Friday, November 7, 2008

The Day

Ponselku berdering pendek. Sebuah pesan singkat yang mengabarkan bahwa mobil yang kan membawaku ke kota Gudeg baru saja berangkat. Itu berarti ia sampai sini sekitar sejam lagi. Lebih cepat dari yang kuperkirakan. Karena ketika ke Jogja bulan Februari lalu mobil berangkat pukul delapan malam. Jika tepat waktu, mobil itu akan memasuki kotaku ba'da maghrib. Kecemasan mulai merasuk. Jika kuhitung-hitung, sekitar sembilan jam perjalanan berarti sampai Jogja pukul tiga pagi. Busyet! Ah, mungkin sopirnya pengen nyetir santai, jadi nyampenya sama kayak biasanya, subuh. Begitu pikirku.

Aku dengan dibantu ayah dan pamanku menyeret barang-barang bawaanku ke depan. Sembari menunggu kami mengobrol. Semua anggota keluarga lengkap berkumpul. Aku, orang tuaku, adik ibuku dan suaminya serta dua sepupuku.

Dan waktunya tiba. Mobil telah datang. Haru tangis ibu menyertai. Satu anaknya telah pergi, ia berlinang airmata. Padahal aku tak pergi jauh, paling tidak tak sejauh Jakarta seperti beberapa tahun lalu. Apalagi nanti, beberapa hari lagi, kakak lelakiku juga akan berpamitan ke Sumatra Selatan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nangis Bombaynya perempuan paruh baya itu.

Sepanjang perjalanan yang terlukis hanya wajah ibu yang kutinggalkan, bergantian dengan wajah perempuanku yang akan kutemui di kota yang kutuju. Perasaanku... Campur aduk. Rasa iba pada sosok sayu ibu menyelimuti layaknya dingin AC yang merasuk pori-pori. Sementara di sisi lain, perempuan yang oleh ibu disangka lelakiku tengah menanti disana. Meski beberapa hari ini masih saja ia mencurigaiku macam-macam, padahal sudah jelas-jelas dalam hitungan jam aku tak akan jauh dari arah pandangnya.

Inilah hidup!

No comments: