Showing posts with label Cosmic Soulmate. Show all posts
Showing posts with label Cosmic Soulmate. Show all posts

Wednesday, January 1, 2014

Kaleidoskop 2013



2013, itu….

Januari
Saya masih gencar mengusahakan takdir bersama dengan pengisi hati yang tak terganti, meski telah sebulanan juga mengenal orang baru yang cukup menyenangkan menemani keseharian via media online BBM.

Februari.
Pertemuan kedua yang membuat ketertarikan untuk kedua kali. Menyambangi ruang ia menghabiskan hari sehari-hari bersama orang yang mendampinginya lebih dari sepuluh tahun. Namun bukan cemburu yang kurasai, bahkan pernyataan untuk menjaga perempuan yang sama-sama kami sayangi, tentu saja dengan pola dan batasan yang berbeda, namun tak menyurutkan hakikat menyayangi yang paling hakiki. Malam itu, perempuan itu berbalut syal biru, ringkih tubuhnya terbatuk dalam intensitas lumayan sering. Namun demi pertemuan kedua ini, ia merelakan tubuhnya dihempas ngin malam merayakan ulang tahunnya yang terlambat.

Maret
Ketakutan saya cukup kuat. Mengetahui perempuan yang tak terganti telah memakai cincin di jemari. Ada pedih yang setengah mati kubunuh dengan lari. Tapi hanya kian menambah murka hati dan beragam sumpah serapah tak terperi.

April
Saya mulai marah. Marah pada kenyataan semakin dekat puncak sakit hati ini dan marah akan hidup yang hanya begini-begini. Kemarahan yang berbuah sumpah tak akan menghadiri hari bahagia yang merupakan hari kematian hati saya. Kemarahan akan membakar selembar kertas berisi nama perempuan tak terganti itu bersanding dengan nama lelaki yang bahkan tak kukenal namun kubenci setengah mati. Dan keinginan meninggalkan kota yang hampir lima tahunan memberi saya kisah untuk hijrah ke kota yang bahkan saya entah tak pernah menjamah. Jangan mengambil keputusan di kala marah, pepatah yang benar adanya….

Mei
Saya sejak dulu percaya takdir, bahwa semua yang terjadi dalam hidup sudah ada lajurnya hanya tinggal dilewati, meski kadang saya pun mempertanyakan kenapa lajurnya begini atau begitu. Namun di awal mendapati takdir di bulan Mei, saya masih belum genap untuk percaya, apalagi menyenyuminya.
Akhir Mei yang merubah segalanya. Sekitar lima hari berada di kota perempuan yang statusnya masih saya garis bawahi sebagai sebuah ketertarikan intelektual, pun waktu itu saya berada di areal ruang dan waktu dengan perempuan tak terganti. Bayangkan, sebegitu usilnya Tuhan mencandai saya dengan dua perempuan pengisi hati yang tentu saja Tuhan tau porsinya masing-masing di hati saya. Lima hari yang kemudian menaikkan status ketertarikan intelektual menjadi ketertarikan seksual. Dan memudarkan cemburu pada perempuan tak terganti yang menjadi bayang-bayang ketakutan sebelum saya mengambil keputusan untuk ikut ambil peran dalam lima hari di kota ini. Saya tak cemburu, saya malah jatuh cinta. Meski kembali cinta terlarang.
Dan Tuhan yang mengamati, mungkin menyenyumi, bagaimana waktu itu saya mengambil keputusan untuk menekuni hal baru yang alasan awalnya adalah pelarian agar tak perlu menghadiri kematian hati saya di Bulan Juni. Ya, bulan ini adalah pergolakan awal di tengah tahun.

Juni
Saya akhirnya digariskan untuk menekuni hal baru tersebut, dengan keterbatasan dan kemaksimalan ketidaktahuan saya, namun yang pasti saya senang belajar. Pergolakan awal yang kian tercampur dan teraduk. Hati dan hidup, keduanya begitu sibuk di bulan ini. Sama-sama belajar. Pun hati yang meningkat status dengan kehadiran perempuan itu di kota saya beberapa kali. Dan kian dekatnya hari yang waktu itu saya sebut sebagai hari kematian hati saya. Namun, meski takdir katanya sudah ada lajurnya, tapi menyimpan rahasia alur yang tentu saja saya tak dapat contekannya.
Tidak ada hari kematian. Perempuan yang meningkat statusnya menjadi tertarik secara seksual itu drastis meningkatkan kuota hati saya yang dulu terisi perempuan tak terganti. Ia masih taknterganti, hanya merelakan ia bahagia, menjadi tujuan saya, bukan lgi keinginan memiliki yang menteror dan mencipta status kematian hati saya di bulan ini. Dan saya menyaksikan dan melewati hari yang dulu saya sebut hari kematian hati saya dengan tawa dan canda serta ledekan si perempuan yang naik status itu.
Waktu merubah segalanya, mmm.. waktu tak merubah, hanya menjedakan perubahan kisah dan keputusan hati, mungkin begitu…

Juli
Takdir itu kayak ombak, gak pernah tau kapan gede kapan kecil, meski bisa diprediksi, walau tak pasti. Bulan lalu jatuh hati, maka bulan ini ada sebuah kabar yang membuat saya kabur. Saya turut andil mendoakan perempuan yang sudah naik tingkat itu, tetapi ketika doa tersebut dikasi cash oleh Sang Pemberi Hidup, saya malah tak terima. Saya memilih kabur, menata hati maksud saya.

Agustus
Tak terprediksi saya dipertemukan dengan sepupu yang beberapa tahun lalu mengisi benak saya karena kekontroversiannya, Hijaber yang ada hati meski tersembunyi. Pun hingga bulan ini, ia masih hangat dan dekat meski ortunya yang adalah tante dan om saya memberi sekat. Tetap saja, sekat adalah batas diantara perbedaan yang serupa jurang, saya memilih mundur. Sia-sia, begitu kesimpulan saya untuk bersabar pada proses yang menurut saya menyia-nyiakan waktu, pikiran dan semua tentang kami berdua yang tak bisa disatukan.
Bulan ini saya sakit. Ya, raganya memang tak sehat, namun jiwanya lah yang justru sedang tak waras. Pemikiran untuk mengambil keputusan tentang masa depan menggerogoti raga saya hampir setengah bulan. Untuk sebuah keputusan hidup di awal bulan depan….

September
Keputusan hidup diambil. Memutuskan untuk meneruskan. Dengan menyisakan keraguan. Ya bukan kemantapan. Untuk hati, kabur sudah berakhir, meneruskan hand in hand dengan pola yang hanya dimengerti oleh saya dan perempuan yangbudah naik tingkat itu.

Oktober
Teman-teman baru dan keinginan untuk berhenti. Lelah digerogoti pikiran dan pemikiran ketidakadilan dan harga diri. Pun mengenal orang yang membawa perubahan karakter diri. Belajar mengelola ego, tentu tidak mudah serupa membalik telapak tangan, tetapi tak ada kata cukup untuk terus mencoba…

November
Dipertemukan. Mungkin itu topik yang tepat bulan ini. Saya memang meminta dipertemukan dengan KW 3 si perempuan yang naik tingkat itu, eh Tuhan malah kasi KW1 nya alias si perempuan yang naik tingkat itu. Melihat perubahan tubuh namun tak merubah adanya saya dan perempuan itu. Menyempatkan diantara kesempitan. Bahkan tak ada pikir ulang untuk setiap keputusan. Saya dan dia harus bertemu, takdir atau tidak, tetapi saya ngotot sama Tuhan saya harus ketemu perempuan itu. Meski dengan perut yang mengeras karena kecapaian. Meski lampu-lampu tempat makan tak bersahabat memberi batas jam hingga pukul sepuluh malam saja. Dan kegoblokan saya tak mengantarnya pulang. Namun terima kasih pada ruang dan waktu yang mempertemukan kami. Walau motto yang menjadi mengibaratkan kami adalah bersama tak harus saling sama-sama.
Dan pertemuan tak terduga lainnya adalah dengan perempuan tak terganti. Dengan kondisinya yang juga tak terduga. Namun apapun ia, ia tetap saja perempuan tak terganti.
Mencintai tak sama dengan menyayangi, meski mencintai adalah irisan menyayangi. Perempuan tak terganti yang saya cintai, dan perempuan naik tingkat yang saya sayangi. Bukan tentang membagi hati. Tentang porsi dan posisi di hati.

Desember
Sepertinya September terulang di bulan ini. Mulai goyah. Dan ternyata raga lagi yang kena batunya, dengan kondisi persis serupa September. Namun kali ini belum memutuskan. Tentu saja ada yang berbeda… Setelah sekian waktu belajar mengelola, lumayan ada kemajuan pun kemunduran. Kemunduran bukan dalam arti negatif. Hanya mundur tak lagi bisa percaya mulut manusia. Lock my pandora, throw the key to the sea…

365 hari, 12 bulan dan 31.536.000 detik di 2013, tak ada kesimpulan, sedetik lalu sudah menjadi masa lalu, detik depan tak pernah tau apa itu masa depan, maka di detik ini menjadi kini yang semoga selalu menjadi tempat belajar untuk terus lebih baik lagi.

Welcoming 2014… Be [more] tough!

Sunday, September 29, 2013

Refleksi ; Ngaca



Berkaca, kalau diartikan dalam arti sebenarnya, aktivitas ini jarang sekali kulakoni. Melihat ke kaca hanya kulakukan ketika merapikan rambut jabrik atau mencoba wardrobe baru, malahan aku menggunakan medium cermin untuk mengetahui bentuk wajahku ketika berekspresi. Mana yang membuat wajah keliatan lebih ganteng, haha OOT narsis!

Balik soal ngaca, yang hendak kutuang tentu saja makna kiasannya yang terhubung dengan irisan takdir bersama seseorang yang memasuki hidupku akhir-akhir ini. Aku mendengar namanya lumayan lama, tetapi baru menemukan sosoknya di kegiatan yang diselenggarakan kantorku sekitar akhir september ini. Komentar awalku adalah perempuan ceking ini diluar ekspektasi imajinasiku tentang sosoknya. Aku mungkin pernah bercerita bahwa aku punya hobi mengimajinasikan sosok orang dari namanya. Entah sudah tak terhitung berapa orang, namun perempuan tak terganti dan perempuan mirip artis itu adalah salah duanya, dan perempuan ceking ini menjadi salah tiganya. Dan seperti hasil akhir rekaan sosok dari sebuah nama seseorang yang selalu berakhir diluar yang diharapkan, maka begitu juga adanya perempuan ini.

Aku mengimajinasikannya sebagai seorang yang berperawakan tinggi besar dengan bobot lumayan berisi, potongan rambut setengah ikal sebahu. Aku tak mengimaji karakternya, hanya fisiknya semata. Maka, ketika pertama kali menjabat tangannya malam itu, aku tertawa dalam hati. Salah total -lagi-. Tapi jangan mengira aku kapok sudah tak terhitung salah imajinasi atas nama atau suara orang yang belum pernah bertemu. Bagiku, imajinasi ini seperti sebuah hobi yang kuyakini tak akan berhenti meski sudah salah berulang kali.

Awalnya, tak ada yang istimewa. Telingaku memang sudah banyak dicekoki tentangnya, tetapi tentu saja telingaku juga ada filternya. Seberapapun informasi yang masuk kalau aku tak melihat, mendengar dan merasai sendiri, semuanya buatku belum terbukti validitasnya. Maka aku mulai mencerna perempuan ceking ini…

Sebuah refleksi awal yang kusebut sebagai berkaca itu aku melihat ceritanya sama denganku. Ada beberapa irisan yang sama, seperti soal keteguhan dan maskulinitas pikiran tentang bagaimana bertahan dan mempertahankan hidup, juga tentang semangat serta mengatur alur hidup. Aku memaknainya sebagai sebuah proses berkaca dan sebuah proses yang menciptakan energi baru yang kalau boleh dibilang semangat yang mungkin bukan baru tetapi redup dan kini menyala kembali. Aku menemukan semangat itu dari tumpukan masa lalu, kenangan, luka-luka, kecewa dan sekaligus perhentian-perhentian waktu yang melumpuhkanku. Aku percaya mengubah sesuatu yang mengakar di lapisan microchip otak di alam bawah sadar bukan hal yang akan instan, namun menemukan penyemangat yang entah aku sendiri belum terlalu membiarkannya masuk di kehidupanku bukan barang tentu kebetulan terjadi, bukan? Maka aku tak membiarkan perempuan ceking ini berdiri di depan pintu terlalu lama. Aku sedang menyilahkannya menyambangi ruangan-ruangan yang kunamai otak, hati, mulut, pikiran, benak, rasa dan bagian lain yang tak terhitung tetapi pastinya adalah aku seutuhnya.

Dan proses berkaca dalam artian inilah yang kugemari karena di setiap proses itu aku seperti tengah memegang korek api yang akan tersulut bukan untuk terbakar dan menjadi abu tetapi berkobar menyalakan simpul yang mati suri.

Ya, aku sedang menata pohon yang mengering dengan dedaunan baru bernama harapan…

Friday, September 13, 2013

Love @ First Sight



Saya tak seberapa percaya ungkapan tsb. Urusan hati butuh dijajaki, bukan semata urusan instan dari mata ke hati. Tetapi bukan tak pernah mengalami. Bukan kah kesan pertama terkadang menentukan segalanya?

Untuk kisah cintaku contohnya, bagaimana pada kesan pertama aku begitu tak ‘tertarik’ pada cinta pertamaku. Kecewa bahkan rasa yang ada saat itu. Tapi dua jam berikutnya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi sebuah ketergantungan perasaan yang disebut cinta terkewer-kewer. Beda lagi dengan kesan pertamaku kepada perempuan mirip artis itu. Sejak pertama menyambutku dengan senyuman dan suluran uluran tangan, maka sejak itu pulalah hatiku jumpalitan kegirangan. Meski kugarisbawahi sebagai sebuah ketertarikan fisik dan intelektual awalnya. Kesimpulannya rasa itu memang kerap terjadi di pandangan pertama, namun butuh sebuah proses yang membuat nanti endingnya akan naik tingkat atau musnah seiring perjalanan waktu.

Maka begitu pulalah ceritaku untuk benda tak hidup alias barang yang menjadi kebutuhan, semisal tas, sepatu, sendal, baju dan kaca mata. Kali ini aku hendak bercerita tentang benda yang terakhir kusebutkan itu. Sebenarnya hampir sama saja di semua benda yang kuingini aku termasuk susah untuk menerapkan love at first sight. Oleh karenanya, membeli barang-barang tsb seperti jauh lebih sulit seperti menetapkan hati pada satu orang kekasih. Pilihan sih banyak, tetapi memilah dan memilih seperti tengah mencari jarum di tumpukan jerami. Gak ketemu, begitu juga kadang ujung-ujungnya dan memang tak bisa dipaksa serta memaksakan diri. Kalau belum sreg di hati apa boleh buat, meski peluh sebesar biji jagung hibrida tetap memilih pulang dengan tangan hampa.

Malah yang terjadi kadang adalah sedang tak ingin beli, eh kok pas nemuin yang sreg di hati, jadi ya dibeli. Atau hendak beli barang A, eh ngeliat barang B, buntutnya malah beli barang B gak jadi barang A.

Kalau cerita tentang kaca mata, aku memang berniat mencari kaca mata putih untuk dipakai di malam hari ketika berkendara guna menghindari hewan atau benda apapun yang kemungkinan masuk ke mata. Karena memasang kaca helm di malam hari terlalu gelap mengganggu penglihatan. Dan aku kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa ada jeda untuk menengok dan mencari lainnya. Ya, kepada kaca mata putih berframe hitam dengan gagang merah. Warna merahnya yang membuatku jatuh cinta pertama kali karena aku sungguh menggilai warna merah, lalu ketika pantulan cermin menyuguhkan wajahku pantas dalam balutan merah itu aku jatuh cinta kedua kali. Lantas ketiga, kelima dan berkali-kali jungkir balik mencintai dengan mengenakannya di keseharianku.
“Apa sih fungsi kaca mata yang bukan kaca mata minus juga bukan plus?” komen seorang teman.
“Paling cuma buat gaya-gayaan!” sebuah suara teman lain.
Pastinya, memang banyak suara-suara yang mayoritas sumbang ketika aku melingkarkan gagang merah kaca mata itu di kedua telingaku, tapi jelas saja aku tak terpengaruh, yang penting fungsional buatku, tentang efek kepantasan lainnya yang mengandung komen negatif semisal nggaya, narsis lan sejenisnya, buatku malah kujadikan bonus. Bukankah sebuah benda yang secara fungsional lalu bernilai lebih untuk hal-hal lain memang layak disebut bonus a.k.a nilai tambah? Tak perlu pusing apa kata orang, toh orang tsb tak membayari nilai tukar rupiahku yang melayang.

Maka begitulah cerita cinta pada pandangan pertamaku kepada si kaca mata merah…

Saturday, September 7, 2013

Canon in D



Bukan merk kamera, tetapi sebuah lagu instrumental yang diciptakan Johann Pachelbel. Aku mulai menyukai dan kerap memutar ulang di kupingku sejak menonton film Korea My Sassy Girl, film lawas sih tapi kalo gak salah waktu itu jadi belajar buat lebih menurunkan ego dan membahagiakan orang yang kita sayang ketimbang mati-matian dengan ego sendiri.

Beberapa kali aku menontonnya ibarat lagu wajib healing my ego kala itu yang sedang belajar atau lebih tepatnya menyesal telah egois dan berusaha memperbaiki diri dengan copy cat dari sumber mana pun, termasuk film ini. Maka, lagu ini pun menjadi daftar wajib putar di playlist-ku, dari semua versi.

Usut punya usut, di suatu perbincangan dengan si Kakak, ternyata aku baru tau kalo lagu itu Lagu yang kerap dipakai untuk pengiring nikah.
“Dulu, waktu mau nikah, gue ditawari dua lagu, salah satunya lagu itu, tapi gue pilih lagu satunya,”
Hmm, maka sejak itu Canon in D akan jadi wedding song saya!

Friday, August 30, 2013

Sama-Sama Anjing!



Eits, jangan mikir negatif dulu, saya bukan sedang mengumpat lho! Saya malah sedang menceritakan saya dan #uhuy yang sama-sama anjing!

Dalam perhitungan cina, ketika lahir di tahun yang sama maka aku dan perempuan itu sama-sama punya shio yang sama, yaitu anjing. Dan menelisik karakter diantara kami berdua pantaslah ada hal-hal yang hampir sama, tentang karakter, cara berpikir dan beberapa hal lainnya.

Aku sih baru nyadar kalau shio kami sama, selama ini kukira persamaan karakter kami di banyak hal karena kami sama-sama bungsu (kalau tak salah aku pernah menuliskannya beberapa waktu lalu). Ternyata, selain itu kami adalah sama-sama warga anjing. Tapi yang paling kentara, dari segi karakter, pemikiran dan perilaku yang mempunyai similarity ya karena kami bungsu.

Jadi, sebagai warga anjing yang akan menyalak bagi orang asing yang dianggap threat dan menggigit pada orang jahat, tetapi akan setia dan protect orang yang disayang, maka begitulah anjing!

Tuesday, August 27, 2013

Alone but Not Lonely



Siang. Sepi. Tapi tak sendiri. Ini kali kedua saya ke tempat ini seorang diri. Biasanya saya mengajak atau diajak beberapa teman kemari. Paling tidak aku berada di keramaian ini tak sendiri. Maklum, aku paling canggung berada di suatu tempat apalagi ramai, sendirian, pasti saya merasa tak nyaman dan buru-buru pulang.

Tapi kali ini langka. Entah kenapa saya memang pengen sendiri. Seperti biasa, dengan sugesti di kepala saya. Pe er notulen saya sedang banyak dan kalau garap di kamar, sikon duduknya tak bikin nyaman. Saya butuh tempat mengetik dan mendengarkan rekaman yang tidak terlalu bising. Nah, kafe ini pilihannya! Siang ia masih sepi, tapi kalau sorean dikit udah rame.

Saya kesana sekitar jam 12-an. Masih sepi dan mulai ketak ketik sembari memesan milkshake cokelat dan club sandwich kegemaran saya. Saya bawa air putih, maklum banyak duduk juga harus disertai banyak minum juga, bukan? Dan senangnya, modus sendiri ini malah sukses bisa bikin saya fokus dan produktif. Dan gawean pun terkirim!

Bahwa tak selamanya sendirian itu seorang diri… Trust me, it works!

Sunday, August 25, 2013

Even Drunk is Not Enough



Nge #BirSore. Saya menamakannya demikian! Ini mungkin dikarenakan kebuntuan. Ya, saya sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa menyembuhkan raga yang tak kunjung terlepas dari penyakit yang berganti-ganti, bahkan recordnya hingga dua mingguan ini.

Awalnya, saya kira ini efek kecapekan karena badan tak enak ini mulai datang menyerang sehari setelah kembali dari kampung halaman usai lebaran. Masuk angin dan diare memang sudah terasa saat perjalanan. Lalu hari ketiga berganti demam. Lalu biduran. Setiap sehabis mandi badan bentol-bentol kemerahan. Dan saya masih merasa ini adalah akibat peralihan dari air di jawa timur dengan air disini. Logika yang cukup masuk akal bukan? Kemudian menjadi tak masuk akal ketika raga saya drop kian menjadi-jadi. Flu yang tak kunjung berakhir, sampai malah ditakut-takuti kena AIDs segala, dan batuk yang kemudian melanda. Ada apa dengan tubuh saya?

Bahkan ketika memilih membuka botol Carlsberg sore ini pun, saya tidak yakin akan sembuh. Hanya saja, katanya, minuman mengandung alkohol dapat menghangatkan badan. Untuk sore ini saya menaikkan level minum saya. Biasanya hanya seperempat dan selesai, saya meminta orang lain menghabiskannya. Tapi ini, meski bertahap dari sore hingga malam, es batu menemani buliran rasa pahit yang kukecap sesruput demi sesruput.

Dan sekuat apapun raga dihangatkan, penyakit yang sebenarnya bukanlah melekat di penopang badan ini, melainkan isinya. Sesuatu yang tak pernah bisa diukur oleh kecanggihan medis mana pun. Pikiran.

Penyakit saya cuma kepikiran pikiran yang mikirin hal-hal yang tak terselesaikan dengan hanya mikir, tapi saya memikirkannya! #sakit

Friday, August 23, 2013

Framming The Mountain



Motor yang kukendarai perlahan melambat. Memang sengaja kukurangi. Sejenak memandang view di depanku. Aku berada di selangkangan dua gunung. Merapi dan Merbabu. Jalan yang kulalui adalah jalan setapak berliku yang hanya dilalui segelintir orang, tetapi katanya tak berbahaya. Jika pagi sedang bersahabat, aku akan menemukan dua gunung tsb tampak menggoda untuk diabadikan. Tetapi dari beberapa kali aku menyusuri jalan setapak ini aku hanya pernah sekali mengabadikan alam yang tampak kehijauan di depanku. Tampak dekat, padahal ia jauh.

Dan view pagi ini membuatku tersenyum. Memang, langit juga sedang merekahkan warna birunya tanpa sehelai awan. Pun gunung yang tampak hijau telanjang yang memenuhi penglihatanku. Namun yang membuatku melempar secarik senyum adalah bukan karena kesempurnaan ciptaanNya. Aku membayangkan rona sumringah perempuan itu jika ia berada bersamaku sekarang, meletakkan dataran tinggi yang lambat-lambat kunikmati ini dalam bingkai lensa yang kemudian berpindah ke bentuk dua dimensi.

Dan aku sungguh yakin ia akan lama membingkai view ini. Puncak gunung. Lekukannya. Asap lirih dari bagian atas yang meniupkannya ke langit. Jenjang-jenjang kehijauan yang tampak seperti anak-anak tangga. Aku dapat membayangkan hanya bunyi jepretan yang akan kudengar dari lisan kameranya.

Framming the mountain, I wish I could bring you here someday…

Wednesday, August 21, 2013

Gara-Gara Minyak Angin



Aku sebenarnya bukan tipe perhatian ke orang, malah cenderung kurang tanggap. Tapi soal minyak angin ini memang benar-benar kebetulan…
Aku menemukan sebuah artikel tentang larangan penggunaan minyak angin untuk perempuan hamil. Iseng saja sih men-share kannya pada perempuan itu. Tetapi kemudian ia tanggapi dan kebetulan juga si minyak angin ini menjadi teman sehati perempuan ini, maklum kehamilan awal bulan. Lalu perbincangan berlanjut. Aku yang tadinya cuma iseng, jadi deh searching beneran…
Owalah, hal-hal sederhana memulai obrolan lama, dan gak sengaja keisengan kadang menjadi hal penting bagi orang lain…

Monday, August 19, 2013

2 Kubu: Give Up!



Aku membuka-buka kembali file cerpen berjudul Pulang. Cerpen yang kuadaptasi dari imajinasi dan pengembangan ceritaku dengan sepupu perempuan yang hendak kuceritakan ini.

Aku sudah lumayan lama putus komunikasi dengan perempuan ini. Kayaknya ganti nomer. Makanya agak kaget juga waktu ia beserta keluarganya nongol di rumah malem-malem dan berencana ke rumah adik ibuku di pasuruan yang punya cerita cinta dengan si perempuan. Jadi antar sepupu saling suka dan ditentang oleh bapak si cewek tentu saja. Waktu itu aku masih akrab dengannya. Dan jadilah malam itu aku, ibu dan adik ibuku serta keluarga perempuan itu ke Pasuruan.

Dan ane jelas paling gaol, yang laen pada jilbaban gue pake celana pendek dan tas gunung. Rame banget tuh rumah dengan golden age kumpul bareng, maklum jugak jarang banget bisa kumpul, mana pake acara kesasar karena burem jalanan si penunjuk jalan gak apal. Awalnya aku dan mereka diem-dieman kayak baru kenal, eh waktu tuh golden age cekikikan barulah kita ikut larut. Nih cewek gak tau kenapa hobi banget memotretku, plus pulangnya ia menggandeng tanganku yang segera kutepis dengan pura-pura ngegandeng emak gue.

Esok malamnya keluarga perempuan itu ke rumah lagi. Ngobrol ngelantur yang terpisah. Ibunya ngobrol ama ibuku, ia dan ayahnya serta adik2nya ngobrol di rumah adik ibuku. Tau modus apa yang dipakainya malam ini, modus tidur yang gak mau dibangunin. Aku ketawa dalam hati, sengaja ya biar nginep, dasar sulung yang badung!

Hari Sabtu ada pertemuan besar di rumahnya, semua diminta hadir. Aku tak berangkat. Paling males ama acara orang-orang tua sedang kita kayak kambing congek nungguin. Huh, mending di rumah aja!

Esok dia pulang, sedangkan aku masih Selasa. Entah dapat hembusan ide darimana aku mengcancel kereta dan memilih naek mobil pulang bareng keluarga perempuan itu. Keputusan yang salah dan tak akan pernah kuulangi. Apes yang berulang, begitulah aku menggambarkan perjalanan pulangku. Dimulai dari bocor ban jam 12 malem sampe jam 2 pagi kedinginan di jalan. Kukira nih rombongan mau cepat-cepat sampe Jakarta, eh ternyata sopirnya kreatif ngampirin kita ke rumah ortunya di Sragen, kalo di kotanya sih gak papa, lha ini di pelosok, dan dikasi makan mie instan. Saya positif masuk angin, diare dan makan yang tidak teratur. Penderitaan belum berakhir saudara2!

Tapi ada cerita aku dan perempuan itu… Aku baru nyadar ortunya, terutama bapaknya tidak suka padaku. Bukan saja secara wajah tapi juga perbuatan. Yang jelas ia tak suka anak sulungnya dekat-dekat aku meski anaknya ngedeketin mulu. Aku dan perempuan itu tak diberi celah ngobrol berdua, harus ada orang ketiga. Padahal biasanya orang ketiga itu setan, bukan? Kami baru bisa ngobrol sebentar usai dia subuhan dan obrolan gak penting sepanjang berjalan. Ia yang duduk pas di depanku harus curi-curi noleh ke belakang. Di rumah si sopir, mules kembali mendera, niatnya keluar mau nyari jamban eh tuh perempuan malah ngikut. Kami foto-foto diluar. Setengah mati ngindar biar gak berduaan, itulah yang kulakukan. Ayah perempuan itu benar-benar tak suka padaku!

Well, perjalanan yang lazimnya kutempuh 9 jam jadi hampir seharian. Sore aku baru tiba di Jogja dengan sisa masuk angin dan perut kosong seharian. Menyesal sih tidak, tapi melakukan kegilaan ini lagi hanya untuk memperpanjang waktu bersama perempuan itu, kupikir aku tak akan pernah mengulanginya lagi.

Setelahnya, kami masih melanjutkan ngobrol di whatsapp dan perempuan itu hampir selalu me-like tiap status fesbukku. Ya ya ya, sejak pulang aku mulai rajin menengok fesbuk yang isinya pencitraan, jualan dan pamer anak-anak dari teman SMA dan sodara. Dan ketika aku men-scroll fesbukku dua tahunan ini ternyata yang merespon lumayan sering adalah perempuan itu. Catet!

Obrolan di whatsapp lumayan lancar, awalnya ngobrol enak dan datar tapi tidak ada sesuatu yang selalu flat. Riak kecil yang berwujud perdebatan, tentang ideologi hingga hal-hal sepele. Masih menemukan titik kompromi, tapi juga tak lama. Bagaimana pun sesuatu yang sangat prinsip akan menonjol perlahan, menanti untuk dimenangkan. Bukan ego, tapi fundamental. Fundamental bagimu adalah hal-hal berbau agama, sedangkan fundamentalku adalah kemanusiaan. Ia memahamkan tekstual dalam kedinamisan hidup sedangkan aku kontekstual. Bukan tak mempercayai yang tekstual. Ibarat buku panduan, akan menjadi acuan tetapi juga melihat hal-hal diluar itu untuk diadaptasikan. Aku mengadopsi nilai-nilai yang kuadopsi sendiri, bukan tentang memenangkan ego. Hanya menciptakan dan menjalani apa yang menurutku nyaman tanpa melanggar hak orang lain. Awalnya ia bersetuju, tetapi prakteknya tentu tak seperti ucapannya.

Ia mulai mencekokiku dengan dalil-dalil yang ia dapat dari gugel. Tuhannya juga gugel ternyata! Dan aku mulai gerah, bukan karena hawa panas dari serangan berbau agamis. Tetapi nada kemunafikan yang menurutku ia sendiri pun tak tau kenapa harus percaya, yang penting menurut tekstual begitu adanya maka ia melakoni. Menelaah tekstual tanpa filter kadar kepahaman akan isi, hanya mencuplik-cuplik lalu berteriak dan meneriaki orang lain pendosa karena tidak sepaham dengannya yang sudah mengaplikasikan si tekstual tadi, itu yang kualami.

Ia meneriakiku kafir karena memberi selamat ultah. Satu jam whatsapp hanya untuk debat dan men-copy-kan dari gugle tentang filosofi larangan kasi selamat ultah. Belum lagi hal lain, dan bagiku lama-lama ini tak bisa dibiarkan. Maka, bagimu pahammu dan bagiku pahamku. Awalnya aku keukeuh ingin meracuni pemahamannya tetapi kemudian aku menyerah. Buang-buang tenaga dan waktu untuk debat dengan orang yang hidupnya merasa paling benar tapi aktivitas pergaulannya hanya sebatas rumah-tempat kerja-rumah. Untuk lingkup sosial Jakarta, maaf nona kupikir anda bukan partner debat sepadan kalau kemanusiaan anda tak pernah anda tumbuhkan dengan melihat lingkungan sekitar!

Wednesday, August 14, 2013

Bosenan vs Gengsian



Bosenan is my middle name and Gengsian is her middle name. So, how’s our relationship supposed to be?

Imagine, aku dengan sifat pembosan yang teramat sangat, pembenaran kenapa aku tak bisa punya relasi dalam jangka waktu lama. Ya, gak tau apa sebabnya, bahkan di relasi yang menyenangkan dengan perempuan yang secara otak menarik dan secara seksual bikin naik itu pun masih saja aku merasakan bosan. Terlalu!

And also imagine, ini dari point of view-ku, bahwa perempuan itu teramat gengsian dengan pola yang ia terapkan bagaimana ia harus di-catch as a mangsa dan tak menunjukkan tanda-tanda memangsa. Ini juga keterlaluan, menurutku!

Maka muncullah satu lagi karakter yang menjadi first name-ku, ego! Karena terapan pola gengsian tsb, aku memasang ego di garda depan otakku. Tak jarang tak ada komunikasi yang tercipta ketika egoku meninggi. Aku jelas-jelas tak mau terus membuatnya selalu merasa paling dibutuhkan, meski kalau disapa dikit aja langsung deh crita darinya tumpah ruah. Seperti kali ini…

Sudah beberapa hari ini aku sengaja menciptakan jeda dan ia juga tak ada tanda-tanda memulai pergerakan, sama ketika aku mengenalnya pertama dulu. Ia pasang muka gak butuh, tapi disenggol dikit aja eh langsung nyerocos banyak. So, gengsian is the absolutely correct middle name for her. Aku kemudian ‘iseng’ menyapanya dan benar saja tuh perempuan ngejawabnya berparagraf-paragraf. Ini yang kadang bikin egoku capek!

I tweet about this, tentang si gengsian yang gak tau kalo si bosenan cuma nyapa iseng karena si bosenan lagi ada gebetan baru! Tapi tenang aja, pembenaranku sebagai seorang pembosan tak akan berlangsung lama, aku akan kembali pada si gengsian, tapi hati-hati juga kalau hati terpaut yang lain maka tak ada yang bisa melarang untuk berpindah hati. Rumusnya sebenarnya simple, kalau tidak ada kata saling, aku akan mudah berpaling, yang ini bukan pembenaran kok.

Jadi, mau terus Gengsian? Ati-ati Bosenan juga tak akan gengsi pindah hati!

Saturday, August 3, 2013

Too Picky



3 Agustus 2013

Adalah menjadi stempel karakter baru buat saya yang saya definisikan sendiri. Ikhwal ceritanya yaitu ketika memilih tas untuk ditenteng sebagai penampung charger, buku dan tablet kok kayak milih pacar, susah abis!

Pagi hingga matahari tepat diatas kepala aku sudah berkeliling dari satu toko di sepanjang malioboro hingga 2 mall, dan hasilnya nihil. Ada beberapa yang menarik mata, tapi tak langsung kupilih karena aku memutuskan melihat-lihat yang lain dulu mungkin ada yang lebih bagus. Begitu berulang kali. Jadi ketika sampai rumah aku pulang bawa tangan hampa. Agak gak enak ati juga sih ama kawan yang nemenin. Ya tapi mau gimana lagi, kalau cuma setengah sukak, apa ya mau dibeli? Kalau aku sih tidak!

Lalu sorenya aku kembali bergerilya, tidak dengan kawan yang sama tentunya.. Kali ini niatnya dia ke toko tas cewek yang bersebelahan dengan beberapa toko tas ransel. Dan too picky ini memang seakan telah mengental dalam filosofi memilih barang ala saya, jadi ketika si teman sudah dapat 2 tas, saya masih belum menemukan kecocokan satupun.

Saya kemudian merengek minta diantarkan ke Gramedia, meski aku pesimis karena tiap kesana aku juga menengok etalase tas dan tak pernah melihat ada yang bagus, tetapi tak ada salahnya mencoba, bukan?

Memilah dan memilih, kekuatiranku sedikit pupus ketika terpikat dengan dua tas. Entah, padahal tiap kali kemari gak pernah ada yang bagus, ini kok tiba-tiba ada yang bikin kepincut. Justru si teman ini yang mulai kuatir, jangan-jangan udah suka ama 2 tas tsb tapi ntar ujung-ujungnya ga jadi beli. Namun kekuatirannya meleset, saya akhirnya memilih diantara dua yang saya suka. Satunya, tas ala pendaki gunung yang juga lebih mirip tas kamera, sedang yang satu model klasik dengan banyak space. Pilihan saya jatuh pada yang pertama.

Jadi, saya suka pun kadang belum tentu saya memilihnya. Prosesor di kepala saya ini terlalu rumit bukan karena lemot memutuskan, tetapi sangat selektif memperhitungkan segala aspek. Satu barang saja begitu, apalagi makhluk hidup bernama pasangan jiwa. Tapi satu hal yang ingin kugarisbawahi, ketika menemukan yang click, rasanya tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan ia menjadi bagian hidup saya. Too picky yang picky, bukan?
Ya, memang susah jadi orang rumit, saya kadang takjub, bagaimana history microchip otak saya bisa sebegini unik. Well, too picky, I must admit that sometimes it bother me enough!

Wednesday, July 31, 2013

Kebetulan Yang Disengaja!


Aku, #MonMon, dan #Uhuy dengan sebuah hotel yang mengiriskannya..

Perempuan itu bercerita bahwa ia sedang ada agenda kantor di sebuah hotel lumayan terkenal. Kebetulannya, aku pernah menempati salah satu kamar di hotel tersebut. Hubungannya dengan MonMon, hotel itu menjadi saksi bisu ketika lututku masih terasa lemas akan 'kejadian' itu padahal dua hari telah berselang.

Ruang kamar hotel tersebut menyaksikan bagaimana aku sembunyi-sembunyi menenggelamkan suara demi tidak mengganggu teman sekamarku, meneduhkan keriuhan hati yang masih bereuforia. Ritme hati masih menyisakan detakan-detakan riang tiap suara itu melekat di telinga, mengingatkanku akan suara itu ketika malam yang membuat lututku lemas hingga menginjakkan kaki di ibukota.

Dan di hotel yang sama, entah di ruang yang mana, perempuan itu kini sedang menekuni aktivitasnya bersama teman-teman sekerja.

Dan kenapa aku menyebutnya kebetulan yang disengaja, karena memang temanya adalah kebetulan hotel besar itu menjadi irisan antara aku dan MonMon dengan aku dan perempuan itu. Yang membuatnya menjadi sengaja adalah bahwa aku memaksakannya sebagai sesuatu yang kebetulan menyatukan kami, tepatnya menyatu di otakku untuk kuhubung-hubungkan. Dua perempuan yang sukses mengisi hati yang bahkan salah satunya masih punya taji di hati.

Aku mungkin sedang rindu saja, ya merindunya!

Sunday, July 28, 2013

SURUT


Ombak pantai seberapapun elok dan menantangnya, tetap saja ada fase yang dinamakan pasang surut, begitu pula tentangperasaan... Perasaanku maksudnya...

Butuh beberapa waktu untuk kembali dari kabur usai mendengar kabar itu. Kabar yang pada awal tercetusnya membuatku menjadi seseorang yang hidup di kehidupan orang lain. Pura-pura senang, pura-pura menanyakan kabar yang sebenarnya membuatku kabur dan pura-pura bahwa aku tak terluka. Aku akhirnya lelah menghidupi kehidupan orang lain. Dan, tak tau kemana dan bagaimana cara keluarnya...

Aku memilih kompromi. Kabar itu jelas tak bisa diubah, kabur pun tak menyelesaikan masalah. Aku jelas bukan tipe manusia hobi mangkir, meski hati sudah dibuat terjungkir. Hal-hal yang kuyakini (baca: kutakutkan) akan terjadi tentang dampak kabarmu, entah kaburku atau bahkan kaburmu, pilihan yang terakhir inilah yang menguat dan mengakar di benakku. Bahwa akan ada perubahan perilaku, ada sesuatu yang tak akan sama seperti dulu. Dan pastinya kekuatiran itu begitu membuat jaring bayang-bayang semu yang mencecoki otakku dengan sesuatu bernama kehilangan akan sesuatu yang sejak awal memang tak akan kumiliki.

Namun, di lain sisi, aku juga mengenal diriku. Ketika kekuatiran itu mencuat, aku juga membangun benteng yang kusebut sebagai realita. Dan seperti yang kubilang di awal bahwa aku begitu mengenal diriku, ketika kekuatiran itu menjadi tak bertaji, maka begitulah aku mengenal diriku luar dalam.

Kadang aku merasa aku seperti ombak, akan mengalami pasang dan surut bahkan dalam ritme yang tak terduga. Itulah yang menjadi efek kabar bikin kabur tentang perempuan itu. Perasaanku yang kemudian menyurut dampak kian berseminya realita. Penyebabnya tentu bukan karena aku kalah atau ia yang menjengkalkan galah. Tak ada yang berbeda dari kami. Ia masih perempuan gengsian yang menungguku mengulurkan kata lalu ia akan mengalirkan cerita. Pun tentang makna perempuan itu dalam keseharianku, ia tetap menjadi sumbangsih terbesar yang menjadi alasan bibirku membentang luas oleh canda dan ucapan tak 'penting'nya.

Lalu, apa yang surut? Keinginanku, apa yang kuharapkan darinya. Bahwa ia -mungkin- tak akan lagi utama. Realita itu semacam ulat yang ketika membuat lubang di daun ia tak akan terlihat wujudnya, hanya bolong-bolong tak elok di mata yang bisa kau tuai sembari menyalahkan si ulat, yang bahkan -mungkin- sudah berpindah daun atau pohon. Aku tak nampak menjauh, tapi keinginanku akannya sudah tak lagi se-bergairah dulu.

Sekali lagi bukan hendak melemparkan pemikiran 'ini salah siapa?', ya kembali aku tak akan berkelit ini hanya soal bagaimana aku memahami diriku sendiri. Maka surut ini bukan berarti mengakhiri, aku sedang memberi jeda nafas bagi kekuatiranku dan tetap menikmati canda tawamu di batas yang kuingini dan mampu kutangani.

Percaya, bahwa tak akan ada yang berubah dari kesederhanaan keseharian keterbatasan aku dengan perempuan itu. Hand in hand, bukan sesuatu yang tertulis baku, ada kalanya ia menyematkan celah kecil untuk masing-masing kami menikmati dunia kami sendiri.

Aku tak menunggu ombak kembali pasang, kadang laut juga dinantikan keindahannya ketika air-air itu tak berkejaran satu sama lain. Ia akan tampak tenang membiarkan angin bersuara, pun begitulah aku saat ini... Membiarkan air kadang hanya membasahi ujung kakiku, tak menenggelamkan bawahan kain yang kupakai untuk menyatu dengan hantaman lekukan ombak.

Aku sedang menikmati surut!

Friday, July 26, 2013

Label, Mendadak Super Penting!


Ada seorang perempuan yang akhir-akhir ini menarik perhatianku. Bukan cuma wajahnya, tetapi lebih spesifik isi kepalanya. Sudah rahasia umum kalau aku memang cenderung akan langsung nyala radarnya ketika bertemu dengan orang-orang berbakat dan cerdas. Begitu juga dengan perempuan ini...

Awalnya aku terkesan dengan beberapa hasil bidikan dan sensitifitas gambar karyanya. Ya, aku memujinya. Tau sendiri kan aku hampir tak pernah memuji orang kecuali aku memang benar-benar impressed dengan karya yang artinya non-fisik dari seseorang.

Lalu muncullah interaksi-interaksi kecil itu.. Dan kupikir merupakan awalan yang bagus. Dan aku kemudian juga tertarik pada satu hal... Label!

Andro atau femme sih? Aku memang hanya bertanya-tanya sendiri. Secara penampilan ia berubah-ubah tapi cenderung androgini. Tapi kalau mendalami isi kepalanya, aku malah berpikir ia buci inside (dan parahnya aku sering jatuh hati dengan perempuan yang punya prosesor begini). Tapi pertanyaanku yang paling besar adalah soal Label-nya! Iya, label, pasti ngga percaya kan? Aku juga bukan tipe mengkotak-kotakkan orang, aku paling anti ama yang namanya pelabelan. Tapi bukan berarti aku sedang menjilat ludahku sendiri. Aku hanya curious to know!

Terserah mau disebut apa, namun tetap tidak akan mengalahkan rasa penasaranku akan label apa yang ia akui sebagai stempel yang melekat atas pribadi, perilaku, pemikiran dan penampilannya.

But believe me, kian penasaran kian tak menemukan jawab. Metode yang kugunakan boleh dibilang baru, aku memang penasaran tapi aku mencari diam-diam meski menemui kesia-siaan. Malah parahnya, ada jeda yang kian lama kian panjang. Entah bagaimana dan apa pemicunya. Perempuan itu masih menyisakan tanda tanyaku tentang labelnya. Satu dua kali dari yang terbaca tentangnya, ia tak seperti yang kukira. Label menjadi tak penting dalam dunianya dan label yang awalnya juga menjadi maha penting untuk tersurat bukan hanya tersirat yang kadang masih melintasi benakku kini sedikit demi sedikit terkuak.. Bukan tentang penjabaran apa labelnya, tetapi bahwa label menjadi super tak penting!

Ia hanyalah ia yang kadang androgin kadang feminin bahkan tak jarang memakai asesoris maskulin. Ia adalah ia yang menyukai kerumitan daripada kemudahan. Pun ia ya ia yang bahkan dengan label maha penting itu tak pernah bisa digunakan untuk mendeskripsikannya dalam satu kotak tertentu. Ia akan menjadi ia yang akan senang bersekutu dengan misteri yang bukan sengaja ia ciptakan, namun sudah mendarah daging dalam aliran hidupnya. So, label, hell ya, I don't need it as long as I keep straight forward for what's the main purpose since beginning...

Are you femme, androgin or perhaps bisexual, got no business done with that stuffs! Sejak bingkai moment dan temali kata cerita telah membuatku jatuh untuk mencinta...

Tuesday, July 23, 2013

Talking with Stranger!


Kepalaku sudah mulai terasa berat sejak kemarin. Dan malamnya adalah puncak kepenatan yang tak bisa kutanggung sendiri. Ya, aku harus membaginya! Tapi dengan siapa? Itu pertanyaan berikutnya...

Konselor. Beberapa waktu lalu ketika galau oleh asmara, aku merasa aku perlu bertemu dengan orang berprofesi tsb. Namun urung karena aku sebenarnya sudah tau pemetaan masalah dan bagaimana menyelesaikannya, hanya perlu disiplin melakoni tahap recovery yang kadang tak kuikuti dan harus selalu memulai dari awal lagi.

Itu soal asmara, tapi kali ini bukan tentang hati, meski aku butuh orang dengan profesi yang sama. Dan kebingungan yang sama.. Mendapatkan orang yang bisa dipercaya dan tak akan ember ke orang lain atas segala ceritamu, aku sangat tidak percaya orang itu ada dalam lingkaran pertemananku. Konselor yang juga menjadi teman sejaringan bagiku rentan menyimpan kerahasiaan, meski punya kode etik bla bla bla. Daripada ragu, aku memutuskan tak menggunakan jalan itu.

Talking with stranger. Stranger bukan dalam artian orang yang sama sekali asing. Ia kukenal. Tak dekat, tak jauh. Ia tau orang-orang yang kuceritakan tapi tak pernah bersentuhan langsung. Kupikir ia akan cukup obyektif, karena aku menghindari subyektifitas. Kepala ini sudah tak kuat mengelola sendiri. Dulu-dulu, aku memang tak pernah membagi butiran-butiran masalah yang mengaliri syaraf-syaraf otak, tapi sejak menyesap makna sisterhood aku mulai mencoba membuka diri.

2,5 hours like 10 minutes. Waktu seakan mengalami percepatan, tak berasa lama. Ada kelegaan menyeruak. Kepalaku kemudian tak lagi begitu berat. Bibirku sudah mulai bisa sumringah. Problemanya sih belum terselesaikan, bahkan keputusan yang mungkin kuambil walau terealisasi aku juga belum tahu pasti akan benar tidaknya nanti ke depan. It's not about the decisions, its just about to share and believing someone else to hear your problems. And also objectivities!

Saturday, July 20, 2013

Roti Cane yang Satukan Kita


Puasa kali ini menurutku adalah puasa yang paling gak berasa puasa. Suasananya sih suasana puasa, gak makan gak minum dengan aktivitas yang sama seperti keseharian, tapi jadi gak berasa puasa karena gak berasa haus gak laper. Padahal malem juga kagak saur. Belom lagi kagak bolong-bolong. Kalau soal kagak saur mah emang dah kebiasaan begitu sepanjang nge-kost. Nah kalau yang gak bolong-bolong nih gak tau kenapa jarang banget bolong, meski kebiasaan sih jedanya emang 3-4 bulan sekali, tapi kalau pas puasa kayaknya jarang banget mau nongol.

Dan lain saur lain juga buka puasanya. Biasanya emang akan lapar mata, beli banyak menu, dan pas buka malah gak kemakan karena kekenyangan. Untuk kali ini diluar kebiasaan! Gak ada persiapan buka dan sering bingung mau makan apa. Bukannya bikin stock makanan, ini malah last minute belum beli apapun karena bingung mau makan apa. Dan yang bikin parah, makan cuma sekali habis itu gak makan apa-apa lagi, padahal biasanya jam 10 malem udah krucuk-krucuk lagi nih perut tapi hasrat makannya udah gak ada plus dilanda ngantuk total, bangun tengah malam dan bengong. Itulah kebiasaan baru puasa tahun ini.

Bicara soal kebingungan nyari menu buka, begitu yang kualami hari ini. Menuju UGM, seperti biasa menyajikan banyak variasi menu. Eh nyampe di sepanjang jalan yang di kanan kirinya orang jualan semua, saya malah makin galau mana yang kupilih. Ketika teman barengku menghentikan motor di penjual es doger langganan kami, mataku menangkap tulisan Roti Cane. Jadi kepengen tapi keinget, roti cane di kota ini harganya agak selangit dan rasanya di bawah standar. Tapi kayaknya musti dicoba..

Kalau gak enak artinya tidak untuk diulang. Aku hanya membeli roti Cane tanpa menu tambahan lain. Aku punya tongseng. Tak seberapa match tapi lagi bosen makan nasi juga. Dan harganya benar-benar 2x lipat harga di kampungku. Pun begitu juga rasanya tak istimewa. Namun kemudian ada yang membuatnya menjadi istimewa...

Aku lupa proiog obrolannya tentang apa.. Sepertinya tentang mengajaknya berbuka bersama.. Ya, buka puasa bareng khayalan, dia disana, aku disini.. Karena begitulah caraku memperpendek jarak, ia tau itu dan makanya tak sungkan menyambut obrolan khayal-khayal ini..

Aku kemudian bercerita tentang berbuka puasa dengan roti cane.. Dan dia bersorak, bagaimana bisa sangat kebetulan karena ia sedang dengan keluarganya makan di rumah makan khas Aceh yang juga menyediakan roti cane.. Perempuan itu menuliskan betapa gurih dan lezat santapannya.. Dan aku cuma sedikit tercengang, iya ini mungkin sekedar kebetulan, tapi kalau kebetulannya kebetulan begini, apa tak ada yang salah dengan kebetulan ini?

Roti cane ini menyatukan kita dalam kebetulan yang bukan satu-satunya.. *mengerling pada Tuhan*

Thursday, July 18, 2013

Hand in Hand


Aku mungkin sering menggaungkan kata ini, Hand in Hand. Aku menemukannya di bio twitter seorang kawan lesbian. Tentang bagaimana pola relasi yang dibangun bersama pasangannya. Dan aku terinspirasi.. Mendefinisikan Hand in Hand mungkin dengan pemaknaanku sendiri, tentang pola relasiku dengan perempuan itu...

Aku sih sebenarnya tak begitu paham konsep hand in hand secara general orang biasa memaknainya seperti apa, namun bagiku Hand in Hand adalah pola yang pas atau cocok untukku. Ia tak hadir dalam bentuk ikatan atau tuntutan untuk dihadirkan nyata, bahkan virtual pun tak kentara. Jika diandaikan, semuanya akan kelihatan kalau Tuhan mungkin punya sifat ngember ke orang-orang. Namun beruntung di 99 nama Tuhan tak ada sifat itu, jadi mau virtual pun, sang pemberi hidup itu aku yakin juga ikut senyum-senyum akan kesederhanaan canda kami di ruang terbatas atas nama teknologi bernama Blakberi Messenger dan Whatsapp.

Hand in Hand dalam definisiku adalah proses saling bertumbuh, bercerita, berbagi dan membagi takdir, yang pada intinya hanya ingin satu dengan yang lain menjadi bertambah maju, saling support, mengingatkan, menegur, dialog dan debat namun bukan untuk saling hujat. Karena kami peduli! Apa yang tak kami sepakati bukan lantas jadi acuan kesempatan membabatnya, tapi mengisi yang tak terisi di salah satunya.

Dan jika kau bertanya bagaimana dan dimana ujungnya akan bermuara? Aku akan dengan cepat angkat bahu. Bukan aku tak peduli dengan anggapan kesia-siaan yang diteriakkan orang luar yang memandang, aku hanya peduli jika kau bisa menikmati menjadi lebih baik dalam segala keterbatasan yang tak terungkap, maka kupikir cukup tak perlu tersingkap, karena hanya aku dan perempuan itu sudah lebih dari cukup dibilang lengkap!

Hand in Hand dalam imajinasi benakku adalah tanganku dan tangannya bertautan tanpa perlu bertanya, menanyai kami hendak kemana.

Berayun dan mengayunkan tautan jemari, dalam dimensi ruang, waktu dan segala hal yang dilakukan tak bersama-sama...

Wednesday, July 17, 2013

Sama-Sama Bungsu!


Aku awalnya tak menyadari hal ini. Aku mungkin percaya karakter berdasar astrologi, tapi kalau mengenali karakter berdasarkan posisi kelahiran keberapa dari berapa bersaudara aku tak begitu memperhatikan. Namun ketika kerap mempunyai isi kepala dan perilaku serta karakter yang sama padahal tidak dibawah naungan astrologi yang sama, aku mulai menyerempetkannya pada hal tsb; bahwa kami adalah sama-sama anak bungsu. Terlepas mungkin aku adalah anak bungsu coret, karena aku sebenarnya anak tengah, dulu pernah punya adik tetapi meninggal dunia ketika ia masih bayi. Jadi aku kemudian dikukuhkan sebagai si Bungsu, bukan?

Sedang ia, dari ceritanya, jelas kalau ia paling bontot dari banyak saudara. Ia pernah bercerita tentang situasi keluarganya, kisah kakaknya, kemelut kesamaan hidupnya dengan salah satu kakaknya, ya si bungsu ini cukup banyak terbuka padaku yang tergolong 'baru' dikenalnya.

Balik lagi ke topik kenapa aku mengangkat soal tema bungsu, seperti di awal tadi kubilang, ada banyak kesamaan karena ke-bungsu-an kami. Salah satu yang paling menonjol adalah sama-sama tak mau kalah, sama-sama tukang ngerjain dan sama-sama baik hati tentunya! Haha ego kami mungkin sama-sama tinggi, tapi soal hati kami tak pernah pamrih, apalagi untuk orang-orang terkasih. You can count on us on that!

Dan kebanyakan, sekali lagi kugarisbawahi sebagai sebuah mayoritas, bahwa bungsu itu ngrejekeni alias bawa berkah di keluarga secara finansial. Bungsu itu akan ringan tangan dan lebih mikir daripada anak-anak posisi diatasnya. Bukan ingin nyombong, tapi aku melihat banyak bungsu yang kutemui seperti itu, termasuk yang nulis ini tentunya!

Sama-sama bungsu, aku sendiri belum tau akan berdampak baik, buruk atau sebenarnya tak ada dampak, tapi dengan berbagai kesamaan karena sama-sama bungsu, belum banyak terlihat dampaknya kecuali kadang aku merasa gemas kenapa ia tak mau kalah sama sekali. Mungkin ia juga berasumsi sama, wallahu alam.

Efeknya sih masih positif sampe detik ini. Dan semoga karena ke-bungsu-an ini proses hand in hand kami berjalan lebih baik...

Tuesday, July 16, 2013

Mereview Takdir


Memutar awal ceritaku dengan perempuan itu selalu menyenangkan. Hal yang tak kuduga akan terjadi dan menetap lama dalam garis hidupku ini dimulai dengan hal-hal tak menyenangkan yang kemudian bergulir 180 derajat berbeda.

Bagaimana ketidaksenanganku pada sosok annoying yang banyak permintaan, banyak prosedur dan ribet banget pokoknya nih orang sampai-sampai aku menciptakan sosoknya dalam imajinasiku. Tak seberapa tinggi, chubby dan rambutnya ikal sebahu. Dan belakangan sosok itu mirip atasannya haha aku ngakak kalau tau fakta itu!

Namun hal yang membuat kisah ini berlangsung hingga sekarang adalah pesan singkat nyasar darinya dan kepura-puraan lupanya keesokan harinya. Nih cewek jual mahalnya minta ampun deh, sampai sekarang sih, meski hatinya baik, tapi gayanya itu lho gak murahan obralan, high class style yang justru kadang nyebelin. Karena pura-pura gak butuh tapi cari perhatian. Ngegemesin pokoknya waktu itu!

Review takdirku tentang kami, tetap aku meyakini bahwa tak ada yang kebetulan dalam hidup ini meski kami kebetulan dipertemukan. Entah makna apa dalam takdir kami, aku meyakini selama rentang waktu dan memori yang terlewati kini akan menorehkan sesuatu yang positif di lembar hidupku.

Tuhan selalu punya cerita dan aku selalu suka mereview-nya...