Tuesday, May 17, 2011

Ternyata Kau Lebih Konyol!

Akhir libur panjang kali ini rencananya akan dihabiskan ke pantai. Sejak kemarin aku meng-sms cah cilik yang kian akrab dalam pesan pendek dan dia bersedia ikut, pun seorang perempuan lagi yang mulai karib denganku. Tinggal satu orang lagi, inti dari rencana perjalanan ini, tapi ia kemudian menolak. Dan meluruhkan keseluruhan rencana ini pada akhirnya!

Namun tak jadi ke pantai bukan berarti tak ada cerita. Sepagian dan sesiangan aku terlibat pesan pendek dengan perempuan yang menemaniku nonton teater malming lalu. Bercerita aktivitas dan pekerjaan. Kemudian tercetus untuk tilik bayi teman kantor yang juga CS nya nanti sore.

Pun pagi harinya ada kejadian yang sungguh bikin aku campur aduk, antara marah, ketawa dan jengkel. Perempuan yang sedang "berseteru" denganku berulah! Tak biasanya ia memasak pakai acara dibarengi sang bodyguard. Sontak aku kian meninggi, kemarin ia menolak bicara empat mata malah ngajak enam mata ama si bodyguard ini yang lantas kutepis habis. Siapa yang tak jengkel, menyelesaikan persoalan internal kok malah melibatkan pihak lain, yang bukan malah mempercerah tapi memperkeruh! Aku sebenarnya bisa memahami posisi si bodyguard ini, tapi kalau ia bisa lebih bijak tentu ia akan menyarankan yang lebih netral tanpa keberpihakan.

Lain lagi tingkah perempuan satunya. Perempuan yang kutaksir itu tiba2 sms: "Nanti jam setengah 8 aku ke kostmu, kamu ada di kost kan?". Aku hanya jawab singkat: "Kayaknya ada!". Bukan apa-apa, karena sorenya aku ada rencana tilik bayi dan juga nyamperin rumah temen. Tapi aku juga penasaran ada apa mendadak perempuan itu ingin segera menyelesaikan masalah?

Sorenya, temanku jadi ke kost hendak tilik bayi. Kelucuan kembali terulang ketika untuk kedua kali dalam sehari perempuan konflik itu masak ditemani sang bodyguard. Aku sudah benar2 tak habis fikir!

Sang waktu berjalan cepat. Ditambah obrolan ideologi, pekerjaan, cerita masa muda dll, aku dan temanku terdampar di warung Pem-Pek yang kalo gak karena dia aku gak bakal makan disana. Mahal bo! Lagian rasanya juga agak mirip yang murahan pinggir jalan. Jam setengah delapan kurang dikit, aku meminta beranjak dari sana. Tapi si perempuan yang hendak menyelesaikan masalah denganku belum juga datang padahal ia sudah telat hampir seperempat jam. Aku tidak suka jam karet! Baru hendak ku sms, temanku melarang:
"Jangan sms, kalo ia pikir nyelesein masalah denganmu adalah hal penting baginya, maka ia yang akan sms! Kalo dia tidak sms, maka itu tidak dianggapnya penting. Jadi ngapain kamu yang memulai?"
Benar juga! Aku suka cara berpikir perempuan ini, liberal tapi berperasaan.
Tak berselang lama, perempuan itu sms: "Ntar lagi aku nyampe kostmu!"
Temanku beranjak pulang. Ketika aku mengantar ke depan, kami berpapasan dengan perempuan yang ingin bicara denganku itu. Dan tebak ia bersama siapa? Seorang laki-laki. Aku ngikik abis. Apa maksudnya coba?

Perempuan itu kemudian sms. "Jadi ngobrol gak, kok disapa diam aja!". Haha aku memang hanya menyungging senyum ketika berpapasan tadi karena kupikir ia akan menemui temannya di kost baru kemudian akan bicara denganku. Makanya ketika bertemu muka tadi aku hanya senyum dan nganter temanku sampai ujung gang.

Pertemuan yang menggelikan. Setidaknya aku menganggapnya demikian. Perempuan itu kalo boleh dibilang salting. Kami bercakap, ya penegasan sesuai yang memang ingin kuutarakan, bahwa perasaanku kini tak lagi penting karena lebih penting pertemanan. Aku meminta maaf karena telah membuat ia tak nyaman dengan perdebatan seksualitas tempo hari. Kami saling meminta maaf dan bagiku clear sudah persoalan kami.

Aku lalu jujur bilang bahwa tingkahnya pake bawa cowok itu sangat menggelikanku. "Lalu kau pikir dengan begitu aku akan cemburu?". Nggak ngaru sama sekali kalee..

Yang penting urusanku dengannya sudah selesai. Aku gak akan ambil pusing besok-besok ia akan cuek, acuh atau tak menyapa. Bagiku ketika unek2ku telah tersampaikan langsung, apa yang terjadi setelahnya adalah urusannya, bukan urusanku lagi.

Pelajaran darinya adalah aku akan lebih berhati-hati "mencekoki" hetero dengan ideologi yang mungkin belum pernah dijamah oleh pikirannya. Yup, and thanks 4 making me one step forward on my heart journey, being brave to say what's on my heart, not to much thinking the effect, just DO IT then forget the result!

No comments: