Jemariku yang kelu dulu saat hatiku luluh olehmu, kini mulai menari ketika kau sudah tak lagi di sisi menemani hari dan hati.
Aku pun tak pernah paham kenapa dulu ketika merajuti hampir tiap detik perjalanan waktu dengannya, tak satupun kata terjalin menjadi sebuah tulisan. Jangankan puisi, prosa hati cerita irisan takdir aku dengannya tak pernah bisa kusuguhkan lewat tarian jemari.
Dan jikalau kini berjudul-judul kisah terlontar, aku yakinkan itu bukan karena ingin bertutur buram perjalanan hati kemarin. Mungkin kala itu hatiku sedang ingin egois tak mau membagi senyum pun getirnya kepada jemari untuk diabadikan dalam rangkaian kata. Kini setelah logika juga ikut berbaur, hati pun sudah semangat berbagi.
Kini setiap benak merangkum sosokmu dalam kelebat ingatan, satu demi satu kata mengantri tuk diketikkan di ujung jempol. Semua tentangmu, bukan tentang fisikmu, so sweetmu, dan hal-hal sekecil apapun yang masih lekang di ingatanku, namun tentang rindu.
Dan sekali lagi, kau memang absurd. Aku bahkan tak bisa mendefinisi apa yang kurindukan? Kehadiranmu di sisi, kekanakanmu, pola pikirmu yang tak pernah sinkron denganku, tarian tubuhmu, atau apa? Atau kah semuanya?
Rindu itu hanya akan bernama rindu... Jemari ini terus menari, dibiarkan oleh logika yang berpola mirip ortu yang selalu ingin mengekang dan hati yang tak pernah kenal kata kapok dalam menyayangi. Menarilah jemari... Meski ia sudah tak disini, tak lagi mengiringi hati bernyanyi...
23:16, Tue 10-Jan-2012
No comments:
Post a Comment