Persoalan satu sudah terurai, menyisakan satu persoalan lagi. Gak tau apa namanya, seperti efek rumah kaca, satu masalah menyebabkan masalah lain.
Ya, masalahku dengan perempuan satu ini hanya jeda sehari dengan perempuan temannya itu. Aku merasa ia berubah sikap, cuek, tapi hanya kepadaku. Pada yang lain ia masih bisa tertawa. Tak mau berlarut, aku menemuinya. Daripada berasumsi, mending klarifikasi. Tapi yang kudapat waktu itu hanya tetes airmata tanpa kata. Jeda berapa hari, mungkin hatinya sudah tenang, ia mulai menyapa, aku yang gantian berang! Bagaimana mungkin setelah bermuka masam padaku, ia dapat berganti riang tanpa seucap maaf atau penjelasan? Aku balas menanggapinya dingin. Bagiku ini bukan sekali dua kali ia begini, ia harus belajar menghargai orang lain dan tidak berbuat seenak udelnya.
Beberapa hari berlalu, beberapa teman menyarankan untuk menyudahi perang dingin ini. Katanya, ia takut denganku yang mungkin masih marah padanya. Ya sudahlah, aku pikir masak karena nila setitik rusak susu sebelanga. Aku mengingat masa-masa manis itu dan meng-smsnya. Mengajaknya untuk bicara dari hati ke hati. Lama, tak ada jawaban! Bajingan, harga diriku mulai terusik! Aku anggap itu terakhir kali aku merendahkan diriku setelah malam itu aku menyingkirkan gengsi untuk menanyakan apa sebab ia tiba2 berubah sikap. Habis maghrib aku mendapat jawaban sms yang justru membuatku naik pitam. Ia mau bicara asal ditemani tetangga kamarnya, apa-apaan ini! Emosiku meninggi! Bagaimana bisa persoalan internal ia bawa2 orang lain. Ia mungkin berasumsi kalau malam itu aku mengajak tetangga kamarku untuk menemaniku berbicara dengannya menjelaskan detil perasaanku pada temannya, kenapa ia juga tak boleh sekarang bawa teman. Hmm, pemikiran apa-apaan itu! Ia menyamakan kondisi untuk masalah yang tak sama! Aku jengah! Emosi yang kian meradang! Pun sikapnya yang makin aneh2 saja, diluar habit!
Tapi jujur aku marah padanya bukan karena benci, "bermusuhan" dengannya sungguh mengganggu pikiranku, bukan hanya hati tapi juga pekerjaan gak konsen. Melewati hari yang melambat dengan alur pikiran dan tujuan nggak jelas. Aku cuma pengen masalah ini nggak berlarut2!
Hingga setelah maghrib smsnya mampir.
"Masih mau bicara gak?"
"Ya, tapi tanpa bodyguard2-an!"
"OK. Bicara berdua saja di bawah tangga."
Selang berapa detik panggilan "khas"nya padaku terdengar. Kami duduk berhadapan. Ia agak salting kukira, memotong2 bunga kering di vas diatas meja.
"Ngapain e kamu?"
"Gak papa, aku suka motong2in!"
Well okay. Setidaknya meski agak kaku, tapi masing2 sudah saling senyum. Kebiasaan burukku dari dulu adalah semarah2nya aku tapi kalo dah berhadapan muka, pasti ilang semua dan senyum2 kayak ga ada masalah.
"Kamu mau bicara apa?"
Aku sebenarnya ingin membalik pertanyaan karena seharusnya dia lah yang menjelaskan perilaku anehnya. Aku tak memerlukan ia bercerita masalah pribadinya, hanya kenapa ia tiba2 cuek.
"Aku gedeg banget liat mukamu!"
Alisku mengernyit. "Alasannya?"
"Aku gak tau, pokoknya gedeg banget!" Ia lalu beralasan bahwa gedegnya sama kayak waktu ia gedeg ama tetangga kamarnya dulu.
"Alasan apa itu? Ga bisa gitu dunk! Alasan ga bisa di excuse!"
"Ya, kamu kan minta alasan, ya itu alasanku!"
Sudahlah, percuma dilanjutkan. Aku tetap pada tujuanku malam ini, mengakhiri perang dingin, meski alasannya tak bisa diterima akal sehatku!
"Aku juga takut mukamu yang nyeremin..."
"Nyeremin gimana?" Alisku mulai naik.
"Nah kayak gitu itu, mukamu jelek banget kalo gitu, gila serem banget tuh anak disapa dan ditanyain mukanya jawabnya kayak gitu!"
"Jadi kamu takut dengan mukaku?"
"Iya."
Meski alasannya untuk kedua kali juga tak bisa di excuse ya sudahlah yang penting masalah beres. Obrolan berikutnya sudah mulai cair. Bercerita tentang temannya yang bawa cowok yang ternyata bukan pacarnya tapi mantan pacarnya. Makin ngikik saja aku! Perbincangan kami tak lama karena terpotong kedatangan teman yang langsung nangkring. Ia berjanji melanjutkan obrolan seusai ia makan. Janji yang kemudian teringkari...
Ya, tak apalah, at least we already talk and everything come back to the way it path. Sedikit tersenyum masalah sudah terungkap...
No comments:
Post a Comment