Mungkin, aku dan kamu, tak lebih dari sekedar fantasi, aku dan kamu. Kadang, jika kutilik ulang aku dan kamu, tak ada benang merah antara kita.
"Apa chemistry kalian?" tanya si emak2 pada kami. Ia kemudian menjelaskan chemistry intelektual aku dan dia, dan ketika kembali aku dan perempuan itu bertemu pandang, kami masih terus mencari, apa yang sebenarnya menautkan kami?
Ada pepatah yang pernah kubaca, jika kita tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan kita untuk orang yang ada di hati, maka itulah cinta. Ketika kukumandangkan itu padanya, ia malah berseru pepatah itu tak dapat dipercaya, bisa saja bermakna sebaliknya.
Pun bila menilik duniaku dengannya, sungguh kontras! Manusia malam vs manusia rumahan. Dan pola pikir yang teramat bertolak belakang, aku tipe orang yang senang semua ditutur komunikasikan sedang ia menutup rapat isi otaknya. Bahkan seringkali aku bergumam, kayaknya aku harus belajar ilmu kebatinan deh!
Dan semua yang bertolak belakang lainnya. Intensitas pertemuan yang hanya diisi kediaman, tawa dan obrolan yang bisa diitung jari. Kau bilang semua butuh waktu, aku sepakat, tapi semoga tak kelamaan di wilayah kebatinan ini.
Pun jika ini sebuah fantasi aku tak akan sepakat denganmu untuk menyebutnya kesalahan termanis. Setiap irisan takdir selalu memaknakan sesuatu, meski hingga detik ini kita belum menemukan padanan yang khas.
No comments:
Post a Comment