"Jika diumpamakan skala nol sampai sepuluh, perasaanmu sekarang berada di kilometer berapa?" tanyamu.
"Kilometer sebelas!" celetukku asal-asalan. Kalimat yang terloncat dari mulutku beberapa waktu lalu memang asal-asalan tapi hari ini aku meyakini bahwa ucapanku itu memang tepat adanya. Kilometer sebelas. Yah, disitulah tempatku. Berada diluar antara nol dan sepuluh. Dan disitulah seharusnya dan kini aku berada.
***
Sebuah roda terdiri dari banyak jeruji kuat yang menopangnya hingga bisa berputar indah sampai ke tujuan. Pun jika salah satu jeruji kemudian terlepas di tengah jalan, roda tersebut tetap bisa berjalan, meski terseok, namun tetap akan sampai ke tujuan. AKU adalah salah satu jeruji itu.
When it's got to ended, let it ended at all.
Aku bukan tak ingin mengalah. Kenapa setiap orang sibuk dengan keinginan masing-masing? Mempertahankannya, bahkan secara tak langsung menuntut yang lain untuk mengikuti alurnya. Termasuk aku dan aku mengikutinya. Demi untuk sebuah kebersamaan, KATANYA. Sedangkan aku tak bisa!
Aku juga punya keinginan! Maka biarlah jeruji yang terlepas menemukan alurnya sendiri. Meski hanya sebongkah jeruji terkoyak tak punya arti.
***
Tertutup sudah pintu
Pintu Hatiku
Yang pernah dibuka waktu
Hanya untukmu
Kini kau pergi
Dari hidupku
Kuharus relakanmu
Walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi
Didalam hati
Sejenak luluh bergeming
Menjauh pergi
Tak ada lagi
Cahaya suci
Semua nada beranjak
Aku terdiam sepi
Dengarlah matahariku
Suara tangisanku
Kubersedih
Karna panah cinta menusuk jantungku
Ucapkan matahariku
Puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu
Menaklukkan waktu
***
Jika kemarin-kemarin aku masih galau, namun hari ini ada kelegaan menyeruak. Keikhlasan. Meski buliran air meretas di kelopak mataku, namun tak sampai membanjiri pipi, hanya mendanau perih bergelombang, kemudian tersapu oleh pelangi getir yang terpancar dari bibirku.
***
Jikalau ini adalah modus Sang Penguasa Alam untuk menegurku agar kembali fokus menyelesaikan PR terbengkalai akibat problematika hati yang kian melebar menyita nyaris sebagian waktu mentari bersinar disetiap hari dalam hidupku, maka aku akan segera tersadar dari ilusi semu yang nyata ini.
No comments:
Post a Comment