"Di sini dimana vi tempat bikin tatto yang bagus?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir perempuan di sebelahku ketika kami sedang makan malam di keremangan sebuah tempat makan terkenal di Jogja sebelum ia kembali ke kotanya.
Aku terhenyak sejenak. Ia tau 'kekagetan'ku, tetapi memaknai dengan persepsi berbeda. Aku terhenyak karena takjub perempuan itu berniat menggambari tubuhnya, sedang ia berasumsi kekagetanku karena akan 'keberatan' dengan perempuan bertato. Well, anda meleset, karena mantan saya dan beberapa teman juga bertatto, dan menurut saya tatto is cool for women body meski untuk digambar di tubuhku, aku akan menolak, bukan karena haram dll, tetapi setengah mati takut ama jarum. Untuk keperluan medis aja kalo gak terpaksa aku gak akan rela jarum menembus kulitku, apalagi ini dengan sengaja, wah ndak ngebayangin bakal sakit kayak apa..
Balik ke topik, aku menanggapi pertanyaannya dengan antusias. "Banyak kalau di jogja, nanti kalau beneran aku nanya dulu dimana ia mentatto lengannya.."
"Tapi ini bukan gambar apa gitu, tapi simbol untuk Tuhan yang ada di tubuhku."
"Emang mau gambar apa?" makin curious.
"Gambar rosario kayak gini.." Ia mengeluarkan sebuah rosario dan memperlihatkan padaku. Bentuknya mirip tasbih kecil berwarna-warni.
"Bagus. Apa akan segede itu?"
Ia melingkarkan di balik tangan bagian dalam. "Masa segini gede?"
"Nggak juga sih.." Lalu aku bercerita tatto di lengan mantanku yang juga menarik perhatiannya. "Kalau emang serius ya kalau kesini lagi ntar khususin waktunya buat bikin tatto, karena akan habis bikin butuh recovery.."
Ia mengangguk-angguk.
Hmm, tatto, aku akan teramat menantikan kapan ia akan merealisasikannya..
Noted: Aku agak merasa kok nih perempuan masih menganggap aku antipati pada perbedaan suku, agama, simbol2 yang menurut masyarakat terbilang 'nakal', hello kakak kau perlu tau aku sudah tak lagi mainstream, bahkan aku merasa lebih liberal darimu. So, jauhkan pikiran bahwa aku akan mengkerdilkan pilihan2 bahkan yang paling ekstrim sekalipun.

No comments:
Post a Comment