Monday, May 30, 2011

Finished... Case Closed!!!

Hmm, akhirnya selesai juga! Dengan ending yang sangat klasik!

Pagi kemarin ia libur, seperti biasa ia memasak. Aku sedang mendengarkan musik di kamar dengan pintu terbuka. Kudengar ia memanggil. Aku menyahut datar.
"Kau marah ya?" tanyanya sembari mencuci alat dapur.
"Ngapaen marah, aku cuma memenuhi keinginanmu!" teriakku dari kamar. Beberapa kali aku menyahut tanpa beranjak, lama2 gak enak juga nyahutin tereak2, aku menghampirinya di dapur.
Aku membahas alasan2nya yang tak masuk akal. Dan airmatanya mulai menitik. Gampang sekali menangis, detik berikutnya tertawa. Mudah sekali berganti suasana. Ah, tak mau membahas kelabilannya satu itu. Obrolan -seperti biasa- terhenti oleh kedatangan makhluk2 tak diundang.

Sejam berikutnya aku mengirim pesan pendek mengajaknya bicara. Ia mengiyakan setelah ia selesai mandi nanti. Menunggu sembari nggombesi tetangga depan kamar yang pindah pagi ini. Bahkan ketika perempuan yang akan kuajak bicara hati ke hati itu mengirim sms ia telah siap ngobrol aku menahan sebentar, karena perempuan tetangga depan ini tak akan kulihat lagi.
"Ya, kita nggak akan ketemu lagi," ucapnya manja seperti biasa.
"Bisa aja ketemu, kamu kan bisa kesini,"
"Iya kalo kamu ada di kost, kalo gak?"
"Ya makanya kontak2an dulu dong..."
"Hmm, bilang aja kalau mau minta nomer hapeku!" godanya menohok.
"Udah tau nanya!" sahutku terkekeh. Ia tertawa. "Ya kalo ga keberatan, kalo keberatan juga gak papa,"
Ia mengeja nomer hape nya untuk ku miskol. Hahay jebakan player berhasil! Wkwkwkwk. Ia berpamitan dengan kusuruh mencium tanganku, ia malah balik menyorongkan tangannya untuk dicium olehku. Ah ada2 aja. Usai itu aku melepasnya pergi dan aku beranjak ke atas menemui perempuan yang hendak kuajak bicara heart by heart.

Ia sudah menunggu sembari nonton tivi. Obrolan yang tak begitu lama karena setengah sebelas aku sudah ada janji dengan perempuan lain di Galeria. Tapi obrolan yang berkualitas. Aku pun mengaku aku menyayanginya tapi ada hal2 yang kupikirkan jauh ke belakang dibanding perasaan. Karena kuanggap akan lebih baik seperti dulu2 tak terucap tapi terlakukan. Toh menyayangi tak perlu memiliki. Tapi ingat, ketika disayangi jangan pernah tinggi hati atau memanfaatkan rasa sayang orang lain, karena sesayang2nya aku toh logikaku lebih jalan daripada hati.

Aku rasa kini semua akan kembali seperti biasa. Dengan perubahan sudut pandang tentunya, sudut pandang hati dan pikiran. We're loving each other, just that, and it's enough to be like that...

No comments: