Cinta...
Lagi-lagi ngebahas soal cinta dan memang tidak akan ada habisnya mengutak-atik kata dengan berjuta definisi, situasi, kondisi dan beragam hal lain yang melingkupinya namun tetap menjabarkan satu kesamaan makna, yaitu sebuah ketulusan, perasaan suci terhadap seseorang yang bermuara dari lubuk hati yang belum terjamah logika, akal pikiran, rasio yang perlahan mungkin menjadi racun terselubung menggoyahkan apa yang tumbuh dalam nurani.
Seorang sahabat -mungkin bisa kugarisbawahi sebagai saudara-, sebut saja namanya An, entah bagaimana ikhwal ceritanya, namun akhir-akhir ini ia sedang terkena panah asmara sebegitu dahsyatnya seakan menembus tulang.
Ia curhat tiap saat dan tiap detil cerita padaku. Malah aku tak menyangka ia akan begitu dalam memberi arti kehadiran perempuan yang dikenalnya hampir tujuh tahunan itu. Dulu, perempuan itu pernah menyatakan cinta, namun An menolaknya. Kini, kondisi berbalik, An teramat menaruh hati padanya, sedang perempuan itu acuh tak acuh, datang dan pergi sesuka hati. An pernah berprasangka, bahwa perempuan itu memang tengah membalaskan sakit hatinya beberapa tahun lalu agar An juga bisa merasakan apa yang ia rasakan dulu. Namun, anggapan itu ditepis oleh si empunya.
"Tak ada balas dendam! Aku sedang konsentrasi mengurus "perceraian"ku dengan mantan! Meski memang pada akhirnya kau bisa merasakan kan bagaimana perasaanku tujuh tahun lalu ketika orang yang kau cintai menolakmu?" kilah perempuan itu.
Aku dan perempuan itu satu kota. Atas rekomendasi An, kami bertemu. Mendengar jejalan cerita dari An, awalnya aku tak simpatik pada perempuan itu. Kebetulan kami ke rumah salah seorang temannya dan ia bercerita banyak tentang masalah "perceraian" yang ribet itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya, mengetahui satu demi satu prinsip dan pemikirannya, hingga aku memperoleh kesimpulanku sendiri tentang perempuan itu tanpa versi dari An.
Pengalaman "perceraian" perempuan itu sekaligus juga membuatku berpikir tentang realita kehidupan belok. Perempuan itu dan pasangannya telah menjalin kasih dan tinggal satu atap kurang lebih lima tahunan. Semuanya mungkin begitu indah pada awalnya, padahal -mengutip dari blog tetangga- segala sesuatu memang ada batas kadaluarsanya, meski untuk masalah hati ini kita tidak mengetahui masa aktif dan masa tenggang atau bahkan masa berakhirnya. Tak ada seorang pun yang menginginkan jalinan asmara yang telah matang -tukar cincin dan menikah di hadapan pemuka agama- tiba-tiba terputus di tengah jalan dengan menyisakan serentetan sengketa dan konflik tak ada ujung tentang harta gono-gini.
Mengkaitkan perasaan suci An dengan situasi yang tengah dihadapi perempuan itu -maaf sebelumnya untuk sahabatku- aku merasa WAJAR jika perempuan itu menolak An. Aku bahkan menilai ia gentle dengan tak memberi harapan kosong yang ia sendiri tak tahu kapan ia bisa menaruh hatinya pada An, meski rasa sayang -biasa- memanglah ada. Dan aku berada di tengah antara keduanya. Sedikit serba salah memang, meski aku mengambil sikap netral, hanya menjadi pendengar keduanya. Di satu sisi An adalah sahabat, sementara perempuan itu walau baru kukenal namun juga telah banyak curhat padaku tentang An dan kondisi "rumah tangga"nya yang amburadul.
Cinta... Seberapa dalam pun orang yang dicintai telah menyakiti, sebisa mungkin hati akan bertahan, meski telah tak bisa diterima logika, seolah buta.
"Aku hanya menunggu..." desah An. "Menunggu sampai hatiku tak merasa sakit ketika ia menyakiti. Disaat itulah aku akan ringan untuk melangkah pergi, meninggalkan perasaan yang telah mati."
An sungguh menyadari, melupakan perasaan yang telah mengakar memang tak mudah untuk dikompomi. Rindu kerap bergolak, berusaha tuk patahkan gengsi yang terlalu rapuh. Sampai kapan... An tak pernah tahu...
Friday, November 28, 2008
Thursday, November 27, 2008
Indah, tak untuk dimiliki!
"Oops... Sorry..." ujar Rien usai menubruk perempuan yang berjalan dari arah berlawanan.
Perempuan dengan pangkasan rambut pendek itu hanya tersenyum sebentar pada Rien, tanpa berkata sepatah pun ia melanjutkan kembali langkahnya sembari nampak serius mengobrol bersama laki-laki partner kerjanya.
Insiden kecil barusan bukan tak disengaja. Rien memang telah merekayasanya, tercetus spontan ketika melihat perempuan itu akan berpapasan dengannya. Ide klise namun kerap kali tokcer membuahkan sebuah hubungan antar dua orang yang sebelumnya tak pernah saling kenal. Meski ide itu ternyata tak cukup manjur, paling tidak ia sempat dihadiahi sebuah senyuman kharismatik oleh pemilik wajah serius itu.
Rien baru sebulan di kantor ini. Dan perempuan berpenampilan butch itu telah menarik perhatiannya sejak awal. Indah, nama perempuan itu. Sebuah nama yang terdengar "cewek banget" untuk penampilan dan tingkah laku yang maskulin. Perempuan itu juga sungguh teramat sangat cool, sedingin kulkas.Beberapa kali Rien telah memutar otak untuk mendapatkan cara agar bisa mengenalnya, paling tidak bisa bertegur sapa, tapi dewi fortuna belum berpihak padanya. Rien bukannya keganjenan, namun "keangkuhan" perempuan itulah yang seakan membuat Rien ingin meruntuhkannya.
Maka momen kebetulan barusan kemudian menjadi salah satu senjata Rien dan melihat sekian jurus masih tak manjur, pasti lebih banyak lagi trik-trik yang akan dilancarkannya guna meraih perhatian si tomboy. Dan bukan Rien namanya jikalau ia tak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
***
Outbound. Mendengar namanya saja sebenarnya Rien sudah malas ikut, tapi karena acara weekend kantornya itu adalah sebuah keharusan, suka tak suka ia harus ikut.
"Kamu mau outbound atau ke mall sih?" ejek teman kerja Rien melihat busana dan anting-anting yang ia kenakan.
"Biarin deh!" sahut Rien keki. Ia memang tak pernah tahu apa itu outbound, meski sehari sebelumnya sahabatnya telah memberikan gambaran, tapi setelah ia mengobrak-abrik isi lemarinya, ia merasa atasan ungu tanpa banyak motif dan celana jeans inilah yang dirasanya paling nyaman.
"Anting-anting dan tasmu itu lho yang bikin kayak mau ke mall!" protes teman kerja Rien tak henti-henti.
Soal anting-anting, bagi Rien aksesoris telinga itu nampak wajar. Kalau soal tas, Rien memang dibuat agak kebingungan tadi. Masalahnya tas yang kerap dipakainya ngantor berukuran terlalu besar. Tak membawa tas juga tak enak. Pilihan kemudian jatuh pada tas kecil ungu tua.
Dan aktivitas outbound itu ternyata diluar dugaan Rien. Memeras keringat dan melelahkan serta harus diikuti. Belum pulih tenaga dari satu aktivitas, pindah ke aktivitas lain.
Empat peserta telah siap di posisi masing-masing. Kaki-kaki mereka telah tertambat pada balok kayu panjang yang menyerupai sandal.Bedanya ini dipakai bersamaan, saling memeluk pinggang dan butuh kekompakan dalam melangkah. Rien di urutan ketiga. Di tengah ayunan kaki, grup Rien oleng. Puncaknya keseimbangan sudah tak bisa dipertahankan. Rien tak merobohkan tubuh pada lelaki kurus di belakang dan menghempaskan tubuh ke samping, namun malang ia malah "kejatuhan" gajah. Pria gemuk di depannya tak bisa menguasai diri, menindih Rien yang hanya bisa meringis.
"Kau tak apa-apa kan?" Suara berat mengagetkannya. Perempuan kurus nan jangkung itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Yaa... Aku nggak apa-apa..." Dengan sigap Rien menerima uluran tangan perempuan super cuek itu. Pegal dan letih tubuh Rien yang bercampur menjadi satu seolah-olah musnah seketika perempuan itu mempertontonkan barisan putih giginya. Ia bahkan tak menyangka tanpa terlebih dahulu susah payah mencari akal, perempuan itu malah hadir di pelupuk matanya. Outbound yang tadinya membosankan kini terasa menyenangkan. Ternyata perempuan itu tak seserius raut muka dibalik kaca mata minusnya. Ia kerap melempar joke-joke ringan yang makin memikat dan melambungkan hati Rien. Puncaknya, perempuan yang hari ini terlihat sporty itu mengantar Rien sampai kost. Hanya senyum dan tawa merekah yang membias dari bibir Rien tiap kali memutar ulang detil detik waktu yang dilaluinya bersama perempuan itu. Dan Rien begitu ingin hari lekas berganti, menikmati kembali lompatan waktu bersama perempuan itu.
***
Pagi ini, tak seperti biasa, Rien teramat perfect untuk urusan riasannya. Padahal tiap harinya Rien hanya berdandan natural. Dan satu lagi, Rien berangkat lebih pagi. Hatinya begitu ringan hari ini.
"Nah, itu dia!" sorak Rien melihat perempuan itu keluar dari ruang meeting. Rien "menyiapkan" diri. Baju, riasan, semua... Perfect!
Sepersekian detik lagi mereka akan berpapasan. Perempuan itu seperti biasa nampak serius berdiskusi dengan partner kerjanya.
"Haruskah aku berpura-pura menyenggolnya lagi?" bimbang Rien. Mengingat kejadian kemarin, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan insiden kecil itu lagi.
Secara tak sengaja, mata keduanya beradu. Rien menyuguhkan senyum termanisnya dan butuh cukup lama jeda waktu bagi perempuan itu untuk membalas senyum Rien. Dan hanya sebuah senyuman singkat, kemudian ia berlalu. Respon yang sama seperti insiden lalu. Seolah lupa akan kejadian kemarin, yah meski tak terjadi apa-apa memang, tapi Rien merasa paling tidak sikapnya kemarin sudah sedikit lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Tapi kenapa barusan ia seperti amnesia tak mengenal Rien dan memperlakukan Rien layaknya belum saling mengenal?
Rien tertegun. Indah, kemarin memang begitu indah, tapi tak untuk kumiliki...
Perempuan dengan pangkasan rambut pendek itu hanya tersenyum sebentar pada Rien, tanpa berkata sepatah pun ia melanjutkan kembali langkahnya sembari nampak serius mengobrol bersama laki-laki partner kerjanya.
Insiden kecil barusan bukan tak disengaja. Rien memang telah merekayasanya, tercetus spontan ketika melihat perempuan itu akan berpapasan dengannya. Ide klise namun kerap kali tokcer membuahkan sebuah hubungan antar dua orang yang sebelumnya tak pernah saling kenal. Meski ide itu ternyata tak cukup manjur, paling tidak ia sempat dihadiahi sebuah senyuman kharismatik oleh pemilik wajah serius itu.
Rien baru sebulan di kantor ini. Dan perempuan berpenampilan butch itu telah menarik perhatiannya sejak awal. Indah, nama perempuan itu. Sebuah nama yang terdengar "cewek banget" untuk penampilan dan tingkah laku yang maskulin. Perempuan itu juga sungguh teramat sangat cool, sedingin kulkas.Beberapa kali Rien telah memutar otak untuk mendapatkan cara agar bisa mengenalnya, paling tidak bisa bertegur sapa, tapi dewi fortuna belum berpihak padanya. Rien bukannya keganjenan, namun "keangkuhan" perempuan itulah yang seakan membuat Rien ingin meruntuhkannya.
Maka momen kebetulan barusan kemudian menjadi salah satu senjata Rien dan melihat sekian jurus masih tak manjur, pasti lebih banyak lagi trik-trik yang akan dilancarkannya guna meraih perhatian si tomboy. Dan bukan Rien namanya jikalau ia tak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
***
Outbound. Mendengar namanya saja sebenarnya Rien sudah malas ikut, tapi karena acara weekend kantornya itu adalah sebuah keharusan, suka tak suka ia harus ikut.
"Kamu mau outbound atau ke mall sih?" ejek teman kerja Rien melihat busana dan anting-anting yang ia kenakan.
"Biarin deh!" sahut Rien keki. Ia memang tak pernah tahu apa itu outbound, meski sehari sebelumnya sahabatnya telah memberikan gambaran, tapi setelah ia mengobrak-abrik isi lemarinya, ia merasa atasan ungu tanpa banyak motif dan celana jeans inilah yang dirasanya paling nyaman.
"Anting-anting dan tasmu itu lho yang bikin kayak mau ke mall!" protes teman kerja Rien tak henti-henti.
Soal anting-anting, bagi Rien aksesoris telinga itu nampak wajar. Kalau soal tas, Rien memang dibuat agak kebingungan tadi. Masalahnya tas yang kerap dipakainya ngantor berukuran terlalu besar. Tak membawa tas juga tak enak. Pilihan kemudian jatuh pada tas kecil ungu tua.
Dan aktivitas outbound itu ternyata diluar dugaan Rien. Memeras keringat dan melelahkan serta harus diikuti. Belum pulih tenaga dari satu aktivitas, pindah ke aktivitas lain.
Empat peserta telah siap di posisi masing-masing. Kaki-kaki mereka telah tertambat pada balok kayu panjang yang menyerupai sandal.Bedanya ini dipakai bersamaan, saling memeluk pinggang dan butuh kekompakan dalam melangkah. Rien di urutan ketiga. Di tengah ayunan kaki, grup Rien oleng. Puncaknya keseimbangan sudah tak bisa dipertahankan. Rien tak merobohkan tubuh pada lelaki kurus di belakang dan menghempaskan tubuh ke samping, namun malang ia malah "kejatuhan" gajah. Pria gemuk di depannya tak bisa menguasai diri, menindih Rien yang hanya bisa meringis.
"Kau tak apa-apa kan?" Suara berat mengagetkannya. Perempuan kurus nan jangkung itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Yaa... Aku nggak apa-apa..." Dengan sigap Rien menerima uluran tangan perempuan super cuek itu. Pegal dan letih tubuh Rien yang bercampur menjadi satu seolah-olah musnah seketika perempuan itu mempertontonkan barisan putih giginya. Ia bahkan tak menyangka tanpa terlebih dahulu susah payah mencari akal, perempuan itu malah hadir di pelupuk matanya. Outbound yang tadinya membosankan kini terasa menyenangkan. Ternyata perempuan itu tak seserius raut muka dibalik kaca mata minusnya. Ia kerap melempar joke-joke ringan yang makin memikat dan melambungkan hati Rien. Puncaknya, perempuan yang hari ini terlihat sporty itu mengantar Rien sampai kost. Hanya senyum dan tawa merekah yang membias dari bibir Rien tiap kali memutar ulang detil detik waktu yang dilaluinya bersama perempuan itu. Dan Rien begitu ingin hari lekas berganti, menikmati kembali lompatan waktu bersama perempuan itu.
***
Pagi ini, tak seperti biasa, Rien teramat perfect untuk urusan riasannya. Padahal tiap harinya Rien hanya berdandan natural. Dan satu lagi, Rien berangkat lebih pagi. Hatinya begitu ringan hari ini.
"Nah, itu dia!" sorak Rien melihat perempuan itu keluar dari ruang meeting. Rien "menyiapkan" diri. Baju, riasan, semua... Perfect!
Sepersekian detik lagi mereka akan berpapasan. Perempuan itu seperti biasa nampak serius berdiskusi dengan partner kerjanya.
"Haruskah aku berpura-pura menyenggolnya lagi?" bimbang Rien. Mengingat kejadian kemarin, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan insiden kecil itu lagi.
Secara tak sengaja, mata keduanya beradu. Rien menyuguhkan senyum termanisnya dan butuh cukup lama jeda waktu bagi perempuan itu untuk membalas senyum Rien. Dan hanya sebuah senyuman singkat, kemudian ia berlalu. Respon yang sama seperti insiden lalu. Seolah lupa akan kejadian kemarin, yah meski tak terjadi apa-apa memang, tapi Rien merasa paling tidak sikapnya kemarin sudah sedikit lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Tapi kenapa barusan ia seperti amnesia tak mengenal Rien dan memperlakukan Rien layaknya belum saling mengenal?
Rien tertegun. Indah, kemarin memang begitu indah, tapi tak untuk kumiliki...
Iseng: Butchy atau Sekedar Tomboy?
Di kosan-ku, tepatnya di lantai bawah, ada seorang perempuan berambut cepak yang menurut pasanganku adalah seorang butch. Malahan, salah satu alasan ia memilihkan kos ini adalah karena keberadaan perempuan itu. Bahkan parahnya, tiap kali pasanganku kemari, ia langsung stereo begitu mendengar suara perempuan itu. Ia bahkan mengacuhkanku dan melongok ke bawah untuk mengintip aktivitas si tomboy. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan tingkahnya. Bukan cemburu, hanya tak habis pikir ia teramat yakin bahwa perempuan itu berorientasi seksual sama dengan kami. Dan bukan ingin mengurusi pilihan orientasi seksual seseorang, memang jika dilihat secara fisik, suara dan gaya bicara, ia seperti butchy kebanyakan.
Aku kemudian mengetahui namanya dan dimana ia bekerja. Ternyata ia lebih dulu tahu namaku. Kukira ia akan ramah, namun -gaya khas butchy-nya kerap kali keluar, cuek. Aku juga model orang yang kadang ogah untuk menyapa duluan. Jadinya, kami diam-diaman karena tak ada yang memulai.
Kemarin, hujan lumayan deras mengguyur, mengurungkan niatku yang hendak menonton teater di ALKID. Namun ketika reda, seorang teman berniat menjemput. Aku menunggunya di depan gang. Tak lama si "butchy" muncul mengendarai motor. Ia menghentikan motor tak jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki tengah menunggunya. Keduanya kemudian berbincang. Disinilah, rasa penasaranku tumbuh. Siapa laki-laki itu? Benarkah perempuan itu belok? Aku jadi mengamatinya, meski hanya tampak belakang. Perempuan itu mengenakan jeans "cewek" dan kemeja pendek ala "cewek" kantoran. Yah, ia memang "cewek" dan orientasi seksual seseorang memang tak bisa dipatenkan semata dari penampilan luar, sekaligus juga kurang kerjaan sekali ingin tahu tentang orientasi seksual orang lain, tapi diluar itu semua dan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, rasa-rasanya aku akan mematahkan persepsi pasanganku tentang perempuan itu.
Kurasa ia hanya sekedar tomboy, entah karena memang begitulah karakternya yang sebenarnya atau hanya tuntutan pekerjaan yang ia geluti, yaitu sebagai sekuriti sebuah pabrik lampu.
"Mungkin cowok itu temennya kali..." Perempuanku masih keukeuh dengan pendapatnya.
Hmm... Sungguh kurang kerjaan memang, tapi setidaknya kami berbeda argumen kali ini.
Aku kemudian mengetahui namanya dan dimana ia bekerja. Ternyata ia lebih dulu tahu namaku. Kukira ia akan ramah, namun -gaya khas butchy-nya kerap kali keluar, cuek. Aku juga model orang yang kadang ogah untuk menyapa duluan. Jadinya, kami diam-diaman karena tak ada yang memulai.
Kemarin, hujan lumayan deras mengguyur, mengurungkan niatku yang hendak menonton teater di ALKID. Namun ketika reda, seorang teman berniat menjemput. Aku menunggunya di depan gang. Tak lama si "butchy" muncul mengendarai motor. Ia menghentikan motor tak jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki tengah menunggunya. Keduanya kemudian berbincang. Disinilah, rasa penasaranku tumbuh. Siapa laki-laki itu? Benarkah perempuan itu belok? Aku jadi mengamatinya, meski hanya tampak belakang. Perempuan itu mengenakan jeans "cewek" dan kemeja pendek ala "cewek" kantoran. Yah, ia memang "cewek" dan orientasi seksual seseorang memang tak bisa dipatenkan semata dari penampilan luar, sekaligus juga kurang kerjaan sekali ingin tahu tentang orientasi seksual orang lain, tapi diluar itu semua dan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, rasa-rasanya aku akan mematahkan persepsi pasanganku tentang perempuan itu.
