Mungkin, aku dan kamu, tak lebih dari sekedar fantasi, aku dan kamu. Kadang, jika kutilik ulang aku dan kamu, tak ada benang merah antara kita.
"Apa chemistry kalian?" tanya si emak2 pada kami. Ia kemudian menjelaskan chemistry intelektual aku dan dia, dan ketika kembali aku dan perempuan itu bertemu pandang, kami masih terus mencari, apa yang sebenarnya menautkan kami?
Ada pepatah yang pernah kubaca, jika kita tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan kita untuk orang yang ada di hati, maka itulah cinta. Ketika kukumandangkan itu padanya, ia malah berseru pepatah itu tak dapat dipercaya, bisa saja bermakna sebaliknya.
Pun bila menilik duniaku dengannya, sungguh kontras! Manusia malam vs manusia rumahan. Dan pola pikir yang teramat bertolak belakang, aku tipe orang yang senang semua ditutur komunikasikan sedang ia menutup rapat isi otaknya. Bahkan seringkali aku bergumam, kayaknya aku harus belajar ilmu kebatinan deh!
Dan semua yang bertolak belakang lainnya. Intensitas pertemuan yang hanya diisi kediaman, tawa dan obrolan yang bisa diitung jari. Kau bilang semua butuh waktu, aku sepakat, tapi semoga tak kelamaan di wilayah kebatinan ini.
Pun jika ini sebuah fantasi aku tak akan sepakat denganmu untuk menyebutnya kesalahan termanis. Setiap irisan takdir selalu memaknakan sesuatu, meski hingga detik ini kita belum menemukan padanan yang khas.
Wednesday, November 9, 2011
Friday, November 4, 2011
Kamu
Kamu. Saya bahkan tak bisa mempenakan tentang kamu. Sesingkat apapun. Ya, otak saya sedari awal menghujat; setiap yang hadir dalam hidupku selalu dapat kuprosa atau puitiskan dalam ruang dunia maya ini, kecuali kamu.
Bukan karena aku benci namamu sejak awal. Entah, aku tak menemukan satu alasan pun kenapa otakku kemudian mandeg total. Hanya ketika emosi telah memuncak, apa yang menggunung di hati sepertinya perlu untuk dikatarsiskan.
Hanya aku tetap terbungkam. Seperti ceritamu yang hanya akan terbungkam di otak dan hatiku.
Bukan karena aku benci namamu sejak awal. Entah, aku tak menemukan satu alasan pun kenapa otakku kemudian mandeg total. Hanya ketika emosi telah memuncak, apa yang menggunung di hati sepertinya perlu untuk dikatarsiskan.
Hanya aku tetap terbungkam. Seperti ceritamu yang hanya akan terbungkam di otak dan hatiku.
Thursday, November 3, 2011
Everything Back
Everything goes normal again. Insomnia yang datang kembali. Tidur pun rasanya ada yang bangunkan. Kantung mata yang menghitam kembali. Itu yang kusebut fase normal atau rutin.
Dua bulan. Seperti pendulum aku menghitung waktu. Sebuah kemerosotan yang lagi2 aku buat sendiri. Aku terlampau berleha-leha untuk urusan hati. Hmm, ya internal error satu itu belum bisa kubenahi sampai sekarang. Ditengah riuh rutinitas yang terselubungi cerita terlarang, aku kalang kabut Oktober lalu.
Intermezzo yang harus kusudahi. Ada yang maha penting; hidupku, bukan hatiku. Bahwa sekali lagi pencipta seluruh keberlangsungan hidupku adalah diriku sendiri.
Dua bulan. Seperti pendulum aku menghitung waktu. Sebuah kemerosotan yang lagi2 aku buat sendiri. Aku terlampau berleha-leha untuk urusan hati. Hmm, ya internal error satu itu belum bisa kubenahi sampai sekarang. Ditengah riuh rutinitas yang terselubungi cerita terlarang, aku kalang kabut Oktober lalu.
Intermezzo yang harus kusudahi. Ada yang maha penting; hidupku, bukan hatiku. Bahwa sekali lagi pencipta seluruh keberlangsungan hidupku adalah diriku sendiri.
Sunday, October 30, 2011
An Affair
Ternyata jemari saya mandeg di bulan Oktober. Bukan karena semenjak hape kesayangan yang biasanya menjadi tools untuk menuang ide di kepala saya ke dalam tulisan itu raib, tapi karena otak saya sedang tidak bekerja. Hati saya fulltime bulan Oktober ini...
Sebuah cerita yang sanggup menyebabkan kemerosotan hubungan dengan perempuan yang sedang mengisi hati saya kala itu. Ya, saya harus mengakui affair itu sedemikian hebatnya memang. Entahlah, yang pasti otak saya dibuat lumpuh tak berlogika. Kalau boleh dibilang ini gila!
Dan lebih gilanya, sepanjang perjalanan waktu ketika logika saya terus menerus menghujat dan mengkomparasi, "dimana letak istimewanya perempuan itu? Bahkan secuil inspirasi pun tak bisa kau persembahkan di ruang dunia maya ini? Beda sepanjang bulan lalu, puitis kata, prosa hati, kau bisa dengan begitu mudah!" Otak terang-terangan menghujat hati.
Dan sampai kini hati tak memberi jawab. Hati hanya bisa terpekur pasrah ketika otak lah yang kemudian mendetilkan arti perempuan itu kini. Akhirnya, ia memberiku inspirasi, tepat disaat hati sudah merasa terlampau letih.
Tapi tak mau menyalahkan waktu, meski jika mampu memutar ulang waktu aku memilih untuk tak punya kisah ini dalam hidupku.
Sebuah affair; yang bahkan logikaku tak pernah terfikir akan mendapatinya dalam perjalanan hatiku. Orang bilang cinta bisa datang kapan saja; termasuk cinta yang salah. Entah apa dan bagian mana yang salah. Aku hanya merasa kesalahanku adalah membiarkannya tumbuh dan yakin aku bisa mengontrolnya dalam genggaman otak dan selangkangan. Namun teori selalu lebih mudah dari prakteknya. Dan kembali tak bisa menyalahkan waktu, kamu atau aku, affair yang sengaja disuguhkan untuk singgah dalam takdir ketika irisan takdirku yang lain belum terselesaikan.
Sebuah cerita yang sanggup menyebabkan kemerosotan hubungan dengan perempuan yang sedang mengisi hati saya kala itu. Ya, saya harus mengakui affair itu sedemikian hebatnya memang. Entahlah, yang pasti otak saya dibuat lumpuh tak berlogika. Kalau boleh dibilang ini gila!
Dan lebih gilanya, sepanjang perjalanan waktu ketika logika saya terus menerus menghujat dan mengkomparasi, "dimana letak istimewanya perempuan itu? Bahkan secuil inspirasi pun tak bisa kau persembahkan di ruang dunia maya ini? Beda sepanjang bulan lalu, puitis kata, prosa hati, kau bisa dengan begitu mudah!" Otak terang-terangan menghujat hati.
Dan sampai kini hati tak memberi jawab. Hati hanya bisa terpekur pasrah ketika otak lah yang kemudian mendetilkan arti perempuan itu kini. Akhirnya, ia memberiku inspirasi, tepat disaat hati sudah merasa terlampau letih.
Tapi tak mau menyalahkan waktu, meski jika mampu memutar ulang waktu aku memilih untuk tak punya kisah ini dalam hidupku.
Sebuah affair; yang bahkan logikaku tak pernah terfikir akan mendapatinya dalam perjalanan hatiku. Orang bilang cinta bisa datang kapan saja; termasuk cinta yang salah. Entah apa dan bagian mana yang salah. Aku hanya merasa kesalahanku adalah membiarkannya tumbuh dan yakin aku bisa mengontrolnya dalam genggaman otak dan selangkangan. Namun teori selalu lebih mudah dari prakteknya. Dan kembali tak bisa menyalahkan waktu, kamu atau aku, affair yang sengaja disuguhkan untuk singgah dalam takdir ketika irisan takdirku yang lain belum terselesaikan.
Saturday, September 24, 2011
Rindu yang belum Terbunuh
Algojo tak Bertaji
Rinduku berdarah malam ini.
Aku menyembelihnya agar tak lagi merusak organ lainnya.
Ya, hati sudah kubantai agar tak lagi menafaskan namamu di setiap denyut jantungku.
Susah payah, serupa nafas aku membunuh dirimu yang hidup di hatiku.
Belum lagi mata yang selalu tertuju pada layar,
mengharap setiap dering adalah namamu.
Paling parah adalah ingatanku,
sudah kubuat linglung
tetap saja ia sempoyongan mengais remahan memori untuk ia satukan ulang.
Seluruh organ tubuhku menjadi pembangkang meski aku menghunusinya satu persatu.
Perih dimana-mana.
Hatiku yang menganga tersembelih.
Otak yang tercecer tetapi tetap berkedut menuliskan namamu.
Jemari yang tak henti menarikan kata untukmu.
Mulut yang tak mau pergi melafaskan namamu diantara umpatan asu.
Lagu-lagu yang berseliweran di kupingku.
Membunuhmu dengan caraku mencintamu!
Prosa hatiku itu niatan awalnya adalah akan kuhias di ruang hati dunia maya ini. Tetapi jaringan inet yang lelet menggerakkan jemariku untuk mengirimkannya pada ia, separuh hatiku yang kutuju.
Hanya butuh tak sampai lima menit melafalkan hati dan otak. Sinkronisasi jemari akan rasa yang bergolak seharian dan semalaman, waktu itu.
Dan kini kubaca ulang tulisan hatiku itu. Masih tetap tulisan hati senada denyut jantung dan detak otakku kini. Ya, aku mengakuinya, tak akan semudah membalik tangan untuk membunuh rasa yang bercokol mengakar serupa aku bernafas tiap hentakan waktu.
Wahai perempuan berkerudung yang mengkerudungi hatiku... Rindu ini belum terbunuh! Aku hanya sedang bertahan di koridorku. Cintaku bukan tuk sakitimu. Sayangku bukan tuk ganggu kenyamananmu. Aku hanya ingin menjadi aku yang punya cinta dan sayang untukmu... Selebihnya, tersiksa pun, biar itu tunggal menjadi rasaku selama kau merasa nyaman tanpaku...
Aku menemukan irisan hatiku atas dialog kita yang pernah tercipta. Aku merajut senyuman meski di seberang sana kau hanya berwujud suara tak berupa. Waktu berotasi dengan begitu cepatnya di tiap malam-malamku yang berisi tarian kata-katamu. Dan semua hal terindah yang tak bisa kupenakan tentangmu... Namun ketika sepenuhnya hanya menjadi rasaku, aku tetap bersyukur bisa berdansa dengan waktu... Sejati itu bukan hanya di bibirku, hanya rasa yang aku tak cukup pandai untuk mempertontonkan padamu...
Hatiku tak memilihmu diantara ratusan cahaya yang mengelilingiku, tapi kau satu-satunya cahaya yang berpendar menyelubungi hingga palung terdalamku. Kalau ada yang hendak meniup mati pendarnya, aku hanya ingin kau yang melakukannya...
Friday, September 23, 2011
Kontradiksi
Mengalah bukan berarti kalah...
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Sing a Song
Selalu tampak indah awalnya.... Berakhir bencana...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Be Positive
Jangan lagi melewatkan kesempatan hanya karena sibuk akan hal-hal yang tak mutual. Bukan saja tak bermanfaat, tetapi mutual knowledge karena terlalu dibutakan satu arah, mutual time coz too much wasting time and I deserve to be blaming, mutual in every way...
Saya selalu percaya semua dimulai dari niat. Meski itu hanya hati dan Tuhanmu yang tau! Its enough 2 sleep, time to wake up this morning with another sunshine!
Bagi saya, wajar buta sementara karena dengan begitu akan belajar untuk ke depan selamanya.
Terpuaskan itu tak hanya karena sebuah rasa dalam hati. Pancaran itu bukan sinar karena dirundung kasih. Ya, menyeimbangkan!
3 bulan mamen, I have to prepare! On my feet, feet of my brain and feet of my heart!
Saya selalu percaya semua dimulai dari niat. Meski itu hanya hati dan Tuhanmu yang tau! Its enough 2 sleep, time to wake up this morning with another sunshine!
Bagi saya, wajar buta sementara karena dengan begitu akan belajar untuk ke depan selamanya.
Terpuaskan itu tak hanya karena sebuah rasa dalam hati. Pancaran itu bukan sinar karena dirundung kasih. Ya, menyeimbangkan!
3 bulan mamen, I have to prepare! On my feet, feet of my brain and feet of my heart!
Thursday, September 22, 2011
Interupsi!!!
Yup, otak berinterupsi besar-besaran malam ini. Seperti terbangun dan bergumam: "Kemana saja aku selama ini?", menilik ulang keberadaan saya di tempat itu, mengetahui esensinya, dan obrolan2 yang mengalir, pun kembali mendapat takaran otaknya.
Saya selalu terpesona dengan otaknya, bagaimana ia memetakan tiap detil isi pikirannya dalam satu demi satu ide dan alur pikir. Dan kemudian saya meninjau ulang: "Dimanakah saya? Kenapa saya selalu berkata tidak untuk diri saya? Kenapa selalu tersandung hal tidak penting tetapi mengganggu the whole process disaat semua ingin saya lakukan?"
Tidak akan menyalahkan, interupsi otak ini semoga tak hanya menjadi jingle saja ketika putaran waktu membalikkannya ke posisi nyaman tepat ketika aku harus move on, out of the boundaries.
She know I can do that, its just me, makanya saya dapat menangkap matanya ketika aku harus mengambil di saat yang tepat. Ya, ada yang berkobar kembali, disorientasi yang beranak pinak yang coba kau bantu untuk mematikannya di dalam diriku.
Hari ini adalah hari pertamaku setelah sekian lama tak memunculkan diri. Structural way of behave, hmm sedikit senyum ketika seorang teman tiba2 datang dan berseru tentang kita di depan banyak orang: "Kenapa tiap ada ini (saya), juga selalu ada ini (kamu)?". Pertanyaan yang kau klarifikasi dengan senyuman. Haha.
Ia tak mungkin diajak berbagi pola tentang how to, she just want me to be me and trust me that I can. Just support me from the inside!
Teringat perbincangan dengan soulmate via telepon sekitar dua hari lalu sebelum melajukan kaki bersama kamu untuk berkumpul dengan teman2 malam itu. Cukup bersama-sama menciptakan sesuatu, belajar ilmu ikhlas meski tak bersepakat dengannya dikarenakan masalah faktor umur. Ikhlas itu basic yang bahkan saya belum bisa melakoni secuil pun.
Seperti perempuan mabuk memang, tetapi interupsimu dan interupsi besar2an otakku semoga sanggup membantu diri saya sendiri dengan tidak beralasan atas nama orang lain.
Saya selalu terpesona dengan otaknya, bagaimana ia memetakan tiap detil isi pikirannya dalam satu demi satu ide dan alur pikir. Dan kemudian saya meninjau ulang: "Dimanakah saya? Kenapa saya selalu berkata tidak untuk diri saya? Kenapa selalu tersandung hal tidak penting tetapi mengganggu the whole process disaat semua ingin saya lakukan?"
Tidak akan menyalahkan, interupsi otak ini semoga tak hanya menjadi jingle saja ketika putaran waktu membalikkannya ke posisi nyaman tepat ketika aku harus move on, out of the boundaries.
She know I can do that, its just me, makanya saya dapat menangkap matanya ketika aku harus mengambil di saat yang tepat. Ya, ada yang berkobar kembali, disorientasi yang beranak pinak yang coba kau bantu untuk mematikannya di dalam diriku.
Hari ini adalah hari pertamaku setelah sekian lama tak memunculkan diri. Structural way of behave, hmm sedikit senyum ketika seorang teman tiba2 datang dan berseru tentang kita di depan banyak orang: "Kenapa tiap ada ini (saya), juga selalu ada ini (kamu)?". Pertanyaan yang kau klarifikasi dengan senyuman. Haha.
Ia tak mungkin diajak berbagi pola tentang how to, she just want me to be me and trust me that I can. Just support me from the inside!
Teringat perbincangan dengan soulmate via telepon sekitar dua hari lalu sebelum melajukan kaki bersama kamu untuk berkumpul dengan teman2 malam itu. Cukup bersama-sama menciptakan sesuatu, belajar ilmu ikhlas meski tak bersepakat dengannya dikarenakan masalah faktor umur. Ikhlas itu basic yang bahkan saya belum bisa melakoni secuil pun.
Seperti perempuan mabuk memang, tetapi interupsimu dan interupsi besar2an otakku semoga sanggup membantu diri saya sendiri dengan tidak beralasan atas nama orang lain.
Monday, September 19, 2011
Mengkotakkan Rasa Sayang
Perempuan itu sedang kontradiktif. Dulu, di awal2, ketika aku belum bisa mengontrol batasan2 ego, amarah dan penuntutan2ku terhadapnya ia berujar cinta itu bukan kedaulatan ego, karena waktu itu ia bilang beberapa kali egoku terlalu mendominasi. Tetapi ketika sudah "insaf" di hari Minggu lalu sudah bisa dengan enteng membawa perasaan sesuai lajurnya, ia mulai ribet dengan pesan pendek semalam apakah aku sudah mengakhiri perasaanku padanya usai pertemuan kami sesuai yang aku gaungkan ketika emosi2ku sedang tidak stabil, waktu itu.
Aku mengakui aku pernah berkata demikian, tapi itu jauh sebelum saya merasa tenang usai berbincang denganNya dan menguatkan serta mensupport hati saya untuk melogiskan batas hubungan saya dengannya kini. Ya, pembenahan besar2an itu yang saya lakukan! Selama ini aku mengakui sudah terlalu menjamah memaksa di koridornya, tetapi usai doa malam itu hati sudah bisa dengan ringan menjalani hari2 berikutnya rileks, tanpa cemburu, tanpa menuntut meski dengan tujuan yang masih sama, yakni jika ia memang beririsan takdir denganku aku memohon untuk dimudahkan.
Pertanyaannya semalam membuatku bertanya2 juga, setelah proses ketemu itu aku meyakini hubungan ini sudah dengan bisa santainya bergulir. Sudah tak ingin debat, adu argumen tak penting terhapus. Malahan kemajuan banget dengan intensnya frekuensi telepon, mendengarkan keluarganya bercengkrama, membocorkan suasana nikah kakaknya, mengetahui kalo ia ternyata bisa boso jowo alus dengan intonasi yang saya suka. Intinya, hal2 baru yang bagi saya kemajuan, meski ia menyaringkan tiap hari di telingaku tentang ospek menjadi kakak. Tak ada yang kumasalahkan, bagiku proses lebih berarti daripada pelabelan!
Dan kini ia bukan saja berada pada level pelabelan. Pesan pendeknya tentang pengakhiran perasaanku adalah bentuk pengkotakan untuk rasa sayang yang secara implisit ia tanyakan. Apa benar itu yang ia inginkan? Kembali aku bertanya2. Dan memang, aku sedikit terbawa emosi yang kemudian dibarengi penyadaran diri bahwa wilayah koridorku adalah tentang diriku sendiri, bukan tentangnya.
Mengkotakkan rasa sayang. Kalau kakak bentuk kotak begini dengan porsi begini, begitupun kalau kekasih. Hmm, aku tak akan terseret arus berpikirmu!
Aku memang tak seberapa fasih, aku sedang belajar, tertatih, untuk tetap pada tujuan awal aku padamu... Mengusahakan. Terserah kau membatasi dirimu dengan pengkotakan pikiran dan hati yang telah kau rasio sendiri. Bagiku rasa sayang hati tak bisa dikotakkan, ia hanya punya batas. Seperti yang kubilang padamu malam ini, aku sedang membuka rekening hatiku untukmu, bukan untuk membelimu, tapi menabung tiap kepingan transaksi memori hari yang saya lalui.
Mengusahakan. Sampai kau berkata ya atau tidak untuk hatiku. Atau sampai hatiku sudah terlalu bosan karna kau terlampau jual mahal padaku.
Tak akan berandai2, aku hanya menjalani proses hati ini dengan begitu teramat sederhana sesederhana bagaimana aku terpikat oleh otakmu. Otak yang ada di kepalamu, juga otak di hatimu.
Wednesday, September 14, 2011
Ketemu Ninja!
Buat saya pertemuan hari ini tak terencana... Aku masih ingat ketika perempuan itu mengatakan ikhwal tujuan kemana ia pergi. Entah memang ia sengaja atau tidak, ia lalu "menawari" untuk sekalian bertemu muka.
Menolak dengan alasan karena tak mau menjadi kambing congek diantara ia dan temannya, aku hafal dengan diriku sendiri yang bertabiat akan diam ditengah orang2 tak dikenal. Makanya tak ingin hal tsb terjadi, aku menyilahkannya bersilaturahmi dengan temannya itu saja.
Detik berganti sedemikian cepat, pun rencana. Soulmate sebelah mau nemenin. Pesan pendek cepat menyatakan ia di Malioboro. Melajukan motor bersama clue perempuan bermasker, menemukannya di tempat yang seperti ia bilang, depan halte busway benteng.
Aku sebenarnya kenal dengan temannya, hanya saja kalau tak salah di dua kali perjumpaan kami gak pernah ngobrol sesuatu yang berarti, just say hi. Perempuan itu tampak akrab dengan si teman. Malahan ia lebih banyak bicara dengannya, atau dengan soulmate ku ketimbang aku yang hanya dijutekinya.
Penghujung Maghrib tiba, si soulmate harus pulang karena seperti biasa jadwal apel jam 7. Sejak awal aku sudah berkeputusan kalo ia pulang, aku juga akan pulang, seperti yang kubilang di awal tadi, aku tak pandai melebur, meski secara tatap suara aku mengenal perempuan itu. Namun si soulmate wanti2, aku harus kembali kesana, mencoba untuk tidak menjadi diriku yang itu. Dan aku mencobanya...
Bertiga, dan tetap diam. Bukan congkak, hanya tak bisa memulai dan menyatu. Mereka akrab, pun si temannya juga ramah. Kecuali perempuan itu. Aku tau ia tak dari hati jutek, tapi disuguhi mata yang tiap kali mengarah padaku dengan pelototan kadang jengah juga. Menghabiskan waktu dengan hape, seperti tak mau bicara denganku, ya itu kamu!
Dan yang lebih parah adalah perempuan itu tak sedikit pun mau untuk membuka masker, alasannya: "Dulu kau pernah bilang, ingin bertemu denganku hanya ingin lihat gerakan mata dan gestur tubuhku aja, bukan?"
Hmm, ya benar, aku memang pernah berucap demikian, tetapi ketika kalimat itu diartikan secara detonatif, bukan konotatif, siapa disini yang sebenarnya kurang kerjaan? Bahkan sampai si masker aku "perkosa" pun ia memilih tetap memakainya. Aku nggak kepengen liat wajahmu kok, cuma yang lumrah aja masak ketemu masker ga mau dilepas, batinku. Ya, aku anggap aja hari ini ketemu Ninja. Persis, wong cuma liat matanya aja gerak kiri kanan melotot dan memicing tertawa disaat bersamaan.
Hanya sekitar setengah jam saja dari perjalanan waktu sepanjang sore hingga setengah 9 malam kami diberi waktu berdua. Itu ketika temannya naik busway. Menyemai setengah jam di kursi panjang belakang halte, aku tak menyebutnya bercengkrama. Entah apa namanya, aku hanya merasa hatiku bahagia di dekatnya, meski secara lisan tak mendapat perlakuan yang sama. Ia hanya menyuguhiku mata, tetapi ketika mata itu kunikmati dengan mataku ia memilih menghindar membuang suguhannya.
Adek, aku tau hatimu meski lisanmu pedas sekali padaku!
Monday, September 12, 2011
First Move
4 hal menarik menyusuri jalan2 kecil ya belum pernah kulewati pagi ini adalah:
1. Membalas senyum ibu2 penghuni 200 meter dari kost yg sedang menyapu dan menyapa: "Lari2, Mas!"
2. Anak perempuan yang mengajak bermain anjing cokelat peliharaannya.
3. Kucing kecil hitam yang nyangkut di Kali Mambu.
4. Dua ibu2 yang memelototi kepala botak dan dadaku bergantian, dengan pandangan absurd. Haha aku ngikik dalam hati sih.
Hmm, first move... Besok pagi semoga tak malas menyambangi Mandala Krida.
Get well soon, Heart! :)
Mengunci rapat,
Tuhan yang tau kucinta kau...
*Karena Kucinta Kau
Sunday, September 11, 2011
Bukan Saya Saja!
Minggu ini banyak bercerita, juga airmata. Cerita tentang derai tawa yang ternyata menyimpan sejuta makna, serta derai airmata, dan terutama bukan saya saja! Bukan sedang mencari teman galau, tapi kok bisa kompakan gini ama soulmate.
Sepagi-siangan penuh cerita canda. Dan ternyata bibir yang saling merekah hanya topeng ketika dalam keramaian sama-sama berada di suatu tempat lain dan memikirkan orang lain, bukan barang2 yang disuguhkan di etalase bering harjo dan seputaran malioboro yang sedang kami geluti mengantar satu teman kost lain yang katanya mau beli souvenir.
Hatiku sih sudah tak enak sejak paginya. Ada sesak yang tertahan. Sesak yang kemudian tumpah usai kumandang Maghrib. Berbincang denganNya, merasakan Ia seolah tepat di depanku melihatku meregenerasikan buliran air yang lama tak keluar dari mataku. Ya, berbincang denganNya selalu membuahkan ketenangan, kelegaan dan semangat baru tentang hidup yang kuhidupi dan dihidupkanNya.
Dan soulmate pun dilanda galau yang sama. "Bisa minta tolong?". Begitu tanyanya via sms padahal kamar kami hanya terjeda satu pintu penyekat. Aku maklum ia mungkin tak ingin mengganggu usai pesan pendek yang kukirim sebelum Maghrib.
"Mau minta tolong apa?"
Dan ia bercerita tanpa berani menatap mataku.
"Ya udah, sini aku anterin..."
"Nggak papa kan? Aku udah bilang kamu sedang nggak bisa dimintain tolong, tapi.."
"Nggak papa aku anterin kesana kalo memang itu bikin dia lega,"
Perempuan itu mungkin setengah nggak percaya recovery ku secepat ini.
Kembali ke kamar, urung bikin mie, mengambil jaket dan menunggunya diluar. Sekalian beli obat aja nanti, pikirku. Sebuah motor datang, ternyata laki-laki yang akan kami samperin.
"Mau keluar ya, kemana?" tanyanya ketika aku bergerak mematikan motor.
"Ke tempatmu! Katanya dirimu nggak bisa kesini,"
Terlanjur nyalain motor aku pergi aja sekalian beli obat meninggalkan sejoli ini.
Sekembalinya, si soulmate menghadang motorku sembari berlinang airmata. "Berhenti dulu, ada yang nggak percaya kalo kita tadi mau keluar nemuin dia. Kamu ceritain!"
Setengah melongo juga, pasalnya meski aku tau perjalanan cintanya dengan lelaki ini dari awal hingga sekarang -meski hanya berdasar tuturan versi si soulmate saja- tapi nggak sekalipun aku tatap muka langsung dengan si lelaki, apalagi ngobrol. Sekedar tau saja, dari beberapa lelakinya sejak dulu, hanya aku yg ga pernah tau bgm bentuk wajah mereka, hanya ceritanya saja, padahal mbak PRT kost itu mpe hapal dan bisa bandingin mana yang lebih cakep diantara pacar2 si soulmate. Emang sih dari dulu aku nggak pernah mau ikut campur, padahal si soulmate ini tau semua wajah2 perempuan dalam hidupku hehehe. Mpe lucunya pas jalan di Malioboro kemarin ketika ia menunjuk sebuah baju dan aku berkomentar: "Ih, kayak si A banget!", si soulmate ini langsung bilang: "A yang mana?". Aku terkekeh, "Kamu tuh tiap aku sebut nama perempuan langsung kayak ada detektor di otak yang mendeteksi, ow si A, itu orangnya yang begini begini begini. Hafal ya kamu!"
Kembali ke topik hadang menghadang, ya meski diri sendiri lagi galau, pikirku bantu nyelesein masalah orang lain semoga juga membantu nyelesein masalahku.
Mencoba menjelaskan ketakpercayaan lelaki itu atas alasan si soulmate yang bilang aku sedang tak bisa dimintain tolong, tapi kok kelihatannya aku baik2 saja. Ya, dari luar secara fisik siapapun tak akan bisa percaya kalau sejam lalu aku menggigil ketika berbincang denganNya. Aku tau bahkan si soulmate pun takjub aku bisa seenteng ini, menyungging senyuman, masuk dalam konflik ia dengan lelaki itu seraya memberi saran2 obyektif tentang relasi mereka bagaimana baiknya.
"Sudahlah, capek berantem tiap hari itu, aku sudah mengalami sendiri soal itu. Secara pola pikir, aku ama Masnya dari cerita yg selama ini ia curhatkan mungkin sama dengan pola pikirku, tapi balik lagi di tujuan awal kalian berelasi apa, kalo ingin dibawa baik maka gak ada sesuatu hal pun yg ga bisa diselesaikan dengan komunikasi tanpa emosi."
Aku meninggalkan keduanya. "Makasih ya," ucap si soulmate masih berurai airmata.
Pintu gerbang sudah dikunci, si soulmate belum balik. "Belum pulang?" Pesan pendek yang kukirim tak berbalas. Sejam berikutnya ia datang.
"Aku baru muter2 sendirian!" ujarnya.
"Kok nggak ngajak aku?"
"Ya, takut nek kamu gak mau!"
"Halah, tau gitu tadi nongkrong dulu!"
"Iya, tadi mikirnya gitu, ngopi dulu dimana gitu sambil crita2. Tapi aku gak enak. Jadi ya muter2 sendiri!"
"Gimana ceritanya tadi?"tanyaku soal lelakinya.
Dan si soulmate bercerita adegan sinetron selanjutnya. Dan tak ada lagi airmata di matanya...
"Aku sudah luweh luweh (ga ambil pusing), malah tadi aku mbatin kok dia ga minta putus ya, dah ga mau mikir lagi, capek hati!" terangnya.
Sama kayak yang kubilang dulu padanya, waktu itu ia termehek-mehek berantem hampir tiap hari untuk hal2 sepele, ia dan lelakinya harus meninjau ulang relasinya akan dibawa kemana. Waktu itu si soulmate merasa ia selalu salah dan disalahkan, merasa harus minta maaf dan memperbaiki relasi. Tangisnya hampir tiap hari tumpah.
"Nikmatilah airmatamu sekarang. Kalau kalian nggak berniat meninjau ulang tujuan berelasi kalian maka ketika airmatamu sudah tak lagi terasa sakit, maka saat itu kau sudah mati rasa" ujarku dulu.
Dan benar begitu sekarang adanya. Aku tak sedang menyukurkan kondisinya, hanya merasa kontradiktif tawa sehari dengan berantem2 yang tak terselesaikan dan terungkit di lain hari. Hmm, aku tak berhak di wilayah tsb, hanya sebatas saranku pada si soulmate yang katanya sudah ga mau ambil pusing lagi dan aku menghormati pilihan keputusannya.
"Lalu bagaimana ceritamu dengannya?" tanya si soulmate padaku.
Aku tersenyum. Jempolku masih belum berhenti beradu kata dengan perempuan yang dimaksud si soulmate. "Kalian sih jelas ya bentuk relasinya pacaran, wajar berantem, nah kalo aku ama dia pacaran aja nggak, kenal belum lama, tapi berantemnya kayak udah nikah punya anak satu aja!"
Buliran air serupa fungsi peluh, lelah. Perempuan itu masuk dalam daftar nama yang dicatat oleh Tuhan untuk garis hidupku. Dan Tuhan belum memberiku contekan apakah ia benar ada dalam irisan takdirku. Ketika berbincang denganNya aku selalu meminta jikalau ada irisan takdir agar dipermudah selama membawa kebaikan untuk keduanya.
Plong! Tak pernah ada sesal, apalagi benci. Aku meyakini proses ini belum berakhir, terutama proses hidup dengan tujuan tunggal perempuan setengah baya, kekasih hatiku satu-satunya, ia yang selalu menengadahkan tangan untuk restui hidupku sampai detik ini.
Galau Minggu bukan milik saya saja, bukan bermaksud cari teman, hanya satu dari sekian teguran, that's life!
Get well soon, heart...
*Sebab perasaanku tlah mati untuk menyadarinya...
Sepagi-siangan penuh cerita canda. Dan ternyata bibir yang saling merekah hanya topeng ketika dalam keramaian sama-sama berada di suatu tempat lain dan memikirkan orang lain, bukan barang2 yang disuguhkan di etalase bering harjo dan seputaran malioboro yang sedang kami geluti mengantar satu teman kost lain yang katanya mau beli souvenir.
Hatiku sih sudah tak enak sejak paginya. Ada sesak yang tertahan. Sesak yang kemudian tumpah usai kumandang Maghrib. Berbincang denganNya, merasakan Ia seolah tepat di depanku melihatku meregenerasikan buliran air yang lama tak keluar dari mataku. Ya, berbincang denganNya selalu membuahkan ketenangan, kelegaan dan semangat baru tentang hidup yang kuhidupi dan dihidupkanNya.
Dan soulmate pun dilanda galau yang sama. "Bisa minta tolong?". Begitu tanyanya via sms padahal kamar kami hanya terjeda satu pintu penyekat. Aku maklum ia mungkin tak ingin mengganggu usai pesan pendek yang kukirim sebelum Maghrib.
"Mau minta tolong apa?"
Dan ia bercerita tanpa berani menatap mataku.
"Ya udah, sini aku anterin..."
"Nggak papa kan? Aku udah bilang kamu sedang nggak bisa dimintain tolong, tapi.."
"Nggak papa aku anterin kesana kalo memang itu bikin dia lega,"
Perempuan itu mungkin setengah nggak percaya recovery ku secepat ini.
Kembali ke kamar, urung bikin mie, mengambil jaket dan menunggunya diluar. Sekalian beli obat aja nanti, pikirku. Sebuah motor datang, ternyata laki-laki yang akan kami samperin.
"Mau keluar ya, kemana?" tanyanya ketika aku bergerak mematikan motor.
"Ke tempatmu! Katanya dirimu nggak bisa kesini,"
Terlanjur nyalain motor aku pergi aja sekalian beli obat meninggalkan sejoli ini.
Sekembalinya, si soulmate menghadang motorku sembari berlinang airmata. "Berhenti dulu, ada yang nggak percaya kalo kita tadi mau keluar nemuin dia. Kamu ceritain!"
Setengah melongo juga, pasalnya meski aku tau perjalanan cintanya dengan lelaki ini dari awal hingga sekarang -meski hanya berdasar tuturan versi si soulmate saja- tapi nggak sekalipun aku tatap muka langsung dengan si lelaki, apalagi ngobrol. Sekedar tau saja, dari beberapa lelakinya sejak dulu, hanya aku yg ga pernah tau bgm bentuk wajah mereka, hanya ceritanya saja, padahal mbak PRT kost itu mpe hapal dan bisa bandingin mana yang lebih cakep diantara pacar2 si soulmate. Emang sih dari dulu aku nggak pernah mau ikut campur, padahal si soulmate ini tau semua wajah2 perempuan dalam hidupku hehehe. Mpe lucunya pas jalan di Malioboro kemarin ketika ia menunjuk sebuah baju dan aku berkomentar: "Ih, kayak si A banget!", si soulmate ini langsung bilang: "A yang mana?". Aku terkekeh, "Kamu tuh tiap aku sebut nama perempuan langsung kayak ada detektor di otak yang mendeteksi, ow si A, itu orangnya yang begini begini begini. Hafal ya kamu!"
Kembali ke topik hadang menghadang, ya meski diri sendiri lagi galau, pikirku bantu nyelesein masalah orang lain semoga juga membantu nyelesein masalahku.
Mencoba menjelaskan ketakpercayaan lelaki itu atas alasan si soulmate yang bilang aku sedang tak bisa dimintain tolong, tapi kok kelihatannya aku baik2 saja. Ya, dari luar secara fisik siapapun tak akan bisa percaya kalau sejam lalu aku menggigil ketika berbincang denganNya. Aku tau bahkan si soulmate pun takjub aku bisa seenteng ini, menyungging senyuman, masuk dalam konflik ia dengan lelaki itu seraya memberi saran2 obyektif tentang relasi mereka bagaimana baiknya.
"Sudahlah, capek berantem tiap hari itu, aku sudah mengalami sendiri soal itu. Secara pola pikir, aku ama Masnya dari cerita yg selama ini ia curhatkan mungkin sama dengan pola pikirku, tapi balik lagi di tujuan awal kalian berelasi apa, kalo ingin dibawa baik maka gak ada sesuatu hal pun yg ga bisa diselesaikan dengan komunikasi tanpa emosi."
Aku meninggalkan keduanya. "Makasih ya," ucap si soulmate masih berurai airmata.
Pintu gerbang sudah dikunci, si soulmate belum balik. "Belum pulang?" Pesan pendek yang kukirim tak berbalas. Sejam berikutnya ia datang.
"Aku baru muter2 sendirian!" ujarnya.
"Kok nggak ngajak aku?"
"Ya, takut nek kamu gak mau!"
"Halah, tau gitu tadi nongkrong dulu!"
"Iya, tadi mikirnya gitu, ngopi dulu dimana gitu sambil crita2. Tapi aku gak enak. Jadi ya muter2 sendiri!"
"Gimana ceritanya tadi?"tanyaku soal lelakinya.
Dan si soulmate bercerita adegan sinetron selanjutnya. Dan tak ada lagi airmata di matanya...
"Aku sudah luweh luweh (ga ambil pusing), malah tadi aku mbatin kok dia ga minta putus ya, dah ga mau mikir lagi, capek hati!" terangnya.
Sama kayak yang kubilang dulu padanya, waktu itu ia termehek-mehek berantem hampir tiap hari untuk hal2 sepele, ia dan lelakinya harus meninjau ulang relasinya akan dibawa kemana. Waktu itu si soulmate merasa ia selalu salah dan disalahkan, merasa harus minta maaf dan memperbaiki relasi. Tangisnya hampir tiap hari tumpah.
"Nikmatilah airmatamu sekarang. Kalau kalian nggak berniat meninjau ulang tujuan berelasi kalian maka ketika airmatamu sudah tak lagi terasa sakit, maka saat itu kau sudah mati rasa" ujarku dulu.
Dan benar begitu sekarang adanya. Aku tak sedang menyukurkan kondisinya, hanya merasa kontradiktif tawa sehari dengan berantem2 yang tak terselesaikan dan terungkit di lain hari. Hmm, aku tak berhak di wilayah tsb, hanya sebatas saranku pada si soulmate yang katanya sudah ga mau ambil pusing lagi dan aku menghormati pilihan keputusannya.
"Lalu bagaimana ceritamu dengannya?" tanya si soulmate padaku.
Aku tersenyum. Jempolku masih belum berhenti beradu kata dengan perempuan yang dimaksud si soulmate. "Kalian sih jelas ya bentuk relasinya pacaran, wajar berantem, nah kalo aku ama dia pacaran aja nggak, kenal belum lama, tapi berantemnya kayak udah nikah punya anak satu aja!"
Buliran air serupa fungsi peluh, lelah. Perempuan itu masuk dalam daftar nama yang dicatat oleh Tuhan untuk garis hidupku. Dan Tuhan belum memberiku contekan apakah ia benar ada dalam irisan takdirku. Ketika berbincang denganNya aku selalu meminta jikalau ada irisan takdir agar dipermudah selama membawa kebaikan untuk keduanya.
Plong! Tak pernah ada sesal, apalagi benci. Aku meyakini proses ini belum berakhir, terutama proses hidup dengan tujuan tunggal perempuan setengah baya, kekasih hatiku satu-satunya, ia yang selalu menengadahkan tangan untuk restui hidupku sampai detik ini.
Galau Minggu bukan milik saya saja, bukan bermaksud cari teman, hanya satu dari sekian teguran, that's life!
Get well soon, heart...
*Sebab perasaanku tlah mati untuk menyadarinya...
Get Well Soon, Heart... (2)
Mati oleh yang kubuat sendiri...
Mati oleh yang kurasa sendiri...
Mati oleh yang tak termulai...
Mati oleh yang tak terakhiri...
Menggigil letih, untuk kesekian kali...
Semburat tawa itu pedih...
Get well soon, heart,....
Get Well Soon, Heart....
Akhirnya tumbang... Bukan hanya otak, tetapi hati...
Langit Jogja mengamini dengan meruntuhkan titik air langit yang tak keluar dari sungai hatiku... Bukan karena telah mengering, perih yang tak mengalir...
Get well soon, heart, sakitlah sekarang... Mungkin lebih baik daripada kau tau kau akan sakit kelak tapi kau tetap berusaha berpura-pura kau tak akan sakit...
Merelakan setiap kepingan, waktu dan kenangan... Hanya rupa, tanpa wujud nyata...
......
Saya senang,
Sepertinya untuk pertama kalinya,
Eksplisit-as Anda terurai alami subuh ini...
Terima kasih, LarasHati.
Sepertinya untuk pertama kalinya,
Eksplisit-as Anda terurai alami subuh ini...
Terima kasih, LarasHati.
Friday, September 9, 2011
Love Is...
Untuk kesekian kalinya aku menonton film Korea tahun 2001 ini, nggak ada bosen2nya. Film ini yang ngajarin untukku selalu belajar dan terus belajar tulus.
Love Is...
Melepaskannya pergi ketika ia bukan untukmu. Sekuat apapun tanganmu mencengkeram, mencoba menggenggamnya, ketika ia memilih untuk lepas maka ia akan menyelusup dari sela jemari.
Love Is...
Aku belum fasih merapal cinta. Masih terlalu banyak yang harus kukalahkan dalam diri untuk menjadi tulus tanpa logika ketika melakukan sesuatu untuk orang yang kau sayang. Gengsi itu masih sering membunuhku. Aku tak ingin terlihat bodoh padahal aku melakukan hal-hal bodoh.
Jika sadar ia bukan untukku, aku sedang belajar mengiring harinya tanpa meminta secelah pun untuknya mengiring hari, terlebih hatiku...
Love Is...
Melepaskannya pergi ketika ia bukan untukmu. Sekuat apapun tanganmu mencengkeram, mencoba menggenggamnya, ketika ia memilih untuk lepas maka ia akan menyelusup dari sela jemari.
Love Is...
Aku belum fasih merapal cinta. Masih terlalu banyak yang harus kukalahkan dalam diri untuk menjadi tulus tanpa logika ketika melakukan sesuatu untuk orang yang kau sayang. Gengsi itu masih sering membunuhku. Aku tak ingin terlihat bodoh padahal aku melakukan hal-hal bodoh.
Jika sadar ia bukan untukku, aku sedang belajar mengiring harinya tanpa meminta secelah pun untuknya mengiring hari, terlebih hatiku...
Thursday, September 8, 2011
Kita... Unik!
Aku menyebutnya unik, bagaimana tidak, kenal aja ga genap 50 hari, pacaran juga nggak, tapi berantemnya kayak udah berumahtangga dua tahun.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Wednesday, September 7, 2011
BATAS
Kata orang, mencinta itu tak mengenal batas. Kalau ada batas berarti perasaan itu tak setulus yang mungkin pernah diikrar lisan. Tapi bagiku, mungkin hati memang tak berbatas, tapi kemudian logika membangunnya. Bukan ego, tetapi logika! Kalau hati bolehlah bak kerbau dicucuk hidungnya akan ikut apa kata hati, tapi ketika rasa itu terhenti, bukan hati yang mati tapi logika yang sedikit demi sedikit memupuk perih agar tak lagi terasa pedih.
Batas. Logika yang mencipta batas. Sekali lagi bukan ego! Kalau ego, kau tak mau hati direndahkan, tapi kalau logika adalah ketika semua telah sampai pada ambang batas saat semua upaya telah diusahakan. Bukan menyerah, batas adalah titik terakhir tapi tak menyerah apalagi kalah. Batas adalah ketika dengan legawa melepaskan disaat dirasa telah waktunya.
I believe everything and everyone has a limit. Bukan karena ego, apalagi menyerah tapi saat dimana aku tahu waktuku tuk memahamimu sudah lebih dari sekedar cukup. Berelasi dalam bentuk apapun adalah tentang menyerap dan menyepahamkan dua yang tak sama apalagi memaksakan salah satu mengikuti alur pikir lainnya. Tak ada mutlak benar, pasti betul dan maha tidak salah, relasi dua isi kepala hanya berisi pemahaman.
Batas. Logika yang mencipta batas. Sekali lagi bukan ego! Kalau ego, kau tak mau hati direndahkan, tapi kalau logika adalah ketika semua telah sampai pada ambang batas saat semua upaya telah diusahakan. Bukan menyerah, batas adalah titik terakhir tapi tak menyerah apalagi kalah. Batas adalah ketika dengan legawa melepaskan disaat dirasa telah waktunya.
I believe everything and everyone has a limit. Bukan karena ego, apalagi menyerah tapi saat dimana aku tahu waktuku tuk memahamimu sudah lebih dari sekedar cukup. Berelasi dalam bentuk apapun adalah tentang menyerap dan menyepahamkan dua yang tak sama apalagi memaksakan salah satu mengikuti alur pikir lainnya. Tak ada mutlak benar, pasti betul dan maha tidak salah, relasi dua isi kepala hanya berisi pemahaman.
Friday, August 26, 2011
Merampungkan Cerita Hati
Sepanjang 2011, kalau diitung itung lebih dari 7 perempuan bersinggungan takdir dengan hati saya dan percaya atau tidak, selalu mempunyai ending yang sama...
Soulmate sebelah kamar adalah perempuan paling rajin yang hafal betul nama dan cerita cintaku, pun seorang sohib yang kini menetap di Jakarta. Dulu aku jatuh hati pada perempuan ini tapi kini kami bersaudara, kisah hati masing2 kami telah saling membagi. Dan kedua orang inilah yang mungkin cukup jengah dengan cerita hatiku, bukan pada banyaknya hatiku tertambat tapi penyelesaian yang tak pernah rampung!
Aku juga tak muna, di mata mereka aku memang terkenal menclak menclok, tapi sekali lagi aku tak mendefinisikannya sebagai player. Kata mereka aku hanya tak mempunyai kemampuan merampungkan cerita hati! Alur tetapnya adalah, aku jatuh hati, kemudian berhenti tengah jalan dan tak rampung, lalu memulai relasi baru dengan tidak nyelesain relasi lama.
Teringat beberapa hari lalu, si sohib sampai mencontohkan relasi hatiku dengan dirinya.
"Kau ingat saja dulu bagaimana kau naksir aku, belum selesai, ketika membentur sesuatu, kau mulai lagi naksir orang lain tapi tidak nyelesain yang sebelumnya!" ujarnya bukan yang pertama kali. "Masalahnya hanya kau tak pernah bisa nyelesain!"
Aku mengamini!
"Coba deh mulai sekarang jangan lagi begitu, selesaikan sampai perasaanmu benar-benar selesai baru mulailah relasi baru. Paling tidak kau tau, relasimu itu benar2 berakhir sudah tak bisa dilanjutkan lagi, jangan berhenti tengah jalan lalu mulai dengan cerita baru lagi! Kapan mau bener2 dapat kekasih kalau gitu caranya?" Meski terkekeh ia lumayan sewot. "Coba kuingat, dari mulai cerita ababil anak SMA itu sampai emak2, mana yg bisa kau selesaikan? Gak ada!"
Ya ya ya semua tak ada endingnya! Belum selesai anak SMA, ada si mata kucing, lalu bule satu hari, anak SMA yang suka curi2, hingga "emak2" yang Selasa lalu "kencan" aneh denganku sampai emak2 yang sehari berikutnya membebaskan pikiranku. Belum lagi sekitar empat cerita hati pendek tak nampak selama 3 kali aku ditugaskan ke Jakarta dalam tahun ini.
Untuk "kencan" aneh di bukber Selasa kemarin, aku baru tau perempuan putih semampai itu sudah tak lagi dalam relasi tetapi didekati orang yang katanya akan diakhiri. Lucunya, ini kali kedua kami makan bareng, tapi baru pertama berbagi hati. Meski kerap bercengkrama di hari-hari kerja dunia maya, kami tak pernah bahas hal serius.
"Aku hanya berbagi denganmu," tegasnya.
"Aku juga, orang diluar kantor dan diluar kost."
Cerita hati alur berbeda dengan benang merah sama; ending harus diakhiri.
Malamnya, ia mengirimiku pesan singkat bahwa ia membuatkan status untukku di status fb nya tanpa menjelaskan eksplisit itu ditujukan padaku. Saya mengerti alasannya! Kami hampir tiap hari berbalas komen, dan kini mulai berani pajang foto. Sama spt si emak satunya. Ah, lagi2 belum rampung semua!
Ya ya ya untuk kali ini aku akan memulai coba merampungkannya. Kini sudah terbentur tapi belum mentok, ketika mentok, aku akan menutup cerita hatiku denganmu sebelum memulai yang baru!
Tapi pertanyaan yang masih mengganjal saya, pentingkah merampungkan relasi? Kalau ditilik ulang, memang perasaanku pada mereka jadinya biasa aja, kcuali tiga terupdate dan dua yang tak tampak mata hehe. Aku beranggapan cerita tak perlu kurampungkan, khususon pada perempuan pengusik hati ini aku akan merampungkannya sampai titik final, janji! Untuk yang lain2nya, aku hanya akan menjaga untuk tak terjadi konflik seperti dgn anak SMA itu yg meski sekarang sudah lebih enak relasinya.
Jadi, rampungin cerita, hanya untuk si Gajah saja!
Soulmate sebelah kamar adalah perempuan paling rajin yang hafal betul nama dan cerita cintaku, pun seorang sohib yang kini menetap di Jakarta. Dulu aku jatuh hati pada perempuan ini tapi kini kami bersaudara, kisah hati masing2 kami telah saling membagi. Dan kedua orang inilah yang mungkin cukup jengah dengan cerita hatiku, bukan pada banyaknya hatiku tertambat tapi penyelesaian yang tak pernah rampung!
Aku juga tak muna, di mata mereka aku memang terkenal menclak menclok, tapi sekali lagi aku tak mendefinisikannya sebagai player. Kata mereka aku hanya tak mempunyai kemampuan merampungkan cerita hati! Alur tetapnya adalah, aku jatuh hati, kemudian berhenti tengah jalan dan tak rampung, lalu memulai relasi baru dengan tidak nyelesain relasi lama.
Teringat beberapa hari lalu, si sohib sampai mencontohkan relasi hatiku dengan dirinya.
"Kau ingat saja dulu bagaimana kau naksir aku, belum selesai, ketika membentur sesuatu, kau mulai lagi naksir orang lain tapi tidak nyelesain yang sebelumnya!" ujarnya bukan yang pertama kali. "Masalahnya hanya kau tak pernah bisa nyelesain!"
Aku mengamini!
"Coba deh mulai sekarang jangan lagi begitu, selesaikan sampai perasaanmu benar-benar selesai baru mulailah relasi baru. Paling tidak kau tau, relasimu itu benar2 berakhir sudah tak bisa dilanjutkan lagi, jangan berhenti tengah jalan lalu mulai dengan cerita baru lagi! Kapan mau bener2 dapat kekasih kalau gitu caranya?" Meski terkekeh ia lumayan sewot. "Coba kuingat, dari mulai cerita ababil anak SMA itu sampai emak2, mana yg bisa kau selesaikan? Gak ada!"
Ya ya ya semua tak ada endingnya! Belum selesai anak SMA, ada si mata kucing, lalu bule satu hari, anak SMA yang suka curi2, hingga "emak2" yang Selasa lalu "kencan" aneh denganku sampai emak2 yang sehari berikutnya membebaskan pikiranku. Belum lagi sekitar empat cerita hati pendek tak nampak selama 3 kali aku ditugaskan ke Jakarta dalam tahun ini.
Untuk "kencan" aneh di bukber Selasa kemarin, aku baru tau perempuan putih semampai itu sudah tak lagi dalam relasi tetapi didekati orang yang katanya akan diakhiri. Lucunya, ini kali kedua kami makan bareng, tapi baru pertama berbagi hati. Meski kerap bercengkrama di hari-hari kerja dunia maya, kami tak pernah bahas hal serius.
"Aku hanya berbagi denganmu," tegasnya.
"Aku juga, orang diluar kantor dan diluar kost."
Cerita hati alur berbeda dengan benang merah sama; ending harus diakhiri.
Malamnya, ia mengirimiku pesan singkat bahwa ia membuatkan status untukku di status fb nya tanpa menjelaskan eksplisit itu ditujukan padaku. Saya mengerti alasannya! Kami hampir tiap hari berbalas komen, dan kini mulai berani pajang foto. Sama spt si emak satunya. Ah, lagi2 belum rampung semua!
Ya ya ya untuk kali ini aku akan memulai coba merampungkannya. Kini sudah terbentur tapi belum mentok, ketika mentok, aku akan menutup cerita hatiku denganmu sebelum memulai yang baru!
Tapi pertanyaan yang masih mengganjal saya, pentingkah merampungkan relasi? Kalau ditilik ulang, memang perasaanku pada mereka jadinya biasa aja, kcuali tiga terupdate dan dua yang tak tampak mata hehe. Aku beranggapan cerita tak perlu kurampungkan, khususon pada perempuan pengusik hati ini aku akan merampungkannya sampai titik final, janji! Untuk yang lain2nya, aku hanya akan menjaga untuk tak terjadi konflik seperti dgn anak SMA itu yg meski sekarang sudah lebih enak relasinya.
Jadi, rampungin cerita, hanya untuk si Gajah saja!
Obrolan Semalam
Obrolan semalam dengan Gajah! Ada titik terang hati akan dibawa kemana dalam koridor apa. Sudah cukup terwakili semua unek2 semalam. Dan bagaimana lantas aku akan mengambil sikap spt yang kukatakan subuh ini.
Gajah, aku mencernamu! Meski semalam ku gelontorkan semua isi pikiranku, ada koridor pemikiranku tentang karaktermu yang hanya akan jadi konsumsi pribadiku.
Dan suatu saat seiring waktu intuisiku tentangmu terbuktikan, bukan lagi akan tentang benar atau kah salah. Tetapi pembelajaran satu lagi karakter yang memperkayaku pemahaman karakter terhadap perempuan.
Thursday, August 25, 2011
Ketemu Anaknya Mantan
Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari mantanku. "Aku nanti mau ke Kota Gede, kalau kamu mau ketemu anakku datang aja aku mau belanja."
Pesan pendek yang menambah daftar penghilang kantukku meski sehabis subuh tak tidur bertemankan kantung penuh pesan pendek penghilang rindu bersama perempuan yang sedang asik mengusik hati itu. Ditambah hari ini emang agendanya adalah nganterin soulmate sebelah kamar ambil motor untuk pulang kampung.
Pesan pendek lagi muncul. Mereka sudah otw. Aku loncat dan mandi padahal masih malas2an juga, maklum pagi bo! Meski tetangga sebelah kamar sudah siap sedia berangkat.
Hal yang tercetus di otakku adalah apakah bocah itu masih akan ingat aku? Pasalnya, setahun lebih aku tak melihatnya lagi usai relasiku dengan ibunya berakhir. Meski aku dengan ibunya kadang bertemu, tapi dengan alasan tak mau si kecil nyeloteh ke bapaknya maka aku tak pernah dipertemukan dengan bocah pemanggilku Buyek ini. Ah, terakhir bertemu ia masih cadel, bgm ia kini? Itu yang bikin semangatku untuk segera bertemu.
Prosesnya ternyata tak mudah. Proses menemukan tempat yang dimaksud bgtu maksudnya. Aku belum hapal daerah tsb, yang ada aku muter2 dulu sebelum menemukan tempatnya. Kayaknya ada aja ya kalo menginginkan sesuatu...
Menyusuri ruang busana yang cukup besar, dimana ibu dan anak itu? Lalu kulihat mereka sedang asyik milih2 sendal. Bocah itu masih dengan potongan rambut yang sama, tapi wait a minute tubuhnya terlihat lebih cungkring hingga alur wajahnya sekarang kini lebih mirip ibunya.
"Kok jadi mirip kamu sekarang?" tanyaku. "Perasaan dulu mirip bapaknya deh!"
Perempuan itu diam aja. Tiap ketemu aku kayaknya aku bisa nangkep ada kegembiraan terselubung dalam pancaran matanya (kalau kamu baca ini, jangan muntah ya hehe). Dan satu lagi kebiasaan bibir si bocah pun mirip ibunya.
Aku ga pernah suka anak kecil, tetapi ketika dulu berelasi dengan ibu bocah ini, entah kenapa ada kedekatan diantara kami. Aku masih ingat dulu ketika kami bertiga menghabiskan waktu, bocah kecil ini selalu menengok ke belakang, memastikan aku membuntutnya. Begitu juga tadi, ketika sang ibu menuntunnya ke bagian etalase celana usai memilihkan sepatu yang diminatinya, ia menoleh ke belakang, apakah aku mengekornya atau tidak.
Bocah perempuan itu tetap pemalu seperti dulu. Ia hanya bicara dengan ibunya. Kalau kuajak bicara ia tak berani menatapku, menjawabku dengan menoleh ibunya.
Perjumpaan yang singkat memang, tapi bagiku melegakan. Dulu aku sampai termimpi untuk bertemu bocah itu. Dan yang tanpa diduga, aku bertemu teman kantor disana. Hmm, pasti ada gosip seusai liburan nanti. Pasalnya, orang2 kantor tau betul relasiku dengan ibu bocah itu. Bahkan di beberapa kesempatan seorang teman kantor yang juga baru melahirkan dan sedang menyusui meledek habis2an soal bgm perilaku seksualku ketika berelasi dengan perempuan yang sedang menyusui!
Hmm, menanti gosip berputar di kantor, tapi aku bersyukur bertemu bocah perempuan itu setelah sekian lama, dan ibu si bocah.. Ia nitip salam pada ibuku yang pastinya juga akan menanyakannya. Maklum ibuku mengira dulu ketika aku berelasi dengannya, yang ada di pikiran ibu adalah dia seorang lelaki dan akan menikahiku kelak. Andai ibu tahu... Hehe.
Wednesday, August 24, 2011
Membebaskan Pikiran
"Dah kemaleman nih," Begitu alasan yang kuketikkan dalam pesan pendek pada perempuan yang sudah janjian ngajak ketemuan dari jaman sekitar dua mingguan lalu itu sembari melihat jarum jam menunjuk pertengahan antara angka 7 dan 8.
"Ya udah, ketemu taun depan aja!" Balas perempuan itu singkat tapi menohok ketus.
Alasanku yang agak mengada-ada memang setelah sebelumnya aku berujar di telepon bahwa suasana hatiku sedang tak enak dan takut menjadi partner bicara yang kurang menyenangkan.
"Nanti kalau aku jadi teman bicara yang buruk, aku disuruh pulang saja ya," pintaku yang diiyakan perempuan ini sambil ngekek.
Jadilah kemudian aku melajukan motor ke rumahnya. Yah, dengan sisanya benak untuk perempuan lain. Feelingku mengatakan ketemuan dengan perempuan ini takut menambah ketidakenakanku, maklum ketika otakku sibuk, hal lain takkan masuk pikiran. Ditambah aku hapal model karakter perempuan ini yang bukan orang yang tepat untuk diajak bicara urusan hati model beginian.
Tapi karena ini record baru buat kami, hampir sebulan ga ketemu dan menjeda komunikasi. Biasanya kalau tak telpon, hampir tak pernah luput bercengkrama di komen fb nyerempet atau bersetubuh astrologi di twitter. Katanya, kami harus ketemuan sebelum aku mudik. Gak biasanya juga sih beberapa hari belakangan ia tiba2 nelpon setelah janjian karaoke bareng yang terulur2 kandas terlaksana gara2 crash timing. Menurutnya, malam ini adalah time limit karena mengira aku mudik esoknya. Btw, ini si perempuan 3 Bulanan yang pernah kutuliskan sebelumnya itu lho!
Rumahnya sepi. Tak ada celoteh kwak kwik kwek yang mungkin sudah tidur. Hanya bertemu si ganteng adik perempuan ini yang lumayan ndagel. Benak ini masih gak karuan, tubuh dimana pikiran kemana. Dan uniknya, feeling saya tak seperti biasanya. Tau sendiri, saya memandang bentuk relasi feeling saya dengannya cukup unik. Materi bahasan yang sering cukup nyerempet, perilaku juga cukup nyerempet, ah mungkin dia suka berperilaku begitu, dan saya aja yang suka panas dingin dibuatnya karena tak mau menabrak koridor yang dibangun otak hatiku sendiri.
"Trus kita mau kemana?" tanyaku sembari menunggunya makan. Agak aneh juga kalau mau keluar kok nih orang malah makan
"Ke Semesta aja, men-cokelat!" Aku ngiyain meski gak tau tempatnya, maklum kuper.
Cafe yang lumayan padat pengunjung. Dan jadilah kami duduk di meja kecil untuk dua orang di sisi gemericik air dan dedaunan dengan bising bunyi pesawat terbang baru take off. Gak tau kenapa kok aku suka banget liat pesawat baru take off atau mau landing keliatan dekat dan besar menggaris di langit. But aniwei forget it!
"Pesan Cokelat Couple aja ya? Itu cokelat udah untuk dua orang." ujarnya. Dan spt biasa ia mengabsurdkan apa maksudnya kok pake Couple2an gini.
"Panas atau dingin tuh?" tanyaku.
"Panas!"
Hmm, aku bukan penyuka minuman hangat. Tapi ide awal minum cokelat itu yang membuatku mengiyakan pesanan. Cokelat bantu recovery suasana hati, bukan? *sugestiku*
Ia mulai menyalakan sigaret. Mata kemana, pikiran mikir apa dan mulut bicara apa, itu yang kerap mewaspadakanku untuk mencerna alur ketiga inderanya tsb. Sebuah notes kecil yang ia bawa dari rumah, tak tersentuh.
Ada lelaki di ujung telepon sedang main biliard dan mulut perempuan ini juga membagi obrolan denganku. Menanyakan pada si lelaki di kotanya banyak kah L nya. Kalau banyak maukah aku dikenalkan pada salah satu atau salah dua diantaranya. Dan penutup obrolan di telepon yang lumayan unik; Ia berucap Love U kepada lelakinya tapi arah matanya padaku dengan senyuman. Sembari terkekeh aku pun menjawab Love U 2 plus seutas muach di bibir.
"Asik juga ya kalo gitu tadi, di telepon bilang Love U, ternyata bukan untuk dia yang di telepon tapi orang di depan kita, dia gak tau kan," jelasnya sembari tertawa usai menaruh gagang henpon. Oh ya, dia pernah berucap aku agak cemburu dengan lelaki ini tiap ia menyebut namanya aku selalu komplain, dan aku mengiyakan.
Dua cangkir cokelat panas kental tersaji mengiring obrolan tentang membebaskan pikiran. Awalnya ia mengungkap rahasia kehidupan rumah tangganya. Kita sudah cukup lama saling kenal, baru ini ia bercerita. Lalu tercetuslah kata Membebaskan Pikiran ini... Meski tak hampir seluruhnya sependapat dengannya, tapi sedari awal mayoritas ide dan pemikiranku tentang HAM selaras dengannya.
"Orang2 lain banyak yang tidak trima pola pikir dan pola hidupku yang spt ini, kata mereka kebarat2an lah dsb, tapi kalo saya merasa nyaman begitu kenapa harus mikiri apa kata orang, sedang kita sendiri tidak merasa nyaman."
Ibarat dunia LGBT, pemikirannya sama, diminoritaskan karena tidak sesuai kaidah mayoritas masyarakat kebanyakan.
"Makanya yang dilakukan adalah Membebaskan Pikiran, karena dgn begitu pikiran negatif akan hilang dan hanya menjadi milik orang2 lain yg resah dengan isi otak mereka sendiri, sedang kita akan bebas!"
Dasar otakku sedang lagi mikiri hatiku, langsung tercetus korelasi apa yang diucapkan perempuan itu dgn kondisi "dilema" hati malam itu. Dan baru kali ini kami sedikit membahas urusan "hatiku". Biasanya kami hanya bahas soal kami, tidak cerita hatiku, meski kadang ia bercerita ttg cerita hatinya.
Beralih pada topik seksualitas, ia berujar tak selamanya orang bilang ia hetero atau biseksual atau homo. Aku mengamin fleksibilitas tsb.
"Makanya sekarang kan aku sedang melesbikanmu," ujarku campur ngakak melihat ekspresinya. "Aku bercanda, ralatku.
"Eh, jangan salah, tau darimana kalo aku hanya tidur dengan lelaki, bukan dengan perempuan? Waktu itu aku pernah sudah hampir mencoba tapi sikon tempat tidak memungkinkan, masak mau bercinta di kantor!"
Tidak mengejutkanku, karena kalau ia tak begini maka hubungan kami ga akan berlangsung sampai sekarang. Jadi teringat sekitar sebulanan lalu ia pernah meminta foto pose gigit2an lidah di keramaian Alkid yang sumpah bikin aku panas dingin, sementara sohibku ngakak dan bersedia gantiin kalau aku nolak permintaannya.
Hmm perempuan ini meski agak gila tapi menyimpan kemisteriusan dengan kadar lumayan tinggi. Alur hatinya tak tertebak. Kalau aku terbiasa membuat alur hati dengan memberi lajur kontruksi dan koridor, maka ia menerapkan sistem tabrak. Meski begitu keunikan karakter bebasnya masih belum bisa kubaca.
Balik ke ruang di Semesta, setelah definisi Membebaskan Pikiran, hatiku masih terusik. Dan entah keputusan darimana aku tiba2 mengirimi perempuan yang mengusik pikiranku sejak beberapa hari ini sebuah pesan pendek. Efek pembebasan pikiran, memaknai apa yang kita rasakan secara positif. Ia membalas tak lama.
Satu hal lain yang ia sarankan padaku, kau memang harus membebaskan pikiranmu, tapi ingat tujuan awal konsekuensi pilihan orientasi seksualmu kemana... Kalau yang kau jalani sekarang spt ini, paling tidak meski kau terus jalani, ada kesiapanmu untuk konsekuensi yang sejak awal kau ketahui..
Perbincangan di tengah galau yang cukup unik malam ini. Menciptakan pola baru, membebaskan pikiran, membiarkan orang lain berasumsi, baik atau burukkah yang penting kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakoni tanpa mengganggu hak orang lain.
Cerita Pohon
Pohon itu tumbang, namun syukurlah tak mengenai pejalan kaki yang lewat atau kendaraan yang tengah melaju.
Pohon itu luluhlantak, namun syukurlah akarnya masih melekat meski tak utuh.
Batang yang kokoh itu ternyata rapuh, terlihat rongga-rongga basah seperti baru teraliri cairan. Air darimana kah? Dari daun-daun yang menengadah ketika disiram, kah? Tidak, rongga itu basah oleh tangis akar yang kokoh hingga membusuk tak kuat menyanggah.
Pohon itu telah bertahun-tahun tampak mati suri, sekalinya bersemi ia gugur lagi.
Pohon itu ternyata menangis sebelum akan mati, namun syukurlah ia tak melukai, hanya ia sendiri.
Bulir air yang baru sempat meretas, setelah sekian hentakan waktu tertahan, menahan.
Langit Kamar Tamsis, 18:49 Wed 24 Aug 2011
Pohon itu luluhlantak, namun syukurlah akarnya masih melekat meski tak utuh.
Batang yang kokoh itu ternyata rapuh, terlihat rongga-rongga basah seperti baru teraliri cairan. Air darimana kah? Dari daun-daun yang menengadah ketika disiram, kah? Tidak, rongga itu basah oleh tangis akar yang kokoh hingga membusuk tak kuat menyanggah.
Pohon itu telah bertahun-tahun tampak mati suri, sekalinya bersemi ia gugur lagi.
Pohon itu ternyata menangis sebelum akan mati, namun syukurlah ia tak melukai, hanya ia sendiri.
Bulir air yang baru sempat meretas, setelah sekian hentakan waktu tertahan, menahan.
Langit Kamar Tamsis, 18:49 Wed 24 Aug 2011
Memutus Pusaran
Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup skali ini saja...
Menarik diri, daripada saya menarik perempuan itu ke dalam pusaran yang saya buat. Pusaran yang bahkan saya tak bisa keluar, menunggu untuk terlempar ketika arus sudah lelah mempermainkan saya di dalamnya. Saya bukan menyerah untuk meraihnya, saya hanya tak mau menariknya ke celah yang bahkan untuk diri sendiri pun belum bisa menaklukkan. Ego saya!
Menilik kembali roda percakapan dunia maya sekitar tak sampai sebulan lalu, pelangi bibirku kerap muncul. Jujur, aku merindu kita yang dulu. Kita yang terpisah jarak namun bukan waktu. Aneh, kenapa aku tak bisa sesederhana seperti ketika di awal dan malah ribet dibelit prasangka dan posesif nggak jelas, sementara ia dengan sangat jelas tak memantulkan hal yang kurasakan?
Hati kok malah heboh sendiri. Ego saya pun perang sendiri. Apakah saya butuh pengakuan perasaannya terhadap saya? Pengakuan yang bagaimana lagi, hati saya yang lain bilang begitu. Toh sudah jelas alur gamblangnya.
Tersiksa untuk menjadi tak sederhana. Tapi daripada saya membuat satu orang lagi merasa tersiksa dengan hati dan pikiran2 aneh saya, mending memutus pusaran agar ia tak terkena getah. Kalau sakit, biar saya aja yang sakit karena sakit itu saya yang buat sendiri.
Tuhan bila masihku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintainya...
(Tak sanggup bila harus jujur hidup tanpa hembusan nafasnya...)
Tuesday, August 23, 2011
Sedang Kecewa
Saya memang sedang kecewa, kecewa dengan diri sendiri. Hmm tanpa bermaksud menghujat!
Memutar ulang perbincangan dengan seorang teman berbagi pikiran yang jauh dimata semalam, ada sebuah pola yang kami amini untuk men-trackrecord kisah asmara saya. Pengulangan pola, kata perempuan itu, dan aku sudah sadar hal tsb namun anehnya tetap dilakukan berulang.
Aku bukan tak belajar, tapi entah apa namanya kok bisa terulang. Internal error yang tak bisa dibenahi mungkin haha. Sementara sparepartnya juga tidak dijual di toko2 terdekat. Sifatnya mendestruktif hati sendiri. Ternyata, sekali lagi, bukan orang lain si pencuri hati yang tak siap, tapi lagi2 saya dan permasalahan internal antara otak dengan hati.
Fluktuatif, bukan labil. Dan itu sangat destruktif. Di satu sisi negatif yang melanda pun dibarengi kekuatan positif. Pernah merasa seolah-olah neuron anda yang positif dan negatif pada saat yang sama bertabrakan hebat? Dijamin, cairan sekret otak dibalik batok kepala ini bahkan bisa saya rasakan dentingnya di telinga mirip air yang mengucur, hingga suhu tubuh tinggi di dalam, kedinginan tak berpenyebab. Bahkan aku tak bisa lagi merasa, ibarat dulu melaju motor dalam hujan deras tetapi badan tak merasa basah, tahu-tahu sampai rumah kuyup pasi, mati rasa!
Tiga hari yang melelahkan! Saya tak menyesal perputaran waktu menyuguhkan irisan takdir untuk aku dan perempuan itu, hanya saja semoga kali ini destruksi internal ini tak berakhir senada dengan cerita2 sebelumnya.
Kalau ia bergelut dengan 1001 resiko membuka hati karena tak mau komitmen dan masa depan yang merupakan keharusan dibangun dengan laki-laki, God Knows that's not a big deal! Kontradiksi pemikiran mungkin, mengingat rangkaian cerita 2011 tak satupun dari para perempuan yang beririsan takdir denganku murni homoseksual, aku sudah lumayan fasih dengan uncommitment dan tuntutan lain. Kontradiksinya denganku adalah ia bermasalah eksternal, sedang aku perang internal.
Tuntutan yang kulakukan pada orang lain tak bisa kuungkap, jelas saja bagaimana mungkin kau menuntut orang yang belum menetapkan hati untukmu. Makanya ketika hati dan otak sibuk sendiri, maka aku harus menikmatinya sendiri, karena tak mungkin aku mengajukannya meski pada kenyataannya aku benar-benar mendestruksi perempuan pengisi hati ini dengan nalar tingkah laku yang tak bisa di nalar. Hal yang kemudian sungguh tersesali namun sudah tak bisa terhapus, selain mengubah diriku di dalam untuk tak lagi melibatkannya dalam wilayah hati dan otakku.
Memahami diri sendiri; bahwa dalam saat bersamaan aku (hati dan otak) bisa sekaligus merasakan negatif dan positif thinking, destruksi dan recovery, bangkit dan jatuh, serta semua hal kontradiktif berbarengan.
Kecewa dengan kerumitan diri sendiri. But, that's me, sampai detik ini still love my self completely complicated complex!
Monday, August 22, 2011
Oksitoksin, Hati dan Logika
Cinta ini tak akan mungkin memudar,
Kata hati tak akan mungkin berubah, jadinya, karenanya...
Potongan bait lagu yang sejak beberapa hari lalu kerap terngiang di telingaku. Tentang hati, lagi!
Awal bulan ini oksitoksinku sedang produksi berlebih. Ia menggenjot otak sampai ke aliran darah untuk mengecap fungsi hormon itu. Bukan pertama kalinya begini sih, tapi untuk sepanjang tahun 2011 bersama lika-liku asmaranya, ia paling dominan akhir-akhir ini. Biasanya, ia berproduksi tak sampai meluber, cukup pada porsi hati, lalu ketika ia akan merambah struktur otak tempat ia bernaung, ia sudah dieliminasi logika.
Untuk sekarang, sepertinya sedang lain cerita. Meski hati sendiri sudah lumayan hilang dari bius oksitoksin, ya hati saya tumben2an berlogika bahwa oksitoksin ini beracun. Eh kok malah otak membuat keajaiban; dalam membantu proses recoverynya hati, logika saya malah ganti menyuruh hati untuk tetap berfungsi selayak organ tsb, bukan merebut wilayah otak. Dan support otak yang mengejutkan ini diamini hati, meski tak dibarengi dengan oksitoksin. Memang, ada sisa oksitoksin, namun ia sedang mogok produksi. Semoga support logika mampu menyuplai apa yang tak diberikan komponen otak pembangkit dan pengelola taman bunga di hati saya agar tak memudar.
Kata hati tak akan mungkin berubah, jadinya, karenanya...
Potongan bait lagu yang sejak beberapa hari lalu kerap terngiang di telingaku. Tentang hati, lagi!
Awal bulan ini oksitoksinku sedang produksi berlebih. Ia menggenjot otak sampai ke aliran darah untuk mengecap fungsi hormon itu. Bukan pertama kalinya begini sih, tapi untuk sepanjang tahun 2011 bersama lika-liku asmaranya, ia paling dominan akhir-akhir ini. Biasanya, ia berproduksi tak sampai meluber, cukup pada porsi hati, lalu ketika ia akan merambah struktur otak tempat ia bernaung, ia sudah dieliminasi logika.
Untuk sekarang, sepertinya sedang lain cerita. Meski hati sendiri sudah lumayan hilang dari bius oksitoksin, ya hati saya tumben2an berlogika bahwa oksitoksin ini beracun. Eh kok malah otak membuat keajaiban; dalam membantu proses recoverynya hati, logika saya malah ganti menyuruh hati untuk tetap berfungsi selayak organ tsb, bukan merebut wilayah otak. Dan support otak yang mengejutkan ini diamini hati, meski tak dibarengi dengan oksitoksin. Memang, ada sisa oksitoksin, namun ia sedang mogok produksi. Semoga support logika mampu menyuplai apa yang tak diberikan komponen otak pembangkit dan pengelola taman bunga di hati saya agar tak memudar.
Wednesday, August 17, 2011
MULAI MENGUSIK HATI
Belum genap sebulan memang, tapi kau cukup mengobrak abrik tatanan otak, terlebih hati. Jeda usia lumayan jauh awalnya jujur saja aku sudah underestimate bahwa bentuk pertemanan ini hanya akan berlangsung sebagai sebuah basa basi saja. Basa basi orang muda kepada orang yang lebih tua. Dan aku salah total!
Komunikasi jejaring sosial dengan perempuan itu menggelitikku. Tukang ngeyel, itu aset utama yang menarik perhatianku. Kalo asal ngeyel sih tak akan kugubris, argumennya memicu kerja otak yang kadang memburatkan secarik senyuman.
Hingga hari ke berapa aku belum juga tau namanya. Nomor ponselnya bertitelkan nama jejaring sosial yang -katanya- kini dimusnahkannya. Obrolan panjang lebar pun mengalir. Ia kian memikat. Tau sendiri, aku paling suka perempuan berotak. Memetakan isi pikirannya, menguras isi pikiran dan keterampilan argumentasiku. Namun tetap saja, relasi apapun tetap punya pasang surut. Bahkan aku gak nyangka hubungan ini masih hingga kini, pasalnya beberapa hari setelah saling kenal, kami beradu hebat. Kupikir aku tak akan mengenalnya lagi. Sampai2 aku mengutas doa yang kulafalkan di fesbuk, kalau memang untukku dekatkan, kalau bukan, tunjukkan. Esoknya, aku sumringah ketika pesan pendeknya mampir lagi di ponselku.
Siklus perkenalan yang bertahap; jejaring sosial, chat messenger, pesan pendek, obrolan by phone, dan penyebutan nama. Aku belum tau wajahnya! Meski begitu aku sudah cukup tau karakternya, meski ada juga beberapa ganjalan di otak. Dan bagian mengetahui bentuk fisiknya adalah satu lagi proses yang mengejutkan.
Setelah proses ulet dan penemuan beberapa fakta, ia kemudian membuka kedok wajahnya. Aku memang sengaja pura2 bego diantara sekian gambar tsb ia yang mana, meski aku sejak awal menduga ia yang berpakaian dan berparas cerah itu. Lalu apakah aku senang? Tidak! Aku bahkan berujar pada tetangga sebelah kost, diantara gemuruh hati yang mulai bersemi sepertinya aku harus memusnahkan rasa itu. Ia terlalu cantik untuk kudekati! Jadi jangan dikira wajah makin rupawan, aku kian senang, tidak, aku mundur saja kawan! Begitu ujarku yang dikecam tetangga sebelah.
Hari-hari hatiku terisi olehnya. Dering sahur. Pesan pendek penghilang kantuk pencipta kantung di bawah mata. Ejekan yang terus bersambung. Membagi benak untuk satu dan beberapa hal. Hmm, aku tak usah membunuh waktu sepanjang puasa, bahkan dua jam beradu eyel-eyelan dengannya seperti baru 10 menit saja, walhasil setelahnya kerongkongan macam habis karaokean berjam-jam.
Namun relasi apapun sepertinya tak akan mulus saja. Aku mengakui, fikiran negatifku tentangnya belum bisa hilang. Ada pertanyaan2 yang dilontarkan otak meski hati sudah setengah mati memangkas prasangka. Otak, kau mungkin benar tak ingin aku sakit lagi, ujar hati, tapi kalau kau terus mencari celah salahnya, aku tak akan menemukan belahanku untuk berbagi. Ya, hatiku kerap wanti2 untuk mengajari otak setulus seperti tawa dan senyuman yang dilakoni hati.
Ia telah tau hatiku, ya kemajuan yang menurut beberapa kawan patut diacungi jempol. Ia tak mengiyakan pun tak menolak. Aku bersepakat bahwa ya akan terlalu cepat untuk memutuskan ya atau tidak. Membiarkan semuanya mengalir the way it path! Menyilahkan sang waktu menyuguhkan diskusi panjang, adu pikiran dan pemahaman karakter masing2 sepanjang memberi manfaat positif bagi keduanya ke depan, aku tak akan mereka-reka apapun bentuk relasinya.
Wednesday, August 10, 2011
Cerita Gajah dan Simpanse
Gajah adalah kamu. Kamu yang tiba-tiba ada di list pengikutku di sebuah situs jejaring sosial. Perpaduan padi dan kopi, ID yang unik, filosofi padi padu padan kopi yang kau lontarkan masuk akal bagiku. Lalu kenapa Gajah? Karena kau bilang kau besar. Gajah besar, bukan?
Dan Simpanse adalah aku. Ia tak mau kalah dibilang Gajah, memanggilku Simpanse.
"Simpanse itu paling pintar lho diantara hewan lain, terutama untuk bangsa monyet!" elakku. "Daripada Gajah, cuma gede doang!"
"Mending Gajah, dianggap suci di Thailand, daripada Simpanse, nggilani (menjijikkan)"
Dan serentetan olokan lain mengikuti. Ya, perkenalan yang berawal di jejaring sosmed kemudian beralih chat messenger dan pesan pendek itu kemudian tak berhenti untuk tiap waktu saling olok dan ngotot, bahkan untuk bahasan sepele.
Perkenalan ini tak lantas mulus saja. Sejak awal mengenalmu aku mencium gelagat ada yang kau sembunyikan di balikku, entahlah, sepertinya banyak yang janggal darimu, dari mulai nama yang tak kunjung kau sebutkan dan nomer hape yang kadang hidup kadang mati. Asal tau saja, aku paling preventif dengan orang-orang model begini. Kau bukan orang pertama yang kuragukan dalam sejarah perelasian usai buyarnya relasi terakhirku. Aku mungkin terlalu antipati, ya begitulah aku! Perjalanan cintaku adalah guru paling buruk yang kemudian membentuk karakter preventif otak terhadap hati.
Dan Simpanse adalah aku. Ia tak mau kalah dibilang Gajah, memanggilku Simpanse.
"Simpanse itu paling pintar lho diantara hewan lain, terutama untuk bangsa monyet!" elakku. "Daripada Gajah, cuma gede doang!"
"Mending Gajah, dianggap suci di Thailand, daripada Simpanse, nggilani (menjijikkan)"
Dan serentetan olokan lain mengikuti. Ya, perkenalan yang berawal di jejaring sosmed kemudian beralih chat messenger dan pesan pendek itu kemudian tak berhenti untuk tiap waktu saling olok dan ngotot, bahkan untuk bahasan sepele.
Perkenalan ini tak lantas mulus saja. Sejak awal mengenalmu aku mencium gelagat ada yang kau sembunyikan di balikku, entahlah, sepertinya banyak yang janggal darimu, dari mulai nama yang tak kunjung kau sebutkan dan nomer hape yang kadang hidup kadang mati. Asal tau saja, aku paling preventif dengan orang-orang model begini. Kau bukan orang pertama yang kuragukan dalam sejarah perelasian usai buyarnya relasi terakhirku. Aku mungkin terlalu antipati, ya begitulah aku! Perjalanan cintaku adalah guru paling buruk yang kemudian membentuk karakter preventif otak terhadap hati.
Monday, August 8, 2011
Introspeksi: Lagi-Lagi Soal Relasi!
Ya lagi2 soal relasi, ini yang juga lagi2 kurefleksi. Aku hafal betul karakterku. Memantulkannya dari seorang kekasih tetangga sebelah aku kerap men-share beginilah sifat kesamaan kami yang harus ia sadari. Pasalnya, perempuan ini kadang agak stres dengan karakter rumit pasangannya yang sama persis dengan karakterku. Dan lagi2, mewanti-wanti memang mudah diucap tapi ketika mempraktekkan pada diri sendiri, susahnya ampun deh!
Berelasi. Jauh2 hari aku sudah menegakkan diri untuk membuka hati. Meski tertatih, karena faktor penghambat utama aku sadari betul bukan eksternal. Internal perlu pembenahan, terkait ego. Ya, ego, harus diakui itu yang belum bisa ditaklukkan.
Sibuk dengan diri sendiri. Merasa nyaman seorang diri. Ya, rasanya aku memang harus mengakui, aku belum siap untuk berbagi dan membagi. Otakku masih terlalu sulit untuk dimengerti. Aku meyakini, this is not evil in my head, hanya kerumitan struktur otak yang sejak dahulu kala tak pernah mudah tercerna oleh orang lain selain diri sendiri.
Kata-kataku memang sepertinya melukai, tapi jauh didalam lubuk hati, aku hanya terlalu takut untuk tersakiti. Logika ini yang kemudian membentengi bertubi-tubi agar hati tak merasakan perih oleh dusta atau nista lainnya yang hendak meracuni raga.
Logikaku mungkin sekuat karang padahal jauh di palung terdalam hati teramat rapuh. Aku bersyukur logika setengah mati hendak melindungi hati dari perih, namun aku juga harus bersiap ketika ketegasan logika memusnahkan benih-benih hati yang mulai bersemi.
Aku rumit, MEMANG!!! Kadang aku merasa kasihan kelak siapa yang mendampingi hatiku di hari-hari sepanjang perjalanan waktu, atau ketika logika memberangus benih yang hampir tak pernah bisa disemai, melangkahkan hati bersendiri dengan logika yang siap melindungi a.k.a meracuni???
Karakter itu tak pernah bisa terubah. Aku hanya sedang belajar untuk hal-hal baru tapi tak menjadikanku sesuatu diluar diriku.
Friday, July 8, 2011
3 Bulanan...
Tanggal 8 di bulan Juli ini aku ngerayain hari jadi tiga bulanan. Agak aneh bukan, tiga bulan belum juga setahun. Apalagi kalau yang dirayain bukan jadian pacaran hahaha lha kok bisa? Lalu? Trus hari jadi apa? Sabar, orang sabar pantatnya lebar huwaa...
Tanggal 8 Juli ini hari jadi 3 bulanan cinta pada pandangan pertamaku pada perempuan yang kini masih menggelitik hatiku. OMG pasti teriak: Kurang kerjaan! Hohoho, bukan aku namanya kalau tak unik. Dan uniknya lagi, perempuan itu belum tahu soal perasaanku. Mungkin ia merasa, bahkan menduga, tapi sebelum kata itu diniatkan untuk dieja dari mulutku sepertinya ia bertingkah tak pernah ada apa-apa. Dan memang tak pernah ada apa-apa, kami hanya kerap menikmati waktu bersama. Bersenda gurau, menyudutkan, belajar, memahami benaknya dan segudang imajinasi plus halusinasi tentangnya. Hmm, dari caraku bercerita sepertinya ia orang yang istimewa, bukan?
Mem-flashback awal mula menemukan sosoknya diantara kerumunan perempuan, suara lantangnya menarik perhatianku. Dan berujung pertanyaan siapakah dia? Karena medan perkenalan kukuasai maka aku tak sungkan bertanya nama. Selebihnya kami beberapa kali bertemu muka di kesempatan rentetan kegiatan yang sama.
Dan entah bagaimana kemudian kami akrab. Mengumbar cerita, mengenali karakter dan merasakan sesuatu yang lain. Cinta kah? Aku tak akan terburu-buru mendefinisikannya, tapi aku juga tergelitik mencari tahu. Sedikit penasaran dengan hatiku sendiri. Apalagi diantara olokan teman2 kantor, memang tak kugubris, selain karena aku sendiri belum yakin.
Mari membedah hati: Ya, saya setuju itu cinta pada pandangan pertama. Itu sebelum saya tau asal usul dan segala tetek bengek tentangnya. Kalau hanya untuk dibedah sedangkal itu cukuplah cinta sampai disitu, karena ketika membaca laju hidupnya maka keesensialisanku akan membunuh yang namanya cinta pada pandangan pertama itu.
Baiklah, tetap pada dilajur hal tsb termaknai sebagai CINTA, lalu cinta yang seperti apa? Aku pernah berujar, caraku mendefinisikan cinta terbagi menjadi tiga: cinta hanya pada otaknya, cinta secara ketertarikan seksual dan cinta perpaduan otak dan tertarik secara seksual. Dalam tahap ini aku masih gamang hendak memasukkan daya tarik perempuan itu dalam kategori mana, secara otak sungguh menarik, seksual pun untuk perempuan dengan track record sepertinya aku akan mengakui ia punya sex appealing, tapi ketika hendak menceburkan cintaku pada pilihan otak dan sex appealingnya, otakku mewanti2: "No, ur love isn't that big!". Dan hatiku patuh!
Kalau ia menikmati tulisan ini, ia akan setengah mati mengumpat: "Dasar pemikir! Apa2 kok pake mikir!". Hmm, no ladies, aku memang pemikir, tapi untuk kasus ini aku akan beralasan bahwa aku ingin menempatkan perempuan itu pada porsinya terlepas dari ia juga punya hak untuk juga menempatkanku pada porsinya.
Wah kok jadi melebar ya, ini baru tiga bulan, apalagi dalam hitungan tahun??
Tanggal 8 Juli ini hari jadi 3 bulanan cinta pada pandangan pertamaku pada perempuan yang kini masih menggelitik hatiku. OMG pasti teriak: Kurang kerjaan! Hohoho, bukan aku namanya kalau tak unik. Dan uniknya lagi, perempuan itu belum tahu soal perasaanku. Mungkin ia merasa, bahkan menduga, tapi sebelum kata itu diniatkan untuk dieja dari mulutku sepertinya ia bertingkah tak pernah ada apa-apa. Dan memang tak pernah ada apa-apa, kami hanya kerap menikmati waktu bersama. Bersenda gurau, menyudutkan, belajar, memahami benaknya dan segudang imajinasi plus halusinasi tentangnya. Hmm, dari caraku bercerita sepertinya ia orang yang istimewa, bukan?
Mem-flashback awal mula menemukan sosoknya diantara kerumunan perempuan, suara lantangnya menarik perhatianku. Dan berujung pertanyaan siapakah dia? Karena medan perkenalan kukuasai maka aku tak sungkan bertanya nama. Selebihnya kami beberapa kali bertemu muka di kesempatan rentetan kegiatan yang sama.
Dan entah bagaimana kemudian kami akrab. Mengumbar cerita, mengenali karakter dan merasakan sesuatu yang lain. Cinta kah? Aku tak akan terburu-buru mendefinisikannya, tapi aku juga tergelitik mencari tahu. Sedikit penasaran dengan hatiku sendiri. Apalagi diantara olokan teman2 kantor, memang tak kugubris, selain karena aku sendiri belum yakin.
Mari membedah hati: Ya, saya setuju itu cinta pada pandangan pertama. Itu sebelum saya tau asal usul dan segala tetek bengek tentangnya. Kalau hanya untuk dibedah sedangkal itu cukuplah cinta sampai disitu, karena ketika membaca laju hidupnya maka keesensialisanku akan membunuh yang namanya cinta pada pandangan pertama itu.
Baiklah, tetap pada dilajur hal tsb termaknai sebagai CINTA, lalu cinta yang seperti apa? Aku pernah berujar, caraku mendefinisikan cinta terbagi menjadi tiga: cinta hanya pada otaknya, cinta secara ketertarikan seksual dan cinta perpaduan otak dan tertarik secara seksual. Dalam tahap ini aku masih gamang hendak memasukkan daya tarik perempuan itu dalam kategori mana, secara otak sungguh menarik, seksual pun untuk perempuan dengan track record sepertinya aku akan mengakui ia punya sex appealing, tapi ketika hendak menceburkan cintaku pada pilihan otak dan sex appealingnya, otakku mewanti2: "No, ur love isn't that big!". Dan hatiku patuh!
Kalau ia menikmati tulisan ini, ia akan setengah mati mengumpat: "Dasar pemikir! Apa2 kok pake mikir!". Hmm, no ladies, aku memang pemikir, tapi untuk kasus ini aku akan beralasan bahwa aku ingin menempatkan perempuan itu pada porsinya terlepas dari ia juga punya hak untuk juga menempatkanku pada porsinya.
Wah kok jadi melebar ya, ini baru tiga bulan, apalagi dalam hitungan tahun??
Tuesday, July 5, 2011
JUNI DI BULAN JULI
Seperti judul film ya? Hehe judul yang kupilih setelah merindu menulis di blog ini. Ya ya ya sekarang lebih banyak berkicau di situs Social Media yang lain yang lebih mudah berkoar meski space tak lebih panjang dari 140 karakter. Tapi senangnya bisa tiap detik update dan sepertinya lupa punya ruang yang lebih lebar ini untuk berbagi...
Selain juga alasan hidup sedang semrawut. Namun tak ingin mengungkapnya sekarang. Aku ingin meletakkan kepalaku yang berisi masalah dan menggantinya dengan jempol yang menari untuk hal lain yang lebih fun. Lama tidak menerawangkan benak, agak kaku juga nih jempol...
Pun ketika hendak memulai aka meneruskan outline, pesimistik pun meradang. Ah rindu menulis, semoga mendapat pemantik yang bagus untuk mengembarakan fikiran menarikan jari dengan irama yang tak biasa...
Sudah Juli, tapi aku merasa masih di Bulan Juni, karena Juni jari jari dan otakku sedang jadi pemalas... Selamat kembali gairah menulis...
Selain juga alasan hidup sedang semrawut. Namun tak ingin mengungkapnya sekarang. Aku ingin meletakkan kepalaku yang berisi masalah dan menggantinya dengan jempol yang menari untuk hal lain yang lebih fun. Lama tidak menerawangkan benak, agak kaku juga nih jempol...
Pun ketika hendak memulai aka meneruskan outline, pesimistik pun meradang. Ah rindu menulis, semoga mendapat pemantik yang bagus untuk mengembarakan fikiran menarikan jari dengan irama yang tak biasa...
Sudah Juli, tapi aku merasa masih di Bulan Juni, karena Juni jari jari dan otakku sedang jadi pemalas... Selamat kembali gairah menulis...
Monday, May 30, 2011
Finished... Case Closed!!!
Hmm, akhirnya selesai juga! Dengan ending yang sangat klasik!
Pagi kemarin ia libur, seperti biasa ia memasak. Aku sedang mendengarkan musik di kamar dengan pintu terbuka. Kudengar ia memanggil. Aku menyahut datar.
"Kau marah ya?" tanyanya sembari mencuci alat dapur.
"Ngapaen marah, aku cuma memenuhi keinginanmu!" teriakku dari kamar. Beberapa kali aku menyahut tanpa beranjak, lama2 gak enak juga nyahutin tereak2, aku menghampirinya di dapur.
Aku membahas alasan2nya yang tak masuk akal. Dan airmatanya mulai menitik. Gampang sekali menangis, detik berikutnya tertawa. Mudah sekali berganti suasana. Ah, tak mau membahas kelabilannya satu itu. Obrolan -seperti biasa- terhenti oleh kedatangan makhluk2 tak diundang.
Sejam berikutnya aku mengirim pesan pendek mengajaknya bicara. Ia mengiyakan setelah ia selesai mandi nanti. Menunggu sembari nggombesi tetangga depan kamar yang pindah pagi ini. Bahkan ketika perempuan yang akan kuajak bicara hati ke hati itu mengirim sms ia telah siap ngobrol aku menahan sebentar, karena perempuan tetangga depan ini tak akan kulihat lagi.
"Ya, kita nggak akan ketemu lagi," ucapnya manja seperti biasa.
"Bisa aja ketemu, kamu kan bisa kesini,"
"Iya kalo kamu ada di kost, kalo gak?"
"Ya makanya kontak2an dulu dong..."
"Hmm, bilang aja kalau mau minta nomer hapeku!" godanya menohok.
"Udah tau nanya!" sahutku terkekeh. Ia tertawa. "Ya kalo ga keberatan, kalo keberatan juga gak papa,"
Ia mengeja nomer hape nya untuk ku miskol. Hahay jebakan player berhasil! Wkwkwkwk. Ia berpamitan dengan kusuruh mencium tanganku, ia malah balik menyorongkan tangannya untuk dicium olehku. Ah ada2 aja. Usai itu aku melepasnya pergi dan aku beranjak ke atas menemui perempuan yang hendak kuajak bicara heart by heart.
Ia sudah menunggu sembari nonton tivi. Obrolan yang tak begitu lama karena setengah sebelas aku sudah ada janji dengan perempuan lain di Galeria. Tapi obrolan yang berkualitas. Aku pun mengaku aku menyayanginya tapi ada hal2 yang kupikirkan jauh ke belakang dibanding perasaan. Karena kuanggap akan lebih baik seperti dulu2 tak terucap tapi terlakukan. Toh menyayangi tak perlu memiliki. Tapi ingat, ketika disayangi jangan pernah tinggi hati atau memanfaatkan rasa sayang orang lain, karena sesayang2nya aku toh logikaku lebih jalan daripada hati.
Aku rasa kini semua akan kembali seperti biasa. Dengan perubahan sudut pandang tentunya, sudut pandang hati dan pikiran. We're loving each other, just that, and it's enough to be like that...
Pagi kemarin ia libur, seperti biasa ia memasak. Aku sedang mendengarkan musik di kamar dengan pintu terbuka. Kudengar ia memanggil. Aku menyahut datar.
"Kau marah ya?" tanyanya sembari mencuci alat dapur.
"Ngapaen marah, aku cuma memenuhi keinginanmu!" teriakku dari kamar. Beberapa kali aku menyahut tanpa beranjak, lama2 gak enak juga nyahutin tereak2, aku menghampirinya di dapur.
Aku membahas alasan2nya yang tak masuk akal. Dan airmatanya mulai menitik. Gampang sekali menangis, detik berikutnya tertawa. Mudah sekali berganti suasana. Ah, tak mau membahas kelabilannya satu itu. Obrolan -seperti biasa- terhenti oleh kedatangan makhluk2 tak diundang.
Sejam berikutnya aku mengirim pesan pendek mengajaknya bicara. Ia mengiyakan setelah ia selesai mandi nanti. Menunggu sembari nggombesi tetangga depan kamar yang pindah pagi ini. Bahkan ketika perempuan yang akan kuajak bicara hati ke hati itu mengirim sms ia telah siap ngobrol aku menahan sebentar, karena perempuan tetangga depan ini tak akan kulihat lagi.
"Ya, kita nggak akan ketemu lagi," ucapnya manja seperti biasa.
"Bisa aja ketemu, kamu kan bisa kesini,"
"Iya kalo kamu ada di kost, kalo gak?"
"Ya makanya kontak2an dulu dong..."
"Hmm, bilang aja kalau mau minta nomer hapeku!" godanya menohok.
"Udah tau nanya!" sahutku terkekeh. Ia tertawa. "Ya kalo ga keberatan, kalo keberatan juga gak papa,"
Ia mengeja nomer hape nya untuk ku miskol. Hahay jebakan player berhasil! Wkwkwkwk. Ia berpamitan dengan kusuruh mencium tanganku, ia malah balik menyorongkan tangannya untuk dicium olehku. Ah ada2 aja. Usai itu aku melepasnya pergi dan aku beranjak ke atas menemui perempuan yang hendak kuajak bicara heart by heart.
Ia sudah menunggu sembari nonton tivi. Obrolan yang tak begitu lama karena setengah sebelas aku sudah ada janji dengan perempuan lain di Galeria. Tapi obrolan yang berkualitas. Aku pun mengaku aku menyayanginya tapi ada hal2 yang kupikirkan jauh ke belakang dibanding perasaan. Karena kuanggap akan lebih baik seperti dulu2 tak terucap tapi terlakukan. Toh menyayangi tak perlu memiliki. Tapi ingat, ketika disayangi jangan pernah tinggi hati atau memanfaatkan rasa sayang orang lain, karena sesayang2nya aku toh logikaku lebih jalan daripada hati.
Aku rasa kini semua akan kembali seperti biasa. Dengan perubahan sudut pandang tentunya, sudut pandang hati dan pikiran. We're loving each other, just that, and it's enough to be like that...
Saturday, May 28, 2011
MENGENDAPKAN
Akhirnya itu yang terakhir kupilih diantara ketidakpastian kekeruhan masalah yang kurang lebih sebulan ini terjadi. Mengendap dengan mengurangi teman daripada menambah musuh. Sebab endapan kunilai masih punya setitik harapan kejernihan ketika bagian keruh telah terpisah ke bawah, artinya aku memang berharap someday ketika semua telah dapat berpikir lebih jernih, keputusan dan kondisi akan lebih baik.
Ikhwal cerita adalah ketika sore itu tiba2 terbersit ide tetangga kamar sebelah untuk mengajak perempuan itu makan diluar. Aku menyuruhnya bertanya, adakah aku boleh bergabung. Namun ia menolak. Satu keputusan yang udah bikin cenat cenut angkaraku. Tapi si tetangga sebelah kamar menenangkan, biarkan perempuan itu bercerita padanya dulu agar titik permasalahan lebih jelas. Meski begitu, harga diriku kembali terusik.
Penuturan dari mulut perempuan itu mencengangkanku. Aku bukan kaget, heran setengah mati karena untuk ketiga kalinya kembali alasan yang ia utarakan diluar nalar. Ia mempermasalahkan guyonanku dan caraku yang agak memaksa dahulu. Emosiku meninggi, tak terima pastinya!
Bayangkan, ia menganggap guyonanku bikin ia tak nyaman; Hello, aku mengenalmu tahunan, dan guyonan2 seperti itu bukan pertama kalinya. Di fesbuk pun guyonan kayak gitu kau ladeni, pun saksi anak kost sering mendengar guyonan yang sama dalam keseharian. Lalu kenapa guyonan via sms itu ia permasalahkan? Apa karena ia meniru teman kantornya untuk alibi alasan yang sama? Kalo teman kantornya merasa tak nyaman bagiku wajar karena aku belum sampai sebulan kenal, nah kalo dia, sudah tahunan, ibarat kata bokerku pun ia tahu apalagi dengan keakraban kami. Tapi kalo sekarang ia bilang ia tidak nyaman denganku, kok yo kebacut alias dah telat banget bukan?!!
Kembali alasan konyol itu harus kuhargai. Karena itu hakmu, meski di hati tak bisa kuterima. Sama ketika di dua alasan sebelumnya gedeg banget liat aku dan mukaku yang nyeremin. Alasan yang tak bisa dinalar untuk orang yang sama2 tinggal satu atap tahunan.
Ia juga mempermasalahkan ketika agak memaksanya untuk ngobrol nyelesein masalah. Ya mungkin ini beda persepsi aja, bagiku ketika ada masalah ya cepat2 diselesaikan dan sudah clear ya everything goes on the way it path soon. Tapi ia mungkin lebih suka mencicil. Okelah aku mungkin salah disini, dan aku meminta maaf padanya untuk hal ini. Beda otak beda penyelesaian, mungkin.
Siang kemarin aku mengiriminya sebuah pesan pendek panjang lebar. Tentang permintaan maafku dan keputusanku untuk tak lagi menganggap satu sama lain saling mengenal. Kalau memang ia merasa tak nyaman maka merasa nyamanlah dengan keberadaan ketidakberadaanku di satu atap yang sama. Aku yakin tak akan mudah, begitu juga bagiku. Menutup kenangan, mengubur kebersamaan dan pura2 tak saling kenal di satu lokasi yang sama terlampau menyiksa!
Sayangnya, kau tak punya keberanian untuk mengutarakan langsung padaku. Tiap diajak bicara menghindar seolah aku model orang yang tak bisa diajak berdialog. Padahal jika ia ingat kebersamaan kami dulu, apa yang tidak ia ceritakan padaku dan apa yang tidak aku dengarkan darinya, begitu juga sebaliknya. Hmm, entah apa yang membuatnya demikian banyak berubah. Pastinya tak ada yang berubah dariku, jikalau ia merasa perubahan itu baik untuknya maka aku tak akan memaksakan apa yang sebenarnya baik untukku.
Semoga saja ia lekas belajar untuk menghargai orang lain! Just remembering, what u spread is what u get...
Ikhwal cerita adalah ketika sore itu tiba2 terbersit ide tetangga kamar sebelah untuk mengajak perempuan itu makan diluar. Aku menyuruhnya bertanya, adakah aku boleh bergabung. Namun ia menolak. Satu keputusan yang udah bikin cenat cenut angkaraku. Tapi si tetangga sebelah kamar menenangkan, biarkan perempuan itu bercerita padanya dulu agar titik permasalahan lebih jelas. Meski begitu, harga diriku kembali terusik.
Penuturan dari mulut perempuan itu mencengangkanku. Aku bukan kaget, heran setengah mati karena untuk ketiga kalinya kembali alasan yang ia utarakan diluar nalar. Ia mempermasalahkan guyonanku dan caraku yang agak memaksa dahulu. Emosiku meninggi, tak terima pastinya!
Bayangkan, ia menganggap guyonanku bikin ia tak nyaman; Hello, aku mengenalmu tahunan, dan guyonan2 seperti itu bukan pertama kalinya. Di fesbuk pun guyonan kayak gitu kau ladeni, pun saksi anak kost sering mendengar guyonan yang sama dalam keseharian. Lalu kenapa guyonan via sms itu ia permasalahkan? Apa karena ia meniru teman kantornya untuk alibi alasan yang sama? Kalo teman kantornya merasa tak nyaman bagiku wajar karena aku belum sampai sebulan kenal, nah kalo dia, sudah tahunan, ibarat kata bokerku pun ia tahu apalagi dengan keakraban kami. Tapi kalo sekarang ia bilang ia tidak nyaman denganku, kok yo kebacut alias dah telat banget bukan?!!
Kembali alasan konyol itu harus kuhargai. Karena itu hakmu, meski di hati tak bisa kuterima. Sama ketika di dua alasan sebelumnya gedeg banget liat aku dan mukaku yang nyeremin. Alasan yang tak bisa dinalar untuk orang yang sama2 tinggal satu atap tahunan.
Ia juga mempermasalahkan ketika agak memaksanya untuk ngobrol nyelesein masalah. Ya mungkin ini beda persepsi aja, bagiku ketika ada masalah ya cepat2 diselesaikan dan sudah clear ya everything goes on the way it path soon. Tapi ia mungkin lebih suka mencicil. Okelah aku mungkin salah disini, dan aku meminta maaf padanya untuk hal ini. Beda otak beda penyelesaian, mungkin.
Siang kemarin aku mengiriminya sebuah pesan pendek panjang lebar. Tentang permintaan maafku dan keputusanku untuk tak lagi menganggap satu sama lain saling mengenal. Kalau memang ia merasa tak nyaman maka merasa nyamanlah dengan keberadaan ketidakberadaanku di satu atap yang sama. Aku yakin tak akan mudah, begitu juga bagiku. Menutup kenangan, mengubur kebersamaan dan pura2 tak saling kenal di satu lokasi yang sama terlampau menyiksa!
Sayangnya, kau tak punya keberanian untuk mengutarakan langsung padaku. Tiap diajak bicara menghindar seolah aku model orang yang tak bisa diajak berdialog. Padahal jika ia ingat kebersamaan kami dulu, apa yang tidak ia ceritakan padaku dan apa yang tidak aku dengarkan darinya, begitu juga sebaliknya. Hmm, entah apa yang membuatnya demikian banyak berubah. Pastinya tak ada yang berubah dariku, jikalau ia merasa perubahan itu baik untuknya maka aku tak akan memaksakan apa yang sebenarnya baik untukku.
Semoga saja ia lekas belajar untuk menghargai orang lain! Just remembering, what u spread is what u get...
Thursday, May 26, 2011
HOROSKOP JAWA [LENGKAP] - Misteri Pranata Mangsa
sumber: http://www.primbon.com/horoskop.php?
MINGGU WAGE
Mereka yang lahir di hari Minggu Wage konon bersifat pemurah dan mudah menaruh iba. Mereka tahu cara-cara untuk menghibur orang yang sedang menderita. Mereka merupakan pekerja keras pula. Akan tetapi, mereka terkadang terlalu teguh dalam pendirian -- bahkan sangat keras kepala! Meskipun mereka pandai menenangkan perasaan orang lain, mereka tidak akan menunjukkan perasaan mereka sendiri dengan mudah. Mungkinkah hal ini merupakan pengendalian emosi dari diplomat, doktor UGD, atau pemadam kebakaran, atau justru kewaspadaan yang berlebihan terhadap kemungkinan disakiti oleh orang-orang yang telah mereka percayai? Mereka sendiri yang harus menjawab pertanyaan ini.
KASADASA - Gedhong Minep Jroning Kayun
27 Maret - 19 April
KEADAAN UMUM
Mereka yang terlahir pada tanggal 27 Maret - 19 April, adalah kelahiran mangsa "KASADASA", dapat juga di sebut sebagai Orang Kasadasa. Pada mangsa Kasadasa, sering terdengar desiran angin kencang, karena pada saat itu adalah perubahan musim, dari musim hujan ke musim kemarau, dengan candranya, "Gedhong Minep Jroning Kayun", yang artinya "Pintu Gerbang Tertutup Didalam Hati". Lamanya orbit 24 hari, dalam pengaruh Resi Bisma. Disebut juga mangsa Mareng.
Resi Bisma mempunyai sifat teguh hati dan pemberani. Tidak mau mengalah, karena mempunyai jiwa militer, yang berarti disiplin dan tegas. Mau mengalahkan tetapi tidak mau dikalahkan. Dia hanya tunduk kepada orang yang dihormati dan disegani. Seperti dikisahkan dalam dunia pewayangan bahwa Bisma merelakan warisan tahtanya demi menghormati dan rasa cintanya kepada ayahnya. Agar tidak mempunyai keturunan, maka Bisma tidak menikah seumur hidupnya "Wadad". Suatu gambaran betapa teguh dan tegas pendirian Bisma, walau untuk itu dia harus menderita.
Orang yang terlahir dalam pengaruh Resi Bisma ini mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, baik terhadap keluarga maupun terhadap lingkungannya. Kesadarannya bermasyarakat sangat tinggi. Dia sangat membenci ketidakadilan, berani mendobrak segala sesuatu yang dianggapnya mengkorup norma prikemanusiaan. Bahkan kalau memang dibutuhkan dia rela mempertaruhkan harta maupun kedudukannya demi membela kebenaran. Prinsipnya sangat kuat dan idealis.
Banyak orang KASADASA yang hidupnya membujang atau menikah terlambat, karena lebih mengutamakan perjuangan untuk adik-adiknya daripada memikirkan diri sendiri. Karena dia berpikir dengan dia kawin maka akan merepotkan perjuangannya untuk adik-adik dan orangtuanya. Dibantunya orang tua untuk mensukseskan adik-adiknya, baik sekolah maupun sampai berumah tangga. Dia sendiri mengalah sampai tua.
Sifat keras kepalanya itulah yang membuat tidak ada orang lain yang dapat menasehatinya. Semua langkah yang diambilnya adalah langkahnya sendiri. Dalam tata kehidupan, dia adalah orang yang mandiri, tidak mau diperintah dan sulit untuk tunduk kepada kemauan orang lain. Maka mangsa "Kasadasa" dicandra "Gedhong Minep Jroning Kayun", yang artinya "Tertutup Pintu Hatinya". Terbukti didalam kehidupan nyata, bahwa orang Kasadasa angkuh dan mudah tersinggung, tetapi agak pemalu. Pendapatnya tidak bisa dirubah orang lain, begitu pula kalau dia benci kepada seseorang, maka dendam itu tidak dapat lunas kalau tidak terbalas. Maka dikatakan pintu hatinya tertutup.
Walau begitu, dia senang membela yang lemah, kalau itu dirasakan benar bagi dia. Tidak dapat orang menghasut untuk suatu pekerjaan yang tidak disenanginya. Karena kepekaan perasaan, hati yang keras dan pemalu. Maka orang Kasadasa sering jadi korban perasaan, sering sakit hati.
Orang Kasadasa yang telah dewasa, lebih tegas dan lebih banyak menggunakan pikiran daripada perasaannya. Lebih banyak menggunakan otak daripada otot. Langkah-langkahnya telah nampak jelas, haluan dan tujuan hidupnya lebih jelas terbaca. Berani berkorban untuk kepentingan orang lain, walaupun untuk itu dia harus menderita, Sekali dia memutuskan sesuatu, tidak akan menariknya kembali.
Sebagai orang yang dilahirkan dengan pembawaan "Mandiri", maka orang "Kasadasa" dilengkapi oleh Tuhan suatu keistimewaan, yaitu pada otaknya. Pada umumnya orang "Kasadasa" rnempunyai kecerdasan yang luar biasa. Cepat dapat memecahkan suatu perkara dan pekerjaan yang pelik dan muskil.
Karena keberanian dan kecerdasannya itulah yang mengangkat dia kepuncak karirnya. Banyak orang mengaguminya. Dia sangat tekun bekerja, kalau pekerjaan itu pilihannya. Karena dia adalah manusia yang tidak mau diperintah-perintah. Sebaliknya dia senang memerintah, karena dia merasa lebih dari yang lain. Itupun diakui oleh sahabat-sahabatnya, bahwa orang "Kasadasa" mempunyai banyak kelebihan.
KEADAAN ALAM SEMESTA
Mangsa "KASADASA" berpengaruh pada Alam Semesta, pada saat itu sedang mengalami peralihan musim. Musim hujan menghadapi perubahan ke musim kemarau. Walau terkadang masih turun hujan, tetapi tidak lebat. Hawanya masih sejuk, bahkan didaerah pegunungan masih terasa dingin. Angin berhembus kencang sekali dari arah Tenggara. Hembusan angin yang kencang itu terdengar berdesau-desau dan kadang merontokkan daun-daun. Pada peralihan musim itulah datangnya Naga Jatingarang, disebut Mareng.
Tampaklah burung-burung Manyar membuat sarang. Hewan-hewan ternak seperti sapi dan kerbau mulai bunting. Sedangkan di sawah tarnpaklah pemandangan yang indah bagaikan lautan emas. Tiada lain adalah padi yang telah menguning terhembus angin pegunungan. Bergelombang-gelombang bagaikan air samudera. Petani mulai panen.
Panen atau menuai padi di sawah, adalah suatu saat yang paling gembira bagi masyarakat pedesaan. Bahkan pada saat tersebut di beberapa desa mengadakan pentas tayub, pentas wayang atau selamatan. Kesemuanya adalah suatu ungkapan rasa bersyukur atas rahmat yang telah dikaruniakan Tuhan kepada umat manusia.
KEADAAN FISIK
Orang "KASADASA" mempunyai bentuk fisik gagah berukuran sedang, wajahnya bulat telur, matanya bulat berbinar-binar, dengan sepasang alis yang cukup tebal. Hidungnya mancung, bibirnya sedang dengan ukuran mulut agak lebar. Tangan dan kakinya tidak begitu berotot. rambutnya lebat dan hitam, tetapi pada usia yang sangat muda sudah banyak rambutnya yang rontok.
Dalam hal kesehatan fisik, maka orang Kasadasa cukup sehat. Orang Kasadasa jarang terserang penyakit yang berat. Hanya penyakit umum yang disebabkan oleh kelelahan atau kurang berhati-hati memilih makanan. Kadang-kadang terserang sakit perut dan mata berkunang-kunang, tapi itupun tidak berlangsung lama.
KEADAAN MASA KANAK-KANAK
Anak-anak yang terlahir pada mangsa Kasadasa ini umumnya mempunyai pembawaan watak yang keras dan tidak mau mengalah. Sering menonjolkan kenakalan dan kebandelan.
Bila dia berbuat salah, tidak mau mengakui kesalahannya itu. Kalau dia mendapat hukuman, menganggapnya bahwa yang memberi hukuman itu berbuat tidak adil. Entah siapa saja yang menangani dia, dalam pikirannya hanya terbayang musuh. Karena memang anak "Kasadasa" terlahir sebagai prajurit atau manusia yang berjiwa militer.
Jiwanya keras, kemauannya keras, tidak mau dikalahkan, tidak mau diperintah, bahkan dia merasa dirinyalah yang terpandai diantara anak yang lain. Untuk itu, dia berlatih segala sesuatu dengan baik, belajar segala sesuatu dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Maka benar-benar anak "Kasadasa" sangat mengagumkan. Keistimewaannya adalah pada tingkat kecerdasannya yang tinggi. Mudah menyerap pengetahuan apa pun, baik dari buku maupun dari lingkungannya. Sehingga anak "Kasadasa" lebih menonjol daripada anak lainnya. Bahkan anak Kasadasa selalu tampil sebagai pemimpin, dikelasnya sebagai ketua kelas, sebagai ketua OSIS, dan begitu juga di luar sekolah dia juga bisa tampil sebagai pemimpin. Kenyataannya memang banyak hal yang dapat diselesaikan oleh anak Kasadasa dibanding anak lainnya.
Budinya yang bersifat keras harus mendapat bimbingan yang baik dari pihak-pihak pendidik dan orang tua. Karena mendidik anak "Kasadasa" dengan kekerasan akan mengembangkan jiwa keras pada diri anak itu. Sabar dan harus Hati-hati, karena masa kanak-kanak itu adalah masa pembentukan jiwa.
KEADAAN MASA REMAJA
Masa remaja kelahiran mangsa "KASADASA" adalah melanjutkan alur kehidupan dari masa kanak-kanak. Jadi apa yang mempengaruhi pada masa kanak-kanak itulah yang membentuk jiwa remaja "Kasadasa".
Sifat keprajuritan anak "Kasadasa" terus berlanjut, tegas, disiplin dan mudah marah. Tetapi setelah kurun waktu remaja tiba, sifat mudah marahnya itu lebih terarah untuk hal-hal yang positif. Artinya sifat pemarahnya itu dapat disalurkan untuk mendalami suatu ilmu dengan membakar semangatnya. "Mengapa saya tidak bisa?", adalah pertanyaan-pertanyaan yang mencambuknya untuk giat belajar.
Pemalu, dia akan merasa malu kalau kekurangannya sampai diketahui orang lain. Maka dia akan berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan proporsi dirinya, sehingga dia merasa bahwa dirinya sudah menduduki rangking teratas.
Kepemimpinan, bahwa remaja kelahiran mangsa "Kasadasa" mempunyai ambisi memimpin yang sangat tinggi. Karena dia sendiri tidak mau dipimpin oleh orang lain. Untuk mencapai kedudukan sebagai orang yang patut menjadi pemimpin, maka remaja Kasadasa terus berusaha untuk meningkatkan kwalitas dirinya. Baik dalam segi ilmu pengetahuan, kebiasaan atau ketrampilan apapun, dan kewibawaan. Dengan suatu keyakinan bahwa dia adalah yang terpandai, maka remaja Kasadasa dapat tampil kedepan dengan optimis. Kenyataannya memang begitu, banyak remaja Kasadasa yang tampil menjadi pemimpin. Dalam hal ini memberikan bimbingan dan membina kawan-kawannya yang membutuhkan pertolongan.
Orang kelahiran Kasadasa mempunyai kesenangan bepergian, oleh karenanya banyak proyek-proyek yang dikerjakan terbengkalai. Ide-idenya banyak yang sebenarnya kalau dikelola dengan baik akan baik sekali jadinya. Tetapi sifatnya yang selalu bergerak, kemudian mempunyai ide yang lain lagi. Sehingga semuanya tidak menghasilkan suatu apapun. Proyek-proyek yang dibuatnya itu sebenarnya mempunyai tujuan untuk menolong orang lain, memberikan lapangan kerja dan menyalurkan bakat.
Maka dengan pengalaman-pengalaman itu, dia harus menyadari dan mau bekerja sama dengan orang lain yang bersifat untuk mengelola cetusan-cetusan ide orang Kasadasa itu. Kalau bisa terjadi hal tersebut, maka usaha orang Kasadasa dapat sukses.
CIRI KHAS
Bicara tentang orang Kasadasa, pastilah ada suatu petunjuk sebagai suatu tanda yang khas orang Kasadasa. Ciri khas ini bukan suatu yang dapat dirahasiakan. Misalnya seperti postur tubuh, sepak terjang dan budi pekerti. Artinya penampilannya, semua itu tidak dapat dibuat-buat atau disembunyikan.
Bila kita ketemu dengan seseorang yang serba grusa-grusu dan dalam melakukan segala sesuatu tampak tergesa-gesa. Kemudian tampak penampilannya seperti orang gelisah, tangannya memegang benda apa saja yang berada di sekitarnya, kemudian dalam organisasi selalu berambisi untuk membuat suatu evolusi dan revolusi, perombakan-perombakan dan reorganisasi. Itulah salah satu ciri khas orang Kasadasa.
Selain daripada itu, ada-ada saja ulahnya pada saat dia berbicara dengan orang lain, untuk menutupi kegugupannya. Apalagi bila berhadapan dengan lawan jenisnya, dia akan tampak gugup sekali. Namun menjadi kebiasaan dan ciri khas orang Kasadasa, walaupun kalah tidak mau mengakui kekalahannya.
IKATAN PERSAHABATAN
Orang kelahiran mangsa "KASADASA" pada umumnya pandai bergaul, oleh sebab itu dia mempunyai banyak kenalan. Pergaulannya cukup luas.
Dalam pergaulan itu tentu saja ada kawan, rekan dan sahabat. Sahabat adalah kawan yang dapat menyimpan rahasia, memberikan pertolongan, baik moral maupun materi. Sahabat bisa diibaratkan seperti saudara kandung sendiri. Maka dapat diistilahkan mencari kawan mudah tetapi memelihara persahabatan sukar. Orang kelahiran mangsa "KASADASA" dapat mengikat tali persahabatan yang kokoh dengan orang yang kelahirannya jatuh pada Mangsa "KANEM" (10 November - 22 Desember), kemudian dapat juga bersahabat dengan baik dengan kelahiran Mangsa "KARO" (3 Agustus - 25 Agustus).
Dua zodiak itu adalah pilihan yang dapat dijadikan sahabat sejati, artinya sahabat kepercayaan segala rahasia, sampai rahasia pribadi. Begitu juga dapat cocok dengan sesama kelahiran mangsa "KASADASA", hanya kadang ada sedikit keretakan kalau kebetulan ada perbedaan pendapat, kadang saling ngotot. Tapi itupun hanya berlangsung selintas, kemudian akan baik kembali.
Dengan petunjuk tiga mangsa sebagai calon sahabat karib itu, bukan berarti menutup suatu kemungkinan untuk berkawan dengan mangsa lainnya. Namun hanya sekedar kawan dan rekan, karena dengan mereka ini sering banyak hal-hal yang bertentangan serta riskan sekali kalau untuk membicarakan atau mengelola suatu usaha patungan. Walaupun orang "Kasadasa" tidak senang bekerja secara patungan. Tetapi telah menjadi sifat orang Kasadasa senang bergaul, senang berkawan, bahkan senang berorganisasi. Tentu saja dalam pergaulan tidak mungkin untuk memilih-milih kelompok kelahiran atau mangsa, karena di dunia ini terdiri dari berbagai macam manusia dengan berbagai mangsa kelahirannya. Begitu juga saudara satu ayah, satu ibu, tidak mungkin terdiri dari "Kasadasa" semua.
Yang penting adalah memelihara ketentraman, memelihara kedamaian dan kenyamanan dalam pergaulan jangan ada kendala-kendala.
KEADAAN KESEHATAN
Orang "KASADASA" pada umumnya mempunyai kwalitas kesehatan yang baik. Sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga masa tua. Tetapi ada beberapa penyakit ringan yang lazim, yaitu influenza dan gangguan pada pencernaannya. Khususnya bagi orang Kasadasa kelahiran hari "Senin", jaga benar-benar kesehatan perutnya.
Selain itu ada kemungkinan dapat sakit pada bagian syaraf tangan. Penyakit ini ada kecenderungan terkena bagi yang terlahir pada hari "Selasa". Tentu saja hal ini bisa dicegah dengan cara olah raga, istirahat secara teratur, dan menjaga pola & menu makanan.
Gangguan mata dapat juga mengancam orang Kasadasa kelahiran hari Rabu dan Jumat, karena mempunyai kelemahan pada mata dan ginjal. Pemeliharaannya adalah dengan olah raga, minum yang cukup, mengkonsumsi wortel dan minum madu.
Bagi orang Kasadasa kelahiran hari Kamis dan Sabtu, kelemahannya pada telinga dan hati. Pencegahannya adalah olah raga, istirahat yang cukup, dan jaga pola & menu makanan.
PEKERJAAN YANG COCOK
Pekerjaan bisa dikatakan cocok kalau sesuai dengan sifat dan bakat seseorang. Maka orang itu akan mengerjakannya dengan perasaan tenang dan gembira, hasil pekerjaannya pun sangat memuaskan.
Bagi orang Kasadasa pada dasarnya pekerjaan yang paling cocok adalah pekerjaan "wirasembada" tanpa campur tangan orang lain. Walaupun begitu, menurut ahli Kejawen dalam hal ini Astrologi Jawa membagi kelompok hari kelahiran orang Kasadasa menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
1. Eka
Kelompok ini adalah kelahiran dari hari Minggu, Rabu dan Jumat. Orang Kasadasa kelompok pertama ini yang paling cocok adalah sebagai wiraswasta, mendirikan perusahaan yang ada hubungannya dengan pertanian, kemudian dapat juga sebagai wartawan.
2. Dwi
Kelompok ini adalah kelahiran hari Senin. Orang Kasadasa kelompok kedua ini mempunyai bakat dibidang pekerjaan yang baik adalah sebagai pemandu wisata. Tetapi dapat juga mendirikan usaha leveransir bahan bangunan, atau bekerja dibidang bangunan.
3. Tri
Kelompok ini adalah kelahiran hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Orang Kasadasa kelompok ketiga ini pekerjaan yang paling cocok baginya adalah sebagai pengarang. Selain itu dapat juga menjadi aktor/aktris baik teater maupun film. Juga dapat menjadi pelukis, sekretaris, mandor bangunan. Kalau pendidikan tinggi dapat memilih bidang kedokteran, Arsitektur, atau menjadi Dosen.
Tetapi yang harus selalu diingat oleh orang Kasadasa, bahwa dirinya tidak mau diperintah oleh siapa pun, kecuali orang tuanya dan orang yang dicintainya.
REJEKI & PENGHIDUPAN
Pada umumnya orang kelahiran mangsa "KASADASA" mempunyai tingkat alur perjalanan hidup yang baik, rejekinya cukup lumayan. Ditopang pula dengan berbagai kemampuannya mandiri, sehingga sejak masih remaja sudah dapat mencari uang. Walau begitu, Astrolog Kejawen membuat rumusan untuk membedakan satu dengan yang lain dalam kelompok kelahiran mangsa Kasadasa itu menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Eka
Kelompok ini adalah kelahiran hari Minggu, Rabu dan Jumat. Orang Kasadasa dalam kelompok pertama ini adalah orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang paling baik. Tidak pernah kekurangan uang. Dia sangat pandai bergaul, sehingga banyak koneksi dan banyak yang mendukung dalam urusan apa saja. Segala yang diusahakannya selalu sukses dan mendatangkan keuntungan moral maupun uang. Hal tersebut berlanjut hingga hari tua, anak-anaknya sukses dalam pendidikan tinggi.
2. Dwi
Kelompok ini adalah kelahiran hari Senin. Orang Kasadasa kelompok kedua ini mengutamakan uluran tangan dan inspirasi orang kedua. Baik itu lingkungan keluarga, sahabat, dan masyarakat. Dengan dukungan merekalah semua usahanya akan berjalan. Walau pada umumnya orang Kasadasa jarang kekurangan uang, tetapi tanpa usaha yang keras, tidak akan berhasil meningkatkan tingkat sosialnya.
3. Tri
Kelompok ini adalah kelahiran hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Orang Kasadasa kelompok ketiga ini agak kurang baik keberuntungannya. Setiap langkah yang dikerjakan seringkali mengalami kegagalan, walaupun tidak berarti bangkrut sama sekali, tetapi selalu mengalami kesulitan. Namun karena orang "Kasadasa" mempunyai sifat tabah, ulet dan disiplin militer yang kuat, setelah umur mencapai 30 tahun khususnya bagi yang terlahir dengan weton Selasa Kliwon, Kamis Pon, dan Sabtu Paing, maka keadaan ekonominya akan meningkat baik sekali. Bahkan kalau ulet dan hemat akan mencapai keberhasilan di hari tuanya.
SAAT YANG TEPAT
Dalam perhitungan Astrologi Jawa, maka ada saat-saat ketika orang mengerjakan sesuatu berhasil dengan baik, tetapi ada hari-hari yang lain, bila untuk mengerjakan sesuatu mengalami kegagalan. Tentu saja hal itu menjadi kepastian setelah mengalami penelitian berkali-kali. Hasilnya merupakan kesimpulan parapsikolog.
Berdasarkan penelitian Horoskop Jawa maka saat terbaik untuk melakukan pekerjaan yang terpenting adalah pada tanggal 5 Desember, karena pada saat itu terjadi kulminasi. Lebih-lebih kalau pada saat tanggal tersebut jatuh pada hari Selasa, itu lebih baik lagi.
Setidaknya usahakan segala yang terpenting dilakukan pada tanggal 5 Desember, karena pada saat itu Resi Bisma sedang menurunkan pancaran saktinya dan limpahan Rahmat Ilahi. Dampaknya, terbukalah kiat kemudahan upaya apapun yang semula mengalami kesulitan.
Tanggal 5 Desember itu berjalan terus setiap tahunnya, artinya setiap tahun ada pemberkahan Agung. Hal ini khususnya bagi kelahiran mangsa "Kasadasa".
HOBI
Bagi orang kelahiran mangsa "Kasadasa" ada beberapa hobi, antara lain:
1. Melukis, baik natural maupun abstrak.
2. Musik, baik rock maupun pop.
3. Membaca, fiksi, non fiksi dan sastra.
4. Mengarang dan koresponden.
5. Seni pentas.
6. Panjat tebing.
JODOH
Orang kelahiran mangsa "KASADASA" sebenarnya dekat jodohnya, baik itu pria maupun wanita. tetapi pada umumnya akan menikah setelah umurnya lebih dari 29 tahun, hal itu terjadi karena dia merasa ikut bertanggung jawab terhadap masa depan adik-adiknya. Hari-harinya diperuntukkan memikirkan keluarga, membantu mencari uang sekolah, bahkan memikirkan masa depan adik-adiknya. Setelah semua tuntas, barulah dirinya sendiri dipikirkan.
Padahal orang Kasadasa bukanlah orang yang tidak mempunyai gairah seks. Baik laki-laki maupun wanita "Kasadasa" mempunyai gairah seks yang cukup tinggi. Termasuk hangat dalam permainan ranjang.
Bagi orang kelahiran mangsa "KASADASA" jodohnya adalah dengan kelahiran mangsa "KARO" (3 Agustus - 25 Agustus), kemudian dapat pula berjodoh dengan kelahiran mongso "KANEM" (10 November - 22 Desember), tetapi dengan orang "KASADASA"pun dapat pula cocok dan harmonis.
Tentu saja tidak menghilangkan suatu kemungkinan perkawinan dengan mangsa-mangsa yang lain. Kalau terjadi, menurut para ahli Astrologi Jawa, akan mendatangkan ketidak harmonisan, sering ribut, tidak saling terbuka, saling mencurigai. Walhasil akan terjadi perceraian atau pisah ranjang. Sedapat mungkin harus dihindari bentuk perkawinan tersebut.
BATU PERMATA YANG COCOK
Ada beberapa batu permata atau batu Aji yang cocok bagi orang kelahiran mangsa "KASADASA", adalah sebagai berikut:
1. Amathyst = Kecubung Asihan
Batu permata ini mempunyai sinar ungu kemilau, baik sekali bagi orang Kasadasa yang mempunyai sifat ingin memimpin, agar pengaruhnya disayang atau dicintai orang lain. Selain itu mempunyai khasiat pula untuk mencegah mabuk minuman keras, menolak bahaya racun, dan mencegah sakit jantung.
2. Aquamarin = Sinar laut hijau
Batu permata ini baik sekali kilauannya seperti kemilaunya laut Arafuru, indah dan mengesankan rasa damai serta anggun. Selain keindahan sinarnya, mempunyai khasiat mencegah penyakit liver, penyakit pencernaan, dan penyakit lemah badan.
3. Intan = Diamond
Intan dinamakan juga batu mulia karena mempunyai kekerasan dan harga yang lebih tinggi daripada batu permata lainnya. Diamond yang asli mempunyai harga standar yang cukup tinggi, biasa dipakai oleh orang-orang kaya, bangsawan, raja, atau orang-orang terkemuka. Kilauannya sangat indah, dapat memancarkan sinar yang beraneka warna. Khasiatnya menolak segala ilmu hitam dan menentramkan pikiran.
4. Badar Besi = Heliotrope
Badar besi batunya hitam dan kalau didekatkan magnet dapat melekat. Biasanya yang memakai batu ini adalah kaum pria, untuk permata cincin. Pemakainya akan tampak jantan. Kalau dipandang dari segi khasiat, maka batu ini mempunyai pengaruh meningkatkan keberanian, terhindar dari dihinaan orang, dan meningkatkan kewibawaan.
WARNA YANG IDEAL
Ada beberapa jenis warna yang cocok bagi kelahiran Kasadasa, yaitu Merah Tua dan Kuning. Dua jenis warna itu adalah warna ideal yang dapat dipakai untuk busana maupun interior dalam rumah atau pada karpet lantai.
BUNGA
Bunga yang cocok dan membangkitkan gairah hidup bagi orang Kasadasa adalah bunga Mawar Merah, Gradiol Merah Tua, dan lilly Kuning. Demikianlah bunga-bunga itu bagi orang Kasadasa akan mendatangkan pengaruh mistik dan dampaknya akan menunjang daya kehidupannya.
Bila perjalanan Wuku Kuruwelut memasuki orbit mangsa "Kasadasa", maka terjadilah perubahan dari ketentuan asli Wuku tersebut. Hal itu besar sekali artinya bagi kehidupan dan penghidupan seseorang, maupun perisUwa-peristiwa Alam Semesta.
Pengaruh Wuku Kuruwelut. Dewa: Batara Wisnu. Candra: Tirta wening. Seseorang yang terlahir dalam Wuku tersebut sifatnya Waspada dan jujur. Penghidupannya kaya dan tidak diganggu penjahat. Kemudian akan terjadilah perubahan-perubahan pengaruh kosmis, akibat cahaya zodiak yang disebut F-korona mempunyai pengaruh kuat sekali terhadap A1am Semesta dan kehidupan.
WASESA SEGARA: Berbudi luhur, pemaaf, berlapang dada dan mempunyai kewibawaan. Teliti dan berhati-hati dalam memutuskan segala sesuatu. Bicara terbuka dan jujur, keras dan disiplin, tetapi mempunyai tenggang rasa. Bila dia marah, sukar untuk diredakan. Segala langkah dan perbutannya sangat berhati-hati, tetapi mempunyai pandangan hidup yang luas. Maka tidak mengherankan kalau sukses dalam spekulasi perdagangan, pelayaran, karena besar rejekinya.
MINGGU WAGE
Mereka yang lahir di hari Minggu Wage konon bersifat pemurah dan mudah menaruh iba. Mereka tahu cara-cara untuk menghibur orang yang sedang menderita. Mereka merupakan pekerja keras pula. Akan tetapi, mereka terkadang terlalu teguh dalam pendirian -- bahkan sangat keras kepala! Meskipun mereka pandai menenangkan perasaan orang lain, mereka tidak akan menunjukkan perasaan mereka sendiri dengan mudah. Mungkinkah hal ini merupakan pengendalian emosi dari diplomat, doktor UGD, atau pemadam kebakaran, atau justru kewaspadaan yang berlebihan terhadap kemungkinan disakiti oleh orang-orang yang telah mereka percayai? Mereka sendiri yang harus menjawab pertanyaan ini.
KASADASA - Gedhong Minep Jroning Kayun
27 Maret - 19 April
KEADAAN UMUM
Mereka yang terlahir pada tanggal 27 Maret - 19 April, adalah kelahiran mangsa "KASADASA", dapat juga di sebut sebagai Orang Kasadasa. Pada mangsa Kasadasa, sering terdengar desiran angin kencang, karena pada saat itu adalah perubahan musim, dari musim hujan ke musim kemarau, dengan candranya, "Gedhong Minep Jroning Kayun", yang artinya "Pintu Gerbang Tertutup Didalam Hati". Lamanya orbit 24 hari, dalam pengaruh Resi Bisma. Disebut juga mangsa Mareng.
Resi Bisma mempunyai sifat teguh hati dan pemberani. Tidak mau mengalah, karena mempunyai jiwa militer, yang berarti disiplin dan tegas. Mau mengalahkan tetapi tidak mau dikalahkan. Dia hanya tunduk kepada orang yang dihormati dan disegani. Seperti dikisahkan dalam dunia pewayangan bahwa Bisma merelakan warisan tahtanya demi menghormati dan rasa cintanya kepada ayahnya. Agar tidak mempunyai keturunan, maka Bisma tidak menikah seumur hidupnya "Wadad". Suatu gambaran betapa teguh dan tegas pendirian Bisma, walau untuk itu dia harus menderita.
Orang yang terlahir dalam pengaruh Resi Bisma ini mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, baik terhadap keluarga maupun terhadap lingkungannya. Kesadarannya bermasyarakat sangat tinggi. Dia sangat membenci ketidakadilan, berani mendobrak segala sesuatu yang dianggapnya mengkorup norma prikemanusiaan. Bahkan kalau memang dibutuhkan dia rela mempertaruhkan harta maupun kedudukannya demi membela kebenaran. Prinsipnya sangat kuat dan idealis.
Banyak orang KASADASA yang hidupnya membujang atau menikah terlambat, karena lebih mengutamakan perjuangan untuk adik-adiknya daripada memikirkan diri sendiri. Karena dia berpikir dengan dia kawin maka akan merepotkan perjuangannya untuk adik-adik dan orangtuanya. Dibantunya orang tua untuk mensukseskan adik-adiknya, baik sekolah maupun sampai berumah tangga. Dia sendiri mengalah sampai tua.
Sifat keras kepalanya itulah yang membuat tidak ada orang lain yang dapat menasehatinya. Semua langkah yang diambilnya adalah langkahnya sendiri. Dalam tata kehidupan, dia adalah orang yang mandiri, tidak mau diperintah dan sulit untuk tunduk kepada kemauan orang lain. Maka mangsa "Kasadasa" dicandra "Gedhong Minep Jroning Kayun", yang artinya "Tertutup Pintu Hatinya". Terbukti didalam kehidupan nyata, bahwa orang Kasadasa angkuh dan mudah tersinggung, tetapi agak pemalu. Pendapatnya tidak bisa dirubah orang lain, begitu pula kalau dia benci kepada seseorang, maka dendam itu tidak dapat lunas kalau tidak terbalas. Maka dikatakan pintu hatinya tertutup.
Walau begitu, dia senang membela yang lemah, kalau itu dirasakan benar bagi dia. Tidak dapat orang menghasut untuk suatu pekerjaan yang tidak disenanginya. Karena kepekaan perasaan, hati yang keras dan pemalu. Maka orang Kasadasa sering jadi korban perasaan, sering sakit hati.
Orang Kasadasa yang telah dewasa, lebih tegas dan lebih banyak menggunakan pikiran daripada perasaannya. Lebih banyak menggunakan otak daripada otot. Langkah-langkahnya telah nampak jelas, haluan dan tujuan hidupnya lebih jelas terbaca. Berani berkorban untuk kepentingan orang lain, walaupun untuk itu dia harus menderita, Sekali dia memutuskan sesuatu, tidak akan menariknya kembali.
Sebagai orang yang dilahirkan dengan pembawaan "Mandiri", maka orang "Kasadasa" dilengkapi oleh Tuhan suatu keistimewaan, yaitu pada otaknya. Pada umumnya orang "Kasadasa" rnempunyai kecerdasan yang luar biasa. Cepat dapat memecahkan suatu perkara dan pekerjaan yang pelik dan muskil.
Karena keberanian dan kecerdasannya itulah yang mengangkat dia kepuncak karirnya. Banyak orang mengaguminya. Dia sangat tekun bekerja, kalau pekerjaan itu pilihannya. Karena dia adalah manusia yang tidak mau diperintah-perintah. Sebaliknya dia senang memerintah, karena dia merasa lebih dari yang lain. Itupun diakui oleh sahabat-sahabatnya, bahwa orang "Kasadasa" mempunyai banyak kelebihan.
KEADAAN ALAM SEMESTA
Mangsa "KASADASA" berpengaruh pada Alam Semesta, pada saat itu sedang mengalami peralihan musim. Musim hujan menghadapi perubahan ke musim kemarau. Walau terkadang masih turun hujan, tetapi tidak lebat. Hawanya masih sejuk, bahkan didaerah pegunungan masih terasa dingin. Angin berhembus kencang sekali dari arah Tenggara. Hembusan angin yang kencang itu terdengar berdesau-desau dan kadang merontokkan daun-daun. Pada peralihan musim itulah datangnya Naga Jatingarang, disebut Mareng.
Tampaklah burung-burung Manyar membuat sarang. Hewan-hewan ternak seperti sapi dan kerbau mulai bunting. Sedangkan di sawah tarnpaklah pemandangan yang indah bagaikan lautan emas. Tiada lain adalah padi yang telah menguning terhembus angin pegunungan. Bergelombang-gelombang bagaikan air samudera. Petani mulai panen.
Panen atau menuai padi di sawah, adalah suatu saat yang paling gembira bagi masyarakat pedesaan. Bahkan pada saat tersebut di beberapa desa mengadakan pentas tayub, pentas wayang atau selamatan. Kesemuanya adalah suatu ungkapan rasa bersyukur atas rahmat yang telah dikaruniakan Tuhan kepada umat manusia.
KEADAAN FISIK
Orang "KASADASA" mempunyai bentuk fisik gagah berukuran sedang, wajahnya bulat telur, matanya bulat berbinar-binar, dengan sepasang alis yang cukup tebal. Hidungnya mancung, bibirnya sedang dengan ukuran mulut agak lebar. Tangan dan kakinya tidak begitu berotot. rambutnya lebat dan hitam, tetapi pada usia yang sangat muda sudah banyak rambutnya yang rontok.
Dalam hal kesehatan fisik, maka orang Kasadasa cukup sehat. Orang Kasadasa jarang terserang penyakit yang berat. Hanya penyakit umum yang disebabkan oleh kelelahan atau kurang berhati-hati memilih makanan. Kadang-kadang terserang sakit perut dan mata berkunang-kunang, tapi itupun tidak berlangsung lama.
KEADAAN MASA KANAK-KANAK
Anak-anak yang terlahir pada mangsa Kasadasa ini umumnya mempunyai pembawaan watak yang keras dan tidak mau mengalah. Sering menonjolkan kenakalan dan kebandelan.
Bila dia berbuat salah, tidak mau mengakui kesalahannya itu. Kalau dia mendapat hukuman, menganggapnya bahwa yang memberi hukuman itu berbuat tidak adil. Entah siapa saja yang menangani dia, dalam pikirannya hanya terbayang musuh. Karena memang anak "Kasadasa" terlahir sebagai prajurit atau manusia yang berjiwa militer.
Jiwanya keras, kemauannya keras, tidak mau dikalahkan, tidak mau diperintah, bahkan dia merasa dirinyalah yang terpandai diantara anak yang lain. Untuk itu, dia berlatih segala sesuatu dengan baik, belajar segala sesuatu dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Maka benar-benar anak "Kasadasa" sangat mengagumkan. Keistimewaannya adalah pada tingkat kecerdasannya yang tinggi. Mudah menyerap pengetahuan apa pun, baik dari buku maupun dari lingkungannya. Sehingga anak "Kasadasa" lebih menonjol daripada anak lainnya. Bahkan anak Kasadasa selalu tampil sebagai pemimpin, dikelasnya sebagai ketua kelas, sebagai ketua OSIS, dan begitu juga di luar sekolah dia juga bisa tampil sebagai pemimpin. Kenyataannya memang banyak hal yang dapat diselesaikan oleh anak Kasadasa dibanding anak lainnya.
Budinya yang bersifat keras harus mendapat bimbingan yang baik dari pihak-pihak pendidik dan orang tua. Karena mendidik anak "Kasadasa" dengan kekerasan akan mengembangkan jiwa keras pada diri anak itu. Sabar dan harus Hati-hati, karena masa kanak-kanak itu adalah masa pembentukan jiwa.
KEADAAN MASA REMAJA
Masa remaja kelahiran mangsa "KASADASA" adalah melanjutkan alur kehidupan dari masa kanak-kanak. Jadi apa yang mempengaruhi pada masa kanak-kanak itulah yang membentuk jiwa remaja "Kasadasa".
Sifat keprajuritan anak "Kasadasa" terus berlanjut, tegas, disiplin dan mudah marah. Tetapi setelah kurun waktu remaja tiba, sifat mudah marahnya itu lebih terarah untuk hal-hal yang positif. Artinya sifat pemarahnya itu dapat disalurkan untuk mendalami suatu ilmu dengan membakar semangatnya. "Mengapa saya tidak bisa?", adalah pertanyaan-pertanyaan yang mencambuknya untuk giat belajar.
Pemalu, dia akan merasa malu kalau kekurangannya sampai diketahui orang lain. Maka dia akan berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan proporsi dirinya, sehingga dia merasa bahwa dirinya sudah menduduki rangking teratas.
Kepemimpinan, bahwa remaja kelahiran mangsa "Kasadasa" mempunyai ambisi memimpin yang sangat tinggi. Karena dia sendiri tidak mau dipimpin oleh orang lain. Untuk mencapai kedudukan sebagai orang yang patut menjadi pemimpin, maka remaja Kasadasa terus berusaha untuk meningkatkan kwalitas dirinya. Baik dalam segi ilmu pengetahuan, kebiasaan atau ketrampilan apapun, dan kewibawaan. Dengan suatu keyakinan bahwa dia adalah yang terpandai, maka remaja Kasadasa dapat tampil kedepan dengan optimis. Kenyataannya memang begitu, banyak remaja Kasadasa yang tampil menjadi pemimpin. Dalam hal ini memberikan bimbingan dan membina kawan-kawannya yang membutuhkan pertolongan.
Orang kelahiran Kasadasa mempunyai kesenangan bepergian, oleh karenanya banyak proyek-proyek yang dikerjakan terbengkalai. Ide-idenya banyak yang sebenarnya kalau dikelola dengan baik akan baik sekali jadinya. Tetapi sifatnya yang selalu bergerak, kemudian mempunyai ide yang lain lagi. Sehingga semuanya tidak menghasilkan suatu apapun. Proyek-proyek yang dibuatnya itu sebenarnya mempunyai tujuan untuk menolong orang lain, memberikan lapangan kerja dan menyalurkan bakat.
Maka dengan pengalaman-pengalaman itu, dia harus menyadari dan mau bekerja sama dengan orang lain yang bersifat untuk mengelola cetusan-cetusan ide orang Kasadasa itu. Kalau bisa terjadi hal tersebut, maka usaha orang Kasadasa dapat sukses.
CIRI KHAS
Bicara tentang orang Kasadasa, pastilah ada suatu petunjuk sebagai suatu tanda yang khas orang Kasadasa. Ciri khas ini bukan suatu yang dapat dirahasiakan. Misalnya seperti postur tubuh, sepak terjang dan budi pekerti. Artinya penampilannya, semua itu tidak dapat dibuat-buat atau disembunyikan.
Bila kita ketemu dengan seseorang yang serba grusa-grusu dan dalam melakukan segala sesuatu tampak tergesa-gesa. Kemudian tampak penampilannya seperti orang gelisah, tangannya memegang benda apa saja yang berada di sekitarnya, kemudian dalam organisasi selalu berambisi untuk membuat suatu evolusi dan revolusi, perombakan-perombakan dan reorganisasi. Itulah salah satu ciri khas orang Kasadasa.
Selain daripada itu, ada-ada saja ulahnya pada saat dia berbicara dengan orang lain, untuk menutupi kegugupannya. Apalagi bila berhadapan dengan lawan jenisnya, dia akan tampak gugup sekali. Namun menjadi kebiasaan dan ciri khas orang Kasadasa, walaupun kalah tidak mau mengakui kekalahannya.
IKATAN PERSAHABATAN
Orang kelahiran mangsa "KASADASA" pada umumnya pandai bergaul, oleh sebab itu dia mempunyai banyak kenalan. Pergaulannya cukup luas.
Dalam pergaulan itu tentu saja ada kawan, rekan dan sahabat. Sahabat adalah kawan yang dapat menyimpan rahasia, memberikan pertolongan, baik moral maupun materi. Sahabat bisa diibaratkan seperti saudara kandung sendiri. Maka dapat diistilahkan mencari kawan mudah tetapi memelihara persahabatan sukar. Orang kelahiran mangsa "KASADASA" dapat mengikat tali persahabatan yang kokoh dengan orang yang kelahirannya jatuh pada Mangsa "KANEM" (10 November - 22 Desember), kemudian dapat juga bersahabat dengan baik dengan kelahiran Mangsa "KARO" (3 Agustus - 25 Agustus).
Dua zodiak itu adalah pilihan yang dapat dijadikan sahabat sejati, artinya sahabat kepercayaan segala rahasia, sampai rahasia pribadi. Begitu juga dapat cocok dengan sesama kelahiran mangsa "KASADASA", hanya kadang ada sedikit keretakan kalau kebetulan ada perbedaan pendapat, kadang saling ngotot. Tapi itupun hanya berlangsung selintas, kemudian akan baik kembali.
Dengan petunjuk tiga mangsa sebagai calon sahabat karib itu, bukan berarti menutup suatu kemungkinan untuk berkawan dengan mangsa lainnya. Namun hanya sekedar kawan dan rekan, karena dengan mereka ini sering banyak hal-hal yang bertentangan serta riskan sekali kalau untuk membicarakan atau mengelola suatu usaha patungan. Walaupun orang "Kasadasa" tidak senang bekerja secara patungan. Tetapi telah menjadi sifat orang Kasadasa senang bergaul, senang berkawan, bahkan senang berorganisasi. Tentu saja dalam pergaulan tidak mungkin untuk memilih-milih kelompok kelahiran atau mangsa, karena di dunia ini terdiri dari berbagai macam manusia dengan berbagai mangsa kelahirannya. Begitu juga saudara satu ayah, satu ibu, tidak mungkin terdiri dari "Kasadasa" semua.
Yang penting adalah memelihara ketentraman, memelihara kedamaian dan kenyamanan dalam pergaulan jangan ada kendala-kendala.
KEADAAN KESEHATAN
Orang "KASADASA" pada umumnya mempunyai kwalitas kesehatan yang baik. Sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga masa tua. Tetapi ada beberapa penyakit ringan yang lazim, yaitu influenza dan gangguan pada pencernaannya. Khususnya bagi orang Kasadasa kelahiran hari "Senin", jaga benar-benar kesehatan perutnya.
Selain itu ada kemungkinan dapat sakit pada bagian syaraf tangan. Penyakit ini ada kecenderungan terkena bagi yang terlahir pada hari "Selasa". Tentu saja hal ini bisa dicegah dengan cara olah raga, istirahat secara teratur, dan menjaga pola & menu makanan.
Gangguan mata dapat juga mengancam orang Kasadasa kelahiran hari Rabu dan Jumat, karena mempunyai kelemahan pada mata dan ginjal. Pemeliharaannya adalah dengan olah raga, minum yang cukup, mengkonsumsi wortel dan minum madu.
Bagi orang Kasadasa kelahiran hari Kamis dan Sabtu, kelemahannya pada telinga dan hati. Pencegahannya adalah olah raga, istirahat yang cukup, dan jaga pola & menu makanan.
PEKERJAAN YANG COCOK
Pekerjaan bisa dikatakan cocok kalau sesuai dengan sifat dan bakat seseorang. Maka orang itu akan mengerjakannya dengan perasaan tenang dan gembira, hasil pekerjaannya pun sangat memuaskan.
Bagi orang Kasadasa pada dasarnya pekerjaan yang paling cocok adalah pekerjaan "wirasembada" tanpa campur tangan orang lain. Walaupun begitu, menurut ahli Kejawen dalam hal ini Astrologi Jawa membagi kelompok hari kelahiran orang Kasadasa menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
1. Eka
Kelompok ini adalah kelahiran dari hari Minggu, Rabu dan Jumat. Orang Kasadasa kelompok pertama ini yang paling cocok adalah sebagai wiraswasta, mendirikan perusahaan yang ada hubungannya dengan pertanian, kemudian dapat juga sebagai wartawan.
2. Dwi
Kelompok ini adalah kelahiran hari Senin. Orang Kasadasa kelompok kedua ini mempunyai bakat dibidang pekerjaan yang baik adalah sebagai pemandu wisata. Tetapi dapat juga mendirikan usaha leveransir bahan bangunan, atau bekerja dibidang bangunan.
3. Tri
Kelompok ini adalah kelahiran hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Orang Kasadasa kelompok ketiga ini pekerjaan yang paling cocok baginya adalah sebagai pengarang. Selain itu dapat juga menjadi aktor/aktris baik teater maupun film. Juga dapat menjadi pelukis, sekretaris, mandor bangunan. Kalau pendidikan tinggi dapat memilih bidang kedokteran, Arsitektur, atau menjadi Dosen.
Tetapi yang harus selalu diingat oleh orang Kasadasa, bahwa dirinya tidak mau diperintah oleh siapa pun, kecuali orang tuanya dan orang yang dicintainya.
REJEKI & PENGHIDUPAN
Pada umumnya orang kelahiran mangsa "KASADASA" mempunyai tingkat alur perjalanan hidup yang baik, rejekinya cukup lumayan. Ditopang pula dengan berbagai kemampuannya mandiri, sehingga sejak masih remaja sudah dapat mencari uang. Walau begitu, Astrolog Kejawen membuat rumusan untuk membedakan satu dengan yang lain dalam kelompok kelahiran mangsa Kasadasa itu menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Eka
Kelompok ini adalah kelahiran hari Minggu, Rabu dan Jumat. Orang Kasadasa dalam kelompok pertama ini adalah orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang paling baik. Tidak pernah kekurangan uang. Dia sangat pandai bergaul, sehingga banyak koneksi dan banyak yang mendukung dalam urusan apa saja. Segala yang diusahakannya selalu sukses dan mendatangkan keuntungan moral maupun uang. Hal tersebut berlanjut hingga hari tua, anak-anaknya sukses dalam pendidikan tinggi.
2. Dwi
Kelompok ini adalah kelahiran hari Senin. Orang Kasadasa kelompok kedua ini mengutamakan uluran tangan dan inspirasi orang kedua. Baik itu lingkungan keluarga, sahabat, dan masyarakat. Dengan dukungan merekalah semua usahanya akan berjalan. Walau pada umumnya orang Kasadasa jarang kekurangan uang, tetapi tanpa usaha yang keras, tidak akan berhasil meningkatkan tingkat sosialnya.
3. Tri
Kelompok ini adalah kelahiran hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Orang Kasadasa kelompok ketiga ini agak kurang baik keberuntungannya. Setiap langkah yang dikerjakan seringkali mengalami kegagalan, walaupun tidak berarti bangkrut sama sekali, tetapi selalu mengalami kesulitan. Namun karena orang "Kasadasa" mempunyai sifat tabah, ulet dan disiplin militer yang kuat, setelah umur mencapai 30 tahun khususnya bagi yang terlahir dengan weton Selasa Kliwon, Kamis Pon, dan Sabtu Paing, maka keadaan ekonominya akan meningkat baik sekali. Bahkan kalau ulet dan hemat akan mencapai keberhasilan di hari tuanya.
SAAT YANG TEPAT
Dalam perhitungan Astrologi Jawa, maka ada saat-saat ketika orang mengerjakan sesuatu berhasil dengan baik, tetapi ada hari-hari yang lain, bila untuk mengerjakan sesuatu mengalami kegagalan. Tentu saja hal itu menjadi kepastian setelah mengalami penelitian berkali-kali. Hasilnya merupakan kesimpulan parapsikolog.
Berdasarkan penelitian Horoskop Jawa maka saat terbaik untuk melakukan pekerjaan yang terpenting adalah pada tanggal 5 Desember, karena pada saat itu terjadi kulminasi. Lebih-lebih kalau pada saat tanggal tersebut jatuh pada hari Selasa, itu lebih baik lagi.
Setidaknya usahakan segala yang terpenting dilakukan pada tanggal 5 Desember, karena pada saat itu Resi Bisma sedang menurunkan pancaran saktinya dan limpahan Rahmat Ilahi. Dampaknya, terbukalah kiat kemudahan upaya apapun yang semula mengalami kesulitan.
Tanggal 5 Desember itu berjalan terus setiap tahunnya, artinya setiap tahun ada pemberkahan Agung. Hal ini khususnya bagi kelahiran mangsa "Kasadasa".
HOBI
Bagi orang kelahiran mangsa "Kasadasa" ada beberapa hobi, antara lain:
1. Melukis, baik natural maupun abstrak.
2. Musik, baik rock maupun pop.
3. Membaca, fiksi, non fiksi dan sastra.
4. Mengarang dan koresponden.
5. Seni pentas.
6. Panjat tebing.
JODOH
Orang kelahiran mangsa "KASADASA" sebenarnya dekat jodohnya, baik itu pria maupun wanita. tetapi pada umumnya akan menikah setelah umurnya lebih dari 29 tahun, hal itu terjadi karena dia merasa ikut bertanggung jawab terhadap masa depan adik-adiknya. Hari-harinya diperuntukkan memikirkan keluarga, membantu mencari uang sekolah, bahkan memikirkan masa depan adik-adiknya. Setelah semua tuntas, barulah dirinya sendiri dipikirkan.
Padahal orang Kasadasa bukanlah orang yang tidak mempunyai gairah seks. Baik laki-laki maupun wanita "Kasadasa" mempunyai gairah seks yang cukup tinggi. Termasuk hangat dalam permainan ranjang.
Bagi orang kelahiran mangsa "KASADASA" jodohnya adalah dengan kelahiran mangsa "KARO" (3 Agustus - 25 Agustus), kemudian dapat pula berjodoh dengan kelahiran mongso "KANEM" (10 November - 22 Desember), tetapi dengan orang "KASADASA"pun dapat pula cocok dan harmonis.
Tentu saja tidak menghilangkan suatu kemungkinan perkawinan dengan mangsa-mangsa yang lain. Kalau terjadi, menurut para ahli Astrologi Jawa, akan mendatangkan ketidak harmonisan, sering ribut, tidak saling terbuka, saling mencurigai. Walhasil akan terjadi perceraian atau pisah ranjang. Sedapat mungkin harus dihindari bentuk perkawinan tersebut.
BATU PERMATA YANG COCOK
Ada beberapa batu permata atau batu Aji yang cocok bagi orang kelahiran mangsa "KASADASA", adalah sebagai berikut:
1. Amathyst = Kecubung Asihan
Batu permata ini mempunyai sinar ungu kemilau, baik sekali bagi orang Kasadasa yang mempunyai sifat ingin memimpin, agar pengaruhnya disayang atau dicintai orang lain. Selain itu mempunyai khasiat pula untuk mencegah mabuk minuman keras, menolak bahaya racun, dan mencegah sakit jantung.
2. Aquamarin = Sinar laut hijau
Batu permata ini baik sekali kilauannya seperti kemilaunya laut Arafuru, indah dan mengesankan rasa damai serta anggun. Selain keindahan sinarnya, mempunyai khasiat mencegah penyakit liver, penyakit pencernaan, dan penyakit lemah badan.
3. Intan = Diamond
Intan dinamakan juga batu mulia karena mempunyai kekerasan dan harga yang lebih tinggi daripada batu permata lainnya. Diamond yang asli mempunyai harga standar yang cukup tinggi, biasa dipakai oleh orang-orang kaya, bangsawan, raja, atau orang-orang terkemuka. Kilauannya sangat indah, dapat memancarkan sinar yang beraneka warna. Khasiatnya menolak segala ilmu hitam dan menentramkan pikiran.
4. Badar Besi = Heliotrope
Badar besi batunya hitam dan kalau didekatkan magnet dapat melekat. Biasanya yang memakai batu ini adalah kaum pria, untuk permata cincin. Pemakainya akan tampak jantan. Kalau dipandang dari segi khasiat, maka batu ini mempunyai pengaruh meningkatkan keberanian, terhindar dari dihinaan orang, dan meningkatkan kewibawaan.
WARNA YANG IDEAL
Ada beberapa jenis warna yang cocok bagi kelahiran Kasadasa, yaitu Merah Tua dan Kuning. Dua jenis warna itu adalah warna ideal yang dapat dipakai untuk busana maupun interior dalam rumah atau pada karpet lantai.
BUNGA
Bunga yang cocok dan membangkitkan gairah hidup bagi orang Kasadasa adalah bunga Mawar Merah, Gradiol Merah Tua, dan lilly Kuning. Demikianlah bunga-bunga itu bagi orang Kasadasa akan mendatangkan pengaruh mistik dan dampaknya akan menunjang daya kehidupannya.
Bila perjalanan Wuku Kuruwelut memasuki orbit mangsa "Kasadasa", maka terjadilah perubahan dari ketentuan asli Wuku tersebut. Hal itu besar sekali artinya bagi kehidupan dan penghidupan seseorang, maupun perisUwa-peristiwa Alam Semesta.
Pengaruh Wuku Kuruwelut. Dewa: Batara Wisnu. Candra: Tirta wening. Seseorang yang terlahir dalam Wuku tersebut sifatnya Waspada dan jujur. Penghidupannya kaya dan tidak diganggu penjahat. Kemudian akan terjadilah perubahan-perubahan pengaruh kosmis, akibat cahaya zodiak yang disebut F-korona mempunyai pengaruh kuat sekali terhadap A1am Semesta dan kehidupan.
WASESA SEGARA: Berbudi luhur, pemaaf, berlapang dada dan mempunyai kewibawaan. Teliti dan berhati-hati dalam memutuskan segala sesuatu. Bicara terbuka dan jujur, keras dan disiplin, tetapi mempunyai tenggang rasa. Bila dia marah, sukar untuk diredakan. Segala langkah dan perbutannya sangat berhati-hati, tetapi mempunyai pandangan hidup yang luas. Maka tidak mengherankan kalau sukses dalam spekulasi perdagangan, pelayaran, karena besar rejekinya.
Me: ARIES
ARIES, Mar 21 – Apr 19
Aries is the first Sign of the Zodiac. It represents birth and the first realization of Self. Additionally, because it represents the beginning of the Astrological year, people born under this Sign like to get things started. They tend to display strong leadership, and their extroverted and assertive natures let them lead off the new cycle eagerly. They are the pioneers of the Zodiac, tramping courageously into the wilderness. Aries is the Sign of new beginnings. They are dynamic and active, as befits the beginning of the Astrological cycle. As the first Sign, Aries also rules the first House: the House of Self, also known as the House of Personality.
Symbol: the Ram
Like the popular conception of the Ram, Aries people are able to accomplish many things by sheer energy and force of will: “ramming” their way to their goals. In this way, Aries exemplifies the Cardinal Quality assigned to it. Arians can be blunt, and they are bold and strong. Within the Zodiac, Aries is opposite Libra, the Scales of Balance, so Aries tend to be about self and ego rather than the balance between people. They are self-contained, and sometimes selfish, but they are not loners.
Ruled by: the Planet Mars
In ancient Roman mythology, Mars (and his Greek equivalent, Ares) was the God of War. He was bold, aggressive, energetic, and courageous. On the negative side, he was impulsive and compulsive, quick-tempered, and he could give in to anger and a will for destruction. Mars rules both Aries and Scorpio; Aries is the masculine (day) aspect of Mars and Scorpio is the feminine (night). Both Signs are associated with war: Aries is on the front lines and Scorpio is the strategist. Mars was active and high-spirited, full of physical energy and vitality; and the Aries-born reflect his leadership and initiative. They are strongly independent and determined, and have the physical stamina to stay their course. They tend to be very competitive, and may sometimes seem arrogant, domineering, or intolerant. But all these qualities make Aries the natural choice to initiate projects and get things started. They are adept at “taking the ball and running with it,” and projects tend to progress quickly under their guidance. But a well-run project may become boring for Aries, and they can lack follow-through and lose interest before it’s completed. Many successful Aries learn to discipline themselves to see their projects through to completion.
The Element associated with Aries is Fire
Fire Signs are physical: they tend to respond to the world through action, rather than practicality, intellect, or emotion. When presented with a new project or idea, their innate enthusiasm and need for challenge cause them to jump in right away, leading the way. One of their great skills is reaching beyond normal limitations. Occasionally their tendency for haste and hurry can get them into trouble if they don’t think things through carefully, and this can lead to frustration. At times, people can think they are brash, rude, and inconsiderate. But Aries is only doing what the Ram’s nature tells them to do. As soon as they discover a new project, all else is forgotten!
Arians tend to want what they want and when they want it. Aries need to accept that this isn’t always possible, and stop butting their heads, Ramlike, into the nearest wall. This is a valuable lesson that enables them to develop their understanding of themselves. But because of the ego that can manifest itself in Aries, some Rams may feel that they are the center of the universe. Aries who wish to develop themselves learn that they are part of the larger order of all people.
In their leisure time, Aries tend to play as hard as they work at the office. They greatly enjoy athletics, as sports give them a positive and healthy outlet for some of their natural aggression. They appreciate both individual challenge, especially aerobics, as well as the group challenge of football and soccer. Working out some of their great physical energy on the playing field helps them focus better once they return to the office. In love relationships, Aries is playful and romantic. Aries rules the head, face, and brain. People born under Aries may be more susceptible to headaches and nosebleeds than people of other Signs. Red is the color of Mars and is often associated with physical action and war, so it is natural color for Aries.
The great strength of the Aries-born is in their energy, initiative, and courage. Their ability to take a project and go with it is unparalleled. The fire they bring to their lives makes them one of the most dynamic characters of the Zodiac.
Source: http://www.ncbuy.com/entertainment/astrology/aries-about.html
Aries is the first Sign of the Zodiac. It represents birth and the first realization of Self. Additionally, because it represents the beginning of the Astrological year, people born under this Sign like to get things started. They tend to display strong leadership, and their extroverted and assertive natures let them lead off the new cycle eagerly. They are the pioneers of the Zodiac, tramping courageously into the wilderness. Aries is the Sign of new beginnings. They are dynamic and active, as befits the beginning of the Astrological cycle. As the first Sign, Aries also rules the first House: the House of Self, also known as the House of Personality.
Symbol: the Ram
Like the popular conception of the Ram, Aries people are able to accomplish many things by sheer energy and force of will: “ramming” their way to their goals. In this way, Aries exemplifies the Cardinal Quality assigned to it. Arians can be blunt, and they are bold and strong. Within the Zodiac, Aries is opposite Libra, the Scales of Balance, so Aries tend to be about self and ego rather than the balance between people. They are self-contained, and sometimes selfish, but they are not loners.
Ruled by: the Planet Mars
In ancient Roman mythology, Mars (and his Greek equivalent, Ares) was the God of War. He was bold, aggressive, energetic, and courageous. On the negative side, he was impulsive and compulsive, quick-tempered, and he could give in to anger and a will for destruction. Mars rules both Aries and Scorpio; Aries is the masculine (day) aspect of Mars and Scorpio is the feminine (night). Both Signs are associated with war: Aries is on the front lines and Scorpio is the strategist. Mars was active and high-spirited, full of physical energy and vitality; and the Aries-born reflect his leadership and initiative. They are strongly independent and determined, and have the physical stamina to stay their course. They tend to be very competitive, and may sometimes seem arrogant, domineering, or intolerant. But all these qualities make Aries the natural choice to initiate projects and get things started. They are adept at “taking the ball and running with it,” and projects tend to progress quickly under their guidance. But a well-run project may become boring for Aries, and they can lack follow-through and lose interest before it’s completed. Many successful Aries learn to discipline themselves to see their projects through to completion.
The Element associated with Aries is Fire
Fire Signs are physical: they tend to respond to the world through action, rather than practicality, intellect, or emotion. When presented with a new project or idea, their innate enthusiasm and need for challenge cause them to jump in right away, leading the way. One of their great skills is reaching beyond normal limitations. Occasionally their tendency for haste and hurry can get them into trouble if they don’t think things through carefully, and this can lead to frustration. At times, people can think they are brash, rude, and inconsiderate. But Aries is only doing what the Ram’s nature tells them to do. As soon as they discover a new project, all else is forgotten!
Arians tend to want what they want and when they want it. Aries need to accept that this isn’t always possible, and stop butting their heads, Ramlike, into the nearest wall. This is a valuable lesson that enables them to develop their understanding of themselves. But because of the ego that can manifest itself in Aries, some Rams may feel that they are the center of the universe. Aries who wish to develop themselves learn that they are part of the larger order of all people.
In their leisure time, Aries tend to play as hard as they work at the office. They greatly enjoy athletics, as sports give them a positive and healthy outlet for some of their natural aggression. They appreciate both individual challenge, especially aerobics, as well as the group challenge of football and soccer. Working out some of their great physical energy on the playing field helps them focus better once they return to the office. In love relationships, Aries is playful and romantic. Aries rules the head, face, and brain. People born under Aries may be more susceptible to headaches and nosebleeds than people of other Signs. Red is the color of Mars and is often associated with physical action and war, so it is natural color for Aries.
The great strength of the Aries-born is in their energy, initiative, and courage. Their ability to take a project and go with it is unparalleled. The fire they bring to their lives makes them one of the most dynamic characters of the Zodiac.
Source: http://www.ncbuy.com/entertainment/astrology/aries-about.html
Subscribe to:
Posts (Atom)




