Aku terinspirasi film Kinsey yang kutonton beberapa waktu lalu. Tentu saja bukan karena kecairan seksualitas yang disajikan sebagai alur karakter si tokoh. Tetapi bagian tentang Sex History...
Sejarah seks juga bukan tentang berapa dan bagaimana gaya seks, ini tentang mencatat dari kecil apa yang kemudian akan mengkonstruksi di otak tentang bagaimana memandang, berperilaku baik positif dan negatif serta bagaimana itu berefek di perjalanan hati yang tertuang dalam aktivitas seksual dan pola relasi.
Mendeteksi sejak pertama kali ketika masa kecil hal-hal apa yang menstimulan otak, kebiasaan-kebiasaan "tersembunyi" karena masih malu takut ketahuan serta kekerasan ataupun pelecehan seksual yang dialami. Sebab-akibat, mungkin tak semua sebab akan menimbulkan akibat, tetapi merefleksi sex history buatku paling tidak menjadi satu metodeku lagi, kenapa dalam berelasi aku masih membentuk patronasi tertentu, tidak cair seperti adanya seksualitas itu sendiri.
Ya, mencatat sex history adalah metode belajar, merunut cerita apalagi terkait pengalaman seksual dari masa kecil hingga sekarang pasti menyenangkan. Jadi, bagaimana sex history-mu, catat!
Friday, November 23, 2012
Thursday, November 22, 2012
Mengapa Makanya Tuhan Bikin Satu Mulut Dua Kuping!
Judul itu kupilih hasil perbincangan pada "double date" aku dengan 3 orang teman di Roemi sehabis baksos TransgenderDay di daerah sekitar Code.
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...
Wednesday, November 21, 2012
Mengapa lidah saya selalu kelu bila di depanmu?
Inilah satu habit saya yang paling terkenal jika bertemu denganmu. Lidah yang mendadak kelu. Dan gak tau juga alasan dan penyebabnya apa! Sistem syaraf di otak seolah mandeg bekerja. Dan bukan sekali dua kali, that's why I called it an habit.
Namun varian ekspresinya sebenarnya yang tak sama. Kadang ketika kelu, wajahku seperti terpasang kejam tanpa ekspresi padahal nih otak kayak lagi kerja keras namun faktanya kalau bisa dilihat ama kaca pembesar anda tak akan menemukan apapun kecuali sel-sel saraf bertubrukan.
Namun kadang lidah yang kaku ini menyajikan ekspresi sebaliknya. Kamu akan tau hanya dari sumringah bibir, meski jika dilihat dengan kaca pembesar sekali lagi pun u will found nothing except kerja otak berlawanan arah jarum jam, sibuk tapi salah putar.
Namun saya menikmatinya, dengan semua varian ekspresinya. Tidak sesederhana perasaan saya memang, tetapi otak memang akan selalu tak bekerja sewajarnya jika tengah menyanding apa yang dinamakan cinta. Is it love that make it? Just don't know, its only... Happened! No need to named like your tongue suddenly freeze without a cold ice inside it... Right?
Tuesday, November 20, 2012
Mengapa saya tidak pernah percaya pertemanan?
Kalau tempo hari saya menulis sisterhood penting, maka judul kali ini akan melemparku ke aku dengan pemikiranku yang dulu.
Aku mungkin sudah pernah berstatement bahwa aku tak percaya pertemanan, hingga saat ini pun mungkin kukategorikan demikian. Saya punya banyak teman, tak pernah bermasalah dengan hal tsb, namun tak pernah percaya pada seseorang sepenuhnya itulah intinya.
Sebenarnya tak ada kejadian signifikan yang menyebabkan trauma, hanya mungkin terbiasa dan kebiasaan sejak jaman baheula tak pernah membagi isi pikiran dan isi hati pada orang lain itulah yang mengkonstruksi otak untuk bersikukuh menjadi orang yang hanya percaya pada dirinya sendiri.
Kadang kupikir berimplikasi positif, namun juga negatif. Positifnya kau tidak merepotkan orang lain, namun negatifnya ketika otak terlalu penuh dan tak ada katarsis, its like more pain ever. Bukan karena tak punya teman berbagi, tetapi karena ketidakpercayaan untuk membagi.
Dan mendobrak konsep ketidakpercayaan diatas sulit, namun bukan berarti tak mungkin. Yang bisa perlahan diubah adalah mindset otak untuk berbagi dan membagi masalah dengan orang lain, tetapi untuk mempercayai, ya aku mungkin akan sekelebat percaya informasi atau cekokan apapun dari seseorang tanpa filter, namun sebenarnya filter inside itu yang meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terlebih ketika alarm warning not to believe him/her bunyi. Tak ada penawaran, meski seberapapun kegigihan anda untuk membuat saya percaya.
Dampak negatif lain menurutku adalah menaikkan energi negatif. Itu yang sebenarnya ingin kuperangi. Aku mungkin bersetuju kewaspadaan positif tapi bukan berarti juga bersepakat dengan energi negatif yang keluar karena konstruk tak jelas otak yang melahirkan skenario bernama kecurigaan yang validitasnya dipertanyakan. Aku kadang sadar itu namun lebih sering terjebak disana. Bahwasanya membuat skenario itu bagus untuk sebuah proyek tulisan, tetapi skenario yang dibuat otak kadang buruk terutama jika berdasarkan asas bernama ketidakpercayaan itu tadi.
Monday, November 19, 2012
Mengapa masih ada cemburu?
Katanya, cemburu itu tanda sayang. Tapi kalau cemburunya pada orang yang sudah tak berelasi dengan kita tapi kita masih sayang, apa itu wajar? Wajar mungkin bagi pihak yang masih sayang, tapi di pikiran pihak lain kan belum tentu. Kalau kau masih berelasi, mungkin kau akan menyampaikan rasa cemburumu tapi kalau sudah tidak dalam relasi, what to do to express your jealousy? Karena mengungkapkannya pada pihak yang bersangkutan tentulah konyol, itu melanggar koridor pihak lain, anda telah menyebrang koridor anda dan kemungkinan membuat orang tsb tak nyaman. Walhasil, kalau itu terjadi padaku, hmm seems like I ruin my self, not because my jealousy but a question why I have to keep this jealousy?
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.
Sunday, November 18, 2012
Mengapa Omnibus Saya Tetiba Mandeg?
Bulan Oktober kemarin adalah getol-getolnya aku menuliskanmu dalam satu Untold dan Uncut. Tiap hari kadang bisa lebih dari satu judul. Padahal untuk hitungan bulan Oktober yang padat merayap itu tiap wiken hampir tak pernah berleha di kamar, selalu ada aja kegiatan baik dalam atau luar kota. Namun jari sepertinya tak mau berhenti menari. Tiap bangun tidur ia meliuk-liuk tanpa butuh banyak pemanasan. Ya, tiap ujung syaraf dikonsentrasikan padamu, selalu tak butuh waktu lama untuk mengelana kisah setahun lalu.
Dan kenapa tetiba mandeg di bulan November? Padahal juga tak seberapa sibuk di akhir pekan. Jawaban pastinya bukan malas, sudah ada 27 judul menanti untuk dieksekusi. Plus aku yakin judul akan terus bertambah, karena dari 27 itu masih berakhir pada awal-awal tahun, yang artinya masa-masa tengah tahun sampai sekarang belum terfikirkan outline-nya.
Sekali lagi aku hendak mengeluhkan waktu, menulis sedikit saja sudah beberapa jam terlewat. Belum lagi fokus dan tumpukan deadline yang lain, bukan sok sibuk hanya kekurangan waktu saja.
Tetapi yakini benar bahwa semangat untuk menyelesaikan omnibus ini harus tetap terjaga, apalagi sudah dapat ide tambahan bahwa cerita ini tak akan hanya dari sudut pandangku saja, tetapi sudut pandangmu (tetapi karena fiksi, tetap akan menurut versiku) dan sudut pandang kita. Bagusnya sih kamu menulis sendiri sudut pandangmu, tetapi melihat korelasi cerita seutuhnya akan susah mengaitkan kisah hidup 2 orang meski ada irisan takdir disana.
Dan, ya, masih tetap akan lanjut kok... Obyektivitas emosi harus tetap dijaga ketika menuliskan omnibus ini, kadang karena kamu sudah masuk lagi dalam kehidupanku sekarang ini, kadang kala emosional yang terjadi setahun lalu meleset dari yang seharusnya dituliskan. Makanya, kadang kalau hati sedang senang karena ulahmu, aku tak mau menulis bagian sedih cerita aku dan kamu setahun lalu.
Let's get write... Hope my version finished before January... Keep spirit.. To write and to effort me and you once again...
Dan kenapa tetiba mandeg di bulan November? Padahal juga tak seberapa sibuk di akhir pekan. Jawaban pastinya bukan malas, sudah ada 27 judul menanti untuk dieksekusi. Plus aku yakin judul akan terus bertambah, karena dari 27 itu masih berakhir pada awal-awal tahun, yang artinya masa-masa tengah tahun sampai sekarang belum terfikirkan outline-nya.
Sekali lagi aku hendak mengeluhkan waktu, menulis sedikit saja sudah beberapa jam terlewat. Belum lagi fokus dan tumpukan deadline yang lain, bukan sok sibuk hanya kekurangan waktu saja.
Tetapi yakini benar bahwa semangat untuk menyelesaikan omnibus ini harus tetap terjaga, apalagi sudah dapat ide tambahan bahwa cerita ini tak akan hanya dari sudut pandangku saja, tetapi sudut pandangmu (tetapi karena fiksi, tetap akan menurut versiku) dan sudut pandang kita. Bagusnya sih kamu menulis sendiri sudut pandangmu, tetapi melihat korelasi cerita seutuhnya akan susah mengaitkan kisah hidup 2 orang meski ada irisan takdir disana.
Dan, ya, masih tetap akan lanjut kok... Obyektivitas emosi harus tetap dijaga ketika menuliskan omnibus ini, kadang karena kamu sudah masuk lagi dalam kehidupanku sekarang ini, kadang kala emosional yang terjadi setahun lalu meleset dari yang seharusnya dituliskan. Makanya, kadang kalau hati sedang senang karena ulahmu, aku tak mau menulis bagian sedih cerita aku dan kamu setahun lalu.
Let's get write... Hope my version finished before January... Keep spirit.. To write and to effort me and you once again...
Saturday, November 17, 2012
Mengapa saya harus BALEN?
Setelah menjabarkan siklus hati dan lebih condong akan menerapkan siklus balen, maka kemudian aku mulai mengkonsep bagaimana melakoni siklus tanpa referensi ini.
Dan terus terang, kata Balen itu sendiri sebenarnya masih tabu di otak saya. Ya, di tiap relasi hampir tak pernah tercetus untuk mengulang hati dengan orang yang sama. Berakhir ya berakhir, berelasi dengan sudut pandang yang lain. Tetapi balen kali ini menjadi salah satu hal yang termasuk dalam pendobrakan hati atas out of the box yang selama ini berada dalam kungkungan otak.
Ya, aku sedang dalam usaha panjang untuk mengenyahkan satu persatu konstruksi yang memadat di otakku entah sudah sejak sekian lama. Makanya, aku meyakini usaha ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun, yang menjadi inti adalah aku akan menikmati proses ini.
Balik soal definisi balen, yang artinya mengusahakan hati kepada orang yang sama yang pernah mengisi hati saya. Mengapa saya harus balen, mari kita kupas...
Dan kalau jawabannya karena saya masih cinta tentu saja menambah daftar klise panjang alasan tidak bonafit mengapa saya harus mempertahankan perasaan dengan ke-berbeda-an dalam segala hal yang kayaknya memang tak akan menemukan titik temu ini.
Bayangkan, apa yang ada di otakmu ketika kau ingin mengulang hari bersama perempuan yang bahkan di tiap hari-harimu tak pernah menemukan kecocokan, tak pernah saling berbicara atau membahas banyak hal dan yang paling utama tak tau apa isi otaknya bahkan ketika kau di hadapannya? Lalu apa yang sebenarnya kau cari?
Bayangkan pula, apa yang kemudian ada di otak anda ketika dalam keseharian anda dengannya jarang sekali, kalau boleh dibilang langka, menemukan kata sepakat bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun. Yang ada hanyalah anda dan dia akan terlibat adu argumen tidak penting atau dia bahkan anda sendiri akan menjadi pihak yang selalu bersebrangan.
Bayangkan lagi nih, nah kalau yang ini berkaitan dengan kerumitan di dalam diri anda sendiri... Bayangkan jika semua hal yang ingin anda balen-kan itu adalah salah satu usaha panjang anda yang lain untuk "menyembuhkan" pola patronasi yang sudah mengakar bertahun-tahun dalam sebuah pola relasi, artinya ketika sukses balen ada sebuah patronasi yang terburai, meski aku si pelakon utama tak seberapa optimis tembok cina akan runtuh layaknya tembok berlin.
Dan yang paling utama, bayangkan anda melalui jalan yang pernah anda lewati tapi anda merasa akan tersesat karena banyak rambu-rambu di jalan tersebut kini menyesatkan. Hmm, memulai relasi dengan orang baru mungkin akan lebih mudah karena kita bisa "mempermanis" diri di depan, namun membangun pola dengan orang yang pernah menjalani hari-hari singkat denganmu dan hafal perilaku serta karaktermu bukanlah hal mudah, ditambah dengan ketidakbersediaannya menjadi "perempuan manis" selayak dia berperangai pada orang lain.
Lantas anda hendak sebut ini apa? Tantangan??? Saya tidak tertantang sama sekali, karena jujur model orang kalah sebelum berperang seperti saya bukan tak menyukai tantangan, tetapi tak tau harus memulai melakukan apa.
"Aku akan terus memperjuangkan hatiku!" Aku pernah berucap begitu padamu, meski kau berkilah kau tak berharga untuk tetap dipertahankan.
Aku tak akan menelisik dari sudut pikiranmu yang tentu saja aku tak tau, meski balen itu harus diinisiasi dua orang, bukan salah seorang diantaranya saja yang mengusahakan. Akh, aku sedang tidak ingin berdebat dengan otak tentang menghitung dan berhitung soal rasa.
Otak bolehlah menyebut ini semua sebagai ketololan permanen, tetapi entah otak akan memberi sebutan apa ketika berada di dekatmu ada semacam boosting energi yang aku juga tak tau berasal darimana tiba-tiba menyesap membuat segala yang ada dalam diri menjadi positif berkali lipat.
Otak akan berkilah semunafik apalagi ketika otak sanggup bekerja lebih lancar mengerjakan hal-hal yang malas untuk disentuh pada hari-hari biasa. Laporan, rundown, semua selesai dalam beberapa jam ketika didekatmu.
Energi, aku menamai satu-satunya hal yang bisa menyatukan kita ini. Kau dengan begitu mudah tau aku marah, senang, romance, ramah dan perasaanku ketika di dekatmu tanpa perlu aku mengekspresikannya detil. Bahkan orang lain tak sadar perasaan-perasaan itu, tapi kau tak perlu menunggu aku berucap sesuatu, kau paham.
Ada semacam kontak batin yang entah kau percaya atau tidak, terbangun tanpa perlu terkatakan. Meski kemudian perilaku yang tampak kadang malah kebalikannya, atas nama ego yang sedang mati-matian kuluruh, aku berharap kemengertian batin inilah yang tetap akan bertahan diantara ego, saling tunggu dan takdir yang sepertinya sedang senang bermain-main.
Jadi, balen bukan tentang mengulang cerita lama, tetapi membuka lembar baru dengan rasa yang seperti dulu ada dan terjaga.
Dan terus terang, kata Balen itu sendiri sebenarnya masih tabu di otak saya. Ya, di tiap relasi hampir tak pernah tercetus untuk mengulang hati dengan orang yang sama. Berakhir ya berakhir, berelasi dengan sudut pandang yang lain. Tetapi balen kali ini menjadi salah satu hal yang termasuk dalam pendobrakan hati atas out of the box yang selama ini berada dalam kungkungan otak.
Ya, aku sedang dalam usaha panjang untuk mengenyahkan satu persatu konstruksi yang memadat di otakku entah sudah sejak sekian lama. Makanya, aku meyakini usaha ini tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun, yang menjadi inti adalah aku akan menikmati proses ini.
Balik soal definisi balen, yang artinya mengusahakan hati kepada orang yang sama yang pernah mengisi hati saya. Mengapa saya harus balen, mari kita kupas...
Dan kalau jawabannya karena saya masih cinta tentu saja menambah daftar klise panjang alasan tidak bonafit mengapa saya harus mempertahankan perasaan dengan ke-berbeda-an dalam segala hal yang kayaknya memang tak akan menemukan titik temu ini.
Bayangkan, apa yang ada di otakmu ketika kau ingin mengulang hari bersama perempuan yang bahkan di tiap hari-harimu tak pernah menemukan kecocokan, tak pernah saling berbicara atau membahas banyak hal dan yang paling utama tak tau apa isi otaknya bahkan ketika kau di hadapannya? Lalu apa yang sebenarnya kau cari?
Bayangkan pula, apa yang kemudian ada di otak anda ketika dalam keseharian anda dengannya jarang sekali, kalau boleh dibilang langka, menemukan kata sepakat bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun. Yang ada hanyalah anda dan dia akan terlibat adu argumen tidak penting atau dia bahkan anda sendiri akan menjadi pihak yang selalu bersebrangan.
Bayangkan lagi nih, nah kalau yang ini berkaitan dengan kerumitan di dalam diri anda sendiri... Bayangkan jika semua hal yang ingin anda balen-kan itu adalah salah satu usaha panjang anda yang lain untuk "menyembuhkan" pola patronasi yang sudah mengakar bertahun-tahun dalam sebuah pola relasi, artinya ketika sukses balen ada sebuah patronasi yang terburai, meski aku si pelakon utama tak seberapa optimis tembok cina akan runtuh layaknya tembok berlin.
Dan yang paling utama, bayangkan anda melalui jalan yang pernah anda lewati tapi anda merasa akan tersesat karena banyak rambu-rambu di jalan tersebut kini menyesatkan. Hmm, memulai relasi dengan orang baru mungkin akan lebih mudah karena kita bisa "mempermanis" diri di depan, namun membangun pola dengan orang yang pernah menjalani hari-hari singkat denganmu dan hafal perilaku serta karaktermu bukanlah hal mudah, ditambah dengan ketidakbersediaannya menjadi "perempuan manis" selayak dia berperangai pada orang lain.
Lantas anda hendak sebut ini apa? Tantangan??? Saya tidak tertantang sama sekali, karena jujur model orang kalah sebelum berperang seperti saya bukan tak menyukai tantangan, tetapi tak tau harus memulai melakukan apa.
"Aku akan terus memperjuangkan hatiku!" Aku pernah berucap begitu padamu, meski kau berkilah kau tak berharga untuk tetap dipertahankan.
Aku tak akan menelisik dari sudut pikiranmu yang tentu saja aku tak tau, meski balen itu harus diinisiasi dua orang, bukan salah seorang diantaranya saja yang mengusahakan. Akh, aku sedang tidak ingin berdebat dengan otak tentang menghitung dan berhitung soal rasa.
Otak bolehlah menyebut ini semua sebagai ketololan permanen, tetapi entah otak akan memberi sebutan apa ketika berada di dekatmu ada semacam boosting energi yang aku juga tak tau berasal darimana tiba-tiba menyesap membuat segala yang ada dalam diri menjadi positif berkali lipat.
Otak akan berkilah semunafik apalagi ketika otak sanggup bekerja lebih lancar mengerjakan hal-hal yang malas untuk disentuh pada hari-hari biasa. Laporan, rundown, semua selesai dalam beberapa jam ketika didekatmu.
Energi, aku menamai satu-satunya hal yang bisa menyatukan kita ini. Kau dengan begitu mudah tau aku marah, senang, romance, ramah dan perasaanku ketika di dekatmu tanpa perlu aku mengekspresikannya detil. Bahkan orang lain tak sadar perasaan-perasaan itu, tapi kau tak perlu menunggu aku berucap sesuatu, kau paham.
Ada semacam kontak batin yang entah kau percaya atau tidak, terbangun tanpa perlu terkatakan. Meski kemudian perilaku yang tampak kadang malah kebalikannya, atas nama ego yang sedang mati-matian kuluruh, aku berharap kemengertian batin inilah yang tetap akan bertahan diantara ego, saling tunggu dan takdir yang sepertinya sedang senang bermain-main.
Jadi, balen bukan tentang mengulang cerita lama, tetapi membuka lembar baru dengan rasa yang seperti dulu ada dan terjaga.
Friday, November 16, 2012
Mengapa saya kemudian menganggap sisterhood itu penting?
Sejak dulu aku tak pernah percaya seratus persen pada pertemanan. Bukan berarti tak berteman. Aku senang punya teman-teman, namun membagi ceritaku pada mereka, itu yang tak mau kulakukan. Berangkat dari ketidakpercayaan itulah yang membuatku menyimpan sendiri dan mencari solusi atas apapun dalam hidupku dengan mengkomunikasikannya hanya kepada diri sendiri. Namun kejadian beberapa waktu lalu sedikit mengubah cara berpikirku...
Dimulai dengan sebuah pesan di fesbuk dari seorang teman yang berkeluhkesah tentang operasi yang hendak dilewatinya. Ia meminta bantuan beberapa teman terdekat, membagi cerita dan pada akhirnya teman-teman yang ia curhati bergiliran menjaga di rumah sakit.
Hari keduanya, aku diajak seorang teman kantor menjenguk partnernya yang juga sakit tetapi di rumah sakit berbeda. Sama dengan temanku yang operasi tadi, laki-laki ini berada di ruangan seorang diri. Bedanya, laki-laki ini memang sengaja tak mau ditemani kecuali partnernya.
Kedua hal menyangkut sakit dan rumah sakit ini kemudian membuatku tertampar untuk berpikir keras. Bagaimana dengan hari tuaku nanti? Sudah berkepala tiga, tak lagi bisa dibilang muda, namun bukan berarti mematahkan semangat mudaku, hanya harus waspada diri bahwa aku harus menyiapkan hal-hal menyangkut kesehatan.
Pertama adalah menjaga kesehatan, tentu saja. Berkaca pada pola hidup yang mau tak mau diakui sama sekali tak teratur, kadang frustrated ketika memikirkannya tanpa melakukan sesuatu untuk merubahnya. Yeah, menasehati orang lain selalu jauh lebih mudah daripada kepada diri sendiri. Makanan tak sehat, pengawet dan tak ada nilai gizi, penyebab kolesterol dan segala macam deretan penyakit lain yang mungkin kuhafal diluar kepala tapi tak berusaha untuk tak memakannya. Hmm, mengoceh pada diri sendiri pada bagian ini...
Kedua adalah life insurance, yup... Dengan "pilihan" orientasi seksualmu ini, maka bertanggungjawablah pada dirimu sendiri ketika tua nanti. Kesehatan harusnya dapat di akses oleh siapapun, tapi di negri dongeng korupsi ini tak akan ada yang bisa kau andalkan selain kau dan usahamu sendiri. Mulai mengeluhkan negri antah barantah yang bahkan sampai anak cucu menua nanti tetap tak akan pernah membaik... Bukan nyumpahin, bahkan jika Jokowi diproduksi berlipat aku yakin keruwetan negri ini tak menyurut. Jadi berharap akses kesehatan diberikan oleh negara sepenuhnya, ya aku harap tidak menjadi mimpi satu lagi diantara sekian trilyun mimpi yang menanti untuk direalisasi...
Ketiga adalah, dan ini jalan paling mentok yang kemudian bisa dijadikan solusi, yaitu punya partner hingga menua nanti. Keliatan so swit bukan, tapi akan menjadi so shit ketika bahkan punya partner tetapi tak perduli ketika kita sakit. Makanya, aku menempatkannya di pilihan terakhir. Anak dan pasangan adalah ide terakhir ketika kita sudah mengupayakan dua hal diatas. Kebergantungan itulah yang semoga tak menghinggapiku kelak.
Namun ada satu solusi lagi yang ditawarkan oleh teman ketika di rumah sakit itu... Sisterhood atau persaudarian, aku menamakannya sisterhood bukan berarti ikatan persahabatan sesama perempuan saja, tetapi semua bentuk ikatan yang tak memandang jenis kelamin dengan segala daftar pembedaan dan klasifikasinya.
Hmm, sebentar dulu, sejak kapan aku percaya pertemanan dalam segala bentuknya? Akan kuceritakan lebih detil pada judul lainnya. Namun ketika melihat sendirian berada di rumah orang-orang yang sedang ingin sembuh ini dan kemudian satu persatu teman bergantian menjaga, maka oke lah, sisterhood masuk dalam satu solusi tambahan.
Alasannya tentu saja bukan karena faktor kebutuhan, tetapi kebersamaan dan ruang untuk saling berbagi satu sama lain. Paling tidak akan ada teman-teman untuk saling menguatkan.
Sisterhood... Don't make it as the first aid for your health problems, but cultivate it as a system that will cured you psychologycally when u got problems...
Maka mulai sekarang saya sedang belajar ide-ide persaudarian ini ke dalam agenda konsolidasi otak saya dengan segala mindset-nya.
Thanks for making me learn and reflected...
Monday, November 12, 2012
Mengapa siklus hati hanya begitu2 saja?
Siklus hati... Tentu saja semua pernah mengalami, entah disadari atau tidak, pasti prosesnya akan sama pada tiap-tiap yang pernah merasakan.
Kalau saya menjabarkan siklus hati itu begini... Awalnya, tentu saja single, kalau tak mau dibilang jomblo, lalu tertarik pada seseorang, atau menarik bagi seseorang, lalu terjadilah tarik menarik itu... Kerennya sih pedekate... Kalau itu tak terjadi, pasti ada salah seorang yang tak tertarik... Hmm, tapi kali ini aku sedang ingin membahas dua orang yang tarik menarik. Dan kemudian cupid bersiap meluncurkan busur panahnya, dan dua orang ini kemudian di mabuk asmara... Lalu terjadilah relasi... Entah apapun namanya, no sign contract, selingkuh, pacaran, backstreet dan poro sedulurnya, yang intinya berelasi... Lalu mau lama atau sebentar, relasi berubah terputus...orang akan kembali pada posisi semula, single -kalau tak mau dibilang jomblo- dan menanti siklus diatas terulang dan berulang.
Membosankan! Itu yang terbersit di kepala saya tentang siklus tersebut. Saya pernah bilang mungkin tentang betapa memuakkannya pedekate dengan segala kepalsuannya tetapi tetap harus melewati fase itu demi sebuah sebutan penjajagan.
Siklus hati yang memang begitu-begitu saja itu juga semacam jadi patokan tak tertulis alias patron yang entah disadari atau tidak akan sama atau setidaknya serupa lah pada tiap-tiap orang.
Dan ide jail di kepala saya kemudian menginginkan siklus hati yang berbeda dari patron kebanyakan tetapi saya tau dan sadar siklus ini sebenarnya juga dialami banyak orang tentu saja dengan patron dan langkah-langkah berbeda. Siklus itu saya namakan siklus BALEN. Kerennya disebut CLBK, yang bagi saya dipanjangkan menjadi Cinta Lama Belum Kelar...
Saya merasa formula untuk siklus ini berbeda pada tiap orang, ada kemiripan tapi tak akan sama. Oleh karenanya, saya pun agak bingung bagaimana menjalankan siklus ini ketika tidak ada patronasi yang mungkin bisa kujadikan referensi.
Tapi, yang paling penting, saya lumayan niat lho dengan siklus ini meski saya tipe kurang kreatif untuk inovasi langkah strategis apa yang harus dilakukan. Jadi, mari memulai dengan menulis konsep siklus BALEN ini ya sodara-sodara...
Bersambung di tulisan selanjutnya!
Tuesday, November 6, 2012
Mengapa sehari HANYA 24 jam?
Pertanyaan yang diajukan oleh orang yang mendadak sibuk seperti saya. Bukan sok sibuk, tapi ketika satu demi satu deadline dan penumpukan aktivitas serta kesenangan harus dilakukan bersamaan, maka pertanyaan diatas akan kumunculkan sebagai bentuk pemberontakan atas siklus alam yang bernama rotasi bumi.
Belum selesai mengerjakan sesuatu sementara mata sudah terkantuk-kantuk, kemudian beberapa pekerjaan lain menanti untuk dirampungkan, pun hati juga tak mau menunggu untuk segera ditindak lanjuti, lalu bagaimana cara saya untuk memolorkan selang waktu yang tidak terbuat dari karet ini?
Okay, saya tau ini konsekuensi, saya meyakini itu. Saya tidak mengeluh soal pekerjaan yang menumpuk itu karena saya memang berniat dan sungguh2 menyelesaikannya, saya hanya komplain soal jatah hari yang hanya memberi kuota 24 jam per harinya. Andai bisa 48 jam mungkin tak akan komplain.
Hmm, mulai absurd, abaikan jika komplain ini mulai tak masuk akal. Saya juga tak menyalahkan waktu kenapa begitu cepat berlompatan dalam hidupku, seperti orang sedang jatuh cinta saja ya, jatuh cinta pada pekerjaan! Hmm, yang ini lebih masuk akal. Jadi, 24 jam tetap tak cukup tapi menyelesaikan yang belum terselesaikan adalah kewajiban. Termasuk 30 judul Uncut dan Untold yang sudah tertata urutan dan outlinenya, hanya perlu WAKTU untuk mengeksekusinya. Berdoalah, semoga waktu bersahabat denganku untuk berdetak lebih pelan dari kebiasaannya berpacu dengan hidupku menjalankan siklus alam.
Mari menulis... Mari mengeja waktu!
Thursday, November 1, 2012
Mengapa kloset inspiratif?
Gemericik air di kamar mandi adalah bunyi yang mengandung sumber inspirasi terbesar buatku. Mendengar luber air yang membasahi celah jari hingga dinginnya menusuk menembus pori-pori kulit kian menerbangkan ujung-ujung syaraf di otakku untuk memainkan kata-kata yang didansakan ibu jari dengan begitu lincah.
Kadang tak sadar hampir setengah jam duduk dengan posisi yang sama. Baru saat semut-semut tak nampak bernama kesemutan merambah telapak kaki hingga kaku untuk digerakkan barulah tersadar harus berganti posisi atau menyudahi kekakuan ujung-ujung kaki dengan menyiramkan air dingin, menunggu sebentar agar kaki kembali lemas dan benar-benar menyudahi aktivitas gemericik air nan inspiratif ini.
Membandingkan ketika aku menyalakan laptop, lalu duduk di depannya dengan halaman putih kosong terbentang, aku yakin setengah jam berikutnya paling maksimal aku cuma akan dapat satu paragraf, itu pun kalau ada inspirasi. Tetapi dengan membuka notepad hape, baik menulis judul baru maupun nerusin judul lama, sepersekian menit berikutnya kata demi kata lancar mengalir, mau sambil leyehan habis bangun tidur atau di kloset.
Makanya kalau disuruh mengarang dadakan, aku bukannya akan membuka laptop dan menulis, tetapi membuka notepad hape dan menarikan jempol. Menulis manual dengan tangan dulu kulakukan sebelum menggunakan hape, tetapi keseringan otakku lebih cepat daripada tanganku sehingga ide atau pokok pikiran yang hendak kutulis kadang terlewat tak semuanya tertuang.
Pada intinya, mari menulis! Memakai hape jelas akan mudah dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Hanya perlu menyempatkan waktu. Ya, waktu itu yang mahal di hari-hari hidupku saat ini!
Subscribe to:
Posts (Atom)









