Seorang perempuan berurai airmata di ujung telepon.
"Kamu jahat padaku! Teganya kamu melakukan ini? Kamu tau, kamu pernah merasakan berada dalam kondisiku sekarang, sangat mencintai orang yang acuh tak acuh padamu, tapi kenapa sekarang kamu lakukan ini padaku? Kenapa?"
Tangis perempuan itu kian deras hingga suaranya timbul tenggelam diantara isakan dan helaan nafasnya.
Aku menggigit bibir. Ah, aku paling tak bisa mendengar, apalagi melihat, perempuan menangis. Terlebih akulah penyebabnya. Tapi jahatkah aku? Tegakah aku? Ya, aku tau betul bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak mencintaimu, tapi sekarang masalahnya berbeda. Kenapa aku yang disalahkan atas habisnya kesabaranku untuk mencoba mengerti keposesifanmu padaku selama ini?
Kenapa AKU yang dituntut untuk mengerti perasaanmu, sedang sedikitpun KAMU tak pernah becermin untuk memahami perasaanku?
"Tidak adakah satu kali lagi kesempatan bagiku?"
Kesempatan? Bukan sekali dua kali hal ini terjadi! Sudah kesekian kalinya dan hanya berkutat pada masalah ini-ini saja, lalu kesempatan seperti apa lagi yang kamu inginkan? Jerit batinku.
"Mudah sekali kamu menemukan penggantiku, makanya kamu bisa bersikap seperti ini padaku dan tak memerdulikan perasaanku sedikitpun!"
Alisku berkerut. Kenapa masih aku yang dipersalahkan ketika aku menemukan orang-orang baru setelah hubungan yang telah berakhir?
"Kamu memang benar-benar penjahat cinta!"
Tak ada lagi lirih dalam kata-katanya, berganti kalimat penuh dendam. Dan yang paling dahsyat, sorenya perempuan yang sukses membuatku hidup tak seratus persen genap alias rada-rada blank seharian ini karena tak tega memikirkan perasaannya, terbahak, seolah lupa akan tangisnya pagi tadi.
Lalu, siapa yang lebih layak disebut PENJAHAT CINTA?
Sunday, August 31, 2008
PENJAJA-H CINTA
Penjajah satu ini memang tak membawa tank-tank ketika menggempur yang dijajahnya. Juga tak menggunakan senjata paling canggih dalam memborbardir pertahanan yang dijajahnya. Yah, penjajah cinta memang tak seperti penjajah Jepang atau Belanda, namun satu hal kesamaan penjajah cinta dengan penjajah dalam arti sebenarnya adalah keduanya sama-sama merenggut kebebasan dan kemerdekaan, seseorang maupun bangsa. Malah boleh dibilang penjajah cinta lebih kejam karena merenggut bagian paling peka dalam diri perempuan (Kata Ari Lasso dalam lagu Rahasia Perempuan hehehe...) yaitu HATI.
Cara-cara yang dilakukan penjajah cinta pun tak kalah canggih dengan temuan ilmuwan tentang senjata biologis, sama efektifnya sanggup meluluhlantakkan hati karena fikiran teracuni dan menyerang benteng emosi.
Seorang penjajah cinta menuduhku penjaja cinta. Bukan penjaja dalam arti sebenarnya memang, tapi konotasinya sama buruknya. Dan efeknya memang seperti senjata biologis. Tak kasat mata namun mematikan.
Ia bergerilya tanpa sepengetahuanku, perlahan mengepungku, memasungku dari dunia luar, mendoktrinku dengan sumpah serapah hingga leherku tercekat laksana tercekik. Hah, beruntung sebilah bambu runcing kemudian kutemukan untuk perlawanan. Dan merdeka...
Aku mereguk kebebasanku...merayakan kemenanganku...namun kemudian sunyi...penjajah itu telah pergi dari bumi hatiku.
Tapi tak lama. Ia tawarkan angin segar mengusik ketentraman senyapku. Akankah ia menjajahku kembali ataukah perjanjian baru yang ia dengungkan akan ia patuhi? Yang pasti bambu runcing telah siap disisi.
Cara-cara yang dilakukan penjajah cinta pun tak kalah canggih dengan temuan ilmuwan tentang senjata biologis, sama efektifnya sanggup meluluhlantakkan hati karena fikiran teracuni dan menyerang benteng emosi.
Seorang penjajah cinta menuduhku penjaja cinta. Bukan penjaja dalam arti sebenarnya memang, tapi konotasinya sama buruknya. Dan efeknya memang seperti senjata biologis. Tak kasat mata namun mematikan.
Ia bergerilya tanpa sepengetahuanku, perlahan mengepungku, memasungku dari dunia luar, mendoktrinku dengan sumpah serapah hingga leherku tercekat laksana tercekik. Hah, beruntung sebilah bambu runcing kemudian kutemukan untuk perlawanan. Dan merdeka...
Aku mereguk kebebasanku...merayakan kemenanganku...namun kemudian sunyi...penjajah itu telah pergi dari bumi hatiku.
Tapi tak lama. Ia tawarkan angin segar mengusik ketentraman senyapku. Akankah ia menjajahku kembali ataukah perjanjian baru yang ia dengungkan akan ia patuhi? Yang pasti bambu runcing telah siap disisi.
Thursday, August 28, 2008
Pagi Ini...
Hmm... Belum apa-apa aku sudah tersenyum sebelum mencoretkan cerita pagi ini... Gak special-special amat sih tapi bagiku lucu aja, ternyata dunia memang selebar sandal jepit!
Awalnya, seorang sahabatku menelepon, Rien. Sejak sehabis subuh tadi ia sudah menghubungiku, namun hape masih aku silent jadi gak denger pas dia telpon tiga kali.
Lagi asik ngobrol ngalor ngidul sembari ia berdandan akan berangkat kerja, tiba-tiba seorang teman yang baru kukenal masuk dalam waiting call. Aku bercerita tentang si penelepon pada Rien dan dia "tertarik" untuk kenalan. Namun panggilan keburu terhenti ketika akan kupencet tombol OK untuk menerima telepon temanku itu. Rien pun berangkat kerja. Ia jalan kaki, kantornya tak jauh. Sampai kantor kudengar ia menyapa satu persatu teman kantornya. "Dasar mbok jamu!" desisku.
Temanku tadi menelepon lagi. Langsung kuangkat. Kita bertiga conference. Belum sempat keduanya berbincang banyak, sebuah panggilan masuk di hapeku. Dari sahabat yang bagiku sudah seperti saudara, Ani. Entah mendapat angin darimana, tiba-tiba kutekan tombol OK untuk menggabungkannya berconference dengan dua temanku tadi. Dan hasilnya...ruuaammeee banget!
Rien di tempat kerjanya yang masih sepi di Semarang, Ani lagi di jalan dengan suara lalu lintas Sumenep yang ramai serta kenalan baruku yang sedang menunggu temannya di daerah Sudirman mau jalan ke Purwakarta. Fuihh.. Gaduhnya minta ampun deh!
Begitu kuangkat telpon tadi Ani langsung nyerocos, belum sadar kalo ia berada dalam conference call, langsung disambar saja oleh ledekan Rien dalam bahasa ibu Ani.
"Engko' tak ngeding ngocak apa? (Aku tidak dengar kamu ngomong apa?)" ujar Rien yang pernah tinggal di Jember dan langsung disambut tawa Ani, sedang teman baruku hanya diam saja karena nggak ngerti bahasa Madura.
Tiga perempuan di tiga daerah berbeda dan tak saling kenal, hanya dihubungkan olehku, kemudian mengobrol. Kemudian Rien berkutat pada pekerjaannya. Aku baru tersadar kalau Ani dan teman baruku punya satu lagi teman yang sama. Ia adalah kakak baruku di Jakarta. Ani adalah teman lama kakakku, sedang temanku masih satu bulan mengenal kakakku.
Tak lama, Ani dan Rien pamit karena harus kerja. Tinggal aku dan teman baruku.
"Seneng banget aku hari ini!" ujar temanku sembari terkekeh.
"Seneng kenapa?"
"Ya, pagi-pagi udah disajiin obrolan khas Suroboyo-an, bikin aku kangen aja ama Surabaya!" Temanku ini memang suka berkeliling dan katanya dalam waktu dekat akan melakukan tour de Java mampir ke Klaten, Semarang, Surabaya, kotaku dan Sumenep.
Kami kemudian berbicara tentang teman masing-masing. Ia bilang punya seorang teman baru di Klaten.
"Jangan-jangan Widya?" potongku.
"Lah..bener!" Satu lagi teman yang sama setelah kakakku. Ponsel esianya kemudian berdering. Dari teman yang mengajaknya ke Purwakarta. Ia dipandu oleh temannya itu ke tempat temannya telah siap menunggu.
"Jangan-jangan kamu juga kenal temanku yang mau pergi denganku ini?" celetuknya.
"Emang siapa namanya?" tanyaku juga penasaran, jangan-jangan emang kenal hehehe...
"Erin.."
Dan benar saja, aku memang tau nama yang ia sebutkan itu. Kami pernah mengobrol tentang blogku, tapi tak pernah tahu suara masing-masing. Waduh, dunia belok memang bener-bener selebar sandal jepit!
"Ibu satu ini kayaknya emang bener-bener beredar ya!" cetus Erin. "Kita aja nggak pernah telpon-telponan, eh ternyata dia udah tau kamu duluan!"
"Temen-temen kita kok samaan sih?" tanya teman baruku padaku. I dont know why...
Pembicaraan kemudian terputus. Maklum, XL mah paling banter kan sejam doang hehehe... tapi seru juga sih! Baru pertama aku meng-conference-kan tiga perempuan yang tak saling kenal. Aku jadi tergelak ketika mengingat tadi Ani berkata: "Ini siapamu semua, Rey?" Ani memang selalu berpikiran aku selalu punya banyak wanita. Padahal aku hanya senang mempunyai banyak teman. Bagiku itu sangat menyenangkan. Tapi sebagian orang malah menganggapku PLAYER. Termasuk Ani dan... perempuan yang semalam memakiku PLAYER dalam smsnya karena aku habis online di Yahoo Messenger. Padahal apa salahnya sih berteman? Tak bisakah pola pikir picik seperti itu diubah? Ah, aku sudah tak mau membahasnya lagi. Capek meyakinkan orang yang sudah mempunyai jawabannya sendiri atas apa yang ditanyakannya pada orang lain!!
Hahh, pagi ini ...:-)
Awalnya, seorang sahabatku menelepon, Rien. Sejak sehabis subuh tadi ia sudah menghubungiku, namun hape masih aku silent jadi gak denger pas dia telpon tiga kali.
Lagi asik ngobrol ngalor ngidul sembari ia berdandan akan berangkat kerja, tiba-tiba seorang teman yang baru kukenal masuk dalam waiting call. Aku bercerita tentang si penelepon pada Rien dan dia "tertarik" untuk kenalan. Namun panggilan keburu terhenti ketika akan kupencet tombol OK untuk menerima telepon temanku itu. Rien pun berangkat kerja. Ia jalan kaki, kantornya tak jauh. Sampai kantor kudengar ia menyapa satu persatu teman kantornya. "Dasar mbok jamu!" desisku.
Temanku tadi menelepon lagi. Langsung kuangkat. Kita bertiga conference. Belum sempat keduanya berbincang banyak, sebuah panggilan masuk di hapeku. Dari sahabat yang bagiku sudah seperti saudara, Ani. Entah mendapat angin darimana, tiba-tiba kutekan tombol OK untuk menggabungkannya berconference dengan dua temanku tadi. Dan hasilnya...ruuaammeee banget!
Rien di tempat kerjanya yang masih sepi di Semarang, Ani lagi di jalan dengan suara lalu lintas Sumenep yang ramai serta kenalan baruku yang sedang menunggu temannya di daerah Sudirman mau jalan ke Purwakarta. Fuihh.. Gaduhnya minta ampun deh!
Begitu kuangkat telpon tadi Ani langsung nyerocos, belum sadar kalo ia berada dalam conference call, langsung disambar saja oleh ledekan Rien dalam bahasa ibu Ani.
"Engko' tak ngeding ngocak apa? (Aku tidak dengar kamu ngomong apa?)" ujar Rien yang pernah tinggal di Jember dan langsung disambut tawa Ani, sedang teman baruku hanya diam saja karena nggak ngerti bahasa Madura.
Tiga perempuan di tiga daerah berbeda dan tak saling kenal, hanya dihubungkan olehku, kemudian mengobrol. Kemudian Rien berkutat pada pekerjaannya. Aku baru tersadar kalau Ani dan teman baruku punya satu lagi teman yang sama. Ia adalah kakak baruku di Jakarta. Ani adalah teman lama kakakku, sedang temanku masih satu bulan mengenal kakakku.
Tak lama, Ani dan Rien pamit karena harus kerja. Tinggal aku dan teman baruku.
"Seneng banget aku hari ini!" ujar temanku sembari terkekeh.
"Seneng kenapa?"
"Ya, pagi-pagi udah disajiin obrolan khas Suroboyo-an, bikin aku kangen aja ama Surabaya!" Temanku ini memang suka berkeliling dan katanya dalam waktu dekat akan melakukan tour de Java mampir ke Klaten, Semarang, Surabaya, kotaku dan Sumenep.
Kami kemudian berbicara tentang teman masing-masing. Ia bilang punya seorang teman baru di Klaten.
"Jangan-jangan Widya?" potongku.
"Lah..bener!" Satu lagi teman yang sama setelah kakakku. Ponsel esianya kemudian berdering. Dari teman yang mengajaknya ke Purwakarta. Ia dipandu oleh temannya itu ke tempat temannya telah siap menunggu.
"Jangan-jangan kamu juga kenal temanku yang mau pergi denganku ini?" celetuknya.
"Emang siapa namanya?" tanyaku juga penasaran, jangan-jangan emang kenal hehehe...
"Erin.."
Dan benar saja, aku memang tau nama yang ia sebutkan itu. Kami pernah mengobrol tentang blogku, tapi tak pernah tahu suara masing-masing. Waduh, dunia belok memang bener-bener selebar sandal jepit!
"Ibu satu ini kayaknya emang bener-bener beredar ya!" cetus Erin. "Kita aja nggak pernah telpon-telponan, eh ternyata dia udah tau kamu duluan!"
"Temen-temen kita kok samaan sih?" tanya teman baruku padaku. I dont know why...
Pembicaraan kemudian terputus. Maklum, XL mah paling banter kan sejam doang hehehe... tapi seru juga sih! Baru pertama aku meng-conference-kan tiga perempuan yang tak saling kenal. Aku jadi tergelak ketika mengingat tadi Ani berkata: "Ini siapamu semua, Rey?" Ani memang selalu berpikiran aku selalu punya banyak wanita. Padahal aku hanya senang mempunyai banyak teman. Bagiku itu sangat menyenangkan. Tapi sebagian orang malah menganggapku PLAYER. Termasuk Ani dan... perempuan yang semalam memakiku PLAYER dalam smsnya karena aku habis online di Yahoo Messenger. Padahal apa salahnya sih berteman? Tak bisakah pola pikir picik seperti itu diubah? Ah, aku sudah tak mau membahasnya lagi. Capek meyakinkan orang yang sudah mempunyai jawabannya sendiri atas apa yang ditanyakannya pada orang lain!!
Hahh, pagi ini ...:-)
Tuesday, August 26, 2008
Memori Biduan Dangdutku (BAGIAN 3 -end-)
Aku menghubungi sahabat Emy, Ririn, masih menggunakan cara lamaku. Sms.
"Masa sih kamu cewek? Kok aku nggak percaya kalo kamu cewek, Rey" Ririn berargumen setelah membaca pula surat yang memang berlabel nama asliku.
Aku terus terang pun ternyata ada juga yang tak percaya. Sepertinya perempuan memang gampang dibohongi. Ataukah memang perempuan lebih suka kebohongan yang berselimut sutra daripada kejujuran berbalut karung beras? Entahlah, tapi yang pasti ketidakpercayaan Ririn, atau lebih tepatnya keluguan Ririn, -sekali lagi- membuat naluri jailku tergelitik.
"Yang mengirim surat itu adalah mantan pacarku yang masih suka aku,"
Kebohongan baru yang mengawali petualangan baruku di Jakarta.
"Aku pernah bercerita tentang Emy pada mantanku itu dan dia tak terima. Ia mengirim surat itu agar hubunganku dengan Emy berakhir. Aku sudah mencoba menghubungi Emy, tapi sepertinya ia ganti nomor!"
"Nanti aku bantu kamu untuk menjelaskan semuanya pada Emy,"
Senyuman mengembang di bibirku. Lugu, bodoh ataukah foto yang pernah kukirim itu terlalu tampan??? I dont know! Hanya mereka yang tau!
"Emy masih tak percaya, Rey, tapi aku percaya kamu kok!"
Sebuah keluguan yang membuat gigi-gigi taringku terasa kian lancip saja.
Ririn. Meski secara fisik Ririn dan Emy layaknya anak kembar, dunia mereka jauh berbeda. Suaranya lebih keibuan. Hobinya memasak. Tipe perempuan rumahan. Kebalikan Emy.
Satu perempuan lagi jatuh dalam pelukan sms-smsku. Sebuah kebanggaan kah karena telah sukses sebagai pemilik lidah paling tak bertulang? Memasuki keseharian Ririn, aku lebih merasakannya sebagai bentuk kasih sayang terhadap perempuan, meski dengan cara yang salah. Sebab aku bukan saja menyelami pribadi Ririn, aku juga "dikenalkan" pada kakak perempuannya, bahkan ibunya. Semua mengenal Rey.
Melihat gelagat kedekatanku dengan Ririn, ketidakpercayaan Emy luntur. Percaya atau tidak, bahkan aku pun awalnya tak percaya, mereka berebut REY. Aku tak tahu apa smsku ataukah foto yang kukirim itu yang membuat keduanya terpikat? Tapi yang jelas kebohonganku hampir saja memporak-porandakan persahabatan yang sedari kecil terjalin.
Secara perasaan, aku lebih terlibat emosi dengan Ririn sekarang ketimbang Emy dahulu. Ririn mempunyai masalah yang lebih kompleks. Ia sering mengajakku bertukar pikiran tentang problema keluarganya, kadang ia suka menyimpannya sendiri. Pola pikirnya dewasa, namun tak jarang ia berubah kekanak-kanakan dan manja. Nada suaranya selalu dihiasi tawa, meski benaknya tengah berduka. Dan satu hal, ia tak pernah menuntutku untuk bersuara.
Ah, akhirnya aku tak tega juga. Aku mengakui semuanya.
"Aku sudah bisa merasakan kalau kamu perempuan kok..."
Begitu respon Ririn, entah untuk menutupi kecelenya, kekecewaannya ataukah benar ia telah curiga? Namun yang jelas aku lega. Lega karena mengakhiri kebohonganku, juga lega reaksi Ririn tak seekstrim Emy.
Sampai kini ia menganggapku pengganti kakaknya yang telah menikah, meski kami jarang komunikasi. Terakhir ia bercerita tentang jalinan kasihnya dengan duda beranak satu. Sedang Emy telah menikah dengan seorang polisi.
Ah, mengingat-ingat mereka kerap membuatku tersenyum, bagaimana mungkin aku selihai itu berbohong demi untuk bisa berhubungan dengan perempuan?
23:24 Mon 25 Aug 2008
"Masa sih kamu cewek? Kok aku nggak percaya kalo kamu cewek, Rey" Ririn berargumen setelah membaca pula surat yang memang berlabel nama asliku.
Aku terus terang pun ternyata ada juga yang tak percaya. Sepertinya perempuan memang gampang dibohongi. Ataukah memang perempuan lebih suka kebohongan yang berselimut sutra daripada kejujuran berbalut karung beras? Entahlah, tapi yang pasti ketidakpercayaan Ririn, atau lebih tepatnya keluguan Ririn, -sekali lagi- membuat naluri jailku tergelitik.
"Yang mengirim surat itu adalah mantan pacarku yang masih suka aku,"
Kebohongan baru yang mengawali petualangan baruku di Jakarta.
"Aku pernah bercerita tentang Emy pada mantanku itu dan dia tak terima. Ia mengirim surat itu agar hubunganku dengan Emy berakhir. Aku sudah mencoba menghubungi Emy, tapi sepertinya ia ganti nomor!"
"Nanti aku bantu kamu untuk menjelaskan semuanya pada Emy,"
Senyuman mengembang di bibirku. Lugu, bodoh ataukah foto yang pernah kukirim itu terlalu tampan??? I dont know! Hanya mereka yang tau!
"Emy masih tak percaya, Rey, tapi aku percaya kamu kok!"
Sebuah keluguan yang membuat gigi-gigi taringku terasa kian lancip saja.
Ririn. Meski secara fisik Ririn dan Emy layaknya anak kembar, dunia mereka jauh berbeda. Suaranya lebih keibuan. Hobinya memasak. Tipe perempuan rumahan. Kebalikan Emy.
Satu perempuan lagi jatuh dalam pelukan sms-smsku. Sebuah kebanggaan kah karena telah sukses sebagai pemilik lidah paling tak bertulang? Memasuki keseharian Ririn, aku lebih merasakannya sebagai bentuk kasih sayang terhadap perempuan, meski dengan cara yang salah. Sebab aku bukan saja menyelami pribadi Ririn, aku juga "dikenalkan" pada kakak perempuannya, bahkan ibunya. Semua mengenal Rey.
Melihat gelagat kedekatanku dengan Ririn, ketidakpercayaan Emy luntur. Percaya atau tidak, bahkan aku pun awalnya tak percaya, mereka berebut REY. Aku tak tahu apa smsku ataukah foto yang kukirim itu yang membuat keduanya terpikat? Tapi yang jelas kebohonganku hampir saja memporak-porandakan persahabatan yang sedari kecil terjalin.
Secara perasaan, aku lebih terlibat emosi dengan Ririn sekarang ketimbang Emy dahulu. Ririn mempunyai masalah yang lebih kompleks. Ia sering mengajakku bertukar pikiran tentang problema keluarganya, kadang ia suka menyimpannya sendiri. Pola pikirnya dewasa, namun tak jarang ia berubah kekanak-kanakan dan manja. Nada suaranya selalu dihiasi tawa, meski benaknya tengah berduka. Dan satu hal, ia tak pernah menuntutku untuk bersuara.
Ah, akhirnya aku tak tega juga. Aku mengakui semuanya.
"Aku sudah bisa merasakan kalau kamu perempuan kok..."
Begitu respon Ririn, entah untuk menutupi kecelenya, kekecewaannya ataukah benar ia telah curiga? Namun yang jelas aku lega. Lega karena mengakhiri kebohonganku, juga lega reaksi Ririn tak seekstrim Emy.
Sampai kini ia menganggapku pengganti kakaknya yang telah menikah, meski kami jarang komunikasi. Terakhir ia bercerita tentang jalinan kasihnya dengan duda beranak satu. Sedang Emy telah menikah dengan seorang polisi.
Ah, mengingat-ingat mereka kerap membuatku tersenyum, bagaimana mungkin aku selihai itu berbohong demi untuk bisa berhubungan dengan perempuan?
23:24 Mon 25 Aug 2008
Monday, August 25, 2008
MEMORI BIDUAN DANGDUTKU (Bagian 2)
Ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal siapa Emy. Dari sms yang mengalir tiap harinya ia menceritakan semuanya. Mulai dari aktivitas kuliahnya yang mengambil jurusan keguruan hingga profesinya sebagai penyanyi dangdut kenamaan di daerah agak selatan Jawa Timur itu. Dua kegiatan yang terkesan saling bertolak belakang, guru dan penyanyi dangdut. Mungkin itulah salah satu alasan ketertarikanku untuk mengenal sosok Emy lebih jauh. Dan satu hal lagi, ia mengira aku laki-laki dan aku membiarkannya.
Tiap kali ia show malam, ia selalu memintaku menemaninya, meski sebatas sms. Ia juga memperkenalkan sahabatnya padaku. Ririn. Dari foto, keduanya nyaris seperti pinang di belah dua. Sama-sama "berisi". Hanya berbeda Emy sedikit lebih jangkung daripada Ririn.
"Aku ingin mendengar suaramu!" pinta Emy ketika usia perkenalan kami berjalan sebulan lebih.
"Aku rasa belum waktunya!" elakku
"Kenapa? Lalu kapan waktunya? Masa kita cuma smsan? Nggak seru!" desaknya.
"Aku ingin menjadikanmu inspirator dalam tulisanku, jadi aku harap saat ini kau tak perlu tau aku dulu," kilahku. Sebenarnya aku tak ingin membohonginya, tapi aku terlanjur "terbiasa" dengan kehadirannya.
Dan aku tak tau kenapa, entah aku yang terlalu pintar bersilat lidah atau Emy yang kurang pintar hingga mudah kubodohi, Emy setuju saja dengan semua persyaratanku itu.
"Mau nggak kamu jadi pacarku?"
Pertanyaan itu sebenarnya kuajukan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, untuk mengujinya apakah ia benar-benar termakan kata-kataku di sms.
Ponselku berdering pendek. Aku penasaran untuk segera mengetahui jawaban Emy.
"Aku mau."
Aku bersorak. Ada kebanggaan karena aku telah berhasil memikat seorang perempuan hanya dengan sms. Short Message Service. Meski juga terselip perasaan bersalah. Maklum, aku tak pernah membohongi orang sampai sejauh ini, apalagi membohongi perempuan. Pengalaman pertama yang membuatku tertantang akan bagaimana akhir dari kebohongan ini.
"Kita sudah cukup lama pacaran, Rey, aku ingin dengar suaramu, aku nggak mau hanya pacaran dengan sms-smsmu!"
Akhirnya Emy gerah juga. Segala cara dan beribu alasanku tak bisa lagi menahan keinginan Emy untuk merasakan bait kata terucap langsung dari pita suaraku.
"Aku sudah cukup sabar dengan persyaratanmu. Kalau kau masih menolak memperdengarkan suaramu, aku anggap kamu adalah perempuan yang mengisengiku dan hubungan kita berakhir!"
Emy tak main-main dengan ancamannya. Beberapa hari berlalu dan ia tak menghubungiku sama sekali, membuatku blingsatan memeras otak memikirkan apa tindakanku. Di tengah kebingunganku, aku menemukan -sekali lagi- ide gila, yakni meminta pertolongan penjaga wartel untuk berpura-pura sebagai REY. Aku mengenal laki-laki itu, suami temanku.
Setelah dengan sedikit memohon, laki-laki itu setuju. Emy bahagia, aku pun gembira. Lega. Tapi tak lama. Laki-laki itu tanpa sepengetahuanku kerap menelepon Emy, padahal aku sudah mewanti-wantinya untuk tidak merusak perjanjian kami sebelumnya.
Tak pernah kusangka sosok yang dari penampilan luar terlihat pendiam itu ternyata juga penggoda wanita. Sandiwara itu berakhir dengan teguran keras istri pria itu, meski aku telah jujur bercerita semuanya.
"Kau telah mendengar suaraku bukan, jadi aku minta kita kembali pada persyaratan awal kita untuk berhubungan hanya melalui sms" kilahku ketika Emy bertanya-tanya saat aku berhenti meneleponnya.
"Ya sudah, nggak apa-apa kau membisu lagi, tapi aku ingin fotomu!"
Perempuan itu terus terang makin membuatku kewalahan dengan permintaannya yang makin menggunung. Foto siapa yang harus kukirim? Pernah terbersit untuk mengakui sejujurnya siapa aku, tapi aku sudah terlanjur jauh berperan dalam cerita yang kudalangi sendiri. Terlalu tanggung untuk disudahi. Dan entahlah, mengapa kebohongan ini berjalan mulus banget. Aku menemukan ide mengambil sebuah foto laki-laki di situs Friend Finder, nggak kenal tuh orang sapa yang penting lumayan cakep gitu lah daripada Mandra hehehe. Dan ajaibnya, Emy percaya dan makin "cinta"!
Namun ternyata bohong itu bikin capek! Capek pikiran dan capek hati! Heran kenapa penjahat cinta bisa begitu lihai bersilat lidah dan main hati dengan beberapa orang sekaligus, sedang aku membohongi satu perempuan saja kadang otakku dibuat pusing tujuh keliling.
Akhirnya, setelah berpikir panjang. Sehari sebelum aku mengadu nasib di Jakarta, aku mengirimi Emy surat dan mengakui diriku sebenarnya.
Kejujuran seberapapun pahitnya ternyata tetap saja berakhir tidak indah! Emy marah besar, tak mau mengangkat telepon dan membalas smsku, bahkan akhirnya ia mengganti nomor teleponnya. Aku bisa memaklumi, namun kebohonganku tak seutuhnya antiklimaks...
TO BE CONTINUED...
Tiap kali ia show malam, ia selalu memintaku menemaninya, meski sebatas sms. Ia juga memperkenalkan sahabatnya padaku. Ririn. Dari foto, keduanya nyaris seperti pinang di belah dua. Sama-sama "berisi". Hanya berbeda Emy sedikit lebih jangkung daripada Ririn.
"Aku ingin mendengar suaramu!" pinta Emy ketika usia perkenalan kami berjalan sebulan lebih.
"Aku rasa belum waktunya!" elakku
"Kenapa? Lalu kapan waktunya? Masa kita cuma smsan? Nggak seru!" desaknya.
"Aku ingin menjadikanmu inspirator dalam tulisanku, jadi aku harap saat ini kau tak perlu tau aku dulu," kilahku. Sebenarnya aku tak ingin membohonginya, tapi aku terlanjur "terbiasa" dengan kehadirannya.
Dan aku tak tau kenapa, entah aku yang terlalu pintar bersilat lidah atau Emy yang kurang pintar hingga mudah kubodohi, Emy setuju saja dengan semua persyaratanku itu.
"Mau nggak kamu jadi pacarku?"
Pertanyaan itu sebenarnya kuajukan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, untuk mengujinya apakah ia benar-benar termakan kata-kataku di sms.
Ponselku berdering pendek. Aku penasaran untuk segera mengetahui jawaban Emy.
"Aku mau."
Aku bersorak. Ada kebanggaan karena aku telah berhasil memikat seorang perempuan hanya dengan sms. Short Message Service. Meski juga terselip perasaan bersalah. Maklum, aku tak pernah membohongi orang sampai sejauh ini, apalagi membohongi perempuan. Pengalaman pertama yang membuatku tertantang akan bagaimana akhir dari kebohongan ini.
"Kita sudah cukup lama pacaran, Rey, aku ingin dengar suaramu, aku nggak mau hanya pacaran dengan sms-smsmu!"
Akhirnya Emy gerah juga. Segala cara dan beribu alasanku tak bisa lagi menahan keinginan Emy untuk merasakan bait kata terucap langsung dari pita suaraku.
"Aku sudah cukup sabar dengan persyaratanmu. Kalau kau masih menolak memperdengarkan suaramu, aku anggap kamu adalah perempuan yang mengisengiku dan hubungan kita berakhir!"
Emy tak main-main dengan ancamannya. Beberapa hari berlalu dan ia tak menghubungiku sama sekali, membuatku blingsatan memeras otak memikirkan apa tindakanku. Di tengah kebingunganku, aku menemukan -sekali lagi- ide gila, yakni meminta pertolongan penjaga wartel untuk berpura-pura sebagai REY. Aku mengenal laki-laki itu, suami temanku.
Setelah dengan sedikit memohon, laki-laki itu setuju. Emy bahagia, aku pun gembira. Lega. Tapi tak lama. Laki-laki itu tanpa sepengetahuanku kerap menelepon Emy, padahal aku sudah mewanti-wantinya untuk tidak merusak perjanjian kami sebelumnya.
Tak pernah kusangka sosok yang dari penampilan luar terlihat pendiam itu ternyata juga penggoda wanita. Sandiwara itu berakhir dengan teguran keras istri pria itu, meski aku telah jujur bercerita semuanya.
"Kau telah mendengar suaraku bukan, jadi aku minta kita kembali pada persyaratan awal kita untuk berhubungan hanya melalui sms" kilahku ketika Emy bertanya-tanya saat aku berhenti meneleponnya.
"Ya sudah, nggak apa-apa kau membisu lagi, tapi aku ingin fotomu!"
Perempuan itu terus terang makin membuatku kewalahan dengan permintaannya yang makin menggunung. Foto siapa yang harus kukirim? Pernah terbersit untuk mengakui sejujurnya siapa aku, tapi aku sudah terlanjur jauh berperan dalam cerita yang kudalangi sendiri. Terlalu tanggung untuk disudahi. Dan entahlah, mengapa kebohongan ini berjalan mulus banget. Aku menemukan ide mengambil sebuah foto laki-laki di situs Friend Finder, nggak kenal tuh orang sapa yang penting lumayan cakep gitu lah daripada Mandra hehehe. Dan ajaibnya, Emy percaya dan makin "cinta"!
Namun ternyata bohong itu bikin capek! Capek pikiran dan capek hati! Heran kenapa penjahat cinta bisa begitu lihai bersilat lidah dan main hati dengan beberapa orang sekaligus, sedang aku membohongi satu perempuan saja kadang otakku dibuat pusing tujuh keliling.
Akhirnya, setelah berpikir panjang. Sehari sebelum aku mengadu nasib di Jakarta, aku mengirimi Emy surat dan mengakui diriku sebenarnya.
Kejujuran seberapapun pahitnya ternyata tetap saja berakhir tidak indah! Emy marah besar, tak mau mengangkat telepon dan membalas smsku, bahkan akhirnya ia mengganti nomor teleponnya. Aku bisa memaklumi, namun kebohonganku tak seutuhnya antiklimaks...
TO BE CONTINUED...
Memori Biduan Dangdutku
Memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-63, semalam di kampung diadain bazar ama acara dangdutan.
Awalnya nggak ada niatan sedikitpun untuk ikutan ngeliat acara itu, selain karna nggak suka dangdut, aku juga nggak begitu suka keramaian model gitu.
"Umik, nonton dangdutan yuk?" ajak sepupuku pada ibunya seusai pulang bekerja yang langsung disambut gembira oleh sang ibu karena memang sedari tadi "gatel" pengen nonton musik favoritnya itu sedang putri bungsunya tidak selera menonton acara model begitu. Makanya ketika putri sulungnya datang, ia yakin sekali akan diajak.
"Aku ikut ya!" Entah mendapat angin apa aku kok jadi pengen ikut. Sembari menunggu film Fantastic Four tayang, pikirku. "Tapi nggak lama kan nontonnya?"
"Nggak, paling cuma berapa lagu aja!"
Akhirnya kami bertiga menuju panggung dangdutan yang tak jauh dari rumah. Bazar yang digelar di depan rumah masing-masing warga sudah mulai dibongkar. Hanya tersisa anak-anak muda yang berjualan jagung bakar dan beberapa warga yang menjual es campur.
Acara dangdutan memang sudah dimulai. Di panggung sudah ada seorang biduan dengan baju berwarna oranye sangat pas badan, khas sekali potongan penyanyi dangdut hehehe! Ia tampak sedang berdialog dengan audience di bibir panggung yang semuanya laki-laki untuk meminta pendapat lagu apa yang akan ia nyanyikan selanjutnya. Setelah itu, ia berbalik kearah pemain piano, berbincang sebentar, lalu musik pun mulai berdendang. Biduan tersebut menggoyangkan pinggul mengikuti irama dan menyenandungkan lagu yang judulnya aku nggak tahu apa hehehe...
Ah, melihat biduan itu tiba-tiba benakku dibawa melayang kembali ke masa kurang lebih lima tahun lalu. Aku jadi teringat EMI. Ia berprofesi sama dengan biduan itu dan ia pernah "jatuh hati" padaku. Ia mengira aku laki-laki.
***
Sebuah sms masuk di ponselku. Waktu itu aku ingat sekali, aku sedang membuat outline skenario film horor. Kertas-kertas masih berserakan di depanku, agak malas meraih ponsel yang sedang aku isi batrenya itu, meski tak jauh.
"Mas, aku tunggu di jalan Mawar ya?"
Ternyata sebuah sms nyasar. Langsung kuhapus. Tapi tak berapa lama, sebuah sms lagi masuk. Masih dari nomor yang sama.
"Kok nggak di bales sih?"
Huh, sms nggak penting yang merusak konsentrasi menulisku! Gerutuku kesal.
"Maaf, Anda salah sambung!"
Ponselku berhenti berdering setelah itu. Aman.
Tapi beberapa hari kemudian aku tergelitik untuk iseng-iseng misscall nomor itu, hanya pengen tau pemiliknya laki-laki atau perempuan. Ternyata perempuan.
Ponselku berdering. Dampak misscallku barusan membuat perempuan itu penasaran dan menelpon terus-menerus.
"Ini siapa ya?"
Akhirnya dia sms.
Perempuan itu benar-benar amnesia. Aku mendiamkannya. Ponselku berdering panjang.
"Kamu yang siapa? Nomormu ada di hapeku!"
"Aku Emi. Mungkin hapeku dipinjem temenku waktu itu. Kamu siapa?"
Ketika aku bingung mau jawab apa, mendadak otak jailku bekerja.
"Aku Rey"
Aku bahkan mengarang sebuah nama untukku. Afreiza.
TO BE CONTINUED...
Awalnya nggak ada niatan sedikitpun untuk ikutan ngeliat acara itu, selain karna nggak suka dangdut, aku juga nggak begitu suka keramaian model gitu.
"Umik, nonton dangdutan yuk?" ajak sepupuku pada ibunya seusai pulang bekerja yang langsung disambut gembira oleh sang ibu karena memang sedari tadi "gatel" pengen nonton musik favoritnya itu sedang putri bungsunya tidak selera menonton acara model begitu. Makanya ketika putri sulungnya datang, ia yakin sekali akan diajak.
"Aku ikut ya!" Entah mendapat angin apa aku kok jadi pengen ikut. Sembari menunggu film Fantastic Four tayang, pikirku. "Tapi nggak lama kan nontonnya?"
"Nggak, paling cuma berapa lagu aja!"
Akhirnya kami bertiga menuju panggung dangdutan yang tak jauh dari rumah. Bazar yang digelar di depan rumah masing-masing warga sudah mulai dibongkar. Hanya tersisa anak-anak muda yang berjualan jagung bakar dan beberapa warga yang menjual es campur.
Acara dangdutan memang sudah dimulai. Di panggung sudah ada seorang biduan dengan baju berwarna oranye sangat pas badan, khas sekali potongan penyanyi dangdut hehehe! Ia tampak sedang berdialog dengan audience di bibir panggung yang semuanya laki-laki untuk meminta pendapat lagu apa yang akan ia nyanyikan selanjutnya. Setelah itu, ia berbalik kearah pemain piano, berbincang sebentar, lalu musik pun mulai berdendang. Biduan tersebut menggoyangkan pinggul mengikuti irama dan menyenandungkan lagu yang judulnya aku nggak tahu apa hehehe...
Ah, melihat biduan itu tiba-tiba benakku dibawa melayang kembali ke masa kurang lebih lima tahun lalu. Aku jadi teringat EMI. Ia berprofesi sama dengan biduan itu dan ia pernah "jatuh hati" padaku. Ia mengira aku laki-laki.
***
Sebuah sms masuk di ponselku. Waktu itu aku ingat sekali, aku sedang membuat outline skenario film horor. Kertas-kertas masih berserakan di depanku, agak malas meraih ponsel yang sedang aku isi batrenya itu, meski tak jauh.
"Mas, aku tunggu di jalan Mawar ya?"
Ternyata sebuah sms nyasar. Langsung kuhapus. Tapi tak berapa lama, sebuah sms lagi masuk. Masih dari nomor yang sama.
"Kok nggak di bales sih?"
Huh, sms nggak penting yang merusak konsentrasi menulisku! Gerutuku kesal.
"Maaf, Anda salah sambung!"
Ponselku berhenti berdering setelah itu. Aman.
Tapi beberapa hari kemudian aku tergelitik untuk iseng-iseng misscall nomor itu, hanya pengen tau pemiliknya laki-laki atau perempuan. Ternyata perempuan.
Ponselku berdering. Dampak misscallku barusan membuat perempuan itu penasaran dan menelpon terus-menerus.
"Ini siapa ya?"
Akhirnya dia sms.
Perempuan itu benar-benar amnesia. Aku mendiamkannya. Ponselku berdering panjang.
"Kamu yang siapa? Nomormu ada di hapeku!"
"Aku Emi. Mungkin hapeku dipinjem temenku waktu itu. Kamu siapa?"
Ketika aku bingung mau jawab apa, mendadak otak jailku bekerja.
"Aku Rey"
Aku bahkan mengarang sebuah nama untukku. Afreiza.
TO BE CONTINUED...
Thursday, August 21, 2008
REVIEW TENTANG KAMU
Dulu...
Tepatnya setahun lalu,
aku mengenalmu
Kau galak sekali waktu itu
Ketus kalimatmu tiap balas smsku
Waduh, niatnya pengen punya temen baru,
Lha kok disemprot mulu!
Bete aku!
Hampir aja kuhapus nomormu...
Eh, nada bicaramu lalu berganti kemayu
Mulai deh tanya ini itu
Dan baru kutau kau mau punya anak satu!
Waduh! Aku belum pernah kenal anak belok ibu-ibu...
Apalagi kemudian kutau masalahmu
Aku jadi simpati padamu
Aku gak tau eh kok kamu jadi ada hati ama aku!
Hari beranjak cepat senin sampai sabtu...
Bulan kemudian berlalu...
Tak terasa kau jadi milikku
Aku kian mengenalmu,
Dan bayi perempuan mungilmu
Satu persatu karaktermu mulai kukaji
Begitu pula sifatku kau pelajari
Tak ada yang sama antara kau dengan diri ini
Memang sih kita dua hati,
Dua pribadi
Kau bilang kau cintaku,
Kau sayang aku,
Tapi kenapa kau curiga mulu?
Kau tuduh dan fitnah aku!
Apa itu bentuk cemburu tanda cintamu?
Membuatku seolah buronanmu
Seorang temanku pernah berkata,
Harus ada kesabaran dalam bercinta
Aku pernah bersalah
Kau juga tak luput dari sempurna
Selama ada cinta di dada
Berbeda itu lumrah!
Semua kan teratasi, lalu berakhir bahagia
Indah telah teraih
Duka tlah terlewati
Putus sambung bagimu mungkin sudah biasa
Tapi bagiku hati bukan tuk dijamah hanya dengan kata-kata
Ternyata cinta saja tak cukup tanpa saling percaya!
Proses pembelajaranku telah terhenti sampai disini
Percuma mencoba mengerti tentang dua hati
Mencoba perbaiki perbedaan diri
Ah, kembali aku hanya bertanya-tanya sendiri
Kau jawab pun telah tak berarti,
Hati sudah luka lagi.
19:43 Wed 20 Aug 2008
Tepatnya setahun lalu,
aku mengenalmu
Kau galak sekali waktu itu
Ketus kalimatmu tiap balas smsku
Waduh, niatnya pengen punya temen baru,
Lha kok disemprot mulu!
Bete aku!
Hampir aja kuhapus nomormu...
Eh, nada bicaramu lalu berganti kemayu
Mulai deh tanya ini itu
Dan baru kutau kau mau punya anak satu!
Waduh! Aku belum pernah kenal anak belok ibu-ibu...
Apalagi kemudian kutau masalahmu
Aku jadi simpati padamu
Aku gak tau eh kok kamu jadi ada hati ama aku!
Hari beranjak cepat senin sampai sabtu...
Bulan kemudian berlalu...
Tak terasa kau jadi milikku
Aku kian mengenalmu,
Dan bayi perempuan mungilmu
Satu persatu karaktermu mulai kukaji
Begitu pula sifatku kau pelajari
Tak ada yang sama antara kau dengan diri ini
Memang sih kita dua hati,
Dua pribadi
Kau bilang kau cintaku,
Kau sayang aku,
Tapi kenapa kau curiga mulu?
Kau tuduh dan fitnah aku!
Apa itu bentuk cemburu tanda cintamu?
Membuatku seolah buronanmu
Seorang temanku pernah berkata,
Harus ada kesabaran dalam bercinta
Aku pernah bersalah
Kau juga tak luput dari sempurna
Selama ada cinta di dada
Berbeda itu lumrah!
Semua kan teratasi, lalu berakhir bahagia
Indah telah teraih
Duka tlah terlewati
Putus sambung bagimu mungkin sudah biasa
Tapi bagiku hati bukan tuk dijamah hanya dengan kata-kata
Ternyata cinta saja tak cukup tanpa saling percaya!
Proses pembelajaranku telah terhenti sampai disini
Percuma mencoba mengerti tentang dua hati
Mencoba perbaiki perbedaan diri
Ah, kembali aku hanya bertanya-tanya sendiri
Kau jawab pun telah tak berarti,
Hati sudah luka lagi.
19:43 Wed 20 Aug 2008
Wednesday, August 20, 2008
S I M P A N A N (Bagian 3 -End-)
"Aku ingin cerita.."
"Soal apa?" Rien menangkap aroma keseriusan dalam rona wajah perempuan yang gemar berpakaian kasual di depannya.
"Kyla," Perempuan itu dapat melihat perubahan wajah Rien usai menyebutkan nama barusan. "Aku tak punya orang lain lagi untuk berbagi, hanya kamu Rien.."
"Sudah kubilang berapa kali, kau boleh cerita tentang apa saja padaku, tapi tidak tentang dia!"
"Rien, salahkan aku, jangan dia!"
Rien tak habis pikir kenapa perempuan yang dicintainya itu masih saja membela sahabatnya. "Ah, orang yang menikam teman sendiri tak pantas disebut sebagai sahabat!" maki Rien dalam hati. Ia kesal. Sebenarnya apa maksud perempuan di hadapannya ini memasuki kehidupannya kembali disaat Rien tengah menata hatinya untuk perempuan lain dengan ingin menjadikannya sebagai pendengar atas masalah-masalahnya bersama orang yang hingga kini belum bisa ia maafkan? Konyol!
"Rien, aku ingin kau jadi sahabatku karena kamulah yang tau segalanya tentang aku!"
"Sahabat?" pekik Rien. "Apa aku tak salah dengar? Setelah semua yang telah terjadi diantara kita, pacarmu, bahkan simpananmu dan kini kau menginginkan aku menjadi sahabatmu?"
"Tak bisakah kau melupakan masa lalu kita yang sudah lama berakhir? Tak bisakah kau menjadi sahabatku sekarang?"
"Tidak!!!" teriak Rien. Ia sungguh sangat kecewa perempuan yang dicintainya tega melontarkan kalimat itu dengan begitu entheng seakan tak mengindahkan perasaan Rien. "Kau boleh menyebutku bodoh, tolol atau apapun istilahnya karena tak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanya masa lalumu. Kau boleh menertawakanku karena aku tetap menyimpan perasaan suci yang kunamakan cinta ini di hatiku. Tapi, jangan pernah memintaku menjadi sahabatmu, mendengarkan keluh kesahmu tentang masalahmu dengan orang lain, bukannya aku!!" Amarah Rien memuncak. Sakit hatinya kali ini melebihi apa yang telah dilakukan sahabatnya padanya.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar perempuan paling egois yang tak punya nurani!" Airmata yang telah mengering kini seperti banjir di musim hujan. "Aku sungguh-sungguh tidak mengenalmu!"
Rien pergi. Membawa hatinya yang seketika mati. Tak menyisakan celah sedikit pun untuk kembali. Menutup rapat masa lalu yang memberinya pelajaran berarti.
***
"Al, ada apa?" sahut Rien dengan suara serak dan mata masih terpicing sebelah.
"Ayo bangun! Udah sholat subuh belum!" tanya perempuan bersuara sopran di ujung telepon.
"Belum!" Rien menggeliat seperti anak kecil.
"Masa mbok jamu jam segini masih molor? Nanti jamu gendongnya nggak laku lho ya..."
"Gundulmu!"
Perempuan di seberang terkekeh.
Pagi lagi. Bukan hari kemarin. Hari baru telah menanti.
TO BE CONCLUDED
21:56 Tue 19 Aug 2008
"Soal apa?" Rien menangkap aroma keseriusan dalam rona wajah perempuan yang gemar berpakaian kasual di depannya.
"Kyla," Perempuan itu dapat melihat perubahan wajah Rien usai menyebutkan nama barusan. "Aku tak punya orang lain lagi untuk berbagi, hanya kamu Rien.."
"Sudah kubilang berapa kali, kau boleh cerita tentang apa saja padaku, tapi tidak tentang dia!"
"Rien, salahkan aku, jangan dia!"
Rien tak habis pikir kenapa perempuan yang dicintainya itu masih saja membela sahabatnya. "Ah, orang yang menikam teman sendiri tak pantas disebut sebagai sahabat!" maki Rien dalam hati. Ia kesal. Sebenarnya apa maksud perempuan di hadapannya ini memasuki kehidupannya kembali disaat Rien tengah menata hatinya untuk perempuan lain dengan ingin menjadikannya sebagai pendengar atas masalah-masalahnya bersama orang yang hingga kini belum bisa ia maafkan? Konyol!
"Rien, aku ingin kau jadi sahabatku karena kamulah yang tau segalanya tentang aku!"
"Sahabat?" pekik Rien. "Apa aku tak salah dengar? Setelah semua yang telah terjadi diantara kita, pacarmu, bahkan simpananmu dan kini kau menginginkan aku menjadi sahabatmu?"
"Tak bisakah kau melupakan masa lalu kita yang sudah lama berakhir? Tak bisakah kau menjadi sahabatku sekarang?"
"Tidak!!!" teriak Rien. Ia sungguh sangat kecewa perempuan yang dicintainya tega melontarkan kalimat itu dengan begitu entheng seakan tak mengindahkan perasaan Rien. "Kau boleh menyebutku bodoh, tolol atau apapun istilahnya karena tak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanya masa lalumu. Kau boleh menertawakanku karena aku tetap menyimpan perasaan suci yang kunamakan cinta ini di hatiku. Tapi, jangan pernah memintaku menjadi sahabatmu, mendengarkan keluh kesahmu tentang masalahmu dengan orang lain, bukannya aku!!" Amarah Rien memuncak. Sakit hatinya kali ini melebihi apa yang telah dilakukan sahabatnya padanya.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar perempuan paling egois yang tak punya nurani!" Airmata yang telah mengering kini seperti banjir di musim hujan. "Aku sungguh-sungguh tidak mengenalmu!"
Rien pergi. Membawa hatinya yang seketika mati. Tak menyisakan celah sedikit pun untuk kembali. Menutup rapat masa lalu yang memberinya pelajaran berarti.
***
"Al, ada apa?" sahut Rien dengan suara serak dan mata masih terpicing sebelah.
"Ayo bangun! Udah sholat subuh belum!" tanya perempuan bersuara sopran di ujung telepon.
"Belum!" Rien menggeliat seperti anak kecil.
"Masa mbok jamu jam segini masih molor? Nanti jamu gendongnya nggak laku lho ya..."
"Gundulmu!"
Perempuan di seberang terkekeh.
Pagi lagi. Bukan hari kemarin. Hari baru telah menanti.
TO BE CONCLUDED
21:56 Tue 19 Aug 2008
S I M P A N A N (Bagian 2)
Hati Rien masih rapuh ketika suatu sore saat kepalanya penat oleh pekerjaan kantor yang menumpuk ponselnya berdering. Dari nomor tak dikenal.
"Hallo..." ujar Rien ragu. Pasalnya nomor yang tertera di layar ponsel adalah nomor lokal, padahal hanya keluarga dan teman-teman dekatnya saja yang mengetahui nomor tersebut, selebihnya tak ada. Bahkan teman sekantornya saja tak pernah diberinya nomor ini. Lalu siapa penelepon dengan kode area kota yang baru ditinggalinya kurang lebih dua bulan ini?
"Hallo.." jawab suara di seberang. Suara yang seketika menggetarkan dawai hati Rien yang masih perih.
Suara perempuan yang setengah mati dirindukannya, namun setengah mati pula ia tengah coba kubur dalam-dalam.
"Apa kabar?" tanya perempuan itu.
"Baik!" sahut Rien datar. Benaknya masih mengembara mencari tahu bagaimana bisa perempuan itu menemukan jejak yang berusaha ditutupnya serapi mungkin.
"Aku mendapatkan nomor ini dari keluargamu di Jember!"
Perempuan itu seolah dapat membaca keheningan lawan bicaranya. Dan tak salah lagi, Rien yakin pasti orang rumah Rien yang dengan murah hati memberikan nomor teleponnya secara cuma-cuma. Percuma saja Rien membungkam teman-temannya yang merupakan teman perempuan itu, jika ia tak punya alasan untuk juga membungkam keluarganya.
"Kata ibumu, kau bekerja disini... Kenapa kau tak bilang padaku?"
Ah, kenapa nada bicaranya terdengar seolah-olah aku masih saja miliknya, batin Rien.
"Boleh kan kita bertemu?"
Perempuan itu benar-benar sanggup memporak-porandakan serta meruntuhkan benteng hati Rien yang belum usai dibangun.
***
Entah karena ingin membuktikan pada dirinya sendiri ia mampu menghadapi masa lalu ataukah ingin mengobati kisi-kisi hati yang merindukan keteduhan mata perempuan itu. Rien tak tahu apa yang kemudian membawa kakinya sampai di depan sebuah restoran cepat saji tempat janjian ia dengan perempuan itu.
Kenapa kamu disini? Apa kamu akan mengulangi kebodohanmu lagi?
Suara dalam diri Rien membuat langkah Rien tertahan. Rasa nervous yang sedari tadi mendera seperti saat akan bertemu perempuan itu pertama kali kini berganti keragu-raguan.
"Hai..."
Sapaan itu membuyarkan pertentangan logika dan perasaan Rien yang campur aduk.
"Kamu dengan siapa sekarang?" tanya perempuan itu tanpa basa basi.
"Kamu gimana dengan pacarmu?" Rien sengaja bertanya balik tanpa menjawab.
"Aku dan dia..." Perempuan itu menghela nafas panjang. "Ya begitulah.. Ia sekarang dekat dengan mantannya dan tak memperdulikanku lagi, meski kami berdua masih memegang komitmen awal kami yang lebih terlihat sebagai formalitas belaka karena hati kami sudah tak lagi bersama,"
Rien tak bereaksi. Keduanya berpadu dalam pikiran masing-masing.
"Ah, sudahlah, kita ganti topik pembicaraan. Dimana kamu bekerja?"
Sejenak Rien memandangi perempuan yang menurutnya agak kurusan itu. Rambut perempuan itu sedikit gondrong menutupi separuh mukanya yang membuatnya makin terlihat tirus.
Bukankah Rien tengah mencoba untuk lepas dari masa lalunya? Tapi bukankah pula ini yang ditunggunya? Menyatukan kembali asmara yang masih membelit bukan hanya hatinya, tetapi juga tiap detik pikirannya.
"Hei, kok dari tadi ngelamun terus sih? Ditanya juga nggak jawab, kamu grogi ketemu aku lagi?" goda perempuan itu.
"Enak saja!" elak Rien. Duh, kenapa aku tak bisa sesantai dia, kenapa sih aku ini? Rutuk Rien dalam hati.
Pun pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, Rien masih tak bisa menguasai debaran hatinya meski telah sekuat tenaga ditatanya sedemikian rupa, tapi ketika perempuan itu menebar keharuman senyuman menyisakan lesung di pipi kirinya Rien luluh lantak dalam kharismanya.
***
TO BE CONTINUED...
"Hallo..." ujar Rien ragu. Pasalnya nomor yang tertera di layar ponsel adalah nomor lokal, padahal hanya keluarga dan teman-teman dekatnya saja yang mengetahui nomor tersebut, selebihnya tak ada. Bahkan teman sekantornya saja tak pernah diberinya nomor ini. Lalu siapa penelepon dengan kode area kota yang baru ditinggalinya kurang lebih dua bulan ini?
"Hallo.." jawab suara di seberang. Suara yang seketika menggetarkan dawai hati Rien yang masih perih.
Suara perempuan yang setengah mati dirindukannya, namun setengah mati pula ia tengah coba kubur dalam-dalam.
"Apa kabar?" tanya perempuan itu.
"Baik!" sahut Rien datar. Benaknya masih mengembara mencari tahu bagaimana bisa perempuan itu menemukan jejak yang berusaha ditutupnya serapi mungkin.
"Aku mendapatkan nomor ini dari keluargamu di Jember!"
Perempuan itu seolah dapat membaca keheningan lawan bicaranya. Dan tak salah lagi, Rien yakin pasti orang rumah Rien yang dengan murah hati memberikan nomor teleponnya secara cuma-cuma. Percuma saja Rien membungkam teman-temannya yang merupakan teman perempuan itu, jika ia tak punya alasan untuk juga membungkam keluarganya.
"Kata ibumu, kau bekerja disini... Kenapa kau tak bilang padaku?"
Ah, kenapa nada bicaranya terdengar seolah-olah aku masih saja miliknya, batin Rien.
"Boleh kan kita bertemu?"
Perempuan itu benar-benar sanggup memporak-porandakan serta meruntuhkan benteng hati Rien yang belum usai dibangun.
***
Entah karena ingin membuktikan pada dirinya sendiri ia mampu menghadapi masa lalu ataukah ingin mengobati kisi-kisi hati yang merindukan keteduhan mata perempuan itu. Rien tak tahu apa yang kemudian membawa kakinya sampai di depan sebuah restoran cepat saji tempat janjian ia dengan perempuan itu.
Kenapa kamu disini? Apa kamu akan mengulangi kebodohanmu lagi?
Suara dalam diri Rien membuat langkah Rien tertahan. Rasa nervous yang sedari tadi mendera seperti saat akan bertemu perempuan itu pertama kali kini berganti keragu-raguan.
"Hai..."
Sapaan itu membuyarkan pertentangan logika dan perasaan Rien yang campur aduk.
"Kamu dengan siapa sekarang?" tanya perempuan itu tanpa basa basi.
"Kamu gimana dengan pacarmu?" Rien sengaja bertanya balik tanpa menjawab.
"Aku dan dia..." Perempuan itu menghela nafas panjang. "Ya begitulah.. Ia sekarang dekat dengan mantannya dan tak memperdulikanku lagi, meski kami berdua masih memegang komitmen awal kami yang lebih terlihat sebagai formalitas belaka karena hati kami sudah tak lagi bersama,"
Rien tak bereaksi. Keduanya berpadu dalam pikiran masing-masing.
"Ah, sudahlah, kita ganti topik pembicaraan. Dimana kamu bekerja?"
Sejenak Rien memandangi perempuan yang menurutnya agak kurusan itu. Rambut perempuan itu sedikit gondrong menutupi separuh mukanya yang membuatnya makin terlihat tirus.
Bukankah Rien tengah mencoba untuk lepas dari masa lalunya? Tapi bukankah pula ini yang ditunggunya? Menyatukan kembali asmara yang masih membelit bukan hanya hatinya, tetapi juga tiap detik pikirannya.
"Hei, kok dari tadi ngelamun terus sih? Ditanya juga nggak jawab, kamu grogi ketemu aku lagi?" goda perempuan itu.
"Enak saja!" elak Rien. Duh, kenapa aku tak bisa sesantai dia, kenapa sih aku ini? Rutuk Rien dalam hati.
Pun pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, Rien masih tak bisa menguasai debaran hatinya meski telah sekuat tenaga ditatanya sedemikian rupa, tapi ketika perempuan itu menebar keharuman senyuman menyisakan lesung di pipi kirinya Rien luluh lantak dalam kharismanya.
***
TO BE CONTINUED...
Tuesday, August 19, 2008
S I M P A N A N (Bagian 1)
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?"
Perempuan di hadapan Rien sudah tiga kali mengajukan pertanyaan yang sama, tapi tak juga didapatnya jawaban dari mulut Rien. Kebungkaman Rien malah berganti isakan tangis. Hanya airmata yang sanggup keluar meski dada Rien sesak.
"Kalau kau tak yakin, sebaiknya..."
"Aku yakin!" potong Rien lirih bercampur isakan. Rien kemudian menyeka airmata yang terus meretas. "Aku yakin dengan keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita!" tegas Rien.
"Kau takkan sanggup hidup tanpa aku! Lihat saja, kau akan menyesali keputusanmu itu dan akan merengek-rengek kembali padaku!" kata perempuan di hadapan Rien terkesan arogan.
Rien membelalak. Tak percaya bahwa perempuan yang telah menghiasi hari-harinya empat tahun ini dan masih memenuhi segenap relung hatinya hingga detik ini sanggup melontarkan kalimat seangkuh itu.
"Ya, aku akui memang tak mudah bagiku mengeluarkanmu dari pikiran dan hatiku atau bahkan menghapus kehadiranmu dari kehidupanku, tapi satu hal yang aku yakini adalah..." Rien mengatur nafasnya yang turun naik. "Aku sudah tak sudi kau jadikan simpananmu!" Rien bangkit. Amarahnya meledak. Amarah yang selama ini tertahan oleh kesabaran atas nama cinta.
"Dan satu hal lagi.. Setelah ini kita tidak usah berhubungan, kembali dan jaga sahabatku baik-baik!"
Rien pergi membawa separuh jiwanya dalam deraian tangis. Setengah mati ia mengumpulkan keberanian untuk keluar dari dilema perasaannya sendiri.
Rien kecewa. Kecewa dengan arogansi perempuan yang ternyata tak pernah sekalipun merasakan bagaimana di pihaknya, malah sepertinya menertawakan merasa diatas angin karena telah dicintai. Rien tak menyangka ia sungguh telah keliru, seperti tak mengenal pribadi perempuan tersebut sebelumnya.
***
Genap setengah tahun berlalu, namun Rien masih hidup dalam bayang-bayang perempuan yang usianya dua tahun lebih muda itu. Dan sepertinya dunia benar-benar sempit. Sejauh apapun Rien menghindar, bahkan sengaja mengganti nomor telepon yang ia miliki, tetap saja takdir mempertemukan Rien kembali dengan perempuan yang masih lekang dalam ingatannya itu.
Dan sarafnya menegang manakala melihat sahabat yang melebihi saudara kandungnya itu bergelanyut mesra di lengan perempuan belahan jiwanya.
Rien belum bisa memaafkan pengkhianatan teman tempat ia berbagi segalanya itu. Meski meyakini sahabatnya tak sepenuhnya bersalah. Justru perempuan kekasihnya lah yang patut disalahkan atas keretakan hubungan persahabatan mereka.
Seharusnya ia yang menyanding perempuan itu. Seharusnya ia yang tertawa riang di lengan kokoh perempuan itu. Seharusnya ia yang merasakan manisnya cinta perempuan itu, tanpa pernah terbagi. Dan keharusan-keharusan lain yang terenggut darinya, tak menyangka sahabat akan menjadi duri dalam kisah kasih asmaranya.
Tapi toh tetap Rien tak bisa menyalahkan keadaan, apalagi membalikkan waktu. Kenyataan bahwa perempuan kekasihnya dan sahabatnya menjalin cinta terlarang adalah kenyataan yang harus direguknya.
***
Dan bagaimana mungkin setelah pengkhianatan itu keduanya masih menuntut Rien untuk berbaik-baik seolah tak ada apa-apa. Hah, Rien benar-benar tak habis pikir, apa sebenarnya mau mereka? Setelah menghancurkan hatinya hingga tak berkeping, kini ia masih harus menelan pil pahit untuk menjaga hubungan dengan mereka, menyaksikan tiap detik kemesraan yang seharusnya dikecapnya tetapi kini tergantikan oleh sahabatnya.
"Apa mereka sudah gila? Tak pernahkah mereka merasakan menjadi aku?" jerit batin Rien saat dipersalahkan karena tak bisa menerima kebahagiaan mereka diatas penderitaannya. "Kenapa mereka begitu egois mengatakan aku egois?"
Dan perempuan itu... Perempuan kekasih hatinya itu entah kenapa begitu memahat Rien pada pesonanya hingga Rien setuju saja ketika perempuan itu memintanya menjadi kekasih kembali, meski sebatas simpanan.
"Gila! Kau memintaku menjadi pacarmu lagi, tapi kau tak mau memutuskan dia? Enak sekali kau!"
"Rien, aku tau kau masih menyayangiku? Aku pun begitu.."
Rien menatap tajam perempuan di hadapannya yang mendadak berubah kuyu.
"Hanya kamu perempuan yang mengerti aku.. Hanya kamu yang bisa menerimaku apa adanya..."
"Lalu kenapa kau main api dengannya?" Rien geram. Hatinya masih sakit jika teringat perkenalan sahabatnya dan perempuan kekasihnya ternyata awal dari malapetaka.
Perempuan di hadapan Rien terduduk lesu. "Semua memang salahku! Menyesal sekarang pun sudah tak berguna! Dan aku juga tak bisa lepas dari dia! Kami telah berkomitmen bahwa hanya maut yang memisahkan kami, apapun yang akan terjadi!"
Rien tercekat, tak menyangka hubungan dua orang yang pernah berarti dalam hidupnya telah sampai sejauh itu.
"Kamu mau kan kembali padaku?"
Ah, tatapan teduh itu masih saja membuat degup jantung Rien bekerja lebih cepat hingga merusakkan kerja saraf motorik Rien yang mengatakan JANGAN namun kepalanya mengangguk mengiyakan.
Menjadi simpanan kekasih sendiri. Itulah yang dijalani Rien kini. Menunggu ponsel yang entah kapan berdering. Kucing-kucingan dengan waktu. Dinomorduakan. Sebuta itukah cinta? Kadang sisi hati Rien mempertanyakan kesetiaan atau kebodohankah yang tengah dilakukannya.
Betapapun pengorbanan yang diatasnamakan cinta sekalipun selalu akan ada akhir. Walau cinta sanggup membutakan perasaan, namun logika lama kelamaan akan mengalahkan hati yang telah dibagi. Keegoisan logika untuk memiliki hati sepenuhnya.
TO BE CONTINUED...
Perempuan di hadapan Rien sudah tiga kali mengajukan pertanyaan yang sama, tapi tak juga didapatnya jawaban dari mulut Rien. Kebungkaman Rien malah berganti isakan tangis. Hanya airmata yang sanggup keluar meski dada Rien sesak.
"Kalau kau tak yakin, sebaiknya..."
"Aku yakin!" potong Rien lirih bercampur isakan. Rien kemudian menyeka airmata yang terus meretas. "Aku yakin dengan keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita!" tegas Rien.
"Kau takkan sanggup hidup tanpa aku! Lihat saja, kau akan menyesali keputusanmu itu dan akan merengek-rengek kembali padaku!" kata perempuan di hadapan Rien terkesan arogan.
Rien membelalak. Tak percaya bahwa perempuan yang telah menghiasi hari-harinya empat tahun ini dan masih memenuhi segenap relung hatinya hingga detik ini sanggup melontarkan kalimat seangkuh itu.
"Ya, aku akui memang tak mudah bagiku mengeluarkanmu dari pikiran dan hatiku atau bahkan menghapus kehadiranmu dari kehidupanku, tapi satu hal yang aku yakini adalah..." Rien mengatur nafasnya yang turun naik. "Aku sudah tak sudi kau jadikan simpananmu!" Rien bangkit. Amarahnya meledak. Amarah yang selama ini tertahan oleh kesabaran atas nama cinta.
"Dan satu hal lagi.. Setelah ini kita tidak usah berhubungan, kembali dan jaga sahabatku baik-baik!"
Rien pergi membawa separuh jiwanya dalam deraian tangis. Setengah mati ia mengumpulkan keberanian untuk keluar dari dilema perasaannya sendiri.
Rien kecewa. Kecewa dengan arogansi perempuan yang ternyata tak pernah sekalipun merasakan bagaimana di pihaknya, malah sepertinya menertawakan merasa diatas angin karena telah dicintai. Rien tak menyangka ia sungguh telah keliru, seperti tak mengenal pribadi perempuan tersebut sebelumnya.
***
Genap setengah tahun berlalu, namun Rien masih hidup dalam bayang-bayang perempuan yang usianya dua tahun lebih muda itu. Dan sepertinya dunia benar-benar sempit. Sejauh apapun Rien menghindar, bahkan sengaja mengganti nomor telepon yang ia miliki, tetap saja takdir mempertemukan Rien kembali dengan perempuan yang masih lekang dalam ingatannya itu.
Dan sarafnya menegang manakala melihat sahabat yang melebihi saudara kandungnya itu bergelanyut mesra di lengan perempuan belahan jiwanya.
Rien belum bisa memaafkan pengkhianatan teman tempat ia berbagi segalanya itu. Meski meyakini sahabatnya tak sepenuhnya bersalah. Justru perempuan kekasihnya lah yang patut disalahkan atas keretakan hubungan persahabatan mereka.
Seharusnya ia yang menyanding perempuan itu. Seharusnya ia yang tertawa riang di lengan kokoh perempuan itu. Seharusnya ia yang merasakan manisnya cinta perempuan itu, tanpa pernah terbagi. Dan keharusan-keharusan lain yang terenggut darinya, tak menyangka sahabat akan menjadi duri dalam kisah kasih asmaranya.
Tapi toh tetap Rien tak bisa menyalahkan keadaan, apalagi membalikkan waktu. Kenyataan bahwa perempuan kekasihnya dan sahabatnya menjalin cinta terlarang adalah kenyataan yang harus direguknya.
***
Dan bagaimana mungkin setelah pengkhianatan itu keduanya masih menuntut Rien untuk berbaik-baik seolah tak ada apa-apa. Hah, Rien benar-benar tak habis pikir, apa sebenarnya mau mereka? Setelah menghancurkan hatinya hingga tak berkeping, kini ia masih harus menelan pil pahit untuk menjaga hubungan dengan mereka, menyaksikan tiap detik kemesraan yang seharusnya dikecapnya tetapi kini tergantikan oleh sahabatnya.
"Apa mereka sudah gila? Tak pernahkah mereka merasakan menjadi aku?" jerit batin Rien saat dipersalahkan karena tak bisa menerima kebahagiaan mereka diatas penderitaannya. "Kenapa mereka begitu egois mengatakan aku egois?"
Dan perempuan itu... Perempuan kekasih hatinya itu entah kenapa begitu memahat Rien pada pesonanya hingga Rien setuju saja ketika perempuan itu memintanya menjadi kekasih kembali, meski sebatas simpanan.
"Gila! Kau memintaku menjadi pacarmu lagi, tapi kau tak mau memutuskan dia? Enak sekali kau!"
"Rien, aku tau kau masih menyayangiku? Aku pun begitu.."
Rien menatap tajam perempuan di hadapannya yang mendadak berubah kuyu.
"Hanya kamu perempuan yang mengerti aku.. Hanya kamu yang bisa menerimaku apa adanya..."
"Lalu kenapa kau main api dengannya?" Rien geram. Hatinya masih sakit jika teringat perkenalan sahabatnya dan perempuan kekasihnya ternyata awal dari malapetaka.
Perempuan di hadapan Rien terduduk lesu. "Semua memang salahku! Menyesal sekarang pun sudah tak berguna! Dan aku juga tak bisa lepas dari dia! Kami telah berkomitmen bahwa hanya maut yang memisahkan kami, apapun yang akan terjadi!"
Rien tercekat, tak menyangka hubungan dua orang yang pernah berarti dalam hidupnya telah sampai sejauh itu.
"Kamu mau kan kembali padaku?"
Ah, tatapan teduh itu masih saja membuat degup jantung Rien bekerja lebih cepat hingga merusakkan kerja saraf motorik Rien yang mengatakan JANGAN namun kepalanya mengangguk mengiyakan.
Menjadi simpanan kekasih sendiri. Itulah yang dijalani Rien kini. Menunggu ponsel yang entah kapan berdering. Kucing-kucingan dengan waktu. Dinomorduakan. Sebuta itukah cinta? Kadang sisi hati Rien mempertanyakan kesetiaan atau kebodohankah yang tengah dilakukannya.
Betapapun pengorbanan yang diatasnamakan cinta sekalipun selalu akan ada akhir. Walau cinta sanggup membutakan perasaan, namun logika lama kelamaan akan mengalahkan hati yang telah dibagi. Keegoisan logika untuk memiliki hati sepenuhnya.
TO BE CONTINUED...
Friday, August 15, 2008
Peringkat Selingkuh Berdasarkan Zodiak
T A U R U S
21 April – 20 Mei
Peringkat 1 : Kesetiaannya luar biasa dan paling dapat diandalkan
Bagi beberapa zodiac tertentu, Taurus kadangkala dianggap pribadi yang agak membosankan dalam hubungan interaksi karena cenderung berkutat dalam hitungan “berhemat-hemat” atau paling tidak dianggap keras kepala
C A N C E R
21 Juni – 22 Juli
Peringkat 2 : Ratu Rumahan yang setia, selalu ingin merawat pasangannya.
Sensitivitas tinggi membuatnya sangat berhati-hati untuk tidak dilukai dan melukai. Cancer terkesan menutup rapat diri yang membuat beberapa zodiac tertentu menjadi tidak sabar karena makan waktu untuk berinteraksi dengannya.
V I R G O
23 Agustus – 22 September
Peringkat 3 : Sangat hati-hati memilih pasangan.
Ketemu satu saja sudah bikin “capek”, jadi boro-boro mau “main-mata” lagi.. Kerap lumayan rewel dan kritis yang menunjukkan betapa besar perhatiannya pada seseorang. Bagi beberapa zodiac tertentu, Virgo adalah tipe yang kerewelan dan kritiknya kadang bisa bikin orang lain tersinggung.
C A P R I C O R N
23 Desember – 20 Januari
Peringkat 4 : Pemikiran akan rencana-rencananya sangat menyita waktunya..
Cenderung berkutat seputar pemikiran akan rencana-rencananya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Capricorn terkesan membatasi diri dalam hubungan interaksi dengan lainnya. Selingkuh hanya intermezzo kala jenuh.
A Q U A R I U S
21 Januari – 19 Februari
Peringkat 5 : Tidak suka selingkuh, tapi menghindari komitmen yang membutuhkan keterlibatan emosional yang dalam.
Aquarius cenderung berpikir dan bertindak tegas. Bagi beberapa zodiac tertentu, ia terkesan sangat radikal. Bila ia sampai selingkuh, berarti itu caranya yang “radikal” untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan yang tidak mampu mengikuti pola pikirnya.
L I B R A
23 September – 22 Oktober
Peringkat 6 : Paling sukar menentukan pilihan dan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan diri sendiri.
Karena kerap berpikiran mendua mengenai segala sesuatu, bagi beberapa zodiac tertentu, Libra kadang terkesan penuh rahasia dan cenderung sulit dipahami.
G E M I N I
21 Mei – 20 Juni
Peringkat 7 : Harus dimanja agar tidak selingkuh.
Selalu ingin dimanja dan diperhatikan oleh pasangannya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Gemini adalah tipe yang gampang berubah-ubah.
S A G I T A R I U S
23 November – 22 Desember
Peringkat 8 : Gampang tergoda untuk selingkuh.
Karakter dasar yang ekspansif maka ia gampang tergoda untuk hal-hal yang “baru”, begitu pula dalam hubungan. Bagi beberapa zodiac tertentu, Sagitarius adalah tipe cemerlang yang penuh vitalitas hidup.
A R I E S
21 Maret – 20 April
Peringkat 9 : Perlu dipantau agar gairah kehangatannya tidak berlebihan.
Antusiasme dalam diri membuat gairahnya selalu berkobar untuk ber-”petualang” dalam segala hal. Bagi beberapa zodiac tertentu, Aries adalah tipe yang hangat dalam hubungan interaksi.
L E O
23 Juli – 22 Agustus
Peringkat 10 : Kesetiaannya diliputi ego yang tinggi.
Egonya yang tinggi membuat kesetiaannya sangat berpamrih, yaitu rela mengalah dalam banyak hal untuknya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Leo adalah tipe yang “menawan”.
S C O R P I O
23 Oktober – 22 November
Peringkat 11 : Tak akan membiarkan setiap godaan lewat begitu saja.
Godaan bisa berarti perhatian baginya dan jarang diabaikannya. Scorpio senang menjadi populer sebagai si pecinta ulung. Bagi beberapa zodiac tertentu, Scorpio adalah tipe pecinta yang ekspresif.
P I S C E S
20 Februari – 20 Maret
Peringkat 12 : Si Peselingkuh yang mengaku setia.
Demikian romantis dia, perselingkuhan adalah nuansa indah dalam hidupnya.
21 April – 20 Mei
Peringkat 1 : Kesetiaannya luar biasa dan paling dapat diandalkan
Bagi beberapa zodiac tertentu, Taurus kadangkala dianggap pribadi yang agak membosankan dalam hubungan interaksi karena cenderung berkutat dalam hitungan “berhemat-hemat” atau paling tidak dianggap keras kepala
C A N C E R
21 Juni – 22 Juli
Peringkat 2 : Ratu Rumahan yang setia, selalu ingin merawat pasangannya.
Sensitivitas tinggi membuatnya sangat berhati-hati untuk tidak dilukai dan melukai. Cancer terkesan menutup rapat diri yang membuat beberapa zodiac tertentu menjadi tidak sabar karena makan waktu untuk berinteraksi dengannya.
V I R G O
23 Agustus – 22 September
Peringkat 3 : Sangat hati-hati memilih pasangan.
Ketemu satu saja sudah bikin “capek”, jadi boro-boro mau “main-mata” lagi.. Kerap lumayan rewel dan kritis yang menunjukkan betapa besar perhatiannya pada seseorang. Bagi beberapa zodiac tertentu, Virgo adalah tipe yang kerewelan dan kritiknya kadang bisa bikin orang lain tersinggung.
C A P R I C O R N
23 Desember – 20 Januari
Peringkat 4 : Pemikiran akan rencana-rencananya sangat menyita waktunya..
Cenderung berkutat seputar pemikiran akan rencana-rencananya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Capricorn terkesan membatasi diri dalam hubungan interaksi dengan lainnya. Selingkuh hanya intermezzo kala jenuh.
A Q U A R I U S
21 Januari – 19 Februari
Peringkat 5 : Tidak suka selingkuh, tapi menghindari komitmen yang membutuhkan keterlibatan emosional yang dalam.
Aquarius cenderung berpikir dan bertindak tegas. Bagi beberapa zodiac tertentu, ia terkesan sangat radikal. Bila ia sampai selingkuh, berarti itu caranya yang “radikal” untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan yang tidak mampu mengikuti pola pikirnya.
L I B R A
23 September – 22 Oktober
Peringkat 6 : Paling sukar menentukan pilihan dan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan diri sendiri.
