Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts
Wednesday, April 10, 2013
Defining Pain
Sore itu di ujung gazebo saya berdiskusi. Berbincang soal pekerjaan tepatnya, tetapi kemudian ketika malam obrolan itu terngiang di telingaku, aku tergelitik.
Mendefinisikan luka. Kata itu memang tercetus di ujung gazebo. Tetapi mungkin sebulanan ini saya benar-benar lari untuk tetap mengingkari bahwa perasaan campur aduk dan berkecamuk itu layak untuk disebut sebagai luka.
Aku mungkin lebih menamainya marah. Karena aku benar marah dan hanya marah-marah, tetapi ketika mencoba mengurai satu demi satu benang kemarahan itu, muaranya hanya satu, luka.
Maka oke, itu luka, lantas?
Aku berdamai, bukan hatiku yang terluka, itu hanya goresan tipis, tetapi ketika garis hidupku dilukai oleh orang yang bahkan tidak level dalam kategori apapun, oke harga diri saya yang terluka. Dan itu menciderai hampir sepenuhnya hormon kemarahan saya.
Lantas ketika memutuskan itu tak lagi soal kemarahan, tetapi bagaimana menghargai diri sendiri saya sepakat mengenyahkan luka itu menetap bahkan seujung kuku pun.
Friday, January 25, 2013
Saya [ternyata] Masih Cemburu
Sepertinya cemburu itu udah jadi bagian tubuh yang melekat padaku seolah mendarah daging. Terutama sejak mengenalmu. Ya, kamu, perempuan yang masih berseliweran dalam hari-hari saya, namun dengan relasi yang harus saya telan bulat-bulat bahwa hati saya yang masih berkutat padamu harus bereaksi wajar ketika kamu menunjukkan perilaku yang sedari dulu bikin saya cemburu; sibuk dengan teleponmu.
Kadar cemburunya memang tak seperti dulu, alias tak destruktif dengan menampakkan perubahan muka dan perilaku. Mungkin karena belum sembuh, namun meminimalisir cemburu yang sudah kulakukan terhitung lumayan berhasil.
Sore itu aku melihatmu bertelepon. Cemburu, pasti! Namun dalam batas wajar bahkan aku masih bisa menutupi dengan canda. Tetapi cemburu itu tetap berwujud, meski tak di depanmu. Malam selesai acara, aku melajukan motor, bukan ke arah kost, tetapi berputar tak tentu arah sembari masing-masing sisi hati mengutarakan unek-uneknya.
Si cemburu ini mengajakku untuk marah. Namun tentu saja disanggah sisi hati yang lain yang setengah mati bilang bahwa cemburu itu sudah bukan masanya. Kalau sekarang keputusanku adalah mencintainya, maka meski cinta itu tak terkatakan, memanage cemburu adalah bagian dari hal yang masih perlu banyak belajar dan belajar.
Tetapi cemburu itu baik, bagiku itu simbol bahwa kamu masih hidup di relung terdalamku.
Laju motor malam itu sama halnya dengan cemburu yang masih mengakar, tak tentu arah. Namun tetap akan tahu kemana harus kembali, ke sebuah tempat kecil bernama hati.
25012013, langit kamar Tamsis.
Sunday, January 13, 2013
Pikiran [saya] kok saru?
Saya berkali-kali menyeka dahi. Tak ada keringat sebenarnya disana. Pun yang saya lakukan saya tau betul tak ada efeknya pada apa yang sebenarnya ingin saya seka. Saya ingin menyeka otak saya. Jadi benar bukan tak mungkin dengan menyeka dahi sama dengan menyeka otak?
Otak saya saru. Itu lumrah, hanya ketika di saat-saat tertentu. Tapi ketika di hampir setiap pertemuan aku dan kamu hanya pikiran itu yang ada di otakku, maka bagiku itu sudah tidak lumrah.
Lantas bagaimana menghilangkannya? Kalau aku tau jawabannya, tentu aku tak menuliskannya. Tetapi mari menelisik dulu apa penyebabnya? Otak saru, jangan samakan dengan otak-otak bajingan yang hanya mikirin selangkangan pada tiap objek yang dilihatnya. Otak saya saru cuma ke kamu aja, tidak ke perempuan lain. Bahkan untuk perbandingan waktu itu saya sedang bersamamu yang berpakaian lengkap nyaris tak ada satu bagian tubuh pun yang kau pamerkan, dan satunya adalah teman saya yang pakai tanktop dengan beberapa bagian tubuh lumayan keliatan. Harusnya, yang bikin saru yang keliatan bagian tubuhnya kan? Lha saya malah kebalikannya, gak tertarik dengan isi tanktop malah mengamati perilakumu yang wajar-wajar aja tapi malah bikin otak saya saru.
Rindu kah? Mengulang saat dulu menyentuh inch demi inch tubuhmu? Aku menjawabnya, mungkin saja. Tetapi aneh juga saru untuk hal-hal tak saru yang dilihat mata namun saru ketika dilihat oleh hati. Definisi saru yang tak biasa, bukan? Saya aja kadang merasa aneh. Namun bagaimana lagi memang begitulah adanya. Yang penting pikiran saru saya tidak mengganggu orang dalam pikiran saya itu, bukan? Hmm, kamu tak akan tau, ya kecuali kalau kamu membaca tulisan ini dan paham bahwa orang dalam otak saya itu kamu.
Sampai kapan pikiran saya yang saru berakhir? Tak ada yang tau! Berawalnya aja kapan, ya berakhirnya juga akan kapan-kapan, bukan?
Friday, November 23, 2012
Mengapa Sex History Penting?
Aku terinspirasi film Kinsey yang kutonton beberapa waktu lalu. Tentu saja bukan karena kecairan seksualitas yang disajikan sebagai alur karakter si tokoh. Tetapi bagian tentang Sex History...
Sejarah seks juga bukan tentang berapa dan bagaimana gaya seks, ini tentang mencatat dari kecil apa yang kemudian akan mengkonstruksi di otak tentang bagaimana memandang, berperilaku baik positif dan negatif serta bagaimana itu berefek di perjalanan hati yang tertuang dalam aktivitas seksual dan pola relasi.
Mendeteksi sejak pertama kali ketika masa kecil hal-hal apa yang menstimulan otak, kebiasaan-kebiasaan "tersembunyi" karena masih malu takut ketahuan serta kekerasan ataupun pelecehan seksual yang dialami. Sebab-akibat, mungkin tak semua sebab akan menimbulkan akibat, tetapi merefleksi sex history buatku paling tidak menjadi satu metodeku lagi, kenapa dalam berelasi aku masih membentuk patronasi tertentu, tidak cair seperti adanya seksualitas itu sendiri.
Ya, mencatat sex history adalah metode belajar, merunut cerita apalagi terkait pengalaman seksual dari masa kecil hingga sekarang pasti menyenangkan. Jadi, bagaimana sex history-mu, catat!
Sejarah seks juga bukan tentang berapa dan bagaimana gaya seks, ini tentang mencatat dari kecil apa yang kemudian akan mengkonstruksi di otak tentang bagaimana memandang, berperilaku baik positif dan negatif serta bagaimana itu berefek di perjalanan hati yang tertuang dalam aktivitas seksual dan pola relasi.
Mendeteksi sejak pertama kali ketika masa kecil hal-hal apa yang menstimulan otak, kebiasaan-kebiasaan "tersembunyi" karena masih malu takut ketahuan serta kekerasan ataupun pelecehan seksual yang dialami. Sebab-akibat, mungkin tak semua sebab akan menimbulkan akibat, tetapi merefleksi sex history buatku paling tidak menjadi satu metodeku lagi, kenapa dalam berelasi aku masih membentuk patronasi tertentu, tidak cair seperti adanya seksualitas itu sendiri.
Ya, mencatat sex history adalah metode belajar, merunut cerita apalagi terkait pengalaman seksual dari masa kecil hingga sekarang pasti menyenangkan. Jadi, bagaimana sex history-mu, catat!
Thursday, November 22, 2012
Mengapa Makanya Tuhan Bikin Satu Mulut Dua Kuping!
Judul itu kupilih hasil perbincangan pada "double date" aku dengan 3 orang teman di Roemi sehabis baksos TransgenderDay di daerah sekitar Code.
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...
Wednesday, November 21, 2012
Mengapa lidah saya selalu kelu bila di depanmu?
Inilah satu habit saya yang paling terkenal jika bertemu denganmu. Lidah yang mendadak kelu. Dan gak tau juga alasan dan penyebabnya apa! Sistem syaraf di otak seolah mandeg bekerja. Dan bukan sekali dua kali, that's why I called it an habit.
Namun varian ekspresinya sebenarnya yang tak sama. Kadang ketika kelu, wajahku seperti terpasang kejam tanpa ekspresi padahal nih otak kayak lagi kerja keras namun faktanya kalau bisa dilihat ama kaca pembesar anda tak akan menemukan apapun kecuali sel-sel saraf bertubrukan.
Namun kadang lidah yang kaku ini menyajikan ekspresi sebaliknya. Kamu akan tau hanya dari sumringah bibir, meski jika dilihat dengan kaca pembesar sekali lagi pun u will found nothing except kerja otak berlawanan arah jarum jam, sibuk tapi salah putar.
Namun saya menikmatinya, dengan semua varian ekspresinya. Tidak sesederhana perasaan saya memang, tetapi otak memang akan selalu tak bekerja sewajarnya jika tengah menyanding apa yang dinamakan cinta. Is it love that make it? Just don't know, its only... Happened! No need to named like your tongue suddenly freeze without a cold ice inside it... Right?
Tuesday, November 20, 2012
Mengapa saya tidak pernah percaya pertemanan?
Kalau tempo hari saya menulis sisterhood penting, maka judul kali ini akan melemparku ke aku dengan pemikiranku yang dulu.
Aku mungkin sudah pernah berstatement bahwa aku tak percaya pertemanan, hingga saat ini pun mungkin kukategorikan demikian. Saya punya banyak teman, tak pernah bermasalah dengan hal tsb, namun tak pernah percaya pada seseorang sepenuhnya itulah intinya.
Sebenarnya tak ada kejadian signifikan yang menyebabkan trauma, hanya mungkin terbiasa dan kebiasaan sejak jaman baheula tak pernah membagi isi pikiran dan isi hati pada orang lain itulah yang mengkonstruksi otak untuk bersikukuh menjadi orang yang hanya percaya pada dirinya sendiri.
Kadang kupikir berimplikasi positif, namun juga negatif. Positifnya kau tidak merepotkan orang lain, namun negatifnya ketika otak terlalu penuh dan tak ada katarsis, its like more pain ever. Bukan karena tak punya teman berbagi, tetapi karena ketidakpercayaan untuk membagi.
Dan mendobrak konsep ketidakpercayaan diatas sulit, namun bukan berarti tak mungkin. Yang bisa perlahan diubah adalah mindset otak untuk berbagi dan membagi masalah dengan orang lain, tetapi untuk mempercayai, ya aku mungkin akan sekelebat percaya informasi atau cekokan apapun dari seseorang tanpa filter, namun sebenarnya filter inside itu yang meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terlebih ketika alarm warning not to believe him/her bunyi. Tak ada penawaran, meski seberapapun kegigihan anda untuk membuat saya percaya.
Dampak negatif lain menurutku adalah menaikkan energi negatif. Itu yang sebenarnya ingin kuperangi. Aku mungkin bersetuju kewaspadaan positif tapi bukan berarti juga bersepakat dengan energi negatif yang keluar karena konstruk tak jelas otak yang melahirkan skenario bernama kecurigaan yang validitasnya dipertanyakan. Aku kadang sadar itu namun lebih sering terjebak disana. Bahwasanya membuat skenario itu bagus untuk sebuah proyek tulisan, tetapi skenario yang dibuat otak kadang buruk terutama jika berdasarkan asas bernama ketidakpercayaan itu tadi.
Monday, November 19, 2012
Mengapa masih ada cemburu?
Katanya, cemburu itu tanda sayang. Tapi kalau cemburunya pada orang yang sudah tak berelasi dengan kita tapi kita masih sayang, apa itu wajar? Wajar mungkin bagi pihak yang masih sayang, tapi di pikiran pihak lain kan belum tentu. Kalau kau masih berelasi, mungkin kau akan menyampaikan rasa cemburumu tapi kalau sudah tidak dalam relasi, what to do to express your jealousy? Karena mengungkapkannya pada pihak yang bersangkutan tentulah konyol, itu melanggar koridor pihak lain, anda telah menyebrang koridor anda dan kemungkinan membuat orang tsb tak nyaman. Walhasil, kalau itu terjadi padaku, hmm seems like I ruin my self, not because my jealousy but a question why I have to keep this jealousy?
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.
Saturday, November 17, 2012
Mengapa saya harus BALEN?
Setelah menjabarkan siklus hati dan lebih condong akan menerapkan siklus balen, maka kemudian aku mulai mengkonsep bagaimana melakoni siklus tanpa referensi ini.
Dan terus terang, kata Balen itu sendiri sebenarnya masih tabu di otak saya. Ya, di tiap relasi hampir tak pernah tercetus untuk mengulang hati dengan orang yang sama. Berakhir ya berakhir, berelasi dengan sudut pandang yang lain. Tetapi balen kali ini menjadi salah satu hal yang termasuk dalam pendobrakan hati atas out of the box yang selama ini berada dalam kungkungan otak.
Ya, aku sedang dalam usaha panjang untuk mengenyahkan satu persatu konstruksi yang memadat di otakku entah sudah sejak sekian lama. Makanya, aku meyakini usaha ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun, yang menjadi inti adalah aku akan menikmati proses ini.
Balik soal definisi balen, yang artinya mengusahakan hati kepada orang yang sama yang pernah mengisi hati saya. Mengapa saya harus balen, mari kita kupas...
Dan kalau jawabannya karena saya masih cinta tentu saja menambah daftar klise panjang alasan tidak bonafit mengapa saya harus mempertahankan perasaan dengan ke-berbeda-an dalam segala hal yang kayaknya memang tak akan menemukan titik temu ini.
Bayangkan, apa yang ada di otakmu ketika kau ingin mengulang hari bersama perempuan yang bahkan di tiap hari-harimu tak pernah menemukan kecocokan, tak pernah saling berbicara atau membahas banyak hal dan yang paling utama tak tau apa isi otaknya bahkan ketika kau di hadapannya? Lalu apa yang sebenarnya kau cari?
Bayangkan pula, apa yang kemudian ada di otak anda ketika dalam keseharian anda dengannya jarang sekali, kalau boleh dibilang langka, menemukan kata sepakat bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun. Yang ada hanyalah anda dan dia akan terlibat adu argumen tidak penting atau dia bahkan anda sendiri akan menjadi pihak yang selalu bersebrangan.
Bayangkan lagi nih, nah kalau yang ini berkaitan dengan kerumitan di dalam diri anda sendiri... Bayangkan jika semua hal yang ingin anda balen-kan itu adalah salah satu usaha panjang anda yang lain untuk "menyembuhkan" pola patronasi yang sudah mengakar bertahun-tahun dalam sebuah pola relasi, artinya ketika sukses balen ada sebuah patronasi yang terburai, meski aku si pelakon utama tak seberapa optimis tembok cina akan runtuh layaknya tembok berlin.
Dan yang paling utama, bayangkan anda melalui jalan yang pernah anda lewati tapi anda merasa akan tersesat karena banyak rambu-rambu di jalan tersebut kini menyesatkan. Hmm, memulai relasi dengan orang baru mungkin akan lebih mudah karena kita bisa "mempermanis" diri di depan, namun membangun pola dengan orang yang pernah menjalani hari-hari singkat denganmu dan hafal perilaku serta karaktermu bukanlah hal mudah, ditambah dengan ketidakbersediaannya menjadi "perempuan manis" selayak dia berperangai pada orang lain.
Lantas anda hendak sebut ini apa? Tantangan??? Saya tidak tertantang sama sekali, karena jujur model orang kalah sebelum berperang seperti saya bukan tak menyukai tantangan, tetapi tak tau harus memulai melakukan apa.
"Aku akan terus memperjuangkan hatiku!" Aku pernah berucap begitu padamu, meski kau berkilah kau tak berharga untuk tetap dipertahankan.
Aku tak akan menelisik dari sudut pikiranmu yang tentu saja aku tak tau, meski balen itu harus diinisiasi dua orang, bukan salah seorang diantaranya saja yang mengusahakan. Akh, aku sedang tidak ingin berdebat dengan otak tentang menghitung dan berhitung soal rasa.
Otak bolehlah menyebut ini semua sebagai ketololan permanen, tetapi entah otak akan memberi sebutan apa ketika berada di dekatmu ada semacam boosting energi yang aku juga tak tau berasal darimana tiba-tiba menyesap membuat segala yang ada dalam diri menjadi positif berkali lipat.
Otak akan berkilah semunafik apalagi ketika otak sanggup bekerja lebih lancar mengerjakan hal-hal yang malas untuk disentuh pada hari-hari biasa. Laporan, rundown, semua selesai dalam beberapa jam ketika didekatmu.
Energi, aku menamai satu-satunya hal yang bisa menyatukan kita ini. Kau dengan begitu mudah tau aku marah, senang, romance, ramah dan perasaanku ketika di dekatmu tanpa perlu aku mengekspresikannya detil. Bahkan orang lain tak sadar perasaan-perasaan itu, tapi kau tak perlu menunggu aku berucap sesuatu, kau paham.
Ada semacam kontak batin yang entah kau percaya atau tidak, terbangun tanpa perlu terkatakan. Meski kemudian perilaku yang tampak kadang malah kebalikannya, atas nama ego yang sedang mati-matian kuluruh, aku berharap kemengertian batin inilah yang tetap akan bertahan diantara ego, saling tunggu dan takdir yang sepertinya sedang senang bermain-main.
Jadi, balen bukan tentang mengulang cerita lama, tetapi membuka lembar baru dengan rasa yang seperti dulu ada dan terjaga.
Dan terus terang, kata Balen itu sendiri sebenarnya masih tabu di otak saya. Ya, di tiap relasi hampir tak pernah tercetus untuk mengulang hati dengan orang yang sama. Berakhir ya berakhir, berelasi dengan sudut pandang yang lain. Tetapi balen kali ini menjadi salah satu hal yang termasuk dalam pendobrakan hati atas out of the box yang selama ini berada dalam kungkungan otak.
Ya, aku sedang dalam usaha panjang untuk mengenyahkan satu persatu konstruksi yang memadat di otakku entah sudah sejak sekian lama. Makanya, aku meyakini usaha ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun, yang menjadi inti adalah aku akan menikmati proses ini.
Balik soal definisi balen, yang artinya mengusahakan hati kepada orang yang sama yang pernah mengisi hati saya. Mengapa saya harus balen, mari kita kupas...
Dan kalau jawabannya karena saya masih cinta tentu saja menambah daftar klise panjang alasan tidak bonafit mengapa saya harus mempertahankan perasaan dengan ke-berbeda-an dalam segala hal yang kayaknya memang tak akan menemukan titik temu ini.
Bayangkan, apa yang ada di otakmu ketika kau ingin mengulang hari bersama perempuan yang bahkan di tiap hari-harimu tak pernah menemukan kecocokan, tak pernah saling berbicara atau membahas banyak hal dan yang paling utama tak tau apa isi otaknya bahkan ketika kau di hadapannya? Lalu apa yang sebenarnya kau cari?
Bayangkan pula, apa yang kemudian ada di otak anda ketika dalam keseharian anda dengannya jarang sekali, kalau boleh dibilang langka, menemukan kata sepakat bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun. Yang ada hanyalah anda dan dia akan terlibat adu argumen tidak penting atau dia bahkan anda sendiri akan menjadi pihak yang selalu bersebrangan.
Bayangkan lagi nih, nah kalau yang ini berkaitan dengan kerumitan di dalam diri anda sendiri... Bayangkan jika semua hal yang ingin anda balen-kan itu adalah salah satu usaha panjang anda yang lain untuk "menyembuhkan" pola patronasi yang sudah mengakar bertahun-tahun dalam sebuah pola relasi, artinya ketika sukses balen ada sebuah patronasi yang terburai, meski aku si pelakon utama tak seberapa optimis tembok cina akan runtuh layaknya tembok berlin.
Dan yang paling utama, bayangkan anda melalui jalan yang pernah anda lewati tapi anda merasa akan tersesat karena banyak rambu-rambu di jalan tersebut kini menyesatkan. Hmm, memulai relasi dengan orang baru mungkin akan lebih mudah karena kita bisa "mempermanis" diri di depan, namun membangun pola dengan orang yang pernah menjalani hari-hari singkat denganmu dan hafal perilaku serta karaktermu bukanlah hal mudah, ditambah dengan ketidakbersediaannya menjadi "perempuan manis" selayak dia berperangai pada orang lain.
Lantas anda hendak sebut ini apa? Tantangan??? Saya tidak tertantang sama sekali, karena jujur model orang kalah sebelum berperang seperti saya bukan tak menyukai tantangan, tetapi tak tau harus memulai melakukan apa.
"Aku akan terus memperjuangkan hatiku!" Aku pernah berucap begitu padamu, meski kau berkilah kau tak berharga untuk tetap dipertahankan.
Aku tak akan menelisik dari sudut pikiranmu yang tentu saja aku tak tau, meski balen itu harus diinisiasi dua orang, bukan salah seorang diantaranya saja yang mengusahakan. Akh, aku sedang tidak ingin berdebat dengan otak tentang menghitung dan berhitung soal rasa.
Otak bolehlah menyebut ini semua sebagai ketololan permanen, tetapi entah otak akan memberi sebutan apa ketika berada di dekatmu ada semacam boosting energi yang aku juga tak tau berasal darimana tiba-tiba menyesap membuat segala yang ada dalam diri menjadi positif berkali lipat.
Otak akan berkilah semunafik apalagi ketika otak sanggup bekerja lebih lancar mengerjakan hal-hal yang malas untuk disentuh pada hari-hari biasa. Laporan, rundown, semua selesai dalam beberapa jam ketika didekatmu.
Energi, aku menamai satu-satunya hal yang bisa menyatukan kita ini. Kau dengan begitu mudah tau aku marah, senang, romance, ramah dan perasaanku ketika di dekatmu tanpa perlu aku mengekspresikannya detil. Bahkan orang lain tak sadar perasaan-perasaan itu, tapi kau tak perlu menunggu aku berucap sesuatu, kau paham.
Ada semacam kontak batin yang entah kau percaya atau tidak, terbangun tanpa perlu terkatakan. Meski kemudian perilaku yang tampak kadang malah kebalikannya, atas nama ego yang sedang mati-matian kuluruh, aku berharap kemengertian batin inilah yang tetap akan bertahan diantara ego, saling tunggu dan takdir yang sepertinya sedang senang bermain-main.
Jadi, balen bukan tentang mengulang cerita lama, tetapi membuka lembar baru dengan rasa yang seperti dulu ada dan terjaga.
Friday, November 16, 2012
Mengapa saya kemudian menganggap sisterhood itu penting?
Sejak dulu aku tak pernah percaya seratus persen pada pertemanan. Bukan berarti tak berteman. Aku senang punya teman-teman, namun membagi ceritaku pada mereka, itu yang tak mau kulakukan. Berangkat dari ketidakpercayaan itulah yang membuatku menyimpan sendiri dan mencari solusi atas apapun dalam hidupku dengan mengkomunikasikannya hanya kepada diri sendiri. Namun kejadian beberapa waktu lalu sedikit mengubah cara berpikirku...
Dimulai dengan sebuah pesan di fesbuk dari seorang teman yang berkeluhkesah tentang operasi yang hendak dilewatinya. Ia meminta bantuan beberapa teman terdekat, membagi cerita dan pada akhirnya teman-teman yang ia curhati bergiliran menjaga di rumah sakit.
Hari keduanya, aku diajak seorang teman kantor menjenguk partnernya yang juga sakit tetapi di rumah sakit berbeda. Sama dengan temanku yang operasi tadi, laki-laki ini berada di ruangan seorang diri. Bedanya, laki-laki ini memang sengaja tak mau ditemani kecuali partnernya.
Kedua hal menyangkut sakit dan rumah sakit ini kemudian membuatku tertampar untuk berpikir keras. Bagaimana dengan hari tuaku nanti? Sudah berkepala tiga, tak lagi bisa dibilang muda, namun bukan berarti mematahkan semangat mudaku, hanya harus waspada diri bahwa aku harus menyiapkan hal-hal menyangkut kesehatan.
Pertama adalah menjaga kesehatan, tentu saja. Berkaca pada pola hidup yang mau tak mau diakui sama sekali tak teratur, kadang frustrated ketika memikirkannya tanpa melakukan sesuatu untuk merubahnya. Yeah, menasehati orang lain selalu jauh lebih mudah daripada kepada diri sendiri. Makanan tak sehat, pengawet dan tak ada nilai gizi, penyebab kolesterol dan segala macam deretan penyakit lain yang mungkin kuhafal diluar kepala tapi tak berusaha untuk tak memakannya. Hmm, mengoceh pada diri sendiri pada bagian ini...
Kedua adalah life insurance, yup... Dengan "pilihan" orientasi seksualmu ini, maka bertanggungjawablah pada dirimu sendiri ketika tua nanti. Kesehatan harusnya dapat di akses oleh siapapun, tapi di negri dongeng korupsi ini tak akan ada yang bisa kau andalkan selain kau dan usahamu sendiri. Mulai mengeluhkan negri antah barantah yang bahkan sampai anak cucu menua nanti tetap tak akan pernah membaik... Bukan nyumpahin, bahkan jika Jokowi diproduksi berlipat aku yakin keruwetan negri ini tak menyurut. Jadi berharap akses kesehatan diberikan oleh negara sepenuhnya, ya aku harap tidak menjadi mimpi satu lagi diantara sekian trilyun mimpi yang menanti untuk direalisasi...
Ketiga adalah, dan ini jalan paling mentok yang kemudian bisa dijadikan solusi, yaitu punya partner hingga menua nanti. Keliatan so swit bukan, tapi akan menjadi so shit ketika bahkan punya partner tetapi tak perduli ketika kita sakit. Makanya, aku menempatkannya di pilihan terakhir. Anak dan pasangan adalah ide terakhir ketika kita sudah mengupayakan dua hal diatas. Kebergantungan itulah yang semoga tak menghinggapiku kelak.
Namun ada satu solusi lagi yang ditawarkan oleh teman ketika di rumah sakit itu... Sisterhood atau persaudarian, aku menamakannya sisterhood bukan berarti ikatan persahabatan sesama perempuan saja, tetapi semua bentuk ikatan yang tak memandang jenis kelamin dengan segala daftar pembedaan dan klasifikasinya.
Hmm, sebentar dulu, sejak kapan aku percaya pertemanan dalam segala bentuknya? Akan kuceritakan lebih detil pada judul lainnya. Namun ketika melihat sendirian berada di rumah orang-orang yang sedang ingin sembuh ini dan kemudian satu persatu teman bergantian menjaga, maka oke lah, sisterhood masuk dalam satu solusi tambahan.
Alasannya tentu saja bukan karena faktor kebutuhan, tetapi kebersamaan dan ruang untuk saling berbagi satu sama lain. Paling tidak akan ada teman-teman untuk saling menguatkan.
Sisterhood... Don't make it as the first aid for your health problems, but cultivate it as a system that will cured you psychologycally when u got problems...
Maka mulai sekarang saya sedang belajar ide-ide persaudarian ini ke dalam agenda konsolidasi otak saya dengan segala mindset-nya.
Thanks for making me learn and reflected...
Monday, November 12, 2012
Mengapa siklus hati hanya begitu2 saja?
Siklus hati... Tentu saja semua pernah mengalami, entah disadari atau tidak, pasti prosesnya akan sama pada tiap-tiap yang pernah merasakan.
Kalau saya menjabarkan siklus hati itu begini... Awalnya, tentu saja single, kalau tak mau dibilang jomblo, lalu tertarik pada seseorang, atau menarik bagi seseorang, lalu terjadilah tarik menarik itu... Kerennya sih pedekate... Kalau itu tak terjadi, pasti ada salah seorang yang tak tertarik... Hmm, tapi kali ini aku sedang ingin membahas dua orang yang tarik menarik. Dan kemudian cupid bersiap meluncurkan busur panahnya, dan dua orang ini kemudian di mabuk asmara... Lalu terjadilah relasi... Entah apapun namanya, no sign contract, selingkuh, pacaran, backstreet dan poro sedulurnya, yang intinya berelasi... Lalu mau lama atau sebentar, relasi berubah terputus...orang akan kembali pada posisi semula, single -kalau tak mau dibilang jomblo- dan menanti siklus diatas terulang dan berulang.
Membosankan! Itu yang terbersit di kepala saya tentang siklus tersebut. Saya pernah bilang mungkin tentang betapa memuakkannya pedekate dengan segala kepalsuannya tetapi tetap harus melewati fase itu demi sebuah sebutan penjajagan.
Siklus hati yang memang begitu-begitu saja itu juga semacam jadi patokan tak tertulis alias patron yang entah disadari atau tidak akan sama atau setidaknya serupa lah pada tiap-tiap orang.
Dan ide jail di kepala saya kemudian menginginkan siklus hati yang berbeda dari patron kebanyakan tetapi saya tau dan sadar siklus ini sebenarnya juga dialami banyak orang tentu saja dengan patron dan langkah-langkah berbeda. Siklus itu saya namakan siklus BALEN. Kerennya disebut CLBK, yang bagi saya dipanjangkan menjadi Cinta Lama Belum Kelar...
Saya merasa formula untuk siklus ini berbeda pada tiap orang, ada kemiripan tapi tak akan sama. Oleh karenanya, saya pun agak bingung bagaimana menjalankan siklus ini ketika tidak ada patronasi yang mungkin bisa kujadikan referensi.
Tapi, yang paling penting, saya lumayan niat lho dengan siklus ini meski saya tipe kurang kreatif untuk inovasi langkah strategis apa yang harus dilakukan. Jadi, mari memulai dengan menulis konsep siklus BALEN ini ya sodara-sodara...
Bersambung di tulisan selanjutnya!
Tuesday, November 6, 2012
Mengapa sehari HANYA 24 jam?
Pertanyaan yang diajukan oleh orang yang mendadak sibuk seperti saya. Bukan sok sibuk, tapi ketika satu demi satu deadline dan penumpukan aktivitas serta kesenangan harus dilakukan bersamaan, maka pertanyaan diatas akan kumunculkan sebagai bentuk pemberontakan atas siklus alam yang bernama rotasi bumi.
Belum selesai mengerjakan sesuatu sementara mata sudah terkantuk-kantuk, kemudian beberapa pekerjaan lain menanti untuk dirampungkan, pun hati juga tak mau menunggu untuk segera ditindak lanjuti, lalu bagaimana cara saya untuk memolorkan selang waktu yang tidak terbuat dari karet ini?
Okay, saya tau ini konsekuensi, saya meyakini itu. Saya tidak mengeluh soal pekerjaan yang menumpuk itu karena saya memang berniat dan sungguh2 menyelesaikannya, saya hanya komplain soal jatah hari yang hanya memberi kuota 24 jam per harinya. Andai bisa 48 jam mungkin tak akan komplain.
Hmm, mulai absurd, abaikan jika komplain ini mulai tak masuk akal. Saya juga tak menyalahkan waktu kenapa begitu cepat berlompatan dalam hidupku, seperti orang sedang jatuh cinta saja ya, jatuh cinta pada pekerjaan! Hmm, yang ini lebih masuk akal. Jadi, 24 jam tetap tak cukup tapi menyelesaikan yang belum terselesaikan adalah kewajiban. Termasuk 30 judul Uncut dan Untold yang sudah tertata urutan dan outlinenya, hanya perlu WAKTU untuk mengeksekusinya. Berdoalah, semoga waktu bersahabat denganku untuk berdetak lebih pelan dari kebiasaannya berpacu dengan hidupku menjalankan siklus alam.
Mari menulis... Mari mengeja waktu!
Thursday, November 1, 2012
Mengapa kloset inspiratif?
Gemericik air di kamar mandi adalah bunyi yang mengandung sumber inspirasi terbesar buatku. Mendengar luber air yang membasahi celah jari hingga dinginnya menusuk menembus pori-pori kulit kian menerbangkan ujung-ujung syaraf di otakku untuk memainkan kata-kata yang didansakan ibu jari dengan begitu lincah.
Kadang tak sadar hampir setengah jam duduk dengan posisi yang sama. Baru saat semut-semut tak nampak bernama kesemutan merambah telapak kaki hingga kaku untuk digerakkan barulah tersadar harus berganti posisi atau menyudahi kekakuan ujung-ujung kaki dengan menyiramkan air dingin, menunggu sebentar agar kaki kembali lemas dan benar-benar menyudahi aktivitas gemericik air nan inspiratif ini.
Membandingkan ketika aku menyalakan laptop, lalu duduk di depannya dengan halaman putih kosong terbentang, aku yakin setengah jam berikutnya paling maksimal aku cuma akan dapat satu paragraf, itu pun kalau ada inspirasi. Tetapi dengan membuka notepad hape, baik menulis judul baru maupun nerusin judul lama, sepersekian menit berikutnya kata demi kata lancar mengalir, mau sambil leyehan habis bangun tidur atau di kloset.
Makanya kalau disuruh mengarang dadakan, aku bukannya akan membuka laptop dan menulis, tetapi membuka notepad hape dan menarikan jempol. Menulis manual dengan tangan dulu kulakukan sebelum menggunakan hape, tetapi keseringan otakku lebih cepat daripada tanganku sehingga ide atau pokok pikiran yang hendak kutulis kadang terlewat tak semuanya tertuang.
Pada intinya, mari menulis! Memakai hape jelas akan mudah dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Hanya perlu menyempatkan waktu. Ya, waktu itu yang mahal di hari-hari hidupku saat ini!
Thursday, August 2, 2012
Flirting is My Stereotyping
Bukan bangga dengan judul diatas, justru jengah. Pasalnya distereotypekan sebagai tukang mbribik itu konotasinya jelas negatif. Jadi kadang cuma mau ingin berteman pun pasti dikira mbribik. Nah ini yang terjadi dalam kegiatan kali ini...
Perempuan ini memang tergolong cantik. Siwer kalo bilang ia buruk rupa. Aku memang meliriknya ketika ia baru datang, itu saja! Namun saat gilirannya memperkenalkan diri, gak tau kenapa kok teman2 malah menatapiku dengan pandangan awas jangan dibribik! Aku justru membalas dengan kerlingan yang membuat teman di hadapanku seolah berkata, dasar! Dan stereotype ahli flirt itu yang kemudian melekat.
Padahal toh biasa bukan melihat orang cantik kemudian berteman. Bukan tipe orang gila juga yang langsung suka membabi buta. Tapi mengenal dan mengetahui latar belakang orang yang baru saja dikenal kukira cukup wajar. Walhasil saya memang kemudian tak berani bahkan dikategorikan menghindar biar gak dikira mbribik.
Stereotype ini yang lumayan meresahkan. Pembawaan yang memang doyan godain orang, apakah salah berteman dengan banyak orang? Kadang predikat ini merembet ke arah cap player. Bukankah tidak benar mendefinisikan player kepada orang yang belum berpartner?
Sebenarnya tak terlalu penting bagaimana tanggapan orang, karena memang orang hanya bisa berasumsi tanpa pernah tau what u feel inside... Oleh karenanya, mengabsurdkan adalah pilihanku kemudian...
Wednesday, August 1, 2012
Renungan Kloset
Mayoritas apa yang kutulis dalam blog ini adalah hasil karya jempol kananku ketika di kamar mandi atau terjaga di pagi hari ketika libur.
Sebagian orang mungkin akan mengamini bahwa kloset itu seperti punya hipnotis untuk mencetuskan ide maupun merangkai kalimat, maka membawa hape ke kamar mandi bagiku lumayan menjadi keharusan saat membiarkan sistem ekskresi bekerja.
Puasa pun tak jauh berbeda. Maklum, ketika hawa dingin menyesap saat sahur, rutinitas kontraksi perut akan datang seperti menagih untuk dikeluarkan. Dan jempol akan bersuka ria mengurut dan merunutkan barisan memori di otak, terlebih untuk menggaungkan otak yang kembali menang mutlak. Tak ada quick count, pun tak ada penghitungan suara, namun bukan karena otoriter pula ketika aku mengamini otak menyatakan kemenangannya.
Ada yang berbeda meski ini kemenangan kedua otak. Hati tak akan terbiarkan menanggung kekalahan layaknya awal tahun. Porsi itu sudah tak terpakai. Kalah pun, hati tetap tak terbeli, meski otak tentu saja masih tetap dengan kepongahannya.
Ibarat renungan kloset yang selalu terakhiri gulungan air menyapu segala sesuatu yang memang layak tuk disingkirkan namun bukan dimusnahkan. Ia hanya harus keluar demi kesinkronan kerja tubuh yang lebih baik. Maka begitu juga dengan kemenangan otak, ia mutlak menang namun menjadi pemimpin tertinggi atas tubuh bukan semata ia otoriter pada hati, justru pe er besar otak kini adalah menyamakan persepsi, bahwa hati sampai kapanpun tak kan pernah membenci. Unsur berbau negatif itu mutlak hasil seringaian kurcaci-kurcaci kerdil yang memang tumbuh di kepala.
Genangan air sudah mulai bening. Itu tandanya aku harus beranjak. Pun begitu juga logika...
Wednesday, August 17, 2011
MULAI MENGUSIK HATI
Belum genap sebulan memang, tapi kau cukup mengobrak abrik tatanan otak, terlebih hati. Jeda usia lumayan jauh awalnya jujur saja aku sudah underestimate bahwa bentuk pertemanan ini hanya akan berlangsung sebagai sebuah basa basi saja. Basa basi orang muda kepada orang yang lebih tua. Dan aku salah total!
Komunikasi jejaring sosial dengan perempuan itu menggelitikku. Tukang ngeyel, itu aset utama yang menarik perhatianku. Kalo asal ngeyel sih tak akan kugubris, argumennya memicu kerja otak yang kadang memburatkan secarik senyuman.
Hingga hari ke berapa aku belum juga tau namanya. Nomor ponselnya bertitelkan nama jejaring sosial yang -katanya- kini dimusnahkannya. Obrolan panjang lebar pun mengalir. Ia kian memikat. Tau sendiri, aku paling suka perempuan berotak. Memetakan isi pikirannya, menguras isi pikiran dan keterampilan argumentasiku. Namun tetap saja, relasi apapun tetap punya pasang surut. Bahkan aku gak nyangka hubungan ini masih hingga kini, pasalnya beberapa hari setelah saling kenal, kami beradu hebat. Kupikir aku tak akan mengenalnya lagi. Sampai2 aku mengutas doa yang kulafalkan di fesbuk, kalau memang untukku dekatkan, kalau bukan, tunjukkan. Esoknya, aku sumringah ketika pesan pendeknya mampir lagi di ponselku.
Siklus perkenalan yang bertahap; jejaring sosial, chat messenger, pesan pendek, obrolan by phone, dan penyebutan nama. Aku belum tau wajahnya! Meski begitu aku sudah cukup tau karakternya, meski ada juga beberapa ganjalan di otak. Dan bagian mengetahui bentuk fisiknya adalah satu lagi proses yang mengejutkan.
Setelah proses ulet dan penemuan beberapa fakta, ia kemudian membuka kedok wajahnya. Aku memang sengaja pura2 bego diantara sekian gambar tsb ia yang mana, meski aku sejak awal menduga ia yang berpakaian dan berparas cerah itu. Lalu apakah aku senang? Tidak! Aku bahkan berujar pada tetangga sebelah kost, diantara gemuruh hati yang mulai bersemi sepertinya aku harus memusnahkan rasa itu. Ia terlalu cantik untuk kudekati! Jadi jangan dikira wajah makin rupawan, aku kian senang, tidak, aku mundur saja kawan! Begitu ujarku yang dikecam tetangga sebelah.
Hari-hari hatiku terisi olehnya. Dering sahur. Pesan pendek penghilang kantuk pencipta kantung di bawah mata. Ejekan yang terus bersambung. Membagi benak untuk satu dan beberapa hal. Hmm, aku tak usah membunuh waktu sepanjang puasa, bahkan dua jam beradu eyel-eyelan dengannya seperti baru 10 menit saja, walhasil setelahnya kerongkongan macam habis karaokean berjam-jam.
Namun relasi apapun sepertinya tak akan mulus saja. Aku mengakui, fikiran negatifku tentangnya belum bisa hilang. Ada pertanyaan2 yang dilontarkan otak meski hati sudah setengah mati memangkas prasangka. Otak, kau mungkin benar tak ingin aku sakit lagi, ujar hati, tapi kalau kau terus mencari celah salahnya, aku tak akan menemukan belahanku untuk berbagi. Ya, hatiku kerap wanti2 untuk mengajari otak setulus seperti tawa dan senyuman yang dilakoni hati.
Ia telah tau hatiku, ya kemajuan yang menurut beberapa kawan patut diacungi jempol. Ia tak mengiyakan pun tak menolak. Aku bersepakat bahwa ya akan terlalu cepat untuk memutuskan ya atau tidak. Membiarkan semuanya mengalir the way it path! Menyilahkan sang waktu menyuguhkan diskusi panjang, adu pikiran dan pemahaman karakter masing2 sepanjang memberi manfaat positif bagi keduanya ke depan, aku tak akan mereka-reka apapun bentuk relasinya.
Tuesday, April 26, 2011
MATA
Bagiku, mata adalah organ yang paling vital ketika mengenal seseorang. Mata dapat berbicara lebih jujur daripada kata-kata semanis apapun. Pergerakan mata tak bisa berbohong. Alur fluktuatifnya pun bisa menampakkan apakah orang yang berbicara denganku sedang berbohong, berkata-kata tulus atau bahkan tak bisa ditebak.
Bersilat lidah mungkin mudah, namun bersilat mata, kurasa butuh keahlian khusus. Ya, jika kau pandai bersilat mata artinya kau sangat terampil dan mahir diatas silat lidah.
Aku menyukai orang dari kelebat mata. Eye contact. Kesan pertama dimulai selalu lewat mata yang berbicara. Menilik ulang yang terdahulu pun tak lepas dari bagaimana pola mata dalam bertutur. Jadi benar jika ada istilah cinta datang dari mata turun ke hati...
Tak perduli apakah bentuk mata sipit, belo atau pun biasa saja, namun makna pergerakan mata menegaskan bagaimana karakter si pemilik.
Bersilat lidah mungkin mudah, namun bersilat mata, kurasa butuh keahlian khusus. Ya, jika kau pandai bersilat mata artinya kau sangat terampil dan mahir diatas silat lidah.
Aku menyukai orang dari kelebat mata. Eye contact. Kesan pertama dimulai selalu lewat mata yang berbicara. Menilik ulang yang terdahulu pun tak lepas dari bagaimana pola mata dalam bertutur. Jadi benar jika ada istilah cinta datang dari mata turun ke hati...
Tak perduli apakah bentuk mata sipit, belo atau pun biasa saja, namun makna pergerakan mata menegaskan bagaimana karakter si pemilik.
Saturday, April 23, 2011
Nama, Rambut dan Wajah yang Berjenis Kelamin
Nama
Ini yang barusan saja aku alami, dan bukan pertama kali, sudah kesekian jadi aku tak terkejut.
Namaku Alvi. Kasus yang baru aku alami adalah aku mengirim sms pada seorang mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pada balasan smsnya, perempuan yang memang belum pernah sekalipun bertemu muka denganku itu langsung memanggil dengan sebutan "Mas". Aku yang sudah terbiasa, tak begitu mempermasalahkan, bahkan tidak melakukan pembenaran dengan berkata saya perempuan atau saya "Mbak". Sama dengannya nanti aku juga akan mengklasifikasi.
Sms kedua yang kian mengukuhkan panggilan "Mas" itu hanya membuatku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika berhadapan muka dengan "Mas" Alvi...
Rambut
Potongan rambut pendek identik dengan laki-laki dan dipanggil Mas. Kalau ini juga sudah tak terhitung berapa kali menimpaku. Di warung bakso, di Pom Bensin, di Mall, tempat parkir, nyaris semua tempat mempunyai orang-orang dengan pola konstruksi otak yang sama: rambut pendek di panggil Mas!
Teman yang bersamaku selalu tertawa tiap kali jalan denganku dan ada yang manggil Mas. Pernah ada kejadian lucu, waktu itu di Sunday Morning UGM, aku dan dua teman berjilbab sedang makan pagi usai berkeliling cuci mata. Datanglah segerombolan pengamen waria bernyanyi, aku lalu mengulurkan secarik rupiah. Sambil berlalu kami mendengar salah satu dari mereka menggumam sinis: "Itu laki apa perempuan seh?!!"
Aku hanya dengar, tak menanggapi, cuma si temanku balas bergumam sedikit emosi: "Lha elo apa, laki apa perempuan? Kok nanya orang lain, wong dirinya sendiri juga nggak jelas!"
Aku kembali tersenyum dan tak komentar. Karena di belakang tadi rombongan itu sudah melirik sinis sembari mencibir: Ihh Lesbo!
Dalam hati hanya batin: Orang-orang yang belum selesai dengan pemahaman gender bahkan untuk berkaca pada dirinya sendiri. (Hello LGBTIQ, we are one!! Kalau ini sebuah pertanyaan dengan nada biasa aja mungkin tak ada yang mempersalahkan, tapi ia berkata dengan nada sinis seolah merendahkan. Mempreseden buruk orang lain padahal berada pada kondisi dan memperjuangkan hal yang sama).
Balik soal potongan rambut yang berjenis kelamin, yang bikin lucu adalah ekspresi mereka ketika aku kemudian mengeluarkan suara. Ada yang buru-buru meralat dengan manggil Mbak, ada yang cuek habis tadi manggil Mas trus manggil Mbak, ada yang ketawa menertawakan kekonyolan memanggilku Mas setelah tau suaraku Mbak. Lucu melihat kesibukan mereka heboh sendiri soal Mbak atau Mas!
Bahkan pernah gara-gara potongan rambut pendek ini aku diusir dari gerbong perempuan di Prameks. Konstruksi otak yang entah kapan akan bisa dirubah karena sepertinya sudah kadung massal dan turun temurun!
Wajah
Ini lain lagi ceritanya... Waktu itu aku hendak beli koran. Tanpa mencopot helm, aku memasuki kios. Usai memilih-milih koran yang hendak kubeli, aku menyodorkannya ke depan si penjual untuk dihitung. Sembari menghitung ia tak berhenti menatapku dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Aku mengernyitkan alis dan bertanya: "Ada apa Mas?"
"Mbaknya ini Mas atau Mbak sih?"
Pertanyaan yang konyol, bukan? Sudah manggil Mbak tapi masih mempertanyakan Mas atau Mbak.
Aku hanya melengos dan mencopot helm. "Kalau gini?"
"Ya kayaknya sih Mbak?"
Hahaha aku sedang tak ingin meneruskan perdebatan Mas Mbak dengannya, juga menjawab atau meyakinkan Mas atau Mbak. Hanya merasa aneh, jual koran untuk dibeli korannya, bukan malah mempersoalkan pembelinya Mas atau Mbak, bukan?
Kadang ada yang bilang padaku: "Halah, wong kamu seneng aja dipanggil Mas!" dan ada yang malah kuatir: "Kamu nyaman nggak dipanggil Mas? Aku harus panggil apa?"
Hmm, bagiku bukan masalah senang tak senang, nyaman tak nyaman, karena Mas atau Mbak hanya bentukan masyarakat yang massal itu, kalau ikutan melabeli sama aja dengan mereka. Hanya tak suka saja jika nama, potongan rambut dan wajah dijenis kelamin kan. Apa-apa kok ujung2nya berkelamin!
Menghilangkan stereotipe memang tak akan mudah, hanya saja jangan melakukan pelabelan untuk merendahkan atau untuk sesuatu yang nggak penting buat ditanyakan!
Ini yang barusan saja aku alami, dan bukan pertama kali, sudah kesekian jadi aku tak terkejut.
Namaku Alvi. Kasus yang baru aku alami adalah aku mengirim sms pada seorang mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pada balasan smsnya, perempuan yang memang belum pernah sekalipun bertemu muka denganku itu langsung memanggil dengan sebutan "Mas". Aku yang sudah terbiasa, tak begitu mempermasalahkan, bahkan tidak melakukan pembenaran dengan berkata saya perempuan atau saya "Mbak". Sama dengannya nanti aku juga akan mengklasifikasi.
Sms kedua yang kian mengukuhkan panggilan "Mas" itu hanya membuatku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika berhadapan muka dengan "Mas" Alvi...
Rambut
Potongan rambut pendek identik dengan laki-laki dan dipanggil Mas. Kalau ini juga sudah tak terhitung berapa kali menimpaku. Di warung bakso, di Pom Bensin, di Mall, tempat parkir, nyaris semua tempat mempunyai orang-orang dengan pola konstruksi otak yang sama: rambut pendek di panggil Mas!
Teman yang bersamaku selalu tertawa tiap kali jalan denganku dan ada yang manggil Mas. Pernah ada kejadian lucu, waktu itu di Sunday Morning UGM, aku dan dua teman berjilbab sedang makan pagi usai berkeliling cuci mata. Datanglah segerombolan pengamen waria bernyanyi, aku lalu mengulurkan secarik rupiah. Sambil berlalu kami mendengar salah satu dari mereka menggumam sinis: "Itu laki apa perempuan seh?!!"
Aku hanya dengar, tak menanggapi, cuma si temanku balas bergumam sedikit emosi: "Lha elo apa, laki apa perempuan? Kok nanya orang lain, wong dirinya sendiri juga nggak jelas!"
Aku kembali tersenyum dan tak komentar. Karena di belakang tadi rombongan itu sudah melirik sinis sembari mencibir: Ihh Lesbo!
Dalam hati hanya batin: Orang-orang yang belum selesai dengan pemahaman gender bahkan untuk berkaca pada dirinya sendiri. (Hello LGBTIQ, we are one!! Kalau ini sebuah pertanyaan dengan nada biasa aja mungkin tak ada yang mempersalahkan, tapi ia berkata dengan nada sinis seolah merendahkan. Mempreseden buruk orang lain padahal berada pada kondisi dan memperjuangkan hal yang sama).
Balik soal potongan rambut yang berjenis kelamin, yang bikin lucu adalah ekspresi mereka ketika aku kemudian mengeluarkan suara. Ada yang buru-buru meralat dengan manggil Mbak, ada yang cuek habis tadi manggil Mas trus manggil Mbak, ada yang ketawa menertawakan kekonyolan memanggilku Mas setelah tau suaraku Mbak. Lucu melihat kesibukan mereka heboh sendiri soal Mbak atau Mas!
Bahkan pernah gara-gara potongan rambut pendek ini aku diusir dari gerbong perempuan di Prameks. Konstruksi otak yang entah kapan akan bisa dirubah karena sepertinya sudah kadung massal dan turun temurun!
Wajah
Ini lain lagi ceritanya... Waktu itu aku hendak beli koran. Tanpa mencopot helm, aku memasuki kios. Usai memilih-milih koran yang hendak kubeli, aku menyodorkannya ke depan si penjual untuk dihitung. Sembari menghitung ia tak berhenti menatapku dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Aku mengernyitkan alis dan bertanya: "Ada apa Mas?"
"Mbaknya ini Mas atau Mbak sih?"
Pertanyaan yang konyol, bukan? Sudah manggil Mbak tapi masih mempertanyakan Mas atau Mbak.
Aku hanya melengos dan mencopot helm. "Kalau gini?"
"Ya kayaknya sih Mbak?"
Hahaha aku sedang tak ingin meneruskan perdebatan Mas Mbak dengannya, juga menjawab atau meyakinkan Mas atau Mbak. Hanya merasa aneh, jual koran untuk dibeli korannya, bukan malah mempersoalkan pembelinya Mas atau Mbak, bukan?
Kadang ada yang bilang padaku: "Halah, wong kamu seneng aja dipanggil Mas!" dan ada yang malah kuatir: "Kamu nyaman nggak dipanggil Mas? Aku harus panggil apa?"
Hmm, bagiku bukan masalah senang tak senang, nyaman tak nyaman, karena Mas atau Mbak hanya bentukan masyarakat yang massal itu, kalau ikutan melabeli sama aja dengan mereka. Hanya tak suka saja jika nama, potongan rambut dan wajah dijenis kelamin kan. Apa-apa kok ujung2nya berkelamin!
Menghilangkan stereotipe memang tak akan mudah, hanya saja jangan melakukan pelabelan untuk merendahkan atau untuk sesuatu yang nggak penting buat ditanyakan!
Wednesday, April 13, 2011
I Need a Girl, Titik!!!
Dadaku sedang bergemuruh. Ya, selayak ombak yang meninggi tapi aku tak hendak bercerita tentang itu, hmm hanya akan merusak mood menulisku saja. Mengungkap sisi lain hati yang sedang gundah. I need a girl!
Ya, sesuai judulnya, diantara gemuruh amarah, sepertinya aku "membutuhkan" peredam. Tapi bukan karena hanya alasan itu semata, I need the whole need from a woman, hanya jika dikonteks kan dengan kini yang sedang terjadi, ya pembunuh amarahku mungkin seorang perempuan yang meredakan, menyejukkan dan mempositifkan emosi negatifku akan lain hal. Meski tak menutup kemungkinan kadang partner malah menambah permasalahan yang sudah ada, but I'm sure, if your girl is a partner not your girlfriend, she will know how to treat u emotionally, psychologycally (gak tau aku ngarang istilah ini ada apa gak ya hehe semau gue, blog blog gue hehe).
Back to the topic, hati yang sedang panas ini sebetulnya cuma memerlukan penyejuk....
Ya, sesuai judulnya, diantara gemuruh amarah, sepertinya aku "membutuhkan" peredam. Tapi bukan karena hanya alasan itu semata, I need the whole need from a woman, hanya jika dikonteks kan dengan kini yang sedang terjadi, ya pembunuh amarahku mungkin seorang perempuan yang meredakan, menyejukkan dan mempositifkan emosi negatifku akan lain hal. Meski tak menutup kemungkinan kadang partner malah menambah permasalahan yang sudah ada, but I'm sure, if your girl is a partner not your girlfriend, she will know how to treat u emotionally, psychologycally (gak tau aku ngarang istilah ini ada apa gak ya hehe semau gue, blog blog gue hehe).
Back to the topic, hati yang sedang panas ini sebetulnya cuma memerlukan penyejuk....
Saturday, April 9, 2011
Sedang Hambar
Hmm, aku makin tak mengerti maunya otak, apalagi hati. Sudah mulai tak konsisten, menurutku. Entah kunilai dari sisi yang mana. Pola hati yang berulang... Suka, tergila-gila lalu mulai perlahan memudar. Akibat jalan di tempat, susah teraih dan tak ada usaha meraih. Kompleksitas yang juga berulang.
Mungkin bawaan sedang hambar saja jadinya makin ruwet isi pikiran dan maunya hati. Sedang tak ingin beranjak. Fluktuatif sedang tak bergejolak. Diam. Sejenak atau seterusnya? Belum mampu terjawab!
Mungkin bawaan sedang hambar saja jadinya makin ruwet isi pikiran dan maunya hati. Sedang tak ingin beranjak. Fluktuatif sedang tak bergejolak. Diam. Sejenak atau seterusnya? Belum mampu terjawab!
Subscribe to:
Posts (Atom)











