Saturday, May 28, 2011

MENGENDAPKAN

Akhirnya itu yang terakhir kupilih diantara ketidakpastian kekeruhan masalah yang kurang lebih sebulan ini terjadi. Mengendap dengan mengurangi teman daripada menambah musuh. Sebab endapan kunilai masih punya setitik harapan kejernihan ketika bagian keruh telah terpisah ke bawah, artinya aku memang berharap someday ketika semua telah dapat berpikir lebih jernih, keputusan dan kondisi akan lebih baik.

Ikhwal cerita adalah ketika sore itu tiba2 terbersit ide tetangga kamar sebelah untuk mengajak perempuan itu makan diluar. Aku menyuruhnya bertanya, adakah aku boleh bergabung. Namun ia menolak. Satu keputusan yang udah bikin cenat cenut angkaraku. Tapi si tetangga sebelah kamar menenangkan, biarkan perempuan itu bercerita padanya dulu agar titik permasalahan lebih jelas. Meski begitu, harga diriku kembali terusik.

Penuturan dari mulut perempuan itu mencengangkanku. Aku bukan kaget, heran setengah mati karena untuk ketiga kalinya kembali alasan yang ia utarakan diluar nalar. Ia mempermasalahkan guyonanku dan caraku yang agak memaksa dahulu. Emosiku meninggi, tak terima pastinya!

Bayangkan, ia menganggap guyonanku bikin ia tak nyaman; Hello, aku mengenalmu tahunan, dan guyonan2 seperti itu bukan pertama kalinya. Di fesbuk pun guyonan kayak gitu kau ladeni, pun saksi anak kost sering mendengar guyonan yang sama dalam keseharian. Lalu kenapa guyonan via sms itu ia permasalahkan? Apa karena ia meniru teman kantornya untuk alibi alasan yang sama? Kalo teman kantornya merasa tak nyaman bagiku wajar karena aku belum sampai sebulan kenal, nah kalo dia, sudah tahunan, ibarat kata bokerku pun ia tahu apalagi dengan keakraban kami. Tapi kalo sekarang ia bilang ia tidak nyaman denganku, kok yo kebacut alias dah telat banget bukan?!!

Kembali alasan konyol itu harus kuhargai. Karena itu hakmu, meski di hati tak bisa kuterima. Sama ketika di dua alasan sebelumnya gedeg banget liat aku dan mukaku yang nyeremin. Alasan yang tak bisa dinalar untuk orang yang sama2 tinggal satu atap tahunan.

Ia juga mempermasalahkan ketika agak memaksanya untuk ngobrol nyelesein masalah. Ya mungkin ini beda persepsi aja, bagiku ketika ada masalah ya cepat2 diselesaikan dan sudah clear ya everything goes on the way it path soon. Tapi ia mungkin lebih suka mencicil. Okelah aku mungkin salah disini, dan aku meminta maaf padanya untuk hal ini. Beda otak beda penyelesaian, mungkin.

Siang kemarin aku mengiriminya sebuah pesan pendek panjang lebar. Tentang permintaan maafku dan keputusanku untuk tak lagi menganggap satu sama lain saling mengenal. Kalau memang ia merasa tak nyaman maka merasa nyamanlah dengan keberadaan ketidakberadaanku di satu atap yang sama. Aku yakin tak akan mudah, begitu juga bagiku. Menutup kenangan, mengubur kebersamaan dan pura2 tak saling kenal di satu lokasi yang sama terlampau menyiksa!

Sayangnya, kau tak punya keberanian untuk mengutarakan langsung padaku. Tiap diajak bicara menghindar seolah aku model orang yang tak bisa diajak berdialog. Padahal jika ia ingat kebersamaan kami dulu, apa yang tidak ia ceritakan padaku dan apa yang tidak aku dengarkan darinya, begitu juga sebaliknya. Hmm, entah apa yang membuatnya demikian banyak berubah. Pastinya tak ada yang berubah dariku, jikalau ia merasa perubahan itu baik untuknya maka aku tak akan memaksakan apa yang sebenarnya baik untukku.

Semoga saja ia lekas belajar untuk menghargai orang lain! Just remembering, what u spread is what u get...

No comments: