Saturday, January 7, 2012

Dan hujan...

Hujan memang tak ada kaitannya dengan cerita aku dan kamu. Tetapi denting hujan bagiku seperti hawa magis yang mengantarkan benakku akanmu. Kamu dan aku yang tak seindah dulu...
***

Ketika jatuh hati, orang akan lebih mudah mengingat bahkan meluapkan memori bahkan hingga detil kisah-kisah kecil. Untuk kisah hati kali ini, aku
adalah kebalikannya. Otak diujung jemariku mampat tak bisa menari. Kontradiksi dengan cerita-cerita sebelumnya. Bait kata yang kata orang gombal terlalu mudah tergelincir dari lidah penaku. Menuliskan dikategorikan susah mungkin, namun bahkan menemukan chemistry diantara aku dan kamu, otak telah terperas pun aku tak pernah mendapati apa yang sebenarnya menautkan aku dan kamu.
***

Sore, hari itu, aku melihatmu, bukan untuk pertama kalinya, namun pertama kali sesuatu menyelip diantara bilik hati yang kala itu tersuguh manis untuk perempuan lain. Perempuan berkemeja krem, yang bahkan malam sebelumnya kusapa ketika menemui seorang teman yang kebetulan ada pada event yang sama. Begitulah persinggahan takdir mempertemukan aku dan kamu kala itu.

Bisa karena terbiasa. Kadang aku tak percaya ungkapan itu. Bagaimana mungkin curi-curi pandang usai sukses mengajaknya berkeliling pada event itu, yang bahkan aku pun nggak nyangka ia mau kuajak karena memang kami kuanggap BELUM saling kenal. Setiap memutar ulang hari itu, bibirku menyungging senyuman, terlebih mereka rupa wajah dan sikapnya yang selalu ingin kontroversi denganku. "Ada apa dengan perempuan ini?" pikirku.

Lalu percayakah bahwa hati tak memerlukan buku diktat setebal kamus atau referensi dari narasumber atau kliping cerita-cerita untuk memaknai satu demi satu kebersamaan yang kemudian tercipta. Prototipe hati seakan sebegitu sederhananya ketika "mencinta orang asing".

Dan jangan pernah percaya ungkapan bahwa kau bisa berjalan diantara dua kayuh dengan dua kakimu. Yakin bahwa hatimu teruntuk orang lain sementara kau juga bisa bermain-main. Sekali lagi hati yang bisa sebegitu sederhana itu sanggup mengobrak-abrik tata aturan yang bahkan sudah terpatenkan lisan untuk dilanggar, tepatnya tak tau kenapa bisa dilanggar.

Dan kemudian terbentuklah racun hati yang seperti biasanya. Keterlibatan emosional. Para pembisik. Semu. Jemu. Setiap cerita bahkan di kehidupan nyata pun punya alur. Fluktuasi yang tak terhindarkan. Dan terlebih, akhir cerita.
***

Berhitung. Itu racun hati paling mematikan. Hati tak pernah berhitung. Namun sejak logika menderita trauma cerita lalu, ia kadang menyelusup membawa mesin penghitung dan berusaha mencekoki hati tentang untung rugi. Hati tak pandai berdagang, logika mewanti-wantikannya. Dan logika sedang tak mau ditawar.

Finish the unfinished
Memilih untuk berkeputusan bersebrangan dengan perasaan, aku tak perlu menjabarkannya panjang lebar, semua tentu pernah merasakan. Namun menasehati hati bahwa proses seperti ini cepat atau lambat akan terlakoni memang butuh waktu dan transisi.

*Get well soon, heart!

No comments: