Thursday, December 24, 2009

Hari IBU: Kasihan, Dua Perempuan itu "Sakit"!

Seorang perempuan yang tengah hamil muda harusnya cukup disibukkan menata kehamilannya agar kelak tak terjadi apa-apa. Namun lain halnya dengan ESTI WAHYUNINGTIAS, atau yang lebih ngetop dijuluki ADE KUPU-KUPU KECIL itu, ia malah sibuk menebar dusta dan memutarbalikkan fakta kemana-mana.

Alasannya, tak terima diputusin, tak terima ditolak ketika ngajakin aku balikan, ia mulai menyebar racun dengan mulut kotornya. Mulai dari menjelek-jelekkanku ke seantero teman-teman lesbian lewat dunia maya, tetapi karena tak kutanggapi ia kian gusar. Ia menyebar nomor hapeku kepada lelaki-lelaki via chatting. Tiap hari hampir sepuluh lelaki yang menelepon atau sms ngajakin ML mampir ke hapeku. Pun kali ini aku diam. Dan kediamanku menambah kegusarannya. Perempuan tiga puluh tahun beranak satu itu ganti menyebarkan nomor telepon kantor tempatku bekerja pada lelaki-lelaki hidung belang itu. Praktis, hampir tiap saat telepon kantor berdering menanyakan namaku, padahal tak satu pun dari mereka kukenal. Semua teman kantor akhirnya mengetahui hal tsb. Aku jadi tak enak, persoalan pribadi yang menurutku telah selesai seiring berakhirnya hubungan kami, malah merembet pada aktivitas kantor. Aku geram, karena kredibilitasku dipertaruhkan. Namun beruntung, semua teman kantor yang memang telah mengenalnya karena ia pernah melamar sebagai staf keuangan di kantor tempatku bekerja tetapi tidak diterima itu mendukungku bahkan akan mengambil tindakan tegas padanya jika ia masih menyebarkan nomor kantor. Aku sedikit lega.

Aku bukan tengah mencari dukungan, tetapi orang-orang yang mengenal keseharianku tentu jauh lebih memahami siapa dan bagaimana aku daripada mendengar ceracauan nggak jelas fakta dan kebenarannya.

Aku memilih diam bukan karena aku mengalah, atau bahkan kalah. Justru dengan hasutan-hasutan bertubi-tubi itu kian memperjelas siapa aku dan siapa ESTI. Aku tak perlu berkoar-koar menjabarkan kejelekan seorang ADE KUPU-KUPU KECIL, malahan aku menyilahkan dengan hormat untuk ANDA-ANDA semua yang termakan omongan manisnya agar mengenalnya lebih dalam. Toh aku yakin dan percaya akan mempunyai penilaian tersendiri tentangnya. Jangan dikira aku akan marah karena hasutannya, aku justru kasihan. Kasihan pada anak-anaknya! Aku diam karena aku respek terhadap perempuan yang telah dua tahun mengisi hidupku itu. Meski kini aku sudah memilih untuk tak lagi meneruskan hubungan yang membuatnya membarakan isu aku masih berusaha menghubungi dan mengganggu hidupnya padahal fakta yang terjadi adalah kebalikannya. Aku sudah menutup semua akses informasi dengan memblokir fesbuknya agar ia tak merecoki teman-temanku dan aku sudah tak mau ada komunikasi lagi, meski ia terus menjelekkanku via sms kepada teman2 yang kukenal (meski cekokannya tak ada hasil). Aku bukan tengah menebar permusuhan, hanya ketika sebuah hubungan berakhir, setelahnya aku harap tak saling ganggu.Tapi rupanya ia memilih permusuhan.

Belum usai "teror" telepon, seorang perempuan lagi muncul bak malaikat penolong kesiangan. Alih-alih jadi pembela kebenaran, ia tiba-tiba menyambangi inbox fesbukku dan seolah telah tahu segalanya ia menuliskan unek-unek yang membuatku eneg. Enegnya, aku bahkan tak mengenalnya! KAWAI WIE, aku hanya pernah tau, ketika itu aku masih berhubungan dengan ADE KUPU-KUPU KECIL, dua perempuan itu dulunya adalah sepasang kekasih, entah sekarang. Dan jika kini si KAWAI WIE itu tiba-tiba sok teu (entah apa saja yang dicekokkan padanya) mewejangiku dengan nasehat yang seharusnya dicerminkan lebih dahulu pada dirinya sendiri sebagai orang yang hanya menjadi tempat sampah ADE KUPU-KUPU KECIL, yang bahkan ia sendiri tak bisa memilah mana sampah yang busuk dan mana yang tidak. Mempropaganda namaku dan -mati2an mencoba tetapi tak berhasil- meyakinkan semua orang bahwa ADE KUPU-KUPU KECIL adalah korban, what the hell you done? Hanya membuat orang-orang yang benar-benar mengenal aku dan siapa ADE KUPU-KUPU KECIL tertawa!

Ah, sudahlah! Berpanjang-panjang kata dengan dua perempuan yang dua-duanya juga seorang ibu, bagiku nggak penting. Kayak bicara ama tembok, bikin capek diri sendiri. Hubunganku dengan ADE KUPU-KUPU KECIL sudah berakhir, aku tak ingin mengganggu dan diganggu lagi karena kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku cuma ingin melanjutkan hidup.

Tentang hari IBU, kalian adalah IBU, cerminkan itu sebagai contoh dan panutan untuk anak-anak kalian, jadi jangan kayak orang nggak ada kerjaan aja kerjaannya kok merecoki hidup orang lain. Kalau mau bikin sensasi, malu ama umur and ama cindil2 (anak2 tikus) yang pernah kalian kandung. Bangkai yang ditutupi selimut emas sekalipun tetap saja disebut bangkai dan cepat atau lambat akan tercium kebusukannya.Stop ngerecoki orang karena perilaku kalian tak lebih dari orang-orang "sakit" tak punya kerjaan yang bisanya menyalahkan orang lain atas apa yang telah diperbuat oleh diri sendiri!

Tulisan ini adalah tulisan terakhir tentang kalian. Selebihnya aku akan diam. Bagiku, cerita ini sudah selesai. TAMAT.

Wednesday, December 16, 2009

MUDAH JATUH CINTA

Aku mudah jatuh cinta? Benarkah? Aku mengajukan pertanyaan itu kepada diriku. Dan jawabnya... MUNGKIN. Karena tak kupungkiri ketika ada orang baru menggelitik hatiku, aku merasakannya. Tersenyum, tertawa, kalau boleh kubilang sih hepi-hepi nggak jelas gitu sih. Tapi mudah dag dig dug mudah pula ilfilnya jika ternyata sosok yang menggelitik itu hanya mampu memesona mata, bukan hatiku.

Akankah ia mengalami nasib seperti sosok-sosok sebelumnya? Entah kenapa aku semakin banyak pertimbangan. Selain masalah hati bukanlah prioritas buatku saat ini.

Namun perempuan ini bukanlah wajah baru. Aku mengenalnya telah hampir tiga tahunan. Ini kali kedua kami bersua. Wajah lama penampilan baru. Bagaimana tidak, tubuhnya lebih berisi daripada setahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku menemukannya duduk sendiri menantiku di terminal dengan getaran-getaran aneh menjalari segenap nadiku.

Ketika itu aku bukan apa-apa. Aku masih sibuk menata hidupku. Pun menata perasaanku atasnya. Perasaan yang kuduga juga tumbuh di dasar hatinya namun cepat-cepat ia patahkan karena keberadaanku saat itu tengah menjadi milik orang lain. Ia mungkin memandangku tak serius. Meski aku hanya mencoba menjabarkan bagaimana perasaan itu memang benar ada tapi tak untuk memiliki dan dimilikinya.

Kini kondisinya berbalik, aku tak punya siapa-siapa, sedang ia tengah bimbang oleh dua orang yang sedang beradu mendapatkan hatinya. Ia berkisah kegamangannya tentang kedua orang tsb. Nampak ia menguji apakah aku akan masuk dalam arena aduan untuk memperoleh tempat di hatinya, meski tak kupungkiri rasa itu belum sepenuhnya mati. Namun satu hal yang tak akan kulanggar sebagai prinsip yang selalu kujunjung tinggi: aku tak suka kompetensi, apalagi hanya untuk memperebutkan perempuan.

Perasaannya padaku memang hanya siratan. Ia sepertinya tak mau mempertontonkannya, bahkan mencoba membungkusnya rapat-rapat, meski aku bisa menangkap seraup wajah yang mencuri-curi pandang.
Jual-mahal. Aku menyebutnya demikian. Padahal jika merunut kembali ke belakang, beberapa bulan setelah kami saling mengenal tiga tahun lalu, ia terang-terangan ingin menjalani hari-hari denganku meski via telepon, namun kala itu aku menolak. Aku belum bertemu muka dengannya, maka aku tak ingin berspekulasi membina hubungan tanpa rupa.

Ia mungkin kecewa. Tapi kami tetap bersahabat. Hingga setahun lalu kami saling mengetahui sosok masing-masing dan membalikkan keadaan. Dan pertemuan kedua ini entah hendak kunamakan apa, bingung, sama nggak jelasnya dengan perasaanku.

Awalnya aku memang hendak menantang hatiku. Apakah rasa itu masih ada diantara jeda waktu hampir setahun dengan frekuensi komunikasi teramat jarang? Dan ia benar datang. Bergelut antara logika hati dan perasaan serta fakta, aku akhirnya mengurungkan niatku mencari jawab. Pergeseran yang kemudian kupilih untuk perempuan yang hampir tiga tahunan ini kukenal. Yah, perasaanku atau bahkan perasaannya kini tak lagi penting. Melihat ia mereguk senyuman dalam menjalani pergantian waktu adalah saat-saat aku membungkus rapat perasaan untuk kemudian kuremas dan kulempar jauh dari relung terdalamku.

Love still not my priority, I guess, for now.

Thursday, December 10, 2009

MENGENAL ORANG BARU

"Ntar sore aku maen tempatmu ya?"
Aku tertegun membaca pesan singkat di ponselku kemarin. Dari seseorang yang baru beberapa hari kukenal, tepatnya dikenalkan seorang teman. Jemariku bergerak menuliskan balasan.
"Maaf. Jangan dulu deh kayaknya."
Tak berapa lama aku mendapat sms balasan. Mutung, istilah jawanya. Alias ngambek-ngambek gak jelas. Namun bagiku itu jalan tengah dari ketakutanku.
Mungkin terdengar lucu ketika aku menggolongkan bertemu orang-orang baru sebagai sebuah ketakutan. Beberapa tahun lalu, ketika aku merasa masih muda, adalah mudah untuk mengenal orang-orang baru dengan tangan terbuka. Patah tumbuh hilang berganti. Tetapi kini aku merasa umurku sudah terlampau tak muda untuk mengulangnya. Karena itu aku menamakannya sebuah ketakutan.

Logikanya, menemukan perempuan yang click tanpa mengenal, adakah mungkin? Nah, itu yang hendak kucari jawab.

Sunday, November 15, 2009

Menanti Sebuah Jawaban

Layaknya judul sebuah lagu, kini aku juga tengah risau. Menanti jawab akan sesuatu yang belum pasti dan teramat kuragukan akan terkisah dalam kehidupanku.

Kapan, kapan dan kapan? Aku selalu melantangkan kata itu. Kata yang tak pernah -dan semoga saja hanya belum- kutuai jawab. Aku sedang meracau, ya aku memang tengah kacau oleh pertanyaan yang tak pernah -dan sekali lagi semoga saja belum- kudapatkan jawabnya.

Jawaban pertautan hati. Untuk siapa hati ini akan berlabuh. Kapan, kapan dan kapan? Karena hati ini sudah letih. Hati sedang menunggu sesuatu yang pasti. Kapan, kapan dan kapan? Haruskah aku terus dan selalu bertanya -berharap-.

Terapi berpikir positif. Aku sedang menyelami buku itu. Bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, sikap, hasil dan segala sesuatu yang merefleksikan apapun dari diri kita. Tergantung kemana kita membawa arah pikiran kita. Negatif dan positif.
Aku bukan tengah menahkodakan balutan pikiran dengan berburuk sangka pada Tuhan bahwa ia tak menciptakan seseorang yang terbaik untuk menemani dan menyempurnakan hidupku, tapi pertanyaan kapan, kapan dan kapan? terasa salahkah jika aku memenuhi pikiranku dengan tanya yang tak kunjung kupetik jawab itu?

Tanyaku adalah sangka positif agar jawab itu lekas-lekas kureguk. Aku percaya segala sesuatu telah digariskan, dibentangkan dan dipamerkan dengan cara yang kadang unik untuk ditelusur dengan nalar dan logika. Semoga...

K A M U F L A S E

Seolah-olah...
Seakan-akan...
Pretend that...
Sepertinya...
Look like...
Nampaknya...

Padahal,

Sesungguhnya...
Sebenarnya...
Actually...
Exactly...
Sejatinya...

Tak ada.
It's nothing.

Apakah anda bingung?
So do I

Friday, November 13, 2009

Thank God I Found You

Thank God I found you

I was lost without you

My every wish and every dream

Somehow became reality

When you brought the sunlight

Completed my whole life

I'm overwhelmed with gratitude

Cause baby I'm so thankful

I found you

Ia menyukai lagu ini
Kerap mendengungkannya
Aku pun menyukai lagu ini
Namun tak pernah tau judulnya
"Apa judul lagu ini?" tanyaku.
"Thank God," jawabnya.
And thank's God I found u then .... :)

Wajahmu Mengalihkan Duniaku

Ketika kau lewat di bumi tempat ku berdiri
Kedua mata ini tak berkedip menatapi
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu

Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Hey .. Hey .. Hey.. Pesonamu
Dan wajahmu mengalihkanku

Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu

Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Hidupku penuh warna
Ku selalu mendekatimu memberi tanda cinta hooo ooo..

Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku

Sunday, November 1, 2009

KOS-KOS-AN BELOG!

Perempuan belia itu awalnya hanya mondar-mandir sembari senyam-senyum ketika aku ngobrol bersama tiga penghuni kos lain. Bahkan ketika ia ikut nimbrung, ia masih sibuk dengan dunianya sendiri bergelut dengan hape dan pikiran yang kadang melayang. Tetapi ketika satu demi satu penghuni kos berhamburan dengan urusan masing-masing, menyisakan perempuan itu dan aku yang juga akan beranjak, perempuan itu lekas-lekas membuka mulut menahan langkahku. Ia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadinya cuma diam aja, tiba-tiba langsung nyerocos. Memperkenalkan diri. Menanyai aktivitasku. Dan sebuah pertanyaan yang membuatku sangat tercengang.
"Mbak, mbak tau kan temenku yang kayak cowok itu?"
Aku mengangguk. Beberapa malam lalu aku mendengar suara gaduh diluar. Ketika menengok ke depan, ternyata ada penghuni kos baru. Dua diantara mereka berambut pendek.

"Kemarin temenku itu nyuruh aku nanya-nanya apakah mbak dan mbak yang itu (perempuan itu menunjuk perempuan berambut pendek di dalam kamar) adalah butchy?"
Kontan aku terperangah. Perempuan itu tanpa tedeng aling-aling bertanya.
Awalnya, aku cukup kebingungan menjawab, namun perlahan kujelaskan sekaligus memberi pengertian bahwa di lingkungan sini masih belum terbuka soal hal itu. Ia mengangguk-angguk mengerti. Dan sejak obrolan itu, hampir tiap aktivitasku tak pernah luput dari pantauan dan komentarnya.
Sebuah realita yang membuatku tertawa. Bagaimana tidak, dulu aku pernah bercerita anak ibu kos ternyata belok. Lalu ada seorang perempuan berambut cepak lagi yang kadang kugiring mengakui kelesbianannya. Ditambah seorang penghuni lagi yang juga belum mau mengakui. Lah, terakhir perempuan yang masih duduk di bangku SMU ini yang jelas-jelas mengungkap orientasi seksual sang teman namun menampik dirinya mempunyai orientasi seksual yang sama. Wah, kos-kos-an kok makin banyak anak-anak beloknya, selain perempuan-perempuan berjilbab nan pendiam di lantai atas.

Friday, October 30, 2009

RE-FRESH HEART

Membuka hati, mencoba tepatnya. Karena aku sendiri tidak terlalu yakin hati yang mana yang hendak kubuka, malahan kalau boleh kupertentangkan dan memang kerap terjadi dialektika diantara pikiran, aku masih punya hati kah? Itu mungkin pertanyaan besarnya. Tapi tentu saja jangan diartikan dalam definisi denotatif. Tiap makhluk tentu punya hati.

Fokus hidupku saat ini hanyalah berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan untukku sendiri karena dipundakku kini tertulis tanggung jawab orangtua semata wayang, perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Otakku hanya terperas untuk itu. Cukup bikin mumet. Dan rasanya sudah terlampau penuh untuk memikirkan hal lain. Mencari cinta maksudnya, karena mempertahankan jelas tak mungkin. Hari-hari yang selalu dan selalu begitu jelas-jelas tak untuk diperlama, meski jeda waktu untuk mulai terbiasa juga tak singkat. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya.

Berulang aku berkata; tak ada waktu mencari cinta. Aku berpikir bahwa ketika kehidupanku sudah tak disibukkan meraih dan menggapai buliran rupiah dengan susah payah, pendamping akan mengikut dengan sendirinya. Tapi tak bisa kunafikan bahwa keinginan untuk ditemani, atau paling tidak disemangati -dan bukannya dimarahi dan di curigai- untuk meraih sesuatu dalam hidup oleh orang terkasih kadang terbersit. Meski kemudian ada ketakutan mengiring.

Ya, aku menyebut itu sebuah ketakutan. Dan sekali lagi jangan diartikan sebagai makna sebenarnya. Sejak aku membuka diri mencari pasangan perempuan kurang lebih empat tahun lalu, perempuan yang pernah tersemat di hatiku boleh dibilang bisa dihitung dengan jari. Meski sebuah pengecualian ketika untuk pertama kali hatiku terobek aku mencari tambalannya dengan begitu banyak penambal. Walhasil, tangan-tangan yang mungkin sengaja kubiarkan merogoh tempat paling sensitif -kata Ari Lasso- itu malah compang-camping. Aku kapok!
"Suatu saat kau akan menemukan orang yang lebih baik!" seru si pembuat lubang di hatiku itu dengan nada tenang seolah tak menyadari bahwa hati yang masih bersemi oleh sosoknya ini sontak beku seketika.
"Kapan itu akan terjadi?" Aku merutuk karena entah kenapa sejak itu hari-hari sepanjang hidupku hanya beralih dari satu kenalan ke kenalan lain.
"Aku yakin suatu saat kau akan menemukannya. Dan jikalau sekarang begini, mungkin waktu tsb belum datang kepadamu!"
Ucapannya doeloe kini terngiang di kupingku.
"Shit!" Aku mengumpat dalam-dalam. Waktu tsb sampai detik ini belum datang padaku.

Berelasi dengan orang-orang baru, ya dulu aku mulai melakukannya. Bahkan sampai tak hafal nama mereka satu persatu. Tapi untuk sekarang ini, kurasa umurku sudah tak lagi muda melakoninya. Lagian, malas!
Mengenal sosok yang tak pernah kutemui, dalam dunia maya pula, malas! Membahas umur, kegiatan sehari-hari dan basa-basi lainnya. Hah, makin malas saja.
Aku sudah setahun di jogja, dari selentingan aku tahu beberapa tempat kumpul lesbian di kota ini, tapi lagi-lagi, malas!

Ah, kurasa aku juga mulai muter-muter. Apa mauku sebenarnya? Mungkin dibilang sederhana tapi susah direalisasikan. Bisa tidak menemukan seseorang yang klop tanpa perlu kenalan sana-sini, mulai dari facebook sampai Mirc, paling tidak, untuk berbagi? Karena jujur, aku sudah terlampau malas menjajaki seseorang dengan basa-basi sampai basi.
Ya mungkin jawabannya memang cuma satu, aku memang belum waktunya menemukan orang yang tepat! Ah pusing juga mikirin begituan ya! Anyone can help? Just rescue me!

Wednesday, October 28, 2009

KEBETULAN YANG BETUL-BETUL SALAH!

Cerita ini hanya iseng dan kebetulan semata...
Tanggal 28 Oktober, aku kebetulan mendapat sms dari seorang teman di Jakarta. Teringat kami dulu pernah "ngerumpi" soal perkumpulan lesbian yang tengah bermasalah, dimana ia juga menjadi korban sampai termehek-mehek. Bukan cerita itu yang akan kubahas.
Ketika online di kantor, iseng-iseng aku buka fesbuk perempuan itu, menjelajah teman-temannya satu persatu, dan apa yang aku temukan...
Aku mendapati fesbuk seseorang dari masa laluku. Aku bahkan mengucek mataku beberapa kali dan memelototkan penglihatan ke layar monitor. Dan benar, itu dia. Padahal dulu ia mengaku tak suka forum dunia maya, selain memang dilarang oleh "guk-guk"nya.
"Ati-ati lho ntar ada guk-guknya!" seru seorang teman yang dulu mengetahui ceritaku dengan orang dari masa lalu ini.
Aku tertawa lepas karena memang aku juga menemukan si "guk-guk" dalam daftar temannya. Aku pun teringat, hari ini adalah hari ultahnya. Hah, kok banyak kebetulan hari ini. Kebetulan dapat sms dari teman lama. Kemudian kebetulan iseng menjelajah isi fesbuknya. Kebetulan nemuin fesbuk seseorang dari masa lalu. Kebetulan hari itu tanggal 28. Kebetulan hari itu aku teringat adalah hari ulang tahunnya. Dan diantara semua kebetulan itu ternyata aku kebetulan betul-betul salah ingat. Ulang tahun seseorang dari masa lalu itu bukan tanggal 28 Oktober, seingatku ia berzodiak Libra, 28 Oktober kan udah keitung Scorpio hehe ingatanku betul-betul salah. Ya maklum dah hampir empat ato lima tahunan hehehe...

Kebetulan apa lagi ya?

WHY, GOD?

"Kamu kok tenang-tenang aja sih, padahal kelangsungan hidup kita bagai telur di ujung tanduk!" ujar seorang teman kantor padaku melihat aku tak tampak panik dengan situasi tempat kerja yang lagi masuk "ruang ICU" itu. Bagaimana tidak, seperti yang temanku ungkap, hidup kami memang tengah dipertaruhkan. Tapi prediksi mereka akan ketenangan wajahku sepertinya salah besar. Aku memang tak menampakkan rupa cemas ketika bersama mereka, tapi nyatanya ketika kakiku terayun pulang dan memasuki ruang 3x3 kala mentari baru sembunyi di peraduannya, bukan hanya wajahku yang berubah drastis. Mood. Otak. Dan semuanya. Seperti komplikasi penyakit, campur aduk. Masalahnya otakku tak hanya merekam cerita hidupku semata, tetapi juga urusan perut ibuku. Belum juga terselesaikan akan bagaimana aku menambah pundi-pundi rupiah, ruangan 3x3 itu memaksaku memikirkan hal lain. Jengah juga!
God, aku sedang tak ingin berpikir, sungguh! Karena tiap kali aku beranjak dari tekanan pikiran itu tiap kali pula semangatku sedikit demi sedikit luntur. Gamang lagi. Tujuan yang telah di-plan-kan tampak samar dan sumir lagi. Seperti jalan di tempat, stuck lagi. Dan kembali pertanyaan yang sama menggaung dan menggema dalam diri, kenapa hidupku seperti ini? Why God? Dan selalu hanya pertanyaan tanpa jawab!
00:23 Wed 28 Oct 2009.

SIFAT ORANG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH

SIFAT ORANG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH


SIFAT :

A : terorganisir, konsisten, jiwa kerja-sama tinggi, tegas, bisa diandalkan meski keras kepala, perfeksionis sehingga kadang bikin orang lain jadi sebel, mudah cemas atau gugup, biasa menekan perasaan sehingga terlihat tegar, keras terhadap orang-orang yang tak sependapat dengannya, kecenderungan politik: “destra”.

B : santai, easy going, bebas, dan sangat menikmati hidup, cenderung punya banyak hobby, kalo sedang fokus dengan sesuatu biasanya melalaikan hal lainnya, kalo lagi suka dengan sesuatu biasanya menggebu-gebu tapi cepat bosan, ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal, tidak suka bergaul dengan banyak orang, bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya, kecenderungan politik: “sinistra”.

O : berjiwa besar, supel, nggak mau ngalah, nggak suka hal-hal yang njlimet (detil), fleksibel dan mudah menerima hal-hal baru, mudah terpengaruh oleh orang lain atau dari apa yang dilihat di TV, biasanya disukai oleh semua orang, mudah menutupi perasaan sehingga terlihat selalu riang dan tak punya masalah tapi kalo sudah nggak tahan akan mencari tempat curhat, kecenderungan politik: “centro”.



AB: unik, nyleneh, banyak akal, berkepribadian ganda, lembut, sensitif, penuh perhatian dengan perasaan orang lain, sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam, punya banyak teman, kecenderungan politik: “sinistra”.

BERDASARKAN URUTAN :

Yang paling gampang ngaret soal waktu :

1. B (karena nyantai terus).
2. O (karena flamboyan).
3. AB (karena gampang ganti program).
4. A (karena gagal dalam disiplin).

Yang paling susah mentolerir kesalahan orang :

1. A (karena perfeksionis dan narsismenya terlalu besar).
2. B (karena easy going tapi juga easy judging).
3. AB (karena asal beda).
4. O (easy judging tapi juga easy pardoning).

Yang paling bisa dipercaya :

1. A (karena konsisten dan taat hukum).
2. O (demi menjaga balance).
3. B (demi menjaga kenikmatan hidup).
4. AB (mudah ganti frame of reference).

Menurut survey, golongan darah yang paling disukai untuk jadi teman :

1. O (orangnya sportif).
2. A (selalu on time dan persis).
3. AB (kreatif).
4. B (tergantung mood).

Kebalikannya, teman yang paling disebelin/ tidak disukai:

1. B (egois, easy come easy go, maunya sendiri).
2. AB (double standard).
3. A (terlalu taat dan teliti).
4. O (sulit mengalah).

Tuesday, October 6, 2009

Ceceran Cerita Lalu

Beberapa malam lalu ketika aku mengobrak-abrik dokumen lama, tak sengaja aku menemukan rangkuman tanggal-tanggal penting beserta ringkasan peristiwa. Dan tahu tidak tahunnya... Sepuluh tahun lalu. Tepatnya ketika aku SMU. Aku mulai membaca satu demi satu cerita, yang kuakui kosakata dan gaya penulisannya sangat lugas sehingga kurang enak dibaca meski secara keseluruhan mudah dimengerti.

.Ah, lupakan tentang bahasa! Aku memacu ingatanku untuk memutar ulang kenangan satu dekade lalu itu. Orangnya aku ingat betul, tapi satu persatu cerita yang tertera hanya beberapa tanggal saja yang sanggup kureka ulang sementara yang lainnya aku hanya sanggup berkata: "Cerita yang mana ini ya?"
Yah, aku memang sungguh lupa. Tapi sosok dalam cerita itu, aku masih teramat ingat. Perempuan yang setahun lebih muda dariku. Ia adik kelas yang kebetulan juga adik kandung teman sekelasku. Aku sudah mengenalnya, tepatnya, melihat sosoknya sejak ia kelas 3 SMP. Ia sering kulihat sepulang sekolah di mobil yang juga menjemput kakak perempuannya. Anehnya, setelah aku naik kelas dua dan ia jadi adik kelasku, aku malah akrab dengannya, bukan dengan kakaknya. Malahan ketika menelepon ke rumahnya dan kebetulan sang kakak yang mengangkat aku harus menyamarkan nama dan suara meski sang kakak selalu bisa menebak dengan benar. Tengsin juga, selevel dengan kakaknya, kok malah akrab dengan adiknya. Namun lama-lama aku jadi terbiasa.

Dan yang lebih aneh ketika aku beranjak di kelas tertinggi semasa SMU, aku dekat dengan dua adik kelas yang telah kuanggap seperti adikku sendiri sama-sama berebut perhatianku, bahkan untuk sebuah permen. Aku masih ingat ketika itu, adik kelas yang kelasnya bersebelahan dengan, sebut saja V, memberiku permen berbatang layaknya es krim. Nah, ketika itu, adik kelas yang lain, sebut saja M, lewat dan meminta permen tsb. Ketika tahu siapa pemberi permen itu terhadapku M manyun. Begitu pula ketika keduanya saling berebut buku-buku catatan dan hasil-hasil ujianku semasa aku kelas dua dulu yang lebih sering kuberi ke V, dan M pun iri. Aku bukannya pilih kasih, kupikir M lebih pintar sekaligus lebih kaya kuanggap mampu membeli semuanya. Namun M bukan mempermasalahkan tentang hal itu, ia juga butuh perhatian dan pemberian yang sama. Begitu pula ketika suatu hari berkas ulangan bahasa Inggrisku kuberikan pada M, V marah-marah. Padahal solusinya cukup dengan meminta berkasnya pada M untuk difotokopi. Tetapi V menolak. Hal yang selalu membuatku tertawa adalah kedua perempuan ini tak pernah terlihat akur apalagi berbarengan dalam satu even.

Status ekonomi yang menjedakanku dengan M, meski M tak pernah memberi batas. Aku sendiri yang memberi jarak. Lain hal dengan V, aku sering menyatroni rumahnya, kenal orangtua dan dua kakak perempuannya. Ia pun sesekali berkunjung ke rumah. Pernah, hubungan kami renggang bahkan nyaris putus ketika ia berpacaran dengan lelaki yang aku tak suka.

Dua perempuan ini mengingatkanku akan hakikat kenapa aku memilih orientasi seksualku sebagai pencinta perempuan. Aku dulu malah terfikir, aku menyukai perempuan hanya sebatas ingin punya saudara perempuan untuk berbagi. Aku akui, rasa cemburu itu ada, tapi tidak untuk memiliki. Aku hanya senang ketika mereka dekat denganku.

M dan V menautkan kembali ceceran cerita masa lalu yang selalu menyisakan sebait senyuman di bibir. Meski keduanya tak lagi dekat di selayang mataku, namun kita tetap berhubungan.

M telah meraih cita-citanya sebagai dokter dan menikah dengan lelaki yang seprofesi dengannya. Aku masih ingat ia pernah berujar begini ketika menyambangi praktek dokter THT tempat kerjaku dulu semasa ia masih menjadi mahasiswa kedokteran. "Mbak, kalau nanti aku jadi dokter, mbak jadi asistenku ya?" Sebuah janji yang mungkin suatu saat nanti akan kutagih.

Sedangkan V lebih ada kontak denganku. Smsnya sering mampir ke ponselku, seperti ketika aku pulang kampung Idul Fitri kemarin. Ia berujar kangen dan memintaku datang ke kota tempatku lahir serta dibesarkan. Tapi aku tak ada waktu. V mengaku sedang menanti giliran menikah setelah kakak keduanya naik pelaminan tak lama lagi.

Dua perempuan yang akan selalu membekaskan cerita manis dalam ceceran masa laluku.

I miss u, girls!

Friday, October 2, 2009

DIFFERENT

Berbeda. Ya, kita semua tak pernah nyaris selalu sama. Bahkan kembar identik pun mempunyai perbedaan. Apalagi kita, meski sama-sama perempuan. Perbedaan sifat, pemikiran, status sosial, pendidikan dan lain-lain.

Dan ketika sebuah hubungan ditautkan dengan perbedaan-perbedaan yang tak terelakkan itu, apa yang semestinya kemudian dilakukan? Perseteruan tentu kerap muncul. Kesalahpahaman mencoba ambil posisi. Amarah akan senantiasa mengikuti. Dan jikalau ketiganya terus menerus terjadi, akan bagaimana kelangsungan hubungan yang terbangun dengan bom waktu yang setiap saat bisa meledak di bawahnya ini?

Mencinta dengan kesederhanaan. Aku selalu menggaungkannya, tapi tak pernah dimengerti. Padahal untuk bercinta adalah sesuatu hal yang sederhana. Cukup dua hati. Kadang cemburu boleh dimaklumi sepanjang tak dijadikan kebiasaan tak beralasan.
Nah, aku kemudian jadi bertanya-tanya, apakah kecemburuan yang tak beralasan dan bahkan berlebihan yang selalu kudapati dan harus kutelan adalah bentuk rasa cinta dari seseorang yang menyayangku? Kecintaan bukan terukur dari seberapa dalam kau hendak memiliki orang yang kau cinta seutuhnya, tetapi tentang bagaimana kau ikut tersenyum ketika memandang senyumnya tanpa perlu memiliki.

Hatiku jika telah terisi, tak usah berfikir isi di dalamnya kan lari, kecuali jika kau dengan sengaja melubangi sisi-sisinya hingga derak dan gemuruh dalam bejana hatiku meretas keluar, mengikis pelan dan kemudian habis tak tersisa, maka kaulah yang patut disalahkan, bukan karena hati yang telah tak terisi.

Thursday, October 1, 2009

Menyikapi Dengan Kedewasaan

Amarah ini memuncak. Tak terkendali. Aku bahkan nyaris kehilangan kontrol ketika kehilangan kesabaranku. Api itu tersulut dan kian berkobar seperti hendak menyapu semua yang sanggup dilalapnya. Bahkan nyalanya memijar kesana kemari ketika minyak tanah dituang dalam panasnya hati. Membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama. Aku merasa itu bukan duniaku. Namun batas kesabaran manusia selalu tak bisa diselami berapa kedalamannya. Kenapa harus selalu aku yang dituntut untuk bertahan ketika aku juga bisa melakukan kejelekan yang sama seperti yang ia lakukan? Lalu untuk apa menahan diri? Setan itu awalnya menggerogoti akal pikiranku untuk ikut dalam pola permainannya. Dan aku sungguh ikut. Beruntung kah ketika aku kemudian berhenti di tengah-tengah permainan?

Aku bukan sadar bahwa kejelekan tak seharusnya dilawan dengan kejelekan. Aku hanya tak ingin setan yang berada di kepalaku menang, tentu juga tak akan melakukan cara-cara sesempurna malaikat. However, I'm still a human! Bagaimana lantas kemanusiawianku menggugah sesuatu dalam diriku untuk hanya mengingat kebaikan. Menumpuk bahkan menimbunnya di kepalaku.

Jika aku sungguh ingin melenyapkan sosoknya dari hatiku, kelak kebaikan itu akan selalu kusemayamkan dalam tempat terindah hatiku tanpa memberi celah sedikit pun pada kejelekan yang kau lemparkan padaku kini untuk menyeruak dan menguasai kisi-kisi relung terdalamku.

Hati-hati ketika berucap, karena apa yang telah terlontar dari lisan takkan pernah bisa terubah, bahkan oleh tip-ex berlapis emas berlian sekali pun. Sikapi problema dengan kedewasaan. Meski selalu problema yang sama. Terulang dan berulang. Ketika sebuah hubungan hanya selalu dan saling menyakiti, semestinya harus terakhiri.

Thursday, September 10, 2009

FINALLY...

Finally... Fiuhh, itu kata yang akhirnya kuambil sebagai sebuah kata pemutus pertanda tak berjalannya lagi ikatan dua tahun lebih sebulan ini. Yah, mungkin terdengar membosankan. Aku pun bosan. Dan tak tahu apa keputusan ini ujung2nya akan ber-ending sama dengan kejadian dulu2 alias putus-nyambung putus-nyambung putus-nyambung kayak lagunya BBB. Semoga saja kali ini tidak, dan tampaknya tidak.

Kesadaran bahwa mempertahankan hubungan yang tiap saat tiap waktu saling menyakiti dan sangat menyia-nyiakan waktu ini harus terus kutumbuhkan. Kuanggap ini penting karena terjatuh dalam kubangan yang sama tiap waktu juga tak baik.

Kupikir bukan hanya saling menyakiti, diibaratkan lagunya Numata, kamu maunya begini aku maunya begitu, alias kagak nyambung sama sekali. Tentu tak bisa dibiarkan. Aku merasa kamu tak mengerti aku, begitu pun sebaliknya. Lalu kemana ini semua akan bermuara? Pastinya jika tak dalam satu nahkoda akan tiba di pelabuhan berbeda.

Tapi tak lantas ketika ini semua terakhiri silaturahmi akan mati. Aku tak berharap demikian karena jujur aku ingin bermain dengan si kecil. Mendengar celoteh, canda dan tawanya. Aku pun akan merindukanmu. Tapi tak lagi dengan status yang sama. Kita masih bisa berteman, kuharap. Tapi untuk sementara biarlah waktu menjedakan jarak antara kita, sehingga bila tiba waktu perasaan ini sudah tak lagi bergemuruh, kuharap waktu jua yang akan mengembalikan pertalian kita dengan simpul yang berbeda, tentu saja.

Finally, I have to let u go. I hope this decision is the best for us. Tak lagi sejalan dengan pemikiran yang selalu kontra, sekali lagi kuharap kita dapat menguntai persahabatan yang terjalin indah.

I'll be miss u. Aku akan merindukanmu... Hingga rasa itu padam dalam hatiku, aku akan beritahukanmu...

PS: Airmata tiba-tiba menitik dan menderas. Aku telah memutuskan, memilih iringan kesedihan yang semoga saja singkat ketimbang serentetan kamuflase yang tetap akan selalu menyajikan sakit dan perih yang entah sampai kapan berakhir.

Sunday, August 30, 2009

About Zodiak

VIRGO - Yang Menunggu

Dominan dalam hubungan. Seseorang sedang mencintai mereka. Selalu
menginginkan kata terakhir. Perhatian, cerdas, nyaring, setia, mudah
diajak bicara. Contoh orang yang Anda inginkan, mudah disenangkan.

SCORPIO - Si Pecandu

Sangat memikat, rajin, senang bercanda, mempunyai selera humor yang baik,
giat, senang meramalkan masa depan, pencium yang baik. Selalu mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Menarik, santai, senang berada dalam hubungan
jangka panjang, cerewet, romantis, perhatian.

LIBRA - Si Pincang

Menyenangkan tiap orang yang mereka temui. Cinta mereka adalah kebaikan.
Konyol, iseng dan manis. Mempunyai daya tarik yang unik. Orang yang paling
perhatian yang pernah Anda temui, tetapi bukan orang yang baik yang Anda
ingin untuk menghentikan tangis.

ARIES - Si ....

Ramah, menimbulkan rasa sayang, spontan, rapih. Lucu, pencium yang baik,
sangat2 memikat, mencintai hubungan, pencandu, nyaring.

AQUARIUS - Bukankah Di Air??

Dapat dipercaya, menarik, pencium yang hebat, baik, suka dalam hubungan
jangka panjang, sangat giat, tak terduga. Melebihi perkiraan Anda. Bukan
tukang onar, tapi dapat merobohkan Anda.

GEMINI - Tak Dapat Ditolak

Menyenangkan. Cintanya adalah kebaikan. Pendengar yang baik. Sangat baik
di bidangnya. Pencinta bukan pembuat onar, tapi dia masih bisa merobohkan
Anda. Dapat dipercaya. Selalu riang. Nyaring. Cerewet. Ramah. Sangat
pemaaf. Mencintai utuh. Mempunyai senyum manis. Dermawan. Tangguh. Tak
dapat ditolak.

LEO - Si Singa

Pembicara yang hebat. Menarik dan bergairah. Penyandar. Tau bagaimana
bersenang2. Baik dalah semua hal. Pencium yang hebat. Tak terduga. Ramah.
Sederhana. Pecandu. Nyaring. Suka dalam hubungan jangka panjang. Cerewet.
Rapih. Jarang ditemui. Baik bila ditemukan.

CANCER - Si Cantik

Pencium yang mengagumkan. Berselera tinggi, cintanya adalah kebaikan.
Sangat romantis, seseorang yang perhatiannya tidak pernah ada temukan.
Kreatif. Acak2an dan bangga akan hal itu. Ajaib. Spontan, hebat bercerita.
Bukan tukang onar tapi akan merobohkan Anda bila macam2. Seseorang yang
dapat Anda andalkan.

PISCES - Pasangan Hidup

Perhatian dan baik hati, cerdas, pusat perhatian, berselera tinggi.
Gampang ditemukan, sulit untuk disimpan. Senang berkeliling, penakut tapi
tak terlihat. Punya selera humor yang baik. Pemikir. Selalu mendapatkan
apa yang dia inginkan. Suka bercanda, sangat populer, konyol, manis.

CARPRICORN - Kekasih Yang Berhasrat

Menyenangkan, lancang, pintar, seksi, suka meramalkan masa depan, susah
ditolak. Suka dalam hubungan jangka panjang. Pembicara yang hebat. Selalu
mendapatkan apa yang dia mau. Berkepala dingin. Suka kepada bintang Gemini
dalam berolahraga. Suka bercanda. Cerdas.

TAURUS - Si Petualang

Agresif, suka dalam hubungan panjang, suka berkelahi untuk apa yang mereka
inginkan. Ramah, suka menolong orang saat dibutuhkan, pencium yang baik,
berkepribadian baik, keras kepala, orang yang perhatian, baik, rapi. Orang
yang paling menarik di bumi.

SAGITARIUS - Tidak Pemilih

Spontan, berselera tinggi, jarang ditemukan, hebat bila menemukan. Suka
berada dalam hubungan panjang. Banyak cinta untuk diberikan, rapi, sangat
menawan, sangat romantis, menyenangkan bagi tiap orang yang mereka temui,
cinta mereka adalah kebaikan, konyol, manis. Punya selera yang unik. Orang
yang perhatian yang pernah Anda temui.

Friday, August 21, 2009

Hikmah Ramadhan

Ramadhan selalu membawa berkah. Tahun ini menurutku yang paling kentara. Betapa tidak, jelang sehari sebelum esok mulai berpuasa ada dua kejadian dalam hidup yang menunjukkan keagunganNYA.

Pertama, saat pagi ketika aku berada di workshop pengorganisasian dan advokasi jelang Konvensi ILO tentang PRT tahun 2010 mendatang, sebuah sms masuk. Dari teman penulis di komunitas tanama yang mengabarkan bahwa salah satu ceritaku dimuat di Mingguan grup Kedaulatan Rakyat. Senang mendengarnya. Ini adalah kali kedua cerpenku dimuat di koran yang sama. Padahal aku mengirim cerita itu hari selasa lalu. Tak disangka, cepat naik cetak.

Kedua, sorenya, usai aku meng-upload foto2 kegiatan pagi tadi ke web dan blog kantor, kepala kantor menghampiriku kemudian memberi surat ber-kop nama kantor tempatku menjadi relawan saat ini yang isinya adalah pemberitahuan bahwa aku diterima sebagai staf part-time. Alhamdulillah, ucapku bersyukur.

Berkah ramadhan 2009, semoga juga akan selalu menaungi kita bersama. Amien.

Marhaban Ya Ramadhan...

Wednesday, August 19, 2009

NAEK MOTOR...

Hari ini adalah pengalaman pertamaku naik motor. Ya, meski badan gede gini bisanya cuma naek sepeda ontel doang. Itupun pilih2, harus sepeda gunung, kalo model jengki atau yang ada keranjang di depan aku nggak bisa karena jenis stangnya bengkok.

Balik soal motor. Awalnya, aku kena kritik pedas oleh koordinatorku. Ketidakbisaan pakai motor menghambat mobilitas kantor. Dari satu suara kian ramai saja yang mendesakku belajar motor. Pasalnya, selama ini aku memang ingin belajar, kantor pun memfasilitasi, tapi kekhawatiranku adalah takut si motor kenapa2, lah darimana aku ngegantinya? Jadilah, belajar motor seperti mimpi saja. Tapi hari itu, suara2 orang2 kantor tak sanggup kubendung. Aku akhirnya keluar. Kebetulan motor sedang dipakai murid sekolah PRT yang juga berlatih.

Akhirnya, aku mulai dari dasar, ya malu juga sih, tapi kalo nurutin malu gak bakalan bisa, trus mpe kapan? Mana yang ngajarin galak banget! Biasanya ia cengengesan tapi ketika mengajariku motor ia jadi galak. Penontonku pun ramai. Entah kenapa aku seolah tak perduli. Biasanya kalo ditonton banyak orang apalagi ketawa2 gitu nyaliku menciut, tapi kali ini tidak.

Singkat cerita, proses dapat kulalui hingga aku bisa muter2 kompleks perumahan meski kata Shanti mirip bakul sayur ngejajain dagangannya alias super lambat banget jalannya, tapi gak pa-pa lah, at least I've tried dan tidak akan berhenti untuk terus belajar... Cemangatt!!

Sunday, August 16, 2009

Pyongyang vs Piyungan

Pyongyang dan Piyungan, sekilas -ingat:hanya sekilas ya!- dua daerah di negara yang berlainan itu -sekali lagi- sekilas hampir sama. Namun bukan karena hal itu aku jadi terkecoh oleh keduanya!

"Aku mau pindah ke Pyongyang habis lebaran!" cetusmu beberapa waktu lalu.
Awalnya, kukira itu hanya sebuah candaan darimu. Maklum, seperti si kecil, kamu juga termasuk sering "ngerjain" aku. Namun ketika aku melihat status facebook yang memajang kepergianmu ke ibukota Korea serta isi tanggapanmu atas komentar teman terhadap statusmu itu. Lantas kupikir kamu memang tak main-main. Ditambah kegigihanmu bersikukuh tentang alasan kepergianmu untuk ikut suami yang bertugas disana, kian menambah keyakinan diatas ketidakyakinanku. Pasalnya, kadang kamu meneguhkan ucapanmu dalam tawa, sehingga menipiskan batas kebenaran dan ketidakbenaran kabar itu.

Puncaknya adalah kemarin ketika kamu berkata bahwa besok adalah keberangkatanmu ke negara yang tengah berkonflik karena potensi nuklirnya itu. Kamu memintaku menemani di bandara. Aku mengiyakan, meski juga agak merasa ganjil. Logikanya, jika kamu memang -benar- berangkat, tentulah hari itu akan ada ortu plus kambing alias suamimu. Jikalau aku ada, pertanyaannya apakah kau akan berani mempertemukanku dengan mereka? Tetapi kau tetap memintaku hadir.

Dan esok pun tiba. Antara yakin dan tidak sejak semalam aku berpikir ekstra. Satu sudut hatiku memperkirakan gimana jika kamu sungguh pergi karena bagaimanapun rasa kehilangan itu akan ada atas apa yang pernah kita lewati bersama. Namun sudut hatiku yang lain mengatakan aku sedang dikerjain kamu. Kalau teringat tawamu, aku jadi sangsi kamu tak benar2 serius. Otakku terus berputar. Eh, tanpa dinyana sekitar jam 9 an kamu nongol di depan kamarku bersama si kecil dengan senyuman khasmu.
"Nanti habis lebaran aku pindah ke Pyongyang! Pyongyang itu kan nama kerennya Piyungan!" kilahmu. (Piyungan: sebuah daerah di Yogyakarta, di jalan Wonosari)

I've get punk!!

Straight Ge-eR!

Dalam sebuah acara aku bertemu dengannya. Bukan untuk yang pertama. Kali ini ketiga kali setelah dulu aku melihatnya ketika aku menyambangi kantornya dan yang kedua adalah beberapa hari lalu sebelum acara tersebut berlangsung.

Di acara itu semua bercampur dan berbaur. Menyatu. Berbincang serius. Diseling canda. Ia duduk di dekatku. Tak sendiri. Bersama teman satu kantor dan teman2 baru. Tak ada yang istimewa. Kami bisa dibilang dekat. Maklum, tugasku waktu itu adalah dengannya. Wajar kalau kami sering terlibat pembicaraan. Apalagi ia termasuk doyan nyerocos. Jadi ada saja yang diobrolin. Ditambah kulihat ia seksi sibuk sekali dengan alatnya.

Singkat cerita, dalam acara itu aku pulang lebih dahulu. Aku minta difoto bersamanya. Ia tiba-tiba nyeletuk: "Kayaknya kau tak akan bisa lepas dariku!". Ia berujar dalam senyum.
Senyum bagiku adalah canda. Aku pun menanggapi candaannya. "Sepertinya iya, gimana dong? Tapi, kamu kan straight, ya kan?"
"Ya iyalah!" sahutnya langsung. "Secara lekong masih enak gitu lho!" imbuhnya.
Karena buru-buru, aku pun pamit dan melupakan kejadian itu. Tapi kemarin aku bertemu dengannya lagi dalam rapat restrukturisasi. Dan ia membuatku terbahak dengan ulahnya.

Perempuan itu tak sekalipun menyapaku. Tak mau duduk dekatku. Padahal tempat di sebelahku masih kosong, ia memilih duduk bergerombol. Menghindari bertemu mata denganku. Pernah, sekali, tak sengaja kami bersirobok pandang, ia cepat-cepat melengos. Aku tersenyum. Ada apa dengannya? Kok ia jadi bertingkah begini. Aku memflashback kejadian dulu, dan membuatku kian tersenyum. Seorang straight sedang ge-er rupanya! Tak bisa membedakan candaan dan beneran!

Di rapat itu, namanya mendapat satu suara. Ohohoho jangan sampai, meski aku yakin sekali ia pasti berpikir kalau akulah si pemberi suara itu. Wahahahaha aku akan makin ngakak! Entah apa yang semakin ia ketikkan di layar pikirannya tentangku. Wallahu A'lam. Apalagi, si ibu koordinator terpilih sepertinya keukeuh menyandingkan namaku dan namanya dalam satu divisi. Namun beruntung tak jadi hehe aku gak tau kalo beneran harus kerjasama dengannya, apa kata dunia wakakakakakak.

Lingkungan kerjaku telah mengetahui orientasi seksualku, tapi kadang aku geli sendiri jika mendapati the straights yang mawas diri terhadap lesbian yang SEPERTINYA suka padanya.

Aku masih sering tersenyum jika teringat kejadian kemarin. Open up your mind, straight!

Saturday, August 15, 2009

Suara Kecil Menjerumuskan

Masih dalam rapat restrukturisasi kemarin, tapi bukan hendak membahas si straight ge-er itu karena ada yang bersungut nantinya. Yang ingin aku ceritakan adalah proses votingnya.

Seperti dalam pemilihan beneran, spontan terbentuklah tim yang mengurusi DPT (Daftar Pemilih Tetap), juga menyiapkan surat suara lengkap beserta stempel platform aliansi ini. Setelah menghitung jumlah peserta, surat suara dibagikan. Masing2 peserta langsung menulis pilihan balon (bakal calon) koordinator untuk dipilsung (dipilih langsung). Surat suara kemudian dikumpulkan dan dibacakan, mirip KPPS ngebacain hasil pilihan warga.

Untuk surat suara pertama yang dibuka, tersebut nama teman sekantorku. Aku langsung mengapplaus. Tapi pada kertas kedua, namaku lah dilantangkan. Aku terkejut dan sangat terkejut ketika suara yang kuperoleh mencapai 3. Ada apa ini? Siapa yang memilihku? Dan bagaimana bisa memilihku? Lha wong sebelum voting tadi, mayoritas peserta mengelu-elukan seorang cowok lucu dan terkenal dalam aliansi ini. Sedang aku...aku baru beberapa kali ikut pertemuan mereka. Beruntung kecemasanku dibuyarkan oleh hasil akhir penghitungan suara, dimana suara-suara terakhir menyandingkan cowok lucu itu dengan seorang cowok lagi yang kupilih karena telah banyak malang melintang di jaringan. Aku lega, sekaligus menolak ketika panitia menawarkan posisi koordinator dari hasil suara terkecil. Alasanku, miskin pengalaman. Namaku lolos dicoret, lain hal dengan teman sekantorku yang meski mendapat satu suara dibawahku, ia menolak tapi forum pun menolak penolakannya. Jadinya, namanya tetap akan masuk bursa koordinator aliansi.

Perolehan suara tertinggi diraih dua lelaki yang kusebut diatas. Wajarnya, suara tertinggi otomatis terpilih jadi koordinator beserta jajaran dibawahnya. Tapi yang terjadi adalah, dua lelaki itu menolak dengan alasan memberi kesempatan yang lain. Mereka pun dicoret.Hanya tersisa teman sekantorku, yang mau tak mau harus didaulat bersedia menjadi koordinator AJI DAMAI periode Agustus 2009-Februari 2010. Dan hal itu benar-benar terjadi. Teman sekantorku menampuk posisi koordinator hingga enam bulan ke depan. Dan ia kemudian tak mau sendirian, aku pun ditunjuknya jadi wakil koordinator.

