Wednesday, December 8, 2010

Meng-Konsep Diri 3


Satu lagi praktek Konsep Diri adalah keberanian mengambil keputusan. Berpikir secara prioritas. Hmm, aku tak membagi ceritaku tentangnya kepada siapapun. Hanya pada satu orang, orang luar yang netral dan dari disiplin ilmu yang layak untuk hal tsb.

Hari itu adalah hari terakhir aku bermimpi, usai mimpi indah di awal dan mimpi buruk menghantui akhir2 ini. Aku bertukar pikiran, karena rasanya sudah tak sanggup lagi membelit di otak.

"Sekarang bandingkan, motivasimu apa dan motivasi dia apa? Andai pun kalian jadian, gunanya apa? Buang2 waktu, bukan? Lalu untuk apa dilanjutkan sedangkan tujuanmu berelasi bukan sekedar having fun lagi?" cecar si penetral.

Ya, logikaku telah dari awal tersadar, hanya hati yang belum teryakinkan. Bahkan si penetral itu geleng2 kepala ketika aku melanggar kode etik untuk tak memberi perhatian pada perempuan itu.

"Kau yang memutuskan! Dan menerima resikonya!"
"Menurutmu, perlukah aku mengajaknya berbicara dan menjelaskan semuanya?"
"Menurutku, tak perlu, anak seusianya tak akan mengerti jalan pikiranmu. Lebih baik diam dan mendiamkan semuanya, termasuk apa yang selama ini ia persepsikan terhadapmu. Aku yakin, meski niatmu baik coba clear kan semua, tapi belum tentu ia akan mengerti, jadi lebih baik diam, toh kamu tahu tak akan berada dalam lingkar ruang dan waktu yang sama lagi dengannya, bukan?"

Yayaya the dream is over, meski meninggalkan akhir yang tak baik. Tapi aku banyak belajar, juga dari si penetral yang mengusulkan agar aku lebih banyak bergaul dengan laki-laki untuk tahu bagaimana mendapatkan hati perempuan. Satu proses pembelajaran lagi...

Next chapter for PDKT dengan Cara Berfikir Laki-Laki...

Tuesday, December 7, 2010

Meng-Konsep Diri 2


Lanjut pada keterampilan berkomunikasi yang buruk, aku mengakui menuliskan ide via tulisan jauh lebih gampang. Bukan proses yang mudah merubah ketrampilan bertutur, tapi semoga aku tak lelah berproses untuk hal itu...

Memahami orang lain. Aku mengkoreksi diri dengan menilai selama ini aku sudah cukup maksimal mengimplementasikannya. Mempelajari orang-orang baru terutama. Kebetulan, usai pelatihan saatnya mempraktekkan, dengan orang baru yang sempat kurindukan selama 3 hari pelatihan.

Aku sudah berusaha mempelajarimu, tapi jika kau tak belajar tentang aku, maka memang beginilah yang akan terjadi... Tulisku usai cara berpikirku kuturunkan seperti seusianya dan ego untuk mengalah sepertinya sia-sia. Pemahaman karaktermu sungguh susah diluar dugaan. Karibmu membocorkan bahwa kau rumit dan unpredict, ya saya setuju. Sekarang tinggal bagaimana langkahku ke depan?

Meng-Konsep Diri


Kata Konsep Diri melekat usai mengikuti pelatihan tsb beberapa waktu lalu. Pun menjadi topik obrolanku dengan seorang motivator kala itu, apakah meng-Konsep Diri hanya menjadi wacana atau terimplementasikan. Baiklah, mari kita kupas...

Salah satu bagian dalam pelatihan ini yang paling kusuka adalah soal percaya diri. Tak bisa dipungkiri, dan entah apa sebab, sejak jaman dahulu kala aku termasuk dalam klan ber-pede rendah. Semua kriteria orang-orang dengan PD rendah termiliki olehku. Bahkan di satu sesi melingkar ketika fasilitator meminta peserta secara bergantian mengutarakan kenapa begitu PD, aku dengan PD bilang "Saya PD karena saya tidak PD". Dapat kutangkap rona heran di wajah sang fasilitator kala itu meski ia tak berkomentar apapun. Disana juga dijelaskan cara memberangus PD rendah, dan aku mempraktekkannya dalam urusan hati...

Dihadapkan pada beberapa pilihan, aku harus mengambil satu fokus. Dan aku melakukannya. Menurutkan kata hati, menikmati keputusan hati. Meski hasilnya tak sesuai, namun aku mengambil hikmah positif, aku telah berani setapak melangkah... PD untuk memilih.

Dan bab lain yang kupelajari adalah kecerdasan emosi. Tentang mengenal emosi diri, empati dan memahami emosi orang lain. Dan sepertinya di bab ini aku belum lulus. Keterampilan berkomunikasiku masih terlampau buruk. Apa yang keluar dari mulut terkadang tak seperti yang dimaui otak. Dampaknya, pastilah kesalahpahaman. Apalagi jika beruntun, belum usai yang satu dipreteli, maka muncul bibit baru untuk disalaharti.

Hmm, mata sudah terlalu lelah... Dilanjut esok lagi...

01:09 Tue 7 Dec 2010

Monday, December 6, 2010

RASA INI, BEDA


Rasa ini bertumbuh sedemikian cepat selayak amoeba membelah diri. Sepersekian menit dari helai tangan yang saling berpadu, mataku seperti tak bisa dibuat lepas darinya. Kesan awal adalah ia serupa dengan orang yang pernah kukenal. Dalam hati ngikik abis, bagaimana bisa serupa? Kesan awalnya padaku, yang kutangkap ia agak nggrundel karena aku menertawakan kekonyolan yang ia lakukan.

Hari berikutnya kami bertemu. Sebuah tong sampah dan sehelai serbet usang. Aku mengetahui aktivitasnya. Ia pandai berlakon. Dan aku, sungguh tak biasanya aku ikut-ikutan dalam soal beginian. Tahun lalu ogah bener, padahal sebenarnya, kami harusnya dipertemukan tahun lalu. Entah rencana apa tahun ini kami bersua.

Waktu merambat cepat. Dilema. Logika dan perasaan kembali beradu. Maju atau mundur. Beberapa suara mendukung maju, meski logikaku selalu berkata untuk tak main api. Menurut kata hati, akhirnya yang kupilih. Pilihan yang kugenapi dengan segala resikonya.

Dan terima kasih... Aku meyakini rasa ini beda, pun endingnya. Sejenak gemuruh menumpuk di dada, namun senyumku kini tercerah, kembali ketika bukan orang yang tepat, rasa itu kupersilahkan pergi...

You're not the correct one, I know..
Time will wasted, I realize...
This heart beating still singing your name, I admit...
But logic mind never defeated by this accidentally love
So, every good -even deep- feeling gotta come to an end...

Aku banyak belajar tentang satu lagi karakter perempuan. Tak akan menyalahkan, faktor umur menjadi pemaklumanku. Pun pembelajaran kapan harus membuka atau menutup diri. Sekaligus menjadi penutup tahun ini...

Rasa ini, beda. Meski tak genap tiga minggu bersama, menghilangkan kelebat lincahnya bagiku butuh lebih dari sekedar transisi.

Saturday, November 20, 2010

H.A.T.I


Hati. Organ paling vital terlebih menampung berjuta perasaan yang dilewati tiap waktu oleh sang pemilik. Pun untuk perempuan, yang dilabeli sebagai "pemakai" hati daripada laki-laki. Meski aku sedikit tak suka dengan pelabelan tersebut.

But aniwei kembali soal hati, aku ingin melongok ke hatiku sendiri. Sepertinya strukturnya melebihi kerumitan struktur otakku. Otakku saja aku merasa sudah sangat rumit, apalah namanya kalau ini lebih rumit? Padahal kata orang, urusan hati bisa sebegitu mudah. Contoh ketika jatuh cinta, orang akan dengan mudah terperangkap jaring asmara. Ya, di bagian itu aku sepakati mudah, tidak ketika dihadapkan pada beberapa perasaan yang seolah mewajibkan kita untuk memilih, sebab kalau tak memilih alias tak fokus ke salah satunya kau akan dituding player.

Nah, tahapan memilih ini yang mungkin lumayan rumit. Apalagi jika suguhan hati tak bisa dikecap mana yang enak mana yang tak enak. Lidah hati terbuai dengan rasa masing-masing masakan bernafaskan cinta. Tinggal hati yang menetapkan salah satunya sebagai yang terbaik untuk kembali berproses.

Dan proses tentu saja bukan hal yang gampang, tak percaya? Makanya aku benar-benar merasa struktur hati lebih rumit dari struktur otakku, saat ini.

Friday, November 19, 2010

I Love U, Mom!

Mengenang ibu adalah waktu bagiku untuk merenung panjang. Meski ini bukan kali pertama, kalau dibilang mungkin jengah bercerita tentang ibu, tapi aku tetap dan terus bertutur tentangnya.

Terakhir pulang kemarin, aku masih ingat ia mempermasalahkan tentang penampilanku yang tidak ada perempuan-perempuannya ini. Aku agak heran sebenarnya akhir ini tiap pulang ia mengkoreksi baju yang kupakai, tatanan rambut dan make up. Ia yang biasanya tak pernah komentar apapun tiba-tiba nyeletuk kenapa aku tak suka memakai legging seperti kebanyakan perempuan lain, kenapa aku suka sekali mengacak-acak rambutku dan kenapa aku tak pernah pakai make up walau sekedar bedak. Hmm, kok jadi ribet perempuan itu sekarang?

Belum lagi soal pendamping. Ibu tak mendesak. Hanya mulai bertanya sejak lebaran kemarin intensitas pengulangan pertanyaannya kian kerap. Dan aku menjawab semuanya dengan pengalihan isu topik pembicaraan. Sejauh ini manjur, namun entah sampai kapan.

Sejak jaman dahulu kala aku jarang sependapat dengan pola pikirnya. Kadang berselisih paham. Kadang salah satu dari kami sampai bertanduk. Secara karakter, ayah memang jauh lebih paham daripada ibu yang hanya mikir kalau aku pemarah. Itu yang mungkin selalu diingat tentang aku. Memahami beliau sepertinya jarang bisa kulakukan.

Tapi tak berarti selisih paham membuat kami tak saling kasih, ia hanya terlalu menguatirkanku, kurasa.

Sosok perempuan itu sudah mulai renta dan sakit-sakitan. Satu beban moril yang masih sering menghantui pikiran adalah bagaimana bisa aku memberinya keturunan dari darah daging sendiri sementara aku tak pernah membayangkan untuk melalui proses itu?

Mom, bukan ingin tuk selalu menghindar. Andai tahu bagaimana cara bincangkan tentang aku denganmu. Kupikir kau memang tak akan mengerti, tapi aku hanya ingin kau tau. Kapankah itu?

Wednesday, November 17, 2010

THE MOTIVATORS


Masalah adalah hal biasa dalam hidup, tapi kadang kita membutuhkan teman untuk berbagi, melepas cerita bahkan hanya untuk mendengar celoteh hati. Aku hendak memberi applaus pada mereka yang kujuluki the motivators ini.

Perempuan-perempuan perkakas, begitu aku menyebut dua perempuan ini. Karena kebisaan mereka akan hal yang kasat mata. Yang satu kujuluki konselorku, selain emang sehari-hari memang konselor hehe. Dan yang satu lagi aku mengenalnya cukup lama. Curhat pun hanya lewat chat fb. Tapi berterimakasih karena usai ngobrol kadang melegakan.

Dan motivator lain, aku tak percaya kini menyebutnya sebagai motivator haha karena boleh kubilang hubungan emosional kami kuanggap "aneh". Bagaimana tidak, Juli kami dipertemukan, dan sejak belum mengetahui namanya aku sudah jatuh hati. Jatuh hati yang kupendam dan baru kuungkap ketika berpisah. Pun ketika kami bertemu kembali, kukira perasaan itu sudah mati, ternyata cemburu masih ada. Tapi berselang berapa hari saja, karena selebihnya logikaku telah cukup sadar untuk tak meneruskan hal yang sedari awal tak untuk dimiliki. Dan benar saja, ketika bertemu ketiga kalinya, rasa itu sudah benar-benar musnah, tapi kedekatan kami kian muncul disana. Bukan lagi kulibatkan emosional perasaan tapi hanya karib. Kian kemari, we've been like a sibling, supporting each other in positive way. Kadang kalau ingat fluktuasinya, aku tertawa, bagaimana bisa aku dulu jatuh hati padanya, sedang kini kami kerap bercanda tawa layaknya saudara. Tak ada yang tidak mungkin, sesuai dengan slogan miliknya. Ia memotivasiku untuk lebih berani mengejar apa yang kusuka dan inginkan. Membuka hati, menerima resiko jika memang akan sakit, yang terpenting melewati proses dan memperjuangkan apa yang ingin diraih. Thanks broth, julukan yang ia tak suka karena lebih doyan dipanggil sist, tapi aku keukeuh melabeli buci inside untuknya. We've been through our ways so far and hopefully we can achieve our goals in our life and our love journey. Chayoo broth...

Motivator terakhir adalah yang paling tidak dinyana-nyana. Jalur obrolan kami dibuka lagi beberapa waktu lalu setelah vakum panjang. Hanya via YM. Dan dering telepon ketika mengantarku pulang kampung minggu lalu. Aku juga nggak nyangka ia menelepon, menanyakan kabar dan Merapi. Pun ketika dalam perjalanan pulang, pesan pendeknya mampir di ponselku. Saat itulah dialog awal dibuka kembali. Proses panjang yang bagiku sudah selesai terpampang lagi.

Tidak. Aku tidak merasa terkorek. Karena aku meyakini prosesku telah selesai. Panjang lebar aku menjelaskan tentang situasi hati kini, karena ia masih merasa tak enak hati akan cerita lalu. Memulai obrolan kembali dengannya bagiku bukan memutar rekaman masa lalu karena kami telah punya hidup masing-masing, meski untuk urusan hati aku tak seberuntung dia. Faktor unlucky aja mungkin, sebab juga terlalu capek jika terus menggunakan alasan belum ketemu orang yang tepat. Haha selalu dan selalu begitu.

Kami berdialog panjang kalau boleh dibilang ngalor ngidul. Mulai dari oleh-oleh pulkam, samboza in memorial, dan terakhir: penjelasan yang tak tersampaikan sekitar empat tahun lalu. Aku berkata jujur ketika itu benar-benar dilanda kebingungan apa sebab ia sepertinya berlaku tak adil. Tapi kembali, empat tahun bukan waktu yang singkat untuk perenungan dan mengambil hikmah. Meletakkan umurku kini di umurnya kala itu, aku sependapat jika dulu ia mengambil keputusan yang dipilihnya dulu. Proses belajar yang selalu kutanamkan dalam benakku. Aku tak lagi menyalahkannya seperti dulu, pun tak lagi menyalahkan diri sendiri atas sifat dan sikap kekanakan di umurku kala itu. Kini hanya proses yang usai dan sebaris senyuman memaknai sebuah proses hati.

Cerita berlanjut pada ia bukanya sesi curhat. Ya, beberapa kali curhat terlontar. Aku sungguh mengucap selamat datang pada kakak yang selalu istimewa dalam bentuk dan cara pandang berbeda kini. Menjadi salah satu motivator pembangkit rasa minderku yang lumayan parah.

Someone said I'm extraordinary...
I have to keep in mind that I'm a loveable person, nice to talking to, and of course deserved to have someone by my side, but I might to convince my self before I'm convinced other...
Must say what I want. Dont think it will be hurt or not. But let it flow as it way to be...

Pujian semenit untuk diri sendiri, bukan tuk membuat diri terlena. Paling tidak segala hal positif melekat di benak untuk direalisasikan dalam polah keseharian, semoga.

Ya, thanks all motivators, sist, kakak... Sometimes I still get frustrated of this f**king completely life. Hopefully, I will not lost in my own mind and heart for a long time...

Monday, November 15, 2010

Sisi Lain Sebuah Perjalanan

Merapi terbatuk hebat sejak akhir Oktober, dan bersama itu pula kekuatiranku mengiring. Maklum, tak pernah berada di suatu bencana. Mungkin bagi yang pernah merasakan gempa Jogja tak akan sepanik yang kurasakan.

Malam adalah saat yang mendebarkan. Bukan hanya bagiku, beberapa teman kost pun merasakan. Ditambah dengan sms aspal yang tiap malam berseliweran, terutama malam jumat, yang menambah horor suasana. Walhasil, tidur pun jadi offroad. Berganti-ganti kamar, bahkan terkadang menumpang di kamarku. Panik, yah begitulah. Ditambah kecemasan orang rumah, beuh tidur malam gak pernah tenang, pagi-pagi sudah ditelpon bergantian meminta untuk segera pulang, makin pusing ini kepala. Pun ternyata seorang teman kantor merasa hal yang sama. Ia memintaku mengajukan libur, setidaknya membuat orang rumah tenang. Dan itu terkabulkan.

Senin pagi, mayoritas anak kost sudah beberapa kembali ke kampung halaman. Hanya beberapa saja yang terikat pekerjaan tak diperbolehkan pulang. Menuju Lempuyangan dan menemukan antrian lumayan panjang. Maklum, sejak kemarin berita di tivi mengabarkan jalur kereta api mengalami lonjakan penumpang.

Aku mengekor langkah seorang mahasiswa UNY mencari tempat duduk. Lumayan padat. Dan kami terhenti di bangku kosong, dengan dua perempuan di hadapan kami. Awalnya tak bertegur sapa. Seperti biasa aku hanya diam jika tak ditanya. Perempuan berjilbab di depanku akhirnya membuka obrolan. Masing-masing mengungkap kota tujuan dan aktivitas di Jogja. Perempuan di pojokan arah diagonalku tak banyak bicara, agak sibuk dengan ponselnya.

Si anak UNY kemudian asyik dengan buku sejarah Indonesia. Hanya perempuan di depanku sesekali mengajak bicara, selebihnya diam. Ia turun paling awal. Dan kemudian digantikan sepasang suami istri yang membuatku berpindah menyebelahi perempuan berkaca mata yang sedari tadi asyik dengan hp. Lalu datang seorang ibu setengah tua memadatkan bangku sebelahku, dan pas lah sudah 6 orang mengisi satu bilik.

Perjalanan ini menjadi perjalanan kereta ekonomi paling menyenangkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak, awal-awal aku beranggapan duduk dengan orang tua akan menjemukan. Ternyata si bapak pandai berlelucon. Perempuan yang sibuk dengan hp nya itu kerap ikut tertawa melihat ulah iseng si bapak. Belum lagi perempuan setengah baya di sebelahku yang maniak infotainment makin meriuhkan suasana.

Anak UNY itu kemudian turun di Mojokerto. Di tengah panas dan batre yang sudah menipis, seorang dari masa lalu menelepon. Dua kali, tak terangkat karena hp aku silent. Agak kaget juga, mengingat komunikasi pernah macet dulu, hanya akhir-akhir ini kadang bertemu di chat yahoo. Ia bertanya kondisi dan tetek bengek Merapi. Satu lagi sisi lain sebuah perjalanan.

Dan ini yang paling menyenangkan, perempuan yang sejak tadi autis dengan hpnya dan tidur itu entah siapa yang mengawali lantas membuka jalur obrolan. Karena jarak yang terlalu dekat aku mengira ia bisa membaca apa isi smsku, sama ketika ia sms aku bisa melongok isinya.

Si bapak yang lucu mulai menanyai kami. Ia turun di Pasuruan, sementara ibu di sebelahku menuju Probolinggo. Sebuah kota yang kukenal amat sangat. Dan si bapak kenal betul daerah tujuan perempuan berkacamata itu. Disitulah, si perempuan ini banyak buka mulut. Dan seumur-umur melakukan perjalanan kereta, tak pernah sekalipun aku bertukar nomer hp dengan penumpang lain. Apalagi penumpang yang awalnya kelihatan bete seperti perempuan itu.

Ia magang di sebuah maskapai penerbangan, calon pramugari sepertinya. Kota asalnya paling ujung Jawa Timur. Dan ia ternyata suka bercanda. Kompakan dengan si bapak yang lucu sama istrinya yang pelit dan si ibu sebelah yang cerewet, ia berbaur menyumbang tawa. Melewati Surabaya berarti sejam lagi aku akan sampai di kota tujuan. Dan entah mengapa makin akrab lah kami. Beberapa kali ia menepuk dengkulku atas lelucon yang kulempar atas namanya. Yang terlucu, aku tak pernah tau stasiun tempatku harus turun, jadi setiap naik kereta aku selalu bertanya kepada penumpang jika akan sampai stasiun yang kutuju. Dan kebiasaanku adalah jauh sebelum turun aku sudah siap-siap. Maklum, stasiun kecil, kereta hanya berhenti maksimal 5 menit. Dan barang yang kubawa cukup berat jadi tak mau gambling aku memilih aman menunggu di pintu.
"Masih lama kok!" tegur perempuan itu melihat aku sibuk bersiap-siap.
"Lho katanya satu kali stasiun lagi?" ujarku sembari agak girang karena beberapa kali ia terlihat "tak rela" aku turun. Aku merasakan kedekatan ketika tiap perilakuku tak lepas dari bidikan matanya.
"Iya tapi masih lama, ngapain berdiri di pintu."
Aku menurut. Melanjutkan obrolan. Bapak yang lucu itu seperti menaruh "curiga" ketika kami bertukar nomer hape. Aku yakin ia berpikiran kami sedemikian dekat dari tadi kayak udah kenal lama lha kok baru tanya nama dan nomer hp. Aku juga agak ngakak seh, wong juga baru pertama kenal orang di kereta langsung akrab.

Usai melewati lumpur lapindo aku mengemasi barangku. Kali ini ia tak melarang.
"Lho kenapa kok turun, masih lama kok, tidur aja dulu!" canda si ibu cerewet yang sedari tadi ingin aku turun di kota tujuannya yang merupakan kota tempatku lahir dan dibesarkan.
"Ya sekalian aja bablas ke Banyuwangi!" celetuk si perempuan, ngarep.com.
"Wah kalau Prob aku masih hapal, nah kalau banyuwangi aku tolah toleh nanti, nggak pernah kesana!"
"Kan ada mbak nya!" ujar si ibu menunjuk si perempuan itu yang hanya mengangguk-angguk.
"Udah ah, sebentar lagi sampai.." pamitku sembari menyalami satu persatu orang, termasuk pada perempuan yang memangku anaknya yang menumpang di bilik kami. "Mbak, pamit dulu, salaman meski belum kenal," ujarku pada perempuan bertampang judes itu. Eh si calon pramugari itu malah mencubitiku ketika aku berpamit demikian pada si ibu jutek. Aku menolehnya, "kenapa mencubitku?", ia menjawab dalam tatap mata "Nggak usah pamit kayak gitu lah,".
Dan aku dengan tak rela menggerakkan kakiku ke bibir pintu.

Berita Merapi masih menghangat dan menjadi topik obrolan kami ketika bertukar pesan pendek, selain sama-sama merasakan kebosanan di kampung halaman. Dan tercetuslah darinya ide pulang bersama. Ia berencana pulang sabtu, aku mengajukan kamis. "Wah kalau kamis ya aku cuma capek di jalan aja, baru juga senin pulang. Sabtu aja?"
Tarik ulur akhirnya sepakat hari Jumat. Dan berbagai pesan pendek kemudian menghias. Berita gempa. Isu Merapi. Hobi. Aktivitas. Dan hal lain.

Sejenak beralih dari perempuan ini, aku mengabari perempuan yang dulu mengira aku laki-laki bahwa aku sedang pulkam. Aku baru menyadari bahwa kami telah saling mengenal sekitar 7 tahun lalu dan tak pernah bertemu muka. Hanya bertelepon. Ya, aku cukup takjub karena kami tetap bisa dekat padahal itungannya ia "tertipu" oleh jenis kelaminku yang membuat kami sempat "pacaran" setahun.
"Ke BWS dunk, kan udah deket?" pintanya. "Masak udah 7 taon lho!"
"Ya kamu katanya mau ke Jogja?"
"Batal, duit e tak pake ke Bali ama tanteku. Wes saiki sampeyan ke BWS aja? Aku tunggu."
"Aku malu ama sohibmu. Ntar dia marah ama aku!" ujarku sembari teringat karibnya yang juga setahun kupacari sebelum perempuan ini yang juga ngira aku laki-laki. Tapi kini karibnya sudah nikah dan punya anak, sedangkan perempuan ini belum juga menikah. Usianya dua tahun dibawahku. Cerita cintanya hampir sama dengan karibnya, tetapi penyakit yang menggerogotinya membuatnya tak seberuntung karibnya.

Ia menelepon lama. Membincangkan yang terjadi dulu. Sekilas merindukan masa itu, diperebutkan dua perempuan yang mengiraku laki-laki. Perempuan ini memilih bertahan menjadikanku teman sedang karibnya membenciku setengah mati.
"Nanti kalau kamu ke rumah, tak kenalin sebagai saudara jauhku di depan dia, jangan kuatir yang penting kamu kesini dulu."
Ia mendesak, padahal aku bukan hanya malu pada karibnya tapi juga pada ibu dan kakak perempuannya yang juga mengenal Rey -nama samaran laki-laki yang kubuat-. Tiap hari ia menagih untuk ke kotanya. Salut juga ketika dengan tangan terbuka ia menerima orientasi seksualku.

Ia berangan hidup di Jogja. Tahun Baru adalah momen yang dipilihnya. Aku mengamini jika ia ingin mencoba peruntungan di Jogja aku menerimanya juga dengan tangan terbuka. Aku mendefinisikan perempuan itu sebagai saudara. I do care, dan begitu juga ia. And I do hope that we can meet someday. Meski kini kecanggihan teknologi sudah ada kok susah banget untuk tau potret dirinya. Maklumlah gambar ia dan karibnya yang kupunya sekitar 6 thn lalu juga raib bersama hp samsung yang kujual. Dulu tak ada kabel data untuk transfer, jadi rekaman wajahnya hanya ada dalam anganku. Dan masih untung aku, karena ia tak sekalipun pernah tau wajahku.

Sisi lain sebuah perjalanan, menemukan orang-orang baru juga orang lama yang menunggu mereguk pertemuan di Jogja, semoga.

Monday, November 1, 2010

Catatan Akhir Oktober

Oktober mungkin bulan yang cukup melelahkan sepanjang setahun ini. Bagaimana tidak, aku merasa segala suka duka perjalanan hidup tumplek blek di bulan ini. Keresahan, kegelisahan, frustasi dan disorientasi menyapaku bergantian dengan senyum dan tawa serta cinta, bahkan nyaris di saat yang bersamaan.
Suguhan hidup awalnya menghantar sesajen apa yang disebut gelimangan rupiah. Dengan sebuah kerja dan karya tentunya. Pun tak ketinggalan ketika belitan pikiran, mendadak menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup. Dan dimulailah disorientasi itu...

Kosakata yang tiba-tiba sering mampir dalam pelafalan lisanku. Disorientasi hidup, mau dibawa kemana... Ada yang bilang aku terlalu banyak mikir. Mau tak dipikir, ketika duduk seorang diri renungan itu mau tak mau hadir. Aku kemudian menyibukkan diri dengan tak membiarkan diri seorang diri. Pengalihan beberapa saat, selebihnya hadir kembali.

Membagi dengan seseorang. Beberapa kali kucoba. Melegakan memang, namun lama kelamaan menyadari tiap orang juga punya beban pikiran masing-masing, tak selamanya mempersilahkan waktu untuk terus mendengar keluh kesah. Dan satu yang tak pernah hilang, jangan menyimpan cerita kepada manusia. Itu pepatah yang akan selalu kupegang.

Dulu, aku kapok dengan pertemanan. Kini, ingin lepas dari esensialis, maka bukalah diri. Namun tampaknya aku memang tak pernah berjodoh dengan pertemanan. Teman mungkin seabreg, tapi untuk bercerita, rasanya kapokku belum ilang.

Perubahan diri. Kelewat sensitif. Tak bisa lagi merasakan greget hidup. Malah tenggelam dengan fikir. Mungkin sedang bosan saja!

Badanku meringkih. Aku tak tau apa sebab, tapi kondisi tubuh sedang sering drop. Umur tak terlalu tua, bukan? Apa saking terlalu banyak mikir? Seluruh persendian nyeri-nyeri, kecapean kah? Tanda tanya lagi. Belum lagi gigi yang dari dulu tak pernah mengeluh mendadak ngilu-ngilu. Ah, sungguh bulan ini penuh ragam warna. Dan wajah ibu yang seketika kerap membayang.

Ada sebuah cerita menarik, pernah, dalam titik nol ku aku berujar ingin menyusul ayah, namun di tiap aku memikirkannya dalam detik itu juga ada saja yang membatalkannya. Entah itu tiba-tiba seorang teman muncul di pintu kamar, atau bahkan dering telepon yang memang tak menaruh curiga linangan airmata terderak dalam sayu suara. Entah, dua kali itu juga gagal aku menyusul ayah, bagiku itu pertanda. Bahwa bukan waktunya menyusul beliau, ada seorang perempuan renta yang butuh kekuatanku. Yang selalu menengadahkan tangan keatas meminta pada sang pemberi hidup untuk senantiasa menjagaku. Ya, aku harus kuat!

Oktober telah berlalu, menyilahkan November dan lingkaran bulan lain untuk kulewati. Larut dalam fikir yang tak akan terpenuhi jawab, jalani saja!

Friday, October 1, 2010

In Luph....

Seperti biasa ia memalingkan muka dengan lamunan kosong,padahal tau betul mataku sedang lekat ke wajahnya. Dengan hati tersenyum aku menanti, hingga wajah itu menoleh sekilas kemudian menghadirkan pelangi lewat celah bibir mungilnya.... Gila, macam anak SMA saja!!

Berada di selayang mata ketika menutup dan membuka mata

Monday, September 27, 2010

BERSAMAMU

Tak pernah ada waktu bersama, kecuali via pesan pendek. Bahkan ketika bersua, ia diam dan aku tak menegur sapa. Aku sempat kuatir harus bagaimana ketika kini bersama, berdua. Beruntung degup jantung masih bersahabat. Berbasa-basi sebentar. Ya, seperti biasa ia terlihat cool. Memang gayanya, aku maklum!

Membahas mudik lebaran. Hal-hal nggak penting seh, dan lampu merah yang sepertinya terasa panjang cukup mengulur obrolan. Hahaha baru kali ini aku menikmati lamanya lampu merah agar tak segera berganti hijau. Dan aku masih saja kadang kikuk, what to do, what to ask, etc. Penyakit lama yang belum bisa sembuh.

Pengamat wajah yang tak berani beradu pandang, lebih sering terlihat ngelamun, namun lamunan yang tau ada mata yang sedang menatapnya. Ia tak berubah. Sepertinya ia model orang serius, sangat bertolak belakang dengan tingkahku yang hampir hanya iseng dan tertawa.

Ketika pulang, ada sebuah pengakuan tentang orientasi seksualnya. Ketika aku mengutarakan opsi sebab, ia merasa seperti sedang diinterogasi.

Hmm, status sosial yang menjeda, aku masih terlarut disana. Oleh karenanya, logika kemudian mengirim sinyal ke dalam kotak bernama hati. Pun kenapa degupan jantung tak luar biasa. Aku menikmati kebersamaan yang ada. Mengenalnya lewat bait kata dan lamunan muka, bahkan ketika wajah itu tak menyisakan jarak dengan wajahku. Platonis. Proses mengenal dan memahami. Dan imbas pencerah aura. Aku menikmati tanpa muluk-muluk asa!

U're the cutest ever...

Thursday, September 23, 2010

OEDIPUS COMPLEX

Inilah cerita berikutnya... Awalnya aku agak kuatir "kelabilan" perasaan itu akan terbawa, maklum selang terakhir aku bertemu muka dengan si flirting hanya beberapa jam ketika otak dan lisanku dipaksa bertemu hal-hal baru. Mood yang tidak baik agak menguatirkanku akan merusak tugas yang seharusnya kukerjakan. Tapi optimis diantara kelelahan fisik coba kutebar.

Dan malam itu tak ada yang kukenal akrab. Hanya beberapa diantara mereka yang aku tahu dan tahu hanya nama, selebihnya tak kukenal. Beruntung satu diantara orang baru yang kukenal sungguh ramah. Ia bagian dari panitia. Aku duduk semeja dengannya saat makan malam. Lalu tak lama, seorang perempuan lagi yang kemudian menarik hatiku, datang. Ia duduk persis di hadapanku. Kami bertiga di meja itu. Dua orang itu tampak akrab. Sedang aku, tau sendiri, kalau bersama orang baru aku akan memilih duduk diam dan menjadi pendengar. Tapi aku tengah mencoba keluar dari esensialis diriku, aku terkadang ikut larut ngobrol tapi tak ingin terkesan banyak bicara, bagaimana pun aku orang baru.

Dan perempuan itu, di awal aku sama sekali tak respek. Aku menganggap ia congkak karena selama ia bicara tak sekalipun matanya bertemu mataku. Bagiku, eye contact adalah mutlak karena ketika orang tak menyapa mata orang yang diajaknya bicara pertanda ia mengacuhkan orang tsb. Dan aku sudah sering berhadapan dengan keangkuhan model begini, makanya aku tak ambil pusing ketika ia tak mengarahkan mata padaku. Mungkin hal itu yang menjadi salah satu penyebab aku show off dengan lisanku tentang isi otakku. Barulah ketika ia mendengar ocehanku, matanya tertuju padaku. "Dasar angkuh!" sinisku dalam hati.

Ketidakrespekanku pada perempuan itu bertambah ketika tahu ia begitu gagap teknologi. "Huh, gaptek aja belagu jadi orang!" rutukku lagi. Tapi aku kemudian menghargai isi otaknya. Gayanya yang sok asyik tak kuperdulikan. Tau sendiri kalau aku mengagumi dan tergila-gila pada otak perempuan, ya itu yang menutupi semua kebelaguannya.

Hari berlalu sedemikian cepat. Hari ketiga aku mulai menaruh perhatian padanya. Biasa, curi-curi pandang. Tempatku sangat strategis menikmati fisik dan otaknya. Siang itu semua orang sudah menuju ruang makan, hanya aku dan dia serta seorang lelaki. Aku sedang asyik chat dengan seorang teman FB yang agak tau tentang perjalanan cintaku. Aku pun bercerita tentang si perempuan ini padanya.
"Kamu nggak makan siang?" pertanyaannya mengagetkanku."Ayo bareng kesana." Ajakannya lebih mengagetkan lagi.
"Ya, sebentar lagi." sahutku seraya mengabarkan pada teman FB aku diajak perempuan ini lunch. Ahahay.
Dan aku semeja dengannya, melihat cara makannya yang lumayan "menjijikkan" untuk orang sekelas dia. Kadar ilfil dan terseponaku lantas naik turun. Tak apalah untuk sekedar pemandangan, batinku mendefinisikan fluktuasi ilfil dan terpesona itu.

Esok harinya aku "tergila-gila" hahahaha. Sejak di tempat ini aku selalu bangun pagi dan "mejeng" di depan penginapan. Aku melihatnya tengah sibuk "beraktivitas" yang membuat cermin ilfilku menanjak hahaha. Beberapa saat setelah aku masuk kamar karena penghuni kamar yang lain keluar aku mendengar suara yang familiar di telinga hatiku. Ia masuk ke tempatku tidur. Aku jelas agak kikuk, meski ia hanya mengitari sekitar, namun aku harus bicara apa jika ditinggalkan berdua begini. Dan kemudian kami bercengkrama, aku berusaha dengan sangat agar status sosial otaknya dengan otakku tak berbeda jauh. Mengimbangi setiap obrolannya hahaha agar tak nampak bodohlah, karena kadang aku bersikap bodoh di depan orang yang disuka. Tapi teringat gapteknya perempuan itu aku jadi agak PD berinteraksi dengannya. Ia menjelaskan apa yang akan dilakukan hari ini, menjelaskan tentang tempat yang kami tinggali ini, tempat asah gempa/bencana. Ia bercerita pengetahuannya tentang penyimpanan makanan dan tetek bengek bencana. Okelah ia mungkin fasih soal itu, aku mendengarkan dan kadang nyeletuk. Ia kemudian mengajak berkeliling, melihat-lihat tempat outbound, aku lumayan fasih soal ini. Kemudian ada seorang teman bergabung dalam obrolan pagi itu.

Kemudian aku baru menyadari satu hal ketika aku berdiri di hadapannya atau ketika ia membelakangiku, ia mengenakan baju tidur lumayan jauh diatas lutut dan kadang ia mengangkat kedua tangan ke atas melipatnya dibelakang kepala yang otomatis kian menarik bagian bawah bajunya ke atas. Well, pagi2 kok disuguhi pemandangan begini? Bukan salahku bukan ketika aku menikmati suguhan pagi? Dan lumayan parah lagi ketika melangkah keluar kamar dengan setengah terburu-buru karena sebagai orang yang mandi terakhir dan akan telat untuk makan pagi dan mengikuti kegiatan, secara tak sengaja mataku menangkap tubuh putih itu hanya berbalut lilitan handuk menuju kamar. Gila, kenapa ia tak menutup pintu!

Setengah jam kemudian aku mendapatinya telah terlihat cantik dengan busana yang menurutku sangat simpel. Waduh, kadar tersepona itu naik lagi, ahahay... Aku bahkan berdendang semu: "Kau cantik hari ini..."

Aku mengagumi otak perempuan, that's it! Ketika ia tampak menarik, itu bonus hehehe. Mungkin agak sedikit bertanya kenapa aku memberi judul Oedipus Complex, ya perempuan itu berusia diatasku. Dan ia SEPERTINYA hetero -meski seksualitas itu cair-. Sekali lagi aku mengagumi otaknya, menikmati setiap kebersamaan yang tercipta, dan mengingat lambaian, senyuman dan kecupannya ketika harus mengakhiri ini semua. Jujur ia perempuan berdaya tarik seksual yang pernah kutemui.

Hmm, tampaknya aku mulai ber-platonis ria! Tak apalah, selama bikin aura jadi cerah dan menggairahkan setiap suguhan hidup yang dicontekkan Tuhan padaku, kupikir itu akan berimbas positif.

Senyum dan tawa lebar itu akan kurindukan!

Saturday, September 18, 2010

PLAYING WITH "THE FLIRTING"

Bermain dengan tukang flirting. Definisi bermain yang cukup rancu, setidaknya buatku sendiri...

Masih ingat dengan tukang flirting yang pernah kuceritakan. Ya ya ya dulu aku menjulukinya tukang flirting, meski sampai sekarang pun demikian. Bahkan sebelum kami bertemu lagi, komunikasi yang terbangun kian intens. Aku sempat kuatir dengan perasaanku, meski seorang teman telah mewanti-wanti untuk tak membuka hati sedikitpun padanya, dan aku pun berujar: "Tak usah kuatir, aku bisa menjaga hati!" optimisku, saat itu.

Dan waktu yang dinanti pun tiba. Teman yang mewantiku merasakan auraku sudah tak wajar. Tapi aku bersikukuh aku wajar-wajar saja, aku beralasan karena hatiku sudah milik si dinda hahaha. Dan kemudian aku mendapatinya diatas motor, termangu. Perasaanku sepertinya biasa saja, karena aku memang mencoba biasa. Dan malam terlalui berdua. Ia banyak bercerita, pun aku demikian. Tak ada rahasia. Sesuai slogan kami di dunia maya: Kita soulmate, tak ada rahasia diantara kita, juga tak ada cinta.

Namun paginya, semua pertahanan hati yang kubangun jebol. Padahal semalam tak ada relung yang memberatkan ketika pagi ini ia akan bermimpi dua hari bersama perempuan yang ia cinta. Aku bahkan mendukung, paling tidak aku melihatnya bahagia. Tapi berbicara ternyata tak semudah melakoni. Entah kesambet setan mana, aku harus mengakui aku tak bisa menutupi amarah. Terbakar cemburu, mirip lagu PADI BAND.

Beberapa hari kemudian aku menertawakan ketololanku. Lagu itu kuputar berulang, dan aku tertawa keras. Sudah sadar dari awal bahwa ia tak untuk dimiliki, kenapa aku keukeuh melibatkan hati, meski lisan berkata tidak. Ketidaksinkronan hati dan lisan bikin otak nggak bisa berfikir jernih. Namun ketika menyadari dan menertawakan ketololan itu, aku merasa manusiawi ketika merasa mencemburui hal yang tak untuk dimiliki itu, tapi hanya sesaat. Tenggang waktu sekejab karena kemudian beralih pada cerita selanjutnya...

Saturday, September 4, 2010

Get Addicted... Oh No...

Aku kecanduan! Oh no! Bukan kecanduan drugs or something bad seh -dan berharap jangan sampe lah- hehe tapi kecanduan satu ini hampir mirip sakaunya kalo gak keturutan ahahay alay hehe

Aku tercandu untuk setiap malam bercengkrama menikmati kata-kata. Hmm, kenapa jadi tak baik? I dont know, tapi benar tak baik kan kalo berlebihan. Terluap dan cepat menguap. Maklum, juga agak pembosan hehe agar tak cepat bosan kadang aku membiarkannya berlalu di selayang mata. Hmm, serba salah ya, tak ada dirindukan, kalau ada dilewatkan. Tau sendiri aku juga model orang gak suka basa basi, daripada garing mendingan mendiamkan.

Tapi kecanduan ini juga lama-lama gak akan baik. Yup, aku percaya semua telah digariskan tinggal dilewati. Beberapa kali aku mengandalkan jurus balancing. Keseimbangan tawa. Jadi inget ketika masa SMU dan suka ama adik kelas -yang sampai sekarang dah kayak sodara sendiri-. Persis rasanya kayak gini. Ah, mang lagi fall in luph gini bikin berasa kayak anak SMU kali ya? Dan pepatah yang kugunakan saat itu juga sama, bahagia yang terlalu berlebihan mengakibatkan akhir yang tidak menyenangkan.

Kau memang mencandu. Mencandu ingatanku tuk selalu mengingat tiap detil darimu dalam detakan waktu nafasku. Aku tak pernah menilai seseorang sempurna, tapi kau cukup sempurna dalam ketidaksempurnaanmu. Sudah ya, udah mulai sakau neh!

Friday, September 3, 2010

Punya Pacar Cantik, Rentan Selingkuh!

"Rempong bok, punya pacar cantik itu rentan selingkuh, susah meliharanya!"
Dengan setengah bercanda aku mengungkap alasan kenapa aku "lambat" dalam proses get involve dengan perempuan yang sedang kusuka. Alasan terlalu cantik adalah yang paling utama dan paling memberatkan. Mempertegas kepesimisan dan ketidakpercayaan diriku. Haha aku mengakui itu!

Ya mungkin bagi orang lain punya pasangan cantik adalah anugerah, bagiku itu ujian haha. No no no, not that kind of serious hehe. Hanya sedikit kekuatiran saja.


Aku percaya pada dasarnya berelasi bukan tentang menggenggam dan mencengkeram erat seseorang, bukan masalah secantik atau se-tidak cantik apapun, melainkan pertautan chemistry dua hati ceile jadi agak gombalistik begini ya... Hmm... Dasar C.I.N.T.A hahaha karena sekuat apapun kita memaksakan orang dalam genggaman kita tetapi orang tsb berniat tak hendak digenggam, pasti akan merembes dari sela-sela genggaman. Pada intinya bukan menggenggam namun saling menautkan jari agar tak ada celah. Dan itu dua jiwa, bukan hanya satu atas lainnya.

Wah, kok jadi belibet, habis konstruksi otak masih terwacana bahwa punya pacar cantik akan susah untuk ngejaga hahaha.

Tuesday, August 31, 2010

BUKA HATI


Akhir-akhir ini banyak yang memojokkanku. Bukan dalam artian negatif, malah justru positif. Aku dipojokkan ketika hanya menjadikan terbebas dari esensialis sebatas jargon belaka.

"Kapan kau akan punya pacar kalau kau tidak buka hati?"
Ya ya ya aku memang sedang dalam proses ini. Aku tengah membuka hati. Esensialis, ketakutan dan hal-hal yang membelenggu dan kubatasi sendiri memang tengah kugubah. Aku mengenal orang-orang baru. Meski dinding yang kubangun sendiri itu belum bisa sekaligus kurobohkan, tapi aku tengah mencoba. Aku memang tengah membuka hati untuk seseorang. Baru kukenal, namun sepertinya sanggup meluluhlantakkan bilik hati padahal pikiran tengah dilanda kalut oleh kondisi kerja yang sedang tak baik. Tapi perasaan memang ibarat jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Ia hadir, tumbuh kembang secara spontan seakan tak menghiraukan beban yang ditanggung otak. Perempuan itu hadir tanpa dinyana. Seperti aku yang dulu-dulu, ketika dipertemukan dalam rentang waktu cukup lama, aku hanya mengagumi, mencuri pandang tanpa berani berucap sepatah kata pun. Padahal aku menangkap lampu hijau ketika ia sering tiba-tiba hadir dan diam -tapi kentara- pengen disapa di depanku. Hingga di penghujung waktu, tak seucap pun terjuntai. Hanya omongan kecil dan tak penting nan malu2 yang kerap terjalin. Akh, bodoh kan! Memang! I dont know why, keberanian itu tak ada meski sinyal yang ia interaksikan begitu kuat dan jelas. Hmm, dan olok-olok pun bermunculan. Berlatar belakang olok-olok kuberanikan menyapa dalam dimensi lain. Satu, dua dan berpatah-patah kata kemudian terjalin. Dan entah kini sudah paragraf ke berapa hahaha perkenalan yang memberanikanku bertanya kontak. Macam anak SMA aku rupanya, batinku! Tapi akh, kan aku sudah selangkah lebih maju bukan?

"Ayo, tunjukkan agresifmu sebagai butch!"
Aku sebenarnya tak setuju dengan anggapan bahwa butch harus agresif dan femme yang harus pasif. Tapi budaya patriarkal heteroseksisme ini memang masih melekat erat. Dan aku juga tak ingin ikut arus. Aku lebih percaya proses. Itu jauh lebih indah menurutku daripada saran orang-orang disekitarku. Mangsa, bidik dan tembak. Terkena atau meleset itu biasa. Ya ditolak atau diterima aku setuju itu bagian dari resiko, aku hanya tak setuju ketika harus balapan kuda dalam mendapatkan hati perempuan. Menikmati proses, hmm that's sound nice... Kita tak akan pernah tahu ending sebuah perjalanan, bukan? Jadi mengapa harus tergesa? Ketika meyakini jika memang sesuatu/seseorang akan menjadi milik kita/tidak, hal itu akan terjadi dengan sendirinya, biar manusia manapun akan berusaha menghalang.

Pun soal perempuan itu. Aku sudah buka hati. Ia sudah menggenapi hariku dengan buaian senyum. Tapi aku tetap membuat batasan. Ia terlalu cantik untukku. Status sosialnya jauh lebih tinggi disamping ke"labil"an dalam pemaknaan perasaan di internal ia sendiri. Batasan itu adalah tembok yang dibangun logikaku, meski perasaan sudah merapatkan barisan untuk menggempur jatuh logika. Hah, ribet kan? Padahal jatuh cinta bagi kebanyakan orang sederhana.

"Maju terus pantang mundur!"
Begitu semangat orang-orang di sekitarku. Aku meyakini olokan mereka tak hendak menilai negatif, mereka ingin aku kembali menata hati. Now, I'm enjoying this process, to get knowing the whole of u closer. Jadian atau tidak, bagiku itu bukan the big aim nya. Mengenal pribadi. Tawa canda. Jauh lebih berkesan dan bermakna!

Saturday, August 21, 2010

REKAM ULANG

Entah kenapa malam ini aku sedang senang memutar ulang fikiran tempo dulu. Bukan soal seseorang di masa lalu, hanya memori-memori kecil yang hingga kini membekas dan dibekaskan oleh lagu.

Segera kubuka youtube. Mengingat kepingan cerita bersama teman kerja dan lagu Paul Van Dyke. Entah aku lupa judulnya aku search saja. Sampai pada cover perempuan yang remang kuingat. Ya, ini videoklip yang selalu kami nantikan untuk diputar di salah satu tivi swasta yang saat itu tengah siaran percobaan dan hanya memutar lagu-lagu secara simultan, berulang dan sama, bahkan jam-jam yang sama. Maka tak heran, kami bisa tau kapan klip itu akan diputar.

Kalau diingat tingkah kami dulu, kini aku hanya tergelak. Kenapa videoklip itu dinantikan? Karena pada bagian endingnya ada sekian detik adegan ciuman dan itu tak disensor. Aku masih ingat ketika salah satu teman sampai lari-lari dari dapur dan menghentikan sejenak aktivitasnya hanya untuk melihat adegan itu. Dan konyolnya, ketika si bos sedang nonton tivi padahal jam menunjuk klip itu akan ditayangkan, kami semua menggerutu dan berharap si bos cepat-cepat pulang. Konyol dan bikin geli ketika ingat. Tapi namanya juga kekonyolan, just enjoy ajah!

Jadi teringat juga masa-masa ketika pagi-pagi harus beraktivitas, ketika kemalasan meraja hal yang paling enak dilakukan adalah putar musik dan berjoget. Haha jadi ngakak teringat ketika seorang rekan yang anti joget akhirnya dengan malu-malu menggoyangkan badan setelah aku dan seorang teman lagi yang sama-sama hobi bergoyang memaksanya mengikuti irama Beyonce cs lewat Lose My Breath dan JTL My Lecon. Pagi yang gila, namun ketika ajudan si bos datang, everything back 2 normal again.

Hmm, musik memang tak akan pernah mati, sejalan usia pun, bahkan masa ketika aku belum tercipta. Jadi kangen dua teman itu, kapan yak dipertemukan waktu untuk kembali bergoyang sejenak dalam usia yang boleh dibilang tak lagi muda. Ahahay... Love music, miz u my friends...

Wednesday, August 18, 2010

TUHAN, MAAF!


Tuhan, maaf, aku menemuimu ketika takdir yang kau gariskan padaku seakan terlampau berat untuk kulewati, walau dengan tertatih. Hmm, doa keegoisan manusia. Namun disadari atau tidak, mayoritas -aku tak bilang semuanya- menempuh cara itu.

Aku mendapatkan ide tulisan ini usai dengan sedikit terharu pagi tadi aku mendapati ketidakkuasaan manusia ketika didera problema yang tak kunjung usai, malahan seperti siklus berantai yang kian lama memuai setelah terkena mentari.

"Aku hendak bercakap dengan penciptaku, otakku sudah tak kuat!" jelasnya.

Ya ya ya, bertemu dengan pemberi hidup, aku juga meyakini, memang menyuguhkan kesejukan tersendiri, meski itu bukti keegoisan manusia. Mencari di kala sedih, lalai ketika sedang bertaji. Tak perlu munafik untuk mengakui itu. Aku juga teringat ketika mengikuti pelatihan, seorang fasilitator mengajukan pertanyaan: "Masih perlu kah Tuhan? Jawab iya atau tidak!". Kontan semua berkasak-kusuk. Ada yang bilang mutlak perlu, bahkan ada yang berujar tak perlu, perlu hanya jika butuh. Semua terkembali pada tiap individu, Tuhan masih kah Engkau diperlukan hambaMu? Pertanyaan konyol makhluk ciptaan terhadap penciptanya bukan?

Pemaknaan perlu atau tak perlu bercakap dengan penguasa alam semesta adalah hak dan pilihan masing-masing. Aku hanya yakin, ini adalah sebuah proses. Meski berantai, namun tetap akan berakhir, apapun endingnya. Dan bersiapkah untuk proses baru yang mungkin juga berantai, isn't it?

Monday, August 16, 2010

SAHABAT DIRI SENDIRI



Jadilah dirimu sendiri! Ya, akan percuma menjadi orang lain ibarat tubuh kita tapi perilaku dan pemikiran ingin jadi orang lain, meskipun itu pacar, teman atau sahabat kita. Hmm, teman dan sahabat, adakah bedanya? Tentulah, dan itu tak perlu kujelaskan.

Aku mungkin pernah bercerita bahwa selama hidup aku tak sekalipun punya sahabat. But, that's true! Ketidak pernah percayaan pada orang dan mitos bahwa sahabat adalah orang pertama yang menusukmu dari belakang, mungkin sudah terlampau dalam mencuci otakku. Tetapi tak lantas aku tidak menjadi sahabat bagi orang lain. Aku hanya kebalikannya saja, tidak ingin punya sahabat. Namun akhir-akhir ini aku sudah berjanji tak ingin mematok esensialisme-ku sebagai harga mati. Perubahan adalah hal yang patut dicoba.

Aku lantas mulai membuka ruang untuk bercerita. Ditambah problema juga sedang senang mengitariku. Aku memilih satu dari sekian orang untuk kubagikan keluh kesah dan masalah, pun tawa canda. Ya, aku memang lebih suka membagi tawa, begitupun ucap perempuan itu setiap kali kami bertemu dalam box berisi kata.

Aku memulai menjeda tawa dengan berkisah problema. Aku memilihnya karena aku menilai ia layak. Kecerdasan otak dan bagaimana cara ia memuntahkan pikirannya melalui lisan kuakui memikatku. Aku mulai nyaman bercerita. Hampir setiap saat ledekan, makian, pujian, narsis2an terangkai dan teraduk. Flirting, pengakuan, irama canda dan belahan tawa, sejenak membuatku yakin bahwa aku sedang menemukan sosok sahabat.

Persepsi yang kurasa akan memudar seiring kelunturanku akan keyakinan bahwa ia tak ubahnya teman. Aku mungkin belum bisa membuka nama untuk sahabat. Terlampau banyak berkeluh kesah pun mungkin orang akan bosan, apalagi hanya terkotakkan dalam kata tak bernada tak berwajah.

Sejatinya, meyakini bahwa sahabatku adalah diriku sendiri merupakan hal paling ampuh untuk tak lagi ingin coba-coba melampaui esensialis pribadi. Padahal tak ada trauma, tak ada ketakutan, dan tak ada kehendak untuk menutup diri, namun seperti tengah mencari belahan hati, aku mungkin tak mudah berjodoh menemukan seseorang untuk leluasa bercengkrama. Orang mencariku di kala susah, mencekokiku dengan cerita, dan telingaku dipatenkan untuk terus menerima, memamerkan senyuman dan meregangkan pelukan, namun ketika pilu meraja di kalbuku tak seorang pun sepertinya hendak menyodorkan telinga. Hmm, aku sudah terbiasa!

Saturday, August 14, 2010

KOMUNIKASI



Komunikasi sepertinya kini menjadi obat mujarab yang harus kutelan setiap hari agar terhindar dari ketidaksepahaman. Namun sayangnya, obat mujarab itu raib dari peredaran alias tak ada di toko obat terdekat di kota saya. Mungkin saking banyaknya permintaan hingga stoknya menghilang dari peredaran. Aku sih percaya, banyak orang yang harus mengkonsumsi obat bernama KOMUNIKASI itu.

Aku tak tahu kapan mulanya dan bagaimana persisnya, tapi perlahan hubunganku dengan kamu memburuk. Awalnya, kupikir perbedaan dan perdebatan adalah hal yang wajar, lepas dari tengah sensitif atau tidak. Namun itikad baik meninjau ulang pertemanan yang bagiku tak disusun 2 atau 3 hari itu yang membuatku jauh-jauh untuk berfikir karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tidak, aku menghargai persahabatan kita ketika aku meminta maaf meski aku merasakan sikap dingin dalam sms dan untaian kata yang tidak bernada.

Lalu aku me-remove fesbukmu. Keputusan yang kuyakini bukan karena emosi sesaat. Kau bukan tipe orang yang mudah memaafkan, sejak dulu kuyakini itu. Tapi terkadang aku pun punya ego, ketika usahaku kurasa maksimal, ketika pada puncaknya setiap apa yang kutulis tak kau tanggapi atau sengaja kau lewati tetapi kau menjawab celoteh temanmu yang dibawah kata-kataku. Egoku berkata: "Cukup teman pemaklumanku atasmu!". Jemariku kemudian menekan tanda hapus teman di akunmu, ingat, bukan karena kemarahanku. Aku hanya merasa ketika setiap ucapku tak lagi perlu untuk kau respon ya untuk apalagi kita berkoneksi dalam jejaring soal itu? Terkoneksi atau tidak, kalau memang tak berpengaruh apa-apa bukankah sebaiknya tak perlu terkoneksi?

Maaf teman, aku bukan marah padamu. Ini hanya sudut pandangku yang belum tentu sama denganmu. Kau bilang kau tak sedang ingin berpikir, itu hakmu, tapi kau tak bisa mengharuskan orang lain untuk selajur pemikiran dengan pikiran dan keinginanmu. Aku yakin suatu saat nanti jika kau terfikir bahwa persahabatan tercipta atas dua orang yang berbeda, aku yakin dua orang yang telah mengenal cukup lama walau tanpa pernah saling mendalami karakter masing-masing dengan lebih detil, tetapi percaya bahwa aku tak akan jadi seperti yang kau minta dan begitupun sebaliknya, aku yakin kelak ketika menilik kembali jejak masa lalu, akan dengan senyum kita tersadar bahwa SAHABAT itu lebih bermakna daripada ketidaksepahaman atas dasar komunikasi.

Kau pernah bilang kata-kataku terlalu rumit untuk kau pahami. Tidak, aku tak pakai majas hiperbola ataupun metafora, kata-kataku lugas, tapi jangan bilang kau tak suka kejujuran dan malah lebih suka pengandaian serta basa-basi yang akhirnya menjurus basi? Hmm, inilah aku, inilah gaya bahasaku dan inilah cara bertuturku. Lepas kau suka atau tidak!

Wednesday, August 11, 2010

KEGELISAHAN


Gelisah. Mungkin itu kata yang tepat tentang perasaan dan pemikiran. Konflik adalah makanan sehari-hari dalam hidup. Aku tak memungkiri itu, namun ketika satu persatu dan kadang konflik berbarengan tersaji, mau tak mau otak pun terperas, dan mau tak mau pula hati tergerus.

Masalah melatih kita untuk lebih bisa dewasa dalam berfikir, bersikap dan memahami sesuatu -dan seseorang-. Emosi yang turut terpancing adalah wajar, asal tak membubrahkan lajur hikmah yang harus dicari.

Aku pernah berujar, aku bukan tipikal orang yang suka menjelaskan, meski tak juga membiarkan kesalahpahaman. Aku hanya ingin mengkoreksi apa yang perlu kukoreksi, selebihnya aku hanya akan mengucapkan selamat pada orang-orang yang berkubang dalam asumsi atas diriku.

Mau sebohong apapun kita pada orang lain, tetap tak bisa bohong pada diri sendiri karena hanya diri sendirilah yang tahu apa yang telah dan tidak kita pikir dan lakukan. Kegelisahan pada asumsi orang lain, jelas bukan itu kupikir dan rasakan. Kegelisahan kenapa manusia seringkali memandang sesuatu hanya dari sudut pemikiran saja, seperti tengah menutup mata untuk kemungkinan lain yang mungkin bisa saja luput dari pemikiran.

Kegelisahan ini memang belum dan mungkin tidak akan berakhir. Aku tak akan mencari penyelesaian. Hanya melihat setiap proses berjalan pada lajurnya masing-masing karena otak manusia dibentuk secara individual berbeda dengan yang lain. Menyaksikan otak-otak itu mengorbit dalam iramanya masing-masing.

Memahami bahwa daun tak selamanya hijau, merah tak selamanya darah dan semua tak selamanya semua. Kadang apa yang tersaji di mata bukanlah seperti persepsi aku atau orang lain duga, oleh karenanya dinamika itu akan menjadi indah dalam harmonisasi perbedaan kegelisahan pemikiran atas satu atau seperangkat masalah.

Monday, August 9, 2010

YM - mu


Beberapa hari lalu aku menemukan YM seseorang dari masa lalu sedang online, setelah sekian tahun akun tsb sepertinya -kukira- sudah tak berpenghuni lagi. Aku kemudian tercenung, bukan mengenang si pemilik YM. Hanya sedikit teringat. Telah lama berselang, tetap saja kejadian demi kejadian seperti baru kemarin terjadi. Hanya dengan pemaknaan berbeda. Dulu aku terus dan terus meraba serta mencari bagaimana hal tsb bertemu, bersemai dan berakhir, namun kini aku memandangnya sebagai proses yang telah usai. Berdamai, bahwa yang telah terjadi adalah pembelajaran.

Sunday, August 1, 2010

BREAK SAJA, MUNGKIN


Bagiku, ketika sebuah itikad baik tak disambut, maka sudah tidak ada gunanya dan lebih baik diakhiri.

Aku menilai perbedaan pemikiran adalah sesuatu hal yang wajar karena manusia mempunyai sudut pandang masing-masing, tapi ketika sebuah pertemanan yang terkoyak tak bisa menemukan apa yang dinamakan KESEPAHAMAN, maka ikhlaskan saja kepada tangan sang waktu menjadikannya tak mustahil untuk dikembalikan pada kita.

Kau bilang kau lelah. Sama. Tak ada yang sempurna, aku hanya yakin itu. Break saja, mungkin. Aku dengan pemikiranku. Dan kamu dengan asumsimu.

Tuesday, July 13, 2010

F L I R T I N G


Aku menyukaimu, bahkan sejak belum tau namamu...

Aku menuliskannya di status fesbuk. Untukmu, pemilik mata indah yang sedari awal telah memikatku.

Aku melihatmu ketika awal menjejakkan kaki disana. Tak ada rasa memang, ahahaha tak ada cinta pada pandangan pertama, mungkin kedua atau ketiga hehe. Malamnya, ketika sedang menunggu, aku ingat betul -mungkin kamu juga mengingatnya-, kamu menawariku batang sigaret yang telah lebih dulu kau sulut. Aku menolak, karena aku memang tak merokok. Lalu datang teman2 lain, dan saling berjabat tangan. Kau tampak telah akrab dengan beberapa diantara mereka sedang aku masih asing. Aku menajamkan telinga ketika kau mengucap namamu, tapi lirih. Aku hanya mendengar akhiran nama belakangmu. Saat itulah aku mulai mencuri pandang. Aku menulis pesan pada temanku bahwa teman sekamarnya itu sepertinya lesbian, tapi temanku tak percaya. Percaya atau tidak gaydarku menangkap demikian. Dan benar, kamu lesbian.

Saat makan malam, aku mencoba cair dengan melempar joke2. Maklum, aku kadang canggung di lingkungan baru dan biasanya hanya terdiam menjadi pendengar. Namun teman2 baru ini lumayan pandai melucu, jadi aku terhanyut. Dan aku tak sengaja menubruk matamu, mata yang sepertinya hendak mencari tau. Tatapan itu begitu misterius. Beberapa kali bertabrakan pandang, aku memutuskan bertanya...
"Namamu siapa tadi?" tanyaku ingin memastikan pendengaranku tak salah. Dan jawabanmu mengesalkan.
"Nggak tau!"
"Ow jadi namamu nggak tau, baiklah kupanggil kamu mbak nggak tau ya..."
Kamu menanggapi dingin. Hmm, aku berkesimpulan awal, LESBIAN JAIM. Kamu memang bukan perempuan pertama yang kusuka. Aku telah lebih dulu menancapkan perhatian pada perempuan lain, yang lumayan telah lama kukagumi otaknya. Namun matamu adalah pesona lain.

Hari bergulir, aku kerap memperhatikanmu. Tentu saja tanpa sepengetahuanmu. Di awal perkenalan kamu membuka diri telah berelasi. Sebuah pengakuan yang bagiku menjadi penutup untuk tak memunculkan perasaan apapun padamu.
"Saya tipe setia." Begitu ujarmu. Aku menghargainya.
Aku juga kerap berspekulasi bahwa kamu berelasi dengan salah satu teman disini, melihat keakraban kalian dan kecemburuannya terhadapmu. Aku bahkan menjaga jarak. Aku tipikal orang yang akan menarik diri jika bersinggungan dengan orang yang telah berelasi. Aku nggak pengen terlibat kesalahpahaman, sekecil apapun.

Dan entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul. Padahal logikaku sudah jelas2 menyetop tak boleh ada perasaan pada orang yang telah berelasi. Ditambah sikapmu mulai berbeda. Mungkin asumsiku saja, tapi kau mulai menyebar jaringmu mendekat. Ge-er, terserah, tapi aku begitu merasa...

Namun tetap saja, logika dalam otakku mati2an me-warning. Dan bentrokan jelas terjadi. Otak dan hati. Mulai nggak sinkron. Flirting yang kian menjadi. Kebimbangan otak dan hatiku. Semua beradu. Aku mengambil kesimpulan, mungkin kamu memang tukang flirting.

Kian hari keakraban, kedekatan, perhatian, joke, tawa, tatapan, semua kian rancu, namun sebelah hatiku tetap mewanti-wanti: Aku sedang berhadapan dengan pengobrak-abrik hati. Waspadalah, waspadalah!

Sebelum malam truth or dare itu, kamu selalu mengambil duduk dekatku tiap makan, padahal kursi lain tersedia. Aku saja sampe "ketakutan" akan timbul salah paham dengan best friend yang selalu cemburu padamu itu. Dan kamu "sepertinya" berharap akan duduk bersebelahan denganku, tapi tak pernah terkabul. Pernah sekali, itu pun karena seorang teman meminjam laptop yang kupakai, dan aku diharuskan bertukar tempat duduk yang persis di sebelahmu. Namun aku malah tak pernah mencoba menatap mata indah itu. Kebiasaanku lagi! Jika orangnya jauh aku curi2 pandang, tapi kalo ia dekat aku bahkan tak berani menatap.

Ketika alih2 jadi peramal, setelah membaca telapak tangan kiriku, kamu berkata bahwa aku rumit, sensitif dan nggak bisa kecentok. Banyak yang sudah kamu tabur, hingga malam itu...

Menjadi tempat berkumpul para perempuan yang hendak mempersiapkan apa yang akan ditampilkan pada malam akbar. Tak ada ide. Akhirnya malah tercetus ide permainan truth or dare dalam game domikado. Semua setuju. Aku agak riskan, pasti kamu akan mengorekku. Dan kulihat kamu begitu bersemangat ketika akan giliranku kena, tapi meleset... Sampai semua terkorek, hanya aku yang tetap tak kena.

Pemain domikado adalah para perempuan hetero dan lesbian. Konteks pertanyaan seputar seksualitas, mulai dari sejauh mana dalam pacaran, posisi ML yang paling disuka dan bagaimana caranya, dan ada juga yang ternyata hanya pernah berciuman dan sangat tertarik bagaimana cara melakukan masturbasi. Kamu rupanya ahlinya! Kamu mulai bercerita detil bagaimana bermasturbasi. Juga bagaimana posisi ML yang kamu senangi. Aku merasa sepertinya malam itu adalah malam lesbian mengajari heteroseksual tentang seksualitas. Aku menangkap 1 hal, kamu mendengar dengan seksama ketika aku bercerita tentang pengalaman seksualitasku. Sesekali bertanya lebih detil. Suer, ini adalah kali pertama aku ditelanjangi dan menelanjangi seksualitas orang. Dan kami sepertinya tanpa rasa sungkan lepas bercerita, padahal kami baru kenal.

Aku masih ingat kau yang paling awal bertanya padaku: "Gimana tipe perempuan yang kamu suka?". Lalu kau juga bertanya pada saat bagaimana aku akan orgasme. Dan mimik mukamu, benar2 kalau bisa aku malam itu hendak menciummu! Geregetan banget! Diluar konteks, aku untuk pertama kalinya bercerita tentang seksualitas yang tak pernah kuceritakan.
"Disini siapa yang kamu suka?" tanyamu kembali ingin tahu.
Aku sengaja mengulur dan mengalihkan obrolan tapi tetap aku dikejar. Bahkan gilanya kamu mengabsen satu2, membuatku harus menyaring. Dan aku tak bisa mengelak, tetapi aku tak ingin terketahui, aku memutar kata. Gila saja kalau sampai kau tahu! Hingga kamu berkesimpulan bahwa perempuan yang kusuka adalah kamu.

"Dasar tukang flirting!" umpatku dalam hati. Mukanya benar2 penggoda!

Berseling tawa, geli dan teriakan2, malam terus bergulir. Usai saying the truth, kini giliran dare to do something! Kamu kena tantang untuk memelukku 30 detik, dan kau sungguh melakukannya. Benar2 pengobrak-abrik hati! Lalu giliranku, teman2 lain yang sepertinya terpengaruh dengan opini yang kamu giring bahwa perempuan yang kusuka adalah kamu, menyuruhku untuk menciummu. Gila! Dan kau sudah menyorongkan mukamu di depanku. Benar2 gila! Bermain truth or dare, semua harus dilakukan bukan? Lalu aku mengatupkan dua jari di bibirku dan kemudian dua jari itu kusentuhkan ke pipimu. Sebuah ciuman juga, bukan? Meski lewat perantara jemari.

"Wow, romantis banget! Meski lewat jari, tapi itu ciuman romantis!" komentar seorang teman seperti tertakjub2.

Truth or dare malam itu benar2 gila. Perasaanku benar2 sudah dibuat tak bernalar. Logika dan perasaan berperang.

Aku kemudian melunasi hutang pengakuan perasaanku padamu. Meski malam terakhir itu aku sungguh ingin bicara empat mata denganmu, namun kebisuanmu meluruhkanku, sampai pada titik aku benar2 percaya kau tak untuk dimasukkan ke hati.

Aku mungkin telah keliru. Sekian lama masih terlalu hijau untuk tahu dan mencari tahu juga tentang bagaimana memperlakukan dan mendapatkan hati perempuan.

Perahu layar akan mengisi relung kalbuku sebagai senandung pengingatku akanmu. Mata indah itu... (Ge er, terserah! Tapi aku sungguh merasa kau melantunkan lagu itu untukku ketika aku berucap di mobil yang mengantar kita ke peraduan awal masing2 bahwa lagu jawa itu adalah lagu kegemaranku.) Dan bukan kali pertama itu kamu memperuntukkan "sesuatu" padaku, meski kau tak mau “dituduh” melakukan hal tsb untukku dan aku pun jaim mengalihkan apa yang sebenarnya kau lakukan untukku adalah untuk orang lain. Aku hanya bisa menyemai sebait senyum akan semua tentangmu ketika tak secara terurut namun ceceran indah itu tersaji dalam anganku.

I said: "I LOVE U". It is true. You said:"LOVE U 2". Is that true? I guess not. I doubt it.

Tapi kamu menyadarkanku akan satu hal, tentang prinsip yang sejak dulu kujunjung. Menjadi orang yang esensialis, menempatkan benar dan salah pada porsinya. Dilakukan jika benar, dihindari jika salah, itu dulu. Kini kau mengubah persepsiku. Menjadi esensialis, meski terlambat untuk menyadari, ternyata tak memberi keuntungan, pada koridor tertentu tentunya. Oleh karenanya, menjadi bijak memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan harus bisa kulakukan. Bukan mengubah secara keseluruhan, just a part of me, to be better.

Ya, kamu mungkin jago mengobrak-abrik hati, namun selayang mataku menangkap bahwa hati seseorang lebih kau selami ketimbang apa yang terlihat diluar, seperti yang kau utarakan tentang tipe idealmu soal perempuan. Kau boleh memungkiri itu dan aku juga mencoba munafik dengan perasaanku. Hubungan yang aneh, memang. Perasaan yang aneh, memang. Flirting!

Thursday, July 8, 2010

PROSTITUSI, INDUSTRI SEKS DAN PERDAGANGAN MANUSIA

Resume Peserta KGS V hari kedelapan

Pekerja Seks, Prostitusi, dan Industri Seks
Akhir-akhir ini semakin banyak istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang bekerja sebagai pekerja seks, baik laki-laki, perempuan, maupun waria. Bagi perempuan dipakai istilah pekerja seks, Perempuan yang dilacurkan (Pedila), Pekerja Seks Komersial (PSK), Wanita Tuna Susila (WTS), Wanita Pekerja Seks (WPS), pelacur, lonte, pe’cun, dan lain sebagainya. Pekerja seks laki-laki sering dinamai gigolo, sedangkan bagi pekerja seks laki-laki dengan klien laki-laki disebut kucing. Banyaknya istilah-istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan identitas kepada mereka, sesuai dengan tuntutan modernitas.

Jika kita menyebut kata pelacur, umumnya yang ada didalam benak kita adalah seorang perempuan yang menjadi pekerja seks. Padahal, banyak pula kita temui pelacur laki-laki ataupun waria. Hal ini disebabkan oleh adanya konstruksi sosial bahwa perempuan hanya berfungsi secara reproduktif, yakni sebagai obyek untuk memuaskan nafsu laki-laki, dan memiliki anak untuk mendapatkan keturunan. Sehingga tubuh perempuan sering dinaturalisasikan hanya sebagai alat untuk melahirkan dan harus punya anak. Sedangkan laki-laki banyak dianggap memiliki fungsi produktif, yakni lebih dominan dan berkuasa dalam suatu lingkungan. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya keputusan keluarga yang ada ditangan Ayah, atau hanya laki-laki yang boleh bekerja, dll.

Kegiatan prostitusi sering dilakukan hanya untuk memperoleh uang, guna memenuhi kebutuhan ekonomi, baik bagi diri sendiri maupun keluaarga dari pelaku. Namun, perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks sering diidentikkan sebagai perempuan yang tidak baik-baik, dan dibanding-bandingkan dengan perempuan lainnya yang baik-baik. Pekerja seks perempuan seringkali dikatakan tidak bermoral atau tuna susila.

Kebanyakan, perempuan menjadi pekerja seks karena adanya paksaan untuk masuk ke dalam prostitusi, meskipun sebenarnya hal ini merupakan pilihan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perempuan pekerja seks yang awalnya dijual atau dipaksa untuk melacur, pada akhirnya akan terjerumus dan berdamai dengan statusnya sebagai pekerja seks.

Selama ini disebagian negara menilai pekerja seks sebagai kriminal. Hal inilah yang menguatkan stigma negatif bagi pekerja seks. Seringkali orang lebih suka memberikan stigma bagi pekerja seks, dan melupakan bagaimana seseorang bisa terjerumus dalam prostitusi. Namun, tidak dapat disangkal pula bahwa dibeberapa negara seperti Swedia dan Switserland justru mengkriminalkan pelanggan pekerja seks. Hal ini secara otomatis akan menyulitkan dan menekan jumlah pekerja seks yang ada.

Pekerja seks tidak dapat dipisahkan dengan adanya industri seks. Secara umum, pekerja seks seolah punya otoritas pada dirinya dan memiliki kemampuan untuk memilih. Tapi dalam prakteknya mereka selalu dan masih terikat dalam aturan institusinya, misalnya Bar, atau lokalisasi. Pekerja seks sering dilakukan dengan adanya kontak secara fisik. Sedangkan industri seks tidak secara langssung terjadi kontak fisik. Sebagai contoh, tarian striprease di Bar, phone sex, industri seks video Ariel, Luna Maya dan Cut Tari.

Perempuan yang hanya dianggap memiliki fungsi reproduksi, seringkali menjadi korban dan obyek pemuas nafsu dari laki-laki. Namun demikian, sebenarnya banyak kita temui bahwa perempuan pekerja seks juga melakukan negoisasi dan tawar-menawar dengan kliennya. Sebagian pekerja seks akan menolak hubungan seksual dengan kliennya jika tidak terjadi kesepakatan, misalnya tentang tarif,waktu, dan pemakaian kondom. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja seks juga memiliki kontrol (agency) atas dirinya.

Human Traficking
Krisis global yang terjadi pada tahun 70-an menyebabkan peningkatan jumlah buruh migran di dunia. Di Indonesia pada 90an juga terjadi ekspansi traficking. Sebagai contoh, tiap keluarga di Kabupaten Probolinggo akan memiliki salah satu anggota keluarga yang menjadi TKW. Mereka beranggapan bahwa menjadi TKW akan meningkatkan derajat ekonomi keluarga mereka.

Selama ini yang menjadi korban traficking bukan hanya perempuan saja, juga laki-laki dan anak-anak. Proses dari tracficking diantaranya adalah rekrutmen, pemindahan dan perjanjian kerja. Hal ini sering dilakukan dengan melakukan penipuan, pemaksaan dan pemanfaat posisi rentan oleh pihak-pihak yang melakukan traficking. Traficking ini sendiri sering bertujuan untuk eksploitasi seksual, eksploitasi tenaga, dan lain-lain.

Salah satu pelaku traficking yang terbesar adalah pemerintah sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah juga memiliki peran yang cukup kuat dalam menentukan nasib buruh migran, melalui perjanjian atau kerjasama bilateral dengan negara-negara tetangga, misalnya Malaysia, Brunai, Singapore, Hongkong, dan Arab Saudi. Sebagai contoh, Susilo Bambang Yudhoyono pernah menolak gagasan ILO bahwa korban traficking merupakan tanggung jawab negara. Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah menggagas pengiriman TKI tanpa adanya unit training. Selain itu, ia juga menyetujui adanya usulan bahwa paspor TKI/TKW bisa dipegang oleh majikan. Hal ini menyebabkan penilaian rendah bagi negara tetangga, karena TKI dianggap tidak memiliki skill. Padahal SBY sendiri menargetkan devisa negara sebanyak 167 Triliun rupiah per tahun dari TKI dan TKW.

Di beberapa negara, TKI / TKW dianggap sebagai budak, sehingga diperlakukan tidak manusiawi dan sewenang-wenang oleh majikannya. Banyak TKI yang tidak diperbolehkan keluar rumah atau tidak boleh menjalin relasi dengan lingkungan atau orang lain.

ILO sebagai lembaga dunia dalam hal tenaga kerja pernah mengusulkan konsep social protection. Konsep ini mewajibkan pemerintah untuk memberikan jaminan kepada masyarakat miskin. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah menerapkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat tidak mampu. Padahal konsep BLT ini tidak efektif, mengingat tidak adanya penyaringan terhadap masyarakat yang menerima, dan jumlag BLT yang diberikan terlalu sedikit.

Diskusi Panel dengan Pekerja Seks Perempuan, Kucing, dan Waria
Pada diskusi ini dihadirkan tiga testimoni yakni: pekerja seks perempuan, kucing, waria. Masing-masing pembicara yakni Siska, Ady dan Santi. Mereka menceritakan tentang kisah-kisah hidupnya selama menjadi pekerja seks. Ady dan Santi terjun ke dunia pekerja seks karena di jual, tetapi Siska yang seorang waria terjun dengan sendirinya dalam arti tidak ada paksaan dari luar. Namun saat ini profesi sebagai pekerja seks sangat enjoy dijalani karena memang sudah terbiasa dan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Ady dan Santi menjadi pekerja seks karena kebutuhan ekonomi sedangkan Siska lebih pada pemenuhan kebutuhan seksual/kebutuhan biologis.

Dalam pekerjaannya, mereka juga bisa negoisasi dengan pelanggan yaitu tentang tarif, waktu dan pemakain kondom. Mereka juga akan menolak jika tidak terjadi kesepakatan. Hal ini juga menandakan bahwa mereka mempunyai kuasa atas dirinya. Dalam dunia malam pasti ada aturan-aturan tertentu misalnya di lokalisasi kembang kuning itu ada yang dibilang maknya jadi dia yang membuat peraturan misalnya memakai kondom dan pelicin, tidak boleh gratisan.

Film Ragate Anak
Bahwa pekerja seks itu lebih karena persoalan kemiskinan karena tidak ada akses pemenuhan ekonomi. Perempuan menjadi pemecah batu dan penghasilannya juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehingga mereka melacur. Di dalam lokalisasi ada kiwir yang tidak bekerja hanya mengandalkan dari pekerja tetapi kiwir lebih berkuasa di tempat itu, sehingga dia membuat aturan-aturan misalnya kalau tidak membayar iuran maka akan dikeluarkan dari lokalisasi dan tidak boleh mangkal lagi. Dan misal kalau pekerja ada yang sakit mereka tidak mau mengurus. Disinilah ada relasi kekuasaan yang timpang.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-kedelapan-prostitusi-industri-seks-dan-perdagangan-man/461374810680

Wednesday, July 7, 2010

Gender, Seksualitas dan Agama

Resume Peserta KGS V hari ketujuh

Membongkar yang tabu,
Menelorkan hukum yang baru
Untuk generesi Indonesia yang tidak hanya satu

Pengantar
Untuk memasukkan issu seksualitas dan gender ke dalam lingkup agama, kita harus kembali ke pangkal lahirnya sebuah hukum (asal muasal lahirnya hukum). Dalam konteks hukum Islam –fiqh, selama ini diyakini oleh “sebagian masyarakat” sebagai sesuatu hukum berasal dari Tuhan –bersifat mutlak dan tidak bisa diutak atik. Akan tetapi, jika kita runut kebelakang, sesungguhnya hukum Islam tersebut adalah hasil interpretasi ulama terhadap ayat Alquran dan Hadist rasul. Fiqh klasik yang dijadikan pedoman hukum oleh para ulama tersebut didasarkan pada realitas hidup masyarakat saat dimana Imam Syafii hidup dan menulis kitab fiqh tersebut.

Dalam konteks ini, kita harus merunut bahwa; Dalam kehidupan beragama –khususnya Islam, diyakini adanya Tuhan. Kemudian Tuhan itu mengutus rasulnya untuk menyampaikan ayat ayatnya kepada manusia. Namun rasul pun memiliki keterbatasan tidak bisa menjadi perantara sampai akhir zaman, maka disitulah peran ulama. Dalam proses inilah ulama berperan untuk menafsirkan ayat allah dan hadist rasul dengan bahasa yang bisa dipahami dan dimengerti oleh umatnya.

Proses penafisiran yang dilakukan oleh ulama itu dimanifestasikan dalam “teks” yaitu kitab tafsir dan fiqih. Dalam hal ini ulama/mufassir/fuqaha adalah sebagai pengarang/author. Dalam teori Recour tentang author bahwa hasil tafsiran nya itu/teks yang ditulis oleh pengarang tidak serta merta ada begitu saja. Teks yang ditulis itu dipengaruhi oleh diskors-diskors yang ada disekelilingnnya –mulai dari latar belakang pendidikan pengarang, budaya, agama, keluarga bahkan ekonomi dan politik serta kekuasaan yang ada di tempat pengarag hidup saat itu.

Hal di atas tersebutlah yang menyebabkan kenapa terjadi perbedaan pendapat dan lahir banyak aliran dalam pemikoiran islam baik dalam hal aqidah maupun fikih. Missal; dalam akidah islam ada aliran ahlussunanah dan muktazilah. sesungguhnya Itu adalah penggolongan secara politik. Begitu juga dalam perberdaan empat mazhab yang terkenal dalam fiqih, ada imam Syafii, Hambali dan Hanafi serta Maliki. Keempat aliran itu terjadi peredaan pedapat karena berbeda latar belakang mereka. Dalam sejarah dikatakan bahwa Syafii adalah berasal dari desa yang kolot dan Hambali adalah dari kota yang cukup metropolitan. Beda hukum yang dihasilnya misalnya perbedaan diantara mereka missal tentang penafsiran tentang hal yang membatalkan wudhu’. Hukum tentang hal yang membatalkan wudhu. Diambil dari ayat “lamas” dalam alquran. Bagi Syafii “Lamas “ berarti bersetuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Sehingga hukum yang dilahirkan adalah bahwa yang membatalkan wiuduk adalah bersentuhan kulit antara laki laki dan perempuan yang bukan muhrim. Akan tetapi bagi Hambali, “lamas” berarti bersetubuh. Maka hukum yang dihasilkan adala yang membatalkan wuduk bagi Hambali adalah ketika perempuan dan laki laki dan perempuan bersetubuh.
Hal itu membuktikan bahwa hasil hokum itu relatif. Ia lahir dalam ruang dan waktu yang berbeda dan bisa berubah sesuai perubahan ruang dan waktu itu sendiri.

Agama dan seksualitas dalam tradisi islam
Terkait pada kontroversi terhadap hukum homoseksualitas adalah karena adanya penafsiran agama terhadap haramnya homoseksualitas yang dirujuk pada kisah nabi Luth. Dasar ayat yang digunakan dalam hukum ini adalah surat Assyuara, al Ankabut dan Hud.
Para ulama mendasarkan hukum haramnya homoseksual adalah surat Assyuara ayat 166 “ingatlah pada kaum Luth, sesungguhnya kamu melakukan perbuatan nista yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Kamu mendatangi laki laki dengan syahwat, maka sesungguhnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”
Ayat tersebut menjadi landasan hukum bahwa haram homoseksual, karena ulama menafsirkan bahwa umat nabi Luth dihukum dengan bencana alam yang dahsyat karena prilaku homoseksual.

Salah seorang feminis muslim mencoba membongkar kekakukan hukum ini dengan menggunakan penafsiran dengan menggunakan metode tafsir tematik, yaitu penafisran ayat dengan ayat. Dimana ayat ayat yang merujuk pada satu tema – dalam hal ini adalah tema homoseksualitas dikumpulkan, kemudian satu ayat ditafsirkan dengan ayat yang lain.

Maka hasil dari penafsiran yang baru untuk fenomena homoseksual ini adalah bahwa sesungguhnya ditemukan fakta-fakta lain yang mengatakan bahwa sesungguhnya umat nabi Luth merupakan kaum paling dilaknat Allah karena memiliki prilaku:
1. mendustakan rasul
2. Tidak bertaqwa,
3. mendatangi laki laki
4. meninggalkan keluarga mereka
5. mengusir anggota masyarakat
6. penyamun
7. pesta bejat
8. mempermalukan otang
9. upaya pemerkosaan.

Jadi menurut Siti Musdah Muliah, bahwa tafsiran dari ayat tentang kisah kaum luth adalah karena mereka memiliki sifat diatas. Tidak ada satu ayat pun yang menemukan bahwa kaum Luth dihancurkan adalah karena prilaku homoseksual.

Begitu juga persoalan lesbian. Para ulama merujuk hukum haram terhadap lesbian adalah bahwa ayat al Al-A’raf ayat 83 “dan kami selamatkan Luth dan keluarganya, kecuali istrinya, sesungguhnya isrinya adalah termasuk orang orang yang tertinggal.”
Bagi para ulama ditafsirkan bahwa arti “tertinggal” adalah termasuk kaum homo. Padahal tidak ada indikator yang menyatakan itu adalah lesbian (suka sesame jenis) akan tetapi itu adalah bermakna tua. Dalam kata lain bahwa istri nabi Luth bagian dari orang yang tertinggal, bukan berarti mereka lesbi atau pelaku homoseksual, tapi karena ia tua renta.

Pencarian hukum baru yang rahmatan lil alamin:
Motede tafsir yang digunakan untuk menghasilkan hukum yang mampu menjawab persoalan umat adalah menggunakan Qiyas/ analogi /logika formal miliknya Aristetoles.
Dalam konteks ini digunakan metode pencarian hukum melalui penyususnan antara premis mayor, premis minor dan konklusi.

Missal:
Premis mayor : semua pasti akan mati
Premis minor ; Aristoteles adalah manusia
Konklusion : aristoteles akan mati

begitu halnya ketika mufasir menyamakan qiyas homoseksual dengan logika formal imam syafi’i
Missal :
Premis mayor : hubungan sejenis dilaknat
Premis minor: lesbian adalah hubungan sejenis
Maka konklusinya :lesbian dilaknat.
Namun dalam logika formal ini kita harus hati-hati, ketika premis mayor salah, maka konklusi pun akan salah.

Penutup
Sebagai penutup dari resume ini, maka saya ingin mengakiri tulisan ini dengan hasil perenungan saya sendiri; rasionalitas dari sebuah hukum “haram” adalah agar manusia tidak terjebak pada resiko yang tidak diinginkan. Misalnya dalil haram berbuat zina “la taqrabu zina”. Interpretasi saya terhadap ayat tersebut adalah dampak dari zina itu : diantaranya kehamilan tidak diinginkan, aborsi, penyakit menular dan lain sebagainya. Maka untuk menjaga umat manusia dari resiko yang tidak diinginkan tersebut, maka keluarlah dalil haram berzina. Bagi saya sendiri, sampai saat ini saya tidak melakukan ML adalah bukan karena alasan “dosa” akan tetapi lebih pada rasionlaitas saya untuk mengantisipasi dari resiko ML itu sendiri; jika nanti saya hamil, lalu bagaimana jika saya belum siap secara ekonomi ataupun psikologi –apakah saya aborsi? lalu bagaimana dengan aborsi dst. Maka begitu pula dengan persoalan homoseksualitas. Sesuatu yang haram itu bukan prilaku homoseksual itu sendiri akan tetapi resiko dan dampak dari prilaku itu. Artinya;ketika kita berbicara homoseksualitas, yang perlu diwaspadai adalah bukan prilaku seks antara lelaki dengan lelaki attau perempuan dengan perempuan, akan tetapi dampak dan resiko dari hubungan tersebut, apakah itu penyakit menular dan lain sebagaianya.

SESI DISKUSI SETELAH MAKAN SIANG ,
Peserta di bagi menjadi lima kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas untuk membahas 2 tema yaitu :
1. Perbedaan di setiap agama tentang fenomena LGBT ?
2. Masih perlukah manusia beragama?

Rangkuman Hasil diskusi kelompok
PERBEDAAN DI SETIAP AGAMA TENTANG FENOMENA LGBT ?
Pada umumnya agama seperti Kristen, Hindu, bahkan agama Islam tidak menyebutkan secara eksplisit di dalam kitab tentang LGBT. Justru agama yang berasal dari local yang cukup banyak menyebutkan bahkan mengakui keberadaan seroang Waria dengan nama sarasiwe-saramone (Bima,Donggo), calabai-calalai (Sulawesi selatan), bisssu (Bugis), Wadam (jawa) dan agama hindu yang lebih moderat dalam menerima keberadaan LGBT.

Sekalipun agama dan kondisi menyembunyikan keberadaan tentang LGBT namun kreatifitas manusia memang tak terbatas, sehingga tanpa sadar seksualitas manusia digambarkan dalam bentuk seni patung, bahkan di yunani kuno digambarkan melalui piramida dan sangat diagungkan. Dalam kisah Hubungan homoseksualitas ketika masa perang salib laki-laki berperang berhari-hari, dan sebagai manusia yang pada konteks makhluk hidup sebagai manusia seksual maka sudah pasti kebutuhan seksual sangat penting, pada saat itu hanya ada laki-laki untuk diajak sebagai lawan untuk melakukan hubungan seksualnya maka hubungan sejenis antara laki-laki pun terjadi saat itu.

Kisah onani dan sodomi menjadi salah satu topic yang selalu dikaitkan ketika berbicara tentang LGBT. Seperti onani yang selalu dikatakan perbuatan laknat yang harus dihindari, padahal onani sendiri adalah nama orang yang bernama onan, lalu onan memang suka melakukan masturbasi, kemudian pada suatu ketika onan dihukum mati, namun bukan karena dia melakukan masturbasi melainkan karena ia melakukan hubungan sex dengan istri adiknya. Akan tetapi penafsiran orang yang begitu sempit menyimpulkan bahwa onan dihukum karena ia sering melakukan masturbasi, sehingga orang yang sering masturbasi/onani dianggap laknat. Dari kisah tersebut maka terciptalah kata-kata onani. Sama halnya dengan sodomi kata sodomi muncul setelah terjadinya bencana dikota Sodom yang “dianggap” mayoritas orang sebagai kota yang penduduknya melakukan sodomi sehingga mendapat laknat dari tuhan.

Penafsiran-penafsiran yang diskriminatif tentang bebrapa kisah homoseksualitas terjadi karna pada zaman dulu para penafsir belum mampu membedakan antara orientasi seksual dengan prilaku seksual, sehingga pemahaman tentang seksualitas menjadi bercampur dan dipahami orang sebagai sebuah kebenaran yang turun temurun sampai menjadi doktrin.

Sementara dalam kisah mahabarata cerita srikandi yang selama ini diketahui masyarakat kita sebagai seorang perempuan ternyata sebenarnya adalah laki-laki, namun karena dia memiliki sifat yang sangat feminine dan mempunyai kemampuan seperti laki-laki yang mampu berperang. Fakta-fakta yang disembunyikan mengenai keberagaman seksualitas membuktikan bahwa tidak pernah ada identitas yang sama dalam dunia ini, karena dengan adanya perbedaan tersebut semua tercipta untuk saling melengkapi dan menghormati.

APAKAH MANUSIA MASIH PERLU BERAGAMA ?
Dalam diskusi mayoritas peserta masih merasa Agama perlu karena beberapa sebab yakni :
1. Agama merupakan relasi antara manusia dengan Tuhannya
2. Agama dan Tuhan menjadi acuan pedoman hidup
3. Manusia memiliki keterbatasan sehingga butuh tempat bersandar (Agama dan Tuhan)
4. Agama memiliki nilai-nilai dan norma yang dianggap baik
Namun dikelompok 5 mereka mengatakan bahwa agama menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan lagi, karena adanya agama justru terbentuklah sebuah dikotomi antara manusia dengan manusia lainya, misalnya karena beda agama. Selain itu kuatnya hegemoni atas idiologi yang ditancapkan kepada setiap invidu untuk mengatur kehidupan manusia bahkan sampai kepada wilayah yang privat sekalipun. Sehingga menimbulkan polemic ketika seseorang terlahir sebagai individu yang “berbeda” dengan mayoritas (hetero) karena memiliki orientasi seksual sebagai gay atau lesbian dan mencul pertentangan atas diri sendiri karena apa yang dialami dianggap sebagai sebuah dosa sekalipun bersifat alamiah.

Dalam proses diskusi terjadi perdebatan dan adu argumentasi tentang perlu atau tidak perlu memeluk sebuah agama. Namun pada akhirnya toh selalu ada benang merah yang bisa ditarik dan bisa dikatakan konklusi sementara bahwa :
jika memang agama dan Tuhan membuat manusia itu menjadi baik dan nayaman maka jalanilah dengan penuh keyakinan dan sepenuh hati tapi sebaliknya jika agama hanya membuat peprangan dan merusak manusia maka bunuhlah agama dan Tuhanmu agar kedamaian dan kenyamanan kau rasakan sepenuhnya.

DISKUSI FILM DOCUMENTER TENTANG SUNAT PEREMPUAN
Fakta budaya :
1. jika khitan perempuan tidak dilakukan maka akan dikucilkan
2. khitan adalah control dari daerah privat domestic perempuan
fakta agama islam yang menganut imam syafi’I :
1. khitan supaya sah masuk islam dan hukumnya wajib, karna ada 4 unsur yang menyebabkan perempuan harus khitan :
- sexnya tidak “karuan”
- banyak selingkuh/ nyeleweng
- jika tidak khitan “anunya” (ngesex) tidak mantap
- suka terbawa arus, tidak bisa mengontrol diri
2. Khitan untuk mnestabilkan syahwat perempuan
3. Menyamakan antara perempuan dan laki-laki
4. Dlaam hadist nabi ada dalil tentang khitan perempuan
Fakta-fakta tersebut diatas yang digambarkan dengan jelas dalam film documenter menjelaskan bahwa khitan perempuan dipengaruhi oleh 2 unsur yakni Tradisi dan Ideologi, jelas ideology yang dipakai adalah patriarki. Tradisi menjadi alasan (reasoning) untuk melakukan khitan perempuan dengan mengatasnamakan nilai-nilai yang ada pada tradisi seperti gotong royong dan pertemuan antar keluarga seolah-olah mecarii pemebenaran atas praktek khitan perempuan. Padahal kalau kita berpikir lebih logis apakah nilai-nilai yang tersebut tidak bisa kita dapatkan dengan cara lain, misalnya seperti arisan keluarga mungkin atau cara lainnya. Artinya khitan perempuan tidak menjadi alasan utama bahwa nilai-nilai itu harus dijalankan dan menjadi keharusan karena merupakan tradisi turun temurun.
Sedangkan idologi patriarki juga memegang peran penting dimana terlihat jelas bahwa alasan-alasan yang melatarbelakangi khitan perempuan sesungguhnya adalah pembatasan atas seksualitas perempuan dengan cara mendoktrin, sehingga laki-laki tetap bisa mengontorl perempuan dan tubuhnya seolah olah atas keinginan perempuan itu sendiri yang menginginkan. Karena dalam praktik khitan perempuan pun yang melakukan adalah perempuan, itu sebabnya bidan, dukun bayi, perawat, kebanyakan perempuan. Sehingga laki-laki sebagai pemegang policay tetap mendominasi atas seksualitas perempuan.

Apabila sampai saat ini masih kita temui fenomena khitan perempuan itu karena ideology patriarki sangat luar biasa mengendap dalam masyarakat yang hidup dalam hegemoni heteronormativitas. Sehingga jelas bahwa ada kepentingan dalam ideology patriarki yaitu, pertama untuk mengatur seksualitas perempuan dan kedua untuk kepentingan kepuasan (kenikmatan sexual) laki-laki . Jika kita ingin menciptakan sesuatu itu berdasarkan kesetaraan maka kita harus keluar bahkan menghapus dominasi patriarki untuk menghilangkan trauma-trauma yang menyakitkan karena perlakuan yang sepihak.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-ketujuh-gender-seksualitas-dan-agama/461170385680

Gender, Seksualitas dan Agama

Resume Peserta KGS V hari ketujuh

Membongkar yang tabu,
Menelorkan hukum yang baru
Untuk generesi Indonesia yang tidak hanya satu

Pengantar
Untuk memasukkan issu seksualitas dan gender ke dalam lingkup agama, kita harus kembali ke pangkal lahirnya sebuah hukum (asal muasal lahirnya hukum). Dalam konteks hukum Islam –fiqh, selama ini diyakini oleh “sebagian masyarakat” sebagai sesuatu hukum berasal dari Tuhan –bersifat mutlak dan tidak bisa diutak atik. Akan tetapi, jika kita runut kebelakang, sesungguhnya hukum Islam tersebut adalah hasil interpretasi ulama terhadap ayat Alquran dan Hadist rasul. Fiqh klasik yang dijadikan pedoman hukum oleh para ulama tersebut didasarkan pada realitas hidup masyarakat saat dimana Imam Syafii hidup dan menulis kitab fiqh tersebut.

Dalam konteks ini, kita harus merunut bahwa; Dalam kehidupan beragama –khususnya Islam, diyakini adanya Tuhan. Kemudian Tuhan itu mengutus rasulnya untuk menyampaikan ayat ayatnya kepada manusia. Namun rasul pun memiliki keterbatasan tidak bisa menjadi perantara sampai akhir zaman, maka disitulah peran ulama. Dalam proses inilah ulama berperan untuk menafsirkan ayat allah dan hadist rasul dengan bahasa yang bisa dipahami dan dimengerti oleh umatnya.

Proses penafisiran yang dilakukan oleh ulama itu dimanifestasikan dalam “teks” yaitu kitab tafsir dan fiqih. Dalam hal ini ulama/mufassir/fuqaha adalah sebagai pengarang/author. Dalam teori Recour tentang author bahwa hasil tafsiran nya itu/teks yang ditulis oleh pengarang tidak serta merta ada begitu saja. Teks yang ditulis itu dipengaruhi oleh diskors-diskors yang ada disekelilingnnya –mulai dari latar belakang pendidikan pengarang, budaya, agama, keluarga bahkan ekonomi dan politik serta kekuasaan yang ada di tempat pengarag hidup saat itu.

Hal di atas tersebutlah yang menyebabkan kenapa terjadi perbedaan pendapat dan lahir banyak aliran dalam pemikoiran islam baik dalam hal aqidah maupun fikih. Missal; dalam akidah islam ada aliran ahlussunanah dan muktazilah. sesungguhnya Itu adalah penggolongan secara politik. Begitu juga dalam perberdaan empat mazhab yang terkenal dalam fiqih, ada imam Syafii, Hambali dan Hanafi serta Maliki. Keempat aliran itu terjadi peredaan pedapat karena berbeda latar belakang mereka. Dalam sejarah dikatakan bahwa Syafii adalah berasal dari desa yang kolot dan Hambali adalah dari kota yang cukup metropolitan. Beda hukum yang dihasilnya misalnya perbedaan diantara mereka missal tentang penafsiran tentang hal yang membatalkan wudhu’. Hukum tentang hal yang membatalkan wudhu. Diambil dari ayat “lamas” dalam alquran. Bagi Syafii “Lamas “ berarti bersetuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Sehingga hukum yang dilahirkan adalah bahwa yang membatalkan wiuduk adalah bersentuhan kulit antara laki laki dan perempuan yang bukan muhrim. Akan tetapi bagi Hambali, “lamas” berarti bersetubuh. Maka hukum yang dihasilkan adala yang membatalkan wuduk bagi Hambali adalah ketika perempuan dan laki laki dan perempuan bersetubuh.
Hal itu membuktikan bahwa hasil hokum itu relatif. Ia lahir dalam ruang dan waktu yang berbeda dan bisa berubah sesuai perubahan ruang dan waktu itu sendiri.

Agama dan seksualitas dalam tradisi islam
Terkait pada kontroversi terhadap hukum homoseksualitas adalah karena adanya penafsiran agama terhadap haramnya homoseksualitas yang dirujuk pada kisah nabi Luth. Dasar ayat yang digunakan dalam hukum ini adalah surat Assyuara, al Ankabut dan Hud.
Para ulama mendasarkan hukum haramnya homoseksual adalah surat Assyuara ayat 166 “ingatlah pada kaum Luth, sesungguhnya kamu melakukan perbuatan nista yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Kamu mendatangi laki laki dengan syahwat, maka sesungguhnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”
Ayat tersebut menjadi landasan hukum bahwa haram homoseksual, karena ulama menafsirkan bahwa umat nabi Luth dihukum dengan bencana alam yang dahsyat karena prilaku homoseksual.

Salah seorang feminis muslim mencoba membongkar kekakukan hukum ini dengan menggunakan penafsiran dengan menggunakan metode tafsir tematik, yaitu penafisran ayat dengan ayat. Dimana ayat ayat yang merujuk pada satu tema – dalam hal ini adalah tema homoseksualitas dikumpulkan, kemudian satu ayat ditafsirkan dengan ayat yang lain.

Maka hasil dari penafsiran yang baru untuk fenomena homoseksual ini adalah bahwa sesungguhnya ditemukan fakta-fakta lain yang mengatakan bahwa sesungguhnya umat nabi Luth merupakan kaum paling dilaknat Allah karena memiliki prilaku:
1. mendustakan rasul
2. Tidak bertaqwa,
3. mendatangi laki laki
4. meninggalkan keluarga mereka
5. mengusir anggota masyarakat
6. penyamun
7. pesta bejat
8. mempermalukan otang
9. upaya pemerkosaan.

Jadi menurut Siti Musdah Muliah, bahwa tafsiran dari ayat tentang kisah kaum luth adalah karena mereka memiliki sifat diatas. Tidak ada satu ayat pun yang menemukan bahwa kaum Luth dihancurkan adalah karena prilaku homoseksual.

Begitu juga persoalan lesbian. Para ulama merujuk hukum haram terhadap lesbian adalah bahwa ayat al Al-A’raf ayat 83 “dan kami selamatkan Luth dan keluarganya, kecuali istrinya, sesungguhnya isrinya adalah termasuk orang orang yang tertinggal.”
Bagi para ulama ditafsirkan bahwa arti “tertinggal” adalah termasuk kaum homo. Padahal tidak ada indikator yang menyatakan itu adalah lesbian (suka sesame jenis) akan tetapi itu adalah bermakna tua. Dalam kata lain bahwa istri nabi Luth bagian dari orang yang tertinggal, bukan berarti mereka lesbi atau pelaku homoseksual, tapi karena ia tua renta.

Pencarian hukum baru yang rahmatan lil alamin:
Motede tafsir yang digunakan untuk menghasilkan hukum yang mampu menjawab persoalan umat adalah menggunakan Qiyas/ analogi /logika formal miliknya Aristetoles.
Dalam konteks ini digunakan metode pencarian hukum melalui penyususnan antara premis mayor, premis minor dan konklusi.

Missal:
Premis mayor : semua pasti akan mati
Premis minor ; Aristoteles adalah manusia
Konklusion : aristoteles akan mati

begitu halnya ketika mufasir menyamakan qiyas homoseksual dengan logika formal imam syafi’i
Missal :
Premis mayor : hubungan sejenis dilaknat
Premis minor: lesbian adalah hubungan sejenis
Maka konklusinya :lesbian dilaknat.
Namun dalam logika formal ini kita harus hati-hati, ketika premis mayor salah, maka konklusi pun akan salah.

Penutup
Sebagai penutup dari resume ini, maka saya ingin mengakiri tulisan ini dengan hasil perenungan saya sendiri; rasionalitas dari sebuah hukum “haram” adalah agar manusia tidak terjebak pada resiko yang tidak diinginkan. Misalnya dalil haram berbuat zina “la taqrabu zina”. Interpretasi saya terhadap ayat tersebut adalah dampak dari zina itu : diantaranya kehamilan tidak diinginkan, aborsi, penyakit menular dan lain sebagainya. Maka untuk menjaga umat manusia dari resiko yang tidak diinginkan tersebut, maka keluarlah dalil haram berzina. Bagi saya sendiri, sampai saat ini saya tidak melakukan ML adalah bukan karena alasan “dosa” akan tetapi lebih pada rasionlaitas saya untuk mengantisipasi dari resiko ML itu sendiri; jika nanti saya hamil, lalu bagaimana jika saya belum siap secara ekonomi ataupun psikologi –apakah saya aborsi? lalu bagaimana dengan aborsi dst. Maka begitu pula dengan persoalan homoseksualitas. Sesuatu yang haram itu bukan prilaku homoseksual itu sendiri akan tetapi resiko dan dampak dari prilaku itu. Artinya;ketika kita berbicara homoseksualitas, yang perlu diwaspadai adalah bukan prilaku seks antara lelaki dengan lelaki attau perempuan dengan perempuan, akan tetapi dampak dan resiko dari hubungan tersebut, apakah itu penyakit menular dan lain sebagaianya.

SESI DISKUSI SETELAH MAKAN SIANG ,
Peserta di bagi menjadi lima kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas untuk membahas 2 tema yaitu :
1. Perbedaan di setiap agama tentang fenomena LGBT ?
2. Masih perlukah manusia beragama?

Rangkuman Hasil diskusi kelompok
PERBEDAAN DI SETIAP AGAMA TENTANG FENOMENA LGBT ?
Pada umumnya agama seperti Kristen, Hindu, bahkan agama Islam tidak menyebutkan secara eksplisit di dalam kitab tentang LGBT. Justru agama yang berasal dari local yang cukup banyak menyebutkan bahkan mengakui keberadaan seroang Waria dengan nama sarasiwe-saramone (Bima,Donggo), calabai-calalai (Sulawesi selatan), bisssu (Bugis), Wadam (jawa) dan agama hindu yang lebih moderat dalam menerima keberadaan LGBT.

Sekalipun agama dan kondisi menyembunyikan keberadaan tentang LGBT namun kreatifitas manusia memang tak terbatas, sehingga tanpa sadar seksualitas manusia digambarkan dalam bentuk seni patung, bahkan di yunani kuno digambarkan melalui piramida dan sangat diagungkan. Dalam kisah Hubungan homoseksualitas ketika masa perang salib laki-laki berperang berhari-hari, dan sebagai manusia yang pada konteks makhluk hidup sebagai manusia seksual maka sudah pasti kebutuhan seksual sangat penting, pada saat itu hanya ada laki-laki untuk diajak sebagai lawan untuk melakukan hubungan seksualnya maka hubungan sejenis antara laki-laki pun terjadi saat itu.

Kisah onani dan sodomi menjadi salah satu topic yang selalu dikaitkan ketika berbicara tentang LGBT. Seperti onani yang selalu dikatakan perbuatan laknat yang harus dihindari, padahal onani sendiri adalah nama orang yang bernama onan, lalu onan memang suka melakukan masturbasi, kemudian pada suatu ketika onan dihukum mati, namun bukan karena dia melakukan masturbasi melainkan karena ia melakukan hubungan sex dengan istri adiknya. Akan tetapi penafsiran orang yang begitu sempit menyimpulkan bahwa onan dihukum karena ia sering melakukan masturbasi, sehingga orang yang sering masturbasi/onani dianggap laknat. Dari kisah tersebut maka terciptalah kata-kata onani. Sama halnya dengan sodomi kata sodomi muncul setelah terjadinya bencana dikota Sodom yang “dianggap” mayoritas orang sebagai kota yang penduduknya melakukan sodomi sehingga mendapat laknat dari tuhan.

Penafsiran-penafsiran yang diskriminatif tentang bebrapa kisah homoseksualitas terjadi karna pada zaman dulu para penafsir belum mampu membedakan antara orientasi seksual dengan prilaku seksual, sehingga pemahaman tentang seksualitas menjadi bercampur dan dipahami orang sebagai sebuah kebenaran yang turun temurun sampai menjadi doktrin.

Sementara dalam kisah mahabarata cerita srikandi yang selama ini diketahui masyarakat kita sebagai seorang perempuan ternyata sebenarnya adalah laki-laki, namun karena dia memiliki sifat yang sangat feminine dan mempunyai kemampuan seperti laki-laki yang mampu berperang. Fakta-fakta yang disembunyikan mengenai keberagaman seksualitas membuktikan bahwa tidak pernah ada identitas yang sama dalam dunia ini, karena dengan adanya perbedaan tersebut semua tercipta untuk saling melengkapi dan menghormati.

APAKAH MANUSIA MASIH PERLU BERAGAMA ?
Dalam diskusi mayoritas peserta masih merasa Agama perlu karena beberapa sebab yakni :
1. Agama merupakan relasi antara manusia dengan Tuhannya
2. Agama dan Tuhan menjadi acuan pedoman hidup
3. Manusia memiliki keterbatasan sehingga butuh tempat bersandar (Agama dan Tuhan)
4. Agama memiliki nilai-nilai dan norma yang dianggap baik
Namun dikelompok 5 mereka mengatakan bahwa agama menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan lagi, karena adanya agama justru terbentuklah sebuah dikotomi antara manusia dengan manusia lainya, misalnya karena beda agama. Selain itu kuatnya hegemoni atas idiologi yang ditancapkan kepada setiap invidu untuk mengatur kehidupan manusia bahkan sampai kepada wilayah yang privat sekalipun. Sehingga menimbulkan polemic ketika seseorang terlahir sebagai individu yang “berbeda” dengan mayoritas (hetero) karena memiliki orientasi seksual sebagai gay atau lesbian dan mencul pertentangan atas diri sendiri karena apa yang dialami dianggap sebagai sebuah dosa sekalipun bersifat alamiah.

Dalam proses diskusi terjadi perdebatan dan adu argumentasi tentang perlu atau tidak perlu memeluk sebuah agama. Namun pada akhirnya toh selalu ada benang merah yang bisa ditarik dan bisa dikatakan konklusi sementara bahwa :
jika memang agama dan Tuhan membuat manusia itu menjadi baik dan nayaman maka jalanilah dengan penuh keyakinan dan sepenuh hati tapi sebaliknya jika agama hanya membuat peprangan dan merusak manusia maka bunuhlah agama dan Tuhanmu agar kedamaian dan kenyamanan kau rasakan sepenuhnya.

DISKUSI FILM DOCUMENTER TENTANG SUNAT PEREMPUAN
Fakta budaya :
1. jika khitan perempuan tidak dilakukan maka akan dikucilkan
2. khitan adalah control dari daerah privat domestic perempuan
fakta agama islam yang menganut imam syafi’I :
1. khitan supaya sah masuk islam dan hukumnya wajib, karna ada 4 unsur yang menyebabkan perempuan harus khitan :
- sexnya tidak “karuan”
- banyak selingkuh/ nyeleweng
- jika tidak khitan “anunya” (ngesex) tidak mantap
- suka terbawa arus, tidak bisa mengontrol diri
2. Khitan untuk mnestabilkan syahwat perempuan
3. Menyamakan antara perempuan dan laki-laki
4. Dlaam hadist nabi ada dalil tentang khitan perempuan
Fakta-fakta tersebut diatas yang digambarkan dengan jelas dalam film documenter menjelaskan bahwa khitan perempuan dipengaruhi oleh 2 unsur yakni Tradisi dan Ideologi, jelas ideology yang dipakai adalah patriarki. Tradisi menjadi alasan (reasoning) untuk melakukan khitan perempuan dengan mengatasnamakan nilai-nilai yang ada pada tradisi seperti gotong royong dan pertemuan antar keluarga seolah-olah mecarii pemebenaran atas praktek khitan perempuan. Padahal kalau kita berpikir lebih logis apakah nilai-nilai yang tersebut tidak bisa kita dapatkan dengan cara lain, misalnya seperti arisan keluarga mungkin atau cara lainnya. Artinya khitan perempuan tidak menjadi alasan utama bahwa nilai-nilai itu harus dijalankan dan menjadi keharusan karena merupakan tradisi turun temurun.
Sedangkan idologi patriarki juga memegang peran penting dimana terlihat jelas bahwa alasan-alasan yang melatarbelakangi khitan perempuan sesungguhnya adalah pembatasan atas seksualitas perempuan dengan cara mendoktrin, sehingga laki-laki tetap bisa mengontorl perempuan dan tubuhnya seolah olah atas keinginan perempuan itu sendiri yang menginginkan. Karena dalam praktik khitan perempuan pun yang melakukan adalah perempuan, itu sebabnya bidan, dukun bayi, perawat, kebanyakan perempuan. Sehingga laki-laki sebagai pemegang policay tetap mendominasi atas seksualitas perempuan.

Apabila sampai saat ini masih kita temui fenomena khitan perempuan itu karena ideology patriarki sangat luar biasa mengendap dalam masyarakat yang hidup dalam hegemoni heteronormativitas. Sehingga jelas bahwa ada kepentingan dalam ideology patriarki yaitu, pertama untuk mengatur seksualitas perempuan dan kedua untuk kepentingan kepuasan (kenikmatan sexual) laki-laki . Jika kita ingin menciptakan sesuatu itu berdasarkan kesetaraan maka kita harus keluar bahkan menghapus dominasi patriarki untuk menghilangkan trauma-trauma yang menyakitkan karena perlakuan yang sepihak.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-ketujuh-gender-seksualitas-dan-agama/461170385680