Sunday, June 23, 2013
Mantenan Mantan
Mantan saya mantenan, bagaimana perasaan saya? Nah ini saya mau cerita...
Awalnya, saya dengar kabar itu sekitar awal Maret. Melihat sebuah cincin melingkar di jarinya, mendengar ucapan selamat dari orang-orang terdekatnya dan perasaan saya yang berkecamuk. Ya, ketika pertama kali tau, hati saya langsung menangis, sementara otak dengan sekuat tenaga menahan mata untuk tak mengalirkan tetes-tetes air. Meski kemudian tumpah juga tetapi ketika tak ada seorang pun di sisi. Lalu otak saya mulai sibuk, bukan menghibur hati tetapi mencari pengalihan dan peralihan.
Pengalihan pada kesibukan pekerjaan dan keinginan untuk keluar dari kota ini hanya sekedar agar tak melihat hari bahagia si mantan serta pengalih kemarahan saya. Ya, saya berjanji saat si mantan berani ngundang saya maka akan saya robek undangan di depan mukanya. Kemarahan yang benar-benar tak masuk akal memang, tapi namanya juga marah, bukan?
Namun waktu dua bulan ternyata sanggup merubah segalanya. Disinilah letak keisengan Tuhan. Kemarahan dan kecamuk hati dan pikiran kemudian memasuki fase peralihan. Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan itu melalui tahapan rasa yang tak langsung dikenali sebagai sebuah cinta. Rasa itu terpupuk sedikit demi sedikit dan perlahan, rasa itu menemukan wujudnya ketika kecamuk hati berada pada klimaksnya. Cemburu pada si mantan kemudian hanya jadi rasa yang biasa-biasa saja dengan makna perempuan yang kini tak hanya iseng belaka. Mem-flashback alur waktu dua bulan ke belakang aku pun heran bagaimana bisa peralihan rasa bisa sebegini signifikan.
Lalu tibalah hari itu.. Hari yang sekitar 2 bulan lalu kuhindari setengah mati, kini hanya kulewati dengan sangat biasaaa aja. Sampe beberapa teman niat banget lho pengen liat ekspresi mukaku takutnya aku gak kuat njuk nggeblak. Khayal banget itu! Kalo aku memutuskan datang berarti aku sudah yakin gak akan ada emotional feeling semacam nangis, apalagi semaput, yang akan terjadi.
Bahkan si kakak ngeledek mulu, ia awalnya nyuruh ga usah dateng aja, takut aku kenapa-napa atau kalo mau dateng barengan rame-rame ama temen laen biar kalo pingsan ada yang nolongin. Tetep aja niatnya ngeledekin, kan!
Dateng bareng seorang kawan, muter-muter cari gedungnya, dan finally, ketemu!
"Kak, gedung mantenannya deket ama rumah kakakmu lho!" laporku pada si kakak.
"Ajak kakak gue aja vi, trus bawa anak-anaknya, rame deh. Biar lo gak sedih!"
Ide bagus si kakak!
Balik ke TKP... Antrean salaman lagi padat merayap, aku memilih untuk makan dulu nanti baru salaman. Dan ternyata adatnya tuh nyalamin penganten baru makan. Maklum ga pernah kondangan jadi ndak tau hahaha
Tibalah pamitan sekalian nyalamin penganten beserta keluarganya.. Dimulai dari sayap kanan yang adalah mertua si mantan. Pertanyaan dari bapak mertuanya cukup spektakuler..
"Njenengan kakung nopo putri?" (Kamu laki apa perempuan)
Sebenarnya pengen ngakak juga, tapi karena yang nanya serius jadi njawabnya juga lumayan serius.
"Kulo kakung lan putri pak!" (Saya laki dan juga perempuan, pak)
Si bapak dan ibu mertua mesam mesem. Pertanyaan yang biasa buatku, yang gak biasa ya karna yang nanya bapak mertua mantan!
Jadi maaf saya rupanya tidak bisa mengabulkan harapan kawan-kawan untuk nangis gulung-gulung pas kawinan mantan karena memang feeling saya sudah biasa-biasa saja, otak saya bukan menang kali ini, ia hanya melakukan yang semestinya terjaga menemani hati yang sudah tak lagi merasa hal yang istimewa. Ya, realita tentu saja menyadarkan hati, bahwa ia tak bisa terus saja bermimpi, masih ada hari esok untuk terus dilewati. Melihat dan mendoakan orang yang kita sayangi bahagia jauh lebih utama karena dengan begitu hati merasa lebih lega...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment