Seperti judul diatas, begitulah komentarku ketika bertemu untuk pertama kalinya dengan putri semata wayang Kupu2 Kecilku. Aku memang telah pernah melihat bocah kecil itu dalam foto dan video, kala itu aku dengan nada meledek bilang padamu wajah anakmu tampak maskulin, eh ketika bersua langsung pun ternyata ledekanku kuulang kembali.
Wajah bocah kecil itu seketika mendung saat bersirobok mata denganku. Sedetik kemudian tangisnya tumpah. Aku memang payah dalam berurusan dengan anak kecil terutama yang masih berusia batita. Pasalnya bukan sekali ini saja anak kecil "takut" padaku, tapi tiap kali aku bertemu yang namanya batita, respon mereka pasti kurang bersahabat padaku. Kukira bukan karna raut mukaku menakutkan, tapi karna memang aku tak suka dengan anak kecil. Ditambah kekikukanku dalam mengajak mereka bercanda, upps payah banget deh!
Bahkan ketika dulu aku punya adik aku tak pernah sekalipun menggendongnya. Tertarik untuk mengajaknya bercanda saja tidak. Entahlah, sampai teman-temanku heran ketika mereka gemas mencubiti pipi si bayi, aku malah tak ada hasrat sedikitpun. Sekalinya aku "disukai" bocah kecil aku malah kelimpungan, bingung apa yang mesti kulakukan. Paling dengan sangat terpaksa aku melempar candaan khas bayi yang terlihat kaku.
Balik lagi tentang bocah perempuan Kupu2 Kecilku. Meski di awal ia kurang bersahabat, bahkan tak mau menjulurkan tangan menyalamiku, perlahan ketakutannya luntur. Meski agak malu-malu ia menerima biskuit yang kusuapkan padanya. Dan kekakuan sikapnya kemudian mencair, ia sudah tak segan untuk mengacak-acak kamarku.
Untung saja aku belum merapikan semua barangku. Hanya perlengkapan mandi dan tas kecil tempat alat-alat yang penting-penting saja kutaruh sekenanya, sementara barang-barang lain masih rapat dalam kardus.
Bocah perempuan yang menurutku tak mirip dengan ibunya itu (hehehe sori dear... But its true..) benar-benar sangat hiperaktif. Aku yang melihat tingkahnya saja capek, apalagi ibunya yang tiap detik memantau tiap gerakannya. Habis main yang ini, minta yang itu, main yang ini lagi, tunjuk yang lain lagi.. Fiuuh... Capek! Tapi ketika si bocah terlihat antheng "menikmati" bermain dengan mengobrak-abrik barangku, si ibu malah enak-enakan tiduran. Waduh, pokoknya kamar yang masih berantakan ini jadi makin acak adul saja!
Tak terasa hari menjelang sore. Kupu2 Kecil berpamitan, meski berat. Bocah kecil dalam rengkuhannya terlihat mengantuk. Berbeda di kesan awal tadi, ia menjulurkan tangan dengan menahan kantuk ketika ibunya menyuruh menyalamiku. Tak berapa lama ia sudah tenggelam di alam mimpi.
Hmm... Aku memang tak suka anak kecil, tapi aku ingin segera bertemu dengannya kembali.
PS: Kata orang kalo sayang ama ibunya, maka juga harus bisa deket ama anaknya. Satu paket gitu loch! Okey, I'll try to learn bout that...
4 comments:
Hhhmm... berarti partnerku harus belajar dr kamu gimana cara deketin aku neh :D
Lho berarti kamu bayinya tho? (*confused mode on)
wahhhhhhhhhhhhh................ Alvi.... benar dugaaankuuuuuuuuuuuuu...... ngakak guling...guling...guling... ternyata kalo cinta gak kemana :P
Dugaan apa, bu? Mang kalo ga cinta mau kmana?:)
Post a Comment