Jika diibaratkan pilpres, dengan pengkondisian yang sama, maka tentulah hasil pilpres sekarang ini akan dimenangkan bukan oleh SBY. Bagaimana tidak, teman sekantorku hanya mendapat 2 suara, berada di posisi ketiga dari bawah dari 6 nominator, tetapi ia menjadi yang terpilih. Suara kecil menjerumuskan, begitu aku menyebutnya. Tapi kalau hasil ini direalisasikan dalam pilpres, wah gimana ya kelanjutannya? Pasti kian kisruh saja petinggi2 kita itu.

Ketika Dizhalimi...

Bangkai, meski ditutupi wajah semanis madu berselimut emas sekalipun tetap akan menjadi bangkai tanpa pernah bisa bertransisi serupa emas semanis madu.

Berproses secara alamiah tanpa memerlukan mesin-mesin buatan hasil ciptaan manusia yang hanya bisa mengkaryakan imitasi. Aspal. Asli tapi palsu. Kamuflase, bahasa kerennya.

Hei... Sadarilah... Manusia di sekitarmu sudah bosan kau cekoki kepalsuan tak berdosamu. Aku muak oleh bulu domba dibalik serigala yang menghembuskan kentut musang dibelakangku.

Manusia memang tak pernah dan tak akan pernah sempurna. Aku memakluminya. Hanya pada manusia yang benar-benar menyadari ketidaksempurnaan dirinya. Lainnya tidak.

Friday, August 14, 2009

Pepatah, Hidup dan Film India

Kita yang harus mengendalikan hidup, bukan hidup yang mengendalikan kita. Pepatah yang beberapa malam lalu kudengar, dari film India -lagi-. Film yang pernah kutonton sebelumnya, namun versi Inggris, kali ini versi bilingual. Lumayan, waktu dulu nonton banyak yang kagak ngerti artinya karena text nya diterjemahkan bahasa jiran. Mujhse Dosti Karoge. Would u be my friend? Tapi aku bukan ingin bercerita tentang film yang boleh dibilang agak jadul itu -sekitar taon 2003- sebelum aku merantau ke Jakarta waktu itu.

Pepatah tentang hidup. Aku memang suka mengumpulkan pepatah. Tentang apa saja. Hidup. Cinta. Patah hati. Persahabatan. Harapan. Dll. Aku bahkan menjadikannya satu buku tersendiri. Kutipan dari mana saja. Orang2 terkenal. Pepatah Cina. Dialog dalam film. Closing infotainment. Bahkan yang No Name sekalipun. Pokoknya yang langsung mengena di hati dan unik alias ndak menye-menye. Yah, buat dibaca2 lagi ketika semangat kendur kayak gini.

Thursday, August 13, 2009

LAGI BELAJAR IKHLAS!

Semangat itu melorot lagi. Rasa malas itu mulai merajai. Kegelisahan hati. Akan sebuah mimpi. Yang -sepertinya- tak akan teraih. Hanya bayangan ilusi. Demi seutas janji. Yang -semoga- tak teringkari.

Entah kenapa aku dirasuki rasa tak bergairah hidup lagi. Bara menyala bahkan berapi-api kini surut kembali. Untuk apa sebenarnya aku hidup ini?

Pertanyaan itu yang kuajukan ulang sama ketika hidup serasa menghantam dan tak memedulikanku beberapa bulan lalu. Tapi aku memupuknya hingga keragu-raguan itu berganti gelora. Optimistis dalam hidup dan memandang semuanya. Dan segalanya terlihat positif memang.

Namun ternyata, hidup juga kadang kala asam kadang manis, pun tak selamanya pahit. Aku mulai kehilangan kendaliku. Entah apa penyebabnya. Semua saling berkaitan, dan tak bisa kujabarkan. Aku tipe orang yang tak bisa dan tak -terbiasa- mengeluarkan isi otak secara mendetail, sehingga kadang orang seringkali salah paham mengartikan, dan aku hanya mendiamkan. Tepatnya, membiarkan. Membiarkan salah-paham menumpuk dan membiarkan keyakinan bahwa isi pikiranku hanya Yang Diatas sana lah yang sesungguhnya mengetahui seutuhnya. Berhadapan dengan manusia hanya menimbulkan kelelahan untuk menjelaskan. Apalagi, jika kemudian penjelasan hanya akan memperparah kesalahpahaman. Capek! Jenuh, tepatnya! Kapan manusia berhenti menyikapi bahwa apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang terbersit di benak mereka?

Belajar ikhlas! Sepertinya harus. Mungkin mau tak mau. Tapi aku senantiasa memupuk diantara puing-puing yang berserakan. Menyatukannya, meski tak utuh. Kepingan yang lain hilang. Dan tak kutemukan.

Ikhlas. Kata yang terdengar bermakna religius mungkin. Ah, bagiku tak ada kaitannya! Dan aku juga tak ingin mencari padanan kata lainnya.

Aku hanya sedang belajar ikhlas!

Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah...

Wednesday, August 12, 2009

LIPSING PUSIIINGGG...!?!

Pagi ini ketika aku sedang mengetikkan tulisan untuk kupostingkan di blog, ada tiga hal lucu yang kutangkap ketika mataku menangkap apa yang tersaji di layar monitor sementara jari jemariku tengah lincah cetak-cetik di tuts hape.

Awalnya, Derings di Transtv. Setelah opening, sedianya akan dilanjutkan performance grup band radja. Personel sudah siap memegang instrumen masing2, dan petikan gitar terdengar. Lagunya berjudul PATAH HATI. Semua personel beraksi, namun baru beberapa detik, lipsing yang biasa dilakukan oleh para penyanyi meski sekaliber band2 papan atas sekalipun mempertontonkan kelucuannya. Kaset/CD/DVD atau apalah jenisnya, tiba2 macet, tersendat-sendat hingga mirip remix para DJ. Tapi untuk kasus ini tentu lain hal. Dan penyanyi diatas panggung langsung berusaha menutupi malu dengan diplomasi sekenanya. Membuatku semakin terbahak. Layar kemudian berganti dengan diputarnya video klip. Hah, gara2 lipsing!

Terhenti dari tawa yang mempermalukan band Radja, aku memindah channel tivi. Channel SCTV. Acaranya inbox. Yang sedang bernyanyi band tak terkenal yang aku tak tahu namanya, lipsing pula. Kali ini bukan lipsingnya yang bermasalah. Band ini tengah menyuguhkan lagu tentang ajakan dan hikmah berpuasa. Tema yang aji mumpung menyambut ramadhan yang akan tiba. Tapi bukan itu juga masalahnya. Tak apalah mencari rezeki lewat lagu, meski di telingaku syairnya terdengar tak mutu. Yang membuatku tersenyum bercampur grundelan adalah kostum yang dipakai si vokalis. Lagu bertema religi dinyanyikan oleh seorang perempuan yang mengenakan kostum serba hitam, celana pendek jauh diatas lutut dan kaos yang menunjukkan belahan dada. Sinkron kah? Aku jadi mikir, kok gak mikir ya si vokalis ini dia akan bawakan lagu apa, apakah nyambung gak ama kostum yang dia pakai. Kalo yang kulihat seh, pastinya gak mikir!

Ganti channel lagi. Transtv lagi. Radja Cilik lagi mau nyanyi.Itu tuh, anak2 si Moldy nya Radja yang umurnya paling masih sekitar 7-8 tahun. Lipsing lagi. Dan ini lebih parah. Lagu dan gerak bibirnya kagak sama blas. Ampyun deh! Antara wajar dan gak wajar, kalo aji mumpung mbok yo jangan kebangetan! Nunggu anak2nya gedean dikit kek!

Bener2 lipsing yang bikin pusyiiingg...

Monday, August 10, 2009

TELEPON IBU

Hari Minggu aku menelepon ibu. Ibu mengadu sedang sakit. Habis dari dokter tiga hari lalu. Hipertensi dan gula darahnya juga tinggi. Bagaimana bisa? Itu pertanyaan yang seketika hinggap di otakku. Ya, ibu memang telah lama mengidap diabetes, namun selama ini terkontrol. Ibu tak pernah aneh-aneh. Maksudnya, yang tak sesuai takaran atau yang mengandung banyak gula. Selain itu, ibu memang juga tak suka makan banyak dan yang neko-neko. Perutnya tak terbiasa. Apalagi, hipertensi, sejak kapan ia mulai mengidapnya? Faktor makanan, atau kopi, ya ibu kadang ngopi, tapi teramat jarang dan hanya encer2 saja dengan gula seujung sendok.
"Ema, mikir apa?" (Ema= panggilanku pada ibu. Bukan Emak, bukan pula Mama. Sewaktu kecil kakak laki2ku terlalu cadel hingga tak bisa mendengungkan kata Mama dengan benar dan melafalkannya dengan kata Ema, kemudian diwariskannya padaku sampai kami dewasa sekarang.)
"Ya, banyak lah! Namanya juga orangtua! Bla bla bla..." sahutnya dengan embel2 lain seperti biasa. Aku pernah tau, diabet bukan hanya disebabkan faktor makanan, tetapi juga pikiran. Bahkan pikiran lah yang lebih jahat meningkatkan kadar gula dalam darah.
"Lha kok bisa darah tinggi juga? Sering makan sate kambing ta?" godaku sambil menahan tawa.
"Sate kambing gundulmu!" jawabnya medhok membuatku ngakak. "Itu lho, si Gileh!"
Si Gileh, adalah sebutan ibu untuk sepupuku, anak sulung adiknya, yang tinggal satu rumah dengan ibu dan memang agak2 gileh (Gila). Katanya, si Gileh selalu berulah dan membuatnya uring2an. Mana ia sendiri di rumah, sementara adiknya hampir tak pernah di rumah. Praktis hanya ibu lah yang harus menghadapi si Gileh dan itu yang menguras energi, emosi mungkin tepatnya.
"Ya, jangan dipikiri, diakali aja!" saranku. Seperti biasa jika aku sedang tak ingin menghadapi sesuatu dengan cara frontal, maka aku mengakalinya, dalam artian mengalihkannya agar uring2an tak hinggap dan menghinggapiku.

Ibu kemudian bercerita tentang kakak lelakiku dan sindrom insomnianya. Sejak dulu ia memang susah tidur, tapi sejak ayah meninggal, ia semakin susah tidur. Seringkali terjaga seperti ada yang membangunkan. Mungkin itu salah satu penyebab hipertensinya.

Satu hal lagi, ia bertanya soal vitamin untuk orang tua. Tumben banget, pikirku.
"Kata dokter, aku disuruh mengonsumsi vitamin. Tak hanya obat2an." terangnya. Ibu memang harus rutin mengonsumsi obat untuk diabet sebelum makan. Tapi vitamin... Ibu tak pernah berujar sebelumnya. Benakku bertanya-tanya. Sejak kematian ayah, aku merasa ibu lebih menghargai kesehatannya. Kalau dulu uang dialokasikannya ke dapur, kupikir ibu lebih memprioritaskan kesehatannya kini. Obrolan kemudian melantur kemana-mana hingga tak terasa satu jam bergulir cepat.

Setelah telepon terputus aku merenung dan tercenung. Campur aduk. Kegelisahan yang bercampur dan pikiran yang teraduk. Terlalu rumit tuk dideskripsikan, apalagi dilisankan. Hanya tersimpan. Dan menjadi rasa bersalah yang selalu dan terus tertahan.

Sunday, August 9, 2009

Film India: Ga Melulu Termehek-Mehek!

Sejak malam mulai beranjak naik, satu persatu tivi sibuk menggelar Breaking News dengan headline hampir sama: Pengepungan Teroris di sebuah rumah di Kedu, Temanggung. Sampe eneg denger berita yang diucapkan berulang-ulang kayak penyiarnya kagak punya kosakata laen aja. Akhirnya, setelah memencet2 remote dari mulai sinetron2 sampe the master show di rcti, aku kemudian terpaku di salah satu stasiun tivi. TPI. Lagi muter film india. Pretty Zinta yang kulihat di layar. Lalu Saif Ali Khan. Aktor yang tidak kugemari. Tapi ketika hendak kualihkan, wajah Shah Rukh Khan muncul, menahan tanganku memindahkan channel. Dalam hati mikir, film apa ini ya? Karena beberapa waktu lalu aku juga nonton film Shah Rukh dengan judul lumayan panjang dan tidak familiar tapi ceritanya sangat-sangat menyentuh, makanya ketika melihat Shah Rukh tanganku ngerem mendadak. Dan akhirnya aku tau judulnya, Kal Ho Naa Ho, judul yang ternyata pernah kudengar meski bukan film baru tapi tak pernah kulihat sebelumnya, maklum dah lama tidak bercengkrama dengan televisi dan tak lagi up 2 date ama film, terutama film india.

Cerita demi cerita pun mengalir. Sama seperti film india yang lalu, film ini juga mengajarkan cinta dengan cara yang indah dan tidak termehek-mehek. Dan satu hal lagi, di film ini tak disangka tak dinyana ada special appearance dari aktris India favoritku, Sonali Bendre. Mmm... Rasanya seperti kembali ke masa ketika aku begitu "tergila-gila" pada aktris itu sekitar 7-8 tahun yang lalu. Semua filmnya kulahap habis. Bahkan aku mengoleksi foto2nya -yang sayang sekali kutaruh di beberapa disket dan kini disketnya entah dimana-.

Balik ke film tadi, meski endingnya tak sesuai yang kuinginkan, tapi sekali lagi selalu mengesankanku satu hal: cinta penuh ketulusan dengan cara yang unik. Dan seperti reuni masa lalu dengan aktris idola yang menurutku sudah tampak agak menua. Maklum, ia lahir tahun 74 sementara aku menggandrunginya ketika usianya sama seperti usiaku sekarang. Hah, film india kayaknya emang gak selalu termehek-mehek deh! Yah, at least mendingan lah daripada nonton peliputan pengepungan teroris yang terlalu dibesar-besarkan dan diulang-ulang, capek deh!

01:13 am Saturday, August 8, 2009

Monday, July 6, 2009

P E R T A N D A

Cinta... Biar saja ada
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagaimanapun hidup tetap hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan
Cinta...

Aku menuliskan bait terakhir dari lagu duet Melly feat Krisdayanti berjudul Cinta itu di status facebookku beberapa hari sebelum aku dibangunkan oleh dering telepon kala fajar yang mengabarkan bahwa ayahku berpulang ke haribaanNYA karena serangan jantung. Penyakit yang dideritanya kurang lebih 4-5 tahun ini.

Sebelah mataku memicing menengok angka-angka digital di kanan atas layar ketika mendengar ponsel di sebelahku berdering. Baru kemudian kuarahkan mata menengok nomor si penelepon. Nomor xl yang tak kukenali.
"Siapa nelpon subuh2 gini!" rutukku setengah hati menekan tombol hijau di sebelah kiri. Ujung telingaku mengenali suara itu. Suara adik ibuku. Perasaanku mulai tak enak. Dan tak menunggu sampai ia menjabarkan kabar apa yang hendak ia utarakan disela kalimat2nya agar aku tabah, aku telah bisa menerka ini pasti soal ayah. Pasalnya, sejak kematian adik kandungnya yang belum menginjak 40 hari, aku mendengar kabar bahwa penyakit jantungnya kian sering kambuh. Dari mulai nafas yang tersengal dan batuk-batuk. Kemudian aku hanya bisa bengong sekian lama, sebelum akhirnya perutku berkontraksi hebat. Diare. Aku selalu mendadak diare ketika terkejut. Alamiah. Selebihnya, aku masih diselimuti alam pikiran yang kian mengacaukan. Bersandar di dinding tanpa tau harus apa! Pikiran seakan kosong.

Dan entah kenapa sejak beberapa hari itu aku begitu menyenangi lagu yang sebelumnya teramat tak kusuka. Namun ketika kucermati satu demi satu bait lagu, khususnya bait terakhir yang mempunyai pola berbeda dengan isi lagu, bagian yang paling kugemari.

Selain lagu, entah kenapa aku juga teramat sangat ingin pulang. Bukan karena disaat yang sama aku juga sedang kalut oleh kemelut hidup hingga sempat menorehkan sebuah garis tipis yang boleh kugarisbawahi sebagai sebuah tempat terendah selama hidup. Aku benar-benar ingin pulang. Agar tak kurasakan kesendirian dalam tekanan pikiran di ruangan 3x3 yang harus serta wajib kulewati di tiap malam-malamku. Firasat kah?

Dan memang, aku sungguh pulang. Mendapati ibu penuh linang airmata dan meneguk kenyataan bahwa aku tak sempat melihat jenazah ayah sebelum disemayamkan di pembaringan terakhirnya karena waktu... Ya, waktu yang seakan terlalu kejam menjadikan jarak Jogja dan kota kelahiran ibu sedemikian jauhnya hingga tak lagi bisa terkejar olehku. Sungguh, kepulangan yang tak pernah kuharapkan. Kepulangan yang juga menyisakan bilur-bilur pemikiran yang terus-menerus terngiang dalam benakku.

Sehari sebelum berpulang, ayah bercerita pada adik perempuannya bahwa ia bermimpi didatangi oleh adik laki-lakinya yang baru meninggal itu dan menyuruhnya tanda tangan. Ayahku pun membubuhkan tanda tangan. Jikalau mimpi adalah sebuah pertanda, maka mimpi ayah adalah pertanda buruk bahwa ia akan menyusul adiknya tsb.

"Nggak, aku nggak mau mati dulu," sergah ayah ketika adik perempuannya beropini perihal mimpinya. "Aku masih punya tanggungan! Anak perempuanku belum kawin!" imbuhnya.
Cerita yang menohokku telak. Tanggungan yang ia maksud jelas2 adalah aku! Sebuah perasaan bersalah seketika menyelusup dalam nuraniku. Diatas semua kekurangan ayah, tapi akulah yang selalu menjadi kesayangan ayah sejak dulu. Sedang kakak laki2ku adalah kesayangan ibu. Memang tak terlihat secara langsung, hanya saja konstruksi pemikiranku mengatakan demikian.

Dan ketika beliau pergi untuk selama-lamanya, ganjalan pemikirannya kini sepenuhnya beralih padaku. Meski ibu pun mulai kasak-kusuk menanyaiku perihal kapan akan membina rumah tangga. Ibu yang dulu-dulu tak pernah bertanya apalagi mendesak, kini seakan ikut tren adik perempuannya bertanya-tanya hal tabu untuk diusikkan padaku.

Aku kembali ke Jogja bukan untuk lari, meski tak kupungkiri sedikit mengatasi kejengahanku atas perasaan bersalah yang hinggap disela-sela pikiranku. Tapi tak lantas aku bisa sebegitu enaknya terlepas dari himpitan perasaan itu, karena kemelut pikiranku kian berputar cepat di otakku.

Ayah memang telah pergi, tapi terkadang bayangan dan memori kebaikan-kebaikannya padaku serta perilaku kekurangan-kekuranganku padanya silih berganti memenuhi fikiranku.

Sedih jika teringat aku belum dapat menyenangkan dan memberi imbalan yang memang tak pernah ia minta atas segala peluh yang ia cucurkan hingga aku menjadi seperti sekarang. Kesedihan yang tak akan pernah terbayar olehku selain doa dan harapan agar aku selalu digariskan untuk tak pernah lupa mengirim lafazh Alquran penyejuk di pembaringan abadinya.

Tetes airmata yang akan terus mengaliri sungai nuraniku untuk terus mengubur penyesalan yang takkan terbayar.

Sunday, July 5, 2009

Life Begin @ 27+

Sebuah tulisan di bulan Juni yang baru sekarang sempat ter-publish...

Judul yang lantas kujadikan kutipan diatas memang termasuk tak lazim karena kutipan yang lebih familiar umumnya adalah Life Begin @ 40! Tak masalah, karena bagiku bukan masalah usia. "Hidup" bisa dimulai kapan pun!

Sedikit kilas balik, ketika aku mem-publish tulisan sebelumnya, hal pertama yang aku terima seperti biasa adalah cercaanmu. Kadang aku fikir, kamu itu sebenarnya baca blogku seutuhnya atau sekedar meneliti bagian mana yang akan kau cercakan padaku? Karena bukan sekali dua kali ini saja, kau melakukannya tiap kali aku habis mem-posting tulisan baru di blogku. Ada saja cercaan yang kau pedaskan padaku. Malah kufikir, kau memang tak baca blogku, hanya mencari kesalahan untuk kau jadikan umpatan dan jika kau tak menemukannya maka jalan pintasnya adalah mengarangnya sendiri. Menciptakan imajinasi, membalik fakta dan memutar kata, yah apalah yang penting marah-marah. Menuduhkan sesuatu yang tak pernah kulakonkan. Hah, jika kukupas satu-satu nanti kau akan berfikir -seperti biasa- bahwa aku selalu menjatuhkanmu lewat tulisan-tulisanku.


Aku tak ingin bicara fakta atau bukan realita, aku juga tak sedang ber-pro kontra. Kurasa sudah terlampau cukup tiap hari terbuang dengan cacian, makian dan marah-marah. Kadang (baca: sering) pertanyaan ini malang melintang di benakku, apa yang sebenarnya kau cari dan kau ingini dariku? Setiap detik dalam 7 hari seminggu kau mengabsen kekuranganku seolah aku ini bukan makhluk berperasaan. Kau selalu berfikir tentang perempuan lainku, perempuan selingkuhanku, dan perempuan-perempuan yang entah apalagi sebutannya. Hei, apa kau tak mengerti juga, aku sedang bertarung demi kelangsungan hidupku, tapi kenapa kau malah konyol berhalusinasi hal-hal yang bahkan tak terlintas di otakku di saat-saat genting ini? Apa kau tak cukup faham? Sepertinya hampir tiap hari aku mendentingkan apa yang menjadi beban pikiranku. Kemana telingamu? Aku yakin kau tak tuli, bahkan kau yang memvonisku tuli karena hanya ber-ha he ho saat bicara. Apa kau tak cukup peka hidup sedang menggempurku jatuh saat ini?

Aku bisa merasakan kau menjadi orang yang berbeda akhir-akhir ini, tapi aku tak akan menyalahkan. Bagiku kau telah cukup banyak berarti. Itulah sebab beberapa waktu lalu aku pernah berkata: Apapun yang terjadi pada hubungan kita kelak, aku tetap ingin menjadi bagian hidupmu. Karena apa yang telah dan pernah kau beri serta lakukan padaku takkan pernah bisa terbayar oleh apapun. Aku diam karena aku teramat menghargaimu. Aku mungkin terlalu sulit untuk kau mengerti dan aku tak akan meyakinkanmu untuk mengerti apalagi mempercayaiku. Waktu dua tahun kurasa cukup untuk membuatmu tahu segalanya tentang aku tanpa perlu kujabarkan detil pemikiranku. Hanya saja, jika kau selalu meminum air laut ketika bersamaku, maka kau akan selalu haus karena yang kau lihat adalah selalu kekuranganku.

Hidupku mungkin dimulai di usia 27+. Semoga tak terlalu tua mengawali babak kedewasaan baru yang disodorkan dunia padaku untuk dilakoni!

Saturday, June 20, 2009

I N S P I R A S I

Kucing. Aku selalu suka kucing. Meski mungkin ini cerita tak penting. Tapi diam-diam kujadikan pembanding.

Beberapa malam lalu, aku tak ingat persisnya, nyaris aku tak bisa dibuat terpejam oleh suara gaduh. Bukan ramai manusia. Tapi dua ekor kucing yang sedang berkelahi. Kutajamkan pendengaran dan feelingku memastikan ada perkelahian tak imbang. Suara kucing yang terdengar keras itu nyata-nyata adalah kucing kecil. Kucing yang ketika aku pulang sore hari itu tengah meraung seakan minta tolong diatas atap. Tak ada yang bisa kulakukan, bahkan wujudnya saja tak nampak. Hanya suara kecil yang mencari induknya. Dan malamnya, sekitar setengah tiga dini hari kudengar suara itu meraung, bukan mencari sang ibu, aku meyakini ia tengah diterkam kucing yang lebih besar darinya. Lagi-lagi aku tak mampu berbuat apapun. Hati ingin, tapi gila saja, setengah tiga pagi keluar dalam gelap gulita berhalusinasikan makhluk-makhluk gentayangan yang menjadi ciri khas kos-kosan ini, aku belum gila! Antara terjaga dan terpejam, akhirnya penghitung waktu menunjuk pertengahan angka empat dan lima. Bertemankan suara adzan, aku keluar mencari suara yang merintih lemah. Suara itu berasal dari rerimbunan daun dekat tempat sampah. Masih gulita dan sepi. Penghuni kos lain belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Aku kembali ke kamar meraih ponsel sebagai penerang seadanya. Kucing kecil itu mendesis galak ketika aku mendekat.
"Kucing liar rupanya," desisku sambil coba mengelus menjinakkan. Nihil. Ia tetap tak bersahabat. Pandanganku kemudian tertumbuk pada dua ekor kucing besar tak jauh dari tempatku. Keduanya langsung tunggang langgang ketika kuangkat tangan mengusirnya. Aku menyerah pada penglihatanku yang terbatas. Aku kembali ke kamar. Namun sejam kemudian keresahanku membawa kakiku menengok si kecil.
Mentari masih mengintip, namun pagi menyingsing membuatku dapat mengamati kondisi kucing kecil itu seutuhnya. Lukanya cukup parah. Dua kakinya kaku. Dan... Lengan kanannya berdarah. Meski demikian ia masih tak bersahabat meski berkali-kali pula aku mencoba mengelusnya. Aku bergerak mengambil air kemudian meninggalkannya. Maksudku memberi jeda waktu, seolah ia akan mengerti dan meminum air tsb. Memperlakukan kucing seperti manusia, tolol kedengarannya bukan? Ya, mungkin. Sejak dulu aku tak bisa melihat kucing menderita.
Melihat kondisinya, hal yang paling dibutuhkannya kini adalah betadine atau obat merah. Aku tak punya! Meminjam dari penghuni kos untuk seekor kucing, hah aku akan ditertawakan! Sedang merogoh kocek sendiri, aku seketika teringat bahwa kondisi keuanganku sendiri sedang sangat tak sehat. Paling tidak jika tak ada antiseptik, kucing itu kuberi makan. Meski dalam hati aku sangsi, ia tak akan mau makan! Tapi ah, aku tetap mengayuh sepedaku ke warung membelikannya dua ikan kecil. Ia tetap tak bersahabat. Bahkan air tadi ditumpahkannya. Entah saat minum atau tersenggol gerak tubuhnya. Aku mengambilkannya lagi dalam wadah datar yang lebih lebar beserta makannya. Aku meninggalkannya ke tempat kerja. Saat pulang, ia yang pertama kutengok. Entah tidur, entah menahan sakit, ia menelungkup. Desisan yang keluar dari mulutnya melemah. Yang kuyakini ia sedang bertahan hidup. Dan aku juga meyakini umurnya takkan sampai esok hari.
Aku menghempaskan tubuh di kamar. Kucing kecil itu tak ubahnya sepertiku. Bibirku mungkin menyungging senyuman, bahkan desisan sepertinya, tapi jauh di palung terdalamku pun mendesis pilu. Hidup memang berpindah dari satu masalah ke masalah lain. Tuhan sedang sayang padaku, meski aku menyikapi rasa sayangNya padaku dengan kemarahan. Kemanusiawian manusia. Layaknya si kucing kecil, aku pun sedang mempertahankan dentuman nafasku agar tak terkalahkan oleh gema di otakku yang mendelegasikan untuk memotong aliran oksigen ke seluruh tubuh.
Pagi-pagi sekali aku melihat kondisi kucing kecil itu dan mendapati perutnya tak lagi kembang kempis. Ia bersandar damai dalam posisi membelakangiku. Ia telah pergi. Aku mendadak teringat sorot mata lemahnya kemarin. Kini, mata itu takkan pernah kulihat lagi.
Seekor kucing kecil liar mati. Kucing yang hanya hadir dua hari ini, tetapi seakan ia telah menghiasi hari-hariku sebelumnya. Bagiku ia adalah pembanding. Ia telah berjuang hidup ketika ketidakadilan alam hadir dalam garis takdirnya. Dan ia kemudian tak lagi bernyawa meski telah sekuat tenaga dan seorang diri hadapi. Jikalau kematian kini paling tidak membawanya dalam kedamaian, akankah kematian pula yang akan menjadi tolak ukurku mengakhiri jalan Tuhan yang seharusnya kulalui? Mungkin jika itu cara termudah, terasa menggiurkan. Tapi kenyataannya beruntung tak mudah karena rentetan yang berkesinambungan kemudian akan mengiring ketiadaanku, meski aku tak lagi akan merasa tapi beban itu seolah akan turut menjadi catatan yang membelenggu.

"Alvi, apa kamu masih ingat sholat?"
Pertanyaan itu ditohokkan padaku dengan menyebut namaku secara lengkap.Sungguh terasa asing di telingaku mengingat ia terbiasa memanggilku dengan sebutan aneh2. Ia kemudian bercerita. Membuka mataku. Mata hati dan batinku.

"Ketegaran seorang perempuan selalu memukau"

Akan kuingat itu selalu!

Friday, June 19, 2009 @ 21:26 pm.

Tuesday, June 2, 2009

Kenapa Susah Sekali?

Ini sebenarnya adalah pertanyaan atau klaimku pada Tuhan...

Kenapa sepertinya susah sekali Engkau memudahkan jalanku untuk membahagiakan orangtuaku? Padahal Engkau hanya tau, itu adalah puncak tujuan hidupku. Aku bukan ingin mengeluh, tapi aku sebagai manusia, hambaMU yang mungkin Engkau kira tak tahu terima kasih ini, kurasa telah cukup berusaha dan terus berusaha serta selalu berusaha agar aku mampu mengubahnya menjadi dan meraih apa yang lebih baik. Dan kenyataannya, aku malah tak mendapat apa-apa selain diombang-ambing seperti bola, memantul kesana kemari.

Manusia tak boleh mengeluh. Ya memang, tapi...(dan akan selalu ada kata tapi) kupikir aku tak sedang mengeluh. Aku hanya ingin memaparkan fakta, bahwa ketika apa yang kuingini telah kuselipkan niat baik lantas kulakukan dengan segenap pikiran, tenaga dan waktu, tapi kenapa aku tak pernah bisa meraihnya?

Jawabannya -MUNGKIN-, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah untukku. Rencana apa lagi? Aku memang tak akan pernah tahu. Tugasku memang hanya menjalani. Dan selalu meyakini bahwa TUHAN tak akan pernah memberi garis kehidupan diluar batas kemampuanku, meski kuakui kadang keyakinan tsb luntur. Maka, semoga Engkau selalu memberiku kelapangan agar keyakinan itu cepat-cepat kuwarnai ulang dan tak akan memudar.

Aku selalu menunggu rencana indahMU untukku...

05:49 Thursday, 21 May 2009

Aku Benar-Benar Sendirian!

Aku tengah berada dalam alam bawah sadarku yang kurasa amat nyata. Lalu perlahan bergeser satu hingga meloading seratus persen ke alam nyataku. Dan tiba-tiba aliran air menitik dan jatuh ke pipiku untuk kemudian mengalir rintik-rintik dan dalam hitungan detik beralih deras. Tak terbendung oleh sekaan tanganku. Ini untuk yang kesekian, seakan tak terhitung.

Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.

Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!

Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.

Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!

I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)

16:09 Tuesday 2 June 2009.

Sunday, May 17, 2009

I M A J I

All thru your life,
I'll be by your side,
Till death do us part
I'll be your friend
My love will never end
Till death do us part
There'll be good times
And there'll be bad
But I will stand beside you
All the way...

Sayup kudengar suara Mike Tramp mengalunkan lagu diatas menemaniku bermalas-malasan Sabtu pagi ini. Capek! Capek badan dan pikiran! Lho kok jadi curhat! Tapi bukan masalah capeknya yang ingin kucurhatkan!

Mendalami satu demi satu kata bait lagu mellow diatas, ingatanku seakan otomatis me-rewind pemikiran-pemikiran yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tentang masa depan hubungan yang kujalani kini, akankah berakhir till the death do us part -yang pastinya so sweet ending- atau bagaimana? Semua memang masih misteri dan bukan wilayah kekuasaanku sebagai manusia. Hanya sang Pencipta lah yang mengetahui semua. Aku hanya bisa melewati apa yang telah digariskan untukku. Tapi... Akhir-akhir ini tak jarang kemisteriusan Illahi itu menghinggapi otakku.

Disaat semua kini telah terjalani dalam hitungan tahun, dan aku yakini sungguh tak mudah untuk dihapus karena telah ada ikatan batin diantara kita. Ya, ikatan batin! Mungkin kau tak menyadarinya, atau tak pernah merasakannya, tapi bagiku, ketika aku merunut waktu, mengeja lembaran kisah yang telah kita tulis, lantas aku menyimpulkan setelah terlebih dulu menyadari bahwa ikatan batin itu telah tumbuh bersemi dengan sendirinya di hatiku. Bukan hanya denganmu, tapi juga pada bocah perempuan hampir dua tahun itu.

Pun sepertinya bukan aku saja yang merasa, ia juga. Aku bisa merasakannya, contohnya ketika naik busway kemarin, ia duduk dan tak menemukan sosokku, ia lantas memanggil dan mencariku dengan panggilan khasnya padaku. "Buyek..."(Bentuk cadel dari kata BU LEK yang artinya sama dengan TANTE). Yah, itu memang hal kecil dan sepele, tapi besar artinya buatku! Benakku seketika berpacu untuk mencari jawab, apa yang akan terjadi ketika usianya, juga usiaku dan usiamu, terus bertambah. Akankah kebersamaan ini selamanya? Pernahkah hal ini juga menghinggapi benakmu? Atau hanya aku saja yang terlalu sentimentil?

Makanya aku kadang tak habis pikir jika kecemburuanmu lantas membuatmu bertindak semaunya. Apalagi yang kau cemburu kan? Kurasa bukan saatnya lagi bercemburu, tapi sudah waktunya memikirkan dan menjalani sisa waktu yang telah Ia berikan pada kita untuk dirangkai menjadi cerita indah.

Maka cobalah untuk berimaji tentang kita. Apa yang kau buat jika kau takkan pernah berpisah dari suamimu? Apa yang akan kau rasakan jika di rahimmu kemudian bersemayam seorang janin lagi?

Apa yang kau lakukan jika aku hanyalah aku seperti saat ini, esok dan selamanya mencintamu? Pernahkah kau merasa?

Mulailah berimaji!

IDAHO: Jangan Lagi Cuma Gerakan Bawah Tanah!

Aku selalu tergelitik jika teringat komentar yang pernah mampir ketika pembaca tersebut membuka blogku. Begini katanya: "Dari sekian banyak blog lesbian yang aku kunjungi, SEPERTINYA cuma blogmu yang memajang foto si penulis blog, entah itu memang benar fotomu yang asli atau tidak!"

Dan itu selalu terngiang di telingaku. Bukan karena kegeeran dipuji-puji, tapi SEPERTINYA analisa si penikmat blog-blog lesbian itu benar adanya. Aku juga terkadang mampir ke blog-blog tetangga, dan memang sama sepertinya, aku tak pernah menemukan blog lesbian yang memajang foto si penulis blog.

Terlepas dari narsis atau tidaknya, barangkali bersamaan dengan momentum IDAHO kali ini, aku ingin menyerukan bahwa gerakan LGBTIQ, dalam hal ini lesbian khususnya, agar tak lagi menjadi gerakan bawah tanah saja! Aku juga bukan sok kepedean, mengingat aku pun belum coming out pada keluarga, namun jika upaya perjuangan teman-teman penulis atau pemilik blog lesbian ingin terdengar di alam semesta ini dan tak lagi hanya menggema layaknya suara-suara bawa tanah, maka seyogyianya hal tersebut dimulai dengan hal-hal kecil seperti open ID dari pemilik blog-blog lesbian yang aku rasa sudah menjamur dan tumbuh pesat di jagat alam maya ini.

Tentu saja, masing-masing punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tulisanku hanya sekedar seruan, jika kita ingin memulai kemajuan, tak ada salahnya kita yang memulainya terlebih dahulu.

Wish all the best for this International Day Against Homophobia 2009!

Thursday, May 14, 2009

COSMIC SOULMATE

Pernah ada yang menanyakan dan mungkin ada diantara para (ciee kayak yang ngunjungin blogku banyak gitu hehe narsis mode on) pembaca yang juga bertanya-tanya, kenapa sih blogmu kok diberi nama Cosmic Soulmate? Apakah artinya?

Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)

Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-

Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...

Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.

Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.

Tuesday, May 12, 2009

"Buyek..."

Ah, memulai menuliskannya saja aku sudah dibuat senyum-senyum sendiri. Eits, eits, jangan negatif thinking dulu, I'm not crazy yet! Hanya saja garis bibirku memang selalu mengembang ketika teringat bocah perempuan yang Juli nanti genap berusia dua tahun itu melafalkan kata "Buyek" sebagai panggilannya padaku.

Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.

Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!

NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!

Sunday, May 10, 2009

GUNUNG KIDUL: Again?!?

Perjalanan ketiga ini sebenarnya sudah seminggu yang lalu terjadinya (10/05/09). Karena beberapa kesibukan dan faktor sok sibuk-menyibuk (biarin deh meski out of Mr. EYD!) baru hari ini sempat kutuliskan.

Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.

Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.

Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.

Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.

Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.

Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.

Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...

Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.

Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!

Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!

Thursday, April 23, 2009

M A A F

Panas mentari menyengat kulit ketika kakiku menginjak jalanan beraspal kawasan Malioboro. Kuseret langkahku menuju bangku di belakang halte bus trans Jogja. Tak lama sebuah bus merapat. Kulihat kau dan bocah satu setengah tahun itu diantara para penumpang yang turun. Aku bangkit, menunggu di bibir pintu keluar. Aku tahu kau pura-pura tak melihatku, tapi tahukah kamu,... Meski sikap dan tuturmu bertolak belakang dengan hatimu, aku sangat yakin kau merinduku.

Secarik kata maaf, agar tetap bisa mengenalmu. Kurasa bukan. Maaf itu dari hati. Karena ada niatan untuk menyadari bahwa kekasih adalah makhluk tak sempurna, dan dimaklumi. Namun khilaf tentu tak boleh tiap hari apalagi berulang kali.

Jangan saling menyakiti jikalau masih saling mencintai. Jikalau masih ada kuncup-kuncup hati yang akan mengembang dan akan terus mengembang. Dahan layu berganti dahan baru. Proses yang semestinya.

So, would u forgive as I already forgive u?

Monday, April 20, 2009

KEKERASAN BERBASIS GENDER

Apa sih KEKERASAN BERBASIS GENDER (KBG) itu?
Kekerasan berbasis gender. Tiga kata yang akhir-akhir ini kerap didengungkan dalam media massa maupun oleh gerakan perempuan dalam lembaga swadaya masyarakat. Orang awam mungkin akan mengerutkan dahi jikalau mengeja judul diatas. Padahal dalam kenyataannya, contoh-contoh KBG begitu dekat malah kian hari sepertinya kian menjadi topik hangat di masyarakat oleh karena jumlahnya yang terus meningkat seiring waktu.
Orang mungkin akan lebih familiar jika mendengar istilah kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, pelacuran, pornografi, pelecehan seksual, diskriminasi terhadap homoseksual, PRT dan kaum-kaum marginal dan minoritas lainnya, yang merupakan sebagian dari contoh jargon Kekerasan Berbasis Gender.

Mengapa menggunakan istilah KEKERASAN BERBASIS GENDER?
Penggunaan istilah KBG atau Gender Based Violence (GBV) ini dimaksudkan untuk menggambarkan sifat alami kekerasan dan memberikan kesan bahwa untuk menunjukkan kekerasan perlu merujuk persoalan gender yang menyebabkan dan mendukung terjadinya kekerasan.
KBG sendiri seringkali disebut juga sebagai kekerasan terhadap perempuan. Karena pada kebanyakan kasus, KBG dititikberatkan pada obyek perempuan sebagai korban akibat dari ketidakseimbangan posisi tawar atau kekuasaan perempuan jika dibandingkan kaum lelaki serta konstruksi peran yang telah mendarah daging pada budaya kita yang masih patriarkal yang meletakkan perempuan pada posisi lebih rendah dan hina.
Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, cakupan KBG juga sangat luas, diantaranya eksploitasi seksual, pengabaian hak-hak reproduksi perempuan, traffiking, penularan HIV/AIDS terhadap istri, sunat perempuan dan sebagainya juga dikategorikan KBG.
Dan meski menggarisbawahi judul diatas sebagai sebuah bentuk KEKERASAN yang artinya sesuatu yang berhubungan dengan fisik, KBG tak selalu identik demikian. KBG dapat bersifat tersamar dan simbolik seperti eksploitasi media dan pornografi, namun juga konkrit dan nyata seperti perkosaan dan pelecehan seksual. Intimidasi terhadap istri, ejekan, makian, sindiran dll terhadap kaum homoseksual juga termasuk jenis KBG.
Contoh konkritnya demikian, ketika seorang istri tak diperbolehkan bekerja oleh suami, namun dalam keseharian, suami kerap meremehkan posisi istri. Disini pihak perempuan sudah bisa dikatakan mengalami KBG, meski secara fisik tak terluka. Belum lagi jika memang terjadi kekerasan dalam rumah tangga.
Ditinjau dari perspektif hukum, pemerintah telah berupaya melindungi kaum perempuan dengan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination for All Form of Discrimination Against Women) melalui UU Nomor 7 tahun 1984 yang menyatakan: “Kekerasan berbasis gender adalah suatu bentuk diskriminasi yang merupakan hambatan serius bagi kemampuan perempuan untuk menikmati hak-hak dan kebebasannya atas dasar persamaan hak dengan laki-laki. Rekomendasi Umum ini juga secara resmi memperluas larangan atas diskriminasi berdasarkan gender dan merumuskan tindak kekerasan berbasis jender sebagai: tindak kekerasan yang secara langsung ditujukan kepada perempuan karena ia berjenis kelamin permpuan, atau mempengaruhi perempuan secara proposional. Termasuk di dalamnya tindakan yang mengakibatkan kerugian atau penderataan fisik, mental dan seksual, ancaman untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan dan bentuk-bentuk perampasan hak kebebasan lainnya“.
KDRT adalah jenis KBG yg mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, meski pemerintah telah menerbitkan UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagai pergeseran dari KDRT sebagai masalah hukum privat ke hukum publik, namun dalam realisasinya terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, meski jelas-jelas KDRT merupakan pelanggaran HAM, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus. Hal ini dikarenakan belum efektif atau kurangnya sosialisasi UU tersebut kepada tiap elemen masyarakat, bukan hanya kepada perempuan. Efek yang terjadi akibat ketimpangan gender adalah melorotnya kualitas hidup perempuan.
Di masa sekarang ini, KBG sudah terjadi pada semua lini kehidupan, tak hanya dalam rumah tangga, tetapi juga di masyarakat, termasuk yang ada kaitannya dengan pengelolaan SDA demi memenuhi kebutuhan pangan karena KBG sangat melekat pada konteks hubungan kultural, sosio ekonomi dan kekuasaan politik.
Di kancah politik, KBG juga makin santer terdengar. Banyak caleg perempuan yang diintimidasi internal partai untuk menurut pada aturan partai yang kerap adalah akal-akalan laki-laki belaka. Belum lagi akal-akalan lain, misalnya mengkoar-koarkan tentang kesetaraan gender dalam penempatan perempuan di parlemen, toh buktinya secara kasat mata jelas nampak buktinya bahwa perempuan masih saja dijadikan pemanis dalam kancah perpolitikan karena kesetaraan yang mereka -laki-laki- gaungkan hanya sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya.
Perempuan hanya dijadikan sebagai alat untuk menarik dukungan. Hal tersebut terlihat dengan melimpahnya caleg perempuan yang dilamar, baik partai besar maupun partai burem. Namun tetap saja kiprah perempuan di parlemen terganjal, apalagi dengan adanya revisi terbatas UU No 10 tahun 2008 tentang PEMILU anggota DPR, DPD, dan DPRD yang merugikan perempuan, meski usulan revisi tersebut dianggap tidak kompatibel dengan pasal-pasal lain dalam Pemilu.
Dewasa ini solidaritas perempuan terhadap masalah KBG cenderung meningkat, baik dari sisi kelembagaan maupun praktisnya. Ini menunjukkan kesadaran perempuan untuk membela hak-hak sesamanya juga semakin meningkat, namun sekali lagi, KBG bukan hanya pekerjaan rumah bagi perempuan, di masa mendatang, baik pemerintah dan non pemerintah diharapkan dapat bersama-sama menggarap pekerjaan rumah ini untuk menekan kekerasan berbasis gender dan mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender.

Monday, April 13, 2009

SOERABAJA: On Last Minutes!


Senin minggu lalu, aku masih ikut rapat teman-teman yang akan mengantar PRT korban kekerasan dan trafiking kembali ke tanah kelahirannya di Ende - Flores. Kuperhatikan wajah-wajah yang akan berangkat kesana seperti membawa beban berat alias nge-blank. I dont know why! Satu demi satu rencana, budgeting, dan alasan-alasan dikemukakan hingga mencapai kata sepakat. Tetap, dua teman, satu dari divisi advokasi dan satunya divisi sekolah, menampakkan raut wajah tak terprediksi. Senang atau sedih kah?
Malamnya, aku ngebut bikin draft skenario. Kebetulan kisah tragis PRT korban trafiking oleh tetangganya sendiri plus ketidakadilan dua majikan yang tak pernah memberi sepeser gaji ini akan difilmkan. Saking ngebutnya, draft sekitar 20 halaman tepat selesai jam 24 lebih beberapa menit.
Esoknya, ketika pulang habis mbojo[baca:ketemu GF], aku mampir ke Gramed. Ponselku berdering. Dari nomor kantor LSM tempatku bernaung. Ada apa? Pikirku sembari menebak-nebak.
"Halo," ucapku agak ragu.
"Alvi, kamu lagi dimana? Ke kantor sekarang bisa nggak? Darurat nih!" ujar teman dari divisi advokasi. Kudengar tawa cekikikan beberapa perempuan di background suara dibelakangnya.
"Emangnya ada apa?"
"Kami tadi rapat, dan divisi advokasi memutuskan bahwa kamulah yang ditunjuk untuk mendampingi korban sampai Surabaya!" jelasnya kian membuatku bingung.
Aku tak ikut rapat, namun kenapa mereka menugasiku? Kedengarannya kan aneh! Lagian, aku masih belum seberapa percaya, tawa cekikikan itu mengaburkan keyakinanku. Tapi kalau ia sedang bercanda, ia tak mungkin memakai fasilitas kantor.
"Kamu nggak sedang becanda, kan?"
"Ini serius! Jadi, kamu bisa kesini nggak, secepatnya!" Sedetik kemudian ia berubah pikiran. "Kamu dimana, kami jemput!"
Singkat cerita, aku udah di kantor diberi pengarahan oleh koordinator divisi advokasi dan jadilah aku yang mendampingi korban hanya sampai Surabaya, kemudian ia akan menempuh perjalanan lewat udara.
Jadilah hari itu aku mesti ikut ribet beli tiket plus ketemu korban, sampai-sampai aku kepikiran, sepeda gunungku aku titipkan di shelter busway tak jauh dari kos ku ketika aku mengantar pulang partnerku tadi siang. Dan satu hal, seperti dua temanku kemarin-kemarin, gantian aku yang nge-blank! Hari Selasa ini bergulir seperti mimpi saja!
Rabu malam aku dan korban berangkat naik travel ke Surabaya. Subuh kami sudah celingukan di bandara Juanda. Matahari masih mengintip di ufuk timur sana. Penerbangannya pukul setengah sepuluh. Jadilah, kami kayak pengungsi, mana ia bawa tas segede bagong dan satu kardus yang lupa di lakban, hanya ditutup sekenanya, mana isinya piring kaca. Waduh, cepek deh!
Menengok ke kanan ke kiri mulai dari senyap hingga riuh rendah di bandara, tiba-tiba ada seorang lelaki tinggi besar mendekati korban ketika aku hendak menyewa troli. Sedari tadi lelaki itu kulihat mencurigakan. Ia duduk di dekat kami. Mencuri-curi pandang bergantian aku lalu si korban.
Naluri premanku muncul, meski jujur ini baru pertama kali aku menginjakkan kaki di Surabaya, dan jujur juga, meski dulu di Jakarta tempat kerjaku tak jauh dari bandara, aku tak pernah tahu prosedur di bandara. Hehehe wong ndeso tenan! Lha iya memang, tapi prinsipku satu, meski aku tak tahu, di tempat asing, aku harus tetap pasang wajah pura-pura tahu. Maklum juga, Juanda dan terminal Bungur identik dengan maling. Dan bagiku, siapapun orang asing yang mendekat, apalagi dengan cara pandang mencurigakan, harus kuwaspadai. Makanya ketika lelaki itu mendekati si korban yang seorang diri aku langsung memutar langkahku kembali. Ia terlihat canggung, lalu mencoba memulai obrolan. Aku menanggapi dingin. Tapi si korban kupikir terlalu ramah padanya.
Lelaki itu orang Timor Leste. Ia kuliah S2 di Salatiga. Ia naik pesawat sama seperti korban, transit di Kupang. Bedanya, lelaki itu menempuh jalan darat setelahnya, sedangkan korban melanjutkan dengan pesawat lain ke Ende. Otakku mulai berjalan. Meski tetap waspada dengan mengkomando si korban untuk tak terlalu banyak bicara pada lelaki itu, aku memintanya membantu si korban membereskan prosedur penerbangan ketika transit di Kupang nanti. Ia pun setuju. Entahlah, pada orang asing, terutama lelaki, aku membentengi kewaspadaanku hingga tujuh lapis.
Setelah menyelesaikan satu persatu prosedur di bandara dan melepas korban di ruang tunggu, aku menghirup udara Surabaya. Kota yang hanya pernah kulewati tanpa kupijak. Hanya dulu sekali, itupun ketika aku masih sangat belia.
Dan kupikir Jogja adalah satu-satunya kota yang tak kusukai, tapi ternyata aku lebih tak menyukai Surabaya. Sinar mentari begitu menyengat. Jalanan kota yang terkesan kumuh. Ah, sekilas menurutku lebih parah daripada jogja yang terlihat lebih bersih.
Aku menginap di rumah saudara jauhku. Ketika pulang dari reservasi tiket kereta untukku besok, ia membawaku melewati Gang DOLLY, yang katanya tempat prostitusi terbesar di Asia. Pendapatku, biasa aja! Malah kupikir lebih heboh yang di Tangerang. Sama-sama berlokasi di perumahan penduduk tapi disini aku masih mendengar suara Adzan dan jarang ada dentang house music, tak seperti di Tangerang dimana tiap rumah yang berhadap-hadapan saling adu setel musik kencang-kencang meski tak ada pelanggan. Dan disana suasana pun dibuat remang-remang.
"Ini masih jam berapa, jadi belum dimulai!" dalih sepupu jauhku.
Yah, aku nggak tau lagi. Yang penting aku telah tahu GANG DOLLY yang "legendaris" itu.
Oh ya, hampir saja lupa, ketika reservasi tiket dan ternyata sedang ada troble, sepupu jauhku mengajakku ke lantai paling atas di Delta Plaza. Ia menyeretku naik komidi putar yang berputar secara vertikal. Awalnya biasa saja, namun ketika mulai berputar, aku merasa separuh nyawaku terbang. Aku ketakutan. Menutup mataku rapat-rapat. Ternyata aku fobia ketinggian atau mungkin efek terkejut, whatever! Ketika beberapa kali putaran aku mulai memberanikan membuka mata.
Dan akhirnya aku menikmati, meski dengan kedua tangan memegang erat-erat ujung besi. Hahahaha tetap aja, intinya takyut!! Dan perempuan berhidung mancung di hadapanku begitu menikmati wajahku yang memucat. Ia mengarahkan lensa video hapeku tepat ke mukaku, tapi untungnya -karena tak tahu cara mengoperasikan hapeku- ia lupa menekan tombol RECORD ketika akan mengambil gambar mukaku tadi. Hah, untunglah aku tak jadi ditertawakan olehnya!
Surabaya is my second trip, juga salah satu pengalaman menarik buatku. Hmm... Kemana lagi ya tugas ketigaku? I'll be wait 4 that:)