Monday, November 17, 2008

Perempuanmu Yang Lain

Bodoh nan tolol. Itulah aku dan perasaanku. Kenapa hal itu tak pernah sedikit pun terlintas di benakku? Kau dan perempuan itu ada affair apapun lah namanya, sebab perempuan itu juga mempunyai kekasih, sama seperti kau yang telah cukup lama menjalin kasih denganku. Kenapa hal itu tak terfikir olehku? Aku juga bertanya-tanya sendiri. Dalam hening kamar, ketika aku memeras otak untuk mencari jawaban atas solusi masalah kita, yah barulah terbersit pemikiran tersebut yang kemudian kutelaah satu demi satu rentetan kejadian akhir-akhir ini.

Perempuan itu... Namanya tak pernah sekali pun kau sebut di depanku. Hanya ketika aku "mengecek" ponselmu kutemukan nama itu dalam barisan smsmu. Dan aku baru menyadari satu hal, nomor hapeku pun tak kau simpan dalam phonebook, tak seperti nama perempuan itu. Singkat, namun jelas.

Aku tak mempermasalahkannya waktu itu. Walau aku juga tak tahu alasanmu untuk tak memberikan ruang bagi namaku dalam buku teleponmu. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya. Satu hal ketika itu aku memintamu untuk menelepon perempuan itu di depanku.
"Kalo jam segini ia kerja, pasti nggak akan diangkat!" kilahmu. Tapi aku keukeuh memanggil nomor perempuan itu. Lama... Terdengar suara perempuan di seberang.
"Halo..." Suara perempuan itu lembut. Kau memang telah memberi tahu bahwa perempuan itu adalah FEMME.
Kau mengobrol dengan perempuan itu, basa basi. Entah ini hanya perasaanku atau memang demikian adanya, aku melihat kau tampak kikuk berbicara dengan perempuan itu. Namun aku kemudian menepis kecurigaanku. Kau hanya menyayangiku, begitu kepercayaan yang selalu kutanam dalam hati dan pikiranku.

Esoknya, aku mendapat kabar bahwa putri semata wayangmu harus opname di rumah sakit.
"Aku mau jenguk ya.." tawarku.
"Nggak!" sergahmu spontan. "Apa kau ingin membunuhku?"
"Emang kenapa?" Alisku berkerut.
"Bapak ibuku ada disini. Lagian penampilanmu itu kan kayak laki-laki, nanti mereka tanya macam-macam!"
Aku tak berkutik. Kau melarang keras aku menjenguk meski malam itu orangtuamu pulang karena pasien cukup dijaga satu orang.
"Semalam T (inisial perempuan itu) kesini lho..." ujarmu pagi hari setelah sekali lagi aku menawarkan diri menjenguk namun kau tetap saja melarangku.
Deg. Perempuan itu lagi. Dan caramu memberitahuku itu... Aku menangkap rona kegirangan mendalam dalam nada suaramu.
"Kok dia boleh jenguk, sedang aku tidak?" protesku.
"Dia kan femme. Lagian dia ngajak temennya, juga feminin,"
Lagi-lagi soal penampilan!
***

Dan kini, setelah semua hal yang menyangkut perempuan itu terputar dalam rekaman otakku, aku mulai sedikit mengerti. Aku tak ingin curiga. Sungguh, aku tak hendak berprasangka. Nalarku hanya mengeja satu demi satu aliran cerita di depan mata.

Shit! Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa aku sebegitu bodoh dan tololnya dikelabui oleh manis bibirmu yang melantunkan cinta. Kau merapuh dalam pelukku, namun ah entah apa isi benakmu. Mungkin aku yang telah keliru, kepercayaan yang tak hanya kulafalkan dalam lisanku, namun juga perilaku, yang kerap kau tuduhkan sebagai bentuk kecuekanku, telah kau tangkap dengan pengartian yang juga keliru.

Dalam ruang 3x3 ini otakku berpacu bersama waktu. Kadang menerawang, terbang, lalu terjaga dari lamunku. Aku sedang mencari solusi. Pemecahan atas himpitan tuduhan dan ketidakpercayaan yang menyesakkan dadaku. Siapapun, ketika dituduh atas sesuatu hal yang tak pernah kita lakukan, lama kelamaan membuat kesabaran tumbang, menyisakan tumpukan kekesalan yang awalnya mungkin terbiarkan sebagai sebuah lelucon tak berarti.

Butchie tidak boleh menangis! Siapa bilang? Kadang ketika manusia berada di titik dimana ia terlalu letih atas beban pikiran yang bahkan otak pun tak kuat setelah terus menerus digerus, maka tetesan airmata terasa begitu melegakan. Karena dalam tiap biji airmata yang tumpah bagiku dibarengi oleh kesadaran, mungkin bukan pemecahan masalah, namun setidaknya sesuatu hal yang membuat kita bangkit layaknya tamparan keras yang menggugah segenap urat syaraf kita untuk kembali pada fungsi semula. Meletakkan apa-apa pada tempat yang semestinya.

Hahh... Ketika buliran air yang meretas dari kelopak mataku mengering, ada sebongkah senyuman yang merekah. Bukan karena aku telah menemukan solusi. Bukan karena praduga yang membelit otakku telah kudapat jawabannya. Hanya sebuah kelegaan. Longgarnya dinding-dinding hati yang tadinya tersumpal dan teracuni.

Aku memang tak pernah dan tak akan pernah tahu isi otakmu, meski beragam kata cinta dan cemburu kau umbar hiasi hariku.

Lelah hati ini meyakinkanmu... Cinta ini [tak akan] membunuhku...

No comments: