Sunday, January 13, 2013

Pikiran [saya] kok saru?



Saya berkali-kali menyeka dahi. Tak ada keringat sebenarnya disana. Pun yang saya lakukan saya tau betul tak ada efeknya pada apa yang sebenarnya ingin saya seka. Saya ingin menyeka otak saya. Jadi benar bukan tak mungkin dengan menyeka dahi sama dengan menyeka otak?

Otak saya saru. Itu lumrah, hanya ketika di saat-saat tertentu. Tapi ketika di hampir setiap pertemuan aku dan kamu hanya pikiran itu yang ada di otakku, maka bagiku itu sudah tidak lumrah.

Lantas bagaimana menghilangkannya? Kalau aku tau jawabannya, tentu aku tak menuliskannya. Tetapi mari menelisik dulu apa penyebabnya? Otak saru, jangan samakan dengan otak-otak bajingan yang hanya mikirin selangkangan pada tiap objek yang dilihatnya. Otak saya saru cuma ke kamu aja, tidak ke perempuan lain. Bahkan untuk perbandingan waktu itu saya sedang bersamamu yang berpakaian lengkap nyaris tak ada satu bagian tubuh pun yang kau pamerkan, dan satunya adalah teman saya yang pakai tanktop dengan beberapa bagian tubuh lumayan keliatan. Harusnya, yang bikin saru yang keliatan bagian tubuhnya kan? Lha saya malah kebalikannya, gak tertarik dengan isi tanktop malah mengamati perilakumu yang wajar-wajar aja tapi malah bikin otak saya saru.

Rindu kah? Mengulang saat dulu menyentuh inch demi inch tubuhmu? Aku menjawabnya, mungkin saja. Tetapi aneh juga saru untuk hal-hal tak saru yang dilihat mata namun saru ketika dilihat oleh hati. Definisi saru yang tak biasa, bukan? Saya aja kadang merasa aneh. Namun bagaimana lagi memang begitulah adanya. Yang penting pikiran saru saya tidak mengganggu orang dalam pikiran saya itu, bukan? Hmm, kamu tak akan tau, ya kecuali kalau kamu membaca tulisan ini dan paham bahwa orang dalam otak saya itu kamu.

Sampai kapan pikiran saya yang saru berakhir? Tak ada yang tau! Berawalnya aja kapan, ya berakhirnya juga akan kapan-kapan, bukan?

No comments: