Wednesday, July 31, 2013

Kebetulan Yang Disengaja!


Aku, #MonMon, dan #Uhuy dengan sebuah hotel yang mengiriskannya..

Perempuan itu bercerita bahwa ia sedang ada agenda kantor di sebuah hotel lumayan terkenal. Kebetulannya, aku pernah menempati salah satu kamar di hotel tersebut. Hubungannya dengan MonMon, hotel itu menjadi saksi bisu ketika lututku masih terasa lemas akan 'kejadian' itu padahal dua hari telah berselang.

Ruang kamar hotel tersebut menyaksikan bagaimana aku sembunyi-sembunyi menenggelamkan suara demi tidak mengganggu teman sekamarku, meneduhkan keriuhan hati yang masih bereuforia. Ritme hati masih menyisakan detakan-detakan riang tiap suara itu melekat di telinga, mengingatkanku akan suara itu ketika malam yang membuat lututku lemas hingga menginjakkan kaki di ibukota.

Dan di hotel yang sama, entah di ruang yang mana, perempuan itu kini sedang menekuni aktivitasnya bersama teman-teman sekerja.

Dan kenapa aku menyebutnya kebetulan yang disengaja, karena memang temanya adalah kebetulan hotel besar itu menjadi irisan antara aku dan MonMon dengan aku dan perempuan itu. Yang membuatnya menjadi sengaja adalah bahwa aku memaksakannya sebagai sesuatu yang kebetulan menyatukan kami, tepatnya menyatu di otakku untuk kuhubung-hubungkan. Dua perempuan yang sukses mengisi hati yang bahkan salah satunya masih punya taji di hati.

Aku mungkin sedang rindu saja, ya merindunya!

Sunday, July 28, 2013

SURUT


Ombak pantai seberapapun elok dan menantangnya, tetap saja ada fase yang dinamakan pasang surut, begitu pula tentangperasaan... Perasaanku maksudnya...

Butuh beberapa waktu untuk kembali dari kabur usai mendengar kabar itu. Kabar yang pada awal tercetusnya membuatku menjadi seseorang yang hidup di kehidupan orang lain. Pura-pura senang, pura-pura menanyakan kabar yang sebenarnya membuatku kabur dan pura-pura bahwa aku tak terluka. Aku akhirnya lelah menghidupi kehidupan orang lain. Dan, tak tau kemana dan bagaimana cara keluarnya...

Aku memilih kompromi. Kabar itu jelas tak bisa diubah, kabur pun tak menyelesaikan masalah. Aku jelas bukan tipe manusia hobi mangkir, meski hati sudah dibuat terjungkir. Hal-hal yang kuyakini (baca: kutakutkan) akan terjadi tentang dampak kabarmu, entah kaburku atau bahkan kaburmu, pilihan yang terakhir inilah yang menguat dan mengakar di benakku. Bahwa akan ada perubahan perilaku, ada sesuatu yang tak akan sama seperti dulu. Dan pastinya kekuatiran itu begitu membuat jaring bayang-bayang semu yang mencecoki otakku dengan sesuatu bernama kehilangan akan sesuatu yang sejak awal memang tak akan kumiliki.

Namun, di lain sisi, aku juga mengenal diriku. Ketika kekuatiran itu mencuat, aku juga membangun benteng yang kusebut sebagai realita. Dan seperti yang kubilang di awal bahwa aku begitu mengenal diriku, ketika kekuatiran itu menjadi tak bertaji, maka begitulah aku mengenal diriku luar dalam.

Kadang aku merasa aku seperti ombak, akan mengalami pasang dan surut bahkan dalam ritme yang tak terduga. Itulah yang menjadi efek kabar bikin kabur tentang perempuan itu. Perasaanku yang kemudian menyurut dampak kian berseminya realita. Penyebabnya tentu bukan karena aku kalah atau ia yang menjengkalkan galah. Tak ada yang berbeda dari kami. Ia masih perempuan gengsian yang menungguku mengulurkan kata lalu ia akan mengalirkan cerita. Pun tentang makna perempuan itu dalam keseharianku, ia tetap menjadi sumbangsih terbesar yang menjadi alasan bibirku membentang luas oleh canda dan ucapan tak 'penting'nya.

Lalu, apa yang surut? Keinginanku, apa yang kuharapkan darinya. Bahwa ia -mungkin- tak akan lagi utama. Realita itu semacam ulat yang ketika membuat lubang di daun ia tak akan terlihat wujudnya, hanya bolong-bolong tak elok di mata yang bisa kau tuai sembari menyalahkan si ulat, yang bahkan -mungkin- sudah berpindah daun atau pohon. Aku tak nampak menjauh, tapi keinginanku akannya sudah tak lagi se-bergairah dulu.

Sekali lagi bukan hendak melemparkan pemikiran 'ini salah siapa?', ya kembali aku tak akan berkelit ini hanya soal bagaimana aku memahami diriku sendiri. Maka surut ini bukan berarti mengakhiri, aku sedang memberi jeda nafas bagi kekuatiranku dan tetap menikmati canda tawamu di batas yang kuingini dan mampu kutangani.

Percaya, bahwa tak akan ada yang berubah dari kesederhanaan keseharian keterbatasan aku dengan perempuan itu. Hand in hand, bukan sesuatu yang tertulis baku, ada kalanya ia menyematkan celah kecil untuk masing-masing kami menikmati dunia kami sendiri.

Aku tak menunggu ombak kembali pasang, kadang laut juga dinantikan keindahannya ketika air-air itu tak berkejaran satu sama lain. Ia akan tampak tenang membiarkan angin bersuara, pun begitulah aku saat ini... Membiarkan air kadang hanya membasahi ujung kakiku, tak menenggelamkan bawahan kain yang kupakai untuk menyatu dengan hantaman lekukan ombak.

Aku sedang menikmati surut!

Friday, July 26, 2013

Label, Mendadak Super Penting!


Ada seorang perempuan yang akhir-akhir ini menarik perhatianku. Bukan cuma wajahnya, tetapi lebih spesifik isi kepalanya. Sudah rahasia umum kalau aku memang cenderung akan langsung nyala radarnya ketika bertemu dengan orang-orang berbakat dan cerdas. Begitu juga dengan perempuan ini...

Awalnya aku terkesan dengan beberapa hasil bidikan dan sensitifitas gambar karyanya. Ya, aku memujinya. Tau sendiri kan aku hampir tak pernah memuji orang kecuali aku memang benar-benar impressed dengan karya yang artinya non-fisik dari seseorang.

Lalu muncullah interaksi-interaksi kecil itu.. Dan kupikir merupakan awalan yang bagus. Dan aku kemudian juga tertarik pada satu hal... Label!

Andro atau femme sih? Aku memang hanya bertanya-tanya sendiri. Secara penampilan ia berubah-ubah tapi cenderung androgini. Tapi kalau mendalami isi kepalanya, aku malah berpikir ia buci inside (dan parahnya aku sering jatuh hati dengan perempuan yang punya prosesor begini). Tapi pertanyaanku yang paling besar adalah soal Label-nya! Iya, label, pasti ngga percaya kan? Aku juga bukan tipe mengkotak-kotakkan orang, aku paling anti ama yang namanya pelabelan. Tapi bukan berarti aku sedang menjilat ludahku sendiri. Aku hanya curious to know!

Terserah mau disebut apa, namun tetap tidak akan mengalahkan rasa penasaranku akan label apa yang ia akui sebagai stempel yang melekat atas pribadi, perilaku, pemikiran dan penampilannya.

But believe me, kian penasaran kian tak menemukan jawab. Metode yang kugunakan boleh dibilang baru, aku memang penasaran tapi aku mencari diam-diam meski menemui kesia-siaan. Malah parahnya, ada jeda yang kian lama kian panjang. Entah bagaimana dan apa pemicunya. Perempuan itu masih menyisakan tanda tanyaku tentang labelnya. Satu dua kali dari yang terbaca tentangnya, ia tak seperti yang kukira. Label menjadi tak penting dalam dunianya dan label yang awalnya juga menjadi maha penting untuk tersurat bukan hanya tersirat yang kadang masih melintasi benakku kini sedikit demi sedikit terkuak.. Bukan tentang penjabaran apa labelnya, tetapi bahwa label menjadi super tak penting!

Ia hanyalah ia yang kadang androgin kadang feminin bahkan tak jarang memakai asesoris maskulin. Ia adalah ia yang menyukai kerumitan daripada kemudahan. Pun ia ya ia yang bahkan dengan label maha penting itu tak pernah bisa digunakan untuk mendeskripsikannya dalam satu kotak tertentu. Ia akan menjadi ia yang akan senang bersekutu dengan misteri yang bukan sengaja ia ciptakan, namun sudah mendarah daging dalam aliran hidupnya. So, label, hell ya, I don't need it as long as I keep straight forward for what's the main purpose since beginning...

Are you femme, androgin or perhaps bisexual, got no business done with that stuffs! Sejak bingkai moment dan temali kata cerita telah membuatku jatuh untuk mencinta...

Tuesday, July 23, 2013

Talking with Stranger!


Kepalaku sudah mulai terasa berat sejak kemarin. Dan malamnya adalah puncak kepenatan yang tak bisa kutanggung sendiri. Ya, aku harus membaginya! Tapi dengan siapa? Itu pertanyaan berikutnya...

Konselor. Beberapa waktu lalu ketika galau oleh asmara, aku merasa aku perlu bertemu dengan orang berprofesi tsb. Namun urung karena aku sebenarnya sudah tau pemetaan masalah dan bagaimana menyelesaikannya, hanya perlu disiplin melakoni tahap recovery yang kadang tak kuikuti dan harus selalu memulai dari awal lagi.

Itu soal asmara, tapi kali ini bukan tentang hati, meski aku butuh orang dengan profesi yang sama. Dan kebingungan yang sama.. Mendapatkan orang yang bisa dipercaya dan tak akan ember ke orang lain atas segala ceritamu, aku sangat tidak percaya orang itu ada dalam lingkaran pertemananku. Konselor yang juga menjadi teman sejaringan bagiku rentan menyimpan kerahasiaan, meski punya kode etik bla bla bla. Daripada ragu, aku memutuskan tak menggunakan jalan itu.

Talking with stranger. Stranger bukan dalam artian orang yang sama sekali asing. Ia kukenal. Tak dekat, tak jauh. Ia tau orang-orang yang kuceritakan tapi tak pernah bersentuhan langsung. Kupikir ia akan cukup obyektif, karena aku menghindari subyektifitas. Kepala ini sudah tak kuat mengelola sendiri. Dulu-dulu, aku memang tak pernah membagi butiran-butiran masalah yang mengaliri syaraf-syaraf otak, tapi sejak menyesap makna sisterhood aku mulai mencoba membuka diri.

2,5 hours like 10 minutes. Waktu seakan mengalami percepatan, tak berasa lama. Ada kelegaan menyeruak. Kepalaku kemudian tak lagi begitu berat. Bibirku sudah mulai bisa sumringah. Problemanya sih belum terselesaikan, bahkan keputusan yang mungkin kuambil walau terealisasi aku juga belum tahu pasti akan benar tidaknya nanti ke depan. It's not about the decisions, its just about to share and believing someone else to hear your problems. And also objectivities!

Saturday, July 20, 2013

Roti Cane yang Satukan Kita


Puasa kali ini menurutku adalah puasa yang paling gak berasa puasa. Suasananya sih suasana puasa, gak makan gak minum dengan aktivitas yang sama seperti keseharian, tapi jadi gak berasa puasa karena gak berasa haus gak laper. Padahal malem juga kagak saur. Belom lagi kagak bolong-bolong. Kalau soal kagak saur mah emang dah kebiasaan begitu sepanjang nge-kost. Nah kalau yang gak bolong-bolong nih gak tau kenapa jarang banget bolong, meski kebiasaan sih jedanya emang 3-4 bulan sekali, tapi kalau pas puasa kayaknya jarang banget mau nongol.

Dan lain saur lain juga buka puasanya. Biasanya emang akan lapar mata, beli banyak menu, dan pas buka malah gak kemakan karena kekenyangan. Untuk kali ini diluar kebiasaan! Gak ada persiapan buka dan sering bingung mau makan apa. Bukannya bikin stock makanan, ini malah last minute belum beli apapun karena bingung mau makan apa. Dan yang bikin parah, makan cuma sekali habis itu gak makan apa-apa lagi, padahal biasanya jam 10 malem udah krucuk-krucuk lagi nih perut tapi hasrat makannya udah gak ada plus dilanda ngantuk total, bangun tengah malam dan bengong. Itulah kebiasaan baru puasa tahun ini.

Bicara soal kebingungan nyari menu buka, begitu yang kualami hari ini. Menuju UGM, seperti biasa menyajikan banyak variasi menu. Eh nyampe di sepanjang jalan yang di kanan kirinya orang jualan semua, saya malah makin galau mana yang kupilih. Ketika teman barengku menghentikan motor di penjual es doger langganan kami, mataku menangkap tulisan Roti Cane. Jadi kepengen tapi keinget, roti cane di kota ini harganya agak selangit dan rasanya di bawah standar. Tapi kayaknya musti dicoba..

Kalau gak enak artinya tidak untuk diulang. Aku hanya membeli roti Cane tanpa menu tambahan lain. Aku punya tongseng. Tak seberapa match tapi lagi bosen makan nasi juga. Dan harganya benar-benar 2x lipat harga di kampungku. Pun begitu juga rasanya tak istimewa. Namun kemudian ada yang membuatnya menjadi istimewa...

Aku lupa proiog obrolannya tentang apa.. Sepertinya tentang mengajaknya berbuka bersama.. Ya, buka puasa bareng khayalan, dia disana, aku disini.. Karena begitulah caraku memperpendek jarak, ia tau itu dan makanya tak sungkan menyambut obrolan khayal-khayal ini..

Aku kemudian bercerita tentang berbuka puasa dengan roti cane.. Dan dia bersorak, bagaimana bisa sangat kebetulan karena ia sedang dengan keluarganya makan di rumah makan khas Aceh yang juga menyediakan roti cane.. Perempuan itu menuliskan betapa gurih dan lezat santapannya.. Dan aku cuma sedikit tercengang, iya ini mungkin sekedar kebetulan, tapi kalau kebetulannya kebetulan begini, apa tak ada yang salah dengan kebetulan ini?

Roti cane ini menyatukan kita dalam kebetulan yang bukan satu-satunya.. *mengerling pada Tuhan*

Thursday, July 18, 2013

Hand in Hand


Aku mungkin sering menggaungkan kata ini, Hand in Hand. Aku menemukannya di bio twitter seorang kawan lesbian. Tentang bagaimana pola relasi yang dibangun bersama pasangannya. Dan aku terinspirasi.. Mendefinisikan Hand in Hand mungkin dengan pemaknaanku sendiri, tentang pola relasiku dengan perempuan itu...

Aku sih sebenarnya tak begitu paham konsep hand in hand secara general orang biasa memaknainya seperti apa, namun bagiku Hand in Hand adalah pola yang pas atau cocok untukku. Ia tak hadir dalam bentuk ikatan atau tuntutan untuk dihadirkan nyata, bahkan virtual pun tak kentara. Jika diandaikan, semuanya akan kelihatan kalau Tuhan mungkin punya sifat ngember ke orang-orang. Namun beruntung di 99 nama Tuhan tak ada sifat itu, jadi mau virtual pun, sang pemberi hidup itu aku yakin juga ikut senyum-senyum akan kesederhanaan canda kami di ruang terbatas atas nama teknologi bernama Blakberi Messenger dan Whatsapp.

Hand in Hand dalam definisiku adalah proses saling bertumbuh, bercerita, berbagi dan membagi takdir, yang pada intinya hanya ingin satu dengan yang lain menjadi bertambah maju, saling support, mengingatkan, menegur, dialog dan debat namun bukan untuk saling hujat. Karena kami peduli! Apa yang tak kami sepakati bukan lantas jadi acuan kesempatan membabatnya, tapi mengisi yang tak terisi di salah satunya.

Dan jika kau bertanya bagaimana dan dimana ujungnya akan bermuara? Aku akan dengan cepat angkat bahu. Bukan aku tak peduli dengan anggapan kesia-siaan yang diteriakkan orang luar yang memandang, aku hanya peduli jika kau bisa menikmati menjadi lebih baik dalam segala keterbatasan yang tak terungkap, maka kupikir cukup tak perlu tersingkap, karena hanya aku dan perempuan itu sudah lebih dari cukup dibilang lengkap!

Hand in Hand dalam imajinasi benakku adalah tanganku dan tangannya bertautan tanpa perlu bertanya, menanyai kami hendak kemana.

Berayun dan mengayunkan tautan jemari, dalam dimensi ruang, waktu dan segala hal yang dilakukan tak bersama-sama...

Wednesday, July 17, 2013

Sama-Sama Bungsu!


Aku awalnya tak menyadari hal ini. Aku mungkin percaya karakter berdasar astrologi, tapi kalau mengenali karakter berdasarkan posisi kelahiran keberapa dari berapa bersaudara aku tak begitu memperhatikan. Namun ketika kerap mempunyai isi kepala dan perilaku serta karakter yang sama padahal tidak dibawah naungan astrologi yang sama, aku mulai menyerempetkannya pada hal tsb; bahwa kami adalah sama-sama anak bungsu. Terlepas mungkin aku adalah anak bungsu coret, karena aku sebenarnya anak tengah, dulu pernah punya adik tetapi meninggal dunia ketika ia masih bayi. Jadi aku kemudian dikukuhkan sebagai si Bungsu, bukan?

Sedang ia, dari ceritanya, jelas kalau ia paling bontot dari banyak saudara. Ia pernah bercerita tentang situasi keluarganya, kisah kakaknya, kemelut kesamaan hidupnya dengan salah satu kakaknya, ya si bungsu ini cukup banyak terbuka padaku yang tergolong 'baru' dikenalnya.

Balik lagi ke topik kenapa aku mengangkat soal tema bungsu, seperti di awal tadi kubilang, ada banyak kesamaan karena ke-bungsu-an kami. Salah satu yang paling menonjol adalah sama-sama tak mau kalah, sama-sama tukang ngerjain dan sama-sama baik hati tentunya! Haha ego kami mungkin sama-sama tinggi, tapi soal hati kami tak pernah pamrih, apalagi untuk orang-orang terkasih. You can count on us on that!

Dan kebanyakan, sekali lagi kugarisbawahi sebagai sebuah mayoritas, bahwa bungsu itu ngrejekeni alias bawa berkah di keluarga secara finansial. Bungsu itu akan ringan tangan dan lebih mikir daripada anak-anak posisi diatasnya. Bukan ingin nyombong, tapi aku melihat banyak bungsu yang kutemui seperti itu, termasuk yang nulis ini tentunya!

Sama-sama bungsu, aku sendiri belum tau akan berdampak baik, buruk atau sebenarnya tak ada dampak, tapi dengan berbagai kesamaan karena sama-sama bungsu, belum banyak terlihat dampaknya kecuali kadang aku merasa gemas kenapa ia tak mau kalah sama sekali. Mungkin ia juga berasumsi sama, wallahu alam.

Efeknya sih masih positif sampe detik ini. Dan semoga karena ke-bungsu-an ini proses hand in hand kami berjalan lebih baik...

Tuesday, July 16, 2013

Mereview Takdir


Memutar awal ceritaku dengan perempuan itu selalu menyenangkan. Hal yang tak kuduga akan terjadi dan menetap lama dalam garis hidupku ini dimulai dengan hal-hal tak menyenangkan yang kemudian bergulir 180 derajat berbeda.

Bagaimana ketidaksenanganku pada sosok annoying yang banyak permintaan, banyak prosedur dan ribet banget pokoknya nih orang sampai-sampai aku menciptakan sosoknya dalam imajinasiku. Tak seberapa tinggi, chubby dan rambutnya ikal sebahu. Dan belakangan sosok itu mirip atasannya haha aku ngakak kalau tau fakta itu!

Namun hal yang membuat kisah ini berlangsung hingga sekarang adalah pesan singkat nyasar darinya dan kepura-puraan lupanya keesokan harinya. Nih cewek jual mahalnya minta ampun deh, sampai sekarang sih, meski hatinya baik, tapi gayanya itu lho gak murahan obralan, high class style yang justru kadang nyebelin. Karena pura-pura gak butuh tapi cari perhatian. Ngegemesin pokoknya waktu itu!

Review takdirku tentang kami, tetap aku meyakini bahwa tak ada yang kebetulan dalam hidup ini meski kami kebetulan dipertemukan. Entah makna apa dalam takdir kami, aku meyakini selama rentang waktu dan memori yang terlewati kini akan menorehkan sesuatu yang positif di lembar hidupku.

Tuhan selalu punya cerita dan aku selalu suka mereview-nya...

Monday, July 15, 2013

Cerita tentang Pengamen


Ketika makan diluar, kadang aku lumayan jengkel dengan profesi satu ini, pengamen. Bukan karena suara, tapi secara jumlah yang tak kunjung usai. Makannya cuma abis berapa, tetapi cost sosialnya malah lebih tinggi. Jadi, sikapku pada profesi satu ini adalah pilih-pilih tak sembarang kasi, yang suaranya merdu aja ato faktor yang membuatku tertarik.

Judul ini kutulis karena keinget kisahku dengan perempuan itu terkait pengamen. Entah bagaimana perspektifnya tentang pengamen, pastinya malam itu kami sedang nongkrong di depan sebuah swalayan kecil yang sebenarnya tak kusukai. Pasalnya jenis model swalayan seperti ini sudah menjajah hampir tiap kilometer ada. Dan di ibukota ini ia menambahkan meja kursi untuk nongkrong. Awalnya, aku tak cukup setuju, tapi karena kekurangan tempat untuk bercengkrama dengannya, maka tak ada pilihan lain.

Kemudian datang seorang pengamen. Laki-laki lumayan tampan yang menyanyikan lagu Bon Jovi - Always. One of my favorite song, I said to her. Dan saya ikut bernyanyi karena si pengamen memetik gitarnya hingga lagu berakhir. Tumben ada pengamen kayak gini, biasanya nyanyi sampai tengah ya udah trus nyelonong pergi. Bukankah pengamen tak pernah membuang waktu nyanyi sampai akhir, begitu yang kutau!

Perempuan itu menyodorkan selembar lima ribuan. Alisku menukik tajam.
"Banyak amat ngasinya?" celetukku setelah laki-laki bergitar itu pergi.
"Gak ada duit kecil. Lagian kamu suka lagunya kan?"
"Ya tapi gak segitu banyak juga ngasinya kalik.. Lagian, bahasa Inggrisnya lumayan buruk.." komentarku pada pronounciation si pengamen.
"Ah, kamu emang terlalu banyak komplain!"
Saya nyengir, ya pelit sih kalau ama pengamen emang.

Yang kedua ketika kami dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya menuju rumahnya. Ya, naik bis jurusan rumahnya butuh berlari-lari kecil, bergelantungan di tengah dan merasakan ritme kecepatan yang gila-gilaan. Kali ini, kami duduk cantik persis di depan pintu. Posisi duduk yang kerap kupilih ketika dulu sering bepergian dengan model transportasi ini selama di Jakarta dulu.

Baru saja menempelkan pantat, ada seorang pengamen dengan biola masuk, tepat menggesekkan alat musik tsb di hadapan kami.
"Hayo tebak lagu apa ini?" tanya perempuan itu.
Aku menajamkan kuping mencermati instrumentalia petikan biola. Aku angkat bahu.
"Dengerin yang bener.."
Kembali meresapi nada dan tetap angkat bahu.
"The beatles, let it be. Masa ga tau?"
Dan pada bagian refrain aku mulai mengenali iramanya. Dan kami duet bernyanyi...

Let it be, let it be, let it be, let it be...there will be an answer, let it be...

*It's Like Us, let it be...

Sunday, July 14, 2013

Kabar Bikin Kabur


Kabar kabur itu akhirnya terbukti kebenarannya dan benar-benar membuatku kabur!

Aku mungkin akan mengakui jika disebut tak konsisten. Ya, aku hipokrit dengan doa yang kuucap sebulan lalu. Manusia manusiawi hipokrit terutama jika menyangkut kepentingan pribadinya. Percayalah, kau justru akan tak manusiawi jika kau baik-baik saja akan sesuatu yang pada kenyataannya membuatmu tak baik-baik saja.

Aku memang turut andil mengamini doanya, ya memang aku ingin doanya terkabul dan melihatnya bahagia. Sebulan kemudian ketika Tuhan memberi cash untuk permintaannya, aku malah tertegun, entah apa rasanya, seperti ada yang kosong.. Hampa, udara bebas keluar masuk pada rongga yang terbuka tetapi aku tak bernafas, sesak.

Beberapa hari aku menarik diri. Entah, aku tak ingin memulai obrolan. Mungkin aku hanya takut ia akan membahas tentang kabar itu, dan aku hanya.. Takut! Meski sisi lainnya menegur, hey bukankah kau ikut mendoakannya, jadi berbahagialah!

Aku bukan tak bahagia, aku hanya takut semua tentang kita akan berubah sejak kabar itu..

Egois. Ya, cintaku masih egois. Aku hanya memikirkan diriku, bukan bahagiamu. Kabar yang bikin kabur, semoga tak kabur kelamaan!

Saturday, July 13, 2013

Cemburu -Tak Perlu-


Kali pertama aku mendefinisi perasaan ini sebagai gejala cemburu sebenarnya aku merasa lucu dan tak perlu! Penyebabnya itu lho yang dikategorikan tak penting, hanya gara-gara ia dikasi sesuatu oleh orang yang jelas-jelas teman kantornya. Namanya juga cemburu tak perlu, meski aku merasa konyol namun tetap ia mengisi otakku dengan gejala perilaku menjauh, persis apa yang kulakukan tiap otakku dikuasai perasaan itu.

Namun yang sedang ingin kugarisbawahi untuk kurayakan adalah aku cemburu pada perempuan itu untuk pertama kalinya selang waktu 8 bulan ini. Pertanda baik? Jelas tidak! Bagiku, cemburu adalah pertanda keinginan akan sebuah kepemilikan dan kepemilikan adalah hasil naik tingkat dari bentuk ketertarikan intelektual menuju ketertarikan seksual. Dan itu jelas no gud!

Aku jelas-jelas kemudian menyelimurkan rasa itu. Membuatnya menjadi rasa iri hati karena si teman yang juga kukenal bisa lebih dekat dan bertemu dengannya di keseharian, realita yang kontradiktif denganku. Cemburu tak perlu, tak perlu cemburu!

Friday, July 12, 2013

#Kakak sukak #Blushing


Ini kata seorang teman yang ketemu perempuan itu pertama kali. Ya, namanya kesan pertama tiap orang kan ya beda-beda.

Seperti yang pernah kutulis, ekspresi muka perempuan itu lumayan unik. Kalau kuperhatikan hasil foto kami, tiap ia mengangkat alur bibir menarik garis pipi keatas menyentuh ujung pinggiran mata maka akan terlihat nampak seperti ia tengah blushing padahal itu ekspresi natural yang kemudian terlengkapi dengan bentangan bibir tipis membentuk separuh lingkaran. Ya, senyumnya adalah anti-klimaks yang mempatenkan efek blushing tsb.

Jadi menurutku itu tentu saja bukan buatan, itu alami, karena bagian dari ekspresi ragam wajahnya. Keep blushing #Kakak let them missunderstood!

Thursday, July 11, 2013

Ringan Tangan


Ini salah satu karakternya lagi! Keinget, tiap kali aku mau telpon teman dan sinyal XL di Jakarta yang emang kacrut, ia slalu nyodorin hapenya, "Pake hape gue aja!" Dan saking seringnya aku kadang kesel juga akhirnya, "Ini karena sinyalnya bukan karena aku gak punya pulsa!" hardikku. "Ya, sapa tau sinyal temen elo nyambungnya ama sinyal gue." balasnya. Hmm, aku tau sih niatnya baik, tapi memang kan kayak nyolot gitu disangka aku kagak ada pulsa sampe pernah ku bilang berapa nominal pulsaku yang pasti lebih banyak dari dia, eh dia ngecek pulsa beneran dan beneran pulsaku lebih banyak darinya. Walhasil aku feeling guilty karena too rude ngomong gitu ke dia, meski ekspresi perempuan itu lempeng aja.

Dan satu lagi ringan tangannya, yang ini mungkin disebut ringan dompet. Aku tuh paling gak seneng terlalu sering dibayari, bahkan tergolong cepet-cepetan mbayarin. Tapi dengan perempuan ini aku kerap kalah akal. Padahal sebelumnya aku dah bilang kalau aku yang akan bayar, eh begitu sampai kasir lain cerita, dengan akal bulusnya dia mengelabuiku rupiahnya yang diterima si kasir. Aku dah menggerutu, tak didengarnya dan berlalu. Ish, gemes!

Pernah pas awal aku ke Jakarta, bahkan apa yang sedang kami santap sudah kubayar ia tak terima dan kayak orang ngajak gelut gitu ia balikin duitku. Aku aja sampe takut dan gak bisa menolak dikembalikan tuh duit.
"Kalo lu di Jakarta gue yang bayar, tapi kalo gue ke Jogja, gue gak mau tau, lu yang bayar!" begitu aturan buatannya, meski pada prakteknya juga gak sesuai, tuh orang yang lebih ringan tangan.

Wednesday, July 10, 2013

Pemalu!


Karakter itu kupunyai meski tak banyak orang akan percaya. Namun kalau perempuan itu yang memiliki, percaya kah? Saya pun baru percaya!

Masih di bagian kisah ketika hanya sebuah energi dan konstruksi yang bisa menemaniku menyekatkan perbedaan dimensi ruang dan waktu aku dan perempuan itu, aku memintanya menyapa dua teman yang sedang berada di tempat kerjanya. Dan tau jawabannya, "Gue malu, ntar dikira sok kenal sok dekat!" Padahal menurut riwayat kenalku dengannya, kami dekat karena ada efek sok kenal sok dekat!

Memutar ulang bagaimana Desember lalu dengan senyum dan gigi-gigi terbaiknya ia menyodorkan tangan memperkenalkan diri, pun tiap kali lewat tak lupa menyuguhiku senyuman manis. Maka alasan malu itu kini tak bisa kuterima dan tampak tak masuk akal, bukan? Namun aku tak bisa memaksa juga, toh niat baikku adalah agar si dua teman ini tidak krik-krik disana, dan bagiku perempuan itu adalah teman baru yang baik yang mungkin akan mengajak berkeliling kantor.

Ternyata meleset, selain karena deadline surat, bahkan ia tak melemparkan senyum pada orang yang jelas-jelas kusebutkan. Benarkah malu, atau lagi kumat anti sosialnya? Tak mungkin, pikirku, ia orang ter-sosial yang kukenal. Jadi, pemalu? Aku masih belum dikategorikan percaya.

Meski akhirnya mereka saling menegur sapa dan sedikit mengobrol, temanku meyakinkan bahwa perempuan itu pemalu. Ya, mukanya memang akan ada lekukan di pipi menuju ekor mata sehingga tampak seperti blushing, tapi untuk menjadi benar-benar berkarakter pemalu, benar aku belum bisa percaya...

Kukira dengan begitu menambah satu lagi kesamaan karakter kami, minderan dan pemalu! Untuk orang se-PD dia aku belum terlalu yakin!

Tuesday, July 9, 2013

Ruang dan Waktu -yang tak- Memisahkan!


Dimensi, ruang dan waktu bagiku boleh saja memisahkan, tapi tetap saja disini pun dapat merasakan energiku sedang berada disana. Meski raga sedang tak didekatnya, namun kutitipkan rindu dan energiku melalui dua orang yang sedang satu areal denganmu.

Ia terasa dekat, bahkan tiap lakunya berada di ruang yang pernah saya pijak tergambar jelas di benak saya, nyata! Meski hanya lewat bait-bait kalimat, tapi jelas cukup membawa jiwaku bersamanya, ada menyamakan dimensi ruang dan waktu.

Dan entah energi darimana, bibir juga terasa ringan melekukkan senyuman. Beruntung di ruang dan waktuku aku sedang hanya bersama konstruksi ruang dan waktumu, jadi tak ada yang lihat bahkan mungkin mempertanyakan kenapa saya yang jadi girang begini padahal jelas-jelas yang ketemu perempuan itu bukan saya?

Dan memang begitu sibuk, semuanya, dari mulai otak, hati, bibir, dan jemari yang tak berhenti bertemali dengan layar monitor hape. Maka disitulah letak peleburan ruang dan waktu yang tak bisa memisah dan terpisahkan!

Monday, July 8, 2013

Jogging!


Saya tak ingat apa pernah bercerita secara khusus tentang ini.. Tapi baiklah, kalaupun memang mengulang, saya akan berceloteh tentang aktivitas kegemaran perempuan itu...

Ia tak melakukannya di pagi hari, namun justru ketika senja di sebuah taman yang memang lumayan banyak yang beraktivitas sama dengannya. Sore itu ketika raga saya tidak di dekatnya, ia bilang sedang akan jogging, meski kemudian urung karena terhalang gerimis.

Jogging, aku pernah sekali melakukannya, ketika patah hati, haha tak ada hubungannya memang, hanya sok-sokan aja waktu itu karena waktu berjalan lambat untuk orang yang sedang patah hati, bukan? Jadi tak salah pagi-pagi mengelilingi kampung membiarkan udara pagi menjernihkan otakku. Tapi untuk perempuan ini, aktivitas yang awalnya untuk persiapan biar gak kaget outbound kini sedang mati-matian ia jadikan rutinitas.

Kangen juga sih menunggu di pinggir trotoar, melihatnya berlari-lari kecil, bermandi peluh dengan wajah masih mirip bocah SMA. Menego sang pencipta untuk mengulangkan irisan waktuku dengannya di tempat itu... Hopefully!

Sunday, July 7, 2013

Baru Ini Lho, Rindu!


Sepertinya ini sudah jadi semacam adiksi... #MERINDU

Dimana2 kemana2 ada wajahmu! Sounds so lebay, right? Ya, memaklumi, ada kalanya hati emang ngajak agak lebay. Namun kalau baru pertama kali ini kangen kayak begini ya saya tambah maklum. Mendefinisikan ketegasan dan kejelasan perasaan saya kan waktu itu juga butuh waktu, jadi kalau kangen se-lebay ini datangnya juga telat, ya sekali lagi, maklum!

Hampir di setiap aktivitasku menemukanmu didalamnya, tidak berbentuk rupa, tetapi perilaku, cara berpikir, gestur tubuh bahkan cara bicara... Apapun yang sedang saya hadapin saya seolah sedang menyerupakannya dengan perempuan itu, dan justru bikin membludak tuh kangen yang hanya bisa terobati dengan jalinan kata-kata.

Semoga tak keseringan begini, doaku!

Saturday, July 6, 2013

Mabok Deadline


Karena otakmu serupa candu...

Aku dan perempuan itu satu visi dalam memandang pekerjaan, bahwa ia harus diselesaikan lebih dulu diatas yang lain-lain. Jadi kalau ada deadline, ya minggir dulu deh!

Beberapa waktu lalu ketika komunikasi kami hanya seputar tanya jawab pekerjaan dan itu gak pagi gak siang dan gak malem, perempuan itu komplain; "Alvi kerja mulu :(". Begitu ia berkomentar tentang aktivitasku. Tapi sekarang gantian ia yang punya segudang pekerjaan dan seperti biasa akan lembur terus sampai malem-malem. Maka, saya menggodanya..
"Masih di kantor?"
"Iya, kenapa vi?"
"Mau ngajakin nongkrong..."
"Ke Alun-Alun Kidul?"
"Yuk, sekarang? Aku jemput di rumah kakakmu ya?"
#Ngakak

Karena pertanyaan-pertanyaanku seputar ngajakin nongkrong ia sempet terkecoh yakin kalau aku sedang di Jakarta. Hmm, kalau di mabok deadline, mau dimanapun saya ya akan tetap dinomorduakan, bukan?? Karena begitu pulalah saya! Tapi saya kali ini bisa gantian komplain bahwa ia kerja mulu. Ya demi tugas negara, sakit pun ia lakoni. Keep tough and smile plis while you cirius!

Friday, July 5, 2013

Just Another Lagu Dangdut


Lagu yang akan kubahas sebenarnya tak terlalu baru. Aku hanya telat tau dan telat ngakak karena lirik lagunya...

Lagunya sih dangdut, dan biasa liriknya kalau tidak bombastis pasti gak bakal dilirik. Lagu ini sebenarnya kerap dikumandangkan oleh tetangga sebelah kost, soundtrack of the heartnya sih, tapi aku tak seberapa perhatian. Mendadak aja sih pengen donlot..

Lumayan banyak versi, sampe menemukan versi yang cukup clean tanpa embel2 tereakan gak penting selain si vokalis. Biasa, lagu dangdut koplo kan kebanyakan ungkapan atau slang penghias lagu macam bukak sitik joss, de el el, dan aku paling males dengan versi yang demikian.

Dan pengen tau judul lagunya kah... Wedi karo bojomu.. Bercerita tentang hubungan terlarang a.k.a selingkuh dimana salah satunya udah punya bojo, jadi saat mau ngubungin si pasangan selingkuh takut ama istrinya. Lagu gak penting memang haha cuma pengen ngeganti liriknya aja sih kalau aku..

Kalau di versi asli selalu bilang wedi karo bojomu, buatku akan kuganti menjadi neng ngarep bojomu. That's correct, we are not cheating if you do take the risk at the front, not do it secretly.. Tertariknya sih cuma ngeganti lirik doang, but lama-lama didengerin nih jempol goyang juga..

Thursday, July 4, 2013

Ours -us-


Maka, berbahagialah akan sekecil apapun kenangan-kita-

Jarak, seberapapun jauhnya, tak pernah memisahkan, karena keriangan akan hal-hal sederhana hadir dalam tiap milimeter waktu antara kau dan aku.

Menghargai tiap keping memory dalam pecahan waktu yang kadang ruah kadang terbatas dengan dimensi seadanya, huruf-huruf yang tak lelah menari indah merangkai kata menyerupakan kalimat, menghadirkan senyuman, membingkaikan kerutan di dahi, ahh segala rupa ekspresi pernah disuguhkan jemari yang menari.

Kau memang di ujung sana, tempat yang hanya kuraba dalam ingatanku sebagai kilasan bahwa aku pernah disana menempati tempat duduk di ruangmu, melalui lorong dan anak-anak tangga yang melelahkan, ya ketika kau berada di kotak kecil yang kau sebut ruang kerja, aku bisa memvisualisasikannya di benakku.

Loving is simple, the simplicity of loving, no need to demanding, hmm, hell ya, this what I called it is different.. So many differences, the way it feel, the way it thought, the way it act, seems like this simplicity is like the way it has to be for 'ours' -us-

Wednesday, July 3, 2013

Mimpi Gak Tahu Diri!


Hmm, kenapa aku menyebutnya gak tau diri, ya karena nih mimpi kok bisa-bisanya hadir hampir tiap hari padahal komunikasi aku dan perempuan itu juga hampir tak pernah terhenti.

Dan jelas aja mimpi yang kayak gini bikin galau! Lebay dikit eaaa... Galau disini karena gak mungkin aku akan bertanya padanya hey, are you okay? Coz I dream of you almost every nite. Ya, bisa-bisa perempuan itu akan bilang: Obat lu abis, vi?

Jadinya, ya meski agak gak enak juga mimpi geje begitu yang bisa aku lakukan kemudian memonitornya lewat kata-kata yang tak denotatif menanyakan kabarnya, tetapi memastikan ia dalam keadaan baik. Karena perempuan itu tak suka diperhatikan apalagi berlebihan gak ada entry point ujug-ujug nanya sok care, waduh gak ngebayangin deh bijimana reaksinya.

Mimpi emang gak selalu tau diri!

Tuesday, July 2, 2013

Kesel sih, tapi...


Buntut dari bete yang tak kunjung padam ini sudah menginjak hari kesekian. Tak juga memudar, meski aku tak menabuh genderang perang, kami hanya saling mendiamkan.

Hingga ia benar-benar merealisasikan permintaanku, namun tetap kugarisbawahi sebagai pertolongan yang TERLAMBAT. Meski ia mengawali dengan sebuah kata maaf tapi gondokku gak bisa serta merta ilang sekejab. Tadinya aku sengaja tak hendak berterimakasih dan akan tetap mendiamkannya, namun entah darimana ada yang mendorong jemariku mengetikkan ucapan terimakasih dengan mengindahkan keterlambatannya.

Entahlah, ada ruang di kepalaku yang mikir aku ga boleh memperlakukan perempuan itu seperti perempuan-perempuan sebelumnya yang atas nama keegoisanku gak bakalan cepet-cepet maafin 'kesalahan' orang. Yang ini jelas lain, ada yang membisik bahwa ia sudah baek mau membantu, jangan menghitung keterlambatannya tetapi niat baiknya membantuku. Maka begitulah aku padanya.. Menyenyumi lakuku yang tak biasa!

Monday, July 1, 2013

Bete Kuadrat!


Cerita ini agaknya akan kontradiktif dengan cerita di judul sebelumnya...

Awal bulan sama-sama teguh pendirian, gak mau ngalah salah satu dan baru ini terjadi yang kayak gini..

Dari sudut pandang saya, saya sedang kecewa karena tidak dinomorsatukan, ingat kemudian dilupakan. Dan bagi saya itu adalah hal yang tak bisa ditoleransi. Apa yang sudah kau ucap, bagiku adalah sebuah janji dan janji bagiku tak perlu ditagih karena ia adalah tanggungjawab si pengucap.

Karena tak juga terealisasi maka wajar ketika aku bete setengah modar. Dan buatku itu bukan ego, siapapun kamu, gak peduli aku ada feeling atau tidak, berhati-hatilah dengan lisanmu karena sekali saja kau berjanji dan tak berusaha menepati, maka aku bahkan tak akan pernah mau peduli.. Sangar banget gak sih? Karena biasanya orang akan lebih permisif untuk orang yang disayangi, ya kan? Lain bagiku, lisan itu ujung tombak kepercayaan, sekali mematahkannya ia akan tersambung namun tak akan pernah sempurna..

Dan ternyata ia diam, seperti sedang bete kuadrat. Aku berasumsi apakah ia menantiku menagih -yang tentu saja tak akan pernah kulakukan- atau ia benar-benar lupa karena bertumpuknya pekerjaan. Tetapi logikaku menganalogikan bahwa umurnya tak terlalu tua untuk mengingat-ingat ucapan yang tak sampai hitungan 24 jam berselang.

Jadi biarkan kami sama-sama memelihara bete ini!