Saturday, September 24, 2011
Rindu yang belum Terbunuh
Algojo tak Bertaji
Rinduku berdarah malam ini.
Aku menyembelihnya agar tak lagi merusak organ lainnya.
Ya, hati sudah kubantai agar tak lagi menafaskan namamu di setiap denyut jantungku.
Susah payah, serupa nafas aku membunuh dirimu yang hidup di hatiku.
Belum lagi mata yang selalu tertuju pada layar,
mengharap setiap dering adalah namamu.
Paling parah adalah ingatanku,
sudah kubuat linglung
tetap saja ia sempoyongan mengais remahan memori untuk ia satukan ulang.
Seluruh organ tubuhku menjadi pembangkang meski aku menghunusinya satu persatu.
Perih dimana-mana.
Hatiku yang menganga tersembelih.
Otak yang tercecer tetapi tetap berkedut menuliskan namamu.
Jemari yang tak henti menarikan kata untukmu.
Mulut yang tak mau pergi melafaskan namamu diantara umpatan asu.
Lagu-lagu yang berseliweran di kupingku.
Membunuhmu dengan caraku mencintamu!
Prosa hatiku itu niatan awalnya adalah akan kuhias di ruang hati dunia maya ini. Tetapi jaringan inet yang lelet menggerakkan jemariku untuk mengirimkannya pada ia, separuh hatiku yang kutuju.
Hanya butuh tak sampai lima menit melafalkan hati dan otak. Sinkronisasi jemari akan rasa yang bergolak seharian dan semalaman, waktu itu.
Dan kini kubaca ulang tulisan hatiku itu. Masih tetap tulisan hati senada denyut jantung dan detak otakku kini. Ya, aku mengakuinya, tak akan semudah membalik tangan untuk membunuh rasa yang bercokol mengakar serupa aku bernafas tiap hentakan waktu.
Wahai perempuan berkerudung yang mengkerudungi hatiku... Rindu ini belum terbunuh! Aku hanya sedang bertahan di koridorku. Cintaku bukan tuk sakitimu. Sayangku bukan tuk ganggu kenyamananmu. Aku hanya ingin menjadi aku yang punya cinta dan sayang untukmu... Selebihnya, tersiksa pun, biar itu tunggal menjadi rasaku selama kau merasa nyaman tanpaku...
Aku menemukan irisan hatiku atas dialog kita yang pernah tercipta. Aku merajut senyuman meski di seberang sana kau hanya berwujud suara tak berupa. Waktu berotasi dengan begitu cepatnya di tiap malam-malamku yang berisi tarian kata-katamu. Dan semua hal terindah yang tak bisa kupenakan tentangmu... Namun ketika sepenuhnya hanya menjadi rasaku, aku tetap bersyukur bisa berdansa dengan waktu... Sejati itu bukan hanya di bibirku, hanya rasa yang aku tak cukup pandai untuk mempertontonkan padamu...
Hatiku tak memilihmu diantara ratusan cahaya yang mengelilingiku, tapi kau satu-satunya cahaya yang berpendar menyelubungi hingga palung terdalamku. Kalau ada yang hendak meniup mati pendarnya, aku hanya ingin kau yang melakukannya...
Friday, September 23, 2011
Kontradiksi
Mengalah bukan berarti kalah...
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Sing a Song
Selalu tampak indah awalnya.... Berakhir bencana...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Be Positive
Jangan lagi melewatkan kesempatan hanya karena sibuk akan hal-hal yang tak mutual. Bukan saja tak bermanfaat, tetapi mutual knowledge karena terlalu dibutakan satu arah, mutual time coz too much wasting time and I deserve to be blaming, mutual in every way...
Saya selalu percaya semua dimulai dari niat. Meski itu hanya hati dan Tuhanmu yang tau! Its enough 2 sleep, time to wake up this morning with another sunshine!
Bagi saya, wajar buta sementara karena dengan begitu akan belajar untuk ke depan selamanya.
Terpuaskan itu tak hanya karena sebuah rasa dalam hati. Pancaran itu bukan sinar karena dirundung kasih. Ya, menyeimbangkan!
3 bulan mamen, I have to prepare! On my feet, feet of my brain and feet of my heart!
Saya selalu percaya semua dimulai dari niat. Meski itu hanya hati dan Tuhanmu yang tau! Its enough 2 sleep, time to wake up this morning with another sunshine!
Bagi saya, wajar buta sementara karena dengan begitu akan belajar untuk ke depan selamanya.
Terpuaskan itu tak hanya karena sebuah rasa dalam hati. Pancaran itu bukan sinar karena dirundung kasih. Ya, menyeimbangkan!
3 bulan mamen, I have to prepare! On my feet, feet of my brain and feet of my heart!
Thursday, September 22, 2011
Interupsi!!!
Yup, otak berinterupsi besar-besaran malam ini. Seperti terbangun dan bergumam: "Kemana saja aku selama ini?", menilik ulang keberadaan saya di tempat itu, mengetahui esensinya, dan obrolan2 yang mengalir, pun kembali mendapat takaran otaknya.
Saya selalu terpesona dengan otaknya, bagaimana ia memetakan tiap detil isi pikirannya dalam satu demi satu ide dan alur pikir. Dan kemudian saya meninjau ulang: "Dimanakah saya? Kenapa saya selalu berkata tidak untuk diri saya? Kenapa selalu tersandung hal tidak penting tetapi mengganggu the whole process disaat semua ingin saya lakukan?"
Tidak akan menyalahkan, interupsi otak ini semoga tak hanya menjadi jingle saja ketika putaran waktu membalikkannya ke posisi nyaman tepat ketika aku harus move on, out of the boundaries.
She know I can do that, its just me, makanya saya dapat menangkap matanya ketika aku harus mengambil di saat yang tepat. Ya, ada yang berkobar kembali, disorientasi yang beranak pinak yang coba kau bantu untuk mematikannya di dalam diriku.
Hari ini adalah hari pertamaku setelah sekian lama tak memunculkan diri. Structural way of behave, hmm sedikit senyum ketika seorang teman tiba2 datang dan berseru tentang kita di depan banyak orang: "Kenapa tiap ada ini (saya), juga selalu ada ini (kamu)?". Pertanyaan yang kau klarifikasi dengan senyuman. Haha.
Ia tak mungkin diajak berbagi pola tentang how to, she just want me to be me and trust me that I can. Just support me from the inside!
Teringat perbincangan dengan soulmate via telepon sekitar dua hari lalu sebelum melajukan kaki bersama kamu untuk berkumpul dengan teman2 malam itu. Cukup bersama-sama menciptakan sesuatu, belajar ilmu ikhlas meski tak bersepakat dengannya dikarenakan masalah faktor umur. Ikhlas itu basic yang bahkan saya belum bisa melakoni secuil pun.
Seperti perempuan mabuk memang, tetapi interupsimu dan interupsi besar2an otakku semoga sanggup membantu diri saya sendiri dengan tidak beralasan atas nama orang lain.
Saya selalu terpesona dengan otaknya, bagaimana ia memetakan tiap detil isi pikirannya dalam satu demi satu ide dan alur pikir. Dan kemudian saya meninjau ulang: "Dimanakah saya? Kenapa saya selalu berkata tidak untuk diri saya? Kenapa selalu tersandung hal tidak penting tetapi mengganggu the whole process disaat semua ingin saya lakukan?"
Tidak akan menyalahkan, interupsi otak ini semoga tak hanya menjadi jingle saja ketika putaran waktu membalikkannya ke posisi nyaman tepat ketika aku harus move on, out of the boundaries.
She know I can do that, its just me, makanya saya dapat menangkap matanya ketika aku harus mengambil di saat yang tepat. Ya, ada yang berkobar kembali, disorientasi yang beranak pinak yang coba kau bantu untuk mematikannya di dalam diriku.
Hari ini adalah hari pertamaku setelah sekian lama tak memunculkan diri. Structural way of behave, hmm sedikit senyum ketika seorang teman tiba2 datang dan berseru tentang kita di depan banyak orang: "Kenapa tiap ada ini (saya), juga selalu ada ini (kamu)?". Pertanyaan yang kau klarifikasi dengan senyuman. Haha.
Ia tak mungkin diajak berbagi pola tentang how to, she just want me to be me and trust me that I can. Just support me from the inside!
Teringat perbincangan dengan soulmate via telepon sekitar dua hari lalu sebelum melajukan kaki bersama kamu untuk berkumpul dengan teman2 malam itu. Cukup bersama-sama menciptakan sesuatu, belajar ilmu ikhlas meski tak bersepakat dengannya dikarenakan masalah faktor umur. Ikhlas itu basic yang bahkan saya belum bisa melakoni secuil pun.
Seperti perempuan mabuk memang, tetapi interupsimu dan interupsi besar2an otakku semoga sanggup membantu diri saya sendiri dengan tidak beralasan atas nama orang lain.
Monday, September 19, 2011
Mengkotakkan Rasa Sayang
Perempuan itu sedang kontradiktif. Dulu, di awal2, ketika aku belum bisa mengontrol batasan2 ego, amarah dan penuntutan2ku terhadapnya ia berujar cinta itu bukan kedaulatan ego, karena waktu itu ia bilang beberapa kali egoku terlalu mendominasi. Tetapi ketika sudah "insaf" di hari Minggu lalu sudah bisa dengan enteng membawa perasaan sesuai lajurnya, ia mulai ribet dengan pesan pendek semalam apakah aku sudah mengakhiri perasaanku padanya usai pertemuan kami sesuai yang aku gaungkan ketika emosi2ku sedang tidak stabil, waktu itu.
Aku mengakui aku pernah berkata demikian, tapi itu jauh sebelum saya merasa tenang usai berbincang denganNya dan menguatkan serta mensupport hati saya untuk melogiskan batas hubungan saya dengannya kini. Ya, pembenahan besar2an itu yang saya lakukan! Selama ini aku mengakui sudah terlalu menjamah memaksa di koridornya, tetapi usai doa malam itu hati sudah bisa dengan ringan menjalani hari2 berikutnya rileks, tanpa cemburu, tanpa menuntut meski dengan tujuan yang masih sama, yakni jika ia memang beririsan takdir denganku aku memohon untuk dimudahkan.
Pertanyaannya semalam membuatku bertanya2 juga, setelah proses ketemu itu aku meyakini hubungan ini sudah dengan bisa santainya bergulir. Sudah tak ingin debat, adu argumen tak penting terhapus. Malahan kemajuan banget dengan intensnya frekuensi telepon, mendengarkan keluarganya bercengkrama, membocorkan suasana nikah kakaknya, mengetahui kalo ia ternyata bisa boso jowo alus dengan intonasi yang saya suka. Intinya, hal2 baru yang bagi saya kemajuan, meski ia menyaringkan tiap hari di telingaku tentang ospek menjadi kakak. Tak ada yang kumasalahkan, bagiku proses lebih berarti daripada pelabelan!
Dan kini ia bukan saja berada pada level pelabelan. Pesan pendeknya tentang pengakhiran perasaanku adalah bentuk pengkotakan untuk rasa sayang yang secara implisit ia tanyakan. Apa benar itu yang ia inginkan? Kembali aku bertanya2. Dan memang, aku sedikit terbawa emosi yang kemudian dibarengi penyadaran diri bahwa wilayah koridorku adalah tentang diriku sendiri, bukan tentangnya.
Mengkotakkan rasa sayang. Kalau kakak bentuk kotak begini dengan porsi begini, begitupun kalau kekasih. Hmm, aku tak akan terseret arus berpikirmu!
Aku memang tak seberapa fasih, aku sedang belajar, tertatih, untuk tetap pada tujuan awal aku padamu... Mengusahakan. Terserah kau membatasi dirimu dengan pengkotakan pikiran dan hati yang telah kau rasio sendiri. Bagiku rasa sayang hati tak bisa dikotakkan, ia hanya punya batas. Seperti yang kubilang padamu malam ini, aku sedang membuka rekening hatiku untukmu, bukan untuk membelimu, tapi menabung tiap kepingan transaksi memori hari yang saya lalui.
Mengusahakan. Sampai kau berkata ya atau tidak untuk hatiku. Atau sampai hatiku sudah terlalu bosan karna kau terlampau jual mahal padaku.
Tak akan berandai2, aku hanya menjalani proses hati ini dengan begitu teramat sederhana sesederhana bagaimana aku terpikat oleh otakmu. Otak yang ada di kepalamu, juga otak di hatimu.
Wednesday, September 14, 2011
Ketemu Ninja!
Buat saya pertemuan hari ini tak terencana... Aku masih ingat ketika perempuan itu mengatakan ikhwal tujuan kemana ia pergi. Entah memang ia sengaja atau tidak, ia lalu "menawari" untuk sekalian bertemu muka.
Menolak dengan alasan karena tak mau menjadi kambing congek diantara ia dan temannya, aku hafal dengan diriku sendiri yang bertabiat akan diam ditengah orang2 tak dikenal. Makanya tak ingin hal tsb terjadi, aku menyilahkannya bersilaturahmi dengan temannya itu saja.
Detik berganti sedemikian cepat, pun rencana. Soulmate sebelah mau nemenin. Pesan pendek cepat menyatakan ia di Malioboro. Melajukan motor bersama clue perempuan bermasker, menemukannya di tempat yang seperti ia bilang, depan halte busway benteng.
Aku sebenarnya kenal dengan temannya, hanya saja kalau tak salah di dua kali perjumpaan kami gak pernah ngobrol sesuatu yang berarti, just say hi. Perempuan itu tampak akrab dengan si teman. Malahan ia lebih banyak bicara dengannya, atau dengan soulmate ku ketimbang aku yang hanya dijutekinya.
Penghujung Maghrib tiba, si soulmate harus pulang karena seperti biasa jadwal apel jam 7. Sejak awal aku sudah berkeputusan kalo ia pulang, aku juga akan pulang, seperti yang kubilang di awal tadi, aku tak pandai melebur, meski secara tatap suara aku mengenal perempuan itu. Namun si soulmate wanti2, aku harus kembali kesana, mencoba untuk tidak menjadi diriku yang itu. Dan aku mencobanya...
Bertiga, dan tetap diam. Bukan congkak, hanya tak bisa memulai dan menyatu. Mereka akrab, pun si temannya juga ramah. Kecuali perempuan itu. Aku tau ia tak dari hati jutek, tapi disuguhi mata yang tiap kali mengarah padaku dengan pelototan kadang jengah juga. Menghabiskan waktu dengan hape, seperti tak mau bicara denganku, ya itu kamu!
Dan yang lebih parah adalah perempuan itu tak sedikit pun mau untuk membuka masker, alasannya: "Dulu kau pernah bilang, ingin bertemu denganku hanya ingin lihat gerakan mata dan gestur tubuhku aja, bukan?"
Hmm, ya benar, aku memang pernah berucap demikian, tetapi ketika kalimat itu diartikan secara detonatif, bukan konotatif, siapa disini yang sebenarnya kurang kerjaan? Bahkan sampai si masker aku "perkosa" pun ia memilih tetap memakainya. Aku nggak kepengen liat wajahmu kok, cuma yang lumrah aja masak ketemu masker ga mau dilepas, batinku. Ya, aku anggap aja hari ini ketemu Ninja. Persis, wong cuma liat matanya aja gerak kiri kanan melotot dan memicing tertawa disaat bersamaan.
Hanya sekitar setengah jam saja dari perjalanan waktu sepanjang sore hingga setengah 9 malam kami diberi waktu berdua. Itu ketika temannya naik busway. Menyemai setengah jam di kursi panjang belakang halte, aku tak menyebutnya bercengkrama. Entah apa namanya, aku hanya merasa hatiku bahagia di dekatnya, meski secara lisan tak mendapat perlakuan yang sama. Ia hanya menyuguhiku mata, tetapi ketika mata itu kunikmati dengan mataku ia memilih menghindar membuang suguhannya.
Adek, aku tau hatimu meski lisanmu pedas sekali padaku!
Monday, September 12, 2011
First Move
4 hal menarik menyusuri jalan2 kecil ya belum pernah kulewati pagi ini adalah:
1. Membalas senyum ibu2 penghuni 200 meter dari kost yg sedang menyapu dan menyapa: "Lari2, Mas!"
2. Anak perempuan yang mengajak bermain anjing cokelat peliharaannya.
3. Kucing kecil hitam yang nyangkut di Kali Mambu.
4. Dua ibu2 yang memelototi kepala botak dan dadaku bergantian, dengan pandangan absurd. Haha aku ngikik dalam hati sih.
Hmm, first move... Besok pagi semoga tak malas menyambangi Mandala Krida.
Get well soon, Heart! :)
Mengunci rapat,
Tuhan yang tau kucinta kau...
*Karena Kucinta Kau
Sunday, September 11, 2011
Bukan Saya Saja!
Minggu ini banyak bercerita, juga airmata. Cerita tentang derai tawa yang ternyata menyimpan sejuta makna, serta derai airmata, dan terutama bukan saya saja! Bukan sedang mencari teman galau, tapi kok bisa kompakan gini ama soulmate.
Sepagi-siangan penuh cerita canda. Dan ternyata bibir yang saling merekah hanya topeng ketika dalam keramaian sama-sama berada di suatu tempat lain dan memikirkan orang lain, bukan barang2 yang disuguhkan di etalase bering harjo dan seputaran malioboro yang sedang kami geluti mengantar satu teman kost lain yang katanya mau beli souvenir.
Hatiku sih sudah tak enak sejak paginya. Ada sesak yang tertahan. Sesak yang kemudian tumpah usai kumandang Maghrib. Berbincang denganNya, merasakan Ia seolah tepat di depanku melihatku meregenerasikan buliran air yang lama tak keluar dari mataku. Ya, berbincang denganNya selalu membuahkan ketenangan, kelegaan dan semangat baru tentang hidup yang kuhidupi dan dihidupkanNya.
Dan soulmate pun dilanda galau yang sama. "Bisa minta tolong?". Begitu tanyanya via sms padahal kamar kami hanya terjeda satu pintu penyekat. Aku maklum ia mungkin tak ingin mengganggu usai pesan pendek yang kukirim sebelum Maghrib.
"Mau minta tolong apa?"
Dan ia bercerita tanpa berani menatap mataku.
"Ya udah, sini aku anterin..."
"Nggak papa kan? Aku udah bilang kamu sedang nggak bisa dimintain tolong, tapi.."
"Nggak papa aku anterin kesana kalo memang itu bikin dia lega,"
Perempuan itu mungkin setengah nggak percaya recovery ku secepat ini.
Kembali ke kamar, urung bikin mie, mengambil jaket dan menunggunya diluar. Sekalian beli obat aja nanti, pikirku. Sebuah motor datang, ternyata laki-laki yang akan kami samperin.
"Mau keluar ya, kemana?" tanyanya ketika aku bergerak mematikan motor.
"Ke tempatmu! Katanya dirimu nggak bisa kesini,"
Terlanjur nyalain motor aku pergi aja sekalian beli obat meninggalkan sejoli ini.
Sekembalinya, si soulmate menghadang motorku sembari berlinang airmata. "Berhenti dulu, ada yang nggak percaya kalo kita tadi mau keluar nemuin dia. Kamu ceritain!"
Setengah melongo juga, pasalnya meski aku tau perjalanan cintanya dengan lelaki ini dari awal hingga sekarang -meski hanya berdasar tuturan versi si soulmate saja- tapi nggak sekalipun aku tatap muka langsung dengan si lelaki, apalagi ngobrol. Sekedar tau saja, dari beberapa lelakinya sejak dulu, hanya aku yg ga pernah tau bgm bentuk wajah mereka, hanya ceritanya saja, padahal mbak PRT kost itu mpe hapal dan bisa bandingin mana yang lebih cakep diantara pacar2 si soulmate. Emang sih dari dulu aku nggak pernah mau ikut campur, padahal si soulmate ini tau semua wajah2 perempuan dalam hidupku hehehe. Mpe lucunya pas jalan di Malioboro kemarin ketika ia menunjuk sebuah baju dan aku berkomentar: "Ih, kayak si A banget!", si soulmate ini langsung bilang: "A yang mana?". Aku terkekeh, "Kamu tuh tiap aku sebut nama perempuan langsung kayak ada detektor di otak yang mendeteksi, ow si A, itu orangnya yang begini begini begini. Hafal ya kamu!"
Kembali ke topik hadang menghadang, ya meski diri sendiri lagi galau, pikirku bantu nyelesein masalah orang lain semoga juga membantu nyelesein masalahku.
Mencoba menjelaskan ketakpercayaan lelaki itu atas alasan si soulmate yang bilang aku sedang tak bisa dimintain tolong, tapi kok kelihatannya aku baik2 saja. Ya, dari luar secara fisik siapapun tak akan bisa percaya kalau sejam lalu aku menggigil ketika berbincang denganNya. Aku tau bahkan si soulmate pun takjub aku bisa seenteng ini, menyungging senyuman, masuk dalam konflik ia dengan lelaki itu seraya memberi saran2 obyektif tentang relasi mereka bagaimana baiknya.
"Sudahlah, capek berantem tiap hari itu, aku sudah mengalami sendiri soal itu. Secara pola pikir, aku ama Masnya dari cerita yg selama ini ia curhatkan mungkin sama dengan pola pikirku, tapi balik lagi di tujuan awal kalian berelasi apa, kalo ingin dibawa baik maka gak ada sesuatu hal pun yg ga bisa diselesaikan dengan komunikasi tanpa emosi."
Aku meninggalkan keduanya. "Makasih ya," ucap si soulmate masih berurai airmata.
Pintu gerbang sudah dikunci, si soulmate belum balik. "Belum pulang?" Pesan pendek yang kukirim tak berbalas. Sejam berikutnya ia datang.
"Aku baru muter2 sendirian!" ujarnya.
"Kok nggak ngajak aku?"
"Ya, takut nek kamu gak mau!"
"Halah, tau gitu tadi nongkrong dulu!"
"Iya, tadi mikirnya gitu, ngopi dulu dimana gitu sambil crita2. Tapi aku gak enak. Jadi ya muter2 sendiri!"
"Gimana ceritanya tadi?"tanyaku soal lelakinya.
Dan si soulmate bercerita adegan sinetron selanjutnya. Dan tak ada lagi airmata di matanya...
"Aku sudah luweh luweh (ga ambil pusing), malah tadi aku mbatin kok dia ga minta putus ya, dah ga mau mikir lagi, capek hati!" terangnya.
Sama kayak yang kubilang dulu padanya, waktu itu ia termehek-mehek berantem hampir tiap hari untuk hal2 sepele, ia dan lelakinya harus meninjau ulang relasinya akan dibawa kemana. Waktu itu si soulmate merasa ia selalu salah dan disalahkan, merasa harus minta maaf dan memperbaiki relasi. Tangisnya hampir tiap hari tumpah.
"Nikmatilah airmatamu sekarang. Kalau kalian nggak berniat meninjau ulang tujuan berelasi kalian maka ketika airmatamu sudah tak lagi terasa sakit, maka saat itu kau sudah mati rasa" ujarku dulu.
Dan benar begitu sekarang adanya. Aku tak sedang menyukurkan kondisinya, hanya merasa kontradiktif tawa sehari dengan berantem2 yang tak terselesaikan dan terungkit di lain hari. Hmm, aku tak berhak di wilayah tsb, hanya sebatas saranku pada si soulmate yang katanya sudah ga mau ambil pusing lagi dan aku menghormati pilihan keputusannya.
"Lalu bagaimana ceritamu dengannya?" tanya si soulmate padaku.
Aku tersenyum. Jempolku masih belum berhenti beradu kata dengan perempuan yang dimaksud si soulmate. "Kalian sih jelas ya bentuk relasinya pacaran, wajar berantem, nah kalo aku ama dia pacaran aja nggak, kenal belum lama, tapi berantemnya kayak udah nikah punya anak satu aja!"
Buliran air serupa fungsi peluh, lelah. Perempuan itu masuk dalam daftar nama yang dicatat oleh Tuhan untuk garis hidupku. Dan Tuhan belum memberiku contekan apakah ia benar ada dalam irisan takdirku. Ketika berbincang denganNya aku selalu meminta jikalau ada irisan takdir agar dipermudah selama membawa kebaikan untuk keduanya.
Plong! Tak pernah ada sesal, apalagi benci. Aku meyakini proses ini belum berakhir, terutama proses hidup dengan tujuan tunggal perempuan setengah baya, kekasih hatiku satu-satunya, ia yang selalu menengadahkan tangan untuk restui hidupku sampai detik ini.
Galau Minggu bukan milik saya saja, bukan bermaksud cari teman, hanya satu dari sekian teguran, that's life!
Get well soon, heart...
*Sebab perasaanku tlah mati untuk menyadarinya...
Sepagi-siangan penuh cerita canda. Dan ternyata bibir yang saling merekah hanya topeng ketika dalam keramaian sama-sama berada di suatu tempat lain dan memikirkan orang lain, bukan barang2 yang disuguhkan di etalase bering harjo dan seputaran malioboro yang sedang kami geluti mengantar satu teman kost lain yang katanya mau beli souvenir.
Hatiku sih sudah tak enak sejak paginya. Ada sesak yang tertahan. Sesak yang kemudian tumpah usai kumandang Maghrib. Berbincang denganNya, merasakan Ia seolah tepat di depanku melihatku meregenerasikan buliran air yang lama tak keluar dari mataku. Ya, berbincang denganNya selalu membuahkan ketenangan, kelegaan dan semangat baru tentang hidup yang kuhidupi dan dihidupkanNya.
Dan soulmate pun dilanda galau yang sama. "Bisa minta tolong?". Begitu tanyanya via sms padahal kamar kami hanya terjeda satu pintu penyekat. Aku maklum ia mungkin tak ingin mengganggu usai pesan pendek yang kukirim sebelum Maghrib.
"Mau minta tolong apa?"
Dan ia bercerita tanpa berani menatap mataku.
"Ya udah, sini aku anterin..."
"Nggak papa kan? Aku udah bilang kamu sedang nggak bisa dimintain tolong, tapi.."
"Nggak papa aku anterin kesana kalo memang itu bikin dia lega,"
Perempuan itu mungkin setengah nggak percaya recovery ku secepat ini.
Kembali ke kamar, urung bikin mie, mengambil jaket dan menunggunya diluar. Sekalian beli obat aja nanti, pikirku. Sebuah motor datang, ternyata laki-laki yang akan kami samperin.
"Mau keluar ya, kemana?" tanyanya ketika aku bergerak mematikan motor.
"Ke tempatmu! Katanya dirimu nggak bisa kesini,"
Terlanjur nyalain motor aku pergi aja sekalian beli obat meninggalkan sejoli ini.
Sekembalinya, si soulmate menghadang motorku sembari berlinang airmata. "Berhenti dulu, ada yang nggak percaya kalo kita tadi mau keluar nemuin dia. Kamu ceritain!"
Setengah melongo juga, pasalnya meski aku tau perjalanan cintanya dengan lelaki ini dari awal hingga sekarang -meski hanya berdasar tuturan versi si soulmate saja- tapi nggak sekalipun aku tatap muka langsung dengan si lelaki, apalagi ngobrol. Sekedar tau saja, dari beberapa lelakinya sejak dulu, hanya aku yg ga pernah tau bgm bentuk wajah mereka, hanya ceritanya saja, padahal mbak PRT kost itu mpe hapal dan bisa bandingin mana yang lebih cakep diantara pacar2 si soulmate. Emang sih dari dulu aku nggak pernah mau ikut campur, padahal si soulmate ini tau semua wajah2 perempuan dalam hidupku hehehe. Mpe lucunya pas jalan di Malioboro kemarin ketika ia menunjuk sebuah baju dan aku berkomentar: "Ih, kayak si A banget!", si soulmate ini langsung bilang: "A yang mana?". Aku terkekeh, "Kamu tuh tiap aku sebut nama perempuan langsung kayak ada detektor di otak yang mendeteksi, ow si A, itu orangnya yang begini begini begini. Hafal ya kamu!"
Kembali ke topik hadang menghadang, ya meski diri sendiri lagi galau, pikirku bantu nyelesein masalah orang lain semoga juga membantu nyelesein masalahku.
Mencoba menjelaskan ketakpercayaan lelaki itu atas alasan si soulmate yang bilang aku sedang tak bisa dimintain tolong, tapi kok kelihatannya aku baik2 saja. Ya, dari luar secara fisik siapapun tak akan bisa percaya kalau sejam lalu aku menggigil ketika berbincang denganNya. Aku tau bahkan si soulmate pun takjub aku bisa seenteng ini, menyungging senyuman, masuk dalam konflik ia dengan lelaki itu seraya memberi saran2 obyektif tentang relasi mereka bagaimana baiknya.
"Sudahlah, capek berantem tiap hari itu, aku sudah mengalami sendiri soal itu. Secara pola pikir, aku ama Masnya dari cerita yg selama ini ia curhatkan mungkin sama dengan pola pikirku, tapi balik lagi di tujuan awal kalian berelasi apa, kalo ingin dibawa baik maka gak ada sesuatu hal pun yg ga bisa diselesaikan dengan komunikasi tanpa emosi."
Aku meninggalkan keduanya. "Makasih ya," ucap si soulmate masih berurai airmata.
Pintu gerbang sudah dikunci, si soulmate belum balik. "Belum pulang?" Pesan pendek yang kukirim tak berbalas. Sejam berikutnya ia datang.
"Aku baru muter2 sendirian!" ujarnya.
"Kok nggak ngajak aku?"
"Ya, takut nek kamu gak mau!"
"Halah, tau gitu tadi nongkrong dulu!"
"Iya, tadi mikirnya gitu, ngopi dulu dimana gitu sambil crita2. Tapi aku gak enak. Jadi ya muter2 sendiri!"
"Gimana ceritanya tadi?"tanyaku soal lelakinya.
Dan si soulmate bercerita adegan sinetron selanjutnya. Dan tak ada lagi airmata di matanya...
"Aku sudah luweh luweh (ga ambil pusing), malah tadi aku mbatin kok dia ga minta putus ya, dah ga mau mikir lagi, capek hati!" terangnya.
Sama kayak yang kubilang dulu padanya, waktu itu ia termehek-mehek berantem hampir tiap hari untuk hal2 sepele, ia dan lelakinya harus meninjau ulang relasinya akan dibawa kemana. Waktu itu si soulmate merasa ia selalu salah dan disalahkan, merasa harus minta maaf dan memperbaiki relasi. Tangisnya hampir tiap hari tumpah.
"Nikmatilah airmatamu sekarang. Kalau kalian nggak berniat meninjau ulang tujuan berelasi kalian maka ketika airmatamu sudah tak lagi terasa sakit, maka saat itu kau sudah mati rasa" ujarku dulu.
Dan benar begitu sekarang adanya. Aku tak sedang menyukurkan kondisinya, hanya merasa kontradiktif tawa sehari dengan berantem2 yang tak terselesaikan dan terungkit di lain hari. Hmm, aku tak berhak di wilayah tsb, hanya sebatas saranku pada si soulmate yang katanya sudah ga mau ambil pusing lagi dan aku menghormati pilihan keputusannya.
"Lalu bagaimana ceritamu dengannya?" tanya si soulmate padaku.
Aku tersenyum. Jempolku masih belum berhenti beradu kata dengan perempuan yang dimaksud si soulmate. "Kalian sih jelas ya bentuk relasinya pacaran, wajar berantem, nah kalo aku ama dia pacaran aja nggak, kenal belum lama, tapi berantemnya kayak udah nikah punya anak satu aja!"
Buliran air serupa fungsi peluh, lelah. Perempuan itu masuk dalam daftar nama yang dicatat oleh Tuhan untuk garis hidupku. Dan Tuhan belum memberiku contekan apakah ia benar ada dalam irisan takdirku. Ketika berbincang denganNya aku selalu meminta jikalau ada irisan takdir agar dipermudah selama membawa kebaikan untuk keduanya.
Plong! Tak pernah ada sesal, apalagi benci. Aku meyakini proses ini belum berakhir, terutama proses hidup dengan tujuan tunggal perempuan setengah baya, kekasih hatiku satu-satunya, ia yang selalu menengadahkan tangan untuk restui hidupku sampai detik ini.
Galau Minggu bukan milik saya saja, bukan bermaksud cari teman, hanya satu dari sekian teguran, that's life!
Get well soon, heart...
*Sebab perasaanku tlah mati untuk menyadarinya...
Get Well Soon, Heart... (2)
Mati oleh yang kubuat sendiri...
Mati oleh yang kurasa sendiri...
Mati oleh yang tak termulai...
Mati oleh yang tak terakhiri...
Menggigil letih, untuk kesekian kali...
Semburat tawa itu pedih...
Get well soon, heart,....
Get Well Soon, Heart....
Akhirnya tumbang... Bukan hanya otak, tetapi hati...
Langit Jogja mengamini dengan meruntuhkan titik air langit yang tak keluar dari sungai hatiku... Bukan karena telah mengering, perih yang tak mengalir...
Get well soon, heart, sakitlah sekarang... Mungkin lebih baik daripada kau tau kau akan sakit kelak tapi kau tetap berusaha berpura-pura kau tak akan sakit...
Merelakan setiap kepingan, waktu dan kenangan... Hanya rupa, tanpa wujud nyata...
......
Saya senang,
Sepertinya untuk pertama kalinya,
Eksplisit-as Anda terurai alami subuh ini...
Terima kasih, LarasHati.
Sepertinya untuk pertama kalinya,
Eksplisit-as Anda terurai alami subuh ini...
Terima kasih, LarasHati.
Friday, September 9, 2011
Love Is...
Untuk kesekian kalinya aku menonton film Korea tahun 2001 ini, nggak ada bosen2nya. Film ini yang ngajarin untukku selalu belajar dan terus belajar tulus.
Love Is...
Melepaskannya pergi ketika ia bukan untukmu. Sekuat apapun tanganmu mencengkeram, mencoba menggenggamnya, ketika ia memilih untuk lepas maka ia akan menyelusup dari sela jemari.
Love Is...
Aku belum fasih merapal cinta. Masih terlalu banyak yang harus kukalahkan dalam diri untuk menjadi tulus tanpa logika ketika melakukan sesuatu untuk orang yang kau sayang. Gengsi itu masih sering membunuhku. Aku tak ingin terlihat bodoh padahal aku melakukan hal-hal bodoh.
Jika sadar ia bukan untukku, aku sedang belajar mengiring harinya tanpa meminta secelah pun untuknya mengiring hari, terlebih hatiku...
Love Is...
Melepaskannya pergi ketika ia bukan untukmu. Sekuat apapun tanganmu mencengkeram, mencoba menggenggamnya, ketika ia memilih untuk lepas maka ia akan menyelusup dari sela jemari.
Love Is...
Aku belum fasih merapal cinta. Masih terlalu banyak yang harus kukalahkan dalam diri untuk menjadi tulus tanpa logika ketika melakukan sesuatu untuk orang yang kau sayang. Gengsi itu masih sering membunuhku. Aku tak ingin terlihat bodoh padahal aku melakukan hal-hal bodoh.
Jika sadar ia bukan untukku, aku sedang belajar mengiring harinya tanpa meminta secelah pun untuknya mengiring hari, terlebih hatiku...
Thursday, September 8, 2011
Kita... Unik!
Aku menyebutnya unik, bagaimana tidak, kenal aja ga genap 50 hari, pacaran juga nggak, tapi berantemnya kayak udah berumahtangga dua tahun.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Wednesday, September 7, 2011
BATAS
Kata orang, mencinta itu tak mengenal batas. Kalau ada batas berarti perasaan itu tak setulus yang mungkin pernah diikrar lisan. Tapi bagiku, mungkin hati memang tak berbatas, tapi kemudian logika membangunnya. Bukan ego, tetapi logika! Kalau hati bolehlah bak kerbau dicucuk hidungnya akan ikut apa kata hati, tapi ketika rasa itu terhenti, bukan hati yang mati tapi logika yang sedikit demi sedikit memupuk perih agar tak lagi terasa pedih.
Batas. Logika yang mencipta batas. Sekali lagi bukan ego! Kalau ego, kau tak mau hati direndahkan, tapi kalau logika adalah ketika semua telah sampai pada ambang batas saat semua upaya telah diusahakan. Bukan menyerah, batas adalah titik terakhir tapi tak menyerah apalagi kalah. Batas adalah ketika dengan legawa melepaskan disaat dirasa telah waktunya.
I believe everything and everyone has a limit. Bukan karena ego, apalagi menyerah tapi saat dimana aku tahu waktuku tuk memahamimu sudah lebih dari sekedar cukup. Berelasi dalam bentuk apapun adalah tentang menyerap dan menyepahamkan dua yang tak sama apalagi memaksakan salah satu mengikuti alur pikir lainnya. Tak ada mutlak benar, pasti betul dan maha tidak salah, relasi dua isi kepala hanya berisi pemahaman.
Batas. Logika yang mencipta batas. Sekali lagi bukan ego! Kalau ego, kau tak mau hati direndahkan, tapi kalau logika adalah ketika semua telah sampai pada ambang batas saat semua upaya telah diusahakan. Bukan menyerah, batas adalah titik terakhir tapi tak menyerah apalagi kalah. Batas adalah ketika dengan legawa melepaskan disaat dirasa telah waktunya.
I believe everything and everyone has a limit. Bukan karena ego, apalagi menyerah tapi saat dimana aku tahu waktuku tuk memahamimu sudah lebih dari sekedar cukup. Berelasi dalam bentuk apapun adalah tentang menyerap dan menyepahamkan dua yang tak sama apalagi memaksakan salah satu mengikuti alur pikir lainnya. Tak ada mutlak benar, pasti betul dan maha tidak salah, relasi dua isi kepala hanya berisi pemahaman.
Subscribe to:
Posts (Atom)




