Sunday, September 29, 2013
Refleksi ; Ngaca
Berkaca, kalau diartikan dalam arti sebenarnya, aktivitas ini jarang sekali kulakoni. Melihat ke kaca hanya kulakukan ketika merapikan rambut jabrik atau mencoba wardrobe baru, malahan aku menggunakan medium cermin untuk mengetahui bentuk wajahku ketika berekspresi. Mana yang membuat wajah keliatan lebih ganteng, haha OOT narsis!
Balik soal ngaca, yang hendak kutuang tentu saja makna kiasannya yang terhubung dengan irisan takdir bersama seseorang yang memasuki hidupku akhir-akhir ini. Aku mendengar namanya lumayan lama, tetapi baru menemukan sosoknya di kegiatan yang diselenggarakan kantorku sekitar akhir september ini. Komentar awalku adalah perempuan ceking ini diluar ekspektasi imajinasiku tentang sosoknya. Aku mungkin pernah bercerita bahwa aku punya hobi mengimajinasikan sosok orang dari namanya. Entah sudah tak terhitung berapa orang, namun perempuan tak terganti dan perempuan mirip artis itu adalah salah duanya, dan perempuan ceking ini menjadi salah tiganya. Dan seperti hasil akhir rekaan sosok dari sebuah nama seseorang yang selalu berakhir diluar yang diharapkan, maka begitu juga adanya perempuan ini.
Aku mengimajinasikannya sebagai seorang yang berperawakan tinggi besar dengan bobot lumayan berisi, potongan rambut setengah ikal sebahu. Aku tak mengimaji karakternya, hanya fisiknya semata. Maka, ketika pertama kali menjabat tangannya malam itu, aku tertawa dalam hati. Salah total -lagi-. Tapi jangan mengira aku kapok sudah tak terhitung salah imajinasi atas nama atau suara orang yang belum pernah bertemu. Bagiku, imajinasi ini seperti sebuah hobi yang kuyakini tak akan berhenti meski sudah salah berulang kali.
Awalnya, tak ada yang istimewa. Telingaku memang sudah banyak dicekoki tentangnya, tetapi tentu saja telingaku juga ada filternya. Seberapapun informasi yang masuk kalau aku tak melihat, mendengar dan merasai sendiri, semuanya buatku belum terbukti validitasnya. Maka aku mulai mencerna perempuan ceking ini…
Sebuah refleksi awal yang kusebut sebagai berkaca itu aku melihat ceritanya sama denganku. Ada beberapa irisan yang sama, seperti soal keteguhan dan maskulinitas pikiran tentang bagaimana bertahan dan mempertahankan hidup, juga tentang semangat serta mengatur alur hidup. Aku memaknainya sebagai sebuah proses berkaca dan sebuah proses yang menciptakan energi baru yang kalau boleh dibilang semangat yang mungkin bukan baru tetapi redup dan kini menyala kembali. Aku menemukan semangat itu dari tumpukan masa lalu, kenangan, luka-luka, kecewa dan sekaligus perhentian-perhentian waktu yang melumpuhkanku. Aku percaya mengubah sesuatu yang mengakar di lapisan microchip otak di alam bawah sadar bukan hal yang akan instan, namun menemukan penyemangat yang entah aku sendiri belum terlalu membiarkannya masuk di kehidupanku bukan barang tentu kebetulan terjadi, bukan? Maka aku tak membiarkan perempuan ceking ini berdiri di depan pintu terlalu lama. Aku sedang menyilahkannya menyambangi ruangan-ruangan yang kunamai otak, hati, mulut, pikiran, benak, rasa dan bagian lain yang tak terhitung tetapi pastinya adalah aku seutuhnya.
Dan proses berkaca dalam artian inilah yang kugemari karena di setiap proses itu aku seperti tengah memegang korek api yang akan tersulut bukan untuk terbakar dan menjadi abu tetapi berkobar menyalakan simpul yang mati suri.
Ya, aku sedang menata pohon yang mengering dengan dedaunan baru bernama harapan…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment