Judul itu kupilih hasil perbincangan pada "double date" aku dengan 3 orang teman di Roemi sehabis baksos TransgenderDay di daerah sekitar Code.
Gerimis menemani aku dan satu teman yang memilih duduk di teras kafe itu. Kemudian temannya datang, dan satu kawan lagi menyusul, mengobrol kesana kemari. Tak ada yang penting... Aku hanya tertarik pada ungkapan kawan kerjaku itu... Tentang mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, bukan dua mulut dan satu telinga...
Obrolan itu berawal dari keluhanku tentang pertemanan dan curhat. Aku bercerita tak percaya pertemanan, apalagi soal curhat. Dari dulu aku sangat susah untuk curhat ke teman, menuliskan akan lebih mudah. Meski sekarang sudah mulai membuka ruang-ruang untuk membagi perasaan dengan teman, tetapi selama ini aku lebih sering menjadi pendengar dan pemberi saran.
Perubahan dari pendengar ke pencerita inilah yang kemudian mencetuskan ungkapan seperti judul diatas. Memilih teman curhat itu mungkin poin yang harus kuperhatikan. Karena yang terjadi ketika aku sedang memulai menjadi pencerita adalah belum selesai curhat malah dicurhati dan aku harus mendengarkan karena aku juga ingin didengarkan. Padahal di satu titik aku hanya ingin bercerita tanpa ingin mendengar orang lain mengeluh.
Makanya lantas jumlah kuping lebih banyak daripada mulut ya karena kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada bercerita...

No comments:
Post a Comment