Saturday, June 22, 2013
Proud of Our Relation!
Bentuk relasi. Kalau ditilik ulang, dulu, aku selalu memerlukannya pada setiap relasi yang kubangun. Contohnya untuk cerita cinta pertamaku, aku betul-betul mengingini satu bentuk tertentu, kapan jadian, jam berapa, dimana, de el el, agar kelak setahun setelahnya ada angka dan bulan yang sama kami bisa merayakan ulang. Ya, meski memang usia relasi kami tak sampai hitungan tahun, pun tanggal tak pernah tercatat.
Kurang sukses pada cerita hati yang pertama, sekitar 2011 aku mengulang keinginan yang sama, yaitu mengingini sebuah nama dan bentuk relasi. Dan saking sakleknya bentuk relasi yang kuajukan tak menyimpan bulir kesabaran bahwa mengubah dan memperjelas ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Pun karena tak mau ada kompromi akibat ketidakjelasan bentuk relasi, akhirnya aku memilih mengandaskannya meski setengah mati mempunyai rasa yang mengakar di hati.
Untuk perempuan satu ini, nampaknya aku banyak menyerap dan menyarikan arti berelasi dari relasi sebelumnya. Tentang kesabaran, memaknai kebersamaan dan bentuk relasi itu sendiri. Karena situasinya hampir serupa, hanya karakter yang kuhadapi jelas berbeda, meski ada kesamaan di titik tertentu.
Seperti yang pernah ku bilang sebelumnya, dengan perempuan ini mengundang berbagai kontroversi. Mengartikan, menilai bahkan menghakimi dari banyak sisi. But, believe me, saya orang paling anti disebut melakukan pembenaran. Segala sesuatu tetap punya koridor dan batas yang selalu kujunjung tinggi bernama kebenaran.
Menikmati hari, memaknaknai kebersamaan sederhana yang dibingkai dalam kata-kata, canda yang remah hingga adu ego yang terakhiri dengan obrolan riang, melupakan intonasi tinggi seperti angin lalu. Membangun pola bahwa keduanya menjadi lebih baik dengan hand in hand. Setiap perbincangan tak tentu arah menghadirkan senyum dan tawa. That is why this is not called cheating.. I proud how we build -not named- this relationship.
Maka membiarkan semua mengalir alami termasuk membiarkan asumsi dan segala justifikasi menghiasi cerita hati yang tak ada namanya ini adalah kompromi -yang tidak menjadi pilihan- satu-satunya karena satu-satunya yang paham dan mengerti alur ceritanya selain aku sebagai sutradara, ada si penulis cerita abadi yang punya hak paten mutlak atas kisah ini..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment