Pilihan dan keputusan. Dua hal yang saling berkaitan dan selalu muncul di tiap bidang kehidupan manusia. Tak terkecuali padaku.
Ketika disuguhi himpitan kepenatan berada di kota yang belum genap setahun kutinggali ini, kian hari aku sepertinya kian dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan dan mencoba untuk membeli lebih banyak sabar di toko pak Sabar atau meninggalkan kota ini dengan konsekuensi kembali menorehkan beban pikiran pada perempuan yang mengandung dan melahirkanku yang tak menginginkanku jauh dari pandangnya untuk kedua kali.
Dua pilihan yang sama-sama sulit, bahkan jika memungkinkan tak ingin kupilih dua-duanya. Tapi kenyataannya malah kebalikannya. Tiap detakan waktu seolah memperjelas bagaimanapun aku harus memilih.
Dan akhirnya aku mengambil pilihan kedua. Meninggalkan kota kecil tempat kelahiran ibuku. Namun bukan tanpa pikir panjang. Berulang kali rencana itu muncul, namun berulang kali pula pupus. Yang membuatku berat hanya ibu. Meski aku kerap clash dengan pemikiran konvensionalnya yang cukup parah, tapi jika mengingat ibu, rasanya lutut kakiku lemas tak kuat tuk melangkah mewujudkan benakku yang ingin lari karena tak kuasa dengan penat ini.
Kali ini aku memantapkan tekad. Seperti yang kuduga, kelopak mata beliau tergenang ketika aku mengutarakan niatku. Pun ketika melepasku. Padahal aku tak hendak lari kemana. Menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya soal masa depan. Pilihan dan keputusan itu aku yakini juga akan berpengaruh pada garis asmaraku.
Tengah membawa sebuah kapal berlayar, jika tak dari sekarang berbenah, menengok tiap sudut memastikan takkan bocor jika ombak tinggi. Walau aku tak pernah tahu kapan dan seberapa tinggi ombak serta karang-karang terjal yang tak terlihat kan menghantam kapalku.
Pilihan dan keputusan. Dua hal yang telah kulalui dan telah siap untuk kutuai, apapun bentuknya.
No comments:
Post a Comment