Sunday, December 9, 2012
"Spesial"?
Kata spesial yang ingin kuceritakan adalah tentang orang-orang pilihan dalam hal-hal yang tak kasat mata.
Mulai klenik? Tampaknya demikian. Hal ini terkait dengan kegelisahanku akhir-akhir ini. Dimulai dari selalu terjaga tiap jam 3an pagi. Bukan sekali dua kali tapi tiap hari seperti ada yang membisiki untuk bangun.
Pun intuisi yang kian menguat. Ketika akan ada kejadian buruk, meski itu sepele, seperti ada yang membisiki, kadang kulakukan kadang mengindahkan.
Dan ada dua kejadian dimana sesuatu itu menyusup lewat mimpi dan esok harinya mendapat kabar tak baik tentang sahabat jauh dan satu teman sekerja. Kalau untuk kasus begini kayaknya udah lumayan lama bisa ngerasa, waktu pamanku mau dipanggil Tuhan, alam bawah sadarku memberatkanku untuk terjaga kayak ada yang pamitan. Makanya untuk yang satu ini tiap merasa gak enak, aku selalu berlafal hal-hal yang baik semoga selalu menyertai.
Ngigau. Adalah kebiasaanku ketika terlelap. Kata ibuku, dan beberapa kawan yang pernah sekamar atau mampir di kamarku. Saking kagetnya, pernah ada kawan yang "ketakutan" dikira aku kesurupan. Hmm, ibu sejak dulu mewanti-wanti, karena sedari di rumah dulu, desauan dari mulutku yang tak jelas itu adalah rutinitas tak hanya malam tetapi tiap mataku terpejam. Terlebih ketika otakku menyisakan satu beban untuk dipikirkan, aku bahkan bisa melihat igauanku.
Mengigau bagiku adalah batas antara nyata dan bawah sadar, pemisahan antara jiwa dan raga. Ruh terlepas, melayang, dapat melihat raga, namun tak bisa menyentuhnya. Kata ibu, kalau kebablasan, ruh itu bisa tak kembali pada raga. Ngeri bukan? Awalnya, aku tak seberapa menganggap hal tsb penting, tetapi saat di awal tahun ini hingga pertengahan aku hampir tiap hari karib dengan igauanku, aku sedikit cemas. Beruntung setelah satu persatu keruwetan hati yang bernaung di otak terburai, igauanku kemudian hanya menjadi penghias tidur.
Namun malam itu lain cerita. Gak tau kenapa, bulan kesebelas lalu itu terdengar klenik. Banyak kejadian, intuisi ataupun pertanda yang aku pun "takut". Ngigau malam memang sudah gak asing. Tapi "tindihan", begitu orang jawa mendefinisikan kondisi alam nyata dapat dengan jelas memantau alam bawah sadar tetapi raga tak dapat digerakkan, meski ruh sudah menyuruh, ini tak biasa. Butuh jeda lama ketika ruh meneriaki raga untuk menggerakkan bagian tubuh. Benar-benar buruk! Aku kehilangan kata untuk menjabarkan suasana magis yang ketika seluruh tubuhku berfungsi normal lagi angka digital di ponsel menunjuk angka 3 dini hari.
Selasa kliwon. Aku sudah menebak ini ada kaitannya! Pun angkara yang menjebakku untuk mengikuti murka akan hal-hal sepele. Beruntung ada sisi dalam diri yang mengingatkan untuk tetap tenang. Ya, aku meyakini kalau hawa nafsu itu kuturutkan, tak sampai jengkal malam aku yakin aku akan memulai merusak diriku sendiri.
Berbincang dengan pemberi nafas setiap akan memejamkan mata. Tak boleh terlewat untuk dilakukan..
Friday, December 7, 2012
#Ketahuan!
Ini sebenarnya peringatan buatku untuk tidak menaruh ponsel sembarangan...
Ia yang mengutak-atik ponselku tanpa permisi itu adalah teman satu divisi perempuan itu yang sedari awal agak curiga karena nama perempuan itu bisa dibilang kerap kulafalkan dalam setiap perbincangan kami. Tetapi aku tidak setuju caranya yang tiba-tiba mencomot ponselku. Sebenarnya ia tak akan bisa masuk karena ada patron kunci yang harus ia pecahkan, namun apa yang tertera di wallpaper dapat ia lihat dengan jelas. Itu yang mengusik kegusaranku!
Ia memang lantas meminta maaf, dan sangat merasa bersalah, apalagi melihat raut mukaku. Padahal aslinya aku yang deg-degan, kalau ia mengadu maka mau ditaruh mana mukaku? Hmm, kegusaranku waktu itu cukup bertahan lama hingga beberapa hari. Namun ketika dalam rentang waktu tsb perempuan yang kuduga akan berubah sikap padaku itu tak menampakkan tanda-tanda menjauh dan malah kian akrab, maka sepertinya #Ketahuan teman sekerjanya tak membuat perubahan signifikan.
Btw, setengah jam sebelum kejadian #Ketahuan itu terjadi, sudah ada yang membisiki untuk mengganti wallpaperku, tetapi aku mengindahkan karena tak mungkin akan ada yang mengutak-atik ponsel yang selalu kutaruh di saku. Hmm, mulai sekarang aku akan lebih mencermati intuisiku...
Ia yang mengutak-atik ponselku tanpa permisi itu adalah teman satu divisi perempuan itu yang sedari awal agak curiga karena nama perempuan itu bisa dibilang kerap kulafalkan dalam setiap perbincangan kami. Tetapi aku tidak setuju caranya yang tiba-tiba mencomot ponselku. Sebenarnya ia tak akan bisa masuk karena ada patron kunci yang harus ia pecahkan, namun apa yang tertera di wallpaper dapat ia lihat dengan jelas. Itu yang mengusik kegusaranku!
Ia memang lantas meminta maaf, dan sangat merasa bersalah, apalagi melihat raut mukaku. Padahal aslinya aku yang deg-degan, kalau ia mengadu maka mau ditaruh mana mukaku? Hmm, kegusaranku waktu itu cukup bertahan lama hingga beberapa hari. Namun ketika dalam rentang waktu tsb perempuan yang kuduga akan berubah sikap padaku itu tak menampakkan tanda-tanda menjauh dan malah kian akrab, maka sepertinya #Ketahuan teman sekerjanya tak membuat perubahan signifikan.
Btw, setengah jam sebelum kejadian #Ketahuan itu terjadi, sudah ada yang membisiki untuk mengganti wallpaperku, tetapi aku mengindahkan karena tak mungkin akan ada yang mengutak-atik ponsel yang selalu kutaruh di saku. Hmm, mulai sekarang aku akan lebih mencermati intuisiku...
Thursday, December 6, 2012
Masih Tentang #KayakTitiSjuman..
Ada yang hilang. Mungkin ungkapan itu yang lumayan mewakili. Meski hanya 4 +1 hari adalah waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan, tetapi berada dalam satu ruang selama hampir 12 jam 4 hari berturut-turut mau tak mau sudah membuat pola waktu yang sama dan ketika itu berubah maka otomatis ada yang kurang dalam hariku. Meski kemudian pesan-pesan singkat mendekatkan di tiap hampir senggang kegiatan, tetapi senyuman itu tak tergantikan oleh emot-emot yang selalu kau sertakan dalam percakapan kita...
Dan aku baru sadar, rentang kebersamaan empat hari itu tak pernah kita gunakan untuk ngobrol. Hanya saling pandang dan chat gak penting, bukan tentang saling mengenal. Ya, hanya flirting! Beruntung kemudian ia banyak mengoceh di BBM, itu pun kalau ia sedang tak sibuk. Hmm, wajar, selama menjadi panitia ia sangat tanggungjawab pada tugasnya. Saking seriusnya, mukanya keliatan galak...
Menurut teman-temanku, wajahnya adalah cerminan perempuan judes. Ekspresinya dingin. Ditambah cara bicara dan cara jalannya. Tetapi menurutku adalah kebalikannya. Aku memang sepakat cara jalan dan tiap inchi wajahnya mencerminkan ketegasannya. Tapi judes dan galak, aku tak pernah merasakannya. Setelah menerima uluran tangan yang menyertakan senyumannya, hal-hal yang kudapati adalah keramahannya, senyum khas Titi Sjumannya dan guyonan garingnya. Wajahnya mungkin tampak dingin, tetapi aku menganggap itu ekspresi pura-pura oon-nya. Selama mataku mengekornya ia ramah pada orang, tetapi ketika berkenaan dengan pekerjaan raut mukanya akan tampak sangat serius. I love the expression of this women!
Dan kini aku ingin lebih mengenalnya. Jejaring sosialnya telah kutemukan, tanpa gembokan, hingga gambar-gambar dirinya bisa dilahap orang yang menjelajah. Aku kemudian menanyakanmu pada mbah gugle... Ya era teknologi jaman sekarang ini menyisakan batas tipis antara informasi dengan apa yang disebut pengintai. Dan mbah gugle menyuguhkan sesuatu yang tak kuduga tentangmu... Hanya bunyi ckckck yang keluar dari mulutku. Aku kian mengaguminya!
Pesan pendek hampir tiap hari menyurutkan jarak dan waktu, semoga kan selalu begitu!
Dan aku baru sadar, rentang kebersamaan empat hari itu tak pernah kita gunakan untuk ngobrol. Hanya saling pandang dan chat gak penting, bukan tentang saling mengenal. Ya, hanya flirting! Beruntung kemudian ia banyak mengoceh di BBM, itu pun kalau ia sedang tak sibuk. Hmm, wajar, selama menjadi panitia ia sangat tanggungjawab pada tugasnya. Saking seriusnya, mukanya keliatan galak...
Menurut teman-temanku, wajahnya adalah cerminan perempuan judes. Ekspresinya dingin. Ditambah cara bicara dan cara jalannya. Tetapi menurutku adalah kebalikannya. Aku memang sepakat cara jalan dan tiap inchi wajahnya mencerminkan ketegasannya. Tapi judes dan galak, aku tak pernah merasakannya. Setelah menerima uluran tangan yang menyertakan senyumannya, hal-hal yang kudapati adalah keramahannya, senyum khas Titi Sjumannya dan guyonan garingnya. Wajahnya mungkin tampak dingin, tetapi aku menganggap itu ekspresi pura-pura oon-nya. Selama mataku mengekornya ia ramah pada orang, tetapi ketika berkenaan dengan pekerjaan raut mukanya akan tampak sangat serius. I love the expression of this women!
Dan kini aku ingin lebih mengenalnya. Jejaring sosialnya telah kutemukan, tanpa gembokan, hingga gambar-gambar dirinya bisa dilahap orang yang menjelajah. Aku kemudian menanyakanmu pada mbah gugle... Ya era teknologi jaman sekarang ini menyisakan batas tipis antara informasi dengan apa yang disebut pengintai. Dan mbah gugle menyuguhkan sesuatu yang tak kuduga tentangmu... Hanya bunyi ckckck yang keluar dari mulutku. Aku kian mengaguminya!
Pesan pendek hampir tiap hari menyurutkan jarak dan waktu, semoga kan selalu begitu!
Wednesday, December 5, 2012
4 +1 Hari with #KayakTitiSjuman
Aku tak menduga awal Desemberku dibuka dengan hal-hal tak terduga yang menyenangkan...
Mengapa aku beri judul Kayak Titi Sjuman? Tau sendiri ketika artis tsb berada di Jogja untuk sebuah produksi film, aku lumayan "kesetanan" untuk mengetahui tiap titik keberadaannya dan "menguntit"nya. Nge-fans mungkin ga terlalu, cuma pengen liat aja. Dan bagaimana ketika tau awal Desemberku akan terisi oleh si #KayakTitiSjuman ini?
Perempuan ini awalnya berinteraksi denganku via email di akhir November. Ada sebuah event besar yang akan diselenggarakan oleh tempatnya bekerja. Bosku memberiku nomernya untuk kuhubungi, melancarkan teknis komunikasi.
Dan tentang "membenci" nama seseorang tanpa pernah bertemu muka terulang lagi. Ya, aku lumayan gak suka dengan nama perempuan itu untuk kulafalkan. Dan hal tsb terwujud dengan penciptaan "sosok" dalam benakku tentangnya. Aku membayangkan perempuan itu adalah perempuan bertinggi sedang, agak berisi alias chubby dengan rambut ikal dan kulit kuning langsat. Kreatif bukan? Makanya ketika asik ber-sms-an dengannya karena event sudah dekat, bayangan sosok itulah yang melekat di kepalaku.
Dan parahnya, bayangan itu meracuni moodku. Aku tak seberapa tertarik dengan apa yang kulakukan disana; pasti membosankan, cetusku. Makanya, aku memilih partner jaga yang tidak membosankan. Dua jam sebelum acara ketika OTW menuju lokasi, sebuah nomor XL menghubungi. Perempuan itu. Dan ini kali pertama aku mendengar suaranya, tentu saja lengkap dengan gambaran sosok yang kulukis di otakku tadi. Perempuan yang tidak menarik, begitu konklusi singkatnya.
Setengah jam kemudian aku beserta kru kantor sampai di lokasi. Penghubung antara kantorku dan kegiatan ini hanya aku. Dan aku mencari-cari sosok yang "kubenci" dalam ingatanku itu. Ya, aku benar-benar percaya bahwa perempuan yang setengah jam lalu menelponku itu akan chubby dan berambut ikal. Namun yang mendekat ke arahku kemudian sembari menyuguhi senyum termanisnya adalah perempuan semampai dengan lesung di pipi dan senyum khas Kayak Titi Sjuman.
Glek. Aku menelan ludah segalon, kemudian merutuki kebiasaan burukku membayangkan sosok orang hanya dari namanya. Tapi itu berlangsung sebentar karena detik kemudian aku mencermati tiap kata-kata yang meluncur dari Kayak Titi Sjuman ini tentang segala tetek bengek event ini. Kemudian satu senyuman panjang terburai di bibirku.... Hari-hariku pasti akan indah...
Aku gak seberapa tau kenapa aku dulu ngefans ama Titi Sjuman, wajahnya juga gak cantik-cantik amat, tapi aku suka aktingnya. Dan si Kayak Titi Sjuman ini... Hmm, sebuah pikiran nakal hadir; pasti akan kugodai... Namun tak ada asap kalau tak ada api, bukan? Ya, aku tak akan memulai kalau tak mendapat respon "positif".
Dan yang kumaksud respon "positif" disini adalah betapa ramah [rajin menjamah, red] nya perempuan itu. Ketika menata barang ia kerap riwa riwi sembari tangannya menempel entah di lenganku, di bahu dan pinggang. Hmm, satu dua kali sentuhan masih kuanggap wajar, lebih dari itu, maka aku akan membalas keramahannya itu.
And then I called it as Gedebug Love! Karena seperti dijatuhkan dari langit tak terduga. Dan aku termasuk orang yang fokus pada satu orang, artinya tak akan pecicilan karena jarak pandangku sepertinya sudah hanya padanya.
Malam pembukaan. Beberapa peserta kegiatan ini kukenal, namun karena tau sendiri aku terkenal gagap komunikasi, hanya terbatas say hi dan komunikasi pendek lainnya. Beberapa teman baru kemudian diperkenalkan padaku. Hmm, dan perempuan itu ada di salah satu meja dengan grup kantornya.
Usai pembukaan, perempuan itu datang untuk briefing event esok hari. Disinilah keramahannya dimulai. Sentuhan di pergelangan tangan, lumayan lama. Ia meminta kehadiran pukul 07.30 esok hari.
"Aku udah bangun apa belum ya jam segitu," celetukku padahal aku terbiasa bangun pagi.
"Harus bangun lah," ujarnya termakan omonganku.
Dan malam itu kututup dengan ucapan sampai ketemu besok padanya.
Hari Kedua.
Aku menetapkan perempuan itu sebagai orang pertama yang kucari. Pasalnya, tempat barang masih terkunci dan aku tak tau nomer panitia lokal. Perempuan itu ada di selayang mata dengan hamparan lorong yang tidak memungkinkanku meneriakinya. Come on, ini hotel! Aku mengiriminya pesan pendek, ia tak menunjukkan tanda-tanda merogoh saku, masih sibuk dengan aktivitasnya di depan LCD.
"Kayaknya kita musti nyamperin," ujarku pada partner jagaku. Sebenarnya malas saja melewati lorong lalu harus kembali lagi ke tempat barang, melewati lorong lagi, lalu ke tempat display. Malas, bukan?
"Aku sms kamu, gak bawa hape ya," tanyaku menyentuh bahunya ketika lewat.
"Bawa sih, tapi gak updet,"
"Nanya kunci tempat nyimpen barang, mau ambil barang, soalnya gak punya kontak panitia lokal" kataku menjabarkan.
Perempuan itu menunjuk perempuan berjilbab yang bahkan tidak ku tau namanya.
Ketika sibuk menata, ia tiba-tiba lewat dengan senyum khas Titi Sjumannya. Basa basi yang basi banget adalah ketika ia berujar tentang kunci yang kutanyakan tadi. Hmm, gak punya bahan bicara kemudian mencari-cari obrolan, baeklah!
Kukira ia akan pergi bersama rombongan yang hari itu akan field trip. Ternyata ia bertanggungjawab dengan tugas kerjanya.
Aku kemudian rerasan tentangnya pada partner jaga yang cs-ku banget.
"Eh tapi kayaknya dia udah punya anak lho, kemarin ku lihat dia gendong anak," ujar partner jagaku. Aku sih ga percaya.
"Anak orang kali..."
"Nggak ah, wong wajahnya mirip kok"
Aku tetap gak percaya.
Saat lunch, ia datang dengan menggendong anak.
"Nih lho yang kulihat kemarin, bener tho?"
Dalam hati tetep gak percaya. Lunch-ku jadi gak fokus.
"Eh, kenalin ini kakakku, tinggalnya di jogja lho," ujarnya memperkenalkan sepasang suami istri, si perempuan hampir mirip dengannya hanya kulitnya berbeda jauh, kepadaku.
Sebenarnya, aku merasa "aneh", kenapa tiba-tiba ngenalin kakaknya padaku sedangkan banyak orang lain disana? Bukan ge er, tapi apa pentingnya? Dan kemudian aku harus berbasa-basi menanyakan tempat tinggal bla bla bla.. Untung ada cs-ku yang ga bikin garing suasana.
"Tuh kan, dia gak punya anak!" kataku pada cs-ku
"Seneng kowe!"
Hari ini hanya setengah hari melewatinya bersama perempuan bergaris pelangi itu. Aku sebenarnya kerasan, namun memang tak ada aktivitas karena para peserta field trip sedangkan peserta yang dikatakan akan hadir untuk daftar juga tak ada.
Sorenya, aku kesana lagi, untuk briefing tugasku di hari ketiga dan keempat, tapi tak menemukan batang hidungnya.
Hari Ketiga
Hari ini tugas saya dalam event ini berganti dari jaga stand menjadi rekam proses di panel bersama dua orang lainnya.
Jam 8 hampir setengah 9 aku sampai di depan stand yang masih di tata. Perempuan itu tak kulihat di sekitar areal pameran. Agak tak semangat juga jadinya, ciyee sudah mulai lebay nih... Namun tetiba gak tau darimana datangnya kayak jatuh dari langit aja, perempuan yang hari ini berkaos biru itu ada di sebelahku sedang memberi double tape pada kertas yang kemudian ditempelkan di bawah foto yang dipamerkan.
Dari kostumnya sih kelihatan kalo dia pasti belum mandi. Jeans dan kaos biru, sedangkan aku dan peserta lain diharuskan pake batik, kontras bukan?
"Belum mandi ya?"
Dia mengangguk.
"Gimana ini jam segini kok belum mandi?"
"Iya, entar. Daripada bilang udah mandi ternyata belum mandi." ujarnya tak mau kalah.
Ketika acara pembukaan sudah dimulai lumayan lama, ia muncul habis keramas dengan padanan coklat. Makin mirip Titi Sjuman aja. Cuma cara jalannya maskulin banget.
Ada beberapa kejadian hari ini yang lumayan bikin geli. Perempuan itu punya tampang khas pura-pura oon, dia tau aku di dekatnya tapi pura-pura gak tau. Kayak ketika ia mengambil duduk di baris belakangku, ia kayak pura-pura tak tau aku di depannya, lalu akan tersenyum ketika kami bertemu pandang. Belum lagi lagaknya yang tetiba berdiri diam satu meter di sebelahku yang lagi ngobrol ama teman-teman Jogja. Ya kalau mau nimbrung kan tinggal gabung saja, nah ini berdiri diam apa sebenarnya pengen disapa duluan ya? Dan sikap-sikap kayak gitu terjadi berulang.
Waktu itu ia terpaku di meja stand sebelah, entah apa yang dibacanya. Lalu aku dengar suara film yang diputar lagi adegan interview survivor tapi dengan pertanyaan2 yang tidak boleh diajukan, apalagi di filmkan.
"Film apa ini," tanyaku tidak pada siapa-siapa.
Perempuan itu menolehku dan menjawab. Tuh kan, jadi tujuan berdiri diamnya itu apa emang menanti disapa dan ngobrol?
Menjadi rekam proses otomatis "memisahkanku" dengannya. Aku berganti-ganti ruang sedang ia hanya di selasar. Parahnya, jam berakhir antar panel itu tak kompak. Ada yang sudah selesai, sementara di ruangan lain belum. Dan itu yang terjadi padaku di panel satu yang masih asik debat sedangkan jam harusnya sudah berakhir, ditambah orang-orang panel selanjutnya sudah berdatangan. Sembari lumayan panik karena jarak antar ruangan yang dipakai lumayan tidak dekat, aku agak tergesa menuruni tangga dan melewati selasar pameran; lewat depanmu sih maksudnya.
"Hai, hai" Sebuah sapaan singkatmu yang mengademkan kepanikanku, menggantinya dengan senyuman. Ahh co cwit deh...
Hari Keempat
Last day with you... Kenapa hari begitu cepat? Pertanyaan yang tak ada jawabnya, selain mengamini pepatah waktu akan berasa cepat berlalu untuk orang yang sedang bahagia.
Pagi ini seperti kemarin aku menemukannya berkaos putih dan celana jeans. Tetap menarik, justru aku memang tertarik dengan perempuan yang tampak menarik ketika ia memakai pakaian kasual daripada ia sudah terpoles apalagi dengan ketebalan selayak mau tampil di tivi aja. Bahkan ketika perempuan itu berganti busana formal, ia tak tampak memoles wajahnya. Natural, and I like it!
Perempuan itu sedang mengutak atik LCD ketika aku menyapa seorang teman tak jauh darinya. Kami mengobrol, padahal menyapa teman itu adalah bagian strategi basa basi agar menariknya dalam obrolan. Dan strategiku berhasil. Perempuan itu juga menerapkan strategi tiba-tiba mengaitkan obrolannya dengan si temanku yang juga adalah teman kantornya. Walhasil, kami mengobrol sebentar.
"Makasih, buat aku ya.." ujarku seraya menunjuk sebungkus cokelat Delfi kepunyaannya yang langsung ia cengkeram erat seolah berkata jangan ambil.
"Cuma punya satu, itupun dikasi." jawabnya polos.
Aduh, mbak, yang mau minta juga siapa, kan cuma godain.
"Buruan mandi, dari kemarin jam segini belum mandi,"
"Iya, ya"
Usai panel pertama yang letak ruangannya dekat dengan selasar pameran, aku tak menemukan batang hidungnya. Kata temanku ia memang belum muncul sejak tadi. Walhasil, sering celingukan ke arah selasar menjadi aktivitasku selanjutnya.
Dan jeda panel pertama dan kedua memang lumayan lama. Akhirnya yang kutunggu tiba... Perempuan itu dengan batik ijo pupusnya... Hmm, kian mirip Titi Sjuman saja, kecuali cara jalannya hehe aku tak menganggap cara jalannya tak indah, hanya tak seperti perempuan kebanyakan. Tegap dan cepat, sama kayak cara kerjanya, pun lekukan wajahnya. Rambutnya kembali basah terurai... Cantik!
Dan panel kedua kurasa akan memisahkanku dengannya, namun takdir atau jalan cerita berkata lain. Aku ada di panel Seksualitas dan Pemiskinan, tema yang menarik menurutku, paling tidak istilah2nya dikenali oleh kupingku, daripada kosa kata pertambangan. Ketika preparing ruangan dan materi, tiba-tiba perempuan berbatik ijo itu memasuki ruangan. Kukira akan hanya mengurusi hal teknis, eh kok dia duduk manis di kursi peserta.
Ada yang bersorak di relung terdalamku, selain nervous merekam proses dengan dia ada dalam ruangan akan memecah konsentrasiku. Kegirangan hati ini harus ku kontrol. Karena selain ia tampak santai dengan muka pura-pura oon-nya, plus tugas ini tak boleh bikin aku nge-blank.
Salutnya buat nih cewek adalah ia tangkas dan mumpuni banget jadi seksi perkap. Ketika mendengar microphon narsum agak tersendat, ia langsung berdiri, menyodori mic penanya. Yang kusalutkan, bahkan panitia di ruangan itu tak sensitif, tapi ia cekatan, dan sekali lagi dengan muka khasnya, ia tau aku duduk di meja notulen tapi senyumnya hanya ia biaskan lewat ekor mata. Duh mbak, kok ngegemesin sih!
Btw ada ide jail yang menghinggapi otakku mengingat hari ini terakhir aku melihatnya. Aku menodong teman sekantorku yang jaga stand untuk memotretnya diam-diam. Dan dalam proses itu, kata temanku perempuan batik ijo itu sempat curiga dengan bertanya:"kamu mau memotretku kah, mbak?"
Dan untung temanku dengan pintar menjawab: "Nggak, mau memfoto tas kok, tapi kalo mbak mau jadi modelnya malah bagus!" Dan perempuan itu menjadi modelnya.
Aku tau ia akan curiga karena ia tau si pengambil gambar adalah teman kantorku.
Panel kedua berakhir, sekaligus menyudahi kerjaku. Dan menunggu rapat sebelum konpers hasil konferensi adalah jeda dimana aku ingin waktu berjalan melambat kalau perlu rapatnya dibikin lama saja. Menikmati curi-curi pandang dan curi-curi senyum diantara aktivitasnya. Mengekornya di selayang mata. Kok aku gak rela ya hari ini terakhiri?
Dan ia berpamitan ke tiap stand. Satu lagi yang kukagumi, ia sangat appreciate banget ke tiap orang. Mengajakku toast sebagai ucapan terima kasih, aku kemudian menariknya untuk berbincang. Aku sudah tau dua nomor hapenya, tapi berinteraksi di BBM akan jauh lebih baik, bukan?
Dan entah kenapa, banyak momen yang sepertinya bukan hanya kebetulan, tetapi takdir. Ada seorang kawan dari Medan mengajakku berfoto, kebetulan yang fotoin adalah rekan kerja si Titi Sjuman. Dari dua orang, menjadi empat orang, lalu kelipatannya, semua tertarik berfoto bersama. Aku meneriaki perempuan batik ijo itu untuk gabung foto bersama, ia mendekat. Dan modus sukses itu tak kulewatkan begitu saja. Aku mengambil kameraku, kali ini mengajaknya foto berdua saja. Tetapi si anak Medan tadi minta ikut foto bersama. Dan jawaban si Titi Sjuman ini mengagetkan sekaligus bikin aku ngakak.
"Gak baik foto bertiga, pamali, hush hush.." Hmm, jawaban sekaligus kode yang bagus.
Dan pose pertama yang hot adalah saling peluk, merekatkan tangan di pinggang masing2. Namun karna si potograper yang adalah teman saya tak seberapa pintar, maka tak terjepret.
"Kok ga ada blitznya?" tanyanya.
Setelah ku cek, emang gak terjepret. Ia meminta diulang, tetapi dengan pose berbeda. Ia membelakangiku, namun tubuhnya melekat di bagian depan tubuhku dan tanganku menggantung di pundaknya. Dan saya baru nyadar, stand2 lain sedang memperhatikan kami, and I, or we don't care. Ia sangat enjoy dengan sesi poto ini.
Dan yang bikin geli adalah pada akhirnya perempuan batik ijo ini sebenarnya mau foto bertiga dengan si anak medan tadi. Lalu kenapa tadi pake acara nolak dan bilang pamali? Mencurigakan!
Dan waktu memang benar-benar kejam. Ia memisahkan. Perempuan itu tau betul ketidakrelaanku. Di depan, ia yang tengah bersama kakak dan keponakannya mengantarku dengan senyumnya dan seutas janji akan main ke kantor bersama Bos-ku. Janji yang harus kau tepati, nona!
+1 Hari Lagi With #KayakTitiSjuman
Aku sebenarnya memang tak merasa bahwa hari keempat itu menjadi hari terakhir kami. Dan lagi-lagi, aku tak bisa mendefinisikan batas antara kebetulan dan takdir untuk kami. Begini ceritanya...
Tanggal 3 Desember hampir tengah malam ada sebuah email undangan ikut workshop di tempat yang sama dengan event 4 hari itu masuk di email kantor. Tanggal acara adalah hari setelah konferensi itu berakhir. Dan tau tidak, aku tak mengunduh TOR dan tetek bengeknya, hanya langsung mengisikan namaku pada lembar konfirmasi padahal aku tak tau workshopnya tentang apa, yang aku tau feelingku mengatakan aku akan masih bisa ketemu Titi Sjuman di hari itu.
Dan memang benar-benar malas untuk hadir. Kedatanganku adalah alibi untukku beralasan berada di hotel itu.
Dan sekali lagi aku percaya ini bukan kebetulan tetapi takdir. Melihatnya dalam kasual kaus putih dan jeans, ia menepuk pundakku dan menyajikan senyum termanisnya ketika aku sedang menunggu teman sembari mengobrol dengan temannya yang wajahnya mirip tanteku itu.
"Ikut yuk ke Beringharjo" tawarnya padaku.
Maunya sih ikut, tapi kan aku kesini mau workshop gak penting itu. Hmm, padahal kalau nekat sih bisa, tapi kadung janjian ama teman untuk ikutan workshop.
Ia berpamitan. Dan pesan pendek BBM menemani hingga ia mematikan ponsel lepas landas meninggalkan Jogja.
Will be miss u a lot #KayakTitiSjuman...
Mengapa aku beri judul Kayak Titi Sjuman? Tau sendiri ketika artis tsb berada di Jogja untuk sebuah produksi film, aku lumayan "kesetanan" untuk mengetahui tiap titik keberadaannya dan "menguntit"nya. Nge-fans mungkin ga terlalu, cuma pengen liat aja. Dan bagaimana ketika tau awal Desemberku akan terisi oleh si #KayakTitiSjuman ini?
Perempuan ini awalnya berinteraksi denganku via email di akhir November. Ada sebuah event besar yang akan diselenggarakan oleh tempatnya bekerja. Bosku memberiku nomernya untuk kuhubungi, melancarkan teknis komunikasi.
Dan tentang "membenci" nama seseorang tanpa pernah bertemu muka terulang lagi. Ya, aku lumayan gak suka dengan nama perempuan itu untuk kulafalkan. Dan hal tsb terwujud dengan penciptaan "sosok" dalam benakku tentangnya. Aku membayangkan perempuan itu adalah perempuan bertinggi sedang, agak berisi alias chubby dengan rambut ikal dan kulit kuning langsat. Kreatif bukan? Makanya ketika asik ber-sms-an dengannya karena event sudah dekat, bayangan sosok itulah yang melekat di kepalaku.
Dan parahnya, bayangan itu meracuni moodku. Aku tak seberapa tertarik dengan apa yang kulakukan disana; pasti membosankan, cetusku. Makanya, aku memilih partner jaga yang tidak membosankan. Dua jam sebelum acara ketika OTW menuju lokasi, sebuah nomor XL menghubungi. Perempuan itu. Dan ini kali pertama aku mendengar suaranya, tentu saja lengkap dengan gambaran sosok yang kulukis di otakku tadi. Perempuan yang tidak menarik, begitu konklusi singkatnya.
Setengah jam kemudian aku beserta kru kantor sampai di lokasi. Penghubung antara kantorku dan kegiatan ini hanya aku. Dan aku mencari-cari sosok yang "kubenci" dalam ingatanku itu. Ya, aku benar-benar percaya bahwa perempuan yang setengah jam lalu menelponku itu akan chubby dan berambut ikal. Namun yang mendekat ke arahku kemudian sembari menyuguhi senyum termanisnya adalah perempuan semampai dengan lesung di pipi dan senyum khas Kayak Titi Sjuman.
Glek. Aku menelan ludah segalon, kemudian merutuki kebiasaan burukku membayangkan sosok orang hanya dari namanya. Tapi itu berlangsung sebentar karena detik kemudian aku mencermati tiap kata-kata yang meluncur dari Kayak Titi Sjuman ini tentang segala tetek bengek event ini. Kemudian satu senyuman panjang terburai di bibirku.... Hari-hariku pasti akan indah...
Aku gak seberapa tau kenapa aku dulu ngefans ama Titi Sjuman, wajahnya juga gak cantik-cantik amat, tapi aku suka aktingnya. Dan si Kayak Titi Sjuman ini... Hmm, sebuah pikiran nakal hadir; pasti akan kugodai... Namun tak ada asap kalau tak ada api, bukan? Ya, aku tak akan memulai kalau tak mendapat respon "positif".
Dan yang kumaksud respon "positif" disini adalah betapa ramah [rajin menjamah, red] nya perempuan itu. Ketika menata barang ia kerap riwa riwi sembari tangannya menempel entah di lenganku, di bahu dan pinggang. Hmm, satu dua kali sentuhan masih kuanggap wajar, lebih dari itu, maka aku akan membalas keramahannya itu.
And then I called it as Gedebug Love! Karena seperti dijatuhkan dari langit tak terduga. Dan aku termasuk orang yang fokus pada satu orang, artinya tak akan pecicilan karena jarak pandangku sepertinya sudah hanya padanya.
Malam pembukaan. Beberapa peserta kegiatan ini kukenal, namun karena tau sendiri aku terkenal gagap komunikasi, hanya terbatas say hi dan komunikasi pendek lainnya. Beberapa teman baru kemudian diperkenalkan padaku. Hmm, dan perempuan itu ada di salah satu meja dengan grup kantornya.
Usai pembukaan, perempuan itu datang untuk briefing event esok hari. Disinilah keramahannya dimulai. Sentuhan di pergelangan tangan, lumayan lama. Ia meminta kehadiran pukul 07.30 esok hari.
"Aku udah bangun apa belum ya jam segitu," celetukku padahal aku terbiasa bangun pagi.
"Harus bangun lah," ujarnya termakan omonganku.
Dan malam itu kututup dengan ucapan sampai ketemu besok padanya.
Hari Kedua.
Aku menetapkan perempuan itu sebagai orang pertama yang kucari. Pasalnya, tempat barang masih terkunci dan aku tak tau nomer panitia lokal. Perempuan itu ada di selayang mata dengan hamparan lorong yang tidak memungkinkanku meneriakinya. Come on, ini hotel! Aku mengiriminya pesan pendek, ia tak menunjukkan tanda-tanda merogoh saku, masih sibuk dengan aktivitasnya di depan LCD.
"Kayaknya kita musti nyamperin," ujarku pada partner jagaku. Sebenarnya malas saja melewati lorong lalu harus kembali lagi ke tempat barang, melewati lorong lagi, lalu ke tempat display. Malas, bukan?
"Aku sms kamu, gak bawa hape ya," tanyaku menyentuh bahunya ketika lewat.
"Bawa sih, tapi gak updet,"
"Nanya kunci tempat nyimpen barang, mau ambil barang, soalnya gak punya kontak panitia lokal" kataku menjabarkan.
Perempuan itu menunjuk perempuan berjilbab yang bahkan tidak ku tau namanya.
Ketika sibuk menata, ia tiba-tiba lewat dengan senyum khas Titi Sjumannya. Basa basi yang basi banget adalah ketika ia berujar tentang kunci yang kutanyakan tadi. Hmm, gak punya bahan bicara kemudian mencari-cari obrolan, baeklah!
Kukira ia akan pergi bersama rombongan yang hari itu akan field trip. Ternyata ia bertanggungjawab dengan tugas kerjanya.
Aku kemudian rerasan tentangnya pada partner jaga yang cs-ku banget.
"Eh tapi kayaknya dia udah punya anak lho, kemarin ku lihat dia gendong anak," ujar partner jagaku. Aku sih ga percaya.
"Anak orang kali..."
"Nggak ah, wong wajahnya mirip kok"
Aku tetap gak percaya.
Saat lunch, ia datang dengan menggendong anak.
"Nih lho yang kulihat kemarin, bener tho?"
Dalam hati tetep gak percaya. Lunch-ku jadi gak fokus.
"Eh, kenalin ini kakakku, tinggalnya di jogja lho," ujarnya memperkenalkan sepasang suami istri, si perempuan hampir mirip dengannya hanya kulitnya berbeda jauh, kepadaku.
Sebenarnya, aku merasa "aneh", kenapa tiba-tiba ngenalin kakaknya padaku sedangkan banyak orang lain disana? Bukan ge er, tapi apa pentingnya? Dan kemudian aku harus berbasa-basi menanyakan tempat tinggal bla bla bla.. Untung ada cs-ku yang ga bikin garing suasana.
"Tuh kan, dia gak punya anak!" kataku pada cs-ku
"Seneng kowe!"
Hari ini hanya setengah hari melewatinya bersama perempuan bergaris pelangi itu. Aku sebenarnya kerasan, namun memang tak ada aktivitas karena para peserta field trip sedangkan peserta yang dikatakan akan hadir untuk daftar juga tak ada.
Sorenya, aku kesana lagi, untuk briefing tugasku di hari ketiga dan keempat, tapi tak menemukan batang hidungnya.
Hari Ketiga
Hari ini tugas saya dalam event ini berganti dari jaga stand menjadi rekam proses di panel bersama dua orang lainnya.
Jam 8 hampir setengah 9 aku sampai di depan stand yang masih di tata. Perempuan itu tak kulihat di sekitar areal pameran. Agak tak semangat juga jadinya, ciyee sudah mulai lebay nih... Namun tetiba gak tau darimana datangnya kayak jatuh dari langit aja, perempuan yang hari ini berkaos biru itu ada di sebelahku sedang memberi double tape pada kertas yang kemudian ditempelkan di bawah foto yang dipamerkan.
Dari kostumnya sih kelihatan kalo dia pasti belum mandi. Jeans dan kaos biru, sedangkan aku dan peserta lain diharuskan pake batik, kontras bukan?
"Belum mandi ya?"
Dia mengangguk.
"Gimana ini jam segini kok belum mandi?"
"Iya, entar. Daripada bilang udah mandi ternyata belum mandi." ujarnya tak mau kalah.
Ketika acara pembukaan sudah dimulai lumayan lama, ia muncul habis keramas dengan padanan coklat. Makin mirip Titi Sjuman aja. Cuma cara jalannya maskulin banget.
Ada beberapa kejadian hari ini yang lumayan bikin geli. Perempuan itu punya tampang khas pura-pura oon, dia tau aku di dekatnya tapi pura-pura gak tau. Kayak ketika ia mengambil duduk di baris belakangku, ia kayak pura-pura tak tau aku di depannya, lalu akan tersenyum ketika kami bertemu pandang. Belum lagi lagaknya yang tetiba berdiri diam satu meter di sebelahku yang lagi ngobrol ama teman-teman Jogja. Ya kalau mau nimbrung kan tinggal gabung saja, nah ini berdiri diam apa sebenarnya pengen disapa duluan ya? Dan sikap-sikap kayak gitu terjadi berulang.
Waktu itu ia terpaku di meja stand sebelah, entah apa yang dibacanya. Lalu aku dengar suara film yang diputar lagi adegan interview survivor tapi dengan pertanyaan2 yang tidak boleh diajukan, apalagi di filmkan.
"Film apa ini," tanyaku tidak pada siapa-siapa.
Perempuan itu menolehku dan menjawab. Tuh kan, jadi tujuan berdiri diamnya itu apa emang menanti disapa dan ngobrol?
Menjadi rekam proses otomatis "memisahkanku" dengannya. Aku berganti-ganti ruang sedang ia hanya di selasar. Parahnya, jam berakhir antar panel itu tak kompak. Ada yang sudah selesai, sementara di ruangan lain belum. Dan itu yang terjadi padaku di panel satu yang masih asik debat sedangkan jam harusnya sudah berakhir, ditambah orang-orang panel selanjutnya sudah berdatangan. Sembari lumayan panik karena jarak antar ruangan yang dipakai lumayan tidak dekat, aku agak tergesa menuruni tangga dan melewati selasar pameran; lewat depanmu sih maksudnya.
"Hai, hai" Sebuah sapaan singkatmu yang mengademkan kepanikanku, menggantinya dengan senyuman. Ahh co cwit deh...
Hari Keempat
Last day with you... Kenapa hari begitu cepat? Pertanyaan yang tak ada jawabnya, selain mengamini pepatah waktu akan berasa cepat berlalu untuk orang yang sedang bahagia.
Pagi ini seperti kemarin aku menemukannya berkaos putih dan celana jeans. Tetap menarik, justru aku memang tertarik dengan perempuan yang tampak menarik ketika ia memakai pakaian kasual daripada ia sudah terpoles apalagi dengan ketebalan selayak mau tampil di tivi aja. Bahkan ketika perempuan itu berganti busana formal, ia tak tampak memoles wajahnya. Natural, and I like it!
Perempuan itu sedang mengutak atik LCD ketika aku menyapa seorang teman tak jauh darinya. Kami mengobrol, padahal menyapa teman itu adalah bagian strategi basa basi agar menariknya dalam obrolan. Dan strategiku berhasil. Perempuan itu juga menerapkan strategi tiba-tiba mengaitkan obrolannya dengan si temanku yang juga adalah teman kantornya. Walhasil, kami mengobrol sebentar.
"Makasih, buat aku ya.." ujarku seraya menunjuk sebungkus cokelat Delfi kepunyaannya yang langsung ia cengkeram erat seolah berkata jangan ambil.
"Cuma punya satu, itupun dikasi." jawabnya polos.
Aduh, mbak, yang mau minta juga siapa, kan cuma godain.
"Buruan mandi, dari kemarin jam segini belum mandi,"
"Iya, ya"
Usai panel pertama yang letak ruangannya dekat dengan selasar pameran, aku tak menemukan batang hidungnya. Kata temanku ia memang belum muncul sejak tadi. Walhasil, sering celingukan ke arah selasar menjadi aktivitasku selanjutnya.
Dan jeda panel pertama dan kedua memang lumayan lama. Akhirnya yang kutunggu tiba... Perempuan itu dengan batik ijo pupusnya... Hmm, kian mirip Titi Sjuman saja, kecuali cara jalannya hehe aku tak menganggap cara jalannya tak indah, hanya tak seperti perempuan kebanyakan. Tegap dan cepat, sama kayak cara kerjanya, pun lekukan wajahnya. Rambutnya kembali basah terurai... Cantik!
Dan panel kedua kurasa akan memisahkanku dengannya, namun takdir atau jalan cerita berkata lain. Aku ada di panel Seksualitas dan Pemiskinan, tema yang menarik menurutku, paling tidak istilah2nya dikenali oleh kupingku, daripada kosa kata pertambangan. Ketika preparing ruangan dan materi, tiba-tiba perempuan berbatik ijo itu memasuki ruangan. Kukira akan hanya mengurusi hal teknis, eh kok dia duduk manis di kursi peserta.
Ada yang bersorak di relung terdalamku, selain nervous merekam proses dengan dia ada dalam ruangan akan memecah konsentrasiku. Kegirangan hati ini harus ku kontrol. Karena selain ia tampak santai dengan muka pura-pura oon-nya, plus tugas ini tak boleh bikin aku nge-blank.
Salutnya buat nih cewek adalah ia tangkas dan mumpuni banget jadi seksi perkap. Ketika mendengar microphon narsum agak tersendat, ia langsung berdiri, menyodori mic penanya. Yang kusalutkan, bahkan panitia di ruangan itu tak sensitif, tapi ia cekatan, dan sekali lagi dengan muka khasnya, ia tau aku duduk di meja notulen tapi senyumnya hanya ia biaskan lewat ekor mata. Duh mbak, kok ngegemesin sih!
Btw ada ide jail yang menghinggapi otakku mengingat hari ini terakhir aku melihatnya. Aku menodong teman sekantorku yang jaga stand untuk memotretnya diam-diam. Dan dalam proses itu, kata temanku perempuan batik ijo itu sempat curiga dengan bertanya:"kamu mau memotretku kah, mbak?"
Dan untung temanku dengan pintar menjawab: "Nggak, mau memfoto tas kok, tapi kalo mbak mau jadi modelnya malah bagus!" Dan perempuan itu menjadi modelnya.
Aku tau ia akan curiga karena ia tau si pengambil gambar adalah teman kantorku.
Panel kedua berakhir, sekaligus menyudahi kerjaku. Dan menunggu rapat sebelum konpers hasil konferensi adalah jeda dimana aku ingin waktu berjalan melambat kalau perlu rapatnya dibikin lama saja. Menikmati curi-curi pandang dan curi-curi senyum diantara aktivitasnya. Mengekornya di selayang mata. Kok aku gak rela ya hari ini terakhiri?
Dan ia berpamitan ke tiap stand. Satu lagi yang kukagumi, ia sangat appreciate banget ke tiap orang. Mengajakku toast sebagai ucapan terima kasih, aku kemudian menariknya untuk berbincang. Aku sudah tau dua nomor hapenya, tapi berinteraksi di BBM akan jauh lebih baik, bukan?
Dan entah kenapa, banyak momen yang sepertinya bukan hanya kebetulan, tetapi takdir. Ada seorang kawan dari Medan mengajakku berfoto, kebetulan yang fotoin adalah rekan kerja si Titi Sjuman. Dari dua orang, menjadi empat orang, lalu kelipatannya, semua tertarik berfoto bersama. Aku meneriaki perempuan batik ijo itu untuk gabung foto bersama, ia mendekat. Dan modus sukses itu tak kulewatkan begitu saja. Aku mengambil kameraku, kali ini mengajaknya foto berdua saja. Tetapi si anak Medan tadi minta ikut foto bersama. Dan jawaban si Titi Sjuman ini mengagetkan sekaligus bikin aku ngakak.
"Gak baik foto bertiga, pamali, hush hush.." Hmm, jawaban sekaligus kode yang bagus.
Dan pose pertama yang hot adalah saling peluk, merekatkan tangan di pinggang masing2. Namun karna si potograper yang adalah teman saya tak seberapa pintar, maka tak terjepret.
"Kok ga ada blitznya?" tanyanya.
Setelah ku cek, emang gak terjepret. Ia meminta diulang, tetapi dengan pose berbeda. Ia membelakangiku, namun tubuhnya melekat di bagian depan tubuhku dan tanganku menggantung di pundaknya. Dan saya baru nyadar, stand2 lain sedang memperhatikan kami, and I, or we don't care. Ia sangat enjoy dengan sesi poto ini.
Dan yang bikin geli adalah pada akhirnya perempuan batik ijo ini sebenarnya mau foto bertiga dengan si anak medan tadi. Lalu kenapa tadi pake acara nolak dan bilang pamali? Mencurigakan!
Dan waktu memang benar-benar kejam. Ia memisahkan. Perempuan itu tau betul ketidakrelaanku. Di depan, ia yang tengah bersama kakak dan keponakannya mengantarku dengan senyumnya dan seutas janji akan main ke kantor bersama Bos-ku. Janji yang harus kau tepati, nona!
+1 Hari Lagi With #KayakTitiSjuman
Aku sebenarnya memang tak merasa bahwa hari keempat itu menjadi hari terakhir kami. Dan lagi-lagi, aku tak bisa mendefinisikan batas antara kebetulan dan takdir untuk kami. Begini ceritanya...
Tanggal 3 Desember hampir tengah malam ada sebuah email undangan ikut workshop di tempat yang sama dengan event 4 hari itu masuk di email kantor. Tanggal acara adalah hari setelah konferensi itu berakhir. Dan tau tidak, aku tak mengunduh TOR dan tetek bengeknya, hanya langsung mengisikan namaku pada lembar konfirmasi padahal aku tak tau workshopnya tentang apa, yang aku tau feelingku mengatakan aku akan masih bisa ketemu Titi Sjuman di hari itu.
Dan memang benar-benar malas untuk hadir. Kedatanganku adalah alibi untukku beralasan berada di hotel itu.
Dan sekali lagi aku percaya ini bukan kebetulan tetapi takdir. Melihatnya dalam kasual kaus putih dan jeans, ia menepuk pundakku dan menyajikan senyum termanisnya ketika aku sedang menunggu teman sembari mengobrol dengan temannya yang wajahnya mirip tanteku itu.
"Ikut yuk ke Beringharjo" tawarnya padaku.
Maunya sih ikut, tapi kan aku kesini mau workshop gak penting itu. Hmm, padahal kalau nekat sih bisa, tapi kadung janjian ama teman untuk ikutan workshop.
Ia berpamitan. Dan pesan pendek BBM menemani hingga ia mematikan ponsel lepas landas meninggalkan Jogja.
Will be miss u a lot #KayakTitiSjuman...
Friday, November 23, 2012
Mengapa Sex History Penting?
Aku terinspirasi film Kinsey yang kutonton beberapa waktu lalu. Tentu saja bukan karena kecairan seksualitas yang disajikan sebagai alur karakter si tokoh. Tetapi bagian tentang Sex History...
Sejarah seks juga bukan tentang berapa dan bagaimana gaya seks, ini tentang mencatat dari kecil apa yang kemudian akan mengkonstruksi di otak tentang bagaimana memandang, berperilaku baik positif dan negatif serta bagaimana itu berefek di perjalanan hati yang tertuang dalam aktivitas seksual dan pola relasi.
Mendeteksi sejak pertama kali ketika masa kecil hal-hal apa yang menstimulan otak, kebiasaan-kebiasaan "tersembunyi" karena masih malu takut ketahuan serta kekerasan ataupun pelecehan seksual yang dialami. Sebab-akibat, mungkin tak semua sebab akan menimbulkan akibat, tetapi merefleksi sex history buatku paling tidak menjadi satu metodeku lagi, kenapa dalam berelasi aku masih membentuk patronasi tertentu, tidak cair seperti adanya seksualitas itu sendiri.
Ya, mencatat sex history adalah metode belajar, merunut cerita apalagi terkait pengalaman seksual dari masa kecil hingga sekarang pasti menyenangkan. Jadi, bagaimana sex history-mu, catat!
Sejarah seks juga bukan tentang berapa dan bagaimana gaya seks, ini tentang mencatat dari kecil apa yang kemudian akan mengkonstruksi di otak tentang bagaimana memandang, berperilaku baik positif dan negatif serta bagaimana itu berefek di perjalanan hati yang tertuang dalam aktivitas seksual dan pola relasi.
Mendeteksi sejak pertama kali ketika masa kecil hal-hal apa yang menstimulan otak, kebiasaan-kebiasaan "tersembunyi" karena masih malu takut ketahuan serta kekerasan ataupun pelecehan seksual yang dialami. Sebab-akibat, mungkin tak semua sebab akan menimbulkan akibat, tetapi merefleksi sex history buatku paling tidak menjadi satu metodeku lagi, kenapa dalam berelasi aku masih membentuk patronasi tertentu, tidak cair seperti adanya seksualitas itu sendiri.
Ya, mencatat sex history adalah metode belajar, merunut cerita apalagi terkait pengalaman seksual dari masa kecil hingga sekarang pasti menyenangkan. Jadi, bagaimana sex history-mu, catat!
Thursday, November 22, 2012
Mengapa Makanya Tuhan Bikin Satu Mulut Dua Kuping!
Judul itu kupilih hasil perbincangan pada "double date" aku dengan 3 orang teman di Roemi sehabis baksos TransgenderDay di daerah sekitar Code.
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...
Wednesday, November 21, 2012
Mengapa lidah saya selalu kelu bila di depanmu?
Inilah satu habit saya yang paling terkenal jika bertemu denganmu. Lidah yang mendadak kelu. Dan gak tau juga alasan dan penyebabnya apa! Sistem syaraf di otak seolah mandeg bekerja. Dan bukan sekali dua kali, that's why I called it an habit.
Namun varian ekspresinya sebenarnya yang tak sama. Kadang ketika kelu, wajahku seperti terpasang kejam tanpa ekspresi padahal nih otak kayak lagi kerja keras namun faktanya kalau bisa dilihat ama kaca pembesar anda tak akan menemukan apapun kecuali sel-sel saraf bertubrukan.
Namun kadang lidah yang kaku ini menyajikan ekspresi sebaliknya. Kamu akan tau hanya dari sumringah bibir, meski jika dilihat dengan kaca pembesar sekali lagi pun u will found nothing except kerja otak berlawanan arah jarum jam, sibuk tapi salah putar.
Namun saya menikmatinya, dengan semua varian ekspresinya. Tidak sesederhana perasaan saya memang, tetapi otak memang akan selalu tak bekerja sewajarnya jika tengah menyanding apa yang dinamakan cinta. Is it love that make it? Just don't know, its only... Happened! No need to named like your tongue suddenly freeze without a cold ice inside it... Right?
Tuesday, November 20, 2012
Mengapa saya tidak pernah percaya pertemanan?
Kalau tempo hari saya menulis sisterhood penting, maka judul kali ini akan melemparku ke aku dengan pemikiranku yang dulu.
Aku mungkin sudah pernah berstatement bahwa aku tak percaya pertemanan, hingga saat ini pun mungkin kukategorikan demikian. Saya punya banyak teman, tak pernah bermasalah dengan hal tsb, namun tak pernah percaya pada seseorang sepenuhnya itulah intinya.
Sebenarnya tak ada kejadian signifikan yang menyebabkan trauma, hanya mungkin terbiasa dan kebiasaan sejak jaman baheula tak pernah membagi isi pikiran dan isi hati pada orang lain itulah yang mengkonstruksi otak untuk bersikukuh menjadi orang yang hanya percaya pada dirinya sendiri.
Kadang kupikir berimplikasi positif, namun juga negatif. Positifnya kau tidak merepotkan orang lain, namun negatifnya ketika otak terlalu penuh dan tak ada katarsis, its like more pain ever. Bukan karena tak punya teman berbagi, tetapi karena ketidakpercayaan untuk membagi.
Dan mendobrak konsep ketidakpercayaan diatas sulit, namun bukan berarti tak mungkin. Yang bisa perlahan diubah adalah mindset otak untuk berbagi dan membagi masalah dengan orang lain, tetapi untuk mempercayai, ya aku mungkin akan sekelebat percaya informasi atau cekokan apapun dari seseorang tanpa filter, namun sebenarnya filter inside itu yang meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terlebih ketika alarm warning not to believe him/her bunyi. Tak ada penawaran, meski seberapapun kegigihan anda untuk membuat saya percaya.
Dampak negatif lain menurutku adalah menaikkan energi negatif. Itu yang sebenarnya ingin kuperangi. Aku mungkin bersetuju kewaspadaan positif tapi bukan berarti juga bersepakat dengan energi negatif yang keluar karena konstruk tak jelas otak yang melahirkan skenario bernama kecurigaan yang validitasnya dipertanyakan. Aku kadang sadar itu namun lebih sering terjebak disana. Bahwasanya membuat skenario itu bagus untuk sebuah proyek tulisan, tetapi skenario yang dibuat otak kadang buruk terutama jika berdasarkan asas bernama ketidakpercayaan itu tadi.
Monday, November 19, 2012
Mengapa masih ada cemburu?
Katanya, cemburu itu tanda sayang. Tapi kalau cemburunya pada orang yang sudah tak berelasi dengan kita tapi kita masih sayang, apa itu wajar? Wajar mungkin bagi pihak yang masih sayang, tapi di pikiran pihak lain kan belum tentu. Kalau kau masih berelasi, mungkin kau akan menyampaikan rasa cemburumu tapi kalau sudah tidak dalam relasi, what to do to express your jealousy? Karena mengungkapkannya pada pihak yang bersangkutan tentulah konyol, itu melanggar koridor pihak lain, anda telah menyebrang koridor anda dan kemungkinan membuat orang tsb tak nyaman. Walhasil, kalau itu terjadi padaku, hmm seems like I ruin my self, not because my jealousy but a question why I have to keep this jealousy?
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.
Sunday, November 18, 2012
Mengapa Omnibus Saya Tetiba Mandeg?
Bulan Oktober kemarin adalah getol-getolnya aku menuliskanmu dalam satu Untold dan Uncut. Tiap hari kadang bisa lebih dari satu judul. Padahal untuk hitungan bulan Oktober yang padat merayap itu tiap wiken hampir tak pernah berleha di kamar, selalu ada aja kegiatan baik dalam atau luar kota. Namun jari sepertinya tak mau berhenti menari. Tiap bangun tidur ia meliuk-liuk tanpa butuh banyak pemanasan. Ya, tiap ujung syaraf dikonsentrasikan padamu, selalu tak butuh waktu lama untuk mengelana kisah setahun lalu.
Dan kenapa tetiba mandeg di bulan November? Padahal juga tak seberapa sibuk di akhir pekan. Jawaban pastinya bukan malas, sudah ada 27 judul menanti untuk dieksekusi. Plus aku yakin judul akan terus bertambah, karena dari 27 itu masih berakhir pada awal-awal tahun, yang artinya masa-masa tengah tahun sampai sekarang belum terfikirkan outline-nya.
Sekali lagi aku hendak mengeluhkan waktu, menulis sedikit saja sudah beberapa jam terlewat. Belum lagi fokus dan tumpukan deadline yang lain, bukan sok sibuk hanya kekurangan waktu saja.
Tetapi yakini benar bahwa semangat untuk menyelesaikan omnibus ini harus tetap terjaga, apalagi sudah dapat ide tambahan bahwa cerita ini tak akan hanya dari sudut pandangku saja, tetapi sudut pandangmu (tetapi karena fiksi, tetap akan menurut versiku) dan sudut pandang kita. Bagusnya sih kamu menulis sendiri sudut pandangmu, tetapi melihat korelasi cerita seutuhnya akan susah mengaitkan kisah hidup 2 orang meski ada irisan takdir disana.
Dan, ya, masih tetap akan lanjut kok... Obyektivitas emosi harus tetap dijaga ketika menuliskan omnibus ini, kadang karena kamu sudah masuk lagi dalam kehidupanku sekarang ini, kadang kala emosional yang terjadi setahun lalu meleset dari yang seharusnya dituliskan. Makanya, kadang kalau hati sedang senang karena ulahmu, aku tak mau menulis bagian sedih cerita aku dan kamu setahun lalu.
Let's get write... Hope my version finished before January... Keep spirit.. To write and to effort me and you once again...
Dan kenapa tetiba mandeg di bulan November? Padahal juga tak seberapa sibuk di akhir pekan. Jawaban pastinya bukan malas, sudah ada 27 judul menanti untuk dieksekusi. Plus aku yakin judul akan terus bertambah, karena dari 27 itu masih berakhir pada awal-awal tahun, yang artinya masa-masa tengah tahun sampai sekarang belum terfikirkan outline-nya.
Sekali lagi aku hendak mengeluhkan waktu, menulis sedikit saja sudah beberapa jam terlewat. Belum lagi fokus dan tumpukan deadline yang lain, bukan sok sibuk hanya kekurangan waktu saja.
Tetapi yakini benar bahwa semangat untuk menyelesaikan omnibus ini harus tetap terjaga, apalagi sudah dapat ide tambahan bahwa cerita ini tak akan hanya dari sudut pandangku saja, tetapi sudut pandangmu (tetapi karena fiksi, tetap akan menurut versiku) dan sudut pandang kita. Bagusnya sih kamu menulis sendiri sudut pandangmu, tetapi melihat korelasi cerita seutuhnya akan susah mengaitkan kisah hidup 2 orang meski ada irisan takdir disana.
Dan, ya, masih tetap akan lanjut kok... Obyektivitas emosi harus tetap dijaga ketika menuliskan omnibus ini, kadang karena kamu sudah masuk lagi dalam kehidupanku sekarang ini, kadang kala emosional yang terjadi setahun lalu meleset dari yang seharusnya dituliskan. Makanya, kadang kalau hati sedang senang karena ulahmu, aku tak mau menulis bagian sedih cerita aku dan kamu setahun lalu.
Let's get write... Hope my version finished before January... Keep spirit.. To write and to effort me and you once again...
Saturday, November 17, 2012
Mengapa saya harus BALEN?
Setelah menjabarkan siklus hati dan lebih condong akan menerapkan siklus balen, maka kemudian aku mulai mengkonsep bagaimana melakoni siklus tanpa referensi ini.
Dan terus terang, kata Balen itu sendiri sebenarnya masih tabu di otak saya. Ya, di tiap relasi hampir tak pernah tercetus untuk mengulang hati dengan orang yang sama. Berakhir ya berakhir, berelasi dengan sudut pandang yang lain. Tetapi balen kali ini menjadi salah satu hal yang termasuk dalam pendobrakan hati atas out of the box yang selama ini berada dalam kungkungan otak.
Ya, aku sedang dalam usaha panjang untuk mengenyahkan satu persatu konstruksi yang memadat di otakku entah sudah sejak sekian lama. Makanya, aku meyakini usaha ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun, yang menjadi inti adalah aku akan menikmati proses ini.
Balik soal definisi balen, yang artinya mengusahakan hati kepada orang yang sama yang pernah mengisi hati saya. Mengapa saya harus balen, mari kita kupas...
Dan kalau jawabannya karena saya masih cinta tentu saja menambah daftar klise panjang alasan tidak bonafit mengapa saya harus mempertahankan perasaan dengan ke-berbeda-an dalam segala hal yang kayaknya memang tak akan menemukan titik temu ini.
Bayangkan, apa yang ada di otakmu ketika kau ingin mengulang hari bersama perempuan yang bahkan di tiap hari-harimu tak pernah menemukan kecocokan, tak pernah saling berbicara atau membahas banyak hal dan yang paling utama tak tau apa isi otaknya bahkan ketika kau di hadapannya? Lalu apa yang sebenarnya kau cari?
Bayangkan pula, apa yang kemudian ada di otak anda ketika dalam keseharian anda dengannya jarang sekali, kalau boleh dibilang langka, menemukan kata sepakat bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun. Yang ada hanyalah anda dan dia akan terlibat adu argumen tidak penting atau dia bahkan anda sendiri akan menjadi pihak yang selalu bersebrangan.
Bayangkan lagi nih, nah kalau yang ini berkaitan dengan kerumitan di dalam diri anda sendiri... Bayangkan jika semua hal yang ingin anda balen-kan itu adalah salah satu usaha panjang anda yang lain untuk "menyembuhkan" pola patronasi yang sudah mengakar bertahun-tahun dalam sebuah pola relasi, artinya ketika sukses balen ada sebuah patronasi yang terburai, meski aku si pelakon utama tak seberapa optimis tembok cina akan runtuh layaknya tembok berlin.
Dan yang paling utama, bayangkan anda melalui jalan yang pernah anda lewati tapi anda merasa akan tersesat karena banyak rambu-rambu di jalan tersebut kini menyesatkan. Hmm, memulai relasi dengan orang baru mungkin akan lebih mudah karena kita bisa "mempermanis" diri di depan, namun membangun pola dengan orang yang pernah menjalani hari-hari singkat denganmu dan hafal perilaku serta karaktermu bukanlah hal mudah, ditambah dengan ketidakbersediaannya menjadi "perempuan manis" selayak dia berperangai pada orang lain.
Lantas anda hendak sebut ini apa? Tantangan??? Saya tidak tertantang sama sekali, karena jujur model orang kalah sebelum berperang seperti saya bukan tak menyukai tantangan, tetapi tak tau harus memulai melakukan apa.
"Aku akan terus memperjuangkan hatiku!" Aku pernah berucap begitu padamu, meski kau berkilah kau tak berharga untuk tetap dipertahankan.
Aku tak akan menelisik dari sudut pikiranmu yang tentu saja aku tak tau, meski balen itu harus diinisiasi dua orang, bukan salah seorang diantaranya saja yang mengusahakan. Akh, aku sedang tidak ingin berdebat dengan otak tentang menghitung dan berhitung soal rasa.
Otak bolehlah menyebut ini semua sebagai ketololan permanen, tetapi entah otak akan memberi sebutan apa ketika berada di dekatmu ada semacam boosting energi yang aku juga tak tau berasal darimana tiba-tiba menyesap membuat segala yang ada dalam diri menjadi positif berkali lipat.
Otak akan berkilah semunafik apalagi ketika otak sanggup bekerja lebih lancar mengerjakan hal-hal yang malas untuk disentuh pada hari-hari biasa. Laporan, rundown, semua selesai dalam beberapa jam ketika didekatmu.
Energi, aku menamai satu-satunya hal yang bisa menyatukan kita ini. Kau dengan begitu mudah tau aku marah, senang, romance, ramah dan perasaanku ketika di dekatmu tanpa perlu aku mengekspresikannya detil. Bahkan orang lain tak sadar perasaan-perasaan itu, tapi kau tak perlu menunggu aku berucap sesuatu, kau paham.
Ada semacam kontak batin yang entah kau percaya atau tidak, terbangun tanpa perlu terkatakan. Meski kemudian perilaku yang tampak kadang malah kebalikannya, atas nama ego yang sedang mati-matian kuluruh, aku berharap kemengertian batin inilah yang tetap akan bertahan diantara ego, saling tunggu dan takdir yang sepertinya sedang senang bermain-main.
Jadi, balen bukan tentang mengulang cerita lama, tetapi membuka lembar baru dengan rasa yang seperti dulu ada dan terjaga.
Dan terus terang, kata Balen itu sendiri sebenarnya masih tabu di otak saya. Ya, di tiap relasi hampir tak pernah tercetus untuk mengulang hati dengan orang yang sama. Berakhir ya berakhir, berelasi dengan sudut pandang yang lain. Tetapi balen kali ini menjadi salah satu hal yang termasuk dalam pendobrakan hati atas out of the box yang selama ini berada dalam kungkungan otak.
Ya, aku sedang dalam usaha panjang untuk mengenyahkan satu persatu konstruksi yang memadat di otakku entah sudah sejak sekian lama. Makanya, aku meyakini usaha ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun, yang menjadi inti adalah aku akan menikmati proses ini.
Balik soal definisi balen, yang artinya mengusahakan hati kepada orang yang sama yang pernah mengisi hati saya. Mengapa saya harus balen, mari kita kupas...
Dan kalau jawabannya karena saya masih cinta tentu saja menambah daftar klise panjang alasan tidak bonafit mengapa saya harus mempertahankan perasaan dengan ke-berbeda-an dalam segala hal yang kayaknya memang tak akan menemukan titik temu ini.
Bayangkan, apa yang ada di otakmu ketika kau ingin mengulang hari bersama perempuan yang bahkan di tiap hari-harimu tak pernah menemukan kecocokan, tak pernah saling berbicara atau membahas banyak hal dan yang paling utama tak tau apa isi otaknya bahkan ketika kau di hadapannya? Lalu apa yang sebenarnya kau cari?
Bayangkan pula, apa yang kemudian ada di otak anda ketika dalam keseharian anda dengannya jarang sekali, kalau boleh dibilang langka, menemukan kata sepakat bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun. Yang ada hanyalah anda dan dia akan terlibat adu argumen tidak penting atau dia bahkan anda sendiri akan menjadi pihak yang selalu bersebrangan.
Bayangkan lagi nih, nah kalau yang ini berkaitan dengan kerumitan di dalam diri anda sendiri... Bayangkan jika semua hal yang ingin anda balen-kan itu adalah salah satu usaha panjang anda yang lain untuk "menyembuhkan" pola patronasi yang sudah mengakar bertahun-tahun dalam sebuah pola relasi, artinya ketika sukses balen ada sebuah patronasi yang terburai, meski aku si pelakon utama tak seberapa optimis tembok cina akan runtuh layaknya tembok berlin.
Dan yang paling utama, bayangkan anda melalui jalan yang pernah anda lewati tapi anda merasa akan tersesat karena banyak rambu-rambu di jalan tersebut kini menyesatkan. Hmm, memulai relasi dengan orang baru mungkin akan lebih mudah karena kita bisa "mempermanis" diri di depan, namun membangun pola dengan orang yang pernah menjalani hari-hari singkat denganmu dan hafal perilaku serta karaktermu bukanlah hal mudah, ditambah dengan ketidakbersediaannya menjadi "perempuan manis" selayak dia berperangai pada orang lain.
Lantas anda hendak sebut ini apa? Tantangan??? Saya tidak tertantang sama sekali, karena jujur model orang kalah sebelum berperang seperti saya bukan tak menyukai tantangan, tetapi tak tau harus memulai melakukan apa.
"Aku akan terus memperjuangkan hatiku!" Aku pernah berucap begitu padamu, meski kau berkilah kau tak berharga untuk tetap dipertahankan.
Aku tak akan menelisik dari sudut pikiranmu yang tentu saja aku tak tau, meski balen itu harus diinisiasi dua orang, bukan salah seorang diantaranya saja yang mengusahakan. Akh, aku sedang tidak ingin berdebat dengan otak tentang menghitung dan berhitung soal rasa.
Otak bolehlah menyebut ini semua sebagai ketololan permanen, tetapi entah otak akan memberi sebutan apa ketika berada di dekatmu ada semacam boosting energi yang aku juga tak tau berasal darimana tiba-tiba menyesap membuat segala yang ada dalam diri menjadi positif berkali lipat.
Otak akan berkilah semunafik apalagi ketika otak sanggup bekerja lebih lancar mengerjakan hal-hal yang malas untuk disentuh pada hari-hari biasa. Laporan, rundown, semua selesai dalam beberapa jam ketika didekatmu.
Energi, aku menamai satu-satunya hal yang bisa menyatukan kita ini. Kau dengan begitu mudah tau aku marah, senang, romance, ramah dan perasaanku ketika di dekatmu tanpa perlu aku mengekspresikannya detil. Bahkan orang lain tak sadar perasaan-perasaan itu, tapi kau tak perlu menunggu aku berucap sesuatu, kau paham.
Ada semacam kontak batin yang entah kau percaya atau tidak, terbangun tanpa perlu terkatakan. Meski kemudian perilaku yang tampak kadang malah kebalikannya, atas nama ego yang sedang mati-matian kuluruh, aku berharap kemengertian batin inilah yang tetap akan bertahan diantara ego, saling tunggu dan takdir yang sepertinya sedang senang bermain-main.
Jadi, balen bukan tentang mengulang cerita lama, tetapi membuka lembar baru dengan rasa yang seperti dulu ada dan terjaga.
Friday, November 16, 2012
Mengapa saya kemudian menganggap sisterhood itu penting?
Sejak dulu aku tak pernah percaya seratus persen pada pertemanan. Bukan berarti tak berteman. Aku senang punya teman-teman, namun membagi ceritaku pada mereka, itu yang tak mau kulakukan. Berangkat dari ketidakpercayaan itulah yang membuatku menyimpan sendiri dan mencari solusi atas apapun dalam hidupku dengan mengkomunikasikannya hanya kepada diri sendiri. Namun kejadian beberapa waktu lalu sedikit mengubah cara berpikirku...
Dimulai dengan sebuah pesan di fesbuk dari seorang teman yang berkeluhkesah tentang operasi yang hendak dilewatinya. Ia meminta bantuan beberapa teman terdekat, membagi cerita dan pada akhirnya teman-teman yang ia curhati bergiliran menjaga di rumah sakit.
Hari keduanya, aku diajak seorang teman kantor menjenguk partnernya yang juga sakit tetapi di rumah sakit berbeda. Sama dengan temanku yang operasi tadi, laki-laki ini berada di ruangan seorang diri. Bedanya, laki-laki ini memang sengaja tak mau ditemani kecuali partnernya.
Kedua hal menyangkut sakit dan rumah sakit ini kemudian membuatku tertampar untuk berpikir keras. Bagaimana dengan hari tuaku nanti? Sudah berkepala tiga, tak lagi bisa dibilang muda, namun bukan berarti mematahkan semangat mudaku, hanya harus waspada diri bahwa aku harus menyiapkan hal-hal menyangkut kesehatan.
Pertama adalah menjaga kesehatan, tentu saja. Berkaca pada pola hidup yang mau tak mau diakui sama sekali tak teratur, kadang frustrated ketika memikirkannya tanpa melakukan sesuatu untuk merubahnya. Yeah, menasehati orang lain selalu jauh lebih mudah daripada kepada diri sendiri. Makanan tak sehat, pengawet dan tak ada nilai gizi, penyebab kolesterol dan segala macam deretan penyakit lain yang mungkin kuhafal diluar kepala tapi tak berusaha untuk tak memakannya. Hmm, mengoceh pada diri sendiri pada bagian ini...
Kedua adalah life insurance, yup... Dengan "pilihan" orientasi seksualmu ini, maka bertanggungjawablah pada dirimu sendiri ketika tua nanti. Kesehatan harusnya dapat di akses oleh siapapun, tapi di negri dongeng korupsi ini tak akan ada yang bisa kau andalkan selain kau dan usahamu sendiri. Mulai mengeluhkan negri antah barantah yang bahkan sampai anak cucu menua nanti tetap tak akan pernah membaik... Bukan nyumpahin, bahkan jika Jokowi diproduksi berlipat aku yakin keruwetan negri ini tak menyurut. Jadi berharap akses kesehatan diberikan oleh negara sepenuhnya, ya aku harap tidak menjadi mimpi satu lagi diantara sekian trilyun mimpi yang menanti untuk direalisasi...
Ketiga adalah, dan ini jalan paling mentok yang kemudian bisa dijadikan solusi, yaitu punya partner hingga menua nanti. Keliatan so swit bukan, tapi akan menjadi so shit ketika bahkan punya partner tetapi tak perduli ketika kita sakit. Makanya, aku menempatkannya di pilihan terakhir. Anak dan pasangan adalah ide terakhir ketika kita sudah mengupayakan dua hal diatas. Kebergantungan itulah yang semoga tak menghinggapiku kelak.
Namun ada satu solusi lagi yang ditawarkan oleh teman ketika di rumah sakit itu... Sisterhood atau persaudarian, aku menamakannya sisterhood bukan berarti ikatan persahabatan sesama perempuan saja, tetapi semua bentuk ikatan yang tak memandang jenis kelamin dengan segala daftar pembedaan dan klasifikasinya.
Hmm, sebentar dulu, sejak kapan aku percaya pertemanan dalam segala bentuknya? Akan kuceritakan lebih detil pada judul lainnya. Namun ketika melihat sendirian berada di rumah orang-orang yang sedang ingin sembuh ini dan kemudian satu persatu teman bergantian menjaga, maka oke lah, sisterhood masuk dalam satu solusi tambahan.
Alasannya tentu saja bukan karena faktor kebutuhan, tetapi kebersamaan dan ruang untuk saling berbagi satu sama lain. Paling tidak akan ada teman-teman untuk saling menguatkan.
Sisterhood... Don't make it as the first aid for your health problems, but cultivate it as a system that will cured you psychologycally when u got problems...
Maka mulai sekarang saya sedang belajar ide-ide persaudarian ini ke dalam agenda konsolidasi otak saya dengan segala mindset-nya.
Thanks for making me learn and reflected...
Monday, November 12, 2012
Mengapa siklus hati hanya begitu2 saja?
Siklus hati... Tentu saja semua pernah mengalami, entah disadari atau tidak, pasti prosesnya akan sama pada tiap-tiap yang pernah merasakan.
Kalau saya menjabarkan siklus hati itu begini... Awalnya, tentu saja single, kalau tak mau dibilang jomblo, lalu tertarik pada seseorang, atau menarik bagi seseorang, lalu terjadilah tarik menarik itu... Kerennya sih pedekate... Kalau itu tak terjadi, pasti ada salah seorang yang tak tertarik... Hmm, tapi kali ini aku sedang ingin membahas dua orang yang tarik menarik. Dan kemudian cupid bersiap meluncurkan busur panahnya, dan dua orang ini kemudian di mabuk asmara... Lalu terjadilah relasi... Entah apapun namanya, no sign contract, selingkuh, pacaran, backstreet dan poro sedulurnya, yang intinya berelasi... Lalu mau lama atau sebentar, relasi berubah terputus...orang akan kembali pada posisi semula, single -kalau tak mau dibilang jomblo- dan menanti siklus diatas terulang dan berulang.
Membosankan! Itu yang terbersit di kepala saya tentang siklus tersebut. Saya pernah bilang mungkin tentang betapa memuakkannya pedekate dengan segala kepalsuannya tetapi tetap harus melewati fase itu demi sebuah sebutan penjajagan.
Siklus hati yang memang begitu-begitu saja itu juga semacam jadi patokan tak tertulis alias patron yang entah disadari atau tidak akan sama atau setidaknya serupa lah pada tiap-tiap orang.
Dan ide jail di kepala saya kemudian menginginkan siklus hati yang berbeda dari patron kebanyakan tetapi saya tau dan sadar siklus ini sebenarnya juga dialami banyak orang tentu saja dengan patron dan langkah-langkah berbeda. Siklus itu saya namakan siklus BALEN. Kerennya disebut CLBK, yang bagi saya dipanjangkan menjadi Cinta Lama Belum Kelar...
Saya merasa formula untuk siklus ini berbeda pada tiap orang, ada kemiripan tapi tak akan sama. Oleh karenanya, saya pun agak bingung bagaimana menjalankan siklus ini ketika tidak ada patronasi yang mungkin bisa kujadikan referensi.
Tapi, yang paling penting, saya lumayan niat lho dengan siklus ini meski saya tipe kurang kreatif untuk inovasi langkah strategis apa yang harus dilakukan. Jadi, mari memulai dengan menulis konsep siklus BALEN ini ya sodara-sodara...
Bersambung di tulisan selanjutnya!
Tuesday, November 6, 2012
Mengapa sehari HANYA 24 jam?
Pertanyaan yang diajukan oleh orang yang mendadak sibuk seperti saya. Bukan sok sibuk, tapi ketika satu demi satu deadline dan penumpukan aktivitas serta kesenangan harus dilakukan bersamaan, maka pertanyaan diatas akan kumunculkan sebagai bentuk pemberontakan atas siklus alam yang bernama rotasi bumi.
Belum selesai mengerjakan sesuatu sementara mata sudah terkantuk-kantuk, kemudian beberapa pekerjaan lain menanti untuk dirampungkan, pun hati juga tak mau menunggu untuk segera ditindak lanjuti, lalu bagaimana cara saya untuk memolorkan selang waktu yang tidak terbuat dari karet ini?
Okay, saya tau ini konsekuensi, saya meyakini itu. Saya tidak mengeluh soal pekerjaan yang menumpuk itu karena saya memang berniat dan sungguh2 menyelesaikannya, saya hanya komplain soal jatah hari yang hanya memberi kuota 24 jam per harinya. Andai bisa 48 jam mungkin tak akan komplain.
Hmm, mulai absurd, abaikan jika komplain ini mulai tak masuk akal. Saya juga tak menyalahkan waktu kenapa begitu cepat berlompatan dalam hidupku, seperti orang sedang jatuh cinta saja ya, jatuh cinta pada pekerjaan! Hmm, yang ini lebih masuk akal. Jadi, 24 jam tetap tak cukup tapi menyelesaikan yang belum terselesaikan adalah kewajiban. Termasuk 30 judul Uncut dan Untold yang sudah tertata urutan dan outlinenya, hanya perlu WAKTU untuk mengeksekusinya. Berdoalah, semoga waktu bersahabat denganku untuk berdetak lebih pelan dari kebiasaannya berpacu dengan hidupku menjalankan siklus alam.
Mari menulis... Mari mengeja waktu!
Thursday, November 1, 2012
Mengapa kloset inspiratif?
Gemericik air di kamar mandi adalah bunyi yang mengandung sumber inspirasi terbesar buatku. Mendengar luber air yang membasahi celah jari hingga dinginnya menusuk menembus pori-pori kulit kian menerbangkan ujung-ujung syaraf di otakku untuk memainkan kata-kata yang didansakan ibu jari dengan begitu lincah.
Kadang tak sadar hampir setengah jam duduk dengan posisi yang sama. Baru saat semut-semut tak nampak bernama kesemutan merambah telapak kaki hingga kaku untuk digerakkan barulah tersadar harus berganti posisi atau menyudahi kekakuan ujung-ujung kaki dengan menyiramkan air dingin, menunggu sebentar agar kaki kembali lemas dan benar-benar menyudahi aktivitas gemericik air nan inspiratif ini.
Membandingkan ketika aku menyalakan laptop, lalu duduk di depannya dengan halaman putih kosong terbentang, aku yakin setengah jam berikutnya paling maksimal aku cuma akan dapat satu paragraf, itu pun kalau ada inspirasi. Tetapi dengan membuka notepad hape, baik menulis judul baru maupun nerusin judul lama, sepersekian menit berikutnya kata demi kata lancar mengalir, mau sambil leyehan habis bangun tidur atau di kloset.
Makanya kalau disuruh mengarang dadakan, aku bukannya akan membuka laptop dan menulis, tetapi membuka notepad hape dan menarikan jempol. Menulis manual dengan tangan dulu kulakukan sebelum menggunakan hape, tetapi keseringan otakku lebih cepat daripada tanganku sehingga ide atau pokok pikiran yang hendak kutulis kadang terlewat tak semuanya tertuang.
Pada intinya, mari menulis! Memakai hape jelas akan mudah dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Hanya perlu menyempatkan waktu. Ya, waktu itu yang mahal di hari-hari hidupku saat ini!
Sunday, September 23, 2012
Omnibus, Antologi dan Flash Fiction; pilih mana?
Sedang bingung, itu intinya! Sedari awal aku menggunakan omnibus untuk menuang ceritaku tentangmu, lalu beralih pada penyebutan antologi karena omnibus untuk sebuah cerita visual dan sekarang aku tergelitik pada kata Flash Fiction. Jadi, mari kita definisikan ketiganya....
Omnibus dan Antologi
Antologi adalah kumpulan karya-karya sastra yang dipilih secara compiler. Antologi adalah sebuah kumpulan puisi, cerita pendek, drama, lagu, atau kutipan. Dalam antologi bergenre fiksi digunakan untuk mengkategorikan koleksi karya pendek seperti cerita pendek dan novel pendek, biasanya dikumpulkan menjadi satu volume untuk dipublikasi. [Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2280864-pengertian-antologi]
Antologi, menurut KBBI adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Jadi bisa kumpulan cerita beramai-ramai.
Sementara omnibus adalah kumpulan tulisan satu pengarang dengan topik yang serupa. Contohnya, omnibus karya Sir Arthur Conan Doyle atau Jules Verne. Bahkan bisa jadi tiga novel dari satu pengarang dirangkum jadi satu buku membentuk omnibus. [sumber: http://www.beritasatu.com/blog/lifestyle/1751-tren-menulis-keroyokan.html]
Flash Fiction
Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Rata-rata flash fiction memiliki antara 250 dan 1000 kata. (Sebagai perbandingan, ukuran cerita pendek berkisar antara 2.000 dan 20.000 kata. Rata-rata panjangnya antara 3.000 dan 10.000 kata.) Sejumlah sastrawan juga menyebutnya sebagai "cerita mini", disingkat "cermin". Semua ini mengacu pada rupa flash fiction yang sepertinya dirancang untuk dibaca sekaligus. Keterbatasan jumlah kata flash fiction sendiri sering kali memaksa beberapa elemen kisah (protagonis, konflik, tantangan, dan resolusi) untuk muncul tanpa tersurat; cukup hanya disiratkan dalam cerita. [sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Flash_fiction]
Flash fiction bukan puisi, potongan prosa atau ringkasan ide. Flash fiction wajib terdiri dari babak awal, tengah dan akhir. Flash fiction bukan potongan cerita atau kepingan adegan dari sebuah cerita besar. Selain lengkap dalam pembabakan cerita, flash fiction juga wajib menghadirkan 4 unsur pembangun fiksi, yaitu; Karakter, setting, konflik dan resolusi. Semua unsur wajib hadir dan tuntas dalam 100 kata. Cerita tidak diperkenankan mengambang/bersambung. [sumber: http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/]
Dari ketiga definisi diatas, aku merasa antologi mungkin lebih pas untuk mengkategorikan apa yang hendak kutuang, tetapi omnibus itu sudah melekat di hape tempat aku menarikan kata-kata yang mengantri di otak, tetapi menyebut flash fiction juga ingin karena yang kutulis juga pendek, tetapi bukan fiksi. Bingung, bukan?
Omnibus dan Antologi
Antologi adalah kumpulan karya-karya sastra yang dipilih secara compiler. Antologi adalah sebuah kumpulan puisi, cerita pendek, drama, lagu, atau kutipan. Dalam antologi bergenre fiksi digunakan untuk mengkategorikan koleksi karya pendek seperti cerita pendek dan novel pendek, biasanya dikumpulkan menjadi satu volume untuk dipublikasi. [Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2280864-pengertian-antologi]
Antologi, menurut KBBI adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Jadi bisa kumpulan cerita beramai-ramai.
Sementara omnibus adalah kumpulan tulisan satu pengarang dengan topik yang serupa. Contohnya, omnibus karya Sir Arthur Conan Doyle atau Jules Verne. Bahkan bisa jadi tiga novel dari satu pengarang dirangkum jadi satu buku membentuk omnibus. [sumber: http://www.beritasatu.com/blog/lifestyle/1751-tren-menulis-keroyokan.html]
Flash Fiction
Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Rata-rata flash fiction memiliki antara 250 dan 1000 kata. (Sebagai perbandingan, ukuran cerita pendek berkisar antara 2.000 dan 20.000 kata. Rata-rata panjangnya antara 3.000 dan 10.000 kata.) Sejumlah sastrawan juga menyebutnya sebagai "cerita mini", disingkat "cermin". Semua ini mengacu pada rupa flash fiction yang sepertinya dirancang untuk dibaca sekaligus. Keterbatasan jumlah kata flash fiction sendiri sering kali memaksa beberapa elemen kisah (protagonis, konflik, tantangan, dan resolusi) untuk muncul tanpa tersurat; cukup hanya disiratkan dalam cerita. [sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Flash_fiction]
Flash fiction bukan puisi, potongan prosa atau ringkasan ide. Flash fiction wajib terdiri dari babak awal, tengah dan akhir. Flash fiction bukan potongan cerita atau kepingan adegan dari sebuah cerita besar. Selain lengkap dalam pembabakan cerita, flash fiction juga wajib menghadirkan 4 unsur pembangun fiksi, yaitu; Karakter, setting, konflik dan resolusi. Semua unsur wajib hadir dan tuntas dalam 100 kata. Cerita tidak diperkenankan mengambang/bersambung. [sumber: http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/]
Dari ketiga definisi diatas, aku merasa antologi mungkin lebih pas untuk mengkategorikan apa yang hendak kutuang, tetapi omnibus itu sudah melekat di hape tempat aku menarikan kata-kata yang mengantri di otak, tetapi menyebut flash fiction juga ingin karena yang kutulis juga pendek, tetapi bukan fiksi. Bingung, bukan?
Friday, September 21, 2012
Rayya itu.. Aku, di awal tahun ini!
Pukul 17.20, kulajukan motor setengah ngebut di jalanan beraspal menembus Timoho menuju jalan Solo. Sembari melirik arloji, tepat 15 menit aku menginjakkan kaki di parkir basement mal terbesar di Jogja ini. Dilema antara parkir diluar dan di dalam ini sedari awal mengusikku. Kalau parkir diluar takut hujan, tetapi kalau parkir dalam nah nanti pulangnya pasti kebingungan dimana tadi naruh motornya. Dan beneran terjadi... Sehabis memarkir motor di areal yang bisa kuhafal karena dekat tempat penitipan helm, aku berjalan persis di belakang para cewek, bukan mau ngecengin, aku gak tau dimana pintu masuk menuju ke atas, jadinya aku ya ikut-ikut mereka saja dengan pasang muka pura-pura tau jalan...
Menuju ke lantai paling atas dengan eskalator, di lantai kedua aku bertemu si pemilik tiket. Ya, aku kemari karena ada premier film Rayya, Cahaya Diatas Cahaya yang dibintangi Titi Sjuman. Kebetulan yang berpapasan denganku tadi itu adik tokoh terkenal di Jogja yang anaknya memproduseri film tersebut. Dan ia memberi beberapa tiket gratis kepada teman-teman jaringan LSM.
Cinema 21 malam itu lumayan rame untuk ukuran malam Jumat. Hebatnya lagi film-film yang sedang diputar empat-empatnya adalah film Indonesia. Apa larangan film asing diputar disini masih berlaku? Aku juga kurang tau.
Satu persatu teman yang kebagian tiket datang. Jam 18.15 film tepat ditayangkan. Mendapat tempat duduk paling atas tentulah strategis. Dan melihat wajah Titi Sjuman berakting dalam film itu kemudian memutar ulang benakku kembali pada sekitar Juni tahun lalu...
Syuting film itu beberapa mengambil gambar di Jogja. Nah di beberapa tempat inilah aku pernah melakukan kegilaan. Titi Sjuman memang menjadi aktris favoritku sejak akting ciamiknya di Mereka Bilang Saya Monyet, tapi bukan karena sebab itu aku lantas "membuntutinya" selama di Jogja. Aku ingin melihatnya langsung!
Dan twitter menjadi penolong waktu itu. Aku mem-follow produser, sutradara dan beberapa tim produksi film itu selain Titi Sjuman yang sudah ku-follow duluan. Dari sanalah aku mendapat info keberadaan mereka dan juga interaksi setelah ini mereka akan kemana.
Taman Sari, Benteng Vredeburg dan Tip Top es krim Mangkubumi adalah tiga kegilaanku "berburu" sang aktris. Untung tak kulanjutkan ketika sang produser menyilahkanku datang ketika mereka sedang mengambil gambar di Rumah Tembi kemudian pesta lampion di Parangtritis. Kalau aku pergi juga ke kedua tempat itu, bolehlah aku di cap gila!
10 menit film diputar aku awalnya sudah mulai bosan mendengar karakter Rayya yang diperankan Titi Sjuman cuma marah-marah. Barulah ketika Tio Pakusadewo sebagai Arya sang fotografer muncul, dialog dan chemistry keduanya sangat menarik. Bercerita tentang seorang Rayya, aktris nomer wahid di negeri ini dengan konflik kekasihnya yang seorang pilot ternyata sudah punya istri dan selama ini menjadikannya sebagai selingkuhan. Konflik yang menohok-ku!
Amarah, tangisan dan emosional Rayya di awal cerita mengingatkanku pada diriku sendiri di awal tahun ini. Persis setelah aku memutuskan mundur dari cinta yang membelitku, segenap emosional Rayya adalah cerminanku. Dan beberapa dialog dalam film ini juga menamparku. Aku tak akan bercerita amarah dan tangis yang campur aduk di judul ini, nanti cerita ini akan menjadi bagian tersendiri dalam Kenang Kenangan.
Yang aku paling suka dalam film ini adalah angle, pemandangan dan wardrobe Rayya yang WOW banget nunjukkin indahnya nusantara.
Rayya itu aku seperti awal tahun ini, dan seperti halnya perubahan karakter Rayya di akhir cerita, maka aku kini pun sama, punah amarah dan tangis, kini hanya ada mencintamu dengan cara yang berbeda...
Tuesday, September 18, 2012
Ralat: Bukan Omnibus, tetapi Antologi!
Aku akhirnya sedikit gusar ketika berulang kali menyebut apa yang hendak kupenakan tentangmu sebagai sebuah omnibus. Usai membaca dan mengasumsikan, aku berkesimpulan tak akan lagi menamai Kenang Kenangan sebagai omnibus, tetapi antologi.
Bolehlah jika dulu ketika kamu sering menghias alam bawah sadarku, aku menyebutnya omnibus karena mimpi kuibaratkan sebuah film tanpa durasi, bahkan alur yang kadang tak mudah ditebak pun bisa mandeg kapan saja tanpa diduga. Secara tak nyata mimpi seperti film yang diputar otak. Aku memang tak yakin otak pula yang menyutradarai, namun karena layar gelap tempat satu persatu adegan itu tayang berada di kepalaku, mau tak mau otaklah yang mengotaki omnibus itu.
Dan kini ketika kendali tsb termandatkan pada jempol kananku, tanpa bayangan adegan mirip film, tiap huruf hasil ketikan yang kurangkai menjadi antologi ini harus sanggup membuat angan tiap pembaca seakan-akan menikmati sebuah omnibus.
Rencana awalnya, postingan Kenang Kenangan ini akan menghias seminggu satu kali, tetapi melihat animo otak yang menjejali jempol dengan penambahan-penambahan judul hasil ingatan yang tak mau hanya terjebak di kepala dengan hanya menghasilkan seutas senyum, maka setiap judul yang telah menetas akan tayang dalam bilik kata-kata ini tanpa menanti Selasa sesuai "hari baik" yang kujanjikan.
Otak sedang membiarkan jempol menari. Asal tau saja, jempol adalah tangan kanan hati, dan otak tahu itu, hanya saja otak sudah sepakat bahwa ide awal Kenang Kenangan yang mungkin bagi orang lain lebay, tapi bagiku worthed ini bukan karena #GagalMovedOn, tetapi cerita tercecer ini adalah cara hati menghargai ceritaku denganmu.
Jadi, antologi, omnibus bukan lagi!
Thursday, September 13, 2012
Tentang Kenang Kenangan
Kenangan. Kata itu adalah grand desain atas segala sesuatu yang ingin kutuang tentang kamu. Sesuai esensinya, kenangan adalah ceceran kisah yang terangkai menjadi satu, maka akan seperti itulah kamu dalam buaian tarian jemariku yang akan mengisi kotak kalimat dunia maya ini tiap seminggu sekali. Dan hari yang kupilih adalah Selasa, karena Selasa cenderung menjadi hari keberuntunganku, meski hari hari lain tetap sama baiknya.
Aku pernah berniat akan menjabarkanmu dalam omnibus. Ya, di setiap helai hidup terkadang hal hal kecil tetiba merujuk pada sesuatu yang mengingatkanku tentangmu, sekecil apapun namun tetap menjadi panjang dalam anganku. Ada filosofi menarik sebenarnya, katanya, jika ingin melupakan seseorang maka ingatlah hal yang tak baik tentangnya, namun yang kulakukan justru kebalikannya, celah ingatanku hanya mampu menuturkan yang indah saja tentangnya. Ah, hanya alasanku saja, aku memang tak ingin menghapusnya dari palung terdalam meski otak telah mengirim penembak jitu terbaik untuk membinasakan kenangan itu.
Maka aku akan memberinya nama Kenang Kenangan. Maknanya bukan tanda mata, tetapi sedang mengenang kenangan. Hmm, seperti kataku, kisahku tentangmu akan hadir sekali tiap Minggu. Aku tak akan bilang ini kisah kita, karena rangkaian kata ini murni hasil cipta benak dan hatiku dari sudut pandangku, versiku.
Semoga sesuai dengan jargon hatiku tentangmu, yang tak berubah seiring berjalannya waktu, ya kau tau kan filosofinya, waktu yang biasanya merubah segalanya... Oleh karenanya, meski bukan saja bertentangan dengan filosofi waktu namun aku juga menabrak keputusan otak untuk tak lagi membuang segala bentuk kesia siaan energi dengan masih berkutat padamu, aku berharap Kenang Kenangan tentang perempuan yang sedari awal namanya begitu tak kusukai ini mampu memberi celah dalam hati untuk terus membuat perasaan tentangmu tetap bertumbuh meski dalam nyata seolah kebalikannya. Ah, aku tak bilang dalam nyata jelas kebalikannya, tetap saja BERHARAP.
Tanpa banyak kata, meski agak kelimpungan harus memulai darimana, mungkin tak akan runut apalagi urut, aku hanya mengikut prinsip omnibus, bahwa aku hanya akan menuang apa yang sedang tercecer di otakku tentangmu. Ingat, ceceran itu ada di otak, meski otak pulalah yang mengotaki untuk memberangus kenangan itu dari tempatnya melekat.
Dan inilah Kenang Kenangan tentangmu...
Aku pernah berniat akan menjabarkanmu dalam omnibus. Ya, di setiap helai hidup terkadang hal hal kecil tetiba merujuk pada sesuatu yang mengingatkanku tentangmu, sekecil apapun namun tetap menjadi panjang dalam anganku. Ada filosofi menarik sebenarnya, katanya, jika ingin melupakan seseorang maka ingatlah hal yang tak baik tentangnya, namun yang kulakukan justru kebalikannya, celah ingatanku hanya mampu menuturkan yang indah saja tentangnya. Ah, hanya alasanku saja, aku memang tak ingin menghapusnya dari palung terdalam meski otak telah mengirim penembak jitu terbaik untuk membinasakan kenangan itu.
Maka aku akan memberinya nama Kenang Kenangan. Maknanya bukan tanda mata, tetapi sedang mengenang kenangan. Hmm, seperti kataku, kisahku tentangmu akan hadir sekali tiap Minggu. Aku tak akan bilang ini kisah kita, karena rangkaian kata ini murni hasil cipta benak dan hatiku dari sudut pandangku, versiku.
Semoga sesuai dengan jargon hatiku tentangmu, yang tak berubah seiring berjalannya waktu, ya kau tau kan filosofinya, waktu yang biasanya merubah segalanya... Oleh karenanya, meski bukan saja bertentangan dengan filosofi waktu namun aku juga menabrak keputusan otak untuk tak lagi membuang segala bentuk kesia siaan energi dengan masih berkutat padamu, aku berharap Kenang Kenangan tentang perempuan yang sedari awal namanya begitu tak kusukai ini mampu memberi celah dalam hati untuk terus membuat perasaan tentangmu tetap bertumbuh meski dalam nyata seolah kebalikannya. Ah, aku tak bilang dalam nyata jelas kebalikannya, tetap saja BERHARAP.
Tanpa banyak kata, meski agak kelimpungan harus memulai darimana, mungkin tak akan runut apalagi urut, aku hanya mengikut prinsip omnibus, bahwa aku hanya akan menuang apa yang sedang tercecer di otakku tentangmu. Ingat, ceceran itu ada di otak, meski otak pulalah yang mengotaki untuk memberangus kenangan itu dari tempatnya melekat.
Dan inilah Kenang Kenangan tentangmu...
Wednesday, September 12, 2012
What an Amazing Day!
Alarm sudah kupasang pukul 06.30, tak tanggung2 di tiga handphone sekaligus. Bukan tanpa sebab, mataku sampai pukul 01.30 dini hari belum mau diajak kompromi untuk merem, makanya sedikit ketar ketir jika alarm satu saja tak akan cukup untuk membuatku terjaga di jam yang kubutuhkan tsb. Bukan tanpa sebab juga pagi2 niat banget bangunnya, hari ini ada aksi diam 126 hari aksi penyerangan ke LKiS jam 8 pagi, dan kebagian bawa kentongan ya kudu tepat waktu hadir disana. Dan tumben-tumbenan juga ini mata ga bersahabat banget padahal dah ngantuk poll, bahkan sampai 2 kisi-kisi omnibus jadi pun malah bikin mata keilangan rasa kantuk, dah lewat jam tidur juga. Mau tak mau, pemaksaan pemejaman mata pun diberlakukan. Dan hasilnya... Paginya aku terbangun lebih dulu daripada bunyi alarm, pukul 06.17 mata dah sueger tak lelah sedikit pun. Thanks God...
Bergegas mandi dan datang tepat waktu di TKP hingga aksi berakhir cukup membuatku tersenyum. Good job to all teamwork!!!
Diantara 2 soto
Aku sudah melangkah menuju bakul soto bersama seorang teman kantor bergerombol dengan lainnya dengan niatan mau ngerembug soal RTL tulis menulis di komunitas, tapi karena teringat kentongan yang harus kubawa, aku balik lagi ke TKP, maka disana lah dilema 2 soto dimulai...
Ketidaksinkronan otak dengan hati akhirnya dimenangkan oleh hati pagi ini. Otak yang sedari awal memutuskan menaikkan ego yang membuatku berkeputusan melajukan kaki bersama teman kantor, tak mau ikut denganmu dengan agenda soto gratis lainnya, akhirnya dibelokkan hati untuk mengekormu... Ya kamu! Perempuan yang hari ini saya curi-curi pandang diantara penutup mata hitam yang masih tembus pandang... Ya kamu, perempuan yang saya masukkan kategori cantik untuk hari ini... Entah apa isi otakku, aku hanya tau aku hanya menurut apa kata hatiku.
Dan hati tak berhenti disini saja merusak tatanan otak. Ia pintar, menggerogoti pasukan otak dengan arsenik mungkin, mati kutu otak bertekuk lutut pada hati hari ini. Bahkan aku merasa detakan waktu berirama lebih cepat.. Aku masih ingin terus mencuri-curi pandang dari teropong yang tak akan pernah kau lihat di palung terdalamku, namun seperti berlarian dengan angka-angka yang berganti sedemikian cepat di arloji di tangan kiriku, deru motorku memang menjauh meninggalkanmu, tetapi di jalanan beraspal ditambah terik menyengat yang langsung menusuk pori-pori akibat kepedean gak pake jaket, wajahmu menggenapi benakku dengan senyum memadati celah bibir. Saya sumringah total!!
Hari yang Luar-Binasa!
Dan keluarbiasaan hari ini tak berhenti disini. Ada seorang teman yang kemudian butuh bantuan mengkonsultasikan permasalahan temannya tentang KTD. Aku awalnya tak mengira bahkan akan terlibat terlalu jauh. Aku beranggapan aku hanya akan membantu merujukkan saja. Kekompleks-an dimulai ketika temanku mendapat update terbaru bahwa survivor sudah berada di jogja. Awalnya yang hanya ingin konsultasi awal tanpa kenal si survivor kemudian menjadi konsultasi dengan menghadirkan si survivor. Bukan masalah bolak-balik dan ketlisutan jalan yang menyebabkan "petualangan baru" ini terhenti sementara yang melelahkan, namun ketika di detik-detik berikutnya si survivor memutuskan bulat tindakan diberlakukan secepatnya. Sesi konseling yang awalnya bagiku akan tak memakan waktu lama, tak akan sampai petang beranjak jauh, ternyata hingga bunyi jangkrik di areal persawahan kanan kiri tempatku mendengarkan konselor menjelaskan satu demi satu prosedur, implikasi dan segala tetek bengeknya terdengar keras yang artinya sudah malam, akhirnya disepakati petualangan esok pagi akan dilanjutkan...
Ini memang bukan pertama kalinya aku menghadapi survivor, tapi permasalahan tindakan yang harus diambil dengan segala dampaknya inilah yang merupakan pengalaman pertama bagiku. Bahkan seorang teman yang sengaja kuajak kesana pun memucat mendengar penuturan si konselor.
Proses hari ini sangat menakjubkan! Menutup malam dengan makan besar, karena baru nyadar perut sudah sangat keroncongan dengan isi otak nyaris penuh. Pembelajaran menghargai tubuh, berpikir tak hanya satu dua kali bahkan harus beribu kali sebelum bertindak yang berdampak pada tubuh yang tak hanya sehari dua hari tapi menjadi memory yang akan mengiring sepanjang hidup, maka sayangi tubuh Anda dari kenikmatan sesaat yang menggerogoti tubuh sepanjang hayat!
Sunday, August 5, 2012
Bintang Jatuh
Malam ini ketika duduk duduk sembari bercerita kekonyolan kejadian sekitar sejam sebelumnya, aku merasa ada benda putih yang meluncur, dan kudefinisikan sebagai sebuah bintang jatuh.
Make a wish, teriak tetangga kost yang duduk di sebelah. Hmm, seperti dikomando, langsung deh komat kamit. Tau yang kulafalkan... Menagih Tuhan, jadi gak sih Ia mendekatkan aku dengannya...
Kamu tau siapa yang aku doakan? Tanyaku pada tetangga kost. Tau! Ternyata ia mengamati komat kamitku. Hmm, gak tau kenapa, ketika memejamkan mata barusan, yang nampak malah perempuan ini...
Aku tak pernah menuang sosoknya dalam media sosial ini. Bukan tanpa sebab, selain memang ia dahulu sudah berpemilik, aku masih ingin mengingat tentangnya hanya dalam benak. Sebenarnya banyak kekonyolan kejadian diantara kami, dan justru itu yang membuat ia berkesan.
Aku mengenalnya lumayan lama. Definisi kenal adalah mengetahui namanya, tapi tak pernah bertegur sapa. Wajahnya lumayan angkuh jadi aku berkesimpulan ia tak seberapa friendly. Baru tahun ini aku lebih mengenalnya...
Untuk orang yang dalam tanda kutip baru kenal, tangannya lumayan aktif. Aku menjulukinya hobi jowal jawil. Dan entah kapan perasaan suka itu menyusup. Namun banyak jaring jaring di otakku yang membuat pembatas pada perasaan itu. Aku cukup menyukainya saja.
Ketika malam ini ia muncul dalam doaku saat bintang jatuh pun bukan tanpa sebab pula. Aku merasa kami sama sama tau ada sebuah perasaan menyelusup tanpa perlu dipertanyakan satu sama lain. Mata adalah indikasi utama. Gestur tubuh apalagi caranya bicara, ada yang berbeda. Hmm, aku masih ingat raut wajahnya ketika aku ternyata tau zodiaknya. Kok kamu tau zodiakku? Tanyanya diantara ucapanku dengan teman teman lain, namun aku mengindahkan. Aku pikir ia cukup pintar untuk tau bahwa itu menjadi salah satu pertanda perasaanku padanya. Entahlah, aku sepertinya cuma bisa tersenyum mengingat cara kami berperilaku satu sama lain, susah sih kalo dideskripsikan dengan kata kata. Bahasa itu hanya kami yang tau.
Makanya, aku juga hanya menagih pada Tuhan, apakah Ia akan benar benar mendekatkan kami. Meski banyak pembatas yang aku yakini aku sendiri pun tidak cukup percaya diri untuk melampaui. Namun boleh tak percaya, di awal puasa kemarin ketika hatinya gundah, aku sudah memperkenalkan namanya pada Tuhan. Menunggu tangan Tuhan bekerja untuk menindaklanjuti sesuai fasih lafazku ketika bintang jatuh malam ini...
Make a wish, teriak tetangga kost yang duduk di sebelah. Hmm, seperti dikomando, langsung deh komat kamit. Tau yang kulafalkan... Menagih Tuhan, jadi gak sih Ia mendekatkan aku dengannya...
Kamu tau siapa yang aku doakan? Tanyaku pada tetangga kost. Tau! Ternyata ia mengamati komat kamitku. Hmm, gak tau kenapa, ketika memejamkan mata barusan, yang nampak malah perempuan ini...
Aku tak pernah menuang sosoknya dalam media sosial ini. Bukan tanpa sebab, selain memang ia dahulu sudah berpemilik, aku masih ingin mengingat tentangnya hanya dalam benak. Sebenarnya banyak kekonyolan kejadian diantara kami, dan justru itu yang membuat ia berkesan.
Aku mengenalnya lumayan lama. Definisi kenal adalah mengetahui namanya, tapi tak pernah bertegur sapa. Wajahnya lumayan angkuh jadi aku berkesimpulan ia tak seberapa friendly. Baru tahun ini aku lebih mengenalnya...
Untuk orang yang dalam tanda kutip baru kenal, tangannya lumayan aktif. Aku menjulukinya hobi jowal jawil. Dan entah kapan perasaan suka itu menyusup. Namun banyak jaring jaring di otakku yang membuat pembatas pada perasaan itu. Aku cukup menyukainya saja.
Ketika malam ini ia muncul dalam doaku saat bintang jatuh pun bukan tanpa sebab pula. Aku merasa kami sama sama tau ada sebuah perasaan menyelusup tanpa perlu dipertanyakan satu sama lain. Mata adalah indikasi utama. Gestur tubuh apalagi caranya bicara, ada yang berbeda. Hmm, aku masih ingat raut wajahnya ketika aku ternyata tau zodiaknya. Kok kamu tau zodiakku? Tanyanya diantara ucapanku dengan teman teman lain, namun aku mengindahkan. Aku pikir ia cukup pintar untuk tau bahwa itu menjadi salah satu pertanda perasaanku padanya. Entahlah, aku sepertinya cuma bisa tersenyum mengingat cara kami berperilaku satu sama lain, susah sih kalo dideskripsikan dengan kata kata. Bahasa itu hanya kami yang tau.
Makanya, aku juga hanya menagih pada Tuhan, apakah Ia akan benar benar mendekatkan kami. Meski banyak pembatas yang aku yakini aku sendiri pun tidak cukup percaya diri untuk melampaui. Namun boleh tak percaya, di awal puasa kemarin ketika hatinya gundah, aku sudah memperkenalkan namanya pada Tuhan. Menunggu tangan Tuhan bekerja untuk menindaklanjuti sesuai fasih lafazku ketika bintang jatuh malam ini...
Friday, August 3, 2012
Rancu itu Candu
Aku sepertinya pernah menulis tentang kegemaranku satu ini. Bikin rancu!
Orang mungkin kadang berfikir kok mudah ya ditebak. Hmm, kalau itu yang memang terbersit, aku akan berdecak dengan kesuksesan bermain muka.
Informasi yang tergelontor deras jangan diharap adalah murni seribu persen begitu adanya. Sekali lagi kekagumanku untuk merancu kadang tak terpikir kan sejauh itu. Tak ada informasi yang seratus benar, jendral! Pandailah memilah dan memilih, karena absurd juga pilihan.
Deru tawa di dada tak pernah terdengar keluar, pun gemanya tak membuat sudut bibir membentangkan secarik senyuman. Oleh karenanya, mata adalah jendela jiwa. Jika tak dapat mengartikan mimik mata dan silat jemari berdansa, niscaya absurd-lah yang kan Anda terima!
Thursday, August 2, 2012
Flirting is My Stereotyping
Bukan bangga dengan judul diatas, justru jengah. Pasalnya distereotypekan sebagai tukang mbribik itu konotasinya jelas negatif. Jadi kadang cuma mau ingin berteman pun pasti dikira mbribik. Nah ini yang terjadi dalam kegiatan kali ini...
Perempuan ini memang tergolong cantik. Siwer kalo bilang ia buruk rupa. Aku memang meliriknya ketika ia baru datang, itu saja! Namun saat gilirannya memperkenalkan diri, gak tau kenapa kok teman2 malah menatapiku dengan pandangan awas jangan dibribik! Aku justru membalas dengan kerlingan yang membuat teman di hadapanku seolah berkata, dasar! Dan stereotype ahli flirt itu yang kemudian melekat.
Padahal toh biasa bukan melihat orang cantik kemudian berteman. Bukan tipe orang gila juga yang langsung suka membabi buta. Tapi mengenal dan mengetahui latar belakang orang yang baru saja dikenal kukira cukup wajar. Walhasil saya memang kemudian tak berani bahkan dikategorikan menghindar biar gak dikira mbribik.
Stereotype ini yang lumayan meresahkan. Pembawaan yang memang doyan godain orang, apakah salah berteman dengan banyak orang? Kadang predikat ini merembet ke arah cap player. Bukankah tidak benar mendefinisikan player kepada orang yang belum berpartner?
Sebenarnya tak terlalu penting bagaimana tanggapan orang, karena memang orang hanya bisa berasumsi tanpa pernah tau what u feel inside... Oleh karenanya, mengabsurdkan adalah pilihanku kemudian...
Wednesday, August 1, 2012
Renungan Kloset
Mayoritas apa yang kutulis dalam blog ini adalah hasil karya jempol kananku ketika di kamar mandi atau terjaga di pagi hari ketika libur.
Sebagian orang mungkin akan mengamini bahwa kloset itu seperti punya hipnotis untuk mencetuskan ide maupun merangkai kalimat, maka membawa hape ke kamar mandi bagiku lumayan menjadi keharusan saat membiarkan sistem ekskresi bekerja.
Puasa pun tak jauh berbeda. Maklum, ketika hawa dingin menyesap saat sahur, rutinitas kontraksi perut akan datang seperti menagih untuk dikeluarkan. Dan jempol akan bersuka ria mengurut dan merunutkan barisan memori di otak, terlebih untuk menggaungkan otak yang kembali menang mutlak. Tak ada quick count, pun tak ada penghitungan suara, namun bukan karena otoriter pula ketika aku mengamini otak menyatakan kemenangannya.
Ada yang berbeda meski ini kemenangan kedua otak. Hati tak akan terbiarkan menanggung kekalahan layaknya awal tahun. Porsi itu sudah tak terpakai. Kalah pun, hati tetap tak terbeli, meski otak tentu saja masih tetap dengan kepongahannya.
Ibarat renungan kloset yang selalu terakhiri gulungan air menyapu segala sesuatu yang memang layak tuk disingkirkan namun bukan dimusnahkan. Ia hanya harus keluar demi kesinkronan kerja tubuh yang lebih baik. Maka begitu juga dengan kemenangan otak, ia mutlak menang namun menjadi pemimpin tertinggi atas tubuh bukan semata ia otoriter pada hati, justru pe er besar otak kini adalah menyamakan persepsi, bahwa hati sampai kapanpun tak kan pernah membenci. Unsur berbau negatif itu mutlak hasil seringaian kurcaci-kurcaci kerdil yang memang tumbuh di kepala.
Genangan air sudah mulai bening. Itu tandanya aku harus beranjak. Pun begitu juga logika...
Tuesday, July 31, 2012
Hanya Kemarahan Sementara
Saya heran, ketika membagi gundah tentangmu dan saya mulai tegas bersikap, mereka tak pernah percaya bahwa ketegasan saya akan permanen.
Ini bukan kali pertama, lihat saja seminggu kemudian kau akan kembali seperti dulu, kata orang pertama bukan bermaksud mendoakan hanya saja ia sangsi aku bisa mengaktualisasikan hal tsb.
Ahh, itu hanya kemarahan sesaat, nanti juga ilang sendiri, kata orang kedua lebih tak percaya lagi.
Heran juga, dua opini yang sama. Jadi otak belum bisa klaim ia menang pilkada putaran kedua ini... Menelisik kembali ke dalam, keteguhan dua hari ini belum mengisyaratkan ia akan berputar haluan, hanya saja memang hati masih kerap menjadi penyusup diantara kurcaci otak yang sedang memproduksi instruksi2 otak untuk mengharakiri perasaan.
Kemarahan. Apakah ini definisi dan deskripsi yang paling tepat? Kadang aku membenarkan ini sebagai sebuah kemarahan, namun di sudut lain berkata ini adalah keputusan dari sebuah keinginan untuk tak lagi membuang2 energi dalam bentuk apapun.
Kemenangan otak atau bahkan kepongahan otak. Kemarahan sesaat atau keinginan permanen. Ini semacam aksi pemberontakan hati yang sepertinya akan membuat kontroversi baru. Bahwa otak tak bisa sekali lagi menjajah hati. Subordinasi otak biarlah hanya menjadi struktural tubuh, dimana letak otak memang berada lebih tinggi dari hati. Selebihnya, bahkan hati pun pandai mempropaganda kurcaci di otak.
So, let's not have quick decision bout it!
P.S this is a heart writing
Saturday, July 28, 2012
Meet Again...
Ketika semua tak terencana, malah akan terjadi begitu saja. Seperti pertemuan sore ini...
Singkong coklat. Makanan itu yang akhirnya menautkan aku dan kamu. Bahkan aku sampai tak bisa mempercayai tulisan di layar handphone: jadi kita ketemu dimana?. batinku, bocah ini kehabisan obat kali ya, ngajakin ketemu, padahal kalo aku ingat jaman setaun lalu, ngajak ketemu ini orang tuh kudu pake alasan logis, kalo gak logis ga bakal mau ketemu. Nah, ini ga da angin ga da ujan, kayak kesamber bledeg minta ketemu. Saya tau ini hanya kepentingan jualan, tapi kok kedengerannya; aneh!
Dan dia membuktikan kata-katanya. Meski awalnya gak mau masuk kantor dan minta dijemput di depan, akhirnya ia menginjakkan kaki di kantor atas alasan keperluan informasi tentang link pemuka agama yang bisa menikahkan lesbian.
Ada lagi yang aneh, ia tak berani melihat mataku ketika bicara. Berbeda drastis 180 derajat dengan setaun lalu, mata yang hobi melumat dengan pelolotan sambil bilang apa liat-liat itu udah ga ada lagi. Ia seperti anak yang malu-malu rendah diri. Kepribadian kontras ya... Dan wajahnya juga berbeda, kulihat lebih tirus. Aku bahkan hampir tak mengenali ketika ia melambaikan tangan di depan. Masa sih itu dia? Tanyaku sembari ngeliat sekeliling yang ternyata ga da orang lain lagi disana.
Gak lama memang diskusi soal link pemuka agama itu. Lalu ia pamit pulang dengan cium tangan. Agak ngakak juga ketika ia menyebutku mantan kakak yang sudah dipecat.
Sore yang lucu!
Thursday, July 26, 2012
Doa Pagi Sebelum Tidur -Lagi-
Puasa baru kumulai berapa hari, maklum dapat jatah rutin bulanan, tapi godaan juga sudah mulai menghampiri. Katanya, kalau di bulan puasa ini setan dan sebangsa se tanah airnya di kerangkeng, tapi kok tetap aja menggoda ya. Dan nggodainnya gak tanggung2 lho, di area yang enak2...
Sudah beberapa kali puasa di kota ini, sahur adalah ritual yang hampir tak pernah terlewati dengan mengisi perut. Paling banter minum air putih. Biasa, air adalah kebutuhan utama tubuh di banding makan. Meski kadang terkantuk-kantuk, ritual ini hampir selalu kulakukan.
Menanti subuh sembari terkantuk-kantuk, lalu bablas tidur sehabis subuh, nah mimpi diantara sehabis subuh sampai pagi membuka mata inilah yang merisaukanku dua hari ini... Mimpinya gak nanggung2, mbokep! Pas pagi buka mata saya sampe leng-lengen a.k.a tertegun, ini kok bisa mimpi begitu yak!
Memutar ulang ingatan, memang kerap terjadi mimpi pada jam2 pagi itu adalah daerah rawan karena gak tau kenapa selalu beraroma mesum. Kalau hari2 biasa mungkin itu tak masalah, alias dikategorikan lumrah. Nah, kalo pas puasa gini kan jadi luar binasa...
Doa pagi sebelum tidur setelah subuh adalah keharusan. Haha paling tidak mensugesti otak untuk menginstruksi alam bawah sadar membuat corak mimpi yang lain, and it works!!!
Wednesday, July 25, 2012
Mengulang Juli
Mengapa kuberi judul mengulang Juli, kalau kamu ingat awal komunikasi kita dimulai di Bulan Juli. Terhitung akhir Juli meski pertengahan Juli entah tiba-tiba kamu dapat wangsit darimana masuk dan mencoba mendaftar milis tempatku bekerja. Ahh, aku tak akan membahas soal itu lagi...
Mengulang Juli, kutulis setelah sekian lama vakum tak ada komunikasi antara kita. Meski pernah satu dua sms nyasar nyampe ke hape mu atau hape ku, namun tak bisa dibilang sebagai sebuah komunikasi. Namun malam ini lain persoalan... Ketika mengobrol dengan si pembuat gagal moved on di area nongkrong jalan Sultan Agung, nada whatsapp Blackberryku berdering. Kukira teman di LSM, ternyata perempuan pengisi Agustus-Septemberku dengan sapaan khas yang sudah cukup lama tak kudengar; Om Cosmic. Kukira akan satu dua whatsapp namun beralih sahutan kalimat yang lebih panjang, suaranya sampai di gendang telingaku. Suaranya berbeda, suara orang yang sedang flu. Dan yang lebih mengejutkan, kekikukan yang sempat menghantui benakku sebelum menekan nomor bertuliskan namanya tadi langsung buyar di menit pertama.
Hampir tak ada yang berbeda, komunikasi yang serupa. Kekuatiranku musnah ketika tawa dan kalimat per kalimat bisa begitu sederhana terlontar tanpa kaku.
Memulai mengulang Juli memang, tanpa mengulang hati, tentu saja!
Sunday, July 8, 2012
You will when u believe...
Lagu lawas yang tiba-tiba terngiang hampir tiap hari di telingaku, namun bukan tanpa tiba-tiba terangkum menjadi teramat bermakna.
Mempercayai keajaiban. Sejak dulu aku percaya. Bahkan jalan hidupku kupikir masuk kategori keajaiban. Tracknya sudah diatur, makanya mungkin kini aku tak terlalu memikirkan akan bagaimana hidup, just live it! Bukan hendak pongah, namun ketika menilik ke belakang, satu persatu runutan kejadian itu seperti sudah pas saja memang harus begitu lajurnya. Memaknai kehilangan, haru biru senyuman capaian, tetesan palung terdalam, mendendam, memaafkan, pahit manis alur hidup itu kalau di urutkan akan membuatku termanggut-manggut, that my life is so wonderful!
Mengkonstruksikan otak untuk meyakini. Sugesti. Kata itu terkadang menjadi andalanku. Segala sesuatu dimulai dengan sugesti. Tak ada hubungannya dengan klenik. Hanya terkadang ketika menanamkan sesuatu di otak -apapun itu- dan kemudian meyakininya, hal tsb terjadi seperti yang diinginkan.
Wednesday, July 4, 2012
B.A.H.A.Y.A
Sesuatu yang kutakutkan ternyata terjadi. Sebenarnya bukan suatu hal yang menakutkan, hanya sempat terfikirkan dan kupikir gak bakal kejadian, tapi ternyata terjadi. Sistem Management dan maintenance-nya ternyata belum beres...
Otak dulu hanya separo percaya ketika hati sok yakin dapat mengatur tiap molekul-molekul rasa yang ia sebarkan tak akan terpengaruh ataupun bereaksi kimia ketika chemistry berlangsung. Hati meyakini akan tak bergeming untuk selalu berada pada koridor ke-aku-an bukan koridornya apalagi koridor kami atau kita. Hati akan tetap menjaga sesuatu yang bernama rasa dengan jargon GagalMovedOn itu hanya akan menjadi miliknya seorang, menjaga independensi bahwa perasaan itu akan murni sebagai dampak setelah sukses me-maintenance selama 6 bulan terakhir yang artinya Hati dengan hasil2 lesson learnnya bisa kokoh berargumen bahwa memulai lagi dengan rasa yang begitu sederhana, tanpa berharap apalagi mentarget, kini hati tengah diuji validitasnya.
Oleh karenanya, otak membunyikan alarm bahaya. Naga-naganya hati -bukan sengaja- mangkir agar kebobolan, hanya ia memang selalu akan bertekuk lutut menurutkan hal-hal tak bernalar yang baginya nyata saja. Ketika mengira sudah dapat mengkondisikan segala hal menurut porsi yang berlabel sederhana, seperti melepas merpati lalu dengan senyuman memandangnya lepas di angkasa, tak pusing ia akan kembali ke sangkar atau kembali dalam genggaman tempat ia terlepas semula, ternyata hati kadang terlena oleh hipnotis bahwa merpati itu miliknya yang harus kembali ke tangan.
Otak membunyikan sirine bahaya ketika hati sudah punya keinginan untuk bertemu. Wajar adalah ketika membiarkan hanya takdir yang menentukan dan mempertemukan, bukan keinginan. Otak akan tetap pada track untuk membiarkannya berjalan wajar... And I do believe, the brain still be the main control for all instruction..
Tuesday, July 3, 2012
Omnibus Mimpi
Entah sudah berapa hari, namun omnibus mimpi ini sudah muncul berurutan tiap malam. Bagiku ini pertanda bahaya, karena sudah terbilang lama ia tidak lagi menghias alam bawah sadar, namun akhir-akhir ini seperti jadi rutinitas malamku. Dan bahaya lainnya adalah soal tema cerita yang selalu sama; Cemburu.
Omnibus mimpi ini tak lagi bercerita tentang aku dan kamu, tapi juga dia. Entahlah, apa maksud alam bawah sadar ini, yang pasti terkadang efeknya ketika terbangun bikin capek kayak habis lari puluhan kilometer plus nyeseknya ngelebihin keilangan kucing peliharaan.
Memang sih, omnibus mimpi ini tak hanya bercerita tentangmu, kadang ada juga cerita dua lelaki muda kabur dicari cari ortunya tapi keduanya tak bergeming merajut hari bersama ibarat layang layang permainan kegemaran mereka, diterbangkan tinggi dan semakin tinggi, dipandang dengan senyuman dan tawa dari bawah, dihempas angin di atas sana, tak jarang berakhir putus melayang kemana pun angin membawa.
Hmm, aku yakin ini bukan efek Sanubari Jakarta dengan omnibus filmnya, namun aku yakin alam bawah sadarku mulai tak beres kembali itu pasti. Semoga ter-manage dengan baik tak seperti bulan pertama dan kedua di awal tahun ini...
Saturday, June 23, 2012
Agenda Cari Jodoh
Aku tersenyum dengan agenda otak yang satu ini. Flirtasi mungkin sudah hobi tapi untuk serius mencocokkan hati dan mencocokkan lainnya, aku seperti sedang dihempaskan ke masa-masa dimana mencari jodoh itu hanya dimaknai sebagai pengalih isu atas ketidakpuasan otak atas keterpurukan hati kala itu.
Akankah terulang saat ini? Mau dengan model yang berbeda sekalipun? Haha kukira aku tak pernah seserius itu memasukkan agenda memilah memilih dan dipilihkan untuk urusan hati. Aku masih percaya kespontanan hati, bahwa chemistry atau merasa clique terhadap seseorang datangnya kerap tak terduga.
Friday, June 22, 2012
Otak Sudah Tak Imajiner
Dulu gak pernah mengharap, dan semua terjadi dan terlewati begitu saja. Lalu kenapa sekarang harus berharap atau mentarget?
Ungkapan diatas sebagian dari refleksi kecil yang sedang kulakukan besar-besaran. Maklum, menggenggam pasir, sepertinya masih mencokol erat di hati.
Ketidaksinkronan dua pembesar alias decision maker atas tubuhku ngaru banget dalam keseharian. Namun meski saling berkampanye, keduanya tak pernah saling sikut. Otak yang merupakan kandidat pemenang pilkada kerap mengakomodir kepentingan hati tapi tetap dalam track berlajur realistis. Karena otak tak suka hati ketika berimajiner. Berharap untuk sebuah cita-cita mungkin baik, tapi mengharap hati, otak tampaknya lebih dulu sudah pasang badan.
Monday, June 18, 2012
Pilkada Tubuh Saya
Seperti yang pernah kubilang, menentukan sikap dan pilihan itu bahkan perlu diselenggarakan sebuah pilkada. Hati vs Otak, keduanya saling berkampanye tapi tak saling menjatuhkan...
Memulai kerja dobel awal Minggu ini diusung otak untuk menanggalkan urusan hati. Ya, model orang serius dan tidak mau diganggu ketika menjadi workaholic sepertinya secara tersamar sebagai prinsip otak saya. Lain otak, lain pula kampanye hati, love is about giving, so brain stop counting! Kata counting, sebenarnya satu dari sekian habit otak yang lumayan punya persentase besar untuk memproganda keputusan yang kuambil. That's why hati sangat berkeberatan jika selalu ngitung! Terlebih, ungkap hati, dengan ego kepemilikan yang cukup masih mengakar.
Otak itu mungkin gudangnya kemunafikan, tapi seperti keputusan yang terjalani awal tahun kemarin, yang notabene adalah kemenangan otak, nah apakah kini akan juga dimenangkan otak untuk putaran kedua kali ini?
*Menunggu hasil kampanye
Sunday, June 17, 2012
Keinginan Untuk Memiliki
Keinginan Untuk Memiliki
Melihatnya terlelap di sebelahmu, dengan perasaan yang nyaris utuh selayak sebelum Desember lalu, namun tersadar bahwa kini adalah tak sama dengan waktu lalu, bagaimana kah rasanya?
Keinginan untuk memiliki. Dulu keinginan hati itu yang mencengkeram otak dengan ultimatum untuk mundur ketika merasa semua waktu dan pikiran lengkap dengan perasaan tak bisa keluar dari kata posesif pake banget yang entah kenapa baru ama yang ini bisa-bisanya dihinggapi perasaan kayak gitu.
Kadang merasa konyol juga sih ketika saya dengan segenap perasaan begitu sibuknya menyiapkan jaring-jaring agar ia tak keluar dari celah jala sementara ia mungkin tak berkeinginan tinggal. Namun aku percaya hati memang berisi kekonyolan-kekonyolan tak bernalar yang walau disadari pun tetap akan berulang dan terulang.
Hampir 2 bulan ini saya mendeklarasi bahwa hati saya sudah sembuh. Dalam artian, bahwa saya sudah tak mempunyai keinginan mengetahui apapun tentangnya. Ya, saya boleh dikategorikan sembuh untuk yang satu itu, selain mules yang udah pergi dari hidup saya tiap kali namamu kesebut. Dan bagiku kesembuhanku sudah total hingga tak akan masalah ketika akhir-akhir ini takdir hampir kerap mempertemukan kami -sesuai harapanku-. Namun ternyata aku belum terlalu sembuh...
Melihatnya, tentu saja, membahagiakan. Bahkan boleh dibilang endorfin alamiku bekerja over. Bagaimana tidak, mata tak mau dipejamkan, degup jantung yang berirama dan suntikan energi yang entah berasal dari mana, pastinya semua bekerja alami. Meski otak sudah berulang kali mewanti-wanti, seakan transmisi perintah itu meluruh di pembuluh nadi tak pernah sampai ke hati. Namun indikasi sembuh dengan ketiadaan keinginan untuk mengetahui cerita tentangnya justru berbanding terbalik dengan keinginan untuk memiliki.
Ego kepemilikanku masih mengakar. Cemburu yang masih menderu. Posesif yang masih aktif. Aku belum sembuh! Meski segenap lisanku seakan menulikan jeritan hatiku.
Aku tak sedang ingin membahas seberapa berarti perasaan itu, hanya mencoba mencerna dari koridorku tentang bagaimana caraku menyayangnya. Jadi ini tak ada hubungannya tentang bagaimana dan apakah ia menyayangku. Bagaimana menyikapi perasaan sendiri, yang tak ada hubungannya dengan perasaannya padaku kini. Menentukan pilihan dan tentu saja sikap, dalam sebuah pilkada hati...
Melihatnya terlelap di sebelahmu, dengan perasaan yang nyaris utuh selayak sebelum Desember lalu, namun tersadar bahwa kini adalah tak sama dengan waktu lalu, bagaimana kah rasanya?
Keinginan untuk memiliki. Dulu keinginan hati itu yang mencengkeram otak dengan ultimatum untuk mundur ketika merasa semua waktu dan pikiran lengkap dengan perasaan tak bisa keluar dari kata posesif pake banget yang entah kenapa baru ama yang ini bisa-bisanya dihinggapi perasaan kayak gitu.
Kadang merasa konyol juga sih ketika saya dengan segenap perasaan begitu sibuknya menyiapkan jaring-jaring agar ia tak keluar dari celah jala sementara ia mungkin tak berkeinginan tinggal. Namun aku percaya hati memang berisi kekonyolan-kekonyolan tak bernalar yang walau disadari pun tetap akan berulang dan terulang.
Hampir 2 bulan ini saya mendeklarasi bahwa hati saya sudah sembuh. Dalam artian, bahwa saya sudah tak mempunyai keinginan mengetahui apapun tentangnya. Ya, saya boleh dikategorikan sembuh untuk yang satu itu, selain mules yang udah pergi dari hidup saya tiap kali namamu kesebut. Dan bagiku kesembuhanku sudah total hingga tak akan masalah ketika akhir-akhir ini takdir hampir kerap mempertemukan kami -sesuai harapanku-. Namun ternyata aku belum terlalu sembuh...
Melihatnya, tentu saja, membahagiakan. Bahkan boleh dibilang endorfin alamiku bekerja over. Bagaimana tidak, mata tak mau dipejamkan, degup jantung yang berirama dan suntikan energi yang entah berasal dari mana, pastinya semua bekerja alami. Meski otak sudah berulang kali mewanti-wanti, seakan transmisi perintah itu meluruh di pembuluh nadi tak pernah sampai ke hati. Namun indikasi sembuh dengan ketiadaan keinginan untuk mengetahui cerita tentangnya justru berbanding terbalik dengan keinginan untuk memiliki.
Ego kepemilikanku masih mengakar. Cemburu yang masih menderu. Posesif yang masih aktif. Aku belum sembuh! Meski segenap lisanku seakan menulikan jeritan hatiku.
Aku tak sedang ingin membahas seberapa berarti perasaan itu, hanya mencoba mencerna dari koridorku tentang bagaimana caraku menyayangnya. Jadi ini tak ada hubungannya tentang bagaimana dan apakah ia menyayangku. Bagaimana menyikapi perasaan sendiri, yang tak ada hubungannya dengan perasaannya padaku kini. Menentukan pilihan dan tentu saja sikap, dalam sebuah pilkada hati...
Thursday, June 7, 2012
Hujan Kedua di Bulan Juni
Kok masih hujan sih, padahal kan harusnya udah musim panas?
Begitu satu pertanyaan seorang teman kost tadi sore. Seperti mempertanyakan hujan kemarin di saat telah beberapa waktu Jogja tak pernah diguyur air langit.
Juni, aku sudah lupa di mata pelajaran SD dulu harusnya musim kemarau atau hujan, lagian musim sudah tak terprediksi. Prinsip angin muson sudak tak berlaku.
Hari ini hujan kedua di bulan Juni. Seperti halnya tahun lalu, Juni adalah transisi dari separo tahun yang sudah ku pijak, merefleksi, untuk separo tahun selanjutnya.
Hujan kedua di bulan Juni masih tak menderas soal hati. Mungkin sedang hibernasi. Otak sedang full akselerasi dan butuh asupan lebih banyak ketimbang hati. Tapi di lain sisi, ada yang menghalang hati untuk membuka kisi-kisi. Ia seperti hujan di bulan Juni, mungkin tak tepat masanya, namun mampu sejukkan kala terik panas menggerayang hampir di tiap siang sepanjang tahun ini.
Begitu satu pertanyaan seorang teman kost tadi sore. Seperti mempertanyakan hujan kemarin di saat telah beberapa waktu Jogja tak pernah diguyur air langit.
Juni, aku sudah lupa di mata pelajaran SD dulu harusnya musim kemarau atau hujan, lagian musim sudah tak terprediksi. Prinsip angin muson sudak tak berlaku.
Hari ini hujan kedua di bulan Juni. Seperti halnya tahun lalu, Juni adalah transisi dari separo tahun yang sudah ku pijak, merefleksi, untuk separo tahun selanjutnya.
Hujan kedua di bulan Juni masih tak menderas soal hati. Mungkin sedang hibernasi. Otak sedang full akselerasi dan butuh asupan lebih banyak ketimbang hati. Tapi di lain sisi, ada yang menghalang hati untuk membuka kisi-kisi. Ia seperti hujan di bulan Juni, mungkin tak tepat masanya, namun mampu sejukkan kala terik panas menggerayang hampir di tiap siang sepanjang tahun ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















