Thursday, June 6, 2013

Kekuatiran itu Cuma Begitu Saja, Ternyata!


Seperti yang pernah kuceritakan, kepergianku ke Jakarta adalah tentang dilema dan kemenangan tipis kakak karena berhasil mengusir kekuatiranku. Kekuatiran yang kumaksudkan tentu saja akan bertemu pacar si mantan. Melihatnya bermesraan dan aku akan gigit jari karenanya.

Dan memang itu terjadi! Mantanku memang bertemu dengan pacarnya. Meski sudah setengah mati aku menghindar, sisi hatiku yang lain begitu kepo. Melihat gerak gerik mereka di ekor mataku, tak benar-benar menatap. Namun mengetahui apa yang tengah terjadi. Dan tau apa yang kurasakan? Biasa aja!

Beneran! Ini bukan defensif atau menutup-nutupi apalagi mengada-ada. Kekuatiran yang tadinya beranak pinak di otakku, bahkan hingga meliarkan ide untuk naik kereta lebih awal hanya karena gak mau bareng mantan, ternyata ketika kekuatiran tsb bener-bener kejadian, eh ya cuma gitu aja rasanya! Gak ada tuh yang namanya kekacauan hati trus galau apalagi sampai merusak moodku. Flat. Datar. Dan cuma begitu saja!

Aku jadi teringat ketika di awal-awal perpisahan kami, aku juga begitu takut ketemu mantan dan pacarnya di kafe yang biasa mereka jabanin dan aku pun kerap kesana. Saking takutnya, aku menghindari lewat jalan depan kafe tsb dan sekalinya lewat sana sampe nyesek nih hati di lampu merah mewek. Padahal belum tentu tuh mantan lagi ada di dalam sana. Dan ketika kami benar-benar bertemu di tempat itu, ternyata ketakutan dan kekuatiran perasaanku hanya delusional yang dibuat oleh otak semata. Bertemu dengan keduanya rasanya ya cuma biasa saja, sampai aku menelisik ke dalam diriku, apakah aku sedang denial?

Jawabannya memang tidak! Lalu apa yang bikin ketakutan itu mengkonstruksi otak sedemikian hebatnya ya? Dengan terulangnya hal tsb hingga dua kali ini aku sendiri belum mendapat jawabnya secara logika. Ketakutan dan kekuatiran berlebih bagiku wajar, yang tidak wajar itu kenapa ketika benar-benar kejadian lha kok ternyata tidak se-spesial yang dibayangkan otak? Dan dua kali mengalami konstruksi otak yang sama pada orang yang sama dengan realitas yang juga sama, maka aku juga sama-sama tak mau lagi berada pada situasi yang sama, karena jelas kita tak lagi bersama...

No comments: