Sunday, January 8, 2012

Kepongahan Otak

Dan hujan turun lagi. Dan hujan lagi yang temani. Masih dengan nuansa sama... Kamu yang terejahwantahkan melalui bulan. Bulan yang tak terbit malam ini, tepatnya ia bersembunyi di balik tangis langit.

Teringat semalam, sebelum sapaan di fesbuk itu buliran air tengah meretas dari mataku. Bukan karena terlampau lelah dengan deadline. Airmata tanda matinya kepongahan logika. Namun ia tak benar-benar mati ternyata!

Saya sendiri heran, biasanya ketika melepaskan ganjalan, derai yang tumpah adalah cara terjitu, karena seiring tetesan yang jatuh pun mengalir sungai recovery. Tak hanya hati yang berlega, namun logika pun berlegawa. Tapi entahlah, untuk kisahku kali ini, logikaku lebih dari sekedar congkak.

Pernah merasa, hati ingin berteriak sementara logika mematikan semua sistem syaraf ke mata untuk tak memproduksi airmata? Begitu kira-kira yang kuamati dan kurasakan sejak akhir Desember lalu.

Setiap kali hati mempropaganda mata untuk mendayu sayu, otak memang tergerak memformasi sosok perempuan itu dalam benak, tapi ketika mata hendak memproduksi sungai kelegaan, ia tercekat. Ada sesuatu dalam saraf otak yang tegas melarang. Bukan hanya larangan tangis, larangan rindu dan larangan lain tentang perempuan itu.

Hei otak, kenapa kau sebegitu congkak? Tak tau kah kau hampir sebulanan aku sudah mirip robot tak berperasaan, hanya seperti mesin bekerja tanpa ekspresi muka.

Tak ada waktu untuk menangis! Otak, kau sedang berlindung dibalik tumpukan pekerjaan yang memang menanti untuk terselesaikan, tapi kepongahan apa ini sampai-sampai buliran ini kau bunuh untuk tak menetas bahkan di kelopak mataku!

Otak, saya letih!
19:17, Sun 8-Jan-2012

No comments: