Topik ketemu lagi berulang, kali ini perempuan yang berbeda. Ia si cah cilik, anak SMA yang masih menyisakan konflik denganku....
Sejak beberapa waktu lalu kami kerap ber-sms. Tapi ia tak tahu kalau itu nomerku. Kami saling menginformasikan event-event kesenian/teater, pun tak ketinggalan pentas teater yang akan digelar hari ini dimana aku menjadi bagian tiketingnya. Beberapa hari lalu aku sudah meng-sms dan ia mengkonfirm akan hadir, aku bertanya-tanya bagaimana sikapnya ketika ia tahu aku si pengirim sms mengingat dua kali pertemuan kami sebelumnya berlangsung "buruk" dengan saling membuang muka.
Malam pun bergulir. Acara sejam akan dimulai. Ia tak kunjung datang. Aku mengiriminya pesan pendek.
"Aku datang. Otw."
Aku tak konsen. Terus terang selama melayani tiket otakku berpindah merangkai kejadian lain. Kebetulan penonton yang datang mayoritas kukenal jadi aku perlu basa basi ke mereka, padahal benakku entah dimana.
"Heh, kamu tuh bagian tiketing, duduk disini aja, dari tadi ada yang cari kamu!" ujar bagian tiketing satunya protes karena aku "mejeng" menyapa orang2 yang kukenal.
"Iya nih, tadi ada yang kurus nanyain, yang kacamata juga nanyain, tapi kamu nya gak ada!"
Well, okay, akhirnya aku duduk saja. Perempuan itu meng-sms mengabarkan ia sedang di kantin depan. Aku menyuruhnya masuk. Ketika sibuk ngobrol dengan penonton lain, perempuan itu datang...
Memakai kaos oblong biru dan senyuman yang memamerkan gingsulnya ia menyapa. Dan bukan hanya menyapa, ia bahkan "tanpa permisi" duduk menempel di sebelahku dan kami ngobrol. Sungguh kejadian yang aneh! Batinku berkata: Come on, apa kau tak ingat dua pertemuan kita sebelumnya?
Tapi aku tak membahasnya. Aku juga bertingkah seolah tak pernah ada "konflik" diantara kita. Mulai dari obrolan basi, rencana pendidikan usai kelulusannya hingga penurunan merk hape yang dipunyainya, ya pertemuan malam itu diluar prediksiku, sungguh!
Di dalam gedung aku mencari sosoknya. Ada sedikit hati yang terbelah ketika mata kami bertemu. Ditambah kehadiran tante yang "homophobic" itu, sikapnya menjadi lain. But overall, I dont care bout this feeling anymore. Ya, perasaan ini sebenarnya sudah mati, aku hanya mengapplaus pada sang waktu yang pada akhirnya membereskan segalanya.
Pulang dari acara, hujan mengguyur lumayan deras. Aku melihatnya di kantin depan bersama tantenya. Senyum di bibirku memang merekah, tapi anehnya aku tak merasakan hujan membasahi tubuhku karena sepertinya sepanjang perjalanan pulang pikiran terpisah dari badan. Sesampai di rumah baru nyadar tubuh kuyup. Beranjak tidur dan keesokan hari sudah tak merasa apa-apa lagi...
Sehabis tidur biasanya otak bisa berfikir lebih jernih. Meredefinisi!
No comments:
Post a Comment