Monday, July 6, 2009

P E R T A N D A

Cinta... Biar saja ada
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagaimanapun hidup tetap hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan
Cinta...

Aku menuliskan bait terakhir dari lagu duet Melly feat Krisdayanti berjudul Cinta itu di status facebookku beberapa hari sebelum aku dibangunkan oleh dering telepon kala fajar yang mengabarkan bahwa ayahku berpulang ke haribaanNYA karena serangan jantung. Penyakit yang dideritanya kurang lebih 4-5 tahun ini.

Sebelah mataku memicing menengok angka-angka digital di kanan atas layar ketika mendengar ponsel di sebelahku berdering. Baru kemudian kuarahkan mata menengok nomor si penelepon. Nomor xl yang tak kukenali.
"Siapa nelpon subuh2 gini!" rutukku setengah hati menekan tombol hijau di sebelah kiri. Ujung telingaku mengenali suara itu. Suara adik ibuku. Perasaanku mulai tak enak. Dan tak menunggu sampai ia menjabarkan kabar apa yang hendak ia utarakan disela kalimat2nya agar aku tabah, aku telah bisa menerka ini pasti soal ayah. Pasalnya, sejak kematian adik kandungnya yang belum menginjak 40 hari, aku mendengar kabar bahwa penyakit jantungnya kian sering kambuh. Dari mulai nafas yang tersengal dan batuk-batuk. Kemudian aku hanya bisa bengong sekian lama, sebelum akhirnya perutku berkontraksi hebat. Diare. Aku selalu mendadak diare ketika terkejut. Alamiah. Selebihnya, aku masih diselimuti alam pikiran yang kian mengacaukan. Bersandar di dinding tanpa tau harus apa! Pikiran seakan kosong.

Dan entah kenapa sejak beberapa hari itu aku begitu menyenangi lagu yang sebelumnya teramat tak kusuka. Namun ketika kucermati satu demi satu bait lagu, khususnya bait terakhir yang mempunyai pola berbeda dengan isi lagu, bagian yang paling kugemari.

Selain lagu, entah kenapa aku juga teramat sangat ingin pulang. Bukan karena disaat yang sama aku juga sedang kalut oleh kemelut hidup hingga sempat menorehkan sebuah garis tipis yang boleh kugarisbawahi sebagai sebuah tempat terendah selama hidup. Aku benar-benar ingin pulang. Agar tak kurasakan kesendirian dalam tekanan pikiran di ruangan 3x3 yang harus serta wajib kulewati di tiap malam-malamku. Firasat kah?

Dan memang, aku sungguh pulang. Mendapati ibu penuh linang airmata dan meneguk kenyataan bahwa aku tak sempat melihat jenazah ayah sebelum disemayamkan di pembaringan terakhirnya karena waktu... Ya, waktu yang seakan terlalu kejam menjadikan jarak Jogja dan kota kelahiran ibu sedemikian jauhnya hingga tak lagi bisa terkejar olehku. Sungguh, kepulangan yang tak pernah kuharapkan. Kepulangan yang juga menyisakan bilur-bilur pemikiran yang terus-menerus terngiang dalam benakku.

Sehari sebelum berpulang, ayah bercerita pada adik perempuannya bahwa ia bermimpi didatangi oleh adik laki-lakinya yang baru meninggal itu dan menyuruhnya tanda tangan. Ayahku pun membubuhkan tanda tangan. Jikalau mimpi adalah sebuah pertanda, maka mimpi ayah adalah pertanda buruk bahwa ia akan menyusul adiknya tsb.

"Nggak, aku nggak mau mati dulu," sergah ayah ketika adik perempuannya beropini perihal mimpinya. "Aku masih punya tanggungan! Anak perempuanku belum kawin!" imbuhnya.
Cerita yang menohokku telak. Tanggungan yang ia maksud jelas2 adalah aku! Sebuah perasaan bersalah seketika menyelusup dalam nuraniku. Diatas semua kekurangan ayah, tapi akulah yang selalu menjadi kesayangan ayah sejak dulu. Sedang kakak laki2ku adalah kesayangan ibu. Memang tak terlihat secara langsung, hanya saja konstruksi pemikiranku mengatakan demikian.

Dan ketika beliau pergi untuk selama-lamanya, ganjalan pemikirannya kini sepenuhnya beralih padaku. Meski ibu pun mulai kasak-kusuk menanyaiku perihal kapan akan membina rumah tangga. Ibu yang dulu-dulu tak pernah bertanya apalagi mendesak, kini seakan ikut tren adik perempuannya bertanya-tanya hal tabu untuk diusikkan padaku.

Aku kembali ke Jogja bukan untuk lari, meski tak kupungkiri sedikit mengatasi kejengahanku atas perasaan bersalah yang hinggap disela-sela pikiranku. Tapi tak lantas aku bisa sebegitu enaknya terlepas dari himpitan perasaan itu, karena kemelut pikiranku kian berputar cepat di otakku.

Ayah memang telah pergi, tapi terkadang bayangan dan memori kebaikan-kebaikannya padaku serta perilaku kekurangan-kekuranganku padanya silih berganti memenuhi fikiranku.

Sedih jika teringat aku belum dapat menyenangkan dan memberi imbalan yang memang tak pernah ia minta atas segala peluh yang ia cucurkan hingga aku menjadi seperti sekarang. Kesedihan yang tak akan pernah terbayar olehku selain doa dan harapan agar aku selalu digariskan untuk tak pernah lupa mengirim lafazh Alquran penyejuk di pembaringan abadinya.

Tetes airmata yang akan terus mengaliri sungai nuraniku untuk terus mengubur penyesalan yang takkan terbayar.

Sunday, July 5, 2009

Life Begin @ 27+

Sebuah tulisan di bulan Juni yang baru sekarang sempat ter-publish...

Judul yang lantas kujadikan kutipan diatas memang termasuk tak lazim karena kutipan yang lebih familiar umumnya adalah Life Begin @ 40! Tak masalah, karena bagiku bukan masalah usia. "Hidup" bisa dimulai kapan pun!

Sedikit kilas balik, ketika aku mem-publish tulisan sebelumnya, hal pertama yang aku terima seperti biasa adalah cercaanmu. Kadang aku fikir, kamu itu sebenarnya baca blogku seutuhnya atau sekedar meneliti bagian mana yang akan kau cercakan padaku? Karena bukan sekali dua kali ini saja, kau melakukannya tiap kali aku habis mem-posting tulisan baru di blogku. Ada saja cercaan yang kau pedaskan padaku. Malah kufikir, kau memang tak baca blogku, hanya mencari kesalahan untuk kau jadikan umpatan dan jika kau tak menemukannya maka jalan pintasnya adalah mengarangnya sendiri. Menciptakan imajinasi, membalik fakta dan memutar kata, yah apalah yang penting marah-marah. Menuduhkan sesuatu yang tak pernah kulakonkan. Hah, jika kukupas satu-satu nanti kau akan berfikir -seperti biasa- bahwa aku selalu menjatuhkanmu lewat tulisan-tulisanku.


Aku tak ingin bicara fakta atau bukan realita, aku juga tak sedang ber-pro kontra. Kurasa sudah terlampau cukup tiap hari terbuang dengan cacian, makian dan marah-marah. Kadang (baca: sering) pertanyaan ini malang melintang di benakku, apa yang sebenarnya kau cari dan kau ingini dariku? Setiap detik dalam 7 hari seminggu kau mengabsen kekuranganku seolah aku ini bukan makhluk berperasaan. Kau selalu berfikir tentang perempuan lainku, perempuan selingkuhanku, dan perempuan-perempuan yang entah apalagi sebutannya. Hei, apa kau tak mengerti juga, aku sedang bertarung demi kelangsungan hidupku, tapi kenapa kau malah konyol berhalusinasi hal-hal yang bahkan tak terlintas di otakku di saat-saat genting ini? Apa kau tak cukup faham? Sepertinya hampir tiap hari aku mendentingkan apa yang menjadi beban pikiranku. Kemana telingamu? Aku yakin kau tak tuli, bahkan kau yang memvonisku tuli karena hanya ber-ha he ho saat bicara. Apa kau tak cukup peka hidup sedang menggempurku jatuh saat ini?

Aku bisa merasakan kau menjadi orang yang berbeda akhir-akhir ini, tapi aku tak akan menyalahkan. Bagiku kau telah cukup banyak berarti. Itulah sebab beberapa waktu lalu aku pernah berkata: Apapun yang terjadi pada hubungan kita kelak, aku tetap ingin menjadi bagian hidupmu. Karena apa yang telah dan pernah kau beri serta lakukan padaku takkan pernah bisa terbayar oleh apapun. Aku diam karena aku teramat menghargaimu. Aku mungkin terlalu sulit untuk kau mengerti dan aku tak akan meyakinkanmu untuk mengerti apalagi mempercayaiku. Waktu dua tahun kurasa cukup untuk membuatmu tahu segalanya tentang aku tanpa perlu kujabarkan detil pemikiranku. Hanya saja, jika kau selalu meminum air laut ketika bersamaku, maka kau akan selalu haus karena yang kau lihat adalah selalu kekuranganku.

Hidupku mungkin dimulai di usia 27+. Semoga tak terlalu tua mengawali babak kedewasaan baru yang disodorkan dunia padaku untuk dilakoni!