Thursday, May 30, 2013
Aku, Kamu dan Kakak Eps 2
Menginjakkan kaki di tanah ini lagi, hanya berbeda bangunan. Ya, rombongan memang beragenda ke gedung sebelah, tetapi aku membelot ke gedung belakang. Bukan karena kakak, hanya menghadiri launching buku tentang situasi HAM LGBTIQ.
"Aku ikut ke gedung belakang ya?" pamitku padamu selaku ketua rombongan.
"Aku ditinggal dewean.." ujarmu.
Dan memang separuh rombongan jogja mayoritas memang lgbt jadi misah ke acara itu daripada ikutan audiensi. Lucunya nih, kan audiensi belom dimulai, jadi peserta banyak yang masuk ke acara gedung belakang dan cuma mau dapet snack doang, ngakak abis pokoknya! Tadinya, kukira kamu juga akan ikut masuk, ternyata tidak, malah si kakak yang kemudian hadir dan duduk di tengah. Kukira si kakak gak bakalan ikut acara ini..
Dan ketika acara berakhir, moment desember lalu berulang.. Aku sedang mengobrol dengan kawan, dan memang sengaja menunggunya lewat juga karena posisiku di dekat pintu keluar. Dan ia juga berlama-lama semeter di depanku persis adegan desember lalu, ia tau aku disana tapi pura-pura gak ngeliat.. Kalau dulu aku memang tak melakukan apa-apa, aku membiarkannya lewat begitu saja, tapi kali ini aku mencolek lengannya sembari tak menengok ke arahnya, dan ia melakoni hal yang sama, ia balik mencolek tapi kami tak saling menatap.. Tak ada yang tau kami saling mencolek..
Ia sudah di luar, aku mengekornya, tetapi ketika teman dari surabaya memanggilku untuk mengambil nasi box, kami berpisah arah.. Namun yang tak dinyana adalah ia muncul, mungkin ia dengar ketika aku dipanggil temanku tadi, lalu mengambil nasi box di tanganku... Dan telmi nya aku adalah harusnya aku bilang yuk makan bareng yuk kakak.. Namun tak sepatah pun keluar dari mulutku.. Otakku tercecer lagi..
Aku melihatnya keluar, menemui dan berbincang dengan seorang lelaki. Aku mengambil duduk di satu ruang terbuka yang sama dengannya, dengan beberapa teman dari Jogja.. Bedanya ia di kursi, aku di lantai. Dan kamu belum selesai audiensi di ruangan persis di sebelah. Dan kekuatiran yang sama seperti kemarin terulang.. Bertemuanya aku, kamu dan kakak...
Menu siang itu adalah gudeg, ala jakarta, karna ditambah kering tempe dan kentang. Perutku sebenarnya tak lapar, maklum ketika otakku sibuk, perut berkamuflase kenyang, aku bahkan melempar ayam dada utuh ke kucing yang berkeliaran.
"Doa dulu Vi sebelum makan.." suara itu adalah milik kakak.
Batinku, kok sempet2nya komentar padahal lagi sibuk ngobrol ama temennya.
"Belom makan kok, masih buka2 plastik kuah.. Mau doain?" tawarku. Sumpeh, sebenarnya otakku masih kececeran, njawab seadanya.
"Amin. Udah, siap dimakan." jawab si kakak.
Makin rancu otakku dibuatnya. Bener2 nih gudeg ga tau rasanya kek gimana cuma lewat masuk mulut ke perut doang. Dan kian rancu ketika audiensi di ruangan sebelah selesai...
Kamu muncul mendekat kearah aku dan rombongan Jogja yang sedang makan, dan dua meter di depanku kakak belum selesai ngobrol dengan tamunya. Kamu duduk di sebelahku.
"Gak adil, masa makan sendiri, kami belum makan.." ujarmu.
Aku menawarimu makananku. Ya, aku tau pertanyaanmu hanya basa basi. Kamu menghisap rokok. Dan aku menangkap ekor matamu melihat si kakak. Oo.. Sepertinya kejadian kemarin di lorong toilet akan terulang...
Belum mingkem, si kakak say goodbye ke tamunya, dan aku meyakini ia akan mendatangiku... Dan Tuhan memberi cash doaku.. Terkabul! Si kakak sembari melempar senyum ke arahku, melangkah dan duduk di sebelahku.. Dan kali ini bukan cuma otakku yang tercecer, nih jantung kayak berdetak diluar kulit.. Mak jedug jedug ga karuan...
Kamu di kiriku, dan kakak di kananku nyerocos tentang perhentian tempat kami kemarin nunggu bis, hal yang sudah di bbm kan padaku ketika kami dalam ruangan tadi. Apa dia juga sepertiku, tak tau hendak ngobrol apa jadinya mbahas hal gak penting.. Dan aku sama sekali gak terpikir ngenalin ia padamu.. Menurutku sebuah ide buruk melibatkanmu dalam obrolanku dengannya sedang otakku saja tak stabil begini.. Dan tau apa yang kulakukan kemudian?
"Dah sana, makan dulu.." Aku bukan ngusir, cuma ga tau kenapa kok gak enak ati ama yang sebelah kiri. Ia beranjak masuk dan berjanji saling berkabar untuk ketemuan nanti.
Dilema adalah berada pada pilihan apakah akan tetap disini karna setengah 2 ada agenda lanjutan atau bersama rombongan menuju ombudsman untuk menutup audiensi hari ini. Dan jujur aku memang ingin disini saja daripada bolak balik sore kesini lagi, tapi secara profesional aku harus berada di rombongan. Keputusanku, profesional saja! Toh ia baru pulang kerja sore.
Dan rempong sore itu di sponsori oleh agenda karaoke yang diawali masih dengan keharusan joging. Mana saya ga tau jalan.. Dan tiba2 ga percaya ama gps, cuma percaya apa kata si kakak...
Ke pasar festival, kukira jauh ternyata cuma sebelahnya ombudsman.. Kian gaduh, mau kemana dulu, nunggu dimana dan aku merasa ia agak tak enak kalau harus ketemu di kantornya lagi, begitu juga saya! Dan ga tau gimana permainan takdir ini berjalan tapi kok kebetulan banget bis grup sebelah lewat kantornya.. Jian tenan kae bener-bener kebetulan tak terduga! Aku memisahkan diri dari rombongan dan turun di kantornya.. Siap untuk -nonton- joging!
Wednesday, May 29, 2013
Aku, Kamu dan Kakak Eps 1
Aku tak pernah secara kebetulan merencanakan ini semua, aku percaya takdir yang memainkannya...
Aku dan kamu bersebelahan duduk dalam ruang pengaduan ini dimana masing-masing bergantian menyampaikan permasalahan daerahnya.
"Toiletnya dimana ya?" tanyamu.
"Aku juga ga tau. Tapi yuk ke toilet.."
Aku mengekor di belakangmu. Ternyata ngantri. Pun ada kawan lain yang mengantri. Cuma 2 toilet. Kamu masuk ketika ada yang kosong, tak lagi melihat itu di depan ada tulisan toilet laki2.
Sebenarnya ketika mengekormu tadi, ada kekuatiran yang membuatku gusar. Dan kekuatiran itu terjadi... Ketika keluar ruangan, aku menangkap seorang perempuan sedang bertelepon diluar. Jantungku sudah berdegup lebih kencang. Kakak.
Kamu masuk ke toilet dan senyum kakak terburai seiring langkahnya mendekat ke arahku. Mati aku! Itu kalimat yang didengungkan otakku berulang-ulang. Dan aku memang mati, mati gaya tepatnya! Otakku entah tercecer kemana, dan kata-kata yang keluar dari mulutku juga entah bersumber darimana.. Jelas tak ada koordinasi antara otak, hati dan mulut.. Satu mikirin perempuan di depanku, satu mikirin perempuan yang akan muncul dari toilet dan satunya sibuk menyusun dialog menjawab kalimat2 kakak..
Dan kekuatiranku terjadi.. Aku sedang berbincang dengan kakak ketika kamu keluar dari toilet. Dan baru kali itu aku berdoa agar waktu bisa di skip.. Kamu melihat kakak sejenak lalu melewati kami.. Flat memang.. Dan sikon yang tak terdefinisi!
Aku mengakhiri obrolan dengan kakak ketika seorang teman kantornya yang juga mengenalku menegur apa yang kulakukan di lorong toilet dengan si kakak. Ya, aku memang kebelet pipis awalnya, tetapi memutar ulang kejadian barusan sepertinya pipis bukan tujuan utamaku!
Tuesday, May 28, 2013
#Kakak Gue Kece!
Masih tentang Jakarta! Ya, aku tak memaknainya sebagai mengusahakan takdir, tetapi disinggungkan takdir, dengan Kakak!
Senin, agenda rombongan dari beberapa propinsi ini adalah salah satunya mengunjungi tempat kerja si Kakak. Konfirmasi terakhir agenda hari ini memang akan berakhir disana. Hmm, untunglah, jadi tak perlu bolak-balik karena usai jam kantor aku dan si Kakak memang sudah berencana keluar. Joging tepatnya, begitu ia bilang.
Dan memang benar-benar jogging! Tadinya kukira ia sedang akan mengerjaiku. Menunggunya lama tak juga turun, aku sudah menggerutu dan mutung kasarung. Tapi ketika melihatnya dalam balutan kaos abu-abu persis kayak abege, gak kentara usianya seumuranku. Dan kami joging berempat, mereka bertiga tepatnya, aku hanya menunggu di ujung trotoar.
Putaran pertama ia mencolekku.. Putaran kedua kuberinya semangat.. Satu putaran kemudian ia beralih pada bebatuan untuk fisioterapi kaki. Pun aku mencobanya. Sembari mencermati butiran keringat memenuhi wajahnya dan obrolan entah.. Aku hanya senang mencuri-curi pandang dalam wajah berbalut tetesan keringat itu.. Kece Kakak!
Usai agenda lari-lari kecil yang katanya untuk pemanasan ketika outbound itu kami makan di taman lain yang menyuguhkan panganan yang mayoritas jawa timuran.. Rawon, sate madura, bakso kawi malang dan beberapa jajanan lain. Si kakak memilih bakso malang.. Pilihan yang akhirnya juga kupilih meski setengah hati.. Aku membenci hal2 terkait kota itu.. Tetapi malam ini aku tak ingin disibukkan oleh hal-hal tidak penting terkait mantan, fokus malam ini adalah kakak.. Mengobrol bertiga dengan satu teman kantornya.. Dan berakhir di desk kerjanya sehari-hari.. Mirip desk kerja wartawan... Jadi disinilah ia berkegiatan sehari-hari..
Malam merangkak naik... Gerimis menemani kami meninggalkan bangunan tempat kerjanya menuju tempat pemberhentian bus..
"Ujan vi.."
"Nggak kok, cuma gerimis"
Perempuan itu tetap mengeluarkan payung dari tasnya. Tau gak warnanya apa? Pink!
"Sini, deketan, ujan!"
Aku menolak dengan tetap bersikukuh tak hujan.
"Kenapa? Karna payungnya pink ya. Ah kan yang penting ga keujanan!"
Hmm, sebenarnya bukan karena warna pinknya sih, tapi aku memang tak suka keteduhan payung kecuali ujan sangat deras.
Ada adegan yang keren sebenarnya malam itu.. Kami berhenti di jembatan taman lawang yang konon banyak waria nongkrong tapi malam itu masih sepi, hanya kami, perempuan itu dengan payung pinknya dan saya yang sedang menikmati cerita2nya.. Ide keren di otak saya, frame disini bagus untuk foto pre wedding.. Aku, kamu dan keremangan malam di jembatan.. Dan bus yang kami nantikan membuyarkan ide kerenku..
Ia bercerita tentang keminiman pengetahuannya tentang seksualitas. Hmm, tapi aku senang ia berkemauan keras menyerap.
Katanya, nongkrong di tempat ini adalah semacam pelanggengan kapitalisme, tapi disinilah kami menghabiskan malam dengan ditemani cokelat panas..
Kakak gue kece, as usual!
Thursday, May 23, 2013
Mendadak Jakarta!
Ya, sesuai judulnya, memang mendadak berkeputusan untuk ikut ke Jakarta untuk keikutsertaan aksi yang jujur saja kurang kupahami. Awalnya, terjadi pergulatan serius di otak, tentang fakta akan menemukanmu bersama lelaki itu, tentang perjalanan denganmu yang ku prediksi tidak akan menyenangkan, dan beberapa hal tentangmu yang pastinya akan menyakitkanku.. Ya, aku tak sedang ingin sakit sekarang! Tetapi ada satu wajah yang kemudian membuyarkan kemuramanku... Wajah #Kakak.. Yang ingin kutemui.. Meski akhir bulan ini ia ke Jogja, tapi kian sering ketemu bukankah akan lebih menyenangkan?
Butuh waktu untuk membuatku mengiyakan tawaran ke Jakarta itu. Aku mengontak perempuan wajah serupa artis itu.. Ia bilang sudah ada acara keluarga jadi tak akan bisa menemaniku, hmm kian menciutkan nyaliku untuk menerima tawaran ini..
"Tapi kan senin kita bisa ketemu?"
Hanya itu satu-satunya alasan yang kemudian menguatkanku untuk setuju ikut.. Demi bertemu kakak satu hari, gila bukan? Aku sepakat ini gila, tapi aku berasumsi aku harus keluar dari zona nyamanku!
Dan yang lebih gila sebenarnya adalah kegilaanku berikutnya.. Rombongan Jogja rencana akan berangkat sabtu malam naik bis. Kata bis langsung membuatku pengen muntah sebetulnya. Dan malam itu tetiba seorang teman mengajakku nganterin beli tiket ke Jakarta hari jumat sore. Dan gilanya, aku ikutan booking tiket! Padahal hari jumat itu aku masih ada interview kerja.. Benar2 hari yang gila!
Beruntung jumat aku memilih di interview lebih dulu, lalu ngacir masih sempet rapat jaringan and there I am going to Jakarta sorenya.. Hari yang keren!
NBnya nih, sebenarnya selain kuatir mabok darat, aku memilih naik kereta karena tak ingin berangkat bersamamu, kuatir moodku kau obrak abrik dengan hal tak penting, maka kereta dengan teman kurasa lebih menarik!
Saturday, May 18, 2013
Kembar Tiga
Katanya, di dunia ini, setiap manusia diciptakan punya kembaran paling tidak 12 di muka bumi. Aku mengamini. Bukan saya, tetapi perempuan bermuka judes dengan senyum termanis.
Ia memang kontradiktif. Begitupun saya mengenalnya. Pagi ini saya mengetahui seluk beluk hidup yang ternyata hampir serupa dengan kembarannya. Tentang kekerasan hati. Tentang prinsip hidup. Dan tentang memaknai hidup. Sungguh, tak berbeda, meski jalan hidupnya jelas tak sama.
Belum selesai tentang hal yang baru hari ini kuserap, kayaknya ini harinya Mbak Titi, aku menemukan kembaran ketiganya...
Ini pertama kali aku menginjakkan kaki ke tempat makan ala Italia ini. Plus pake nyasar segala! Memasuki bangunan berarsitektur Belanda ini, dan memilih duduk dalam ruangan, bukan selasar dan bukan pula lantai bawah. Suasana sedang riuh. Banyak remaja berseragam bergerombol, merayakan ultah. Ada pula ibu-ibu serta varian pengunjung lain.
Untuk menu, aku menyerahkan pada ahlinya.. Bener-bener gak dong, meski turut membuka-buka daftar menu, pura-puranya tau... Perempuan di depanku yang aku yakin sudah hapal menu menunjuk beberapa pesanan. Kami mengobrol tak tentu arah sembari menunggu makanan datang. Hingga perempuan itu muncul di pelupuk mataku...
Aku lupa, entah ia menyajikan minuman atau makanan pembuka, yang pasti mataku langsung tertancap pada perempuan yang mengingatkanku pada pemilik wajah mirip artis itu. Perempuan yang lain selalu mengakhiri mengantar pesanan dengan senyuman lebar, tapi ia tidak. Ia membentangkan bibir tak sampai memperlihatkan giginya. Bagian berikutnya pasti sudah bisa ditebak... Tiap gerak tubuhnya selalu berada dalam pengawasan penglihatanku... Dan takdir hari ini memang indah... Ia berseliweran di depan mukaku.
Bahkan ketika kami berpapasan di ujung pintu, ia memberiku senyum terindahnya. Pun ketika usai cuci tangan, aku melihatnya hendak keluar, di spot tempat yang sama untuk kedua kalinya perempuan itu memameriku senyum.
Sumpah, aku tak tau apakah menu yang kulahap ini enak atau gak, keasinan ato pas, yang pasti aku tak memperhatikan. Bahkan karibku tertawa ketika ekor mataku tak bisa lepas dari perempuan itu meski lisanku sedang ngobrol dengannya. Tetapi ia maklum. Aku memang begitu! "Kamu itu lha kok sukanya tipe itu-itu lagi!" celetuknya.
Ya, tepat sekali! Itulah alasanku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan perempuan itu. Karena ia se-tipe dengan pemilik wajah mirip artis itu. Garis wajahnya galak, tetapi ketika bibirnya membentangkan senyum, my heart melted!
Yang bikin takjub juga adalah dalam sehari perempuan kembar 3 mengisi garis takdirku. Hal yang tak biasa! Jikalau 12 adalah angka duplikat kembaran manusia di dunia, sepertinya aku tinggal menemukan 9 lagi. Berita gembiranya adalah sepertinya aku berharap ada irisan takdir di tempat itu kembali... #Ngarep
Friday, May 17, 2013
Mengurai Esensi
Masih, terpekur, usai bereuni dengan semua ingatan-ingatan tentangmu, asumsi yang berlalu-lalang hingga racun yang bersiap dituang untuk memeriahkan reuni tsb.
Terngiang, tentang suara minoritas seorang teman yang berusaha menjauhkanku dari belenggu dan kepungan memori yang masih menyergap kanan kiri, muka belakang, di setiap celah pikiranku. "Sudahlah, kau memang suka bercerita tentangnya, terlebih ketika kau bertemu dengan orang-orang yang akan mengamini ceritamu.". Aku terhenyak, dan tertohok.
Ia benar. Selama ini sepertinya aku melakukan persis seperti yang ia katakan. Dan sejak itu aku terus berpikir ulang...
Sampai detik ini aku masih membenci segala hal yang menghubungkan dan kuhubung-hubungkan denganmu. Aku juga tak mau tau apapun yang terkait denganmu. Konyol bukan? Memang! Tapi tetap saja hal-hal tsb terulang berulang.
Hingga pada titik balik aku harus mengurai esensi, substansi yang harus kucari, bukan pelengkap yang ada di sekitar cerita. Aku sebenarnya sudah hapal apa substansinya, namun tetap saja pula aku menyalahkan, membenci dan mencecar diluar isi yang harus kuenyahkan dari indungnya.
Apapun yang berhubungan denganmu menyakitiku, tetapi bahkan aku sendiri tak punya keberanian untuk segera mengakhiri, memutilasi inti, bukan kian memupuk dan memeliharanya dengan terus-menerus memedulikan hal-hal yang harusnya kuenyahkan.
Hati bukan tak mau diajak kompromi, ia hanya kadang masih larut untuk turut ikut membudidayakan hal yang buat otak dianggap carut marut.
Mengurai esensi, mari... Buat aku menjadi orang yang sudah tak peduli! Mari!
Subscribe to:
Posts (Atom)