Malam telah beranjak larut namun mata belum mau diajak surut. Lingkaran hitam yang mengelilinginya padahal sudah diambang batas normal, meski begitu tak nampak tanda-tanda kantuk akan mendera. Tugas memang menumpuk, itu sudah berhari-hari lalu. Namun bukan itu yang membuat otak masih terjaga jam segini, hati tak mau ditidurkan. Benak ini sedari tadi terisi oleh cerita-cerita kasih medio akhir tahun yang masih menyisakan, kalau boleh dibilang melanggengkan sesuatu yang awalnya kusebut luka.
Sapaan seorang kawan lama di fesbuk, dan ini untuk berapa kalinya sejak berapa hari lalu, namun selalu tidak sukses karena sinyal buruk yang menghambat komunikasi, sama dengan malam ini. Jemariku bergerak menekan tanda panggil untuk nama perempuan ini sembari melirik keatas layar hape, waktu merangkak tepat ke pergantian hari.
Suara di seberang menyahut. Entah sudah berapa lama kami tak berjumpa suara, terakhir hanya lewat dunia maya, dan ternyata banyak cerita yang kulewatkan tentangnya dan ia sendiri mengaku mengikuti kisahku lewat timeline fesbuk. Ia mulai berkisah...
Cerita hatinya yang lumayan complicated satu demi satu terucap. Namun kucermati dalam nada dan pola bicaranya, ada sesuatu yang berbeda. Jelas perbedaan yang signifikan jika dibandingkan ketika ia bercerita kisahnya dengan derai tumpah kira2 beberapa bulan lalu. Meski alurnya sama, sad ending, namun cara ia bertuturlah yang tak sama.
Bibir yang mengantar kisah tak bahagia untuk sebuah cerita bahagia itu tak terdengar pahit di telingaku.
"Kamu tau sendiri kan kisah hidupku sedari dulu, hampir nggak pernah bahagia soal hati. Kali ini juga, besok ia menikah, dan sampai berapa jam lalu aku menemaninya. Tapi ia lantas menyuruhku pulang, melarangku esok ada di hari pernikahannya meski aku sangat ingin ada dan melihatnya. Ia tak sanggup. Sepanjang perjalanan tadi tangisku tumpah, tapi ada sesuatu yang menguatkanku..."
Ia bercerita runut. Makin kental sekali perbedaan cara ia bertutur. Ia pun bertanya cerita hatiku. Kalau mengambil benang merahnya, ada kesamaan tentang: selingkuh, laki-laki dan hati. Cerita kami memang tak sama, meski berangkat dari sebuah "kesalahan hati" yang sama. Aku belajar satu hal malam ini darinya; sesuatu itu tak akan kusebut sebagai luka. Begitu ia menyimpulkan cerita hatinya dengan perempuan itu. Karena luka membutuhkan waktu untuk sembuh, tapi ketika menguatkan hati untuk menempatkan cerita hanya dari sudut pandang indahnya saja, paling tidak kau akan lebih mudah berdamai, dengan hatimu dan yang bersangkutan.
Menilik ke dalam cerita hatiku, ia berprasangka bahwa aku sedang terluka. Aku membantah, bukan membela diri. Terlepas dari bagaimana caraku, aku menganggap pola yang kubikin untuk perempuan yang hingga detik ini ada dalam nafasku adalah pola terbaik yang aku bisa. Aku tak membencinya, aku membenci diriku sendiri yang memberikan hatiku padanya.
Aku selalu berujar, tendensinya padaku adalah urusan ia dengan pemberi hidupnya, sedangkan koridorku adalah bagaimana aku menata sikap dan hatiku untuknya. Marah pun, aku bukan marah padanya, tapi dengan diriku sendiri. Oleh karenanya aku sepakat ketika perempuan di ujung telepon ini berujar tak akan menyebut sesuatu ini sebagai luka. Terlepas dari aku masuk pada hubungan yang salah ataupun menjatuhkan hati pada perempuan yang salah, aku bersyukur meski dalam realitas pola hubungan komunikasi verbalku kini dengannya tergolong baku, namun jauh dalam palung terdalamku aku menjaganya dalam doa dan caraku menyayangnya.
Setiap pola akan menimbulkan persepsi. Dan aku tak hidup dalam persepsi orang lain. Bukan meyakini bahwa bagaimana aku berkeputusan adalah selalu benar, tetapi paling tidak hanya aku dan pemberi hidupku yang tau apa yang dilafalkan di awal oleh hati.
Kau, sesuatu yang tak akan kusebut sebagai luka, aku hanya belum sembuh dari logika yang mencengkerammu di kepal tanganku dan melihatmu sedikit demi sedikit perlahan mengalir keluar dari celah jemari.
No comments:
Post a Comment