Wednesday, November 9, 2011

Fantasi

Mungkin, aku dan kamu, tak lebih dari sekedar fantasi, aku dan kamu. Kadang, jika kutilik ulang aku dan kamu, tak ada benang merah antara kita.
"Apa chemistry kalian?" tanya si emak2 pada kami. Ia kemudian menjelaskan chemistry intelektual aku dan dia, dan ketika kembali aku dan perempuan itu bertemu pandang, kami masih terus mencari, apa yang sebenarnya menautkan kami?

Ada pepatah yang pernah kubaca, jika kita tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan kita untuk orang yang ada di hati, maka itulah cinta. Ketika kukumandangkan itu padanya, ia malah berseru pepatah itu tak dapat dipercaya, bisa saja bermakna sebaliknya.

Pun bila menilik duniaku dengannya, sungguh kontras! Manusia malam vs manusia rumahan. Dan pola pikir yang teramat bertolak belakang, aku tipe orang yang senang semua ditutur komunikasikan sedang ia menutup rapat isi otaknya. Bahkan seringkali aku bergumam, kayaknya aku harus belajar ilmu kebatinan deh!

Dan semua yang bertolak belakang lainnya. Intensitas pertemuan yang hanya diisi kediaman, tawa dan obrolan yang bisa diitung jari. Kau bilang semua butuh waktu, aku sepakat, tapi semoga tak kelamaan di wilayah kebatinan ini.

Pun jika ini sebuah fantasi aku tak akan sepakat denganmu untuk menyebutnya kesalahan termanis. Setiap irisan takdir selalu memaknakan sesuatu, meski hingga detik ini kita belum menemukan padanan yang khas.

Friday, November 4, 2011

Kamu

Kamu. Saya bahkan tak bisa mempenakan tentang kamu. Sesingkat apapun. Ya, otak saya sedari awal menghujat; setiap yang hadir dalam hidupku selalu dapat kuprosa atau puitiskan dalam ruang dunia maya ini, kecuali kamu.

Bukan karena aku benci namamu sejak awal. Entah, aku tak menemukan satu alasan pun kenapa otakku kemudian mandeg total. Hanya ketika emosi telah memuncak, apa yang menggunung di hati sepertinya perlu untuk dikatarsiskan.

Hanya aku tetap terbungkam. Seperti ceritamu yang hanya akan terbungkam di otak dan hatiku.

Thursday, November 3, 2011

Everything Back

Everything goes normal again. Insomnia yang datang kembali. Tidur pun rasanya ada yang bangunkan. Kantung mata yang menghitam kembali. Itu yang kusebut fase normal atau rutin.

Dua bulan. Seperti pendulum aku menghitung waktu. Sebuah kemerosotan yang lagi2 aku buat sendiri. Aku terlampau berleha-leha untuk urusan hati. Hmm, ya internal error satu itu belum bisa kubenahi sampai sekarang. Ditengah riuh rutinitas yang terselubungi cerita terlarang, aku kalang kabut Oktober lalu.

Intermezzo yang harus kusudahi. Ada yang maha penting; hidupku, bukan hatiku. Bahwa sekali lagi pencipta seluruh keberlangsungan hidupku adalah diriku sendiri.