Sunday, June 30, 2013

Senja Yang Menyerupai


Kurang lebih dua jam aku berada di tempat ini. Rerumputan di sebelah gedung yang biasanya menjadi tempat digelarnya resepsi atau jobfair di areal UGM. Mentari yang tadinya memaksa menyengat kulitku melalui celah-celah daun dari pohon-pohon tinggi yang memadati areal rerumputan itu kini meninggi hendak tenggelam di peraduan ufuk barat.

Pengunjung mulai padat. Sebelah kami ada beberapa anak-anak muda berlatih cheerleader, ada juga yang jogging dan ada pula yang hanya sekedar duduk sembari bercanda.

Suasana senja ini mengingatkanku akan sesuatu.. Saat dimana aku melihat perempuan itu bercampur peluh. Ya, Graha Sabha sore ini seperti taman tempat perempuan itu berputar keliling berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran. Kian temaram, cahaya di lampu-lampu yang hanya remang-remang dengan bulan yang mulai tak sabar hendak menyembulkan rupa. Ya, malam ini bulan akan menuju purnama, tak sempurna namun membesar bulat belum pada lingkaran maksimalnya.

Melangkah pulang dengan sisa-sisa ingatan di taman itu... Baru tersadar, saya 'gila' waktu itu!

Saturday, June 29, 2013

Relasi Yang Matang


Ngubek-ngubek soal terminologi relasi lagi. Emang gak ada habisnya sih, meski cuma akan seputar itu-itu aja...

Nggombes.. Banyak yang bilang saya itu tukang gombes.. Gak pernah serius cuma seneng aja ngegodain orang. Namun untuk perempuan itu, gombesan saya gak laku total. Dan saya emang gak pernah nggombes kalau ama nih orang, selain karena gak minat, saya cukup yakin ia lebih gak minat lagi. Serius banget bo orangnya!

Canda tawa sih ada tapi gak sedetik pun mleyot kearah gombalan. Kalau diibaratkan sebuah rasa, gak akan ada cinta yang menggebu, tapi tentu tak bisa dibilang flat. Flatnya mungkin karena hampir tak pernah ada cekcok berantem, selain cekcok canda akibat debat yang tak kunjung henti.

Saya menyebutnya relasi yang matang. Sematang usia kami tentunya, haha meski perilaku adu argumen kami adalah kontras berapa angka-angka usia kami berpijak. Namun bagaimana keberlanjutan hari-hari kemudian tercipta tanpa roman klise bikin muntah tetapi tetap penuh warna bermakna...

Friday, June 28, 2013

Jotakan!


Akhir bulan ini mobilisasi syaraf otakku bergerak lumayan cepat. Belum selesai yang ini ganti yang itu. Dan yang bikin crowded adalah aku tak begitu menguasai apa yang sedang akan kuselesaikan.

Bidang hukum adalah bidang yang kugemari meski tak pernah mendapat pendidikan formal tentang bidang tsb, namun kerap bersentuhan langsung disertai keinginan besarku untuk paham dan terus belajar, boleh dibilang aku sedikit mengerti beberapa hal. Dan tentang problem korban yang hendak kutangani, secara prosedur aku cukup paham, namun secara tata bahasa hukumnya aku tak berani berspekulasi. Meski banyak bertebaran contoh formatnya jika aku search di google, tapi aku lebih suka bertanya pada perempuan itu sekaligus beberapa teman yang juga berprofesi sama dengannya..

Maka jadilah pertanyaan demi pertanyaan mengalir, entah capek atau karena emang dianya lagi sibuk dengan kerjaan agak miskom jadinya.. Dan jotakan!

Hampir berapa hari aku tak memunculkan wajah di media percakapan kami, agak tak enak hati. Biasa, karakterku kan emang gitu, kalau ngerepotin orang pasti merasa malu banget, padahal kata teman-teman, we are need more hand if we handle violence against women. Tapi tetep aja, malu karena minta tolong mulu jadi bikin drop relasi komunikasi.

Tapi memang gak bertahan lama, salah satu tetap ada yang menurunkan tegangan agar gencatan senjata usai. Ini jotakan pertama kami, dan tentunya semoga tak terjadi lagi.. Tidak dengan penyebab yang sama pastinya...

Thursday, June 27, 2013

Alpukat!


Nama buah, ya kan? Lalu apa jadinya kalau bukan, dan merupakan sebuah profesi yang sedari remaja saya idolakan...

Alpukat, warnanya ijo. Buah kesukaanku hanya ketika dileburkan dengan es dan air gula dalam blender. Bukan dikoyak bersama gula lalu diaduk-aduk seperti kegemaran ibu jaman aku kecil dulu. Tapi alpukat tsb berubah terminologi di suatu siang bolong menjadi topik perbincanganku dengan perempuan itu..

"Di kantorku lagi gak ada advokat, kak!"
"Kan banyak dijual di pasar, vi"
"Hmm, beli satu donk yang kayak kakak adanya di pasar apa ya?"
"Oo kalau itu adanya di walmart di negara2 eropa. Yang di pasar kranggan aja vi. Carinya jangan yang keras, biasanya kulitnya coklat bukan ijo. Kalau keras gak bisa di jus hari ini. Harus di eram dalam beras."
"Jadi, kakak ini semacam alpukat. Bukan advokat? Ternyata selama ini aku salah mengira..."

See, how the similarity between alpukat and advokat... Kalau gak lagi ngobrol ama tuh perempuan kagak ada bahasan yang kayak gini.. Dasar alpukat!

Wednesday, June 26, 2013

Analogi Rasa


Saya sejak dulu sering nonton IMB. Selain karena acaranya lumayan menarik, juga ada si Tisjum. Meski akhir-akhir ini kayaknya acara bergeser untuk memperkuat gosip Tisjum yang baru menjanda dengan pesulap pelontos corbuzier yang lebih dulu menduda. Eits, saya gak sedang akan ngebahas soal gosip mereka, tetapi cerita ini tentang menganalogikan rasa..

Awalnya, saya gak suka banget gimana kok si pelontos itu kayaknya maksaa banget ngegombalinnya, mpe eneg dengernya. Tapi pas diresapin, ya ndak tau ya apa cuma kepentingan TV shows ato emang perasaannya beneran, ada cara-cara unik yang ia lakukan. Maka baiklah, efek positifnya kemudian adalah saya mulai menganalogikan rasa.

Perempuan itu bukan hanya punya kemiripan wajah, tapi juga cerita cinta dan karakter, jadi agak copy cat cara tentu tidak diharamkan bukan? Tetap tidak memaklumi bahwa upaya si pelontos itu tak membuat saya mengubah persepsi kebersetujuan saya. Untuk yang satu, saya tetap katakan TIDAK!

Tuesday, June 25, 2013

Hujan di Bulan Juni

Timeline Fesbukku tetiba disuguhi puisi ini, olehnya. Meski memang ia berjanji di BBm akan mengirimkannya. Kukira akan bercanda, ternyata ia membuatnya menjadi realita...

Hujan Bulan Juni
By Sapardi Joko Damono


Tak ada yang lebih tabah
dari hujan Bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan Bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan Bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu


Perempuan itu mengirimnya agar aku tabah ditinggal kawinan si mantan. Bingung mau ngebales apa, eh kok tetiba juga pas buka-buka web, nemu puisi agus noor ini yang juga ada hubungannya dengan puisi diatas...

Puisi Agus Noor

ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI

: SDD



Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu

Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu

Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.

Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan

Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega

Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan

Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar

Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu

Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu

2010


Berbalas puisi, ya bgeitulah kira-kira...

Sunday, June 23, 2013

Mantenan Mantan


Mantan saya mantenan, bagaimana perasaan saya? Nah ini saya mau cerita...

Awalnya, saya dengar kabar itu sekitar awal Maret. Melihat sebuah cincin melingkar di jarinya, mendengar ucapan selamat dari orang-orang terdekatnya dan perasaan saya yang berkecamuk. Ya, ketika pertama kali tau, hati saya langsung menangis, sementara otak dengan sekuat tenaga menahan mata untuk tak mengalirkan tetes-tetes air. Meski kemudian tumpah juga tetapi ketika tak ada seorang pun di sisi. Lalu otak saya mulai sibuk, bukan menghibur hati tetapi mencari pengalihan dan peralihan.

Pengalihan pada kesibukan pekerjaan dan keinginan untuk keluar dari kota ini hanya sekedar agar tak melihat hari bahagia si mantan serta pengalih kemarahan saya. Ya, saya berjanji saat si mantan berani ngundang saya maka akan saya robek undangan di depan mukanya. Kemarahan yang benar-benar tak masuk akal memang, tapi namanya juga marah, bukan?

Namun waktu dua bulan ternyata sanggup merubah segalanya. Disinilah letak keisengan Tuhan. Kemarahan dan kecamuk hati dan pikiran kemudian memasuki fase peralihan. Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan itu melalui tahapan rasa yang tak langsung dikenali sebagai sebuah cinta. Rasa itu terpupuk sedikit demi sedikit dan perlahan, rasa itu menemukan wujudnya ketika kecamuk hati berada pada klimaksnya. Cemburu pada si mantan kemudian hanya jadi rasa yang biasa-biasa saja dengan makna perempuan yang kini tak hanya iseng belaka. Mem-flashback alur waktu dua bulan ke belakang aku pun heran bagaimana bisa peralihan rasa bisa sebegini signifikan.

Lalu tibalah hari itu.. Hari yang sekitar 2 bulan lalu kuhindari setengah mati, kini hanya kulewati dengan sangat biasaaa aja. Sampe beberapa teman niat banget lho pengen liat ekspresi mukaku takutnya aku gak kuat njuk nggeblak. Khayal banget itu! Kalo aku memutuskan datang berarti aku sudah yakin gak akan ada emotional feeling semacam nangis, apalagi semaput, yang akan terjadi.

Bahkan si kakak ngeledek mulu, ia awalnya nyuruh ga usah dateng aja, takut aku kenapa-napa atau kalo mau dateng barengan rame-rame ama temen laen biar kalo pingsan ada yang nolongin. Tetep aja niatnya ngeledekin, kan!

Dateng bareng seorang kawan, muter-muter cari gedungnya, dan finally, ketemu!
"Kak, gedung mantenannya deket ama rumah kakakmu lho!" laporku pada si kakak.
"Ajak kakak gue aja vi, trus bawa anak-anaknya, rame deh. Biar lo gak sedih!"
Ide bagus si kakak!

Balik ke TKP... Antrean salaman lagi padat merayap, aku memilih untuk makan dulu nanti baru salaman. Dan ternyata adatnya tuh nyalamin penganten baru makan. Maklum ga pernah kondangan jadi ndak tau hahaha

Tibalah pamitan sekalian nyalamin penganten beserta keluarganya.. Dimulai dari sayap kanan yang adalah mertua si mantan. Pertanyaan dari bapak mertuanya cukup spektakuler..
"Njenengan kakung nopo putri?" (Kamu laki apa perempuan)
Sebenarnya pengen ngakak juga, tapi karena yang nanya serius jadi njawabnya juga lumayan serius.
"Kulo kakung lan putri pak!" (Saya laki dan juga perempuan, pak)
Si bapak dan ibu mertua mesam mesem. Pertanyaan yang biasa buatku, yang gak biasa ya karna yang nanya bapak mertua mantan!

Jadi maaf saya rupanya tidak bisa mengabulkan harapan kawan-kawan untuk nangis gulung-gulung pas kawinan mantan karena memang feeling saya sudah biasa-biasa saja, otak saya bukan menang kali ini, ia hanya melakukan yang semestinya terjaga menemani hati yang sudah tak lagi merasa hal yang istimewa. Ya, realita tentu saja menyadarkan hati, bahwa ia tak bisa terus saja bermimpi, masih ada hari esok untuk terus dilewati. Melihat dan mendoakan orang yang kita sayangi bahagia jauh lebih utama karena dengan begitu hati merasa lebih lega...

Saturday, June 22, 2013

Proud of Our Relation!


Bentuk relasi. Kalau ditilik ulang, dulu, aku selalu memerlukannya pada setiap relasi yang kubangun. Contohnya untuk cerita cinta pertamaku, aku betul-betul mengingini satu bentuk tertentu, kapan jadian, jam berapa, dimana, de el el, agar kelak setahun setelahnya ada angka dan bulan yang sama kami bisa merayakan ulang. Ya, meski memang usia relasi kami tak sampai hitungan tahun, pun tanggal tak pernah tercatat.

Kurang sukses pada cerita hati yang pertama, sekitar 2011 aku mengulang keinginan yang sama, yaitu mengingini sebuah nama dan bentuk relasi. Dan saking sakleknya bentuk relasi yang kuajukan tak menyimpan bulir kesabaran bahwa mengubah dan memperjelas ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Pun karena tak mau ada kompromi akibat ketidakjelasan bentuk relasi, akhirnya aku memilih mengandaskannya meski setengah mati mempunyai rasa yang mengakar di hati.

Untuk perempuan satu ini, nampaknya aku banyak menyerap dan menyarikan arti berelasi dari relasi sebelumnya. Tentang kesabaran, memaknai kebersamaan dan bentuk relasi itu sendiri. Karena situasinya hampir serupa, hanya karakter yang kuhadapi jelas berbeda, meski ada kesamaan di titik tertentu.

Seperti yang pernah ku bilang sebelumnya, dengan perempuan ini mengundang berbagai kontroversi. Mengartikan, menilai bahkan menghakimi dari banyak sisi. But, believe me, saya orang paling anti disebut melakukan pembenaran. Segala sesuatu tetap punya koridor dan batas yang selalu kujunjung tinggi bernama kebenaran.

Menikmati hari, memaknaknai kebersamaan sederhana yang dibingkai dalam kata-kata, canda yang remah hingga adu ego yang terakhiri dengan obrolan riang, melupakan intonasi tinggi seperti angin lalu. Membangun pola bahwa keduanya menjadi lebih baik dengan hand in hand. Setiap perbincangan tak tentu arah menghadirkan senyum dan tawa. That is why this is not called cheating.. I proud how we build -not named- this relationship.

Maka membiarkan semua mengalir alami termasuk membiarkan asumsi dan segala justifikasi menghiasi cerita hati yang tak ada namanya ini adalah kompromi -yang tidak menjadi pilihan- satu-satunya karena satu-satunya yang paham dan mengerti alur ceritanya selain aku sebagai sutradara, ada si penulis cerita abadi yang punya hak paten mutlak atas kisah ini..

Friday, June 21, 2013

Butchi Inside!


Begitu saya menjuluki perempuan itu! Mungkin akan nampak kontras dengan penampilannya yang terkadang feminin kadang androgini. Namun menelisik alur pikir dan perilakunya, kupikir aku tak sedang salah mendefinisikan.

Ya, aku tau, cara jalannya yang seolah tergesa dan cenderung sangkuk tak bisa serta merta mempatenkannya layaknya buci, karena yang kumaksud adalah inside, sesuatu yang muncul dari dalam dirinya yang merefleksikan mayoritas buci pada umumnya, seperti ciri-ciri cara pandang mainstream komunitas, yaitu kemaskulinitas pikiran.

Tapi mungkin perlu menelisik ulang, is that buci inside atau efek karakter anak ragil? Mari membahasnya di lain judul...

Thursday, June 20, 2013

Kalah Awu!


Berhadapan dengan perempuan itu bukanlah hal mudah. Bertatap muka apalagi, wong hanya beradu kata-kata aja aku harus memeras otak untuk menyamai.

Kalah awu, begitu orang-orang menyebutnya. Dan aku mengakui, namun bukan sebagai hal negatif karena positifnya aku jadi terpacu meningkatkan kinerja otak dengan menguatkan kapasitas. Jadi lebih pinter, itu harus!

Ada satu hal yang membedakan perempuan ini dengan singa yang kukenal, bahwa tiap 'serangan' perempuan ini bukanlah ingin mematikanku, ia hanya ingin aku menyamakan frekuensi otakku dengan otaknya, meski kadang bablasnya ia kebablasan mengerjai lalu tertawa. Tak seperti singa dengan taring dan cakarnya yang melukai, air meski ia sekuat air bah dan menenggelamkan, namun sebagai domba yang tak mau hanyut aku bertahan dengan berpegang pada ranting, sekecil dan serapuh apapun untuk tak terbawa arus.

Jadi jelas meski tergolong kalah awu, baik karena secara umur lebih tua, strata pendidikan lebih tinggi, strata sosial dan pekerjaan yang lebih mantap ia tak pernah sekalipun menyantapku dengan hal-hal semacam itu. Kalah awu yang positif, aku menganggapnya demikian. Ia hanya sedang mengeluarkan karakter bungsunya...

Sunday, June 16, 2013

Benar-Benar Iseng -yang jadi- Beneran!


Iseng. Mungkin adalah sebagian dari imanku. Begitu pendapat beberapa teman. Termasuk soal hati yang katanya aku kerap iseng-iseng berhadiah. Apakah keisenganku juga berlaku pada perempuan ini???

Akhir tahun lalu ketika waktu menyamakan dimensi takdir antara kau dan aku dalam agenda sebuah seminar besar, yang tercetus di benakku kala itu adalah hidupku akan bersenang-senang selama lima hari ke depan. Dan memang waktu dibuat jempalitan terlalu cepat hingga aku tak mengenal pribadimu, hanya euforia otak yang menghasilkan endorfin kebanyakan yang bikin aku kegirangan.

Lalu sang waktu tetap berbaik hati padaku, kami dekat, tidak secara jarak namun percakapan dan tawa serta ledekan lewat kata-kata yang hampir tiap hari ada. Dan aku masih menganggapnya iseng! Ya, perempuan itu hanya ada di bibirku menyerupakan wujud sebagai sebuah senyuman, bukan sebuah perasaan.

Dan aku kerap menebar cerita dan wajahnya di layar ponsel karena meyakini betul bahwa apa yang kurasakan tentangnya hanya kekaguman semata. Ia pintar, cerdas dan humornya menarik. Aku bisa bercerita apapun padanya tanpa sungkan. Dan ia menyambut baik. Relasi yang baik, bukan? Ditambah poin plusnya adalah wajah perempuan itu serupa artis yang kugandrungi setengah modyar. Maka lengkaplah kekagumanku padanya.

Dan bagiku ketika menceritakannya pada kawan-kawan terdekatku, aku meyakini tak ada yang istimewa. Bahkan ketika menyatroni kediamannya di akhir bulan cinta tiga bulan setelah pertemuan pertama kami, hatiku memang terlonjak kegirangan dengan kadar endorfin yang juga mengalami lonjakan dari sebelumnya. Namun tetap, aku masih menganggap sebagai intelectual connection...

Sejak itu, kami lumayan dekat, hampir sudah tak ada batasan tentang tema apa yang kami hendak bahas. Keluargaku, keluarganya, ia dan aku tak malu mengungkap cerita masa kecil dan ceritanya bersama orang yang melakoni hidup bersamanya kini. Aku yakin diantara kedekatan kami ada sebuah perasaan yang menyusup, namun aku masih bersikukuh selama tak ada perasaan cemburu nampak sebagai 'bukti' rasa untuk memilikiku akannya, maka masih amanlah relasi ini.

