Saturday, June 20, 2009

I N S P I R A S I

Kucing. Aku selalu suka kucing. Meski mungkin ini cerita tak penting. Tapi diam-diam kujadikan pembanding.

Beberapa malam lalu, aku tak ingat persisnya, nyaris aku tak bisa dibuat terpejam oleh suara gaduh. Bukan ramai manusia. Tapi dua ekor kucing yang sedang berkelahi. Kutajamkan pendengaran dan feelingku memastikan ada perkelahian tak imbang. Suara kucing yang terdengar keras itu nyata-nyata adalah kucing kecil. Kucing yang ketika aku pulang sore hari itu tengah meraung seakan minta tolong diatas atap. Tak ada yang bisa kulakukan, bahkan wujudnya saja tak nampak. Hanya suara kecil yang mencari induknya. Dan malamnya, sekitar setengah tiga dini hari kudengar suara itu meraung, bukan mencari sang ibu, aku meyakini ia tengah diterkam kucing yang lebih besar darinya. Lagi-lagi aku tak mampu berbuat apapun. Hati ingin, tapi gila saja, setengah tiga pagi keluar dalam gelap gulita berhalusinasikan makhluk-makhluk gentayangan yang menjadi ciri khas kos-kosan ini, aku belum gila! Antara terjaga dan terpejam, akhirnya penghitung waktu menunjuk pertengahan angka empat dan lima. Bertemankan suara adzan, aku keluar mencari suara yang merintih lemah. Suara itu berasal dari rerimbunan daun dekat tempat sampah. Masih gulita dan sepi. Penghuni kos lain belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Aku kembali ke kamar meraih ponsel sebagai penerang seadanya. Kucing kecil itu mendesis galak ketika aku mendekat.
"Kucing liar rupanya," desisku sambil coba mengelus menjinakkan. Nihil. Ia tetap tak bersahabat. Pandanganku kemudian tertumbuk pada dua ekor kucing besar tak jauh dari tempatku. Keduanya langsung tunggang langgang ketika kuangkat tangan mengusirnya. Aku menyerah pada penglihatanku yang terbatas. Aku kembali ke kamar. Namun sejam kemudian keresahanku membawa kakiku menengok si kecil.
Mentari masih mengintip, namun pagi menyingsing membuatku dapat mengamati kondisi kucing kecil itu seutuhnya. Lukanya cukup parah. Dua kakinya kaku. Dan... Lengan kanannya berdarah. Meski demikian ia masih tak bersahabat meski berkali-kali pula aku mencoba mengelusnya. Aku bergerak mengambil air kemudian meninggalkannya. Maksudku memberi jeda waktu, seolah ia akan mengerti dan meminum air tsb. Memperlakukan kucing seperti manusia, tolol kedengarannya bukan? Ya, mungkin. Sejak dulu aku tak bisa melihat kucing menderita.
Melihat kondisinya, hal yang paling dibutuhkannya kini adalah betadine atau obat merah. Aku tak punya! Meminjam dari penghuni kos untuk seekor kucing, hah aku akan ditertawakan! Sedang merogoh kocek sendiri, aku seketika teringat bahwa kondisi keuanganku sendiri sedang sangat tak sehat. Paling tidak jika tak ada antiseptik, kucing itu kuberi makan. Meski dalam hati aku sangsi, ia tak akan mau makan! Tapi ah, aku tetap mengayuh sepedaku ke warung membelikannya dua ikan kecil. Ia tetap tak bersahabat. Bahkan air tadi ditumpahkannya. Entah saat minum atau tersenggol gerak tubuhnya. Aku mengambilkannya lagi dalam wadah datar yang lebih lebar beserta makannya. Aku meninggalkannya ke tempat kerja. Saat pulang, ia yang pertama kutengok. Entah tidur, entah menahan sakit, ia menelungkup. Desisan yang keluar dari mulutnya melemah. Yang kuyakini ia sedang bertahan hidup. Dan aku juga meyakini umurnya takkan sampai esok hari.
Aku menghempaskan tubuh di kamar. Kucing kecil itu tak ubahnya sepertiku. Bibirku mungkin menyungging senyuman, bahkan desisan sepertinya, tapi jauh di palung terdalamku pun mendesis pilu. Hidup memang berpindah dari satu masalah ke masalah lain. Tuhan sedang sayang padaku, meski aku menyikapi rasa sayangNya padaku dengan kemarahan. Kemanusiawian manusia. Layaknya si kucing kecil, aku pun sedang mempertahankan dentuman nafasku agar tak terkalahkan oleh gema di otakku yang mendelegasikan untuk memotong aliran oksigen ke seluruh tubuh.
Pagi-pagi sekali aku melihat kondisi kucing kecil itu dan mendapati perutnya tak lagi kembang kempis. Ia bersandar damai dalam posisi membelakangiku. Ia telah pergi. Aku mendadak teringat sorot mata lemahnya kemarin. Kini, mata itu takkan pernah kulihat lagi.
Seekor kucing kecil liar mati. Kucing yang hanya hadir dua hari ini, tetapi seakan ia telah menghiasi hari-hariku sebelumnya. Bagiku ia adalah pembanding. Ia telah berjuang hidup ketika ketidakadilan alam hadir dalam garis takdirnya. Dan ia kemudian tak lagi bernyawa meski telah sekuat tenaga dan seorang diri hadapi. Jikalau kematian kini paling tidak membawanya dalam kedamaian, akankah kematian pula yang akan menjadi tolak ukurku mengakhiri jalan Tuhan yang seharusnya kulalui? Mungkin jika itu cara termudah, terasa menggiurkan. Tapi kenyataannya beruntung tak mudah karena rentetan yang berkesinambungan kemudian akan mengiring ketiadaanku, meski aku tak lagi akan merasa tapi beban itu seolah akan turut menjadi catatan yang membelenggu.

"Alvi, apa kamu masih ingat sholat?"
Pertanyaan itu ditohokkan padaku dengan menyebut namaku secara lengkap.Sungguh terasa asing di telingaku mengingat ia terbiasa memanggilku dengan sebutan aneh2. Ia kemudian bercerita. Membuka mataku. Mata hati dan batinku.

"Ketegaran seorang perempuan selalu memukau"

Akan kuingat itu selalu!

Friday, June 19, 2009 @ 21:26 pm.

Tuesday, June 2, 2009

Kenapa Susah Sekali?

Ini sebenarnya adalah pertanyaan atau klaimku pada Tuhan...

Kenapa sepertinya susah sekali Engkau memudahkan jalanku untuk membahagiakan orangtuaku? Padahal Engkau hanya tau, itu adalah puncak tujuan hidupku. Aku bukan ingin mengeluh, tapi aku sebagai manusia, hambaMU yang mungkin Engkau kira tak tahu terima kasih ini, kurasa telah cukup berusaha dan terus berusaha serta selalu berusaha agar aku mampu mengubahnya menjadi dan meraih apa yang lebih baik. Dan kenyataannya, aku malah tak mendapat apa-apa selain diombang-ambing seperti bola, memantul kesana kemari.

Manusia tak boleh mengeluh. Ya memang, tapi...(dan akan selalu ada kata tapi) kupikir aku tak sedang mengeluh. Aku hanya ingin memaparkan fakta, bahwa ketika apa yang kuingini telah kuselipkan niat baik lantas kulakukan dengan segenap pikiran, tenaga dan waktu, tapi kenapa aku tak pernah bisa meraihnya?

Jawabannya -MUNGKIN-, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah untukku. Rencana apa lagi? Aku memang tak akan pernah tahu. Tugasku memang hanya menjalani. Dan selalu meyakini bahwa TUHAN tak akan pernah memberi garis kehidupan diluar batas kemampuanku, meski kuakui kadang keyakinan tsb luntur. Maka, semoga Engkau selalu memberiku kelapangan agar keyakinan itu cepat-cepat kuwarnai ulang dan tak akan memudar.

Aku selalu menunggu rencana indahMU untukku...

05:49 Thursday, 21 May 2009

Aku Benar-Benar Sendirian!

Aku tengah berada dalam alam bawah sadarku yang kurasa amat nyata. Lalu perlahan bergeser satu hingga meloading seratus persen ke alam nyataku. Dan tiba-tiba aliran air menitik dan jatuh ke pipiku untuk kemudian mengalir rintik-rintik dan dalam hitungan detik beralih deras. Tak terbendung oleh sekaan tanganku. Ini untuk yang kesekian, seakan tak terhitung.

Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.

Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!

Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.

Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!

I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)

16:09 Tuesday 2 June 2009.