Kurasa ia hanya sekedar tomboy, entah karena memang begitulah karakternya yang sebenarnya atau hanya tuntutan pekerjaan yang ia geluti, yaitu sebagai sekuriti sebuah pabrik lampu.
"Mungkin cowok itu temennya kali..." Perempuanku masih keukeuh dengan pendapatnya.
Hmm... Sungguh kurang kerjaan memang, tapi setidaknya kami berbeda argumen kali ini.
Wednesday, November 26, 2008
M E R I N D U M U
Hampir tiga minggu aku di kota ini. Kota tempat tinggalmu meski kita tak tiap hari ketemu. Namun begitu ada sedikit, kalau boleh kubilang banyak, pergeseran perasaan yang cukup mencolok yang kurasakan sejak dan selama aku di kota ini.
Dulu, saat kita masih terpisah, Jakarta-Jogja, Jawa Timur-Jogja, jujur perasaanku tak seberapa menggebu meski hampir tiap menit hapeku berdering. Sepertinya hape menjadi sahabat mengalahkan apapun, padahal aku tipe orang yang agak-agak nggak betah ditelpon dalam frekuensi lama oleh orang yang sama di hari yang sama, terkecuali jika memang ada keperluan yang benar-benar penting. Kadang jengah juga jika hape selalu berdering. Logikanya, pacaran kok sama hape? Yang dicium kok malah handsfree, ampe bau jigong lagi!
Tapi sejak menetap di satu kota yang sama, sekali lagi, aku bisa merasakan begitu besar pergeseran itu terjadi. Meski intensitas pertemuan tak terlalu sering, namun waktu-waktu dimana tak bertemu itulah seakan kurasa makin membuat kentara pergeseran perasaan yang kurang menggebu kini berubah kangen setengah hidup itu. Malahan jika tak ada dering nomormu di layar hapeku, aku kerap menduga-duga sedang apakah kau disana, seperti orang yang baru pertama jatuh cinta saja! Ah, aku tak sedang menggombal, hanya coba menggambarkan realita yang aku sendiri kadang dibuat tersenyum akannya.
Rindu... Sebuah perasaan yang mungkin dulu tak kurasakan karena tak menemukan sosok yang kurindukan dalam rentang jarak dan waktu, namun ketika sosokmu membelit hari-hari nyataku, perasaan itu sanggup luluh, bercampur putaran waktu di hidupku ketika kau tak sedang ada dalam selayang pandangku.
Semoga kau pun begitu...
Dulu, saat kita masih terpisah, Jakarta-Jogja, Jawa Timur-Jogja, jujur perasaanku tak seberapa menggebu meski hampir tiap menit hapeku berdering. Sepertinya hape menjadi sahabat mengalahkan apapun, padahal aku tipe orang yang agak-agak nggak betah ditelpon dalam frekuensi lama oleh orang yang sama di hari yang sama, terkecuali jika memang ada keperluan yang benar-benar penting. Kadang jengah juga jika hape selalu berdering. Logikanya, pacaran kok sama hape? Yang dicium kok malah handsfree, ampe bau jigong lagi!
Tapi sejak menetap di satu kota yang sama, sekali lagi, aku bisa merasakan begitu besar pergeseran itu terjadi. Meski intensitas pertemuan tak terlalu sering, namun waktu-waktu dimana tak bertemu itulah seakan kurasa makin membuat kentara pergeseran perasaan yang kurang menggebu kini berubah kangen setengah hidup itu. Malahan jika tak ada dering nomormu di layar hapeku, aku kerap menduga-duga sedang apakah kau disana, seperti orang yang baru pertama jatuh cinta saja! Ah, aku tak sedang menggombal, hanya coba menggambarkan realita yang aku sendiri kadang dibuat tersenyum akannya.
Rindu... Sebuah perasaan yang mungkin dulu tak kurasakan karena tak menemukan sosok yang kurindukan dalam rentang jarak dan waktu, namun ketika sosokmu membelit hari-hari nyataku, perasaan itu sanggup luluh, bercampur putaran waktu di hidupku ketika kau tak sedang ada dalam selayang pandangku.
Semoga kau pun begitu...
Thursday, November 20, 2008
Funtastik Four In Memorial
Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada hati bicara
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga...
***
Malam -dini hari- ini entah kenapa mataku begitu sulit terpejam, mengembara tak tentu arah. Mungkin ini efek kopi Nescafe yang kutenggak sehabis maghrib tadi, tapi kalaupun ya, wow dahsyat banget hingga khasiatnya masih merasuk setelah enam jam.
Aku mengutak-atik ponsel sembari melirik jam yang tertera di pojok atas. Pukul dua belas lewat tiga menit. Mataku sebenarnya ingin istirahat tapi benakku entah kenapa melayang-layang tak mau ditidurkan.
Kuperiksa kembali beberapa lagu baru dan lama yang sejenak lalu kupindahkan dari komputer. Termasuk lagu Kla Project diatas. Salah satu lagu kesukaanku. Juga lagu Lembayung Bali milik Saras Dewi, namun dalam format MP4. Dan aku baru tau ternyata hapeku juga bisa dipakai untuk menyimpan file dengan format tersebut hehehe ndeso!
Mendengarkan lagu-lagu mellow bukannya bikin ngantuk malah mata yang tadinya nggak kuat melek jadi makin stereo. Apalagi ketika tak sengaja memeriksa kapasitas memori hape yang tersisa hanya belasan MB saja, kontan dengan cekatan jemariku men-delete lagu-lagu yang jarang kudengarkan. Ruang memori memang telah lowong, namun aku masih bergerilya pada satu demi satu folder untuk menghapus file atau foto yang tak perlu.
Pada folder Rekaman, ada empat file. Iseng, aku membukanya. Ternyata tiga diantaranya kurekam saat Funtastik Four tengah ber-conference ria. Aku bahkan tak ingat aku pernah merekam momen ini. Dua rekaman berisi acara nyanyi-nyanyi. Dan satunya tentang ide bikin friendster keroyokannya F4. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya, sekaligus trenyuh. Senyum karena ketiga orang peserta conference itu tak sadar aku tengah merekam suara mereka, bahkan kebingungan mendengar bunyi TUT TUT di sepanjang pembicaraan dan mereka-reka apa yang sesungguhnya tengah kulakukan. Trenyuh karena rencana indah yang pernah terucap kini hanya menjadi serpihan memori yang mungkin telah terlupakan.
Tragis. Pertikaian tak berujung pangkal memupuskan apa-apa yang terjanjikan kemudian teringkari. Keangkuhan hati untuk memulai lagi. Ego yang begitu tinggi. Ah, aku juga tak sedang berharap semua akan kembali seperti dulu. Karena aku sangat menyadari ini tak semudah membalik telapak tangan seperti semua termusnahkan dengan sebegitu gampang. Mendengarkan rekaman itulah yang mencetuskan ide menuliskannya disini sebagai In Memorial akan F4 yang telah tiada. Dan kok pas banget Mas Katon juga lagi nyeliwer nyanyiin lagu diatas.
Kuharap masih ada hati bicara
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga...
***
Malam -dini hari- ini entah kenapa mataku begitu sulit terpejam, mengembara tak tentu arah. Mungkin ini efek kopi Nescafe yang kutenggak sehabis maghrib tadi, tapi kalaupun ya, wow dahsyat banget hingga khasiatnya masih merasuk setelah enam jam.
Aku mengutak-atik ponsel sembari melirik jam yang tertera di pojok atas. Pukul dua belas lewat tiga menit. Mataku sebenarnya ingin istirahat tapi benakku entah kenapa melayang-layang tak mau ditidurkan.
Kuperiksa kembali beberapa lagu baru dan lama yang sejenak lalu kupindahkan dari komputer. Termasuk lagu Kla Project diatas. Salah satu lagu kesukaanku. Juga lagu Lembayung Bali milik Saras Dewi, namun dalam format MP4. Dan aku baru tau ternyata hapeku juga bisa dipakai untuk menyimpan file dengan format tersebut hehehe ndeso!
Mendengarkan lagu-lagu mellow bukannya bikin ngantuk malah mata yang tadinya nggak kuat melek jadi makin stereo. Apalagi ketika tak sengaja memeriksa kapasitas memori hape yang tersisa hanya belasan MB saja, kontan dengan cekatan jemariku men-delete lagu-lagu yang jarang kudengarkan. Ruang memori memang telah lowong, namun aku masih bergerilya pada satu demi satu folder untuk menghapus file atau foto yang tak perlu.
Pada folder Rekaman, ada empat file. Iseng, aku membukanya. Ternyata tiga diantaranya kurekam saat Funtastik Four tengah ber-conference ria. Aku bahkan tak ingat aku pernah merekam momen ini. Dua rekaman berisi acara nyanyi-nyanyi. Dan satunya tentang ide bikin friendster keroyokannya F4. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya, sekaligus trenyuh. Senyum karena ketiga orang peserta conference itu tak sadar aku tengah merekam suara mereka, bahkan kebingungan mendengar bunyi TUT TUT di sepanjang pembicaraan dan mereka-reka apa yang sesungguhnya tengah kulakukan. Trenyuh karena rencana indah yang pernah terucap kini hanya menjadi serpihan memori yang mungkin telah terlupakan.
Tragis. Pertikaian tak berujung pangkal memupuskan apa-apa yang terjanjikan kemudian teringkari. Keangkuhan hati untuk memulai lagi. Ego yang begitu tinggi. Ah, aku juga tak sedang berharap semua akan kembali seperti dulu. Karena aku sangat menyadari ini tak semudah membalik telapak tangan seperti semua termusnahkan dengan sebegitu gampang. Mendengarkan rekaman itulah yang mencetuskan ide menuliskannya disini sebagai In Memorial akan F4 yang telah tiada. Dan kok pas banget Mas Katon juga lagi nyeliwer nyanyiin lagu diatas.
Monday, November 17, 2008
Perempuanmu Yang Lain
Bodoh nan tolol. Itulah aku dan perasaanku. Kenapa hal itu tak pernah sedikit pun terlintas di benakku? Kau dan perempuan itu ada affair apapun lah namanya, sebab perempuan itu juga mempunyai kekasih, sama seperti kau yang telah cukup lama menjalin kasih denganku. Kenapa hal itu tak terfikir olehku? Aku juga bertanya-tanya sendiri. Dalam hening kamar, ketika aku memeras otak untuk mencari jawaban atas solusi masalah kita, yah barulah terbersit pemikiran tersebut yang kemudian kutelaah satu demi satu rentetan kejadian akhir-akhir ini.
Perempuan itu... Namanya tak pernah sekali pun kau sebut di depanku. Hanya ketika aku "mengecek" ponselmu kutemukan nama itu dalam barisan smsmu. Dan aku baru menyadari satu hal, nomor hapeku pun tak kau simpan dalam phonebook, tak seperti nama perempuan itu. Singkat, namun jelas.
Aku tak mempermasalahkannya waktu itu. Walau aku juga tak tahu alasanmu untuk tak memberikan ruang bagi namaku dalam buku teleponmu. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya. Satu hal ketika itu aku memintamu untuk menelepon perempuan itu di depanku.
"Kalo jam segini ia kerja, pasti nggak akan diangkat!" kilahmu. Tapi aku keukeuh memanggil nomor perempuan itu. Lama... Terdengar suara perempuan di seberang.
"Halo..." Suara perempuan itu lembut. Kau memang telah memberi tahu bahwa perempuan itu adalah FEMME.
Kau mengobrol dengan perempuan itu, basa basi. Entah ini hanya perasaanku atau memang demikian adanya, aku melihat kau tampak kikuk berbicara dengan perempuan itu. Namun aku kemudian menepis kecurigaanku. Kau hanya menyayangiku, begitu kepercayaan yang selalu kutanam dalam hati dan pikiranku.
Esoknya, aku mendapat kabar bahwa putri semata wayangmu harus opname di rumah sakit.
"Aku mau jenguk ya.." tawarku.
"Nggak!" sergahmu spontan. "Apa kau ingin membunuhku?"
"Emang kenapa?" Alisku berkerut.
"Bapak ibuku ada disini. Lagian penampilanmu itu kan kayak laki-laki, nanti mereka tanya macam-macam!"
Aku tak berkutik. Kau melarang keras aku menjenguk meski malam itu orangtuamu pulang karena pasien cukup dijaga satu orang.
"Semalam T (inisial perempuan itu) kesini lho..." ujarmu pagi hari setelah sekali lagi aku menawarkan diri menjenguk namun kau tetap saja melarangku.
Deg. Perempuan itu lagi. Dan caramu memberitahuku itu... Aku menangkap rona kegirangan mendalam dalam nada suaramu.
"Kok dia boleh jenguk, sedang aku tidak?" protesku.
"Dia kan femme. Lagian dia ngajak temennya, juga feminin,"
Lagi-lagi soal penampilan!
***
Dan kini, setelah semua hal yang menyangkut perempuan itu terputar dalam rekaman otakku, aku mulai sedikit mengerti. Aku tak ingin curiga. Sungguh, aku tak hendak berprasangka. Nalarku hanya mengeja satu demi satu aliran cerita di depan mata.
Shit! Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa aku sebegitu bodoh dan tololnya dikelabui oleh manis bibirmu yang melantunkan cinta. Kau merapuh dalam pelukku, namun ah entah apa isi benakmu. Mungkin aku yang telah keliru, kepercayaan yang tak hanya kulafalkan dalam lisanku, namun juga perilaku, yang kerap kau tuduhkan sebagai bentuk kecuekanku, telah kau tangkap dengan pengartian yang juga keliru.
Dalam ruang 3x3 ini otakku berpacu bersama waktu. Kadang menerawang, terbang, lalu terjaga dari lamunku. Aku sedang mencari solusi. Pemecahan atas himpitan tuduhan dan ketidakpercayaan yang menyesakkan dadaku. Siapapun, ketika dituduh atas sesuatu hal yang tak pernah kita lakukan, lama kelamaan membuat kesabaran tumbang, menyisakan tumpukan kekesalan yang awalnya mungkin terbiarkan sebagai sebuah lelucon tak berarti.
Butchie tidak boleh menangis! Siapa bilang? Kadang ketika manusia berada di titik dimana ia terlalu letih atas beban pikiran yang bahkan otak pun tak kuat setelah terus menerus digerus, maka tetesan airmata terasa begitu melegakan. Karena dalam tiap biji airmata yang tumpah bagiku dibarengi oleh kesadaran, mungkin bukan pemecahan masalah, namun setidaknya sesuatu hal yang membuat kita bangkit layaknya tamparan keras yang menggugah segenap urat syaraf kita untuk kembali pada fungsi semula. Meletakkan apa-apa pada tempat yang semestinya.
Hahh... Ketika buliran air yang meretas dari kelopak mataku mengering, ada sebongkah senyuman yang merekah. Bukan karena aku telah menemukan solusi. Bukan karena praduga yang membelit otakku telah kudapat jawabannya. Hanya sebuah kelegaan. Longgarnya dinding-dinding hati yang tadinya tersumpal dan teracuni.
Aku memang tak pernah dan tak akan pernah tahu isi otakmu, meski beragam kata cinta dan cemburu kau umbar hiasi hariku.
Lelah hati ini meyakinkanmu... Cinta ini [tak akan] membunuhku...
Perempuan itu... Namanya tak pernah sekali pun kau sebut di depanku. Hanya ketika aku "mengecek" ponselmu kutemukan nama itu dalam barisan smsmu. Dan aku baru menyadari satu hal, nomor hapeku pun tak kau simpan dalam phonebook, tak seperti nama perempuan itu. Singkat, namun jelas.
Aku tak mempermasalahkannya waktu itu. Walau aku juga tak tahu alasanmu untuk tak memberikan ruang bagi namaku dalam buku teleponmu. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya. Satu hal ketika itu aku memintamu untuk menelepon perempuan itu di depanku.
"Kalo jam segini ia kerja, pasti nggak akan diangkat!" kilahmu. Tapi aku keukeuh memanggil nomor perempuan itu. Lama... Terdengar suara perempuan di seberang.
"Halo..." Suara perempuan itu lembut. Kau memang telah memberi tahu bahwa perempuan itu adalah FEMME.
Kau mengobrol dengan perempuan itu, basa basi. Entah ini hanya perasaanku atau memang demikian adanya, aku melihat kau tampak kikuk berbicara dengan perempuan itu. Namun aku kemudian menepis kecurigaanku. Kau hanya menyayangiku, begitu kepercayaan yang selalu kutanam dalam hati dan pikiranku.
Esoknya, aku mendapat kabar bahwa putri semata wayangmu harus opname di rumah sakit.
"Aku mau jenguk ya.." tawarku.
"Nggak!" sergahmu spontan. "Apa kau ingin membunuhku?"
"Emang kenapa?" Alisku berkerut.
"Bapak ibuku ada disini. Lagian penampilanmu itu kan kayak laki-laki, nanti mereka tanya macam-macam!"
Aku tak berkutik. Kau melarang keras aku menjenguk meski malam itu orangtuamu pulang karena pasien cukup dijaga satu orang.
"Semalam T (inisial perempuan itu) kesini lho..." ujarmu pagi hari setelah sekali lagi aku menawarkan diri menjenguk namun kau tetap saja melarangku.
Deg. Perempuan itu lagi. Dan caramu memberitahuku itu... Aku menangkap rona kegirangan mendalam dalam nada suaramu.
"Kok dia boleh jenguk, sedang aku tidak?" protesku.
"Dia kan femme. Lagian dia ngajak temennya, juga feminin,"
Lagi-lagi soal penampilan!
***
Dan kini, setelah semua hal yang menyangkut perempuan itu terputar dalam rekaman otakku, aku mulai sedikit mengerti. Aku tak ingin curiga. Sungguh, aku tak hendak berprasangka. Nalarku hanya mengeja satu demi satu aliran cerita di depan mata.
Shit! Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa aku sebegitu bodoh dan tololnya dikelabui oleh manis bibirmu yang melantunkan cinta. Kau merapuh dalam pelukku, namun ah entah apa isi benakmu. Mungkin aku yang telah keliru, kepercayaan yang tak hanya kulafalkan dalam lisanku, namun juga perilaku, yang kerap kau tuduhkan sebagai bentuk kecuekanku, telah kau tangkap dengan pengartian yang juga keliru.
Dalam ruang 3x3 ini otakku berpacu bersama waktu. Kadang menerawang, terbang, lalu terjaga dari lamunku. Aku sedang mencari solusi. Pemecahan atas himpitan tuduhan dan ketidakpercayaan yang menyesakkan dadaku. Siapapun, ketika dituduh atas sesuatu hal yang tak pernah kita lakukan, lama kelamaan membuat kesabaran tumbang, menyisakan tumpukan kekesalan yang awalnya mungkin terbiarkan sebagai sebuah lelucon tak berarti.
Butchie tidak boleh menangis! Siapa bilang? Kadang ketika manusia berada di titik dimana ia terlalu letih atas beban pikiran yang bahkan otak pun tak kuat setelah terus menerus digerus, maka tetesan airmata terasa begitu melegakan. Karena dalam tiap biji airmata yang tumpah bagiku dibarengi oleh kesadaran, mungkin bukan pemecahan masalah, namun setidaknya sesuatu hal yang membuat kita bangkit layaknya tamparan keras yang menggugah segenap urat syaraf kita untuk kembali pada fungsi semula. Meletakkan apa-apa pada tempat yang semestinya.
Hahh... Ketika buliran air yang meretas dari kelopak mataku mengering, ada sebongkah senyuman yang merekah. Bukan karena aku telah menemukan solusi. Bukan karena praduga yang membelit otakku telah kudapat jawabannya. Hanya sebuah kelegaan. Longgarnya dinding-dinding hati yang tadinya tersumpal dan teracuni.
Aku memang tak pernah dan tak akan pernah tahu isi otakmu, meski beragam kata cinta dan cemburu kau umbar hiasi hariku.
Lelah hati ini meyakinkanmu... Cinta ini [tak akan] membunuhku...
Cuapek Duech!!!
Awalnya kukira -dan juga logikanya- jika sepasang kekasih yang dalam kurun waktu setahun lebih dibentangkan oleh jarak dan cemburu, kini berdekatan meski tak satu atap namun intensitas pertemuan jauh lebih sering akan membuat sepasang kekasih tersebut solid, rukun dan sejenisnya. Tapi ternyata tak kutemui dalam kenyataan hubunganku sendiri.
Kecemburuan yang selalu menghiasi tiap pergerakanku selama kita tak tinggal satu kota -entah ponselku yang sibuk karena menerima telepon teman atau ketika waktuku banyak tersita oleh keluarga- kuanggap sebagai suatu kewajaran dalam relationship. Tapi kini, ketika tak lagi ada jarak -kecuali jarak antara rumahmu bersama suami atau orangtuamu dengan kosku-, ketika aku tak lagi jauh dari arah pandangmu, kenapa masih saja kecemburuan itu tak jua sirna dari otakmu? Aku mempertanyakan, juga sekaligus bingung, kecemburuan ataukah ada yang kau sembunyikan dariku?
Sebab menurut pemikiranku -dan mungkin kebanyakan orang juga-, ketika seseorang berpikir terlalu negatif akan orang lain, ada (baca: banyak) kemungkinan dirinya sendiri lah yang tengah melakukan hal negatif tersebut. Karena ia tak akan berpikir terlalu buruk pada orang lain jika ia sendiri tak melakukannya. Jadi ketika ia berpikiran orang lain melakukan hal yang buruk adalah kamuflase atas perilaku yang MUNGKIN dilakukannya sendiri.
Tentu saja aku tak sedang berpikiran buruk kau tengah melakukan hal-hal yang sering kau tuduhkan padaku (SELINGKUH-red). Namun wallahu a'lam jika kau benar-benar melakukannya:)
Balik ke topik JELES diatas. Kadang ketika narsis mode on- ku kumat aku berpikiran: Emang secakep apa sih diriku ini hingga kau teramat sangat mencemburuiku sekali (biarin dah keluar dari EYD deh!). Padahal kau tahu dengan pasti ku ada dimana, bersama siapa, sedang berbuat apa... Hehe kok jadi kayak lagu ya.. Gitu masih saja kecurigaan yang kau tuliskan lewat sms mengalir deras ke ponselku. Bahkan yang paling parah nih, ketika pagi-pagi aku boker (B.A.B), kudengar hape berdering beberapa kali, lalu diakhiri sebuah sms. Selesai buang hajat, kubaca isinya: "Kamu kemana sih, kok mencurigakan?" Ampyun deh, orang lagi pup juga di otak kotorin!
Aku bukannya tak senang dicemburui, tapi jika sudah dalam porsi berlebihan dan jauh dari batas kewajaran, lama-lama jengah juga diperlakukan demikian. Aku berpikir seolah-olah aku harus di rumah, tidur, sendiri (jadi kayak iklan ajah!) agar kau tak berkata macam-macam. Apakah memang itu yang kau inginkan? Berada dalam kotak 3x3, terisolir dari dunia luar, tak ada sosialisasi dengan orang lain. Hanya berteman dengan komputer dan telepon-telepon darimu. Itukah yang kau ingin perbuat padaku? Sebab ketika diluaran, kau pikir aku seperti remaja belasan tahun yang belum bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan yang buruk, hingga kau MERASA perlu mewejangiku ini itu.
Seperti hari ini, aku berada di titik terendah untuk meredam emosi yang kurang lebih dua minggu selama aku disini, tertahan.
Aku hanya ingin membuatmu berpikir, merenungi untuk kemudian kau tarik garis kesimpulan sendiri, hubungan seperti apa sih yang kau inginkan hingga kau tak lagi selalu berpikiran buruk terhadap pasanganmu?
Baca, pahami, resapi, renungi dan ambil jalan tengah terbaik.
KEPERCAYAAN tidak butuh terucap melalui lisan, jikalau hatimu masih meragukan.
Kecemburuan yang selalu menghiasi tiap pergerakanku selama kita tak tinggal satu kota -entah ponselku yang sibuk karena menerima telepon teman atau ketika waktuku banyak tersita oleh keluarga- kuanggap sebagai suatu kewajaran dalam relationship. Tapi kini, ketika tak lagi ada jarak -kecuali jarak antara rumahmu bersama suami atau orangtuamu dengan kosku-, ketika aku tak lagi jauh dari arah pandangmu, kenapa masih saja kecemburuan itu tak jua sirna dari otakmu? Aku mempertanyakan, juga sekaligus bingung, kecemburuan ataukah ada yang kau sembunyikan dariku?
Sebab menurut pemikiranku -dan mungkin kebanyakan orang juga-, ketika seseorang berpikir terlalu negatif akan orang lain, ada (baca: banyak) kemungkinan dirinya sendiri lah yang tengah melakukan hal negatif tersebut. Karena ia tak akan berpikir terlalu buruk pada orang lain jika ia sendiri tak melakukannya. Jadi ketika ia berpikiran orang lain melakukan hal yang buruk adalah kamuflase atas perilaku yang MUNGKIN dilakukannya sendiri.
Tentu saja aku tak sedang berpikiran buruk kau tengah melakukan hal-hal yang sering kau tuduhkan padaku (SELINGKUH-red). Namun wallahu a'lam jika kau benar-benar melakukannya:)
Balik ke topik JELES diatas. Kadang ketika narsis mode on- ku kumat aku berpikiran: Emang secakep apa sih diriku ini hingga kau teramat sangat mencemburuiku sekali (biarin dah keluar dari EYD deh!). Padahal kau tahu dengan pasti ku ada dimana, bersama siapa, sedang berbuat apa... Hehe kok jadi kayak lagu ya.. Gitu masih saja kecurigaan yang kau tuliskan lewat sms mengalir deras ke ponselku. Bahkan yang paling parah nih, ketika pagi-pagi aku boker (B.A.B), kudengar hape berdering beberapa kali, lalu diakhiri sebuah sms. Selesai buang hajat, kubaca isinya: "Kamu kemana sih, kok mencurigakan?" Ampyun deh, orang lagi pup juga di otak kotorin!
Aku bukannya tak senang dicemburui, tapi jika sudah dalam porsi berlebihan dan jauh dari batas kewajaran, lama-lama jengah juga diperlakukan demikian. Aku berpikir seolah-olah aku harus di rumah, tidur, sendiri (jadi kayak iklan ajah!) agar kau tak berkata macam-macam. Apakah memang itu yang kau inginkan? Berada dalam kotak 3x3, terisolir dari dunia luar, tak ada sosialisasi dengan orang lain. Hanya berteman dengan komputer dan telepon-telepon darimu. Itukah yang kau ingin perbuat padaku? Sebab ketika diluaran, kau pikir aku seperti remaja belasan tahun yang belum bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan yang buruk, hingga kau MERASA perlu mewejangiku ini itu.
Seperti hari ini, aku berada di titik terendah untuk meredam emosi yang kurang lebih dua minggu selama aku disini, tertahan.
Aku hanya ingin membuatmu berpikir, merenungi untuk kemudian kau tarik garis kesimpulan sendiri, hubungan seperti apa sih yang kau inginkan hingga kau tak lagi selalu berpikiran buruk terhadap pasanganmu?
Baca, pahami, resapi, renungi dan ambil jalan tengah terbaik.
KEPERCAYAAN tidak butuh terucap melalui lisan, jikalau hatimu masih meragukan.
Friday, November 14, 2008
Lai... (6x) Aku Ketemu Jablay...
Aku baru seminggu menginjakkan kaki di kota ini, kemudian diajak seorang teman ke rumah salah seorang teman perempuannya. Sebuah kos2an yang menurutku terpencil. Siapapun tak akan mengira ada kos2an disana. Bentuknya memanjang bersebelahan dan tidak berhadapan. Kamar perempuan yang kami temui ini berada di ujung.
Perempuan itu tampak sedang mengutak atik wajahnya yang dalam proses perawatan pengelupasan kulit mati. Jemarinya dengan cekatan mengambil secuil demi secuil kulit yang mengelupas bak ular ganti kulit.
"Perawatan gini ini harus seminggu, sedangkan ini masih dua hari!" jelasnya tanpa berpaling dari cermin.
Waduh, aku sih ogah kalau disuruh bersahabat dengan cermin lama-lama. Mending jerawatan deh daripada ribet dengan ritual perawatan pengangkatan sel-sel kulit mati halah halah...
Seorang teman menyikutku untuk melihat perempuan berkulit putih dengan rambut kecoklatan yang sedang membasuh muka di kran tak jauh dari tempat kami duduk.
"Cantik!" desis temanku itu sambil matanya tak lepas mengikuti tiap lekukan tubuh si perempuan.
Ketika perempuan itu melewati kami hendak ke kamarnya, temanku tak menyiakan kesempatan.
"Namanya siapa, mbak?" Tanpa diminta temanku mengulurkan tangan.
"Eva," jawab perempuan itu malu-malu karena temanku tak juga melepaskan tangannya dari sambutan tangan perempuan yang wajahnya agak kearab-araban itu. Dan temanku makin beringas menggoda. Dasar player, uggh!
Seorang perempuan lagi muncul. Memakai tanktop hitam merah, wajah dan kulitnya khas oriental. Raut mukanya sedikit tak bersahabat. Bibirnya manyun, terkesan judes. Ataukah mungkin memang sehari-hari ia demikian, aku kurang tahu!
Perempuan ini tak menarik minat teman-temanku. Justru aku yang "terpikat". Wajahnya mirip sekali dengan Nyak belokku di Jakarta dulu. Omongannya lumayan kasar. Sedikit-sedikit kata ASU (Baca: Anj***) terlontar dari bibirnya. Ia kemudian membawa motornya pergi sebelum sempat kujelajah sosoknya lebih jauh. Eits, bukan naksir lho ya, hanya mengenal saja coz she's straight and I hear ia baru aja putus ama cowoknya.
Menit berganti jam kulewati dengan memperhatikan temanku yang asyik menggoda perempuan bernama Eva yang sedari tadi sibuk dengan dua hapenya yang bergantian berdering. Ia bicara berbisik-bisik sambil sesekali mengintip ke kamarnya. Awalnya aku nggak ngeh, apa yang ia tutupi, rupanya ada laki-laki dalam kamarnya. Sedang terlelap. Entah habis berapa ronde.
Kesan pertamaku pada perempuan ini bertolak belakang dari dua temanku yang beropini ia "menarik". Wajahnya memang tergolong cantik. Tapi entah kenapa dimataku tetap saja ia tidak "menarik". Apalagi ketika suaranya menggelegar seantero kos, makin memudarkan pesonanya. Ternyata bukan hanya aku, dua temanku kemudian beralih opini terhadap perempuan bahenol (Baca: BAdan HEbat Otak NOL!). Meski begitu ada saja kelakuan temanku yang tergolong AGAK PENDIAM (Baca: Malu2 Kuciang) secara sembunyi-sembunyi memotret selangkangannya. Duduknya memang tak santun. Menganga seperti siap digagahi saja. Belum lagi ketika teriak-teriak, bagian bawahnya seolah menjadi bass sound systemnya hahahaha.
Pergi karaoke. Ide itu dicetuskan si malu-malu kucing. Pemilik wajah oriental bernama Evi itu pulang dan ikut bersama kami. Hanya Eva yang tidak.
Musik mulai menghentak. Dibuka oleh si pencetus ide. Ia memang sering ke karaoke. Suaranya juga lumayan bagus.
Evi pamer suara. Dan vokalnya merdu pula. Bukan hanya suara, goyangannya pun wow hehehe. Ia paling suka musik dangdut, meski ia juga menyumbangkan pita suaranya lewat bait melankolis Indonesia dan lagu asing. Tapi kurasa, dangdut lah yang menurutku PAS. Bernyanyi dan berjoget mirip Inul, benar-benar padanan yang pas, ya kan:) Bahkan salah satu kakinya dinaikkan ke meja. Namun ada satu kebiasaan yang menarik perhatian banyak mata, tiap kali bergoyang ia selalu memegangi tengah-tengah selangkangannya. Aku tak tahu apa penyebabnya, bukan hendak mengundang syahwat, tapi begitulah kebiasaannya.
"Tanyain nmr hape cewek di sebelahmu dong! Sekalian tanya dia udah punya pacar belum!" Si malu2 kuciang menyuruhku. Aku menolehnya, heran. Tadi ia bilang ia tak tertarik sama sekali dengan pemilik wajah oriental yang makin hot bernyanyi dan bergoyang, tapi kenapa justru sekarang ia malah tergila-gila. Jadinya, aku menjadi mediator mereka. Sebagai pengorek keterangan tepatnya.
"Udah punya pacar belum?" tanyaku basa basi meski aku sudah tau ia baru putus.
"Baru putus, TOYING COY!" Alisku seketika berkerut tajam membaca kalimat diatas. Toying... Gila!!
"Kalau berhubungan dengan cewek gimana?" Aku mulai memancingnya.
"Gak kepikiran. Belum pernah siy!"
"Kalau berhubungan ama cewek, pake hati atau pake duit?" tanyaku tanpa tedeng aling2. Aku tak suka banyak basa basi.
"Nggak tau. Seperti yang kubilang, aku gak kepikiran,"
"Kalau temanku pengen kenal kamu, boleh?"
Ia tampak berpikir sebelum menjawab. "PDKT aja dulu!
Aku mengacungkan jempol pada si malu2 kuciang pertanda jalan sudah terbuka baginya.
Perempuan itu... Dimatanya tersiratkan sebuah beban pikiran. Mungkin masalah dengan lelakinya belumlah selesai benar. Jika tak mengolah suara, ia memilih duduk diam dengan benak menerawang serta berbatang-batang rokok. Ia tau betul aku kerap memperhatikannya. Dan kalo gitu ia akan cepat-cepat pasang senyum yang dipaksakan. Tapi tetap saja mata itu tak bisa menipu.
Beberapa hari kemudian aku dapat kabar si malu2 kuciang sudah jadian dengan perempuan straight patah hati itu. Entah karena suatu alasan apa...
Perempuan itu tampak sedang mengutak atik wajahnya yang dalam proses perawatan pengelupasan kulit mati. Jemarinya dengan cekatan mengambil secuil demi secuil kulit yang mengelupas bak ular ganti kulit.
"Perawatan gini ini harus seminggu, sedangkan ini masih dua hari!" jelasnya tanpa berpaling dari cermin.
Waduh, aku sih ogah kalau disuruh bersahabat dengan cermin lama-lama. Mending jerawatan deh daripada ribet dengan ritual perawatan pengangkatan sel-sel kulit mati halah halah...
Seorang teman menyikutku untuk melihat perempuan berkulit putih dengan rambut kecoklatan yang sedang membasuh muka di kran tak jauh dari tempat kami duduk.
"Cantik!" desis temanku itu sambil matanya tak lepas mengikuti tiap lekukan tubuh si perempuan.
Ketika perempuan itu melewati kami hendak ke kamarnya, temanku tak menyiakan kesempatan.
"Namanya siapa, mbak?" Tanpa diminta temanku mengulurkan tangan.
"Eva," jawab perempuan itu malu-malu karena temanku tak juga melepaskan tangannya dari sambutan tangan perempuan yang wajahnya agak kearab-araban itu. Dan temanku makin beringas menggoda. Dasar player, uggh!
Seorang perempuan lagi muncul. Memakai tanktop hitam merah, wajah dan kulitnya khas oriental. Raut mukanya sedikit tak bersahabat. Bibirnya manyun, terkesan judes. Ataukah mungkin memang sehari-hari ia demikian, aku kurang tahu!
Perempuan ini tak menarik minat teman-temanku. Justru aku yang "terpikat". Wajahnya mirip sekali dengan Nyak belokku di Jakarta dulu. Omongannya lumayan kasar. Sedikit-sedikit kata ASU (Baca: Anj***) terlontar dari bibirnya. Ia kemudian membawa motornya pergi sebelum sempat kujelajah sosoknya lebih jauh. Eits, bukan naksir lho ya, hanya mengenal saja coz she's straight and I hear ia baru aja putus ama cowoknya.
Menit berganti jam kulewati dengan memperhatikan temanku yang asyik menggoda perempuan bernama Eva yang sedari tadi sibuk dengan dua hapenya yang bergantian berdering. Ia bicara berbisik-bisik sambil sesekali mengintip ke kamarnya. Awalnya aku nggak ngeh, apa yang ia tutupi, rupanya ada laki-laki dalam kamarnya. Sedang terlelap. Entah habis berapa ronde.
Kesan pertamaku pada perempuan ini bertolak belakang dari dua temanku yang beropini ia "menarik". Wajahnya memang tergolong cantik. Tapi entah kenapa dimataku tetap saja ia tidak "menarik". Apalagi ketika suaranya menggelegar seantero kos, makin memudarkan pesonanya. Ternyata bukan hanya aku, dua temanku kemudian beralih opini terhadap perempuan bahenol (Baca: BAdan HEbat Otak NOL!). Meski begitu ada saja kelakuan temanku yang tergolong AGAK PENDIAM (Baca: Malu2 Kuciang) secara sembunyi-sembunyi memotret selangkangannya. Duduknya memang tak santun. Menganga seperti siap digagahi saja. Belum lagi ketika teriak-teriak, bagian bawahnya seolah menjadi bass sound systemnya hahahaha.
Pergi karaoke. Ide itu dicetuskan si malu-malu kucing. Pemilik wajah oriental bernama Evi itu pulang dan ikut bersama kami. Hanya Eva yang tidak.
Musik mulai menghentak. Dibuka oleh si pencetus ide. Ia memang sering ke karaoke. Suaranya juga lumayan bagus.
Evi pamer suara. Dan vokalnya merdu pula. Bukan hanya suara, goyangannya pun wow hehehe. Ia paling suka musik dangdut, meski ia juga menyumbangkan pita suaranya lewat bait melankolis Indonesia dan lagu asing. Tapi kurasa, dangdut lah yang menurutku PAS. Bernyanyi dan berjoget mirip Inul, benar-benar padanan yang pas, ya kan:) Bahkan salah satu kakinya dinaikkan ke meja. Namun ada satu kebiasaan yang menarik perhatian banyak mata, tiap kali bergoyang ia selalu memegangi tengah-tengah selangkangannya. Aku tak tahu apa penyebabnya, bukan hendak mengundang syahwat, tapi begitulah kebiasaannya.
"Tanyain nmr hape cewek di sebelahmu dong! Sekalian tanya dia udah punya pacar belum!" Si malu2 kuciang menyuruhku. Aku menolehnya, heran. Tadi ia bilang ia tak tertarik sama sekali dengan pemilik wajah oriental yang makin hot bernyanyi dan bergoyang, tapi kenapa justru sekarang ia malah tergila-gila. Jadinya, aku menjadi mediator mereka. Sebagai pengorek keterangan tepatnya.
"Udah punya pacar belum?" tanyaku basa basi meski aku sudah tau ia baru putus.
"Baru putus, TOYING COY!" Alisku seketika berkerut tajam membaca kalimat diatas. Toying... Gila!!
"Kalau berhubungan dengan cewek gimana?" Aku mulai memancingnya.
"Gak kepikiran. Belum pernah siy!"
"Kalau berhubungan ama cewek, pake hati atau pake duit?" tanyaku tanpa tedeng aling2. Aku tak suka banyak basa basi.
"Nggak tau. Seperti yang kubilang, aku gak kepikiran,"
"Kalau temanku pengen kenal kamu, boleh?"
Ia tampak berpikir sebelum menjawab. "PDKT aja dulu!
Aku mengacungkan jempol pada si malu2 kuciang pertanda jalan sudah terbuka baginya.
Perempuan itu... Dimatanya tersiratkan sebuah beban pikiran. Mungkin masalah dengan lelakinya belumlah selesai benar. Jika tak mengolah suara, ia memilih duduk diam dengan benak menerawang serta berbatang-batang rokok. Ia tau betul aku kerap memperhatikannya. Dan kalo gitu ia akan cepat-cepat pasang senyum yang dipaksakan. Tapi tetap saja mata itu tak bisa menipu.
Beberapa hari kemudian aku dapat kabar si malu2 kuciang sudah jadian dengan perempuan straight patah hati itu. Entah karena suatu alasan apa...
Monday, November 10, 2008
Anakmu "Butchie" Sekalee...:)
Seperti judul diatas, begitulah komentarku ketika bertemu untuk pertama kalinya dengan putri semata wayang Kupu2 Kecilku. Aku memang telah pernah melihat bocah kecil itu dalam foto dan video, kala itu aku dengan nada meledek bilang padamu wajah anakmu tampak maskulin, eh ketika bersua langsung pun ternyata ledekanku kuulang kembali.
Wajah bocah kecil itu seketika mendung saat bersirobok mata denganku. Sedetik kemudian tangisnya tumpah. Aku memang payah dalam berurusan dengan anak kecil terutama yang masih berusia batita. Pasalnya bukan sekali ini saja anak kecil "takut" padaku, tapi tiap kali aku bertemu yang namanya batita, respon mereka pasti kurang bersahabat padaku. Kukira bukan karna raut mukaku menakutkan, tapi karna memang aku tak suka dengan anak kecil. Ditambah kekikukanku dalam mengajak mereka bercanda, upps payah banget deh!
