

Mentari hampir tepat berada diatas kepala ketika tim kami tiba di balai desa Tanjung Sari, setelah kurang lebih sejam memanggang pantat diatas jok motor hingga rasanya tulang kaku, muka menebal dan bulu-bulu tanganku seperti mempunyai efek-efek listrik, nyetrum-nyetrum nggak jelas gitu. Jalanan yang kami lewati menanjak-menurun dan penuh liku. Pemandangan di kanan kiri jalan masih hijau. Di beberapa tempat terlihat pemandangan bagus, sayang aku tak bisa berhenti untuk mengabadikannya. Ternyata di balai desa sedang berlangsung acara pak camat memberi penyuluhan pada para dukuh.
Oh ya, aku lupa bercerita baru-baru ini aku bergabung dengan LSM yang mengurusi PRT.namanya Rumpun Tjoet Njak Dien sebagai volunteer divisi advokasi. Lebih jelasnya ada blog LSM tersebut meski masih minim isi. Tanggal 19-20 kemarin aku mengikuti workshop pembekalan volunteer, staf dan community leader dari komunitas PRT di beberapa daerah di Jogja. Dan hari ini untuk pertama kalinya aku ikut tugas lapangan. Sebenarnya, ini bukan tugas murni divisiku, hanya aku ingin lebih tahu bagaimana proses terjun lapangan langsung.
Balik lagi ke balai desa Tanjung Sari, setelah sejam menunggu, akhirnya giliran kami untuk mempresentasikan program kepada para dukuh. Program hari ini adalah sosialisasi sekolah PRT. Tim diwakili Shanti sebagai divisi yang bersangkutan. Peserta tampak antusias, meski tak banyak pertanyaan diajukan, lebih-lebih pada brosur sekolah PRT. Sosialisasi berlangsung sekitar setengah jam, tepat selesai ketika hujan yang menyertai selama sosialisasi telah reda. Mungkin karena faktor kelelahan yang menghinggapi peserta yang sebelumnya telah mengikuti rapat dengan pak camat mulai jam sembilan pagi tadi dan juga faktor cuaca yang agak-agak nggak jelas, kadang hujan, panas, tiba-tiba mendung, membuat pemikiran bagi peserta untuk memilih cepat-cepat pulang ketika hujan reda. Terbukti ketika setelah kami memberikan sosialisasi yang kemudian dilanjut promosi dari sebuah provider seluler, tak banyak peserta yang berminat mengikuti, malah secara radikal meninggalkan acara, dan hanya tampak satu orang dukuh saja yang bertanya pada si Sales promotion.
Berselang setengah jam kemudian, sesi kedua di gelar. Kali ini pesertanya adalah ibu-ibu PKK, remaja putra dan putri. Meski gerimis mengiring dan lantai balai desa becek sana-sini, mereka berbondong-bondong datang. Kurang lebih lima belas orang telah berkumpul, sosialisasi dimulai. Kembali Shanti menjadi pembicara. Lukman dari volunteer sekolah memberikan tambahan dan mengajak peserta tanya jawab. Meski beberapa peserta masih malu-malu, namun beberapa juga lumayan bertanya pada narator, termasuk peserta putra. Pada sesi kali ini peserta tampak aktif dan antusias dibanding yang pertama tadi. Apalagi ketika brosur sekolah PRT dibagi-bagikan. Meski tak tampak bertanya, wajah-wajah peserta lebih tampak tertarik pada narasi yang diberikan, yaitu tentang definisi, fasilitas dan materi sekolah PRT dll. Sosialisasi kemudian ditutup dengan penunjukan kader di tiap dusun untuk menampung peminat sekolah PRT di daerah masing-masing.
Matahari akan menuju ke peraduan ketika kami meninggalkan dusun tersebut. Kami berhenti sejenak untuk melepas ketegangan otot di sebuah warung dimana lokasinya sangat strategis untuk mengambil gambar. Rumah-rumah penduduk tampak mengecil di kejauhan. Sedang di susut lain mentari seperti mengintip di balik bukit menyisakan semburat kemerahan hingga tak nampak lagi berganti cahaya malam. Langit tak berbintang. Malah kurasa bintang seperti berada di bumi. Langint hitam, sedang bumi kerlap-kerlip. Nyala lampu rumah-rumah penduduk dan lampu-lampu kendaraan di kejauhan menjadi pemanis nampak indah di waktu malam.
Lelah bercampur excited mewarnai trip kali ini. Dan terus terang, mungkin ini perjalanan naik motor terpanjang pertama yang kualami sepanjang hidupku.