku. Apakah rasa itu masih ada diantara jeda waktu hampir setahun dengan frekuensi komunikasi teramat jarang? Dan ia benar datang. Bergelut antara logika hati dan perasaan serta fakta, aku akhirnya mengurungkan niatku mencari jawab. Pergeseran yang kemudian kupilih untuk perempuan yang hampir tiga tahunan ini kukenal. Yah, perasaanku atau bahkan perasaannya kini tak lagi penting. Melihat ia mereguk senyuman dalam menjalani pergantian waktu adalah saat-saat aku membungkus rapat perasaan untuk kemudian kuremas dan kulempar jauh dari relung terdalamku.
Love still not my priority, I guess, for now.
Akankah ia mengalami nasib seperti sosok-sosok sebelumnya? Entah kenapa aku semakin banyak pertimbangan. Selain masalah hati bukanlah prioritas buatku saat ini.
Namun perempuan ini bukanlah wajah baru. Aku mengenalnya telah hampir tiga tahunan. Ini kali kedua kami bersua. Wajah lama penampilan baru. Bagaimana tidak, tubuhnya lebih berisi daripada setahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku menemukannya duduk sendiri menantiku di terminal dengan getaran-getaran aneh menjalari segenap nadiku.
Ketika itu aku bukan apa-apa. Aku masih sibuk menata hidupku. Pun menata perasaanku atasnya. Perasaan yang kuduga juga tumbuh di dasar hatinya namun cepat-cepat ia patahkan karena keberadaanku saat itu tengah menjadi milik orang lain. Ia mungkin memandangku tak serius. Meski aku hanya mencoba menjabarkan bagaimana perasaan itu memang benar ada tapi tak untuk memiliki dan dimilikinya.
Kini kondisinya berbalik, aku tak punya siapa-siapa, sedang ia tengah bimbang oleh dua orang yang sedang beradu mendapatkan hatinya. Ia berkisah kegamangannya tentang kedua orang tsb. Nampak ia menguji apakah aku akan masuk dalam arena aduan untuk memperoleh tempat di hatinya, meski tak kupungkiri rasa itu belum sepenuhnya mati. Namun satu hal yang tak akan kulanggar sebagai prinsip yang selalu kujunjung tinggi: aku tak suka kompetensi, apalagi hanya untuk memperebutkan perempuan.
Perasaannya padaku memang hanya siratan. Ia sepertinya tak mau mempertontonkannya, bahkan mencoba membungkusnya rapat-rapat, meski aku bisa menangkap seraup wajah yang mencuri-curi pandang.
Jual-mahal. Aku menyebutnya demikian. Padahal jika merunut kembali ke belakang, beberapa bulan setelah kami saling mengenal tiga tahun lalu, ia terang-terangan ingin menjalani hari-hari denganku meski via telepon, namun kala itu aku menolak. Aku belum bertemu muka dengannya, maka aku tak ingin berspekulasi membina hubungan tanpa rupa.
Ia mungkin kecewa. Tapi kami tetap bersahabat. Hingga setahun lalu kami saling mengetahui sosok masing-masing dan membalikkan keadaan. Dan pertemuan kedua ini entah hendak kunamakan apa, bingung, sama nggak jelasnya dengan perasaanku.
Awalnya aku memang hendak menantang hatiku. Apakah rasa itu masih ada diantara jeda waktu hampir setahun dengan frekuensi komunikasi teramat jarang? Dan ia benar datang. Bergelut antara logika hati dan perasaan serta fakta, aku akhirnya mengurungkan niatku mencari jawab. Pergeseran yang kemudian kupilih untuk perempuan yang hampir tiga tahunan ini kukenal. Yah, perasaanku atau bahkan perasaannya kini tak lagi penting. Melihat ia mereguk senyuman dalam menjalani pergantian waktu adalah saat-saat aku membungkus rapat perasaan untuk kemudian kuremas dan kulempar jauh dari relung terdalamku.
Love still not my priority, I guess, for now.
Thursday, December 10, 2009
MENGENAL ORANG BARU
"Ntar sore aku maen tempatmu ya?"
Aku tertegun membaca pesan singkat di ponselku kemarin. Dari seseorang yang baru beberapa hari kukenal, tepatnya dikenalkan seorang teman. Jemariku bergerak menuliskan balasan.
"Maaf. Jangan dulu deh kayaknya."
Tak berapa lama aku mendapat sms balasan. Mutung, istilah jawanya. Alias ngambek-ngambek gak jelas. Namun bagiku itu jalan tengah dari ketakutanku.
Mungkin terdengar lucu ketika aku menggolongkan bertemu orang-orang baru sebagai sebuah ketakutan. Beberapa tahun lalu, ketika aku merasa masih muda, adalah mudah untuk mengenal orang-orang baru dengan tangan terbuka. Patah tumbuh hilang berganti. Tetapi kini aku merasa umurku sudah terlampau tak muda untuk mengulangnya. Karena itu aku menamakannya sebuah ketakutan.
Logikanya, menemukan perempuan yang click tanpa mengenal, adakah mungkin? Nah, itu yang hendak kucari jawab.
Aku tertegun membaca pesan singkat di ponselku kemarin. Dari seseorang yang baru beberapa hari kukenal, tepatnya dikenalkan seorang teman. Jemariku bergerak menuliskan balasan.
"Maaf. Jangan dulu deh kayaknya."
Tak berapa lama aku mendapat sms balasan. Mutung, istilah jawanya. Alias ngambek-ngambek gak jelas. Namun bagiku itu jalan tengah dari ketakutanku.
Mungkin terdengar lucu ketika aku menggolongkan bertemu orang-orang baru sebagai sebuah ketakutan. Beberapa tahun lalu, ketika aku merasa masih muda, adalah mudah untuk mengenal orang-orang baru dengan tangan terbuka. Patah tumbuh hilang berganti. Tetapi kini aku merasa umurku sudah terlampau tak muda untuk mengulangnya. Karena itu aku menamakannya sebuah ketakutan.
Logikanya, menemukan perempuan yang click tanpa mengenal, adakah mungkin? Nah, itu yang hendak kucari jawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)