Saturday, June 8, 2013

One Lie Leads to Another

Kalimat ini aku dapat ketika aku berbincang dengan kawan untuk sebuah tesisnya. Dan aku menghubungkannya dengan persinggungan takdir aku dan perempuan itu...

Sejak pagi, aku -dan dia juga, kurasa- gaduh soal rencana kami malam ini di Kotak Musik hati. Dari mulai soal booking dan soal mengikutsertakan -teman kantornya-. Padahal siang itu aku bertemu dengannya, bertepatan disinggungkan takdir bertiga di lobi dengan si #MonMon. Dan bahasan kami masih sama, ia yang memesan kotak musik tsb.

Menjelang sore, satu pertanyaan ia munculkan, "Kalau teman kantor gue ikut asyik gak ya?". Aku memutar otak. Apa alasannya mau ngajak teman kantornya, tapi aku ndak mau dunk dibilang defensif.
"Bukannya temenmu mau jalan ama dua temennya, ntar jadi rame dunk."
"O iya ya" Hanya itu yang meluncur dari mulutnya.
"Tapi gimana kalau aku ditanyain temenmu kita mau kemana?" iseng ku lempar pertanyaan tsb.
"Ya, bilang aja mau ditraktir ama gue.."
Saya tersenyum, one lie leads to another dimulai sejak saat ini...
"Nanti pas kita ketemu gak usah bahas rencana ini di depan dia ya.."
Siyap kakak...

Dan benar saja, sepanjang melemaskan kaki kami tak sedikit pun menyinggung soal itu. Meski aku dapat menangkap tatapan aneh teman kantornya yang seakan menanyakan "Ngapaen lo balik kemari lagi?" sama seperti sorot mata yang "mematai" kami di kejauhan ketika aku dan perempuan berwajah artis ini mencoba melemaskan kaki di bebatuan refleksi. Teman kantornya ini tak mendekat, ia mengawasi dari kejauhan. Behave Alvi!

Dan kecurigaan itu akhirnya terpapar ketika aku sendirian sementara perempuan yang akan jalan denganku ganti pakaian..
"Kalian mau kemana sih?"
Kalau ia temanku tentu aku akan meledek mau tau aja, kepo amat. Tapi ini temannya, "Mau ditraktir ama temenmu.." Aku menjawab seperti apa yang sudah kami rencanakan dengan intonasi sedatar mungkin.
"Mau ditraktir apalagi, kalian kan sudah makan kan barusan!"
Dan aku baru menyadari kebodohan jawabanku barusan, dan otak saya langsung sibuk antara memikirkan kelogisan jawaban selanjutnya dan memasang muka 'jujur' terbaik saya.
"Nggak tau tuh temenmu, tadi bilangnya cuma mau nraktir aku, haa kok barusan makan ya?" Aku menyelaraskan alur pikirnya.
"Ow mungkin mau ditraktir baju, kan disana banyak factory outlet!" sahutnya mereka-reka, meski terkesan maksaa banget, tapi aku mengamini. Padahal aku kehabisan ide, mukaku dah pias.

Aku memang tak menyampaikan pertanyaan itu ke perempuan tsb, tapi aku yakin di ruang sebelah yang hanya bersekat kaca ia mendengarnya.

And, one lie always lead to another lie.. Dan menggiring saya untuk semakin pintar menyiapkan kata dan wajah agar tak ketauan kalau sedang memperindah kalimat dengan bualan semata..

No comments: