
Rasa ini bertumbuh sedemikian cepat selayak amoeba membelah diri. Sepersekian menit dari helai tangan yang saling berpadu, mataku seperti tak bisa dibuat lepas darinya. Kesan awal adalah ia serupa dengan orang yang pernah kukenal. Dalam hati ngikik abis, bagaimana bisa serupa? Kesan awalnya padaku, yang kutangkap ia agak nggrundel karena aku menertawakan kekonyolan yang ia lakukan.
Hari berikutnya kami bertemu. Sebuah tong sampah dan sehelai serbet usang. Aku mengetahui aktivitasnya. Ia pandai berlakon. Dan aku, sungguh tak biasanya aku ikut-ikutan dalam soal beginian. Tahun lalu ogah bener, padahal sebenarnya, kami harusnya dipertemukan tahun lalu. Entah rencana apa tahun ini kami bersua.
Waktu merambat cepat. Dilema. Logika dan perasaan kembali beradu. Maju atau mundur. Beberapa suara mendukung maju, meski logikaku selalu berkata untuk tak main api. Menurut kata hati, akhirnya yang kupilih. Pilihan yang kugenapi dengan segala resikonya.
Dan terima kasih... Aku meyakini rasa ini beda, pun endingnya. Sejenak gemuruh menumpuk di dada, namun senyumku kini tercerah, kembali ketika bukan orang yang tepat, rasa itu kupersilahkan pergi...
You're not the correct one, I know..
Time will wasted, I realize...
This heart beating still singing your name, I admit...
But logic mind never defeated by this accidentally love
So, every good -even deep- feeling gotta come to an end...
Aku banyak belajar tentang satu lagi karakter perempuan. Tak akan menyalahkan, faktor umur menjadi pemaklumanku. Pun pembelajaran kapan harus membuka atau menutup diri. Sekaligus menjadi penutup tahun ini...
Rasa ini, beda. Meski tak genap tiga minggu bersama, menghilangkan kelebat lincahnya bagiku butuh lebih dari sekedar transisi.
No comments:
Post a Comment