Tuesday, March 24, 2009

SEBEGITU SULITKAH MENCINTAIMU?

Pagi. Terik mentari sudah begitu menyengat meski jarum jam menunjuk ke pertengahan angka sembilan.

Malas rasanya beranjak. Hatiku sedang tak enak. Selain karena mimpi buruk semalam yang membuatku terjaga pagi ini dengan dentuman nadi lumayan cepat.

Kupanggil kembali nomor teleponmu. Entah sudah keberapa kalinya jika diakumulasikan sejak semalam. Tersambung tapi tak diangkat. Kenapa dan ada apa dengan kamu?

Seperti biasa, kami memang berantem kemarin. Menurutnya, aku melontarkan kalimat yang salah dan aku harus mencabutnya untuk memulai komunikasi kembali dengannya. Awalnya, aku tak menuruti. Ia hanya ingin balas dendam karena sehari sebelumnya aku menginstruksikan hal yang sama. Kolokan bukan? Tapi yah, sekali lagi, -entah sudah berapa kali- aku menurut. Mencabut kata-kataku dan minta maaf. Namun sampai hari ini ia tak merealisasikan konsekuensinya. Ia tetap tak berkomunikasi denganku.

Dongkol, memang! Bagaimana tidak, aku saja tidak pernah berlama-lama marah. Paling cuma jengkel, selebihnya kembali seperti semula. Namun kamu... Entah apa yang ada di benakmu!

Sebegitu sulitkah memaafkan? Apalagi untuk permasalahan yang boleh dibilang sepele! Renungan buatmu juga, karena kamu bukan hanya sulit memaafkan kesalahanku -tapi aku dituntut untuk mudah memaafkan apapun salah dan kurangmu-, kamu juga ternyata terlalu susah untuk mempercayai. Percaya bahwa aku adalah kekasih yang hanya untukmu dan percaya bahwa aku adalah kekasih yang benar-benar mencintaimu.

Selalu saja kilatan-kilatan cerita masa lalu yang menjadi kiblatmu untuk menghujatku. Ceritaku dengan si ini, dugaan perselingkuhanku dengan si itu, pertemanan istimewaku dengan si anu. Pokoknya, ada saja bahan yang kau jadikan acuan yang ujung-ujungnya berbuah perdebatan panjang dan pertengkaran.

Padahal aku tak pernah sedikit pun menjadikan masa lalumu sebagai bumerang dalam hubungan kita. Ya, mungkin pernah lah aku mengungkit, tapi ya sebatas ledekan. Aku mencoba lebih realistis bahwa apa yang kurajut kini adalah lembaranku denganmu, bukan aku dengan masa lalu dan kau dengan masa lalu. Kapan kita akan melakukan dan meraih lompatan ke depan kalau kau masih saja menengok ke belakang. Aku bukan tengah ingin menghilangkan masa lalu, klise tapi memang masa lalu hanya untuk ditutup rapat-rapat.

Aku hanya heran, kenapa sebegitu sulit untuk percaya aku mencintaimu? Bahkan ketika dalam nafas menderu diatas tubuhmu kudendangkan kata itu dengan sepenuh hati, kau masih saja tak percaya. "Kau bohong!" Begitu slalu katamu. Lalu dengan cara bagaimana lagi kau ingin aku melafalkannya? Jika dalam lingkup paling romantis pun kau tak memaknainya sebagai sebuah kata-kata dari tulusnya hati. Apakah ketika aku melantunkannya ditengah kebohongan yang sesungguhnya, baru kau akan percaya? Mempercayai kebohongan dan tak percaya kejujuran. Begitukah?

Hanya kau yang mampu dan berkapasitas menjawabnya...

3 comments:

Anonymous said...

"Kau bohong!" Begitu slalu katamu << bila kata ini terucap berarti dy pun berbohong atas cintanya ka...

:D klo seseorang tidak mempercayai orang lain berarti orang itu pernah berbohong dan parahnya tidak percaya sama pilihan sendiri..

bener gk y :D


_keyz_

Anonymous said...

Walah....

August said...

omg....so sweet banget yah storynya ^_^