Friday, January 25, 2013
Saya [ternyata] Masih Cemburu
Sepertinya cemburu itu udah jadi bagian tubuh yang melekat padaku seolah mendarah daging. Terutama sejak mengenalmu. Ya, kamu, perempuan yang masih berseliweran dalam hari-hari saya, namun dengan relasi yang harus saya telan bulat-bulat bahwa hati saya yang masih berkutat padamu harus bereaksi wajar ketika kamu menunjukkan perilaku yang sedari dulu bikin saya cemburu; sibuk dengan teleponmu.
Kadar cemburunya memang tak seperti dulu, alias tak destruktif dengan menampakkan perubahan muka dan perilaku. Mungkin karena belum sembuh, namun meminimalisir cemburu yang sudah kulakukan terhitung lumayan berhasil.
Sore itu aku melihatmu bertelepon. Cemburu, pasti! Namun dalam batas wajar bahkan aku masih bisa menutupi dengan canda. Tetapi cemburu itu tetap berwujud, meski tak di depanmu. Malam selesai acara, aku melajukan motor, bukan ke arah kost, tetapi berputar tak tentu arah sembari masing-masing sisi hati mengutarakan unek-uneknya.
Si cemburu ini mengajakku untuk marah. Namun tentu saja disanggah sisi hati yang lain yang setengah mati bilang bahwa cemburu itu sudah bukan masanya. Kalau sekarang keputusanku adalah mencintainya, maka meski cinta itu tak terkatakan, memanage cemburu adalah bagian dari hal yang masih perlu banyak belajar dan belajar.
Tetapi cemburu itu baik, bagiku itu simbol bahwa kamu masih hidup di relung terdalamku.
Laju motor malam itu sama halnya dengan cemburu yang masih mengakar, tak tentu arah. Namun tetap akan tahu kemana harus kembali, ke sebuah tempat kecil bernama hati.
25012013, langit kamar Tamsis.
Sunday, January 13, 2013
Pikiran [saya] kok saru?
Saya berkali-kali menyeka dahi. Tak ada keringat sebenarnya disana. Pun yang saya lakukan saya tau betul tak ada efeknya pada apa yang sebenarnya ingin saya seka. Saya ingin menyeka otak saya. Jadi benar bukan tak mungkin dengan menyeka dahi sama dengan menyeka otak?
Otak saya saru. Itu lumrah, hanya ketika di saat-saat tertentu. Tapi ketika di hampir setiap pertemuan aku dan kamu hanya pikiran itu yang ada di otakku, maka bagiku itu sudah tidak lumrah.
Lantas bagaimana menghilangkannya? Kalau aku tau jawabannya, tentu aku tak menuliskannya. Tetapi mari menelisik dulu apa penyebabnya? Otak saru, jangan samakan dengan otak-otak bajingan yang hanya mikirin selangkangan pada tiap objek yang dilihatnya. Otak saya saru cuma ke kamu aja, tidak ke perempuan lain. Bahkan untuk perbandingan waktu itu saya sedang bersamamu yang berpakaian lengkap nyaris tak ada satu bagian tubuh pun yang kau pamerkan, dan satunya adalah teman saya yang pakai tanktop dengan beberapa bagian tubuh lumayan keliatan. Harusnya, yang bikin saru yang keliatan bagian tubuhnya kan? Lha saya malah kebalikannya, gak tertarik dengan isi tanktop malah mengamati perilakumu yang wajar-wajar aja tapi malah bikin otak saya saru.
Rindu kah? Mengulang saat dulu menyentuh inch demi inch tubuhmu? Aku menjawabnya, mungkin saja. Tetapi aneh juga saru untuk hal-hal tak saru yang dilihat mata namun saru ketika dilihat oleh hati. Definisi saru yang tak biasa, bukan? Saya aja kadang merasa aneh. Namun bagaimana lagi memang begitulah adanya. Yang penting pikiran saru saya tidak mengganggu orang dalam pikiran saya itu, bukan? Hmm, kamu tak akan tau, ya kecuali kalau kamu membaca tulisan ini dan paham bahwa orang dalam otak saya itu kamu.
Sampai kapan pikiran saya yang saru berakhir? Tak ada yang tau! Berawalnya aja kapan, ya berakhirnya juga akan kapan-kapan, bukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)