Bahkan ketika dulu aku punya adik aku tak pernah sekalipun menggendongnya. Tertarik untuk mengajaknya bercanda saja tidak. Entahlah, sampai teman-temanku heran ketika mereka gemas mencubiti pipi si bayi, aku malah tak ada hasrat sedikitpun. Sekalinya aku "disukai" bocah kecil aku malah kelimpungan, bingung apa yang mesti kulakukan. Paling dengan sangat terpaksa aku melempar candaan khas bayi yang terlihat kaku.
Balik lagi tentang bocah perempuan Kupu2 Kecilku. Meski di awal ia kurang bersahabat, bahkan tak mau menjulurkan tangan menyalamiku, perlahan ketakutannya luntur. Meski agak malu-malu ia menerima biskuit yang kusuapkan padanya. Dan kekakuan sikapnya kemudian mencair, ia sudah tak segan untuk mengacak-acak kamarku.
Untung saja aku belum merapikan semua barangku. Hanya perlengkapan mandi dan tas kecil tempat alat-alat yang penting-penting saja kutaruh sekenanya, sementara barang-barang lain masih rapat dalam kardus.
Bocah perempuan yang menurutku tak mirip dengan ibunya itu (hehehe sori dear... But its true..) benar-benar sangat hiperaktif. Aku yang melihat tingkahnya saja capek, apalagi ibunya yang tiap detik memantau tiap gerakannya. Habis main yang ini, minta yang itu, main yang ini lagi, tunjuk yang lain lagi.. Fiuuh... Capek! Tapi ketika si bocah terlihat antheng "menikmati" bermain dengan mengobrak-abrik barangku, si ibu malah enak-enakan tiduran. Waduh, pokoknya kamar yang masih berantakan ini jadi makin acak adul saja!
Tak terasa hari menjelang sore. Kupu2 Kecil berpamitan, meski berat. Bocah kecil dalam rengkuhannya terlihat mengantuk. Berbeda di kesan awal tadi, ia menjulurkan tangan dengan menahan kantuk ketika ibunya menyuruh menyalamiku. Tak berapa lama ia sudah tenggelam di alam mimpi.
Hmm... Aku memang tak suka anak kecil, tapi aku ingin segera bertemu dengannya kembali.
PS: Kata orang kalo sayang ama ibunya, maka juga harus bisa deket ama anaknya. Satu paket gitu loch! Okey, I'll try to learn bout that...
Wajah bocah kecil itu seketika mendung saat bersirobok mata denganku. Sedetik kemudian tangisnya tumpah. Aku memang payah dalam berurusan dengan anak kecil terutama yang masih berusia batita. Pasalnya bukan sekali ini saja anak kecil "takut" padaku, tapi tiap kali aku bertemu yang namanya batita, respon mereka pasti kurang bersahabat padaku. Kukira bukan karna raut mukaku menakutkan, tapi karna memang aku tak suka dengan anak kecil. Ditambah kekikukanku dalam mengajak mereka bercanda, upps payah banget deh!
Bahkan ketika dulu aku punya adik aku tak pernah sekalipun menggendongnya. Tertarik untuk mengajaknya bercanda saja tidak. Entahlah, sampai teman-temanku heran ketika mereka gemas mencubiti pipi si bayi, aku malah tak ada hasrat sedikitpun. Sekalinya aku "disukai" bocah kecil aku malah kelimpungan, bingung apa yang mesti kulakukan. Paling dengan sangat terpaksa aku melempar candaan khas bayi yang terlihat kaku.
Balik lagi tentang bocah perempuan Kupu2 Kecilku. Meski di awal ia kurang bersahabat, bahkan tak mau menjulurkan tangan menyalamiku, perlahan ketakutannya luntur. Meski agak malu-malu ia menerima biskuit yang kusuapkan padanya. Dan kekakuan sikapnya kemudian mencair, ia sudah tak segan untuk mengacak-acak kamarku.
Untung saja aku belum merapikan semua barangku. Hanya perlengkapan mandi dan tas kecil tempat alat-alat yang penting-penting saja kutaruh sekenanya, sementara barang-barang lain masih rapat dalam kardus.
Bocah perempuan yang menurutku tak mirip dengan ibunya itu (hehehe sori dear... But its true..) benar-benar sangat hiperaktif. Aku yang melihat tingkahnya saja capek, apalagi ibunya yang tiap detik memantau tiap gerakannya. Habis main yang ini, minta yang itu, main yang ini lagi, tunjuk yang lain lagi.. Fiuuh... Capek! Tapi ketika si bocah terlihat antheng "menikmati" bermain dengan mengobrak-abrik barangku, si ibu malah enak-enakan tiduran. Waduh, pokoknya kamar yang masih berantakan ini jadi makin acak adul saja!
Tak terasa hari menjelang sore. Kupu2 Kecil berpamitan, meski berat. Bocah kecil dalam rengkuhannya terlihat mengantuk. Berbeda di kesan awal tadi, ia menjulurkan tangan dengan menahan kantuk ketika ibunya menyuruh menyalamiku. Tak berapa lama ia sudah tenggelam di alam mimpi.
Hmm... Aku memang tak suka anak kecil, tapi aku ingin segera bertemu dengannya kembali.
PS: Kata orang kalo sayang ama ibunya, maka juga harus bisa deket ama anaknya. Satu paket gitu loch! Okey, I'll try to learn bout that...
Saturday, November 8, 2008
First Coming...
Brakk... Brakk... Brakk...
Suara itu membuatku seketika terjaga. Mobil berhenti. "Dimana ini?" desisku setengah sadar.
Brakk... Brakk...
Suara itu kembali terdengar di belakangku.
"Yang turun Solo, bangun, pak," lantang sang sopir berulang-ulang karena dua penumpang di belakang masih saja ngorok.
"Solo..." Aku teringat pemberitahuan sopir barusan. Bergegas kutengok penunjuk waktu di layar ponsel. "Masih jam satu kurang..." Jarak Solo-Jogja kurang lebih sejam setengah. Mati aku, desisku. "Masa aku mau gedor-gedor yang punya kos pagi buta gini!" batinku sembari berharap waktu lebih cepat beranjak atau kalau tidak mobil melambat. Ah, tak mungkin aku menyuruh sopir mengurangi kecepatan, justru kukira ia ingin cepat-cepat sampai dan beristirahat, makanya ia ngebut banget. Bayangkan, ketika mataku tak kuat menahan kantuk tadi mobil yang kutumpangi baru memasuki wilayah Madiun, dan bleepp... Dalam sekejab mata ia sudah sampai Solo.
Pukul dua. Entah ini berada dimana. Aku sudah tak konsen, bingung merangkai kata yang nanti kuutarakan pada pemilik rumah. Hampir setengah tiga ketika tiba-tiba sopir menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada apa, pak?" tanyaku pada lelaki kurus yang umurnya paling cuma diatasku sedikit.
"Lupa jalannya, mbak!" sahutnya sembari memencet ponsel.
"Semoga saja ia tak segera menemukan alamat yang kuberi!" pintaku dalam-dalam.
Nomor yang ia hubungi rupanya tidak tersambung. Laki-laki itu turun, bertanya pada segerombolan pria di warung pinggir jalan. Tak lama ia duduk kembali di balik kemudi, putar balik mobil.
"Kelewatan ya, pak?"
"Iya, saya lupa daerah sini!" ujarnya sambil melongokkan kepala ke kanan kiri jalan.
Masih pukul tiga kurang. Apa yang harus kulakukan untuk mengulur waktu? Sudah tak ada! Mobil telah menikung di gang yang kuberitahukan.
Rupanya Dewi fortuna masih menemaniku. Rumahnya susah dicari. Aku dan sopir itu turun. Berkeliling dan tetap tak ketemu. Nomor rumah acak. Aku sedikit bersorak. Paling tidak akan memperlambat waktu. Tapi tak bertahan lama. Laki-laki itu berhasil menemukan rumah yang ternyata telah kami lewati.
Rumah berpagar rendah itu UNTUNG SAJA tak dikunci. Aku melihat kilatan-kilatan blitz televisi yang menyala dari celah angin diatas pintu. Berarti orangnya belum tidur, pikirku. Dengan semangat 45 segera kuketuk pintu.
Satu, dua, bahkan hingga tujuh kali tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Si sopir mengetuk lebih keras, tapi orang yang didalam seolah tewas saja tidurnya.
Aku memutuskan menurunkan barangku dan menunggu saja sampai pagi ada yang membukakan pintu. Baru setengah barangku mencicipi teras, kudengar bunyi kunci diputar dari dalam. Seorang kakek muncul menghampiriku. Aku langsung mengungkapkan maksudku. Laki-laki renta yang nada bicaranya kebarat-baratan itu (habisnya aku dibilang YOU2 an, jadi pengen ngakak dengernya!) menghilang dibalik pintu, kemudian muncul kembali bersama perempuan seumuranku.
"Mari, mbak, masuk..." Perempuan itu santun menyilahkanku. Ia menuntunku ke kamar. Di lantai 2. Gelap pula. Ia pergi usai berkata ini itu. Tinggal aku sendiri. Terpekur di bangunan 3x3 ini seorang diri. Aku berinisiatif menelepon perempuanku. Berulang. Tak diangkat. Jam segini mana pernah ia menerima panggilanku. Paling juga hapenya disilent.
Oahm... Kantuk menderaku. Sayup kudengar suara orang mengaji di masjid. Sebentar lagi subuh. Mataku terpejam.
Suara itu membuatku seketika terjaga. Mobil berhenti. "Dimana ini?" desisku setengah sadar.
Brakk... Brakk...
Suara itu kembali terdengar di belakangku.
"Yang turun Solo, bangun, pak," lantang sang sopir berulang-ulang karena dua penumpang di belakang masih saja ngorok.
"Solo..." Aku teringat pemberitahuan sopir barusan. Bergegas kutengok penunjuk waktu di layar ponsel. "Masih jam satu kurang..." Jarak Solo-Jogja kurang lebih sejam setengah. Mati aku, desisku. "Masa aku mau gedor-gedor yang punya kos pagi buta gini!" batinku sembari berharap waktu lebih cepat beranjak atau kalau tidak mobil melambat. Ah, tak mungkin aku menyuruh sopir mengurangi kecepatan, justru kukira ia ingin cepat-cepat sampai dan beristirahat, makanya ia ngebut banget. Bayangkan, ketika mataku tak kuat menahan kantuk tadi mobil yang kutumpangi baru memasuki wilayah Madiun, dan bleepp... Dalam sekejab mata ia sudah sampai Solo.
Pukul dua. Entah ini berada dimana. Aku sudah tak konsen, bingung merangkai kata yang nanti kuutarakan pada pemilik rumah. Hampir setengah tiga ketika tiba-tiba sopir menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada apa, pak?" tanyaku pada lelaki kurus yang umurnya paling cuma diatasku sedikit.
"Lupa jalannya, mbak!" sahutnya sembari memencet ponsel.
"Semoga saja ia tak segera menemukan alamat yang kuberi!" pintaku dalam-dalam.
Nomor yang ia hubungi rupanya tidak tersambung. Laki-laki itu turun, bertanya pada segerombolan pria di warung pinggir jalan. Tak lama ia duduk kembali di balik kemudi, putar balik mobil.
"Kelewatan ya, pak?"
"Iya, saya lupa daerah sini!" ujarnya sambil melongokkan kepala ke kanan kiri jalan.
Masih pukul tiga kurang. Apa yang harus kulakukan untuk mengulur waktu? Sudah tak ada! Mobil telah menikung di gang yang kuberitahukan.
Rupanya Dewi fortuna masih menemaniku. Rumahnya susah dicari. Aku dan sopir itu turun. Berkeliling dan tetap tak ketemu. Nomor rumah acak. Aku sedikit bersorak. Paling tidak akan memperlambat waktu. Tapi tak bertahan lama. Laki-laki itu berhasil menemukan rumah yang ternyata telah kami lewati.
Rumah berpagar rendah itu UNTUNG SAJA tak dikunci. Aku melihat kilatan-kilatan blitz televisi yang menyala dari celah angin diatas pintu. Berarti orangnya belum tidur, pikirku. Dengan semangat 45 segera kuketuk pintu.
Satu, dua, bahkan hingga tujuh kali tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Si sopir mengetuk lebih keras, tapi orang yang didalam seolah tewas saja tidurnya.
Aku memutuskan menurunkan barangku dan menunggu saja sampai pagi ada yang membukakan pintu. Baru setengah barangku mencicipi teras, kudengar bunyi kunci diputar dari dalam. Seorang kakek muncul menghampiriku. Aku langsung mengungkapkan maksudku. Laki-laki renta yang nada bicaranya kebarat-baratan itu (habisnya aku dibilang YOU2 an, jadi pengen ngakak dengernya!) menghilang dibalik pintu, kemudian muncul kembali bersama perempuan seumuranku.
"Mari, mbak, masuk..." Perempuan itu santun menyilahkanku. Ia menuntunku ke kamar. Di lantai 2. Gelap pula. Ia pergi usai berkata ini itu. Tinggal aku sendiri. Terpekur di bangunan 3x3 ini seorang diri. Aku berinisiatif menelepon perempuanku. Berulang. Tak diangkat. Jam segini mana pernah ia menerima panggilanku. Paling juga hapenya disilent.
Oahm... Kantuk menderaku. Sayup kudengar suara orang mengaji di masjid. Sebentar lagi subuh. Mataku terpejam.
Friday, November 7, 2008
The Day
Ponselku berdering pendek. Sebuah pesan singkat yang mengabarkan bahwa mobil yang kan membawaku ke kota Gudeg baru saja berangkat. Itu berarti ia sampai sini sekitar sejam lagi. Lebih cepat dari yang kuperkirakan. Karena ketika ke Jogja bulan Februari lalu mobil berangkat pukul delapan malam. Jika tepat waktu, mobil itu akan memasuki kotaku ba'da maghrib. Kecemasan mulai merasuk. Jika kuhitung-hitung, sekitar sembilan jam perjalanan berarti sampai Jogja pukul tiga pagi. Busyet! Ah, mungkin sopirnya pengen nyetir santai, jadi nyampenya sama kayak biasanya, subuh. Begitu pikirku.
Aku dengan dibantu ayah dan pamanku menyeret barang-barang bawaanku ke depan. Sembari menunggu kami mengobrol. Semua anggota keluarga lengkap berkumpul. Aku, orang tuaku, adik ibuku dan suaminya serta dua sepupuku.
Dan waktunya tiba. Mobil telah datang. Haru tangis ibu menyertai. Satu anaknya telah pergi, ia berlinang airmata. Padahal aku tak pergi jauh, paling tidak tak sejauh Jakarta seperti beberapa tahun lalu. Apalagi nanti, beberapa hari lagi, kakak lelakiku juga akan berpamitan ke Sumatra Selatan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nangis Bombaynya perempuan paruh baya itu.
Sepanjang perjalanan yang terlukis hanya wajah ibu yang kutinggalkan, bergantian dengan wajah perempuanku yang akan kutemui di kota yang kutuju. Perasaanku... Campur aduk. Rasa iba pada sosok sayu ibu menyelimuti layaknya dingin AC yang merasuk pori-pori. Sementara di sisi lain, perempuan yang oleh ibu disangka lelakiku tengah menanti disana. Meski beberapa hari ini masih saja ia mencurigaiku macam-macam, padahal sudah jelas-jelas dalam hitungan jam aku tak akan jauh dari arah pandangnya.
Inilah hidup!
Aku dengan dibantu ayah dan pamanku menyeret barang-barang bawaanku ke depan. Sembari menunggu kami mengobrol. Semua anggota keluarga lengkap berkumpul. Aku, orang tuaku, adik ibuku dan suaminya serta dua sepupuku.
Dan waktunya tiba. Mobil telah datang. Haru tangis ibu menyertai. Satu anaknya telah pergi, ia berlinang airmata. Padahal aku tak pergi jauh, paling tidak tak sejauh Jakarta seperti beberapa tahun lalu. Apalagi nanti, beberapa hari lagi, kakak lelakiku juga akan berpamitan ke Sumatra Selatan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nangis Bombaynya perempuan paruh baya itu.
Sepanjang perjalanan yang terlukis hanya wajah ibu yang kutinggalkan, bergantian dengan wajah perempuanku yang akan kutemui di kota yang kutuju. Perasaanku... Campur aduk. Rasa iba pada sosok sayu ibu menyelimuti layaknya dingin AC yang merasuk pori-pori. Sementara di sisi lain, perempuan yang oleh ibu disangka lelakiku tengah menanti disana. Meski beberapa hari ini masih saja ia mencurigaiku macam-macam, padahal sudah jelas-jelas dalam hitungan jam aku tak akan jauh dari arah pandangnya.
Inilah hidup!
Choice & Decision
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang saling berkaitan dan selalu muncul di tiap bidang kehidupan manusia. Tak terkecuali padaku.
Ketika disuguhi himpitan kepenatan berada di kota yang belum genap setahun kutinggali ini, kian hari aku sepertinya kian dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan dan mencoba untuk membeli lebih banyak sabar di toko pak Sabar atau meninggalkan kota ini dengan konsekuensi kembali menorehkan beban pikiran pada perempuan yang mengandung dan melahirkanku yang tak menginginkanku jauh dari pandangnya untuk kedua kali.
Dua pilihan yang sama-sama sulit, bahkan jika memungkinkan tak ingin kupilih dua-duanya. Tapi kenyataannya malah kebalikannya. Tiap detakan waktu seolah memperjelas bagaimanapun aku harus memilih.
Dan akhirnya aku mengambil pilihan kedua. Meninggalkan kota kecil tempat kelahiran ibuku. Namun bukan tanpa pikir panjang. Berulang kali rencana itu muncul, namun berulang kali pula pupus. Yang membuatku berat hanya ibu. Meski aku kerap clash dengan pemikiran konvensionalnya yang cukup parah, tapi jika mengingat ibu, rasanya lutut kakiku lemas tak kuat tuk melangkah mewujudkan benakku yang ingin lari karena tak kuasa dengan penat ini.
Kali ini aku memantapkan tekad. Seperti yang kuduga, kelopak mata beliau tergenang ketika aku mengutarakan niatku. Pun ketika melepasku. Padahal aku tak hendak lari kemana. Menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya soal masa depan. Pilihan dan keputusan itu aku yakini juga akan berpengaruh pada garis asmaraku.
Tengah membawa sebuah kapal berlayar, jika tak dari sekarang berbenah, menengok tiap sudut memastikan takkan bocor jika ombak tinggi. Walau aku tak pernah tahu kapan dan seberapa tinggi ombak serta karang-karang terjal yang tak terlihat kan menghantam kapalku.
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang telah kulalui dan telah siap untuk kutuai, apapun bentuknya.
Ketika disuguhi himpitan kepenatan berada di kota yang belum genap setahun kutinggali ini, kian hari aku sepertinya kian dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan dan mencoba untuk membeli lebih banyak sabar di toko pak Sabar atau meninggalkan kota ini dengan konsekuensi kembali menorehkan beban pikiran pada perempuan yang mengandung dan melahirkanku yang tak menginginkanku jauh dari pandangnya untuk kedua kali.
Dua pilihan yang sama-sama sulit, bahkan jika memungkinkan tak ingin kupilih dua-duanya. Tapi kenyataannya malah kebalikannya. Tiap detakan waktu seolah memperjelas bagaimanapun aku harus memilih.
Dan akhirnya aku mengambil pilihan kedua. Meninggalkan kota kecil tempat kelahiran ibuku. Namun bukan tanpa pikir panjang. Berulang kali rencana itu muncul, namun berulang kali pula pupus. Yang membuatku berat hanya ibu. Meski aku kerap clash dengan pemikiran konvensionalnya yang cukup parah, tapi jika mengingat ibu, rasanya lutut kakiku lemas tak kuat tuk melangkah mewujudkan benakku yang ingin lari karena tak kuasa dengan penat ini.
Kali ini aku memantapkan tekad. Seperti yang kuduga, kelopak mata beliau tergenang ketika aku mengutarakan niatku. Pun ketika melepasku. Padahal aku tak hendak lari kemana. Menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya soal masa depan. Pilihan dan keputusan itu aku yakini juga akan berpengaruh pada garis asmaraku.
Tengah membawa sebuah kapal berlayar, jika tak dari sekarang berbenah, menengok tiap sudut memastikan takkan bocor jika ombak tinggi. Walau aku tak pernah tahu kapan dan seberapa tinggi ombak serta karang-karang terjal yang tak terlihat kan menghantam kapalku.
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang telah kulalui dan telah siap untuk kutuai, apapun bentuknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)