Sunday, August 5, 2012

Bintang Jatuh

Malam ini ketika duduk duduk sembari bercerita kekonyolan kejadian sekitar sejam sebelumnya, aku merasa ada benda putih yang meluncur, dan kudefinisikan sebagai sebuah bintang jatuh.

Make a wish, teriak tetangga kost yang duduk di sebelah. Hmm, seperti dikomando, langsung deh komat kamit. Tau yang kulafalkan... Menagih Tuhan, jadi gak sih Ia mendekatkan aku dengannya...

Kamu tau siapa yang aku doakan? Tanyaku pada tetangga kost. Tau! Ternyata ia mengamati komat kamitku. Hmm, gak tau kenapa, ketika memejamkan mata barusan, yang nampak malah perempuan ini...

Aku tak pernah menuang sosoknya dalam media sosial ini. Bukan tanpa sebab, selain memang ia dahulu sudah berpemilik, aku masih ingin mengingat tentangnya hanya dalam benak. Sebenarnya banyak kekonyolan kejadian diantara kami, dan justru itu yang membuat ia berkesan.

Aku mengenalnya lumayan lama. Definisi kenal adalah mengetahui namanya, tapi tak pernah bertegur sapa. Wajahnya lumayan angkuh jadi aku berkesimpulan ia tak seberapa friendly. Baru tahun ini aku lebih mengenalnya...

Untuk orang yang dalam tanda kutip baru kenal, tangannya lumayan aktif. Aku menjulukinya hobi jowal jawil. Dan entah kapan perasaan suka itu menyusup. Namun banyak jaring jaring di otakku yang membuat pembatas pada perasaan itu. Aku cukup menyukainya saja.

Ketika malam ini ia muncul dalam doaku saat bintang jatuh pun bukan tanpa sebab pula. Aku merasa kami sama sama tau ada sebuah perasaan menyelusup tanpa perlu dipertanyakan satu sama lain. Mata adalah indikasi utama. Gestur tubuh apalagi caranya bicara, ada yang berbeda. Hmm, aku masih ingat raut wajahnya ketika aku ternyata tau zodiaknya. Kok kamu tau zodiakku? Tanyanya diantara ucapanku dengan teman teman lain, namun aku mengindahkan. Aku pikir ia cukup pintar untuk tau bahwa itu menjadi salah satu pertanda perasaanku padanya. Entahlah, aku sepertinya cuma bisa tersenyum mengingat cara kami berperilaku satu sama lain, susah sih kalo dideskripsikan dengan kata kata. Bahasa itu hanya kami yang tau.

Makanya, aku juga hanya menagih pada Tuhan, apakah Ia akan benar benar mendekatkan kami. Meski banyak pembatas yang aku yakini aku sendiri pun tidak cukup percaya diri untuk melampaui. Namun boleh tak percaya, di awal puasa kemarin ketika hatinya gundah, aku sudah memperkenalkan namanya pada Tuhan. Menunggu tangan Tuhan bekerja untuk menindaklanjuti sesuai fasih lafazku ketika bintang jatuh malam ini...


Friday, August 3, 2012

Rancu itu Candu


Aku sepertinya pernah menulis tentang kegemaranku satu ini. Bikin rancu!

Orang mungkin kadang berfikir kok mudah ya ditebak. Hmm, kalau itu yang memang terbersit, aku akan berdecak dengan kesuksesan bermain muka.

Informasi yang tergelontor deras jangan diharap adalah murni seribu persen begitu adanya. Sekali lagi kekagumanku untuk merancu kadang tak terpikir kan sejauh itu. Tak ada informasi yang seratus benar, jendral! Pandailah memilah dan memilih, karena absurd juga pilihan.

Deru tawa di dada tak pernah terdengar keluar, pun gemanya tak membuat sudut bibir membentangkan secarik senyuman. Oleh karenanya, mata adalah jendela jiwa. Jika tak dapat mengartikan mimik mata dan silat jemari berdansa, niscaya absurd-lah yang kan Anda terima!


Thursday, August 2, 2012

Flirting is My Stereotyping


Bukan bangga dengan judul diatas, justru jengah. Pasalnya distereotypekan sebagai tukang mbribik itu konotasinya jelas negatif. Jadi kadang cuma mau ingin berteman pun pasti dikira mbribik. Nah ini yang terjadi dalam kegiatan kali ini...

Perempuan ini memang tergolong cantik. Siwer kalo bilang ia buruk rupa. Aku memang meliriknya ketika ia baru datang, itu saja! Namun saat gilirannya memperkenalkan diri, gak tau kenapa kok teman2 malah menatapiku dengan pandangan awas jangan dibribik! Aku justru membalas dengan kerlingan yang membuat teman di hadapanku seolah berkata, dasar! Dan stereotype ahli flirt itu yang kemudian melekat.

Padahal toh biasa bukan melihat orang cantik kemudian berteman. Bukan tipe orang gila juga yang langsung suka membabi buta. Tapi mengenal dan mengetahui latar belakang orang yang baru saja dikenal kukira cukup wajar. Walhasil saya memang kemudian tak berani bahkan dikategorikan menghindar biar gak dikira mbribik.

Stereotype ini yang lumayan meresahkan. Pembawaan yang memang doyan godain orang, apakah salah berteman dengan banyak orang? Kadang predikat ini merembet ke arah cap player. Bukankah tidak benar mendefinisikan player kepada orang yang belum berpartner?

Sebenarnya tak terlalu penting bagaimana tanggapan orang, karena memang orang hanya bisa berasumsi tanpa pernah tau what u feel inside... Oleh karenanya, mengabsurdkan adalah pilihanku kemudian...


Wednesday, August 1, 2012

Renungan Kloset


Mayoritas apa yang kutulis dalam blog ini adalah hasil karya jempol kananku ketika di kamar mandi atau terjaga di pagi hari ketika libur.

Sebagian orang mungkin akan mengamini bahwa kloset itu seperti punya hipnotis untuk mencetuskan ide maupun merangkai kalimat, maka membawa hape ke kamar mandi bagiku lumayan menjadi keharusan saat membiarkan sistem ekskresi bekerja.

Puasa pun tak jauh berbeda. Maklum, ketika hawa dingin menyesap saat sahur, rutinitas kontraksi perut akan datang seperti menagih untuk dikeluarkan. Dan jempol akan bersuka ria mengurut dan merunutkan barisan memori di otak, terlebih untuk menggaungkan otak yang kembali menang mutlak. Tak ada quick count, pun tak ada penghitungan suara, namun bukan karena otoriter pula ketika aku mengamini otak menyatakan kemenangannya.

Ada yang berbeda meski ini kemenangan kedua otak. Hati tak akan terbiarkan menanggung kekalahan layaknya awal tahun. Porsi itu sudah tak terpakai. Kalah pun, hati tetap tak terbeli, meski otak tentu saja masih tetap dengan kepongahannya.

Ibarat renungan kloset yang selalu terakhiri gulungan air menyapu segala sesuatu yang memang layak tuk disingkirkan namun bukan dimusnahkan. Ia hanya harus keluar demi kesinkronan kerja tubuh yang lebih baik. Maka begitu juga dengan kemenangan otak, ia mutlak menang namun menjadi pemimpin tertinggi atas tubuh bukan semata ia otoriter pada hati, justru pe er besar otak kini adalah menyamakan persepsi, bahwa hati sampai kapanpun tak kan pernah membenci. Unsur berbau negatif itu mutlak hasil seringaian kurcaci-kurcaci kerdil yang memang tumbuh di kepala.

Genangan air sudah mulai bening. Itu tandanya aku harus beranjak. Pun begitu juga logika...