Kukira aku sedang bermain-main dengan perasaanku yang dengan keyakinan penuh yakin bisa handle apa yang sedang kupermainkan, namun mungkin sedang iseng, Ia lantas menaikkan level permainan tanpa menanyai apa aku siap atau tidak...

Diantara semrawut hidupku kala itu, aku membuat keputusan yang juga bikin finansialku semrawut. Ke Jakarta! Namun rupanya disinilah Tuhan punya cerita untukku... Hidup dan finansialku boleh saja semrawut, namun hatiku dibuatnya bak habis ngisep heroin.. Flying!

Usai kepulangannya dari persinggahannya di kotaku, aku mengajak otak dan hatiku rembugan. Aku sudah menganggap ini tak baik. Sexual connection itu baik untuk ceritaku dengan perempuan sebelum perempuan ini, namun kalau disamakan untuk perempuan ini kukira aku harus meninjau ulang! Banyak hal yang kemudian saling bersilangan bahkan tumpang tindih, baik di internal diriku maupun eksternal orang-orang di sekitar dari lingkaran terkecil hingga terluar. Semuanya lantas beririsan. Masing-masing menimbulkan dampak. Ada yang terang-terangan judgemental. Dan banyak juga yang mendukung.

Heiii... Kadang aku pengen neriakin mereka satu-satu, tapi capek juga kan klarifikasi? Aku sadar betul ini sudah naik tingkat, iseng-iseng yang jadi beneran, but I made it simple! Though its not simple as I said, but for me as far as it positive things then I'll direct the show must go on!

Pro kontra itu makanan sehari-hari, wong jelas-jelas dalam diriku sendiri aja kadang perang hati ama otak, jadi wes biasa. Aku tetaplah aku yang akan selalu menjadi aku dengan keakuanku dan tak akan menjadi seseorang diluar aku.

Jadi, kapok kah iseng-iseng yang benar-benar jadi beneran? Aku tak mendoakan diri sendiri kena batunya, tetapi aku selalu membalikkan segala sesuatu pada koridor niat dalam hati. Selama ini -aku merasa- niatku padanya -meski awalnya iseng tetapi- kuanggap tak ada satu hal pun yang negatif, jadi aku percaya Tuhan beserta keisengannya tak akan salah baca niat di hati.

Let's enjoy it! Now and then!

Friday, June 14, 2013

Batas Kebersamaan Terbatas

Perempuan itu tiga hari disini. Kepentingan keluarga. Yang membuatku tak menampakkan wajah. Menyadari betul apa yang dinamakan batas. Batas diri saya yang selalu kikuk di depan orang-orang yang saya tak kenal. Ditambah orang-orang yang tak ramah. Karena saya pernah dipertemukan dengan orang-orang tsb di awal pertemuan kita dan saya menangkap tanda-tanda tak ramah. Hanya seorang yang waktu itu kebetulan bertemu saya di bawah rambu tanda dilarang berhenti, selebihnya saya menganggap semuanya tak ramah.

Sudah terbatas, dibatasi dengan batasan-batasan yang diluar batas.
Itu grundelan saya pada irisan takdir yang tak berpihak pada saya kali ini. Tetapi menyadari benar bahwa kenyataan tsb yang memang harus saya telan mentah-mentah, jadi tak ada kata gondok di hati. Apalagi kesibukan yang memang membuat irisan takdir aku dan perempuan itu tak melebar.

Ada kesal tak kasat mata yang nampak dari ketidakpamitan yang sengaja kau ciptakan karena ketidakmunculanku beberapa hari ini. Maaf, batas yang membuatku tahu batas bahwa situasi kita kali ini benar-benar terbatas!

Thursday, June 13, 2013

Kolor Ijo dan Nyi Roro Kidul


Awal bulan ini perempuan berwajah artis tsb sedang ada refreshing di kotaku. Salah satunya adalah menyusur pantai-pantai di pesisir selatan yang memang konon indah. Aku pernah beberapa diantaranya menyicip keelokannya. Yang paling sering adalah pantai Siung, bagiku yang paling keren kalau lagi surut. Trus Ngabean Ngrenehan dan Wedi Ombo dengan pasir putihnya. Kalau krukup, drini, baron dan yang pantai biasanya, bahkan Sadeng, nggak keitung ada nilai plusnya alias biasa aja.

Jadi keinget perbincangan dengan perempuan itu via whatsapp ketika dia akan berangkat... Awalnya, aku cuma memberi info tentang gelombang tinggi di laut selatan, eh dia malah jawab begini:
"Asik dong vi. Lagi cerah ni kayaknya hari ini."
Ya sudah kan cuma pemberitahuan. "Btw ga pake baju ijo kan hari ini ke pantainya?"
"Pakai baju item vi. Tapi cd nya ijo. Aduh takutnya nyai tau hahahaha" jawabnya kian meledek. Maklum mitosnya kalau ke pantai selatan pake baju warna ijo rawan hanyut karena ditaksir ama si nyai.
"Ahh nyi roro kidul ga bakal periksa sampe cd kok.." sahutku ikutan meledek.
Perempuan itu terbahak. "Ok vi. Nanti tak salamin sama nyai!"
Bener-bener emang nih orang ngeselin tingkat dewa minta dijitak!

Wednesday, June 12, 2013

Benci Kata "Berpisah"


Teringat perkataan seorang teman tentang judul diatas. Ia begitu benci perpisahan, meski akan bisa ketemu lagi someday, tapi feeling kehilangan pada saat berpisah itu yang ia tak suka dan bikin airmata tumpah. Awalnya aku berkomentar ia sedang lebay, nggak segitunya jugak kalee...

Tapi malam itu, di stasiun Tugu, aku menjilat kata-kataku sendiri ketika mengantar perempuan itu akan kembali ke kotanya. Awalnya, juga gak berasa sebegitu sedihnya. Bahkan usai memarkir motor dan melangkah memasuki areal stasiun perasaanku masih biasa-biasa saja. Apalagi tadinya perempuan itu kuatir jalan dari parkir motor ke stasiun akan jauh. Agak gak enak juga mengingat memang tak ada parkir paling dekat kecuali pintu masuk belakang.

Separuh jalan kami bertemu mantan teman kantor yang kebetulan juga kenal lama denganku.
"Aku, teman barunya alvi!" begitu akunya yang membuat si teman mengernyitkan kening. "Maksudku, aku baru kenal alvi, lebih dulu kamu," Perempuan itu mengklarifikasi. Lucu juga ya nih perempuan.. Awkward style nya kumat kalo gini ini..

Bahkan ketika mencapai areal tempat teman-temannya menunggu untuk memberikan karcis plus sambutan dan arahan kamera dari tim media yang sepertinya ditugasi meliput kegiatan mereka selama beberapa hari ini, feeling itu belum muncul. Wajahku masih datar mendengar guyonan para lelaki yang memintanya tinggal, tidak kembali ke kotanya. Aku melihat perempuan itu menyalami satu persatu lelaki itu dengan tidak mengomentari kicauan mereka, hanya tersenyum.

Dan tibalah ia pamitan di depanku. Dan baru itulah perasaan itu muncul. Aku sendiri tak tau bagaimana mendefinisikannya. Campur aduk pastinya, antara kehilangan dan sedih. Entah bagaimana perasaan itu tumbuh mendadak membuat raut mukaku kaku bagai di semen, mematung kelu tak bisa berkata-kata, pun tidak berkaca-kaca. Aku seperti dihempaskan pada kalimat temanku dulu, bahwa mungkin beginilah rasanya membenci sebuah perpisahan, meski yakin akan bisa bertemu lagi.

Ya, malam itu, aku benci berpisah! Aku benci merasakan perasaan yang menjalariku yang bahkan tak bisa kunamai tetapi kugarisbawahi sebagai kesedihan.
"Gak tau kenapa waktu melihatmu pergi tadi kok aku sedih banget yak.." akuku usai kami benar-benar berpisah. Perempuan itu nyaris gak percaya karena tengah bulan ia akan kembali ke kota ini.

Itulah makanya tiap berpamitan dengan siapapun aku tak mau bilang selamat jalan, tetapi sampai bertemu lagi. Seperti sedang mengusahan takdir melalui doa dan harapan untuk bisa bersua kembali. Berpisah dengan perempuan itu menyisakan kesedihan, memang!

Tuesday, June 11, 2013

Someone Listening Over You


Mendengarkan. Kepekaan yang agak sulit aku aplikasikan dalam keseharian dan sepertinya sudah jadi habit negatif saya.

Entahlah, aku agaknya ingin nyalahin otakku atas keterbatasanku satu itu. Aku menganggap ketidakpedulian otakku lah yang membuat aku acuh atas informasi yang masuk ke indera pendengar. Harusnya otak bertindak sebagai perekam, tapi pada banyak kasus otak bukan menolak hanya tak menerima, spesifiknya adalah cuma numpang lewat lalu keluar lewat kuping satunya. Dan imbasnya cukup berakibat krusial pada sebuah relasi...

Sebagai contoh ada malam ketika aku dan perempuan itu makan malam. Ia sudah mengatakan apa yang ingin dipesannya, tetapi entah kenapa aku, otakku tak merekam apa yang ia katakan, sibuk sendiri. Dan ketika pelayan ia yang sedang bertelepon kutanyai ulang tentang pesanannya. Dan tampak sekali aroma ketidaksukaan di mukanya karena ia harus memotong obrolannya di telepon. Upps, That's not a good point!

Tapi sebenarnya ini bukan yang pertama, ini sudah kesekian, makanya kunamai habit. Bad habit of course, mengingat perempuan itu selalu menyerap tiap apa yang keluar dari mulutku secara detil. Bahkan aku pernah takjub ketika ia mengingat hal yang bagiku hanya selintas lalu ku ucapkan.

Dan entah sampai kapan bad habit ini terakhiri. Aku sendiri kadang merasa ini sudah mengakar di alam bawah sadar, sebagai salah satu bentuk bahaya laten bernama keegoisanku.

But, I do my best to eliminate it, bertahap ya..

Monday, June 10, 2013

Will Be Another Girl With Tatto!

"Di sini dimana vi tempat bikin tatto yang bagus?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir perempuan di sebelahku ketika kami sedang makan malam di keremangan sebuah tempat makan terkenal di Jogja sebelum ia kembali ke kotanya.
Aku terhenyak sejenak. Ia tau 'kekagetan'ku, tetapi memaknai dengan persepsi berbeda. Aku terhenyak karena takjub perempuan itu berniat menggambari tubuhnya, sedang ia berasumsi kekagetanku karena akan 'keberatan' dengan perempuan bertato. Well, anda meleset, karena mantan saya dan beberapa teman juga bertatto, dan menurut saya tatto is cool for women body meski untuk digambar di tubuhku, aku akan menolak, bukan karena haram dll, tetapi setengah mati takut ama jarum. Untuk keperluan medis aja kalo gak terpaksa aku gak akan rela jarum menembus kulitku, apalagi ini dengan sengaja, wah ndak ngebayangin bakal sakit kayak apa..

Balik ke topik, aku menanggapi pertanyaannya dengan antusias. "Banyak kalau di jogja, nanti kalau beneran aku nanya dulu dimana ia mentatto lengannya.."
"Tapi ini bukan gambar apa gitu, tapi simbol untuk Tuhan yang ada di tubuhku."
"Emang mau gambar apa?" makin curious.
"Gambar rosario kayak gini.." Ia mengeluarkan sebuah rosario dan memperlihatkan padaku. Bentuknya mirip tasbih kecil berwarna-warni.
"Bagus. Apa akan segede itu?"
Ia melingkarkan di balik tangan bagian dalam. "Masa segini gede?"
"Nggak juga sih.." Lalu aku bercerita tatto di lengan mantanku yang juga menarik perhatiannya. "Kalau emang serius ya kalau kesini lagi ntar khususin waktunya buat bikin tatto, karena akan habis bikin butuh recovery.."
Ia mengangguk-angguk.

Hmm, tatto, aku akan teramat menantikan kapan ia akan merealisasikannya..

Noted: Aku agak merasa kok nih perempuan masih menganggap aku antipati pada perbedaan suku, agama, simbol2 yang menurut masyarakat terbilang 'nakal', hello kakak kau perlu tau aku sudah tak lagi mainstream, bahkan aku merasa lebih liberal darimu. So, jauhkan pikiran bahwa aku akan mengkerdilkan pilihan2 bahkan yang paling ekstrim sekalipun.

Sunday, June 9, 2013

Menyenangi Yang Tak Kusukai

Ini mungkin efek, dan aku sangat sadar akan hal tsb. Adalah menyenangi lagu yang kau nyanyikan di kotak musik hati dan beberapa lagu dari seorang artis yang kau senangi karena ditulis dan dinyanyikan oleh sang pencipta sendiri. Lirik yang feminis tentang perempuan kuat ditambah strong character dari si penyanyi itu sendiri.

Aku memang suka beberapa lagunya, namun seusai konser kotak musik hati itu aku kemudian tak berhenti mencari lagu dan lirik yang menohok hati.

Dan puisi... Aku memang kadang suka beberapa puisi, tapi untuk puisi serius 'temanya' hampir selalu kulewatkan. Maklum, interpretasi yang ringan aja susah, apalagi yang berat. Namun ketika ia menyukai puisi, bukan tuntutan juga untuk suka, tapi mencoba untuk menyukai.

Bukankah ketika menyukai seseorang kita akan mencoba menyukai apa yang disukainya, meski kadang kita tak suka. Bukan berarti terpaksa, kita hanya ingin bisa menjadi bagian dirinya. Buatku, selama tak menyusahkan, artinya tetap ada koridor batasan untuk mencoba menyerap, kalau pada ambang batas tak bisa menyukai, maka aku akan angkat tangan. Letak kompromi ku adalah tak mau tersiksa menyukai apa yang coba sedang ingin kusukai karena aku menyukai seseorang.

Hanya yang bisa kubagikan, ketika mencoba menyenangi yang tak kusukai jujur dalam proses tsb kita akan melakukannya dengan sumringah hati dan bibir. Trust me!

Saturday, June 8, 2013

One Lie Leads to Another

Kalimat ini aku dapat ketika aku berbincang dengan kawan untuk sebuah tesisnya. Dan aku menghubungkannya dengan persinggungan takdir aku dan perempuan itu...

Sejak pagi, aku -dan dia juga, kurasa- gaduh soal rencana kami malam ini di Kotak Musik hati. Dari mulai soal booking dan soal mengikutsertakan -teman kantornya-. Padahal siang itu aku bertemu dengannya, bertepatan disinggungkan takdir bertiga di lobi dengan si #MonMon. Dan bahasan kami masih sama, ia yang memesan kotak musik tsb.

Menjelang sore, satu pertanyaan ia munculkan, "Kalau teman kantor gue ikut asyik gak ya?". Aku memutar otak. Apa alasannya mau ngajak teman kantornya, tapi aku ndak mau dunk dibilang defensif.
"Bukannya temenmu mau jalan ama dua temennya, ntar jadi rame dunk."
"O iya ya" Hanya itu yang meluncur dari mulutnya.
"Tapi gimana kalau aku ditanyain temenmu kita mau kemana?" iseng ku lempar pertanyaan tsb.
"Ya, bilang aja mau ditraktir ama gue.."
Saya tersenyum, one lie leads to another dimulai sejak saat ini...
"Nanti pas kita ketemu gak usah bahas rencana ini di depan dia ya.."
Siyap kakak...

Dan benar saja, sepanjang melemaskan kaki kami tak sedikit pun menyinggung soal itu. Meski aku dapat menangkap tatapan aneh teman kantornya yang seakan menanyakan "Ngapaen lo balik kemari lagi?" sama seperti sorot mata yang "mematai" kami di kejauhan ketika aku dan perempuan berwajah artis ini mencoba melemaskan kaki di bebatuan refleksi. Teman kantornya ini tak mendekat, ia mengawasi dari kejauhan. Behave Alvi!

Dan kecurigaan itu akhirnya terpapar ketika aku sendirian sementara perempuan yang akan jalan denganku ganti pakaian..
"Kalian mau kemana sih?"
Kalau ia temanku tentu aku akan meledek mau tau aja, kepo amat. Tapi ini temannya, "Mau ditraktir ama temenmu.." Aku menjawab seperti apa yang sudah kami rencanakan dengan intonasi sedatar mungkin.
"Mau ditraktir apalagi, kalian kan sudah makan kan barusan!"
Dan aku baru menyadari kebodohan jawabanku barusan, dan otak saya langsung sibuk antara memikirkan kelogisan jawaban selanjutnya dan memasang muka 'jujur' terbaik saya.
"Nggak tau tuh temenmu, tadi bilangnya cuma mau nraktir aku, haa kok barusan makan ya?" Aku menyelaraskan alur pikirnya.
"Ow mungkin mau ditraktir baju, kan disana banyak factory outlet!" sahutnya mereka-reka, meski terkesan maksaa banget, tapi aku mengamini. Padahal aku kehabisan ide, mukaku dah pias.

Aku memang tak menyampaikan pertanyaan itu ke perempuan tsb, tapi aku yakin di ruang sebelah yang hanya bersekat kaca ia mendengarnya.

And, one lie always lead to another lie.. Dan menggiring saya untuk semakin pintar menyiapkan kata dan wajah agar tak ketauan kalau sedang memperindah kalimat dengan bualan semata..

Friday, June 7, 2013

Kotak Musik Hati


Arloji di tangan kiriku bergegas menuju angka 8, seperti halnya aku dan ia yang bergegas mengakhiri sesi jajan sembari ia bercerita dengan teman kantornya yang nggak sengaja ketemu di taman jajanan dekat tempat sehabis ia melemaskan raga agar sehat.

Ya, kami berdua memang sedari tadi rajin banget melirik putaran waktu di pergelangan tangan kami. Usai berpamitan, aku masih harus menghadapi pertanyaan teman kantornya yang memberondongku di kala kau sedang ganti kostum. Akan kuceritakan di bagian lain soal itu...

Kami berjalan dengan rute yang sama, menunggu bus di halte yang sama seperti kemarin. Bergelantungan di bus dan mengerjaiku dengan menyuruh bayar separuh harga, namun harga diriku menolak. Ya iyalah, di negeri orang dimaki-maki cuma gara-gara duit 2 ribu kok gak keren sama sekali, bukan! Meski aku harus menelan sebutan cemen yang kau beri, tapi Arians tak akan mau meruntuhkan harga diri apalagi cuma dengan nominal segitu.

Dan kemudian macet menjadi kendala kedua. Aku menduga kami akan telat, agak panik juga katanya kalau dah lewat booking time akan hangus dan harus antri lagi. Haduh, gak boleh telat nih! Pasalnya, what we do if we are not spend our time at that music box coba? Nongki lagi, ngobrol lagi, boring kan, semalem udah!

Dan untunglah menunggu bajaj datang tak seperti menunggu polisi india yang datang belakangan. Dan terus terang ini adalah kali pertamaku naik bajaj, padahal notabene 4 tahun aku pernah hidup di ibukota ini.
"Kak, ini baru pertama kali aku naik bajaj," akuku pada perempuan di sampingku. Dan itu adalah kalimat pemberitahuan paling salah yang kuberikan padanya. Ia seperti mendapat amunisi.
"Bang, temen saya ini baru pertama naik bajaj, dari gunung bang, bla bla bla.."
Aku meliriknya pedas. Wajahnya menahan tawa.
"Terusin aja.." sindirku.
Bukannya mandeg, ia malah melakoni apa yang kukatakan, meneruskan bobor cerita ke abangnya.
"Plaak" ucapku sembari pura-pura nampar, dan membuatnya ketawa.

Kami sampai lewat lima atau sepuluh menit dari yang dijanjikan. Ia langsung sigap mengurus administrasi. Maklum, saya agak gaptek begituan. Masuklah kami di kotak musik ukuran terkecil, dan... Malu-malu!

Aku mengkategorikannya malu-malu karena ia tak mau memasang lagu kalau aku tidak melakukannya lebih dulu. Hmm, sembari ngutak atik mesin karena sama-sama gaptek, lagu pertama saya adalah Where have you been versi Rihanna, maunya versinya mbak Titi.. Dan lagu pertama dia adalah Daylight by Maroon 5. Dan baru akhir-akhir ini saya menyadari arti lagu tsb dalem yak.. And that song become my favorite song everyday to boosting my mood..

Dan lagu-lagu selanjutnya berkumandang.. Lagumu.. Laguku.. Lagu duet kita.. Laguku lagu-lagu gombes macam just the way you are, satu-satunya cinta yang mellow deh pokoknya, sedangkan lagunya adalah musik dengan beat rock dan lirik yang lumayan senada macam orang yang unhappy with her relationship. Apalah arti sebuah lagu, right? Seperti bait apalah arti menunggu by -kembarannya, katanya- Raisa yang ia nyanyikan sepenuh hati.

Dan lagu kita adalah lagu duet tempo doeloe jaman aku klas 6 SD, yaitu I want Take Forever Tonight. Eh malah bikin ketagihan, tiap lagu maunya ia duet. Tapi yang ndak seru tuh ia ndak mau joget2 kayak saya.
"Nih, jempol gue dah joget!" Ahh ndak serunya cumak itu.

We're closed and I'm happy, both of us are happy.. Closing with jealous song by dewa and I want to break free-nza Queen. And I called it Kotak Musik Hati.. And my heart so dancing..

Thursday, June 6, 2013

Kekuatiran itu Cuma Begitu Saja, Ternyata!


Seperti yang pernah kuceritakan, kepergianku ke Jakarta adalah tentang dilema dan kemenangan tipis kakak karena berhasil mengusir kekuatiranku. Kekuatiran yang kumaksudkan tentu saja akan bertemu pacar si mantan. Melihatnya bermesraan dan aku akan gigit jari karenanya.

Dan memang itu terjadi! Mantanku memang bertemu dengan pacarnya. Meski sudah setengah mati aku menghindar, sisi hatiku yang lain begitu kepo. Melihat gerak gerik mereka di ekor mataku, tak benar-benar menatap. Namun mengetahui apa yang tengah terjadi. Dan tau apa yang kurasakan? Biasa aja!

Beneran! Ini bukan defensif atau menutup-nutupi apalagi mengada-ada. Kekuatiran yang tadinya beranak pinak di otakku, bahkan hingga meliarkan ide untuk naik kereta lebih awal hanya karena gak mau bareng mantan, ternyata ketika kekuatiran tsb bener-bener kejadian, eh ya cuma gitu aja rasanya! Gak ada tuh yang namanya kekacauan hati trus galau apalagi sampai merusak moodku. Flat. Datar. Dan cuma begitu saja!

Aku jadi teringat ketika di awal-awal perpisahan kami, aku juga begitu takut ketemu mantan dan pacarnya di kafe yang biasa mereka jabanin dan aku pun kerap kesana. Saking takutnya, aku menghindari lewat jalan depan kafe tsb dan sekalinya lewat sana sampe nyesek nih hati di lampu merah mewek. Padahal belum tentu tuh mantan lagi ada di dalam sana. Dan ketika kami benar-benar bertemu di tempat itu, ternyata ketakutan dan kekuatiran perasaanku hanya delusional yang dibuat oleh otak semata. Bertemu dengan keduanya rasanya ya cuma biasa saja, sampai aku menelisik ke dalam diriku, apakah aku sedang denial?

Jawabannya memang tidak! Lalu apa yang bikin ketakutan itu mengkonstruksi otak sedemikian hebatnya ya? Dengan terulangnya hal tsb hingga dua kali ini aku sendiri belum mendapat jawabnya secara logika. Ketakutan dan kekuatiran berlebih bagiku wajar, yang tidak wajar itu kenapa ketika benar-benar kejadian lha kok ternyata tidak se-spesial yang dibayangkan otak? Dan dua kali mengalami konstruksi otak yang sama pada orang yang sama dengan realitas yang juga sama, maka aku juga sama-sama tak mau lagi berada pada situasi yang sama, karena jelas kita tak lagi bersama...

Tuesday, June 4, 2013

Sikapmu -Tumben- Manis


Perjalanan ke Jakarta ini ku wanti-wanti untuk tidak beririsan takdir terlalu lama denganmu. Aku hanya sedang tak ingin kontra dengan kebiasaan sikapmu padaku, namun ternyata aku menemukan hal yang berbeda..

Aku tak menamainya perubahan perilaku, aku hanya menganggap mungkin ada yang sedang salah di kepalamu. Ya, saat kau sedang baik adalah saat yang kucurigai bahwa ada sesuatu yang kaupikirkan dibalik niat baikmu itu. Dan sepanjang itu pula aku akan mencari celah apapun untuk selalu waspada.

Namun sepanjang perjalanan usai ke tempat terakhir agenda ke Jakarta ini, entah kenapa sikapmu benar-benar manis. Tak ada ajakan "perang" dalam tiap kata yang terucap dari bibir, tak ada perlakuan menyerang yang kau tujukan padaku. Semua tampak manis, bahkan intonasimu nyaris membuatku berdecak kalau kamu dari dulu begini, tentu tak akan terjadi "perpisahan" karena ketidakbetahanku atas perilaku sak penak udelmu itu, disamping permasalahan inti tentunya.

Bahkan ketika memasuki toilet, kau menungguiku tasku di depan. Biasanya, kamu akan menolak atau paling tidak kata-katamu gak ngenakin. Kau memang meledek, tapi raut mukanya tak menyalak. Aku memahamkannya sebagai guyonan.

Aku dan kamu lalu memesan menu yang sama. Bakso. Mengantri bersamaan kemudian duduk semeja. Mengomentari bakso yang nyaris tak ada rasanya. Sumpah, aku hanya sedang mengisi perut, gak tau rasanya enak atau gak. Hanya tau kalo itu keasinan.

Diantara kecamuk pikiran yang mengiriskan aku, kamu dan si kakak, untuk sikap manismu menimbulkan sejuta tanda tanya di benakku. Semua kemungkinan silih berganti muncul, namun karena seminggu ini kau bukan fokus utamaku, maka hanya memakan sedikit porsi otakku.

Oh ya, tentang fokus utama, salah satu hal yang muncul sebagai kemungkinan atas perangai manismu adalah karena kau tak merasa sebagai pusat perhatianku, karnanya jika kau menyalak berarti kau sedang salah strategi. Oleh karenanya, kau tak mengajakku perang. Alih-alih itu strategimu untuk meluluhkanku. Sempat menjadi asumsiku, namun buru-buru kutepis karena kok kurang kerjaan banget kliatannya , bukan begitu?

Tumben, sikapmu manis, meski sempat bisa menjadi pengalih namun tetap kewaspadaanku jauh diatas segalanya. Sejak kapan singa bersikap manis???

Monday, June 3, 2013

Jodoh itu Berawal dari Kesamaan Warna Baju!


Judulnya kayaknya emang rada-rada maksa ya.. Tapi kalo kesamaan itu memang tak disengaja dan terjadi begitu saja, maka tak apa kan kalau aku mengisahkannya...

Hari Pertama. Saya memakai T-Shirt abu-abu muda. Dan usai ia ganti pakaian olahraganya, oblong abu-abu muda pun ia kenakan. Kebetulan pertama, dimaklumi!

Keesokannya, batik putih menempel di tubuhku, eh usai ia ganti baju, oblong putih yang membalut tubuhnya. Sama lagi, gak janjian lho ya! Dimaklumi lagi?

Yang memperhatikannya bukan aku atau dia, tetapi mata lain yang mengamati kesamaan berturut-turut itu. Tapi aku sama sepertinya, tak menganggap kesamaan itu sebagai sesuatu yang tak lumrah. Karena kami memang tak janjian sebelumnya.. Hanya cukup ngakak saja dalam hati, berjodoh dengan diawali kesamaan warna baju, andai jodoh bisa se-simple demikian, bukan?

Sunday, June 2, 2013

Cemburu Tak Kasat Mata


Ada cemburu tak kasat mata yang kau hembuskan lewat kata-kata sarkas tentang ekspresi mukaku yang kau bilang sok cute karena senyum yang tak pernah lepas dari bibirku.

Ada cemburu tak kasat mata yang kau bisikkan lewat binar mata yang sendu ketika bibirku menanyaiku hendak kemana aku setelah ini, seperti sangat ingin tau dengan pura-pura tak tau, padahal kau tau jelas langkahku sore itu akan kemana..

Ada cemburu tak kasat mata yang kau alunkan dalam ungkapan ketika aku memilih menyatu dengan bis yang membawaku menemuinya, daripada mengekormu dalam bis yang sama.

Ada cemburu tak kasat mata yang kau jalarkan lewat tatapan mata yang membuntuti sosoknya dalam ruang tunggu antara aku, kau dan dia.

Ada cemburu tak kasat mata yang kau derapkan dalam lambaian kakimu yang menjauh menuruni tangga tak menungguku dalam perjumpaan selamat tinggal aku dan kamu.

Ada cemburu tak kasat mata yang seperti biasa tak pernah kan terucap lewat bibir, hanya perilaku dan logika yang menyadarkanmu bahwa kau tak pernah punya hak untuk mencemburuiku.

Maka, ada cemburu yang tak kasat mata...

Saturday, June 1, 2013

Awkward Style!


Kikuk itu sebagian dari imanku. Ya, mungkin agak gak percaya kalau aku kikukan. But believe me I'm awkward person!

Terlebih di depan orang yang kusuka. Telmi. Kikuk. Grogi. Dan melakukan hal-hal diluar kesadaran.
Namun hal-hal tsb berjalan natural, aku bukan menyengajakan grogi dan kikuk ini.

Sebagai contoh, waktu si kakak ini di sampingku aja, langsung deh otakku ngadat. Nge-blank ga tau kemana, trus harusnya melakukan ini malah melakukan itu, harusnya kepikiran ide begini eh telat karena momennya sudah berlalu. Belum lagi kekikukan perilaku, lidah kelu hanya a i u a i u.. Hmm, tapi benar begitu karakter saya..

Namun yang mengejutkan adalah kakak juga hampir serupa denganku. Mungkin tak akan percaya perempuan se-confident dia bisa awkward krik-krik gitu di depanku..

Contoh yang paling kuingat adalah ketika berpisah di depan kawasan tinggalnya.. Entah karena grogi kenapa ia dadahin juga sopir bajaj yang masih kutumpangi, habis itu dengan muka lempeng dia bilang: "eh kok gue juga dadahin abang sopir bajaj yak.." Saya langsung ngakak.

Belum lagi ketika makan di taman kami bertemu dengan dua teman kantornya, akhirnya kami bergabung dengan mereka. Nah si kakak nih asik cerita apa gitu aku juga ndak seberapa paham, tapi pas di tengah jalan tiba-tiba dia meralat: "eh bukan, ceritanya gak gitu ding, ceritanya yang bener tuh begini bla bla bla". Aku menggerutu tentangnya pada temannya di hadapanku.
"Kok bisa ya orang cerita sampai tengah diralat, lha dari awal sampe tengah tadi dia dapat cerita darimana, kok hebat banget ngarangnya, sementara cerita yang baru gak sama dengan cerita sebelumnya.."
Temannya hanya angkat bahu, sedangkan perempuan itu langsung menolehku dengan tatapan ngejek. Aku kembali ngakak. Nih kakak emang kadang ababil. Kayaknya Aquarius itu emang terlahir dengan bakat ngarang cerita lumayan lihai, tapi jadi keliatan begonya kalau ketauan begini...

Pokoknya agak surprised kakak juga awkward person deh..