Tuesday, June 4, 2013
Sikapmu -Tumben- Manis
Perjalanan ke Jakarta ini ku wanti-wanti untuk tidak beririsan takdir terlalu lama denganmu. Aku hanya sedang tak ingin kontra dengan kebiasaan sikapmu padaku, namun ternyata aku menemukan hal yang berbeda..
Aku tak menamainya perubahan perilaku, aku hanya menganggap mungkin ada yang sedang salah di kepalamu. Ya, saat kau sedang baik adalah saat yang kucurigai bahwa ada sesuatu yang kaupikirkan dibalik niat baikmu itu. Dan sepanjang itu pula aku akan mencari celah apapun untuk selalu waspada.
Namun sepanjang perjalanan usai ke tempat terakhir agenda ke Jakarta ini, entah kenapa sikapmu benar-benar manis. Tak ada ajakan "perang" dalam tiap kata yang terucap dari bibir, tak ada perlakuan menyerang yang kau tujukan padaku. Semua tampak manis, bahkan intonasimu nyaris membuatku berdecak kalau kamu dari dulu begini, tentu tak akan terjadi "perpisahan" karena ketidakbetahanku atas perilaku sak penak udelmu itu, disamping permasalahan inti tentunya.
Bahkan ketika memasuki toilet, kau menungguiku tasku di depan. Biasanya, kamu akan menolak atau paling tidak kata-katamu gak ngenakin. Kau memang meledek, tapi raut mukanya tak menyalak. Aku memahamkannya sebagai guyonan.
Aku dan kamu lalu memesan menu yang sama. Bakso. Mengantri bersamaan kemudian duduk semeja. Mengomentari bakso yang nyaris tak ada rasanya. Sumpah, aku hanya sedang mengisi perut, gak tau rasanya enak atau gak. Hanya tau kalo itu keasinan.
Diantara kecamuk pikiran yang mengiriskan aku, kamu dan si kakak, untuk sikap manismu menimbulkan sejuta tanda tanya di benakku. Semua kemungkinan silih berganti muncul, namun karena seminggu ini kau bukan fokus utamaku, maka hanya memakan sedikit porsi otakku.
Oh ya, tentang fokus utama, salah satu hal yang muncul sebagai kemungkinan atas perangai manismu adalah karena kau tak merasa sebagai pusat perhatianku, karnanya jika kau menyalak berarti kau sedang salah strategi. Oleh karenanya, kau tak mengajakku perang. Alih-alih itu strategimu untuk meluluhkanku. Sempat menjadi asumsiku, namun buru-buru kutepis karena kok kurang kerjaan banget kliatannya , bukan begitu?
Tumben, sikapmu manis, meski sempat bisa menjadi pengalih namun tetap kewaspadaanku jauh diatas segalanya. Sejak kapan singa bersikap manis???
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment