Friday, August 26, 2011

Merampungkan Cerita Hati

Sepanjang 2011, kalau diitung itung lebih dari 7 perempuan bersinggungan takdir dengan hati saya dan percaya atau tidak, selalu mempunyai ending yang sama...

Soulmate sebelah kamar adalah perempuan paling rajin yang hafal betul nama dan cerita cintaku, pun seorang sohib yang kini menetap di Jakarta. Dulu aku jatuh hati pada perempuan ini tapi kini kami bersaudara, kisah hati masing2 kami telah saling membagi. Dan kedua orang inilah yang mungkin cukup jengah dengan cerita hatiku, bukan pada banyaknya hatiku tertambat tapi penyelesaian yang tak pernah rampung!

Aku juga tak muna, di mata mereka aku memang terkenal menclak menclok, tapi sekali lagi aku tak mendefinisikannya sebagai player. Kata mereka aku hanya tak mempunyai kemampuan merampungkan cerita hati! Alur tetapnya adalah, aku jatuh hati, kemudian berhenti tengah jalan dan tak rampung, lalu memulai relasi baru dengan tidak nyelesain relasi lama.

Teringat beberapa hari lalu, si sohib sampai mencontohkan relasi hatiku dengan dirinya.
"Kau ingat saja dulu bagaimana kau naksir aku, belum selesai, ketika membentur sesuatu, kau mulai lagi naksir orang lain tapi tidak nyelesain yang sebelumnya!" ujarnya bukan yang pertama kali. "Masalahnya hanya kau tak pernah bisa nyelesain!"
Aku mengamini!
"Coba deh mulai sekarang jangan lagi begitu, selesaikan sampai perasaanmu benar-benar selesai baru mulailah relasi baru. Paling tidak kau tau, relasimu itu benar2 berakhir sudah tak bisa dilanjutkan lagi, jangan berhenti tengah jalan lalu mulai dengan cerita baru lagi! Kapan mau bener2 dapat kekasih kalau gitu caranya?" Meski terkekeh ia lumayan sewot. "Coba kuingat, dari mulai cerita ababil anak SMA itu sampai emak2, mana yg bisa kau selesaikan? Gak ada!"

Ya ya ya semua tak ada endingnya! Belum selesai anak SMA, ada si mata kucing, lalu bule satu hari, anak SMA yang suka curi2, hingga "emak2" yang Selasa lalu "kencan" aneh denganku sampai emak2 yang sehari berikutnya membebaskan pikiranku. Belum lagi sekitar empat cerita hati pendek tak nampak selama 3 kali aku ditugaskan ke Jakarta dalam tahun ini.

Untuk "kencan" aneh di bukber Selasa kemarin, aku baru tau perempuan putih semampai itu sudah tak lagi dalam relasi tetapi didekati orang yang katanya akan diakhiri. Lucunya, ini kali kedua kami makan bareng, tapi baru pertama berbagi hati. Meski kerap bercengkrama di hari-hari kerja dunia maya, kami tak pernah bahas hal serius.
"Aku hanya berbagi denganmu," tegasnya.
"Aku juga, orang diluar kantor dan diluar kost."
Cerita hati alur berbeda dengan benang merah sama; ending harus diakhiri.

Malamnya, ia mengirimiku pesan singkat bahwa ia membuatkan status untukku di status fb nya tanpa menjelaskan eksplisit itu ditujukan padaku. Saya mengerti alasannya! Kami hampir tiap hari berbalas komen, dan kini mulai berani pajang foto. Sama spt si emak satunya. Ah, lagi2 belum rampung semua!

Ya ya ya untuk kali ini aku akan memulai coba merampungkannya. Kini sudah terbentur tapi belum mentok, ketika mentok, aku akan menutup cerita hatiku denganmu sebelum memulai yang baru!

Tapi pertanyaan yang masih mengganjal saya, pentingkah merampungkan relasi? Kalau ditilik ulang, memang perasaanku pada mereka jadinya biasa aja, kcuali tiga terupdate dan dua yang tak tampak mata hehe. Aku beranggapan cerita tak perlu kurampungkan, khususon pada perempuan pengusik hati ini aku akan merampungkannya sampai titik final, janji! Untuk yang lain2nya, aku hanya akan menjaga untuk tak terjadi konflik seperti dgn anak SMA itu yg meski sekarang sudah lebih enak relasinya.

Jadi, rampungin cerita, hanya untuk si Gajah saja!

Obrolan Semalam



Obrolan semalam dengan Gajah! Ada titik terang hati akan dibawa kemana dalam koridor apa. Sudah cukup terwakili semua unek2 semalam. Dan bagaimana lantas aku akan mengambil sikap spt yang kukatakan subuh ini.

Gajah, aku mencernamu! Meski semalam ku gelontorkan semua isi pikiranku, ada koridor pemikiranku tentang karaktermu yang hanya akan jadi konsumsi pribadiku.

Dan suatu saat seiring waktu intuisiku tentangmu terbuktikan, bukan lagi akan tentang benar atau kah salah. Tetapi pembelajaran satu lagi karakter yang memperkayaku pemahaman karakter terhadap perempuan.

Thursday, August 25, 2011

Ketemu Anaknya Mantan


Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari mantanku. "Aku nanti mau ke Kota Gede, kalau kamu mau ketemu anakku datang aja aku mau belanja."
Pesan pendek yang menambah daftar penghilang kantukku meski sehabis subuh tak tidur bertemankan kantung penuh pesan pendek penghilang rindu bersama perempuan yang sedang asik mengusik hati itu. Ditambah hari ini emang agendanya adalah nganterin soulmate sebelah kamar ambil motor untuk pulang kampung.

Pesan pendek lagi muncul. Mereka sudah otw. Aku loncat dan mandi padahal masih malas2an juga, maklum pagi bo! Meski tetangga sebelah kamar sudah siap sedia berangkat.

Hal yang tercetus di otakku adalah apakah bocah itu masih akan ingat aku? Pasalnya, setahun lebih aku tak melihatnya lagi usai relasiku dengan ibunya berakhir. Meski aku dengan ibunya kadang bertemu, tapi dengan alasan tak mau si kecil nyeloteh ke bapaknya maka aku tak pernah dipertemukan dengan bocah pemanggilku Buyek ini. Ah, terakhir bertemu ia masih cadel, bgm ia kini? Itu yang bikin semangatku untuk segera bertemu.

Prosesnya ternyata tak mudah. Proses menemukan tempat yang dimaksud bgtu maksudnya. Aku belum hapal daerah tsb, yang ada aku muter2 dulu sebelum menemukan tempatnya. Kayaknya ada aja ya kalo menginginkan sesuatu...

Menyusuri ruang busana yang cukup besar, dimana ibu dan anak itu? Lalu kulihat mereka sedang asyik milih2 sendal. Bocah itu masih dengan potongan rambut yang sama, tapi wait a minute tubuhnya terlihat lebih cungkring hingga alur wajahnya sekarang kini lebih mirip ibunya.
"Kok jadi mirip kamu sekarang?" tanyaku. "Perasaan dulu mirip bapaknya deh!"
Perempuan itu diam aja. Tiap ketemu aku kayaknya aku bisa nangkep ada kegembiraan terselubung dalam pancaran matanya (kalau kamu baca ini, jangan muntah ya hehe). Dan satu lagi kebiasaan bibir si bocah pun mirip ibunya.

Aku ga pernah suka anak kecil, tetapi ketika dulu berelasi dengan ibu bocah ini, entah kenapa ada kedekatan diantara kami. Aku masih ingat dulu ketika kami bertiga menghabiskan waktu, bocah kecil ini selalu menengok ke belakang, memastikan aku membuntutnya. Begitu juga tadi, ketika sang ibu menuntunnya ke bagian etalase celana usai memilihkan sepatu yang diminatinya, ia menoleh ke belakang, apakah aku mengekornya atau tidak.

Bocah perempuan itu tetap pemalu seperti dulu. Ia hanya bicara dengan ibunya. Kalau kuajak bicara ia tak berani menatapku, menjawabku dengan menoleh ibunya.

Perjumpaan yang singkat memang, tapi bagiku melegakan. Dulu aku sampai termimpi untuk bertemu bocah itu. Dan yang tanpa diduga, aku bertemu teman kantor disana. Hmm, pasti ada gosip seusai liburan nanti. Pasalnya, orang2 kantor tau betul relasiku dengan ibu bocah itu. Bahkan di beberapa kesempatan seorang teman kantor yang juga baru melahirkan dan sedang menyusui meledek habis2an soal bgm perilaku seksualku ketika berelasi dengan perempuan yang sedang menyusui!

Hmm, menanti gosip berputar di kantor, tapi aku bersyukur bertemu bocah perempuan itu setelah sekian lama, dan ibu si bocah.. Ia nitip salam pada ibuku yang pastinya juga akan menanyakannya. Maklum ibuku mengira dulu ketika aku berelasi dengannya, yang ada di pikiran ibu adalah dia seorang lelaki dan akan menikahiku kelak. Andai ibu tahu... Hehe.

Wednesday, August 24, 2011

Membebaskan Pikiran


"Dah kemaleman nih," Begitu alasan yang kuketikkan dalam pesan pendek pada perempuan yang sudah janjian ngajak ketemuan dari jaman sekitar dua mingguan lalu itu sembari melihat jarum jam menunjuk pertengahan antara angka 7 dan 8.
"Ya udah, ketemu taun depan aja!" Balas perempuan itu singkat tapi menohok ketus.

Alasanku yang agak mengada-ada memang setelah sebelumnya aku berujar di telepon bahwa suasana hatiku sedang tak enak dan takut menjadi partner bicara yang kurang menyenangkan.
"Nanti kalau aku jadi teman bicara yang buruk, aku disuruh pulang saja ya," pintaku yang diiyakan perempuan ini sambil ngekek.

Jadilah kemudian aku melajukan motor ke rumahnya. Yah, dengan sisanya benak untuk perempuan lain. Feelingku mengatakan ketemuan dengan perempuan ini takut menambah ketidakenakanku, maklum ketika otakku sibuk, hal lain takkan masuk pikiran. Ditambah aku hapal model karakter perempuan ini yang bukan orang yang tepat untuk diajak bicara urusan hati model beginian.

Tapi karena ini record baru buat kami, hampir sebulan ga ketemu dan menjeda komunikasi. Biasanya kalau tak telpon, hampir tak pernah luput bercengkrama di komen fb nyerempet atau bersetubuh astrologi di twitter. Katanya, kami harus ketemuan sebelum aku mudik. Gak biasanya juga sih beberapa hari belakangan ia tiba2 nelpon setelah janjian karaoke bareng yang terulur2 kandas terlaksana gara2 crash timing. Menurutnya, malam ini adalah time limit karena mengira aku mudik esoknya. Btw, ini si perempuan 3 Bulanan yang pernah kutuliskan sebelumnya itu lho!

Rumahnya sepi. Tak ada celoteh kwak kwik kwek yang mungkin sudah tidur. Hanya bertemu si ganteng adik perempuan ini yang lumayan ndagel. Benak ini masih gak karuan, tubuh dimana pikiran kemana. Dan uniknya, feeling saya tak seperti biasanya. Tau sendiri, saya memandang bentuk relasi feeling saya dengannya cukup unik. Materi bahasan yang sering cukup nyerempet, perilaku juga cukup nyerempet, ah mungkin dia suka berperilaku begitu, dan saya aja yang suka panas dingin dibuatnya karena tak mau menabrak koridor yang dibangun otak hatiku sendiri.
"Trus kita mau kemana?" tanyaku sembari menunggunya makan. Agak aneh juga kalau mau keluar kok nih orang malah makan
"Ke Semesta aja, men-cokelat!" Aku ngiyain meski gak tau tempatnya, maklum kuper.

Cafe yang lumayan padat pengunjung. Dan jadilah kami duduk di meja kecil untuk dua orang di sisi gemericik air dan dedaunan dengan bising bunyi pesawat terbang baru take off. Gak tau kenapa kok aku suka banget liat pesawat baru take off atau mau landing keliatan dekat dan besar menggaris di langit. But aniwei forget it!

"Pesan Cokelat Couple aja ya? Itu cokelat udah untuk dua orang." ujarnya. Dan spt biasa ia mengabsurdkan apa maksudnya kok pake Couple2an gini.
"Panas atau dingin tuh?" tanyaku.
"Panas!"
Hmm, aku bukan penyuka minuman hangat. Tapi ide awal minum cokelat itu yang membuatku mengiyakan pesanan. Cokelat bantu recovery suasana hati, bukan? *sugestiku*

Ia mulai menyalakan sigaret. Mata kemana, pikiran mikir apa dan mulut bicara apa, itu yang kerap mewaspadakanku untuk mencerna alur ketiga inderanya tsb. Sebuah notes kecil yang ia bawa dari rumah, tak tersentuh.

Ada lelaki di ujung telepon sedang main biliard dan mulut perempuan ini juga membagi obrolan denganku. Menanyakan pada si lelaki di kotanya banyak kah L nya. Kalau banyak maukah aku dikenalkan pada salah satu atau salah dua diantaranya. Dan penutup obrolan di telepon yang lumayan unik; Ia berucap Love U kepada lelakinya tapi arah matanya padaku dengan senyuman. Sembari terkekeh aku pun menjawab Love U 2 plus seutas muach di bibir.

"Asik juga ya kalo gitu tadi, di telepon bilang Love U, ternyata bukan untuk dia yang di telepon tapi orang di depan kita, dia gak tau kan," jelasnya sembari tertawa usai menaruh gagang henpon. Oh ya, dia pernah berucap aku agak cemburu dengan lelaki ini tiap ia menyebut namanya aku selalu komplain, dan aku mengiyakan.

Dua cangkir cokelat panas kental tersaji mengiring obrolan tentang membebaskan pikiran. Awalnya ia mengungkap rahasia kehidupan rumah tangganya. Kita sudah cukup lama saling kenal, baru ini ia bercerita. Lalu tercetuslah kata Membebaskan Pikiran ini... Meski tak hampir seluruhnya sependapat dengannya, tapi sedari awal mayoritas ide dan pemikiranku tentang HAM selaras dengannya.
"Orang2 lain banyak yang tidak trima pola pikir dan pola hidupku yang spt ini, kata mereka kebarat2an lah dsb, tapi kalo saya merasa nyaman begitu kenapa harus mikiri apa kata orang, sedang kita sendiri tidak merasa nyaman."
Ibarat dunia LGBT, pemikirannya sama, diminoritaskan karena tidak sesuai kaidah mayoritas masyarakat kebanyakan.
"Makanya yang dilakukan adalah Membebaskan Pikiran, karena dgn begitu pikiran negatif akan hilang dan hanya menjadi milik orang2 lain yg resah dengan isi otak mereka sendiri, sedang kita akan bebas!"
Dasar otakku sedang lagi mikiri hatiku, langsung tercetus korelasi apa yang diucapkan perempuan itu dgn kondisi "dilema" hati malam itu. Dan baru kali ini kami sedikit membahas urusan "hatiku". Biasanya kami hanya bahas soal kami, tidak cerita hatiku, meski kadang ia bercerita ttg cerita hatinya.

Beralih pada topik seksualitas, ia berujar tak selamanya orang bilang ia hetero atau biseksual atau homo. Aku mengamin fleksibilitas tsb.
"Makanya sekarang kan aku sedang melesbikanmu," ujarku campur ngakak melihat ekspresinya. "Aku bercanda, ralatku.
"Eh, jangan salah, tau darimana kalo aku hanya tidur dengan lelaki, bukan dengan perempuan? Waktu itu aku pernah sudah hampir mencoba tapi sikon tempat tidak memungkinkan, masak mau bercinta di kantor!"

Tidak mengejutkanku, karena kalau ia tak begini maka hubungan kami ga akan berlangsung sampai sekarang. Jadi teringat sekitar sebulanan lalu ia pernah meminta foto pose gigit2an lidah di keramaian Alkid yang sumpah bikin aku panas dingin, sementara sohibku ngakak dan bersedia gantiin kalau aku nolak permintaannya.

Hmm perempuan ini meski agak gila tapi menyimpan kemisteriusan dengan kadar lumayan tinggi. Alur hatinya tak tertebak. Kalau aku terbiasa membuat alur hati dengan memberi lajur kontruksi dan koridor, maka ia menerapkan sistem tabrak. Meski begitu keunikan karakter bebasnya masih belum bisa kubaca.

Balik ke ruang di Semesta, setelah definisi Membebaskan Pikiran, hatiku masih terusik. Dan entah keputusan darimana aku tiba2 mengirimi perempuan yang mengusik pikiranku sejak beberapa hari ini sebuah pesan pendek. Efek pembebasan pikiran, memaknai apa yang kita rasakan secara positif. Ia membalas tak lama.

Satu hal lain yang ia sarankan padaku, kau memang harus membebaskan pikiranmu, tapi ingat tujuan awal konsekuensi pilihan orientasi seksualmu kemana... Kalau yang kau jalani sekarang spt ini, paling tidak meski kau terus jalani, ada kesiapanmu untuk konsekuensi yang sejak awal kau ketahui..

Perbincangan di tengah galau yang cukup unik malam ini. Menciptakan pola baru, membebaskan pikiran, membiarkan orang lain berasumsi, baik atau burukkah yang penting kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakoni tanpa mengganggu hak orang lain.

Cerita Pohon

Pohon itu tumbang, namun syukurlah tak mengenai pejalan kaki yang lewat atau kendaraan yang tengah melaju.

Pohon itu luluhlantak, namun syukurlah akarnya masih melekat meski tak utuh.

Batang yang kokoh itu ternyata rapuh, terlihat rongga-rongga basah seperti baru teraliri cairan. Air darimana kah? Dari daun-daun yang menengadah ketika disiram, kah? Tidak, rongga itu basah oleh tangis akar yang kokoh hingga membusuk tak kuat menyanggah.

Pohon itu telah bertahun-tahun tampak mati suri, sekalinya bersemi ia gugur lagi.

Pohon itu ternyata menangis sebelum akan mati, namun syukurlah ia tak melukai, hanya ia sendiri.

Bulir air yang baru sempat meretas, setelah sekian hentakan waktu tertahan, menahan.

Langit Kamar Tamsis, 18:49 Wed 24 Aug 2011

Memutus Pusaran


Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup skali ini saja...

Menarik diri, daripada saya menarik perempuan itu ke dalam pusaran yang saya buat. Pusaran yang bahkan saya tak bisa keluar, menunggu untuk terlempar ketika arus sudah lelah mempermainkan saya di dalamnya. Saya bukan menyerah untuk meraihnya, saya hanya tak mau menariknya ke celah yang bahkan untuk diri sendiri pun belum bisa menaklukkan. Ego saya!

Menilik kembali roda percakapan dunia maya sekitar tak sampai sebulan lalu, pelangi bibirku kerap muncul. Jujur, aku merindu kita yang dulu. Kita yang terpisah jarak namun bukan waktu. Aneh, kenapa aku tak bisa sesederhana seperti ketika di awal dan malah ribet dibelit prasangka dan posesif nggak jelas, sementara ia dengan sangat jelas tak memantulkan hal yang kurasakan?

Hati kok malah heboh sendiri. Ego saya pun perang sendiri. Apakah saya butuh pengakuan perasaannya terhadap saya? Pengakuan yang bagaimana lagi, hati saya yang lain bilang begitu. Toh sudah jelas alur gamblangnya.

Tersiksa untuk menjadi tak sederhana. Tapi daripada saya membuat satu orang lagi merasa tersiksa dengan hati dan pikiran2 aneh saya, mending memutus pusaran agar ia tak terkena getah. Kalau sakit, biar saya aja yang sakit karena sakit itu saya yang buat sendiri.

Tuhan bila masihku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintainya...
(Tak sanggup bila harus jujur hidup tanpa hembusan nafasnya...)

Tuesday, August 23, 2011

Sedang Kecewa


Saya memang sedang kecewa, kecewa dengan diri sendiri. Hmm tanpa bermaksud menghujat!

Memutar ulang perbincangan dengan seorang teman berbagi pikiran yang jauh dimata semalam, ada sebuah pola yang kami amini untuk men-trackrecord kisah asmara saya. Pengulangan pola, kata perempuan itu, dan aku sudah sadar hal tsb namun anehnya tetap dilakukan berulang.

Aku bukan tak belajar, tapi entah apa namanya kok bisa terulang. Internal error yang tak bisa dibenahi mungkin haha. Sementara sparepartnya juga tidak dijual di toko2 terdekat. Sifatnya mendestruktif hati sendiri. Ternyata, sekali lagi, bukan orang lain si pencuri hati yang tak siap, tapi lagi2 saya dan permasalahan internal antara otak dengan hati.

Fluktuatif, bukan labil. Dan itu sangat destruktif. Di satu sisi negatif yang melanda pun dibarengi kekuatan positif. Pernah merasa seolah-olah neuron anda yang positif dan negatif pada saat yang sama bertabrakan hebat? Dijamin, cairan sekret otak dibalik batok kepala ini bahkan bisa saya rasakan dentingnya di telinga mirip air yang mengucur, hingga suhu tubuh tinggi di dalam, kedinginan tak berpenyebab. Bahkan aku tak bisa lagi merasa, ibarat dulu melaju motor dalam hujan deras tetapi badan tak merasa basah, tahu-tahu sampai rumah kuyup pasi, mati rasa!

Tiga hari yang melelahkan! Saya tak menyesal perputaran waktu menyuguhkan irisan takdir untuk aku dan perempuan itu, hanya saja semoga kali ini destruksi internal ini tak berakhir senada dengan cerita2 sebelumnya.

Kalau ia bergelut dengan 1001 resiko membuka hati karena tak mau komitmen dan masa depan yang merupakan keharusan dibangun dengan laki-laki, God Knows that's not a big deal! Kontradiksi pemikiran mungkin, mengingat rangkaian cerita 2011 tak satupun dari para perempuan yang beririsan takdir denganku murni homoseksual, aku sudah lumayan fasih dengan uncommitment dan tuntutan lain. Kontradiksinya denganku adalah ia bermasalah eksternal, sedang aku perang internal.

Tuntutan yang kulakukan pada orang lain tak bisa kuungkap, jelas saja bagaimana mungkin kau menuntut orang yang belum menetapkan hati untukmu. Makanya ketika hati dan otak sibuk sendiri, maka aku harus menikmatinya sendiri, karena tak mungkin aku mengajukannya meski pada kenyataannya aku benar-benar mendestruksi perempuan pengisi hati ini dengan nalar tingkah laku yang tak bisa di nalar. Hal yang kemudian sungguh tersesali namun sudah tak bisa terhapus, selain mengubah diriku di dalam untuk tak lagi melibatkannya dalam wilayah hati dan otakku.

Memahami diri sendiri; bahwa dalam saat bersamaan aku (hati dan otak) bisa sekaligus merasakan negatif dan positif thinking, destruksi dan recovery, bangkit dan jatuh, serta semua hal kontradiktif berbarengan.

Kecewa dengan kerumitan diri sendiri. But, that's me, sampai detik ini still love my self completely complicated complex!

Monday, August 22, 2011

Oksitoksin, Hati dan Logika

Cinta ini tak akan mungkin memudar,
Kata hati tak akan mungkin berubah, jadinya, karenanya...

Potongan bait lagu yang sejak beberapa hari lalu kerap terngiang di telingaku. Tentang hati, lagi!

Awal bulan ini oksitoksinku sedang produksi berlebih. Ia menggenjot otak sampai ke aliran darah untuk mengecap fungsi hormon itu. Bukan pertama kalinya begini sih, tapi untuk sepanjang tahun 2011 bersama lika-liku asmaranya, ia paling dominan akhir-akhir ini. Biasanya, ia berproduksi tak sampai meluber, cukup pada porsi hati, lalu ketika ia akan merambah struktur otak tempat ia bernaung, ia sudah dieliminasi logika.

Untuk sekarang, sepertinya sedang lain cerita. Meski hati sendiri sudah lumayan hilang dari bius oksitoksin, ya hati saya tumben2an berlogika bahwa oksitoksin ini beracun. Eh kok malah otak membuat keajaiban; dalam membantu proses recoverynya hati, logika saya malah ganti menyuruh hati untuk tetap berfungsi selayak organ tsb, bukan merebut wilayah otak. Dan support otak yang mengejutkan ini diamini hati, meski tak dibarengi dengan oksitoksin. Memang, ada sisa oksitoksin, namun ia sedang mogok produksi. Semoga support logika mampu menyuplai apa yang tak diberikan komponen otak pembangkit dan pengelola taman bunga di hati saya agar tak memudar.

Wednesday, August 17, 2011

MULAI MENGUSIK HATI


Belum genap sebulan memang, tapi kau cukup mengobrak abrik tatanan otak, terlebih hati. Jeda usia lumayan jauh awalnya jujur saja aku sudah underestimate bahwa bentuk pertemanan ini hanya akan berlangsung sebagai sebuah basa basi saja. Basa basi orang muda kepada orang yang lebih tua. Dan aku salah total!

Komunikasi jejaring sosial dengan perempuan itu menggelitikku. Tukang ngeyel, itu aset utama yang menarik perhatianku. Kalo asal ngeyel sih tak akan kugubris, argumennya memicu kerja otak yang kadang memburatkan secarik senyuman.

Hingga hari ke berapa aku belum juga tau namanya. Nomor ponselnya bertitelkan nama jejaring sosial yang -katanya- kini dimusnahkannya. Obrolan panjang lebar pun mengalir. Ia kian memikat. Tau sendiri, aku paling suka perempuan berotak. Memetakan isi pikirannya, menguras isi pikiran dan keterampilan argumentasiku. Namun tetap saja, relasi apapun tetap punya pasang surut. Bahkan aku gak nyangka hubungan ini masih hingga kini, pasalnya beberapa hari setelah saling kenal, kami beradu hebat. Kupikir aku tak akan mengenalnya lagi. Sampai2 aku mengutas doa yang kulafalkan di fesbuk, kalau memang untukku dekatkan, kalau bukan, tunjukkan. Esoknya, aku sumringah ketika pesan pendeknya mampir lagi di ponselku.

Siklus perkenalan yang bertahap; jejaring sosial, chat messenger, pesan pendek, obrolan by phone, dan penyebutan nama. Aku belum tau wajahnya! Meski begitu aku sudah cukup tau karakternya, meski ada juga beberapa ganjalan di otak. Dan bagian mengetahui bentuk fisiknya adalah satu lagi proses yang mengejutkan.

Setelah proses ulet dan penemuan beberapa fakta, ia kemudian membuka kedok wajahnya. Aku memang sengaja pura2 bego diantara sekian gambar tsb ia yang mana, meski aku sejak awal menduga ia yang berpakaian dan berparas cerah itu. Lalu apakah aku senang? Tidak! Aku bahkan berujar pada tetangga sebelah kost, diantara gemuruh hati yang mulai bersemi sepertinya aku harus memusnahkan rasa itu. Ia terlalu cantik untuk kudekati! Jadi jangan dikira wajah makin rupawan, aku kian senang, tidak, aku mundur saja kawan! Begitu ujarku yang dikecam tetangga sebelah.

Hari-hari hatiku terisi olehnya. Dering sahur. Pesan pendek penghilang kantuk pencipta kantung di bawah mata. Ejekan yang terus bersambung. Membagi benak untuk satu dan beberapa hal. Hmm, aku tak usah membunuh waktu sepanjang puasa, bahkan dua jam beradu eyel-eyelan dengannya seperti baru 10 menit saja, walhasil setelahnya kerongkongan macam habis karaokean berjam-jam.

Namun relasi apapun sepertinya tak akan mulus saja. Aku mengakui, fikiran negatifku tentangnya belum bisa hilang. Ada pertanyaan2 yang dilontarkan otak meski hati sudah setengah mati memangkas prasangka. Otak, kau mungkin benar tak ingin aku sakit lagi, ujar hati, tapi kalau kau terus mencari celah salahnya, aku tak akan menemukan belahanku untuk berbagi. Ya, hatiku kerap wanti2 untuk mengajari otak setulus seperti tawa dan senyuman yang dilakoni hati.

Ia telah tau hatiku, ya kemajuan yang menurut beberapa kawan patut diacungi jempol. Ia tak mengiyakan pun tak menolak. Aku bersepakat bahwa ya akan terlalu cepat untuk memutuskan ya atau tidak. Membiarkan semuanya mengalir the way it path! Menyilahkan sang waktu menyuguhkan diskusi panjang, adu pikiran dan pemahaman karakter masing2 sepanjang memberi manfaat positif bagi keduanya ke depan, aku tak akan mereka-reka apapun bentuk relasinya.

Wednesday, August 10, 2011

Cerita Gajah dan Simpanse

Gajah adalah kamu. Kamu yang tiba-tiba ada di list pengikutku di sebuah situs jejaring sosial. Perpaduan padi dan kopi, ID yang unik, filosofi padi padu padan kopi yang kau lontarkan masuk akal bagiku. Lalu kenapa Gajah? Karena kau bilang kau besar. Gajah besar, bukan?

Dan Simpanse adalah aku. Ia tak mau kalah dibilang Gajah, memanggilku Simpanse.
"Simpanse itu paling pintar lho diantara hewan lain, terutama untuk bangsa monyet!" elakku. "Daripada Gajah, cuma gede doang!"
"Mending Gajah, dianggap suci di Thailand, daripada Simpanse, nggilani (menjijikkan)"
Dan serentetan olokan lain mengikuti. Ya, perkenalan yang berawal di jejaring sosmed kemudian beralih chat messenger dan pesan pendek itu kemudian tak berhenti untuk tiap waktu saling olok dan ngotot, bahkan untuk bahasan sepele.

Perkenalan ini tak lantas mulus saja. Sejak awal mengenalmu aku mencium gelagat ada yang kau sembunyikan di balikku, entahlah, sepertinya banyak yang janggal darimu, dari mulai nama yang tak kunjung kau sebutkan dan nomer hape yang kadang hidup kadang mati. Asal tau saja, aku paling preventif dengan orang-orang model begini. Kau bukan orang pertama yang kuragukan dalam sejarah perelasian usai buyarnya relasi terakhirku. Aku mungkin terlalu antipati, ya begitulah aku! Perjalanan cintaku adalah guru paling buruk yang kemudian membentuk karakter preventif otak terhadap hati.

Monday, August 8, 2011

Introspeksi: Lagi-Lagi Soal Relasi!



Ya lagi2 soal relasi, ini yang juga lagi2 kurefleksi. Aku hafal betul karakterku. Memantulkannya dari seorang kekasih tetangga sebelah aku kerap men-share beginilah sifat kesamaan kami yang harus ia sadari. Pasalnya, perempuan ini kadang agak stres dengan karakter rumit pasangannya yang sama persis dengan karakterku. Dan lagi2, mewanti-wanti memang mudah diucap tapi ketika mempraktekkan pada diri sendiri, susahnya ampun deh!

Berelasi. Jauh2 hari aku sudah menegakkan diri untuk membuka hati. Meski tertatih, karena faktor penghambat utama aku sadari betul bukan eksternal. Internal perlu pembenahan, terkait ego. Ya, ego, harus diakui itu yang belum bisa ditaklukkan.

Sibuk dengan diri sendiri. Merasa nyaman seorang diri. Ya, rasanya aku memang harus mengakui, aku belum siap untuk berbagi dan membagi. Otakku masih terlalu sulit untuk dimengerti. Aku meyakini, this is not evil in my head, hanya kerumitan struktur otak yang sejak dahulu kala tak pernah mudah tercerna oleh orang lain selain diri sendiri.

Kata-kataku memang sepertinya melukai, tapi jauh didalam lubuk hati, aku hanya terlalu takut untuk tersakiti. Logika ini yang kemudian membentengi bertubi-tubi agar hati tak merasakan perih oleh dusta atau nista lainnya yang hendak meracuni raga.

Logikaku mungkin sekuat karang padahal jauh di palung terdalam hati teramat rapuh. Aku bersyukur logika setengah mati hendak melindungi hati dari perih, namun aku juga harus bersiap ketika ketegasan logika memusnahkan benih-benih hati yang mulai bersemi.

Aku rumit, MEMANG!!! Kadang aku merasa kasihan kelak siapa yang mendampingi hatiku di hari-hari sepanjang perjalanan waktu, atau ketika logika memberangus benih yang hampir tak pernah bisa disemai, melangkahkan hati bersendiri dengan logika yang siap melindungi a.k.a meracuni???

Karakter itu tak pernah bisa terubah. Aku hanya sedang belajar untuk hal-hal baru tapi tak menjadikanku sesuatu diluar diriku.