Monday, March 30, 2009

BERGUMUL DENGAN WAKTU

Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu. Terlalu cepat bagi yang ketakutan. Terlalu lama bagi yang sedang merasa sedih. Terlalu pendek bagi mereka yang sedang gembira. Tapi bagi mereka yang mencinta, waktu adalah sesuatu yang abadi.
–Henry Van Dyke-

Waktu...
Waktu yang dulu merentangkan jarak antara aku denganmu. Dan waktu jua lah yang kini membawaku dekat tuk merengkuhmu meski pun tak setiap waktu. Waktu tak pernah dapat terprediksi, meski kadangkala telah terencana dengan maha pasti tulisan manusia.
Bergumul dengan waktu. Terkadang di selayang benakku ketika diam-diam menerawang sunyi, terbersit suatu fikiran. Akan kemana waktu membawaku, kamu dan hubungan kita kelak? Menilik situasi diantara kita kini. Kau bersuami dan aku masih lajang dengan tuntutan ortu untuk mencari pendamping hidup yang kini tengah gencar-gencarnya mereka gerilyakan padaku. Meski aku juga telah setengah mati berkelit.
Mengungkit tentang tuntutan menikah, aku jadi teringat saat ortu menelepon beberapa waktu lalu. Yang bicara bukan ibuku, tapi adik ibuku. Ia tampak semangat 45.
“Gimana hubunganmu dengan dia?” tanyanya berapi-api (Maksud DIA dalam benak mereka adalah kekasihku yang sering menghubungiku tiap saat tiap waktu yang tentu saja dalam benak mereka yang polos adalah seorang laki-laki, kenyataannya jelas-jelas perempuan).
“Kok tiba-tiba ngomongin itu?” sanggahku.
“Iya habis kamu itu lho mau nunggu apa lagi, umur ya udah cukup, jadi nggak usah nunggu lama-lama lagi!” Bla bla bla Tanteku terus nyerocos, namun segera kupangkas singkat.
“Kalau masih ngomongin soal itu teleponnya aku tutup lho!” jawaban yang kurang atau bahkan tidak sopan memang, tapi daripada aku gerah mendengar obrolan soal itu dan aku tidak sedang ingin membahasnya.
Tanteku berhenti nyerocos, berganti gerutuan panjang. Ah, aku sungguh malas kalau ditanya-tanya target menikah, tapi sampai kapan? Aku sendiri juga tak tahu!
Waku, sekali lagi aku menyerahkan semua pada sang waktu. Jika tak punya beban apapun pada ortu, tentu sejak dulu aku sudah berteriak melanggengkan kebebasanku. Berandai-andai pun kurasa tak guna.
Waktu. Jika ketika mencinta waktu adalah benar sesuatu yang abadi, aku ingin mengajakmu berseluncur di area waktu dengan tarian, nyanyian dan hiasan hari-hari bahagia. Aku tak ingin lagi waktu yang tak terprediksi ini kita lahap dengan saling caci, dengan bumbu kecurigaan dan aroma tak percaya yang kau saji untuk kucicipi.
Waktu telah berendah hati mendekatkan kita kini. Syukurilah meski dengan cara paling sederhana.

No comments: