HARI KEMARIN
Meski waktu datang
Dan berlalu sampai ku tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanya kau yang berada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti...
***
Waktu memang telah mengaburkanku akan sosokmu dari relung terdalamku
Tapi terima kasih...
Meski hari itu hanya berbaris kalimat tanpa pernah lagi bergumul dalam ruang dan waktu
Aku kan tetap mengingat semua tentangmu hingga bongkahan terkecil yang tak tercapai benakku
***
BUKAN HARI KEMARIN
Resah jiwaku menepi
Mengingat semua yang terlewati
Saat kau masih ada disisi
Mendekapku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku disini
Coba tuk lupakan
Bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan
Perih yang kurasakan
Walau ku tau
Ku masih mendambamu
Lihatlah aku disini
Melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu aku lemah dan tiada berarti
***
Just sick and tired!
Damn!!!
But I'm sure I will pass it!
***
-NOT ANOTHER- HARI KEMARIN
Untuk seseorang yang begitu menyayangku dengan caranya sendiri menyayangku, MAAF, jika selama ini aku tak sempurna dalam kesempurnaan rasa sayangmu padaku. TERIMA KASIH telah begitu banyak memberi makna, arti serta caci maki melebur mewarnai hari. Jikalau hati bisa tuk dikompromi...
Friday, September 26, 2008
The Best Way 2 Forget SomeOne:
1. Hapus nomor dan smua smsnya dari hape. Ini menurutku langkah paling ampuh! Beberapa waktu lalu langkah ini menunjukkan hasil, tapi ketika orang tersebut memasuki hidupku kembali, perasaan itu juga bersemi kembali. Dan jika kini harus kutebas habis, maka tak akan kusisakan meski hanya sebongkah akar kering yang mencoba untuk tumbuh apalagi bermimpi tuk berbuah.
2. Ingatlah kejelekan-kejelekan yang pernah dilakukannya pada kita. Langkah ini kurang sreg untuk dilakukan. Dahulu kala, aku pernah mempraktekkannya, eh malah otakku tak berpindah sedetik pun untuk tak memikirkannya meski berbulan-bulan tlah berselang.
3. Kalo lagi inget ya inget aja, kalo nggak inget, ya sukur! Nah, yang ini baru bener kayaknya! Karna justru lebih baik jika otak tak diprogram untuk tak mengingat daripada dipaksa melupakan malah jadi keinget terus-terusan.
4. Mencari seseorang yang baru. Untuk saat sekarang hal ini tak akan kulakukan karna aku pernah "trauma" dengan terlalu banyak perempuan silih berganti memasuki hidupku, namun tak membuatku melupakan seseorang.
5. Fokus pada sesuatu yang terbengkalai akibat kelebihan waktu untuk memikirkan orang yang sudah tidak penting tersebut. Yah, maybe its the best way that I should practice now! Bahkan cerber yang siap edit pun tak selesai-selesai gara-gara terlalu sibuk ngurusin hati. Upps... Nggak boleh nyalahin orang atas ketidakdisiplinan diri sendiri.
6. Hmm ... Apa lagi ya? Mungkin ada yang ingin menambahkan, silahkan berkomentar sesuai pengalaman masing-masing. Mungkin bisa jadi tambah ilmu juga buatku!
2. Ingatlah kejelekan-kejelekan yang pernah dilakukannya pada kita. Langkah ini kurang sreg untuk dilakukan. Dahulu kala, aku pernah mempraktekkannya, eh malah otakku tak berpindah sedetik pun untuk tak memikirkannya meski berbulan-bulan tlah berselang.
3. Kalo lagi inget ya inget aja, kalo nggak inget, ya sukur! Nah, yang ini baru bener kayaknya! Karna justru lebih baik jika otak tak diprogram untuk tak mengingat daripada dipaksa melupakan malah jadi keinget terus-terusan.
4. Mencari seseorang yang baru. Untuk saat sekarang hal ini tak akan kulakukan karna aku pernah "trauma" dengan terlalu banyak perempuan silih berganti memasuki hidupku, namun tak membuatku melupakan seseorang.
5. Fokus pada sesuatu yang terbengkalai akibat kelebihan waktu untuk memikirkan orang yang sudah tidak penting tersebut. Yah, maybe its the best way that I should practice now! Bahkan cerber yang siap edit pun tak selesai-selesai gara-gara terlalu sibuk ngurusin hati. Upps... Nggak boleh nyalahin orang atas ketidakdisiplinan diri sendiri.
6. Hmm ... Apa lagi ya? Mungkin ada yang ingin menambahkan, silahkan berkomentar sesuai pengalaman masing-masing. Mungkin bisa jadi tambah ilmu juga buatku!
Wednesday, September 24, 2008
Peri Yang Keriput
Just sharing...
Ketika mampir ke blogku ini, ada seorang teman yang sangat terganggu dengan gambar seorang peri yang tengah jongkok bercengkrama dengan sang bulan. Hingga lama kelamaan ketika ia keseringan mampir, ia mengajukan protes padaku.
"Tolong dong, gambar perinya dihapus!"
Alisku mengernyit. "Emang kenapa?"
"Lihat saja gambarnya, kalo bulannya sih oke, meski agak ganjil juga sih bulan sabit letaknya kayak huruf C begitu, tapi mana ada peri telanjang? Udah gitu keriput lagi!"
Dalam hati aku tertawa geli. Aku kira ia keberatan karena gambarnya agak porno gitu, ternyata ia komplain soal kekeriputan sang peri.
"Ya namanya juga seni!" sahutku. "Lagian kayaknya gambarnya unik deh!"
"Iya, emang unik, tapi perinya itu lho, nggak banget!! Mending cari gambar yang kayak background Perempuan Dalam Kata-Kata itu lebih bagus!"
"Lha wong aku suka gambar itu, terus piye?"
"Dihapus aja!" keukeuhnya.
Hmm... Sepertinya hanya masalah selera. Aniwei, ada yang sependapat lagi kah dengan gambar Peri yang Keriput tersebut?
Ketika mampir ke blogku ini, ada seorang teman yang sangat terganggu dengan gambar seorang peri yang tengah jongkok bercengkrama dengan sang bulan. Hingga lama kelamaan ketika ia keseringan mampir, ia mengajukan protes padaku.
"Tolong dong, gambar perinya dihapus!"
Alisku mengernyit. "Emang kenapa?"
"Lihat saja gambarnya, kalo bulannya sih oke, meski agak ganjil juga sih bulan sabit letaknya kayak huruf C begitu, tapi mana ada peri telanjang? Udah gitu keriput lagi!"
Dalam hati aku tertawa geli. Aku kira ia keberatan karena gambarnya agak porno gitu, ternyata ia komplain soal kekeriputan sang peri.
"Ya namanya juga seni!" sahutku. "Lagian kayaknya gambarnya unik deh!"
"Iya, emang unik, tapi perinya itu lho, nggak banget!! Mending cari gambar yang kayak background Perempuan Dalam Kata-Kata itu lebih bagus!"
"Lha wong aku suka gambar itu, terus piye?"
"Dihapus aja!" keukeuhnya.
Hmm... Sepertinya hanya masalah selera. Aniwei, ada yang sependapat lagi kah dengan gambar Peri yang Keriput tersebut?
Cari GF Kayak Kejar Setoran!
Hidup tanpa cinta
Bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
***
Aku jadi keinget ama lagu Oma Irama diatas ngeliat "fenomena" atau tren belok kah yang tengah dilakukan beberapa orang yang kukenal akhir-akhir ini.
Nyari GF kayak angkot kejar setoran. Kebut sana sini gak perduliin perasaan para penumpang yang jantungan atau pun para pengendara lain yang juga dag dig dug ser ngeliat keganasan si pengejar setoran di jalanan.
Namun apapun dalih latar belakang penyebabnya, kurasa menemukan seseorang yang tepat buat kita nggak bisa semudah kayak angkot kejar setoran. Beredar sana sini. Tebar pesona sana sini. Conference dari subuh ampe subuh lagi. Yah, meski tidak munafik aku pernah terjebak dalam kondisi tersebut dahulu kala. Dan rasanya... Tidak mengenakkan!!!
Mungkin pada awalnya IYA hal tersebut bisa SEDIKIT mengalihkan perasaan patah hati DAHSYAT yang menderaku waktu itu, namun selebihnya malah makin bikin masalah baru sementara luka hati ini belum sembuh.
Bagaimana bisa dibilang mengenakkan jika dalam waktu bersamaan aku mengenal kadang hampir lima perempuan atau bahkan lebih. Bahkan saking edannya, aku nggak hafal profil mereka satu persatu, juga tak ingat apa-apa yang pernah atau belum kuceritakan pada mereka. Dan jadinya... Sangat rancu! Malah sampai kelewatannya aku mencatat profil mereka di komputer agar tak terjadi kesalahan informasi. Itu yang di dunia maya. Belum lagi perempuan-perempuan yang silih berganti kutemui. Namun aku menarik sisi positif dari semua itu. Mengenal dan memperkaya karakter
perempuan dari beragam usia, pemikiran dan tingkah polah. Aku merasa beruntung melalui hariku dengan kehadiran mereka, meski tak jarang otakku dibuat mumet, jengah bercampur lelah karna tak menemukan apa yang dicari. Dan jika ditanya apa aku ingin mengulangnya, jawabannya TIDAK, TERIMA KASIH!
Sama seperti ketika kini kulihat perempuan yang beberapa waktu lalu tengah kujajaki pribadinya menunjukkan perangai yang sama denganku tempo doeloe. Dibawah tameng ingin menjalin persahabatan, hampir tak ada satu orang perempuan terlewat untuk dihubungi, bahkan dibela-belain ketemu muka meski terbentang jarak lintas propinsi.
Gatelen! Itu sebutan yang diberikan seorang teman atas kelakuannya dan aku sependapat. Kalau untuk
temanku yang satunya, yang menunjukkan gejala perilaku sama dengan perempuan ini, aku masih bisa memaklumi karna memang usianya sama ketika aku dihadapkan pada kondisi serupa dua tahun lalu. Namun untuk perempuan yang istilahnya sudah "berumur" dengan tingkat kematangan dan kemapanan dalam berbagai segi mestinya tak pantas menyandang judul yang kutulis diatas apalagi dengan cara-cara praktis dan sepertinya menghalalkan segala cara.
Apa yang sebenarnya kau cari?
Kedalaman hatimu tak tercapai ketika hendak kuselami kapal hatiku nyaris tenggelam. Oleng oleh ombak menyisakan kegoyahan tak tentu arah. Terkikis pusaran air dan musnah.
Bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
***
Aku jadi keinget ama lagu Oma Irama diatas ngeliat "fenomena" atau tren belok kah yang tengah dilakukan beberapa orang yang kukenal akhir-akhir ini.
Nyari GF kayak angkot kejar setoran. Kebut sana sini gak perduliin perasaan para penumpang yang jantungan atau pun para pengendara lain yang juga dag dig dug ser ngeliat keganasan si pengejar setoran di jalanan.
Namun apapun dalih latar belakang penyebabnya, kurasa menemukan seseorang yang tepat buat kita nggak bisa semudah kayak angkot kejar setoran. Beredar sana sini. Tebar pesona sana sini. Conference dari subuh ampe subuh lagi. Yah, meski tidak munafik aku pernah terjebak dalam kondisi tersebut dahulu kala. Dan rasanya... Tidak mengenakkan!!!
Mungkin pada awalnya IYA hal tersebut bisa SEDIKIT mengalihkan perasaan patah hati DAHSYAT yang menderaku waktu itu, namun selebihnya malah makin bikin masalah baru sementara luka hati ini belum sembuh.
Bagaimana bisa dibilang mengenakkan jika dalam waktu bersamaan aku mengenal kadang hampir lima perempuan atau bahkan lebih. Bahkan saking edannya, aku nggak hafal profil mereka satu persatu, juga tak ingat apa-apa yang pernah atau belum kuceritakan pada mereka. Dan jadinya... Sangat rancu! Malah sampai kelewatannya aku mencatat profil mereka di komputer agar tak terjadi kesalahan informasi. Itu yang di dunia maya. Belum lagi perempuan-perempuan yang silih berganti kutemui. Namun aku menarik sisi positif dari semua itu. Mengenal dan memperkaya karakter
perempuan dari beragam usia, pemikiran dan tingkah polah. Aku merasa beruntung melalui hariku dengan kehadiran mereka, meski tak jarang otakku dibuat mumet, jengah bercampur lelah karna tak menemukan apa yang dicari. Dan jika ditanya apa aku ingin mengulangnya, jawabannya TIDAK, TERIMA KASIH!
Sama seperti ketika kini kulihat perempuan yang beberapa waktu lalu tengah kujajaki pribadinya menunjukkan perangai yang sama denganku tempo doeloe. Dibawah tameng ingin menjalin persahabatan, hampir tak ada satu orang perempuan terlewat untuk dihubungi, bahkan dibela-belain ketemu muka meski terbentang jarak lintas propinsi.
Gatelen! Itu sebutan yang diberikan seorang teman atas kelakuannya dan aku sependapat. Kalau untuk
temanku yang satunya, yang menunjukkan gejala perilaku sama dengan perempuan ini, aku masih bisa memaklumi karna memang usianya sama ketika aku dihadapkan pada kondisi serupa dua tahun lalu. Namun untuk perempuan yang istilahnya sudah "berumur" dengan tingkat kematangan dan kemapanan dalam berbagai segi mestinya tak pantas menyandang judul yang kutulis diatas apalagi dengan cara-cara praktis dan sepertinya menghalalkan segala cara.
Apa yang sebenarnya kau cari?
Kedalaman hatimu tak tercapai ketika hendak kuselami kapal hatiku nyaris tenggelam. Oleng oleh ombak menyisakan kegoyahan tak tentu arah. Terkikis pusaran air dan musnah.
Monday, September 22, 2008
INTERMEZZO
Wahai perempuan yang sudah tak muda
Cobalah untuk berkaca
Mengerti tentang etika
Pahami tata cara
Dan tolong jaga bicara
Apa yang keluar dari mulutmu memang hanya kata-kata
Manis nan menggoda
Mungkin tlah banyak perempuan diluar sana
Yang terhipnotis wangi nafasnya
Tapi tolonglah sekali saja
Lisan tak untuk srigala berbulu domba
Ingat slalu pada akhirnya
Hati tak untuk dipagari kalimat di bibir saja
***
Plin-plan...
Seiring waktu berjalan
Asaku mampat tertelan
Menguap diantara lembaran
Kata-kata gumpalan awan
Merpati tak pernah ingkar janji
Sedang kau adalah merpati yang ... Nggak janji deh!!!
Bukan karna ku cemburu
Bukan karna kuinginkanmu
Bukan karna kekanakanku
Bukan karna kelabilan emosiku
Hanya tentang senyumku
Melihat tingkahmu...
Semu...
Itulah kamu
Dan apa yang kini kurasakan tentangmu...
Cobalah untuk berkaca
Mengerti tentang etika
Pahami tata cara
Dan tolong jaga bicara
Apa yang keluar dari mulutmu memang hanya kata-kata
Manis nan menggoda
Mungkin tlah banyak perempuan diluar sana
Yang terhipnotis wangi nafasnya
Tapi tolonglah sekali saja
Lisan tak untuk srigala berbulu domba
Ingat slalu pada akhirnya
Hati tak untuk dipagari kalimat di bibir saja
***
Plin-plan...
Seiring waktu berjalan
Asaku mampat tertelan
Menguap diantara lembaran
Kata-kata gumpalan awan
Merpati tak pernah ingkar janji
Sedang kau adalah merpati yang ... Nggak janji deh!!!
Bukan karna ku cemburu
Bukan karna kuinginkanmu
Bukan karna kekanakanku
Bukan karna kelabilan emosiku
Hanya tentang senyumku
Melihat tingkahmu...
Semu...
Itulah kamu
Dan apa yang kini kurasakan tentangmu...
Saturday, September 20, 2008
EVALUATION
Kusadari kembali
Ternyata semua khayal diri
Kini ku tau tak mungkin ada waktu
Untuk mencintaimu lagi
***
Sayup-sayup kudengar bait lagu mellow itu merasuk lembut gendang telingaku. Membawa pesan pada ujung-ujung sarafku untuk mereka ulang segumpal pemikiran yang memenuhi otakku sejak semalam.
Aku tak sedang meratap. Aku juga tak sedang merana atau bahkan patah hati. Mendengar lagu itu sebaris senyuman malahan merekah di garis bibirku. Sebuah pemahaman dan sekali lagi pembelajaran untuk mengkaji serta menggali karakter perempuan.
Satu lagi perempuan memasuki hidupku. Pun berujung tak jauh beda dari sebelum-sebelumnya. Namun kali ini kurasa sedikit berbeda dengan banyak kesamaan dari yang terakhir kutemui.
***
KEDAHSYATAN LISAN
Lisan terucap lewat mulut. Organ yang paling sering digunakan bagi kebanyakan perempuan. Mengobrol, ngegosip dll, yang intinya cuma mengukuhkan bahwasanya apa yang keluar dari mulut tersebut kadang berdampak dahsyat bagi seseorang. Lidah tak bertulang, begitu peribahasanya dan memang seperti itulah adanya.
Aku tidak mengatakan aku adalah korban dan kau atau orang lain pelakunya, tapi adalah kenyataan yang AGAK menyakitkan ketika orang yang istimewa bagi kita ternyata mencari tau bukan dengan bertanya langsung pada orang yang bersangkutan, namun menginterogasi orang yang mendapat informasi hanya dengan ketegasan KATA SI INI atau KATA SI ITU. Miris memang, tapi prinsipku, aku tak hidup dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku. Kasarnya, ANJING menggonggong, ALVI berlalu hehehe...
Dan satu lagi tentang kedahsyatan mulut adalah dari mulut itulah aku mendapati informasi semuanya tentangmu tanpa kucari tau. Mulut itu datang sendiri. Mewejangkanku satu demi satu pernyataan dan kenyataan yang tak pernah aku duga karena sedikitpun tak kucari tau dari orang lain dan hanya bersumber dari mulutmu saja.
Sebuah wacana yang makin membelalakkan mataku ditengah kesadaran penuhku ketika berhenti untuk mencoba kembali bergesekan dengan emosi perempuan.
Lisan memang hanya meleburkan kata-kata. Tapi ketika tak dijaga, akan menguap tanpa makna.
Aku teringat pada ucapan seseorang beberapa waktu lalu, bahwa mengenal, mengetahui dan memahami karakter seseorang tak seperti membaca buku, bahkan setebal bantal sekalipun. Butuh waktu dan proses yang pada akhirnya membuatku sependapat bahwa karakter seseorang memang lebih tebal dari sekedar bantal tidurku.
***
PANDAI MENEMPATKAN DIRI
Balik lagi pada konteks mengenal orang-orang baru, aku juga teringat seseorang pernah berkata bahwa ia datang dan menjadi bagian dari hidupku disaat yang tak tepat. Bukan karena timingnya, melainkan cara ia menempatkan dirinya sebagai orang baru. Aku memahaminya. Namun, baru beberapa hari, pemahamanku akannya malah berbanding terbalik antara ucapan yang jelas-jelas dikatakannya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya dengan perilaku yang ia perbuat. Sangat ironis.
***
Aku beranjak dari hidupmu
Kini kusadari didalam sepi
Meski kupedih, cinta tak ada lagi...
***
KAMUFLASE
Mengaburkan inti masalah dengan mengkambinghitamkan seseorang atau sesuatu hal demi meraih sesuatu yang lain yang tak ku tau apakah itu.
Ibarat merpati yang dilepaskan dari sangkar emas. Terbang menukik kesana kemari melewati awan seakan tak mengindahkan teguran alam. Merayakan kebebasan tanpa empati. Entah apa yang dicari.
Kesimpulannya:
1. Teman hanya akan jadi teman. Tak juga sahabat, apalagi kekasih. Sahabat sejatiku hanya diriku sendiri.
2. Terlalu banyak hal yang direncanakan, maka separuh yang diucapkan sudah tak realistis lagi.
3. Skeptis dan tidak untuk ditiru. Tidak pernah seratus persen percaya seseorang. Dibilang trauma, benar. Tapi lebih tepatnya, waspada.
It's enough, I quit. Sudah cukup tentang hati. Tok tok tok ... palu hakim telah mensyahkan perpisahanku dengan masalah hati. Sudah terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk mencoba menghidupkan kembali hati yang telah lama dibesarkan oleh kalimat AH, AKU BELUM MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT. Sebuah penghiburan, dan entah sampai kapan bertahan. Aku telah terbiasa.
To Be Concluded...
Ternyata semua khayal diri
Kini ku tau tak mungkin ada waktu
Untuk mencintaimu lagi
***
Sayup-sayup kudengar bait lagu mellow itu merasuk lembut gendang telingaku. Membawa pesan pada ujung-ujung sarafku untuk mereka ulang segumpal pemikiran yang memenuhi otakku sejak semalam.
Aku tak sedang meratap. Aku juga tak sedang merana atau bahkan patah hati. Mendengar lagu itu sebaris senyuman malahan merekah di garis bibirku. Sebuah pemahaman dan sekali lagi pembelajaran untuk mengkaji serta menggali karakter perempuan.
Satu lagi perempuan memasuki hidupku. Pun berujung tak jauh beda dari sebelum-sebelumnya. Namun kali ini kurasa sedikit berbeda dengan banyak kesamaan dari yang terakhir kutemui.
***
KEDAHSYATAN LISAN
Lisan terucap lewat mulut. Organ yang paling sering digunakan bagi kebanyakan perempuan. Mengobrol, ngegosip dll, yang intinya cuma mengukuhkan bahwasanya apa yang keluar dari mulut tersebut kadang berdampak dahsyat bagi seseorang. Lidah tak bertulang, begitu peribahasanya dan memang seperti itulah adanya.
Aku tidak mengatakan aku adalah korban dan kau atau orang lain pelakunya, tapi adalah kenyataan yang AGAK menyakitkan ketika orang yang istimewa bagi kita ternyata mencari tau bukan dengan bertanya langsung pada orang yang bersangkutan, namun menginterogasi orang yang mendapat informasi hanya dengan ketegasan KATA SI INI atau KATA SI ITU. Miris memang, tapi prinsipku, aku tak hidup dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku. Kasarnya, ANJING menggonggong, ALVI berlalu hehehe...
Dan satu lagi tentang kedahsyatan mulut adalah dari mulut itulah aku mendapati informasi semuanya tentangmu tanpa kucari tau. Mulut itu datang sendiri. Mewejangkanku satu demi satu pernyataan dan kenyataan yang tak pernah aku duga karena sedikitpun tak kucari tau dari orang lain dan hanya bersumber dari mulutmu saja.
Sebuah wacana yang makin membelalakkan mataku ditengah kesadaran penuhku ketika berhenti untuk mencoba kembali bergesekan dengan emosi perempuan.
Lisan memang hanya meleburkan kata-kata. Tapi ketika tak dijaga, akan menguap tanpa makna.
Aku teringat pada ucapan seseorang beberapa waktu lalu, bahwa mengenal, mengetahui dan memahami karakter seseorang tak seperti membaca buku, bahkan setebal bantal sekalipun. Butuh waktu dan proses yang pada akhirnya membuatku sependapat bahwa karakter seseorang memang lebih tebal dari sekedar bantal tidurku.
***
PANDAI MENEMPATKAN DIRI
Balik lagi pada konteks mengenal orang-orang baru, aku juga teringat seseorang pernah berkata bahwa ia datang dan menjadi bagian dari hidupku disaat yang tak tepat. Bukan karena timingnya, melainkan cara ia menempatkan dirinya sebagai orang baru. Aku memahaminya. Namun, baru beberapa hari, pemahamanku akannya malah berbanding terbalik antara ucapan yang jelas-jelas dikatakannya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya dengan perilaku yang ia perbuat. Sangat ironis.
***
Aku beranjak dari hidupmu
Kini kusadari didalam sepi
Meski kupedih, cinta tak ada lagi...
***
KAMUFLASE
Mengaburkan inti masalah dengan mengkambinghitamkan seseorang atau sesuatu hal demi meraih sesuatu yang lain yang tak ku tau apakah itu.
Ibarat merpati yang dilepaskan dari sangkar emas. Terbang menukik kesana kemari melewati awan seakan tak mengindahkan teguran alam. Merayakan kebebasan tanpa empati. Entah apa yang dicari.
Kesimpulannya:
1. Teman hanya akan jadi teman. Tak juga sahabat, apalagi kekasih. Sahabat sejatiku hanya diriku sendiri.
2. Terlalu banyak hal yang direncanakan, maka separuh yang diucapkan sudah tak realistis lagi.
3. Skeptis dan tidak untuk ditiru. Tidak pernah seratus persen percaya seseorang. Dibilang trauma, benar. Tapi lebih tepatnya, waspada.
It's enough, I quit. Sudah cukup tentang hati. Tok tok tok ... palu hakim telah mensyahkan perpisahanku dengan masalah hati. Sudah terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk mencoba menghidupkan kembali hati yang telah lama dibesarkan oleh kalimat AH, AKU BELUM MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT. Sebuah penghiburan, dan entah sampai kapan bertahan. Aku telah terbiasa.
To Be Concluded...
Wednesday, September 17, 2008
Ibuku Merindumu

Ibu memanggilmu...
Ibu menyebut julukanmu...
Ibu masih merindukanmu...
Meski sudah berapa kali telah kubilang bahwa hubungan kita telah berakhir, tetap saja ibu masih menanyakanmu tiap ponselku berdering atau ketika aku berbincang lama dengan logat Suroboyo-an di telepon. Ibu masih saja menyuruhku untuk berbaik-baik padamu meski kita telah berpisah. Beliau tak pernah tahu apa yang telah kau lakukan padaku telah mengorek batas kesabaran terdalamku. Aku tahu pasti sekarang kau tengah membathin bahwa akulah yang mengkhianatimu. Ah, sudahlah, tak guna untuk dibahas karna setiap orang pasti melakukan pembenaran dari sisi masing-masing.
Aku jengah tiap kali ibu menyebutkan namamu. Aku telah berusaha menjaga tali silaturahmi tetap utuh, meski kita tak lagi bersama. Namun sejak kuketahui selama ini -dan mungkin hingga detik ini, wallahu a'lam- kau menikamku dari belakang, aku memilih tak lagi ada kontak denganmu daripada tiap kali bertelepon selalu berisikan pertengkaran tak berujung yang ujung-ujungnya membuat emosiku terpancing.
Aku sebenarnya tak ingin seperti ini. Ketika romantika tak lagi dapat terjalin, tak bisakah digantikan persahabatan atau persaudaraan? Niatan awalku memang demikian. Dan kau menyetujui memanggilku Dedek dan kau Kakakku. Tapi entah kepentok setan mana, tiba-tiba esoknya kau berubah pikiran. Menggerus apa yang kemarin telah disepakati dengan luka baru. Kenaifanku untuk menjaga agar tak sampai ada yang tersakiti ternyata disalahartikan. Tapi kembali aku hanya bisa berkata YA SUDAHLAH...
Semua memang tak lagi bisa diputar ulang. Apa yang telah terekam biarkanlah tersimpan dalam kotak masa lalu dan hanya menjadi masa lalu tanpa embel-embel musuh atau sesuatu lebih buruk dari itu.
Aku menghormatinya sebagai ibu
Kuharap kau pun begitu
Bukan tentang aku dan kamu
Hanya ibu yang merindumu
Tuesday, September 16, 2008
MERAGU

Menuang ragu dalam gelas cintaku yang belum terisi penuh. Yang juga masih rapuh. Mudah tuk pecah ketika tersiram panas bara kebohongan. Dingin es pengkhianatan.
Yaa.. Aku pun masih meragu. Memutuskan untuk bersentuhan kembali dengan perasaan yang sudah sejak lama mati memang tak mudah buatku. Tertatih ditengah letih. Hadirmu membawa hatiku yang disembelih merasakan kembali udara seolah diberi nyawa. Kadang sesak karna rongga dadaku sepertinya belum berfungsi sempurna. Nafas naik turun. Hidung kembang kempis.
Aku tengah belajar. Memberi hati tempat bersandar. Tanpa kutau cepat atau lambat kan pudar. Sebuah rasa yang mulai mengakar.
Kau meragu karna belum pernah ketemu. Jujur, aku pun begitu. Aku tau perasaanmu sebaik aku mengerti perasaanku. Hanya tentang waktu. Dan sekali lagi berpasrah pada waktu. Meski waktu kadang tak tentu.
***
Cinta itu...
Chemistry dua hati. Tak untuk dipungkiri, tak juga disradak-sruduki. Jika tak dipupuk sejak dini. Kuatir musnah seiring waktu berganti. Ahh, urusan hati lagii...
2 vs 1
Dua lebih besar daripada satu
Dua juga lebih banyak daripada satu
Dua mungkin lebih berarti daripada satu
Tapi dua tak akan pernah seistimewa satu
***
Teman adalah seseorang yang mengenalmu luar dan dalam, tapi masih menyayangimu.
That what's friends are for! Awalnya dengan begitu bangga aku meneriakkan ungkapan diatas. Meski aku seperti ditampar karena baru menyadari kehadiran orang yang setahun lebih kukenal ini ternyata lebih daripada sekedar teman curhat. Kemana aku selama ini? Atau lebih tepatnya kemanakah larinya nuraniku hingga seperti terbutakan oleh kamuflase akan sesuatu.
Aku telah teracuni. Ah, aku tak mau menyalahkan orang lain. Toh seberapapun kuat orang menyodorkan racun, bahkan terbungkus kertas kado berlapis emas sekali pun tapi jika antibodi dari dalam diriku sudah bekerja sedari dulu, tentu racun tersebut tak akan merasuk erat.
Introspeksi. Mungkin itu kata yang tepat. Tidak menyesali apa yang telah kulakukan dulu, namun belajar untuk tidak jatuh kedua kali. Hal yang sulit. Membangun semuanya dari nol. Tak mudah, namun tak untuk dipersulit.
Ternyata naif sekali niatku untuk menjaga dan menghormati apa yang telah dan pernah mengisi hari-hariku disaat harus mengakhirinya dengan cara baik-baik tapi kemudian menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
Kini aku menganggap masalah itu terselesaikan secara kasat mata. Aku tak tahu dan tak perduli jika bagi pihak lain merasa masalah belum berakhir dan melakukan perbuatan tak kasat mata seperti yang selama ini dilakukannya padaku. Ah, aku sudah tak perduli! Toh kebenaran sejati akan terkuak tanpa perlu kubeberkan satu demi satu fakta.
***
Kehidupan bukanlah tentang hidup tanpa masalah. Kehidupan adalah tentang menyelesaikan masalah.
Pepatah itu benar adanya. Boleh dibilang baru saja aku bisa bernafas lega, hambatan lain muncul. Baru dua hari aku mengecap arti persahabatan yang merengkuhku dikala jatuh kemarin, aku dikejutkan oleh kenyataan berbanding terbalik yang kemudian membawa diriku untuk kembali berargumen seperti pemikiranku sediakala, bahwa sahabat sejatiku hanya diriku sendiri. Pasalnya, dimataku tak ada persahabatan sejati yang mengorbankan perasaan orang lain, meski demi mengagungkan kebersamaan yang sekian lama terbina.
Perempuan itu berpendapat aku tidak bijak dengan pemikiranku. Lalu bijak kah pemikiran dua orang yang menuntutku mengorbankan perasaanku? MENGAPA SLALU AKU YANG MENGALAH? TAK PERNAHKAH KAU BERPIKIR SEDIKIT TENTANG HATIKU...
Jika memang aku tak bijak dengan keegoisanku dan kedua orang itu lebih bijak dengan keegoisannya, maka berbahagialah dengan keegoisan kedua orang tersebut daripada keegoisanku!
Dua juga lebih banyak daripada satu
Dua mungkin lebih berarti daripada satu
Tapi dua tak akan pernah seistimewa satu
***
Teman adalah seseorang yang mengenalmu luar dan dalam, tapi masih menyayangimu.
That what's friends are for! Awalnya dengan begitu bangga aku meneriakkan ungkapan diatas. Meski aku seperti ditampar karena baru menyadari kehadiran orang yang setahun lebih kukenal ini ternyata lebih daripada sekedar teman curhat. Kemana aku selama ini? Atau lebih tepatnya kemanakah larinya nuraniku hingga seperti terbutakan oleh kamuflase akan sesuatu.
Aku telah teracuni. Ah, aku tak mau menyalahkan orang lain. Toh seberapapun kuat orang menyodorkan racun, bahkan terbungkus kertas kado berlapis emas sekali pun tapi jika antibodi dari dalam diriku sudah bekerja sedari dulu, tentu racun tersebut tak akan merasuk erat.
Introspeksi. Mungkin itu kata yang tepat. Tidak menyesali apa yang telah kulakukan dulu, namun belajar untuk tidak jatuh kedua kali. Hal yang sulit. Membangun semuanya dari nol. Tak mudah, namun tak untuk dipersulit.
Ternyata naif sekali niatku untuk menjaga dan menghormati apa yang telah dan pernah mengisi hari-hariku disaat harus mengakhirinya dengan cara baik-baik tapi kemudian menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
Kini aku menganggap masalah itu terselesaikan secara kasat mata. Aku tak tahu dan tak perduli jika bagi pihak lain merasa masalah belum berakhir dan melakukan perbuatan tak kasat mata seperti yang selama ini dilakukannya padaku. Ah, aku sudah tak perduli! Toh kebenaran sejati akan terkuak tanpa perlu kubeberkan satu demi satu fakta.
***
Kehidupan bukanlah tentang hidup tanpa masalah. Kehidupan adalah tentang menyelesaikan masalah.
Pepatah itu benar adanya. Boleh dibilang baru saja aku bisa bernafas lega, hambatan lain muncul. Baru dua hari aku mengecap arti persahabatan yang merengkuhku dikala jatuh kemarin, aku dikejutkan oleh kenyataan berbanding terbalik yang kemudian membawa diriku untuk kembali berargumen seperti pemikiranku sediakala, bahwa sahabat sejatiku hanya diriku sendiri. Pasalnya, dimataku tak ada persahabatan sejati yang mengorbankan perasaan orang lain, meski demi mengagungkan kebersamaan yang sekian lama terbina.
Perempuan itu berpendapat aku tidak bijak dengan pemikiranku. Lalu bijak kah pemikiran dua orang yang menuntutku mengorbankan perasaanku? MENGAPA SLALU AKU YANG MENGALAH? TAK PERNAHKAH KAU BERPIKIR SEDIKIT TENTANG HATIKU...
Jika memang aku tak bijak dengan keegoisanku dan kedua orang itu lebih bijak dengan keegoisannya, maka berbahagialah dengan keegoisan kedua orang tersebut daripada keegoisanku!
Sunday, September 14, 2008
KILOMETER SEBELAS
"Jika diumpamakan skala nol sampai sepuluh, perasaanmu sekarang berada di kilometer berapa?" tanyamu.
"Kilometer sebelas!" celetukku asal-asalan. Kalimat yang terloncat dari mulutku beberapa waktu lalu memang asal-asalan tapi hari ini aku meyakini bahwa ucapanku itu memang tepat adanya. Kilometer sebelas. Yah, disitulah tempatku. Berada diluar antara nol dan sepuluh. Dan disitulah seharusnya dan kini aku berada.
***
Sebuah roda terdiri dari banyak jeruji kuat yang menopangnya hingga bisa berputar indah sampai ke tujuan. Pun jika salah satu jeruji kemudian terlepas di tengah jalan, roda tersebut tetap bisa berjalan, meski terseok, namun tetap akan sampai ke tujuan. AKU adalah salah satu jeruji itu.
When it's got to ended, let it ended at all.
Aku bukan tak ingin mengalah. Kenapa setiap orang sibuk dengan keinginan masing-masing? Mempertahankannya, bahkan secara tak langsung menuntut yang lain untuk mengikuti alurnya. Termasuk aku dan aku mengikutinya. Demi untuk sebuah kebersamaan, KATANYA. Sedangkan aku tak bisa!
Aku juga punya keinginan! Maka biarlah jeruji yang terlepas menemukan alurnya sendiri. Meski hanya sebongkah jeruji terkoyak tak punya arti.
***
Tertutup sudah pintu
Pintu Hatiku
Yang pernah dibuka waktu
Hanya untukmu
Kini kau pergi
Dari hidupku
Kuharus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua nada beranjak
Aku terdiam sepi
Dengarlah matahariku
Suara tangisanku
Kubersedih
Karna panah cinta menusuk jantungku
Ucapkan matahariku
Puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu
Menaklukkan waktu
***
Jika kemarin-kemarin aku masih galau, namun hari ini ada kelegaan menyeruak. Keikhlasan. Meski buliran air meretas di kelopak mataku, namun tak sampai membanjiri pipi, hanya mendanau perih bergelombang, kemudian tersapu oleh pelangi getir yang terpancar dari bibirku.
***
Jikalau ini adalah modus Sang Penguasa Alam untuk menegurku agar kembali fokus menyelesaikan PR terbengkalai akibat problematika hati yang kian melebar menyita nyaris sebagian waktu mentari bersinar disetiap hari dalam hidupku, maka aku akan segera tersadar dari ilusi semu yang nyata ini.
"Kilometer sebelas!" celetukku asal-asalan. Kalimat yang terloncat dari mulutku beberapa waktu lalu memang asal-asalan tapi hari ini aku meyakini bahwa ucapanku itu memang tepat adanya. Kilometer sebelas. Yah, disitulah tempatku. Berada diluar antara nol dan sepuluh. Dan disitulah seharusnya dan kini aku berada.
***
Sebuah roda terdiri dari banyak jeruji kuat yang menopangnya hingga bisa berputar indah sampai ke tujuan. Pun jika salah satu jeruji kemudian terlepas di tengah jalan, roda tersebut tetap bisa berjalan, meski terseok, namun tetap akan sampai ke tujuan. AKU adalah salah satu jeruji itu.
When it's got to ended, let it ended at all.
Aku bukan tak ingin mengalah. Kenapa setiap orang sibuk dengan keinginan masing-masing? Mempertahankannya, bahkan secara tak langsung menuntut yang lain untuk mengikuti alurnya. Termasuk aku dan aku mengikutinya. Demi untuk sebuah kebersamaan, KATANYA. Sedangkan aku tak bisa!
Aku juga punya keinginan! Maka biarlah jeruji yang terlepas menemukan alurnya sendiri. Meski hanya sebongkah jeruji terkoyak tak punya arti.
***
Tertutup sudah pintu
Pintu Hatiku
Yang pernah dibuka waktu
Hanya untukmu
Kini kau pergi
Dari hidupku
Kuharus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua nada beranjak
Aku terdiam sepi
Dengarlah matahariku
Suara tangisanku
Kubersedih
Karna panah cinta menusuk jantungku
Ucapkan matahariku
Puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu
Menaklukkan waktu
***
Jika kemarin-kemarin aku masih galau, namun hari ini ada kelegaan menyeruak. Keikhlasan. Meski buliran air meretas di kelopak mataku, namun tak sampai membanjiri pipi, hanya mendanau perih bergelombang, kemudian tersapu oleh pelangi getir yang terpancar dari bibirku.
***
Jikalau ini adalah modus Sang Penguasa Alam untuk menegurku agar kembali fokus menyelesaikan PR terbengkalai akibat problematika hati yang kian melebar menyita nyaris sebagian waktu mentari bersinar disetiap hari dalam hidupku, maka aku akan segera tersadar dari ilusi semu yang nyata ini.
Saturday, September 13, 2008
SONG OF THE DAY
Pagi...
Biar kusendiri
Jangan kau mendekat
Wahai matahari
Dingin hati yang bersedih
Tak begitu tenang
Mulai terabaikan
Hari yang cerah
Untuk jiwa yang sepi
Begitu terang untuk cinta yang mati
Kucoba bertahan
Dan tak bisa
Mencoba melawan
Kulepas...
Biru langit kelabuku
Tak begitu luas
Seperti memudar
Kini tak terulang lagi
Di hari yang cerah
Dia telah pergi
Semua telah hilang
Semua telah...
***
Ku tak selalu berdiri
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang kulalui
Untuk sekedar bercerita
Pegang tanganku ini
Dan rasakan yang kuderita
Apa yang kuberikan
Tak pernah jadi kehidupan
Semua yang kuinginkan
Menjauh dari kehidupan
Tempatku melihat dibalik awan
Aku melihat dibalik hujan
Tempatku terdiam tempat bertahan
Aku terdiam dibalik hujan
***
Kulepas semua yang kuinginkan
Tak akan kuulangi
Maafkan bila kau kusayangi
Dan bila kumenanti
Pernah kah engkau coba mengerti
Lihatlah kudisini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti
Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang di hati saja
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
Biar kusendiri
Jangan kau mendekat
Wahai matahari
Dingin hati yang bersedih
Tak begitu tenang
Mulai terabaikan
Hari yang cerah
Untuk jiwa yang sepi
Begitu terang untuk cinta yang mati
Kucoba bertahan
Dan tak bisa
Mencoba melawan
Kulepas...
Biru langit kelabuku
Tak begitu luas
Seperti memudar
Kini tak terulang lagi
Di hari yang cerah
Dia telah pergi
Semua telah hilang
Semua telah...
***
Ku tak selalu berdiri
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang kulalui
Untuk sekedar bercerita
Pegang tanganku ini
Dan rasakan yang kuderita
Apa yang kuberikan
Tak pernah jadi kehidupan
Semua yang kuinginkan
Menjauh dari kehidupan
Tempatku melihat dibalik awan
Aku melihat dibalik hujan
Tempatku terdiam tempat bertahan
Aku terdiam dibalik hujan
***
Kulepas semua yang kuinginkan
Tak akan kuulangi
Maafkan bila kau kusayangi
Dan bila kumenanti
Pernah kah engkau coba mengerti
Lihatlah kudisini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti
Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang di hati saja
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
Friday, September 12, 2008
Prof. DR. Conference, MBA
"Bisakah aku mempercayaimu?" Pertanyaan itu akhirnya kulontarkan juga setelah dua hari ini kami bersitegang untuk sebuah hal yang mungkin dikategorikan sepele, tapi bagiku tak bisa dipandang sebelah mata. Conference call.
Beberapa minggu ini mungkin kami adalah korban iklan sebuah provider seluler yang dibintangi Luna Maya. Nelpon Semaumu. Saking semaumunya sampai-sampai tak tahu waktu. Pas sahur, subuh, pagi, siang hingga sore sesuai slogannya Gratis Sepanjang Hari. Mulai dari teman yang satu digabung ke yang lain dan seterusnya dari pelosok daerah A sampai Z. (Kok gw jadi kayak ngiklanin gini ya hehehe) Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Awalnya, satu dua hari terasa seru, layaknya anak kecil mendapat mainan baru, namun setelah hampir dua minggu berturut-turut dengan penambahan orang-orang baru tiap harinya, aku jengah juga.
Pada dasarnya aku memang tak suka gaduh suara para perempuan bersahutan. Aku lebih banyak diam dan cenderung hanya mendengarkan ocehan mereka, hanya jika ditanya aku menjawab sambil sesekali nyeletuk iseng. Dan aku lebih mengenal perempuan ini juga gara-gara terbiasa ngobrol lama di ajang ini.
"Satu hal yang paling tidak kusukai darimu adalah kamu AHLI CONFERENCE!" Aku mengajukan keberatanku karena aku sedang berproses dengan perempuan yang usianya lumayan jauh diatasku ini menilik dari waktu yang dihabiskannya mencumbui handsfree. "Kalo diumpamakan ya kamu dapat julukan Prof DR Conference, MBA!" Perempuan itu terdiam. Helaan nafasnya jelas terdengar tersengal. "Kamu tau kan artinya... Kamu sudah benar-benar kelewatan!"
"Sms-smsmu juga kelewatan, nyadar gak sih!" Ia menyalak disela deru nafasnya yang turun naik seperti orang sakit flu. Sedari tadi aku memang mengiriminya sms bernada sindiran. Aku hanya ingin ia mengerti ketidaksukaanku dengan kebiasaan conference nya yang bagiku over itu. Tapi ia beranggapan berbeda.
"Kalau kau ingin mengingatkanku, jangan menulis sms yang tidak dewasa seperti itu!"
"Kalau kau merasa dewasa harusnya kau bisa mengerti arti sindiranku itu tanpa perlu kujelaskan lebih detil!" batinku.
Aku dan perempuan ini sedari awal memang sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Namun entahlah kalau sudah tak ada yang meruntuhkan opini masing-masing, sedetik kemudian tawa kami akan meledak dan situasi tegang nan serius yang kami ciptakan sendiri tadi mendadak bisa berganti dengan permintaan manjanya.
"Pokoknya harus ML!" ujarnya dengan nada serius yang kontan membuatku terperanjat.
"Udah tau lagi puasa gini minta ML?" tanyaku dalam hati.
"ML Minta Lagu atau Minta Lagi?" godaku coba mengalihkan topik pembicaraan yang menjurus tersebut, sekaligus menghindarkan otakku dari ngelanjor(NGELAmuN JORok-red).
"Iya, Minta Lagu! Pokoknya kamu harus nyanyi yang menyejukkan!"
Dalam hati sebenarnya aku tertawa geli. Ia memang bilang kalau ia manja, tapi selama ini tak sekalipun ia menunjukkan perangai tersebut dalam cara bicara dan kedewasaan berpikirnya.
"Suaraku merdu ya, kok kamu seneng banget dengerin aku nyanyi? Padahal tadi pagi udah kan?"
"Pokoknya nyanyi! Cepetan..." rajuknya seperti anak kecil.
***
"Can I trust you?" Aku mengulang pertanyaanku. Kalimat yang terkesan rapuh untuk seorang yang nampak garang diluar.
"Yes I can!" sahutmu mantap. "Can I trust u too?" tanyanya balik yang kusambut dengan rekahan pelangi dari bibirku.
Beberapa minggu ini mungkin kami adalah korban iklan sebuah provider seluler yang dibintangi Luna Maya. Nelpon Semaumu. Saking semaumunya sampai-sampai tak tahu waktu. Pas sahur, subuh, pagi, siang hingga sore sesuai slogannya Gratis Sepanjang Hari. Mulai dari teman yang satu digabung ke yang lain dan seterusnya dari pelosok daerah A sampai Z. (Kok gw jadi kayak ngiklanin gini ya hehehe) Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Awalnya, satu dua hari terasa seru, layaknya anak kecil mendapat mainan baru, namun setelah hampir dua minggu berturut-turut dengan penambahan orang-orang baru tiap harinya, aku jengah juga.
Pada dasarnya aku memang tak suka gaduh suara para perempuan bersahutan. Aku lebih banyak diam dan cenderung hanya mendengarkan ocehan mereka, hanya jika ditanya aku menjawab sambil sesekali nyeletuk iseng. Dan aku lebih mengenal perempuan ini juga gara-gara terbiasa ngobrol lama di ajang ini.
"Satu hal yang paling tidak kusukai darimu adalah kamu AHLI CONFERENCE!" Aku mengajukan keberatanku karena aku sedang berproses dengan perempuan yang usianya lumayan jauh diatasku ini menilik dari waktu yang dihabiskannya mencumbui handsfree. "Kalo diumpamakan ya kamu dapat julukan Prof DR Conference, MBA!" Perempuan itu terdiam. Helaan nafasnya jelas terdengar tersengal. "Kamu tau kan artinya... Kamu sudah benar-benar kelewatan!"
"Sms-smsmu juga kelewatan, nyadar gak sih!" Ia menyalak disela deru nafasnya yang turun naik seperti orang sakit flu. Sedari tadi aku memang mengiriminya sms bernada sindiran. Aku hanya ingin ia mengerti ketidaksukaanku dengan kebiasaan conference nya yang bagiku over itu. Tapi ia beranggapan berbeda.
"Kalau kau ingin mengingatkanku, jangan menulis sms yang tidak dewasa seperti itu!"
"Kalau kau merasa dewasa harusnya kau bisa mengerti arti sindiranku itu tanpa perlu kujelaskan lebih detil!" batinku.
Aku dan perempuan ini sedari awal memang sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Namun entahlah kalau sudah tak ada yang meruntuhkan opini masing-masing, sedetik kemudian tawa kami akan meledak dan situasi tegang nan serius yang kami ciptakan sendiri tadi mendadak bisa berganti dengan permintaan manjanya.
"Pokoknya harus ML!" ujarnya dengan nada serius yang kontan membuatku terperanjat.
"Udah tau lagi puasa gini minta ML?" tanyaku dalam hati.
"ML Minta Lagu atau Minta Lagi?" godaku coba mengalihkan topik pembicaraan yang menjurus tersebut, sekaligus menghindarkan otakku dari ngelanjor(NGELAmuN JORok-red).
"Iya, Minta Lagu! Pokoknya kamu harus nyanyi yang menyejukkan!"
Dalam hati sebenarnya aku tertawa geli. Ia memang bilang kalau ia manja, tapi selama ini tak sekalipun ia menunjukkan perangai tersebut dalam cara bicara dan kedewasaan berpikirnya.
"Suaraku merdu ya, kok kamu seneng banget dengerin aku nyanyi? Padahal tadi pagi udah kan?"
"Pokoknya nyanyi! Cepetan..." rajuknya seperti anak kecil.
***
"Can I trust you?" Aku mengulang pertanyaanku. Kalimat yang terkesan rapuh untuk seorang yang nampak garang diluar.
"Yes I can!" sahutmu mantap. "Can I trust u too?" tanyanya balik yang kusambut dengan rekahan pelangi dari bibirku.
Wednesday, September 10, 2008
I Thought I Know You...
Hmm... Barangkali inilah puncaknya aku merasa teramat sangat letih sekali terhadap manis madu yang ditawarkan dan dituang mulut perempuan padaku. Dari awal, aku memang sudah skeptis, tak pernah mau percaya lagi pada mulut perempuan, tapi aku memberanikan diri mengintip sedikit demi sedikit dari bilik hatiku untuk kemudian nekat keluar, meski bertelanjang. Dan aku menuai hasilnya... Madu yang disuguhkan padaku tanpa sepengetahuanku tiba-tiba berganti racun hanya dalam hitungan hari, lalu meracuni otak dan hatiku serta membuatnya lumpuh dan sekarang mati. Menyesal sih tidak, hanya heran. Tapi bukan juga heran, apalah namanya yang pasti telah sukses membuatku meneriakkan "Damn!!"
Kau boleh bilang aku sedang menilai. Dan mungkin penilaianku atas dirimu adalah benar atau barangkali salah total. Tidak. Aku tidak sedang menilai. Aku menelaah satu persatu kata dan kalimat yang kau sajikan, lalu kuteguk hal yang berbeda dalam kerongkongan dan menjadi lain ketika dicerna hatiku. Damn!!
Semua memang hanya kucuran kata, tanpa sajian tiga dimensi. Tutur kata yang tadinya akan kurasakan bersemi menjadi makna, namun benih yang kutabur dalam ladang hati dan perasaan itu tumbuh menyerupai ilalang. Bukan sebagai buah yang akan kutuai dengan hati riang.
Baru kemarin rasanya aku di awang-awang. Tubuhku ringan seolah terbang. Yah, kau benar... mungkin aku hanya terhipnotis. Namun ketika aku kini tersadar, aku masih ingat semuanya. Ribuan kata yang hanyalah ribuan kata. Tanpa secuil arti dan memang tak berarti.
I Thought I Know You
But I Dont Know You At All
Damn!!
Tuesday, September 9, 2008
Kita... Unik!
Aku menyebutnya unik, bagaimana tidak, kenal aja ga genap 50 hari, pacaran juga nggak, tapi berantemnya kayak udah berumahtangga dua tahun.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Monday, September 8, 2008
Second Chance
"Setiap orang punya kesempatan kedua!"
Aku teringat aku pernah melemparkan saran diatas pada seseorang ketika ia tak mau lagi membuka pintu maaf bagi mantan kekasihnya yang menurutnya telah melakukan kesalahan paling fatal, yaitu melanggar prinsip yang baginya vital. Berbohong.
"Kau perlu mendengar alasannya dulu,"
"Sudah, tapi tetap tak bisa kutolerir meski ia bilang kebohongannya terpaksa ia lakukan demi untuk tetap bersamaku dan ia memang punya niatan akan mengaku disaat yang tepat kelak,"
"Nah, dia ada niat untuk jujur kan? Jadi kenapa kau tidak memberinya kesempatan kedua? Mungkin dia akan berubah."
"Ya, dia berjanji tidak akan mengulang kebohongan lagi, tapi bagiku, ketika hal yang menurutku paling prinsip sudah ia langgar, maka tak ada jalan bagi kami selain pisah!" Perempuan itu kukuh pada pendiriannya.
Dan ternyata memberi saran pada seseorang itu lebih gampang daripada melaksanakannya sendiri. Ketika kini aku disuguhi situasi yang sama, aku malah mengambil sikap nyaris tak jauh beda.
"Setiap orang bisa berubah, tapi secara perlahan asal diberi kesempatan untuk membuktikannya!" ujarmu.
Kesempatan kedua? Pantaskah kau mengajukan hal tersebut setelah berulang kali kesempatan telah kubuka tapi kau tak juga membuat sesuatu yang berbeda, berkubang pada kesalahan yang sama.
Ketika semua sudah tak lagi mungkin dipilin dalam benang-benang yang sama, aku harap serabutnya tetap bisa saling tersambung, meski tak membentuk kesatuan selaras penuh keindahan, namun utuh dalam makna yang berbeda.
Aku teringat aku pernah melemparkan saran diatas pada seseorang ketika ia tak mau lagi membuka pintu maaf bagi mantan kekasihnya yang menurutnya telah melakukan kesalahan paling fatal, yaitu melanggar prinsip yang baginya vital. Berbohong.
"Kau perlu mendengar alasannya dulu,"
"Sudah, tapi tetap tak bisa kutolerir meski ia bilang kebohongannya terpaksa ia lakukan demi untuk tetap bersamaku dan ia memang punya niatan akan mengaku disaat yang tepat kelak,"
"Nah, dia ada niat untuk jujur kan? Jadi kenapa kau tidak memberinya kesempatan kedua? Mungkin dia akan berubah."
"Ya, dia berjanji tidak akan mengulang kebohongan lagi, tapi bagiku, ketika hal yang menurutku paling prinsip sudah ia langgar, maka tak ada jalan bagi kami selain pisah!" Perempuan itu kukuh pada pendiriannya.
Dan ternyata memberi saran pada seseorang itu lebih gampang daripada melaksanakannya sendiri. Ketika kini aku disuguhi situasi yang sama, aku malah mengambil sikap nyaris tak jauh beda.
"Setiap orang bisa berubah, tapi secara perlahan asal diberi kesempatan untuk membuktikannya!" ujarmu.
Kesempatan kedua? Pantaskah kau mengajukan hal tersebut setelah berulang kali kesempatan telah kubuka tapi kau tak juga membuat sesuatu yang berbeda, berkubang pada kesalahan yang sama.
Ketika semua sudah tak lagi mungkin dipilin dalam benang-benang yang sama, aku harap serabutnya tetap bisa saling tersambung, meski tak membentuk kesatuan selaras penuh keindahan, namun utuh dalam makna yang berbeda.
Sunday, September 7, 2008
Kamu itu... Belok?!?
Teringat curhat seorang teman beberapa waktu lalu. Ia sedang bingung dengan jati dirinya, namun dari lisannya ia bersikukuh bahwa ia bukan LESBIAN. Sebuah kata yang tabu untuk ia ucapkan, apalagi untuk ia akui sebagai bentuk orientasi seksual.
"Jujur, Al, aku baru tau dunia kayak gini ini karna aku kenal si Jelek!" jelasnya sembari menyebut perempuan tomboy yang kurang lebih enam tahun mengisi hidupnya dengan nama si Jelek. "Dulu-dulu aku nggak seperti ini, aku pacaran juga dengan laki-laki..."
"Kalau sadar begitu kenapa kamu tidak antisipasi sejak awal, malah seperti membiarkannya memasuki hatimu?" potongku mengingat ia bisa saja meninggalkan perempuan itu dan menikah dengan laki-laki, tapi tak ia lakukan.
"Entahlah!" Jawaban yang sama tiap kutanyakan sesuatu yang menjurus kepada orientasi seksualnya. "Menurutmu aku harus gimana?" Pertanyaan yang juga sama yang ia ajukan bukan hanya sekali ini.
"Dari awal kan sudah kubilang, semua keputusan berada di tanganmu! Tinggal kamu pilih aja, kamu akan menuruti logika atau mendengar nuranimu sendiri! Mudah kan?"
"Kayaknya aku akan mengikuti logikaku karna sia-sia dong kakakku sudah segitunya belain aku untuk menjauhkanku dari dia dan sia-sia juga dong Jelek pernah dipenjara gara-gara itu, ya kan?"
"Itu kan secara logika, hatimu tidak berkata seperti itu, bukan?"
"Aku hanya tau jika aku mengikuti hati aku akan lebih hancur lagi!" Perempuan itu mendesah panjang. "Aniwei, aku pengen tau, pertanyaan ini sebenarnya sudah lama kusimpan tapi aku belum menemukan orang yang tepat sebagai tempatku memperoleh jawaban.." Aku mencerna tiap kalimatnya. "Sebenarnya kenapa sih perempuan bisa jadi lines?" Perempuan itu mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya dengan suara lirih. "Mereka kan tau bahwa agama manapun melarang? Dan apa mereka itu bisa "disembuhkan"?"
Sebenarnya aku agak sedikit terlonjak mendengar kata "disembuhkan" barusan, tapi kemudian sebaris senyuman tersembul dari bibirku dan aku juga tak lantas ingin menguliahinya tentang homoseksualitas yang telah dikeluarkan WHO dari penyakit kejiwaan bla..bla..bla.. Karena aku tau ia sedang berusaha meyakinkan hatinya tapi merasa takut, jadi ia mengingkarinya dengan menjadikan orang lain atau tepatnya si Jelek ini sebagai Subyek pertanyaan.
Seiring waktu, ketakutan-ketakutan yang merupakan unek-unek di benaknya selama ini perlahan ia lucuti satu persatu ketika kedekatannya dengan si Jelek yang pernah terenggut oleh jeruji besi kini terjalin kembali.
"Sebenarnya apa sih maksudnya mendekati aku lagi? Apa ada tujuan lain dibalik sikap baiknya itu? Dia hapal betul kelemahanku, aku jadi takut, Al!"
Ketakutan yang ia maksud disini bukan takut menghadapi si Jelek yang memang dulu kerap menghajarnya sampai jontor. Ia sebenarnya takut akan CLBK, tepatnya takut nurani yang setengah mati ia ingkari akan membawanya kepada kondisi sulit seperti di masa lalu. Karenanya ia mati-matian menutup pintu hatinya yang hanya terbuat dari spons rapuh, serapat apapun udara masih bisa menyelinap meski harus tersaring.
"Kamu jangan tertawa ya, Al, aku pengen nanya sesuatu?"
Aku penasaran.
"Sebenarnya dalam dunia lines itu, apakah ML merupakan hal yang wajib?"
Aku tercekat. Waduh, kenapa dia nanyanya soal ini? Pasalnya aku tak secanggih dokter Boyke, bahkan pengalamanku pun belum terlalu banyak.
"Yaa kalau urusan ranjang seperti itukan hanya masalah komunikasi, sebab ada dua tubuh, jadi kalau yang satu tak setuju atau tak siap, kan jadinya nggak nikmat juga, ya kan?"
"Nah, itu dia Al yang sejak awal sepertinya menghambat hubungan kami..." Aku masih nggak ngeh. "Jelek itu slalu maksain berhubungan sedangkan aku belum siap, bukan karna apa, aku merasa hubungan ini masih salah, tidak sesuai dengan kata hatiku, tapi Jelek nggak pernah mau ngerti. Makanya kami sering berantem dan aku tak mau kejadian seperti itu terulang,"
"Menurutku hal yang paling utama yang harus kau lakukan adalah berdamai terlebih dahulu dengan hatimu tentang orientasi seksualmu. Kalau kau bisa menerima apa kata nuranimu bahwa kau menyukai perempuan, baru kau akan merasakannya sebagai sebuah hubungan, bukan sebagai ketakutan. Setelah itu, kamu tinggal mengkomunikasikan apa dan bagaimana urusan ranjang itu. Kalau kamu tidak berdamai dengan nuranimu, selamanya kamu akan merasa bahwa perasaanmu itu salah!"
"Kayaknya aku tetap akan memakai logikaku!" cetusnya kemudian, seperti tanpa pikir panjang.
"Gini aja deh, jangan memberi harga mati untuk apa yang tidak kau ketahui di masa mendatang, just pick what you think is the best for you!"
"Sampai kapanpun rasa sayangku untuk Jelek akan tetap ada, tapi aku inginnya kami bisa berteman baik ataupun sodaraan ama dia daripada hubungan seperti dulu. Aku nggak mau disakiti lagi, Al!"
"Kalau seumpama ia tak menyakitimu lagi, bagaimana?"
Ia tak menjawab. Tapi aku telah mengerti arti kebisuan tersebut.
Mengakui orientasi seksual kadang memang hal yang sulit bagi sebagian orang. Namun hati takkan pernah menemukan ketenangan sebelum mencari titik temu terbaik antara logika dan perasaan, tentu saja dengan cara dan pemikiran serta pertimbangan terbaik pula.
"Jujur, Al, aku baru tau dunia kayak gini ini karna aku kenal si Jelek!" jelasnya sembari menyebut perempuan tomboy yang kurang lebih enam tahun mengisi hidupnya dengan nama si Jelek. "Dulu-dulu aku nggak seperti ini, aku pacaran juga dengan laki-laki..."
"Kalau sadar begitu kenapa kamu tidak antisipasi sejak awal, malah seperti membiarkannya memasuki hatimu?" potongku mengingat ia bisa saja meninggalkan perempuan itu dan menikah dengan laki-laki, tapi tak ia lakukan.
"Entahlah!" Jawaban yang sama tiap kutanyakan sesuatu yang menjurus kepada orientasi seksualnya. "Menurutmu aku harus gimana?" Pertanyaan yang juga sama yang ia ajukan bukan hanya sekali ini.
"Dari awal kan sudah kubilang, semua keputusan berada di tanganmu! Tinggal kamu pilih aja, kamu akan menuruti logika atau mendengar nuranimu sendiri! Mudah kan?"
"Kayaknya aku akan mengikuti logikaku karna sia-sia dong kakakku sudah segitunya belain aku untuk menjauhkanku dari dia dan sia-sia juga dong Jelek pernah dipenjara gara-gara itu, ya kan?"
"Itu kan secara logika, hatimu tidak berkata seperti itu, bukan?"
"Aku hanya tau jika aku mengikuti hati aku akan lebih hancur lagi!" Perempuan itu mendesah panjang. "Aniwei, aku pengen tau, pertanyaan ini sebenarnya sudah lama kusimpan tapi aku belum menemukan orang yang tepat sebagai tempatku memperoleh jawaban.." Aku mencerna tiap kalimatnya. "Sebenarnya kenapa sih perempuan bisa jadi lines?" Perempuan itu mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya dengan suara lirih. "Mereka kan tau bahwa agama manapun melarang? Dan apa mereka itu bisa "disembuhkan"?"
Sebenarnya aku agak sedikit terlonjak mendengar kata "disembuhkan" barusan, tapi kemudian sebaris senyuman tersembul dari bibirku dan aku juga tak lantas ingin menguliahinya tentang homoseksualitas yang telah dikeluarkan WHO dari penyakit kejiwaan bla..bla..bla.. Karena aku tau ia sedang berusaha meyakinkan hatinya tapi merasa takut, jadi ia mengingkarinya dengan menjadikan orang lain atau tepatnya si Jelek ini sebagai Subyek pertanyaan.
Seiring waktu, ketakutan-ketakutan yang merupakan unek-unek di benaknya selama ini perlahan ia lucuti satu persatu ketika kedekatannya dengan si Jelek yang pernah terenggut oleh jeruji besi kini terjalin kembali.
"Sebenarnya apa sih maksudnya mendekati aku lagi? Apa ada tujuan lain dibalik sikap baiknya itu? Dia hapal betul kelemahanku, aku jadi takut, Al!"
Ketakutan yang ia maksud disini bukan takut menghadapi si Jelek yang memang dulu kerap menghajarnya sampai jontor. Ia sebenarnya takut akan CLBK, tepatnya takut nurani yang setengah mati ia ingkari akan membawanya kepada kondisi sulit seperti di masa lalu. Karenanya ia mati-matian menutup pintu hatinya yang hanya terbuat dari spons rapuh, serapat apapun udara masih bisa menyelinap meski harus tersaring.
"Kamu jangan tertawa ya, Al, aku pengen nanya sesuatu?"
Aku penasaran.
"Sebenarnya dalam dunia lines itu, apakah ML merupakan hal yang wajib?"
Aku tercekat. Waduh, kenapa dia nanyanya soal ini? Pasalnya aku tak secanggih dokter Boyke, bahkan pengalamanku pun belum terlalu banyak.
"Yaa kalau urusan ranjang seperti itukan hanya masalah komunikasi, sebab ada dua tubuh, jadi kalau yang satu tak setuju atau tak siap, kan jadinya nggak nikmat juga, ya kan?"
"Nah, itu dia Al yang sejak awal sepertinya menghambat hubungan kami..." Aku masih nggak ngeh. "Jelek itu slalu maksain berhubungan sedangkan aku belum siap, bukan karna apa, aku merasa hubungan ini masih salah, tidak sesuai dengan kata hatiku, tapi Jelek nggak pernah mau ngerti. Makanya kami sering berantem dan aku tak mau kejadian seperti itu terulang,"
"Menurutku hal yang paling utama yang harus kau lakukan adalah berdamai terlebih dahulu dengan hatimu tentang orientasi seksualmu. Kalau kau bisa menerima apa kata nuranimu bahwa kau menyukai perempuan, baru kau akan merasakannya sebagai sebuah hubungan, bukan sebagai ketakutan. Setelah itu, kamu tinggal mengkomunikasikan apa dan bagaimana urusan ranjang itu. Kalau kamu tidak berdamai dengan nuranimu, selamanya kamu akan merasa bahwa perasaanmu itu salah!"
"Kayaknya aku tetap akan memakai logikaku!" cetusnya kemudian, seperti tanpa pikir panjang.
"Gini aja deh, jangan memberi harga mati untuk apa yang tidak kau ketahui di masa mendatang, just pick what you think is the best for you!"
"Sampai kapanpun rasa sayangku untuk Jelek akan tetap ada, tapi aku inginnya kami bisa berteman baik ataupun sodaraan ama dia daripada hubungan seperti dulu. Aku nggak mau disakiti lagi, Al!"
"Kalau seumpama ia tak menyakitimu lagi, bagaimana?"
Ia tak menjawab. Tapi aku telah mengerti arti kebisuan tersebut.
Mengakui orientasi seksual kadang memang hal yang sulit bagi sebagian orang. Namun hati takkan pernah menemukan ketenangan sebelum mencari titik temu terbaik antara logika dan perasaan, tentu saja dengan cara dan pemikiran serta pertimbangan terbaik pula.
Saturday, September 6, 2008
PUYENK EUY!!!
Ku tlah biasa tersenyum tenang
Walau hatiku menangis
Kaulah cerita tertulis dengan pasti
Selamanya dalam fikiranku
Lupakan semua tinggalkan ini
Ku kan tenang dan kau kan pergi
Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
Diantara beribu lainnya kau tetap benderang
***
Hanya satu kata yang sepertinya bisa mewakili seluruh pikiran dan perasaanku saat ini, yaitu PUYENK! Gimana nggak puyeng kalo ditekan dari berbagai sudut? Gimana nggak puyeng kalo dituntut untuk mengambil keputusan disaat aku perlu waktu mencari celah demi ketiadaan efek negatif bagi pihak-pihak yang berkaitan? Kalo pengambilan keputusan itu semudah seperti yang mereka desakkan padaku, tentu sudah sejak dulu aku lepas dari lilitan perasaan diantara ada dan tiada, dilema.
Tapi kenyataannya tak mudah menjadi aku. Berada di posisiku sekarang adalah sangat rentan. Bagai dua sisi mata uang, punya kedudukan sama kuat, aksi dan reaksi. Kalo tak segera ambil keputusan juga akan disalahartikan sebagai ketidaktegasanku. Waduh, tambah puyeng aja!
"Mana Markun kok nggak nelpon?" Pertanyaan tentang "laki-laki dalam benak ibuku" itu diajukan sudah untuk kesekian kalinya hari ini. Makin menambah kegalauanku sejak subuh tadi.
"Kamu kok bisa betah ama orang kayak gitu?" kata seorang temanku, bukan cuma hari ini tapi sejak dulu.
"Katanya dia sayang kamu, tapi kok bisa-bisanya dia berkata seperti itu tentang kamu?" sambung seorang sahabat, meledak-ledak. Tak terima.
"Setelah apa yang dia lakukan ini, apa kamu akan tetap berhubungan dengannya?" timpal satu orang lagi.
"Baik-baik ama Markun, meski kadang ia suka menjengkelkan!" kata perempuan paruh baya itu seolah ia benar-benar mengerti situasi sebenarnya.
Hahh, aku nggak tau kenapa lisanmu sebegitu dalam mengoyak tak tampak muka, menikam dari belakang. Hanya tak percaya saja, tapi jika ternyata lidah berjuntai bola api itu sanggup mewakili semua yang kau rasakan tentang hadirku dalam hidupmu selama ini, that's okey! -Tanpa pembelaan-
Mencoba tak menyakiti semua pihak adalah beban berat yang harus kupanggul sendiri ditengah kepungan pro kontra. Mencoba menyelesaikan dengan baik-baik adalah ketidakmungkinan yang berusaha untuk kujadikan mungkin.
When it's got to ended, let it's over, FINITO!!
@Thursday
Walau hatiku menangis
Kaulah cerita tertulis dengan pasti
Selamanya dalam fikiranku
Lupakan semua tinggalkan ini
Ku kan tenang dan kau kan pergi
Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
Diantara beribu lainnya kau tetap benderang
***
Hanya satu kata yang sepertinya bisa mewakili seluruh pikiran dan perasaanku saat ini, yaitu PUYENK! Gimana nggak puyeng kalo ditekan dari berbagai sudut? Gimana nggak puyeng kalo dituntut untuk mengambil keputusan disaat aku perlu waktu mencari celah demi ketiadaan efek negatif bagi pihak-pihak yang berkaitan? Kalo pengambilan keputusan itu semudah seperti yang mereka desakkan padaku, tentu sudah sejak dulu aku lepas dari lilitan perasaan diantara ada dan tiada, dilema.
Tapi kenyataannya tak mudah menjadi aku. Berada di posisiku sekarang adalah sangat rentan. Bagai dua sisi mata uang, punya kedudukan sama kuat, aksi dan reaksi. Kalo tak segera ambil keputusan juga akan disalahartikan sebagai ketidaktegasanku. Waduh, tambah puyeng aja!
"Mana Markun kok nggak nelpon?" Pertanyaan tentang "laki-laki dalam benak ibuku" itu diajukan sudah untuk kesekian kalinya hari ini. Makin menambah kegalauanku sejak subuh tadi.
"Kamu kok bisa betah ama orang kayak gitu?" kata seorang temanku, bukan cuma hari ini tapi sejak dulu.
"Katanya dia sayang kamu, tapi kok bisa-bisanya dia berkata seperti itu tentang kamu?" sambung seorang sahabat, meledak-ledak. Tak terima.
"Setelah apa yang dia lakukan ini, apa kamu akan tetap berhubungan dengannya?" timpal satu orang lagi.
"Baik-baik ama Markun, meski kadang ia suka menjengkelkan!" kata perempuan paruh baya itu seolah ia benar-benar mengerti situasi sebenarnya.
Hahh, aku nggak tau kenapa lisanmu sebegitu dalam mengoyak tak tampak muka, menikam dari belakang. Hanya tak percaya saja, tapi jika ternyata lidah berjuntai bola api itu sanggup mewakili semua yang kau rasakan tentang hadirku dalam hidupmu selama ini, that's okey! -Tanpa pembelaan-
Mencoba tak menyakiti semua pihak adalah beban berat yang harus kupanggul sendiri ditengah kepungan pro kontra. Mencoba menyelesaikan dengan baik-baik adalah ketidakmungkinan yang berusaha untuk kujadikan mungkin.
When it's got to ended, let it's over, FINITO!!
@Thursday
Wednesday, September 3, 2008
Kembang, Kumbang dan Kupu-Kupu Kecil
Huaaa... Kangeen banget nulis buat blogku tercinta ini! Maklum berapa hari sibuk ama urusan hati yang sampai hari ini belum kelar juga sih. Karena pusat pemerintahan diambil alih oleh hati, makanya masalah tak cepat tertuntaskan, berlarut-larut dan malah kian membelit otak yang semula memegang kendali.
***
Kembang yang hanya batang, tumbuh kuncup berdahan. Kupu-Kupu Kecil hinggap, temani kembang bermekaran dalam warna-warni musim berganti. Kupu-Kupu telah jatuh hati pada Kembang yang nyaris mati. Kupu-Kupu memberinya selaksa makna, namun Kembang hanya harus miliknya.
Suatu hari Kupu-Kupu memergoki Kumbang mencium Kembangnya, menawarkan keharuman berbeda. Dalam keperkasaan sengatan sang Kumbang, Kembang terhipnotis. Kupu-Kupu indah namun rapuh mengiba. Kembang hanya harus merasakan wanginya. Kembang terlalu letih menuai kenikmatan semu dari sang Kupu-Kupu, namun tak sampai hati menyaksikan Kupu-Kupu kehilangan sayap tuk terbang, bahkan tak merasakan godaan sang Kupu-Kupu dalam kelopak cintanya.
Kembang setaman dikitari Kupu-Kupu dan Kumbang tak saling berpadu dalam wewangian keabadian. Akankah?
***
Kembang yang hanya batang, tumbuh kuncup berdahan. Kupu-Kupu Kecil hinggap, temani kembang bermekaran dalam warna-warni musim berganti. Kupu-Kupu telah jatuh hati pada Kembang yang nyaris mati. Kupu-Kupu memberinya selaksa makna, namun Kembang hanya harus miliknya.
Suatu hari Kupu-Kupu memergoki Kumbang mencium Kembangnya, menawarkan keharuman berbeda. Dalam keperkasaan sengatan sang Kumbang, Kembang terhipnotis. Kupu-Kupu indah namun rapuh mengiba. Kembang hanya harus merasakan wanginya. Kembang terlalu letih menuai kenikmatan semu dari sang Kupu-Kupu, namun tak sampai hati menyaksikan Kupu-Kupu kehilangan sayap tuk terbang, bahkan tak merasakan godaan sang Kupu-Kupu dalam kelopak cintanya.
Kembang setaman dikitari Kupu-Kupu dan Kumbang tak saling berpadu dalam wewangian keabadian. Akankah?
Subscribe to:
Posts (Atom)