Karena kerap berpikiran mendua mengenai segala sesuatu, bagi beberapa zodiac tertentu, Libra kadang terkesan penuh rahasia dan cenderung sulit dipahami.
G E M I N I
21 Mei – 20 Juni
Peringkat 7 : Harus dimanja agar tidak selingkuh.
Selalu ingin dimanja dan diperhatikan oleh pasangannya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Gemini adalah tipe yang gampang berubah-ubah.
S A G I T A R I U S
23 November – 22 Desember
Peringkat 8 : Gampang tergoda untuk selingkuh.
Karakter dasar yang ekspansif maka ia gampang tergoda untuk hal-hal yang “baru”, begitu pula dalam hubungan. Bagi beberapa zodiac tertentu, Sagitarius adalah tipe cemerlang yang penuh vitalitas hidup.
A R I E S
21 Maret – 20 April
Peringkat 9 : Perlu dipantau agar gairah kehangatannya tidak berlebihan.
Antusiasme dalam diri membuat gairahnya selalu berkobar untuk ber-”petualang” dalam segala hal. Bagi beberapa zodiac tertentu, Aries adalah tipe yang hangat dalam hubungan interaksi.
L E O
23 Juli – 22 Agustus
Peringkat 10 : Kesetiaannya diliputi ego yang tinggi.
Egonya yang tinggi membuat kesetiaannya sangat berpamrih, yaitu rela mengalah dalam banyak hal untuknya. Bagi beberapa zodiac tertentu, Leo adalah tipe yang “menawan”.
S C O R P I O
23 Oktober – 22 November
Peringkat 11 : Tak akan membiarkan setiap godaan lewat begitu saja.
Godaan bisa berarti perhatian baginya dan jarang diabaikannya. Scorpio senang menjadi populer sebagai si pecinta ulung. Bagi beberapa zodiac tertentu, Scorpio adalah tipe pecinta yang ekspresif.
P I S C E S
20 Februari – 20 Maret
Peringkat 12 : Si Peselingkuh yang mengaku setia.
Demikian romantis dia, perselingkuhan adalah nuansa indah dalam hidupnya.
Thursday, August 14, 2008
This Feeling ...
Perasaan itu...
Hanya aku yang tau
Bukan kamu
Kau tak lantas berhak hakimiku
Atas perasaan yang hanya kau raba dalam benakmu
Lalu kau sampaikan lewat lisanmu
Seolah semua telah kau tau
Seolah rangkaian cerita anganmu
Adalah mutlak tanpa ragu
Tapi tidak, semua fakta semu!
Yang hanya tertulis dalam fikiranmu
Dan entah bagaimana yakinkanmu
Tuk hapus alur yang terlanjur terpahat jitu
Hati yang sudah mati bisu
Hati yang membeku
Namun hati bukan masa lalu
Camkan itu!
Masa lalu tak sepicik ruang kecil dalam otakmu
Hati juga butuh belajar
Bukan hanya tuk tegar
Bangkit ketika lelah berpijar
Meski sebatas puing-puing tak berakar
Kadang aku menggerutu sendirian. Harus dengan bahasa apa lagi aku jelaskan tentang sesuatu hal padamu, sesepele apapun itu!
Habisnya kamu sibuk dengan kesimpulan-kesimpulan yang kamu buat sendiri di otakmu. Sampai bibirku monyong pun tetap saja apa yang telah kamu susun rapi layaknya skenario film di tivi-tivi itulah yang kamu anggap paling syah dan paling benar seperti keputusan juri yang punya hak prerogatif tidak bisa diganggu gugat. Lalu untuk apa aku ditanya kalau kau sudah menyiapkan jawabanmu sendiri? Penjelasan tak bermakna. Penjabaran hampa.
Ah, capek! Jurang perbedaan yang terlalu lebar tuk ditambal dengan butir-butir pasir. Meski bertumpuk-tumpuk, namun perlahan akan terkikis angin. Hanya jadi debu.
Telah kuakhiri.
Telah kau setujui.
Lelah hati.
Jikalau tak bisa memiliki.
Tak guna pula jika saling tersakiti.
Ah, lagi-lagi soal hati!
Hanya aku yang tau
Bukan kamu
Kau tak lantas berhak hakimiku
Atas perasaan yang hanya kau raba dalam benakmu
Lalu kau sampaikan lewat lisanmu
Seolah semua telah kau tau
Seolah rangkaian cerita anganmu
Adalah mutlak tanpa ragu
Tapi tidak, semua fakta semu!
Yang hanya tertulis dalam fikiranmu
Dan entah bagaimana yakinkanmu
Tuk hapus alur yang terlanjur terpahat jitu
Hati yang sudah mati bisu
Hati yang membeku
Namun hati bukan masa lalu
Camkan itu!
Masa lalu tak sepicik ruang kecil dalam otakmu
Hati juga butuh belajar
Bukan hanya tuk tegar
Bangkit ketika lelah berpijar
Meski sebatas puing-puing tak berakar
Kadang aku menggerutu sendirian. Harus dengan bahasa apa lagi aku jelaskan tentang sesuatu hal padamu, sesepele apapun itu!
Habisnya kamu sibuk dengan kesimpulan-kesimpulan yang kamu buat sendiri di otakmu. Sampai bibirku monyong pun tetap saja apa yang telah kamu susun rapi layaknya skenario film di tivi-tivi itulah yang kamu anggap paling syah dan paling benar seperti keputusan juri yang punya hak prerogatif tidak bisa diganggu gugat. Lalu untuk apa aku ditanya kalau kau sudah menyiapkan jawabanmu sendiri? Penjelasan tak bermakna. Penjabaran hampa.
Ah, capek! Jurang perbedaan yang terlalu lebar tuk ditambal dengan butir-butir pasir. Meski bertumpuk-tumpuk, namun perlahan akan terkikis angin. Hanya jadi debu.
Telah kuakhiri.
Telah kau setujui.
Lelah hati.
Jikalau tak bisa memiliki.
Tak guna pula jika saling tersakiti.
Ah, lagi-lagi soal hati!
Wednesday, August 13, 2008
BOM WAKTU
Kulihat jam dinding kamarku tepat menunjuk angka satu. Sudah dini hari tapi mataku seakan tak mau diajak kompromi susah sekali untuk terpejam. Padahal ragaku sudah terlampau lelah beraktivitas seharian ini, namun heran kenapa malam ini mataku membangkang untuk diistirahatkan. Dan hal tersebut berimbas pada otakku. Pikiranku menjalar tak tentu arah.
Kubalikkan badanku yang sedari tadi menghadap dinding. Mungkin saja dapat mempermudah perjalananku ke alam mimpi. Tapi ternyata hal itu tak berpengaruh. “Apa karena aku sedang kesal sampai-sampai aku jadi insomnia mendadak begini?” Aku memang sedang kesal. Kesal dengan bos yang cerewet. Kesal dengan teman sekerjaku yang ikut-ikutan berlagak kayak bos yang juga sama cerewetnya. Dan sampai rumah, kekesalanku kian menumpuk. Nggak tau orang udah capek, perempuan yang sedang berbagi ranjang denganku ini malah ngomel-ngomel nggak penting.
“Ngoookkk ... Ngoooookkkk .....”
Suara itu bukan suara kerbau milik tetangga sebelah, apalagi suara nyamuk-nyamuk nakal. Itu adalah suara perempuan yang lagi ngorok berat di sebelahku ini. “Hah, makin membuatku tak bisa tidur saja!” desisku seraya menutup mukaku dengan bantal.
Sejam sudah benakku melayang-layang tapi tak juga membuat mataku mengantuk. “Huhh!!!” Aku mengubah posisiku tidurku lagi. Ksli ini menengadah menatap langit –langit kamar yang terbuat dari papan kayu jati. Masih terdengar suara ngorok perempuan itu. Akhirnya kuarahkan mataku pada sosok yang tengah pulas dengan helaan nafas yang terdengar jelas. Nyenyak sekali tidurnya. Nampak gurat-gurat kelelahan dalam wajah tirusnya. Mungkin hari ini ia terlalu letih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga.
Ibu ...
Ah, entah aku tak ingat kapan terakhir kali menatap raut muka ibu saat tidur. Yang pasti hampir lima tahunan. Dulu aku senang sekali memandang wajah ibuku ketika beliau terpejam. Kini makin banyak saja kerutan-kerutan di paras yang sejak belia tak pernah ditumbuhi jerawat itu. Kedua tulang pipi yang dahulu terlihat menonjol disertai lemak, kini hanya berlapis kulit ari tipis.
Ibu ... usiamu telah beranjak senja. Entah kenapa hatiku kemudian merasa trenyuh. Ada perasaan bersalah tiba-tiba menghinggapi. Perasaan bersalah karena belum mampu memberi kebahagiaan yang semestinya pada perempuan yang telah mengandung dan melahirkanku ini.
Sejak memutuskan kembali ke kampung halamanku setelah kurang lebih lima tahun lepas dari pengawasannya, aku merasa terkekang. Terlalu banyak aturan ini-itu yang diwejangkannya padaku, tak seperti saat aku hidup sendiri dulu aku bebas melakukan apa saja. Tapi, beruntung beliau tak banyak berkomentar soal penampilanku yang tidak ada feminin-femininnya sama sekali ini. Meski semua sepupuku mengenakan kerudung. Beruntung juga ia tidak menyuruh-nyuruhku untuk cepat-cepat kawin seperti yang dilakukan adik ayahku.
“Kalau ke Jakarta dapat suami, baru boleh kamu kembali kesana, tapi kalau tidak dapat ya mending disini saja!” Begitu jawab tanteku yang mempunyai cita-cita luhur untuk segera menikahkan keponakan-keponakannya dengan getol banget mencarikan jodoh, termasuk laki-laki untukku.
“Kalau dapatnya perempuan, gimana?” Kalimat itu sebenarnya ingin meluncur dari bibirku, namun kemudian tertahan dan kuganti dengan sunggingan senyuman.
“Lho, rambutmu kok dipotong pendek sih?” jerit tanteku itu agak histeris melihat gaya rambut baruku plus kuncir ala ekor tikus. “Jangan pendek-pendek, jadi makin kayak lesbian aja! Vagina kok ketemu vagina!!” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
Deg. Jantungku tersentak. Aku tahu sebenarnya sudah sejak lama ia menaruh curiga dan meragukan ketertarikanku pada laki-laki, tapi ia tak pernah secara lugas mengutarakannya. Hanya sindiran-sindiran halus seperti inilah yang ia gunakan untuk memancing reaksiku dan selalu kujawab dengan senyuman tak terdefinisikan. Meski kadang nuraniku teramat sangat ingin berteriak, namun sisi hatiku yang lain selalu mengingatkanku bahwa saat ini bukan waktu yang tepat. Pernah beberapa waktu lalu aku kecolongan. Salah seorang sepupuku menemukan SMS tentang undangan kongkow lesbian di ponselku. Ia memang tak bertanya detil, namun dari tatapan matanya aku yakin betul ia tengah berprasangka.
Perempuan yang wajahnya berjarak tak sampai tiga puluh senti di depan wajahku ini perlahan bergerak-gerak. Namun sebentar, selebihnya ia kembali terlelap.
Yah ... kurasa sekarang bukan saat yang tepat. Kucermati tiap lekukan di wajah sayu itu. Untuk saat ini biarkanlah ibu mengira orang yang rajin meneleponku setiap hari dan mengirim salam untuknya itu adalah seorang laki-laki. Ibu tak pernah tahu apa itu lesbian. Di dalam kamus ibu hubungan perempuan dengan perempuan itu hanya berteman. Untuk saat ini biarkanlah tanteku punya kesibukan menerka-nerka orientasi seksualku. Dan untuk saat ini biarkanlah pula aku menikmati persembunyianku sebagai seorang yang menyukai sesama jenisku.
Pilihan hidup yang telah kupilih memang bagaikan sebuah bom waktu. Namun sedini mungkin aku sudah menyiapkan diriku untuk menghadapi semuanya karena cepat atau lambat bom waktu ini akan meledak.
Bu ... maafkan anakmu jika yang kupilih tak sesuai dengan kehendakmu ...
Kubalikkan badanku yang sedari tadi menghadap dinding. Mungkin saja dapat mempermudah perjalananku ke alam mimpi. Tapi ternyata hal itu tak berpengaruh. “Apa karena aku sedang kesal sampai-sampai aku jadi insomnia mendadak begini?” Aku memang sedang kesal. Kesal dengan bos yang cerewet. Kesal dengan teman sekerjaku yang ikut-ikutan berlagak kayak bos yang juga sama cerewetnya. Dan sampai rumah, kekesalanku kian menumpuk. Nggak tau orang udah capek, perempuan yang sedang berbagi ranjang denganku ini malah ngomel-ngomel nggak penting.
“Ngoookkk ... Ngoooookkkk .....”
Suara itu bukan suara kerbau milik tetangga sebelah, apalagi suara nyamuk-nyamuk nakal. Itu adalah suara perempuan yang lagi ngorok berat di sebelahku ini. “Hah, makin membuatku tak bisa tidur saja!” desisku seraya menutup mukaku dengan bantal.
Sejam sudah benakku melayang-layang tapi tak juga membuat mataku mengantuk. “Huhh!!!” Aku mengubah posisiku tidurku lagi. Ksli ini menengadah menatap langit –langit kamar yang terbuat dari papan kayu jati. Masih terdengar suara ngorok perempuan itu. Akhirnya kuarahkan mataku pada sosok yang tengah pulas dengan helaan nafas yang terdengar jelas. Nyenyak sekali tidurnya. Nampak gurat-gurat kelelahan dalam wajah tirusnya. Mungkin hari ini ia terlalu letih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga.
Ibu ...
Ah, entah aku tak ingat kapan terakhir kali menatap raut muka ibu saat tidur. Yang pasti hampir lima tahunan. Dulu aku senang sekali memandang wajah ibuku ketika beliau terpejam. Kini makin banyak saja kerutan-kerutan di paras yang sejak belia tak pernah ditumbuhi jerawat itu. Kedua tulang pipi yang dahulu terlihat menonjol disertai lemak, kini hanya berlapis kulit ari tipis.
Ibu ... usiamu telah beranjak senja. Entah kenapa hatiku kemudian merasa trenyuh. Ada perasaan bersalah tiba-tiba menghinggapi. Perasaan bersalah karena belum mampu memberi kebahagiaan yang semestinya pada perempuan yang telah mengandung dan melahirkanku ini.
Sejak memutuskan kembali ke kampung halamanku setelah kurang lebih lima tahun lepas dari pengawasannya, aku merasa terkekang. Terlalu banyak aturan ini-itu yang diwejangkannya padaku, tak seperti saat aku hidup sendiri dulu aku bebas melakukan apa saja. Tapi, beruntung beliau tak banyak berkomentar soal penampilanku yang tidak ada feminin-femininnya sama sekali ini. Meski semua sepupuku mengenakan kerudung. Beruntung juga ia tidak menyuruh-nyuruhku untuk cepat-cepat kawin seperti yang dilakukan adik ayahku.
“Kalau ke Jakarta dapat suami, baru boleh kamu kembali kesana, tapi kalau tidak dapat ya mending disini saja!” Begitu jawab tanteku yang mempunyai cita-cita luhur untuk segera menikahkan keponakan-keponakannya dengan getol banget mencarikan jodoh, termasuk laki-laki untukku.
“Kalau dapatnya perempuan, gimana?” Kalimat itu sebenarnya ingin meluncur dari bibirku, namun kemudian tertahan dan kuganti dengan sunggingan senyuman.
“Lho, rambutmu kok dipotong pendek sih?” jerit tanteku itu agak histeris melihat gaya rambut baruku plus kuncir ala ekor tikus. “Jangan pendek-pendek, jadi makin kayak lesbian aja! Vagina kok ketemu vagina!!” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
Deg. Jantungku tersentak. Aku tahu sebenarnya sudah sejak lama ia menaruh curiga dan meragukan ketertarikanku pada laki-laki, tapi ia tak pernah secara lugas mengutarakannya. Hanya sindiran-sindiran halus seperti inilah yang ia gunakan untuk memancing reaksiku dan selalu kujawab dengan senyuman tak terdefinisikan. Meski kadang nuraniku teramat sangat ingin berteriak, namun sisi hatiku yang lain selalu mengingatkanku bahwa saat ini bukan waktu yang tepat. Pernah beberapa waktu lalu aku kecolongan. Salah seorang sepupuku menemukan SMS tentang undangan kongkow lesbian di ponselku. Ia memang tak bertanya detil, namun dari tatapan matanya aku yakin betul ia tengah berprasangka.
Perempuan yang wajahnya berjarak tak sampai tiga puluh senti di depan wajahku ini perlahan bergerak-gerak. Namun sebentar, selebihnya ia kembali terlelap.
Yah ... kurasa sekarang bukan saat yang tepat. Kucermati tiap lekukan di wajah sayu itu. Untuk saat ini biarkanlah ibu mengira orang yang rajin meneleponku setiap hari dan mengirim salam untuknya itu adalah seorang laki-laki. Ibu tak pernah tahu apa itu lesbian. Di dalam kamus ibu hubungan perempuan dengan perempuan itu hanya berteman. Untuk saat ini biarkanlah tanteku punya kesibukan menerka-nerka orientasi seksualku. Dan untuk saat ini biarkanlah pula aku menikmati persembunyianku sebagai seorang yang menyukai sesama jenisku.
Pilihan hidup yang telah kupilih memang bagaikan sebuah bom waktu. Namun sedini mungkin aku sudah menyiapkan diriku untuk menghadapi semuanya karena cepat atau lambat bom waktu ini akan meledak.
Bu ... maafkan anakmu jika yang kupilih tak sesuai dengan kehendakmu ...
Tuesday, August 12, 2008
MUSIM KAWIN
Bulan ini yang lagi ngetrend apa hayo...KAWIN!!!
Kok bisa?
Lha ealah, undangan numpuk di rumah, jalan-jalan pada ditutup sana-sini dibuat acara resepsi de el el yang intinya pada satu hal yaitu KAWINAN!
Bahkan bukan hanya manusia, para kucing pun seakan tak mau ketinggalan memeriahkan musim kawin ini. Mulai dari berisiknya suara para pejantan mencari perhatian betina ampe gedubrakan acara kejar-kejaran diatas genteng rumah.
Seperti foto berikut ini. Aku disuguhi pemandangan ini oleh kucing betina tanteku ketika mata baru melek hari Minggu kemaren.
Hah, pagi-pagi udah kawinan! Tuh kucing udah kayak manusia aja doyan serangan fajar, tau aja kalo rasanya lebih mantabb hehehe
Dan ngomong-ngomong soal kawinan juga, hari Minggu kemaren sepupuku yang nama panggilannya sama dengan namaku juga menggelar acara kawinannya.
Sebenarnya aku malas hadir. Aku memang tidak suka pergi ke acara resepsi. Banyak orang, bikin aku pusing saja. Tapi aku malas bukan karena hal itu. Aku malas menghadiri acara pernikahan keluarga karena pasti aku akan diinterogasi dan paling parah dipojokkan. Dan benar saja...
"Kapan nikah?"
"Nggak pengen nyusul ta?"
"Ntar lagi kamu yang duduk disini!" ujar si pengantin wanita saat aku memotretnya.
Hahh, gerah banget! Pengen cepet-cepet pergi dari acara itu aja, tapi nggak bisa! Yah, akhirnya aku menyibukkan diri jadi fotografer dadakan daripada bengong dan ditanya-tanyain yang nggak-nggak!
Tapi gak muna' juga, ada sebuah perasaan yang aku sendiri ga tau apa namanya yang tiba-tiba hadir ketika melihat sepupuku yang berusia 17 tahun lebih 2 bulan itu menikah. Bukannya perasaan pengen cepet-cepet nikah juga, tapi tentang akan menjadi apa aku kelak ketika di masa sekarang aku mengambil pilihan seperti ini. Kadang pertanyaan itu muncul dibenakku dan selama ini aku menghindar untuk menjawab, entah sampai kapan!
Himpitan untuk segera menikah memang belum terlalu kurasakan, tapi seiring usiaku yang terus bertambah aku sangat yakin cepat atau lambat deadline itu akan datang, hahh! What I'm gonna do then?? I still dont know but I must prepare all the best and the worst that could be happen to me then. Hahh, alis jadi berkerut kalo dah mikirin soal itu. Nih dia foto-foto di kawinan sepupuku kemarin ...








Kok bisa?
Lha ealah, undangan numpuk di rumah, jalan-jalan pada ditutup sana-sini dibuat acara resepsi de el el yang intinya pada satu hal yaitu KAWINAN!
Bahkan bukan hanya manusia, para kucing pun seakan tak mau ketinggalan memeriahkan musim kawin ini. Mulai dari berisiknya suara para pejantan mencari perhatian betina ampe gedubrakan acara kejar-kejaran diatas genteng rumah.
Seperti foto berikut ini. Aku disuguhi pemandangan ini oleh kucing betina tanteku ketika mata baru melek hari Minggu kemaren.
Hah, pagi-pagi udah kawinan! Tuh kucing udah kayak manusia aja doyan serangan fajar, tau aja kalo rasanya lebih mantabb hehehe
Dan ngomong-ngomong soal kawinan juga, hari Minggu kemaren sepupuku yang nama panggilannya sama dengan namaku juga menggelar acara kawinannya.
Sebenarnya aku malas hadir. Aku memang tidak suka pergi ke acara resepsi. Banyak orang, bikin aku pusing saja. Tapi aku malas bukan karena hal itu. Aku malas menghadiri acara pernikahan keluarga karena pasti aku akan diinterogasi dan paling parah dipojokkan. Dan benar saja...
"Kapan nikah?"
"Nggak pengen nyusul ta?"
"Ntar lagi kamu yang duduk disini!" ujar si pengantin wanita saat aku memotretnya.
Hahh, gerah banget! Pengen cepet-cepet pergi dari acara itu aja, tapi nggak bisa! Yah, akhirnya aku menyibukkan diri jadi fotografer dadakan daripada bengong dan ditanya-tanyain yang nggak-nggak!
Tapi gak muna' juga, ada sebuah perasaan yang aku sendiri ga tau apa namanya yang tiba-tiba hadir ketika melihat sepupuku yang berusia 17 tahun lebih 2 bulan itu menikah. Bukannya perasaan pengen cepet-cepet nikah juga, tapi tentang akan menjadi apa aku kelak ketika di masa sekarang aku mengambil pilihan seperti ini. Kadang pertanyaan itu muncul dibenakku dan selama ini aku menghindar untuk menjawab, entah sampai kapan!
Himpitan untuk segera menikah memang belum terlalu kurasakan, tapi seiring usiaku yang terus bertambah aku sangat yakin cepat atau lambat deadline itu akan datang, hahh! What I'm gonna do then?? I still dont know but I must prepare all the best and the worst that could be happen to me then. Hahh, alis jadi berkerut kalo dah mikirin soal itu. Nih dia foto-foto di kawinan sepupuku kemarin ...








Monday, August 11, 2008
Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau Daripada Rumput Halaman Sendiri, Tanya Kenapa???
Rien, Al, dan Ra adalah tiga lesbian yang telah lama bersahabat. Mereka lagi asyik ngobrol tentang perempuan.
"Aku lagi bete banget neh!" Al membuka perbincangan dengan muka ditekuk.
"Bete kenapa?" Rien menyahut sambil tak henti-hentinya ngemil.
"Bete tiap hari berantem ama gf! Kenapa ya gfku itu gak pernah seperti gfmu yang pengertian, gak cemburuan?" ujar Al pada Ra.
"Hmm ... Ya gfku emang gak cemburuan, sabar banget sampe kebangetan kayak gak sayang ama aku aja!" Benak Ra melayang, seperti ada yang ia fikirkan.
"Kenapa bisa begitu, kan enak kita gak dicurigai terus-terusan kayak buronan! Nggak kayak aku, dikit-dikit di cek, bahkan tengah malam waktunya orang nyenyak tidur sempet-sempetnya dia telpon untuk ngecek hpku sibuk apa nggak, uhhh!" Al nggondok abis.
"Tapi kan cemburu tandanya sayang, Al? Daripada nggak dicemburuin, jadi bikin aku salting sendiri,"
"Asal sesuai porsi aja aku nggak bakalan protes tiap hari!"
"Kayaknya enakan jomblo kayak kamu!" ujar Ra pada Rien yang masih asyik ngelonin keripik singkong.
"Eits, kata siapa enak ngejomblo? Malah aku kepengen cepet punya gf biar nggak disalahpahamin terus!"
"Salah paham apa?"
Rien menutup kaleng keripik. "Karna ngejomblo ini aku jadi nggak punya temen! Habis tiap aku punya teman baru yang udah punya gf, ntar pasti ujung-ujungnya gfnya jeles dan ngedamprat aku, padahal aku dan gfnya cuma temenan, ya meski gfnya itu juga sering godain aku seh.."
"Ya itu sih karna kamu kasi harapan ke orang yang udah punya gf!"
"Enak aja, aku malah ngingetin dia biar dia godain aku lagi tapi dia gak gubris, apa itu salahku?"
Ketiganya terdiam.
"Aku pengen banget pacaran bisa awet, apalagi kalo bisa living together... Enak kali ya kalo aku ngeliat temen-temenku yang udah pacaran bertahun-tahun..." angan Rien. "Kapan ya aku ketemu dengan perempuan yang bisa diajak serius?" Keripik singkong memenuhi mulutnya kembali.
"Gfku yang sekarang emang sabar dan sangat mengerti aku, tapi aku merasa aku telah menyakitinya... Aku merasa bersalah karna ia selalu mengalah. Aku mencoba memahaminya dan itu makin menyiksaku karena menyakitinya."
"Sama! Mungkin sikap cemburu dan terlalu overprotective gfku itu adalah bentuk rasa sayangnya yang begitu besar padaku. Hanya cara ia mengekspresikannya saja yang salah. Kami sama-sama tersiksa, ia tersiksa dengan sikap acuh tak acuhku dan aku juga tersiksa dalam penjara cintanya."
Ketiganya membisu dalam angan masing-masing, membayangkan betapa hijaunya rumput halaman tetangga.
"Aku lagi bete banget neh!" Al membuka perbincangan dengan muka ditekuk.
"Bete kenapa?" Rien menyahut sambil tak henti-hentinya ngemil.
"Bete tiap hari berantem ama gf! Kenapa ya gfku itu gak pernah seperti gfmu yang pengertian, gak cemburuan?" ujar Al pada Ra.
"Hmm ... Ya gfku emang gak cemburuan, sabar banget sampe kebangetan kayak gak sayang ama aku aja!" Benak Ra melayang, seperti ada yang ia fikirkan.
"Kenapa bisa begitu, kan enak kita gak dicurigai terus-terusan kayak buronan! Nggak kayak aku, dikit-dikit di cek, bahkan tengah malam waktunya orang nyenyak tidur sempet-sempetnya dia telpon untuk ngecek hpku sibuk apa nggak, uhhh!" Al nggondok abis.
"Tapi kan cemburu tandanya sayang, Al? Daripada nggak dicemburuin, jadi bikin aku salting sendiri,"
"Asal sesuai porsi aja aku nggak bakalan protes tiap hari!"
"Kayaknya enakan jomblo kayak kamu!" ujar Ra pada Rien yang masih asyik ngelonin keripik singkong.
"Eits, kata siapa enak ngejomblo? Malah aku kepengen cepet punya gf biar nggak disalahpahamin terus!"
"Salah paham apa?"
Rien menutup kaleng keripik. "Karna ngejomblo ini aku jadi nggak punya temen! Habis tiap aku punya teman baru yang udah punya gf, ntar pasti ujung-ujungnya gfnya jeles dan ngedamprat aku, padahal aku dan gfnya cuma temenan, ya meski gfnya itu juga sering godain aku seh.."
"Ya itu sih karna kamu kasi harapan ke orang yang udah punya gf!"
"Enak aja, aku malah ngingetin dia biar dia godain aku lagi tapi dia gak gubris, apa itu salahku?"
Ketiganya terdiam.
"Aku pengen banget pacaran bisa awet, apalagi kalo bisa living together... Enak kali ya kalo aku ngeliat temen-temenku yang udah pacaran bertahun-tahun..." angan Rien. "Kapan ya aku ketemu dengan perempuan yang bisa diajak serius?" Keripik singkong memenuhi mulutnya kembali.
"Gfku yang sekarang emang sabar dan sangat mengerti aku, tapi aku merasa aku telah menyakitinya... Aku merasa bersalah karna ia selalu mengalah. Aku mencoba memahaminya dan itu makin menyiksaku karena menyakitinya."
"Sama! Mungkin sikap cemburu dan terlalu overprotective gfku itu adalah bentuk rasa sayangnya yang begitu besar padaku. Hanya cara ia mengekspresikannya saja yang salah. Kami sama-sama tersiksa, ia tersiksa dengan sikap acuh tak acuhku dan aku juga tersiksa dalam penjara cintanya."
Ketiganya membisu dalam angan masing-masing, membayangkan betapa hijaunya rumput halaman tetangga.
Saturday, August 9, 2008
L.I.F.E
Sanjungan merupakan makanan bagi orang bodoh (Swit)
Api di hati akan mengirimkan asap ke kepala (Peribahasa Jerman)
Jangan pernah berbicara lebih dari apa yang kamu pikirkan (Jeremy Bernstein)
Disaat apa yang kau bicarakan telah terlampau banyak, maka setengah dari apa yang telah direncanakan tidak realistis lagi (Mr. KWAN)
Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri mati bersama kita. Apa yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan tetap hidup serta kekal (Albert Pine)
Adalah kejutan yang sangat menyenangkan bila pada akhirnya mengetahui betapa tidak kesepiannya berada seorang diri itu (Ellen Burstyn)
Setiap pagi, kebohongan seperti kaos baru di tempat tidur kita sehingga kebahagiaan selama 24 jam tergantung pada kemampuan kita memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah (Walter Benjamin)
Kehidupan bukanlah tentang hidup tanpa masalah. Kehidupan adalah tentang menyelesaikan masalah. (Tom Krause)
Sukses sejati adalah berhasil mengatasi ketakutan tidak sukses (Paul Sweeney)
Seorang OPTIMIS melihat kesempatan dalam setiap malapetaka, sedangkan seorang PESIMIS melihat malapetaka dalam setiap kesempatan.
Iman adalah meyakini apabila akal pikiran mengatakan jangan (George Seaton)
Tak ada kesalahan yang terlalu buruk sepanjang tidak dijadikan suatu kebiasaan.
Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, tapi kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan.
Kita berpikir secara umum, tapi kita hidup secara detil (Alfred North Whitehead)
Pertanyaannya bukanlah apakah kita akan mati, tapi bagaimana cara kita akan hidup (Joan Borysenko)
Kedewasaan mulai tumbuh saat kau bisa merasakan kekhawatiranmu pada orang lain melampaui kekhawatiranmu pada diri sendiri (John MacNaughton)
Api di hati akan mengirimkan asap ke kepala (Peribahasa Jerman)
Jangan pernah berbicara lebih dari apa yang kamu pikirkan (Jeremy Bernstein)
Disaat apa yang kau bicarakan telah terlampau banyak, maka setengah dari apa yang telah direncanakan tidak realistis lagi (Mr. KWAN)
Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri mati bersama kita. Apa yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan tetap hidup serta kekal (Albert Pine)
Adalah kejutan yang sangat menyenangkan bila pada akhirnya mengetahui betapa tidak kesepiannya berada seorang diri itu (Ellen Burstyn)
Setiap pagi, kebohongan seperti kaos baru di tempat tidur kita sehingga kebahagiaan selama 24 jam tergantung pada kemampuan kita memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah (Walter Benjamin)
Kehidupan bukanlah tentang hidup tanpa masalah. Kehidupan adalah tentang menyelesaikan masalah. (Tom Krause)
Sukses sejati adalah berhasil mengatasi ketakutan tidak sukses (Paul Sweeney)
Seorang OPTIMIS melihat kesempatan dalam setiap malapetaka, sedangkan seorang PESIMIS melihat malapetaka dalam setiap kesempatan.
Iman adalah meyakini apabila akal pikiran mengatakan jangan (George Seaton)
Tak ada kesalahan yang terlalu buruk sepanjang tidak dijadikan suatu kebiasaan.
Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, tapi kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan.
Kita berpikir secara umum, tapi kita hidup secara detil (Alfred North Whitehead)
Pertanyaannya bukanlah apakah kita akan mati, tapi bagaimana cara kita akan hidup (Joan Borysenko)
Kedewasaan mulai tumbuh saat kau bisa merasakan kekhawatiranmu pada orang lain melampaui kekhawatiranmu pada diri sendiri (John MacNaughton)
Friendship
Teman adalah seseorang yang mengenalmu dan tetap mencintaimu (Elbert Hubbard)
Teman sejati merupakan karunia terbesar dan yang paling sedikit kita pikirkan untuk memperolehnya (Francois Duc De La Rochefoucald)
Kalau Anda mencari sisi baik dalam diri orang lain, Anda akam menemukan sisi terbaik dalam diri Anda.
Kecantikan sejati bukanlah tentang apa yang kau lihat dari luar tapi yang kau rasakan dan kau cintai dari dalam (Talina Sessler-Barker)
Kesepian adalah apa yang kau rasakan jika membangun persahabatan berdasarkan keinginan menjadi seperti orang lain (Dannette Julen Gomez)
Jangan merasa bangga jika kamu tidak mempunyai musuh di dunia ini karena kamu tidak mengetahui apakah semua temanmu mencintaimu (Eddie Contor)
Orang yang selalu setuju dengan Anda, pasti juga berbohong terhadap orang lain
Yang pertama menusukmu dari belakang adalah sahabatmu (Dawson's Creek)
Kau harus menjadi dirimu sendiri. Bersikaplah sangat jujur tentang siapa dan apa dirimu. Dan jika orang masih menyukaimu, itu bagus. Jika mereka tidak menyukaimu, itu masalah mereka (Sting)
Membicarakan orang lain sama artinya menyembunyikan kesedihan diri sendiri (Friedrich Nietzsche)
Seorang pembohong kerap memberikan saran yang terbaik (P. J. Bailey)
Kebaikan hati adalah ketidakmampuan untuk tetap tenteram jika ada oramg lain merasa gelisah, ketidakmampuan untuk tetap merasa nyaman jika ada orang yang merasa tidak nyaman, ketidakmampuan untuk tetap berperasaan enak apabila seseorang gundah (Samuel H. Holdenson)
Apabila aku mencoba menjadi seperti dia, siapa yang mau menjadi seperti aku?
Karena apa yang tak mereka sukai dalam diri orang lain adalah apa yang mereka lihat dalam diri mereka sendiri (Jamie Rowen)
Teman sejati merupakan karunia terbesar dan yang paling sedikit kita pikirkan untuk memperolehnya (Francois Duc De La Rochefoucald)
Kalau Anda mencari sisi baik dalam diri orang lain, Anda akam menemukan sisi terbaik dalam diri Anda.
Kecantikan sejati bukanlah tentang apa yang kau lihat dari luar tapi yang kau rasakan dan kau cintai dari dalam (Talina Sessler-Barker)
Kesepian adalah apa yang kau rasakan jika membangun persahabatan berdasarkan keinginan menjadi seperti orang lain (Dannette Julen Gomez)
Jangan merasa bangga jika kamu tidak mempunyai musuh di dunia ini karena kamu tidak mengetahui apakah semua temanmu mencintaimu (Eddie Contor)
Orang yang selalu setuju dengan Anda, pasti juga berbohong terhadap orang lain
Yang pertama menusukmu dari belakang adalah sahabatmu (Dawson's Creek)
Kau harus menjadi dirimu sendiri. Bersikaplah sangat jujur tentang siapa dan apa dirimu. Dan jika orang masih menyukaimu, itu bagus. Jika mereka tidak menyukaimu, itu masalah mereka (Sting)
Membicarakan orang lain sama artinya menyembunyikan kesedihan diri sendiri (Friedrich Nietzsche)
Seorang pembohong kerap memberikan saran yang terbaik (P. J. Bailey)
Kebaikan hati adalah ketidakmampuan untuk tetap tenteram jika ada oramg lain merasa gelisah, ketidakmampuan untuk tetap merasa nyaman jika ada orang yang merasa tidak nyaman, ketidakmampuan untuk tetap berperasaan enak apabila seseorang gundah (Samuel H. Holdenson)
Apabila aku mencoba menjadi seperti dia, siapa yang mau menjadi seperti aku?
Karena apa yang tak mereka sukai dalam diri orang lain adalah apa yang mereka lihat dalam diri mereka sendiri (Jamie Rowen)
L.O.V.E
True love hears what is not spoken and understand what is not explained
Love doesn't work in the mouth nor the mind but in the heart
Love someone like a river coz a river flows forever.
Love doesn't have a happy ending coz love doesn't have to end at all
Love doesn't work in the mouth nor the mind but in the heart
Love someone like a river coz a river flows forever.
Love doesn't have a happy ending coz love doesn't have to end at all
'BOUT LOVE
Mencintai itu mengagumi dengan perasaan, mengagumi itu mencintai dengan pikiran (Theophile Gautier)
Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu. Terlalu cepat bagi yang ketakutan. Terlalu lama bagi yang sedang merasa sedih. Terlalu pendek bagi mereka yang sedang gembira. Tapi bagi mereka yang mencintai, waktu adalah sesuatu yang abadi (Henry Van Dyke)
Kau bisa memberi tanpa mencintai, tapi kau tidak bisa mencintai tanpa memberi (Amy Charmichael)
Cinta tak ada hubungannya dengan apa yang ingin kamu dapatkan. Hanya dengan apa yang akan kamu harapkan untuk diberikan pada orang lain, berarti kamu sudah mampu mencintai orang lain (Katherine Hepburn)
Kau tidak bisa membuat seseorang mencintaimu, kau hanya bisa membuat dirimu menjadi seseorang yang bisa dicintai (Derek Gamba)
Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu. Terlalu cepat bagi yang ketakutan. Terlalu lama bagi yang sedang merasa sedih. Terlalu pendek bagi mereka yang sedang gembira. Tapi bagi mereka yang mencintai, waktu adalah sesuatu yang abadi (Henry Van Dyke)
Kau bisa memberi tanpa mencintai, tapi kau tidak bisa mencintai tanpa memberi (Amy Charmichael)
Cinta tak ada hubungannya dengan apa yang ingin kamu dapatkan. Hanya dengan apa yang akan kamu harapkan untuk diberikan pada orang lain, berarti kamu sudah mampu mencintai orang lain (Katherine Hepburn)
Kau tidak bisa membuat seseorang mencintaimu, kau hanya bisa membuat dirimu menjadi seseorang yang bisa dicintai (Derek Gamba)
LOVE: Etimologi
Cinta adalah ekspresi dari kesederhanaan hati (Luyen Dao)
Sesuatu yang dicintai selalu indah, namun sesuatu yang indah belum tentu layak dicintai.
Cinta adalah pemberian yang tidak ada putus-putusnya dari hatimu sendiri.
Paradoks cinta adalah bahwa cinta merupakan tingkat kesadaran tertinggi tentang diri sebagai pribadi dan tingkat keterserapan diri terdalam pada orang lain.
Sesuatu yang dicintai selalu indah, namun sesuatu yang indah belum tentu layak dicintai.
Cinta adalah pemberian yang tidak ada putus-putusnya dari hatimu sendiri.
Paradoks cinta adalah bahwa cinta merupakan tingkat kesadaran tertinggi tentang diri sebagai pribadi dan tingkat keterserapan diri terdalam pada orang lain.
When It's Over
Mungkin cukup waktu satu jam untuk menyukai seseorang dan waktu sehari untuk mencintainya, namun butuh waktu lama untuk melupakan dan meratapi kenangan dari seseorang yang pernah membekas dalam hati.
Aku menerima kenyataan bahwa aku patah hati, tapi tahu bahwa aku akan melewatinya dan seperti pohon yang berdiri kokoh bertahun-tahun, aku akan berdiri semakin kuat serta terus hidup (Kelly Cook)
Kadang, hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk seseorang yang kau cintai adalah melepaskannya (Andrea Barkoukis)
Aku menerima kenyataan bahwa aku patah hati, tapi tahu bahwa aku akan melewatinya dan seperti pohon yang berdiri kokoh bertahun-tahun, aku akan berdiri semakin kuat serta terus hidup (Kelly Cook)
Kadang, hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk seseorang yang kau cintai adalah melepaskannya (Andrea Barkoukis)
Fear and Courage
Kadang-kadang hal yang paling kau benci untuk dilakukan adalah justru hal yang harus kau lakukan supaya kau dapat berhenti memikirkannya (Nona Phillips)
Apabila menghadapi keputusan, putuskanlah. Apabila menghadapi pilihan, pilihlah. Tidak berbuat apa-apa hanya menambah ketegangan. Karena tak kalah tetapi menang juga tidak (Barry Spilchuk)
Keberanian adalah kesadaran bahwa kau tidak bisa menang dan mencoba ketika tahu kau bisa saja kalah (Tom Krause)
Sangat menyenangkan jika mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan orang lain (Walt Disney)
Satu-satunya jalan untuk menemukan batas-batas dari kemungkinan adalah dengan mengambil resiko menempuh sebuah jalan kecil menuju ketidakmungkinan (Arthur Clarke)
Apabila menghadapi keputusan, putuskanlah. Apabila menghadapi pilihan, pilihlah. Tidak berbuat apa-apa hanya menambah ketegangan. Karena tak kalah tetapi menang juga tidak (Barry Spilchuk)
Keberanian adalah kesadaran bahwa kau tidak bisa menang dan mencoba ketika tahu kau bisa saja kalah (Tom Krause)
Sangat menyenangkan jika mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan orang lain (Walt Disney)
Satu-satunya jalan untuk menemukan batas-batas dari kemungkinan adalah dengan mengambil resiko menempuh sebuah jalan kecil menuju ketidakmungkinan (Arthur Clarke)
Kebahagiaan
Orang yang tidak merasa bahagia dengan yang sedikit, selamanya tidak akan menemukan kebahagiaan.
Pikiran terbuka dan mulut adalah kombinasi kebahagiaan.
Hanya ada satu cara meraih kebahagiaan adalah dengan berhenti meresahkan hal-hal yang berada diluar kekuasaan kemauan kita (Epictetus)
Orng yang berbahagia bukanlah seseorang yang berada dalam suatu keadaan tertentu, melainkan orang yang memiliki suatu sikap tertentu (Hugh Downs)
Sukses adalah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kebahagiaan adalah menyukai apa yang kamu dapatkan (H. Jackson Brown)
Jika menginginkan kebahagiaan...
Untuk sejam: tidurlah selama itu,
Untuk sehari: pergilah memancing,
Untuk sebulan: menikahlah,
Untuk setahun: warisi harta,
Untuk seumur hidup: tolonglah orang lain (Peribahasa Cina)
Pikiran terbuka dan mulut adalah kombinasi kebahagiaan.
Hanya ada satu cara meraih kebahagiaan adalah dengan berhenti meresahkan hal-hal yang berada diluar kekuasaan kemauan kita (Epictetus)
Orng yang berbahagia bukanlah seseorang yang berada dalam suatu keadaan tertentu, melainkan orang yang memiliki suatu sikap tertentu (Hugh Downs)
Sukses adalah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kebahagiaan adalah menyukai apa yang kamu dapatkan (H. Jackson Brown)
Jika menginginkan kebahagiaan...
Untuk sejam: tidurlah selama itu,
Untuk sehari: pergilah memancing,
Untuk sebulan: menikahlah,
Untuk setahun: warisi harta,
Untuk seumur hidup: tolonglah orang lain (Peribahasa Cina)
Tentang Impian
Sangat sulit mengatakan mana yang tidak mungkin karena mimpi kemarin bisa saja terwujud besok atau lusa (Robert H. Goddard)
Berbahagialah orang yang menyadari sejak dini bahwa ada kesenjangan besar yang memisahkan angan-angan dan kekuatannya.
Kalau hanya melakukan apa yang kau tau bisa kau lakukan, kau takkan pernah melakukan banyak hal (Tom Krause)
Jikalau bisa berpikir tentang hari lalu tanpa penyesalan, hari esok tanpa rasa takut, niscaya sudah dekat dengan kesenangan sebenarnya.
Berbahagialah orang yang menyadari sejak dini bahwa ada kesenjangan besar yang memisahkan angan-angan dan kekuatannya.
Kalau hanya melakukan apa yang kau tau bisa kau lakukan, kau takkan pernah melakukan banyak hal (Tom Krause)
Jikalau bisa berpikir tentang hari lalu tanpa penyesalan, hari esok tanpa rasa takut, niscaya sudah dekat dengan kesenangan sebenarnya.
Tentang Harapan
Setiap harapan betapa pun tidak dapat diandalkan, setidaknya membantu kita ke arah tujuan hidup melalui jalan yang menyenangkan.
Meskipun tak ada orang yang dapat mundur lagi dan membuat sebuah awal baru, setiap orang mampu mulai dari sekarang dan membuat sebuah akhir yang baru.
Manusia tak dapat merubah masa lalu, namun mutlak dapat merubah masa yang akan datang.
Meskipun tak ada orang yang dapat mundur lagi dan membuat sebuah awal baru, setiap orang mampu mulai dari sekarang dan membuat sebuah akhir yang baru.
Manusia tak dapat merubah masa lalu, namun mutlak dapat merubah masa yang akan datang.
Friday, August 8, 2008
It isn't a Matter of Time
"Apakah waktu setahun belum cukup untuk membuatmu menyukaiku, menyayangiku dan mencintaiku sepenuh hati?" lirih suara perempuan di ujung telepon.
Aku terdiam. Aku bukan tak ingin menjawab. Aku sedang berpikir bagaimana aku menata satu persatu kalimat yang akan meluncur dari bibirku agar perempuan tersebut mengerti dan tidak salah paham.
"Begini.." Aku menghela nafas panjang. "Yang tahu perasaanku dan kedalaman hatiku, hanya aku. Kamu tahu dengan pasti kalo aku bukan tipe orang yang suka membicarakan tentang perasaan, apalagi sampai berulang-ulang, sekali setelah itu cukup. Analoginya begini, kalo km merasa aku tidak menyayangimu, lalu kenapa hubungan kita masih bertahan sampai detik ini? Kalo memang aku seperti yang kamu katakan, aku bisa saja kan tiba-tiba meninggalkanmu, bukankah itu sangat mudah bagiku, tapi kenapa itu tidak kulakukan? Harusnya kamu renungkan itu!"
Perempuan itu trdiam.
"Jadi masalahnya bukan karena suka, sayang atau cinta. Masalahnya bukan soal perasaan, tapi soal sinkronisasi!"
"Apa itu sinkronisasi?" tanya suara di seberang dengan nada polos.
Ah, nada suaramu yang lugu banget ini kerap membuatku ingin tergelak. Tapi tak kulakukan karena akan memecah konsentrasi berpikirku atas apa yang akan kuutarakan, lagian kami kan sedang berbincang serius.
"Sinkronisasi itu kecocokan. Kecocokan antara kita!"
"Tapi kan kita dua orang, otomatis berbeda dong.. anak kembar saja beda, apalagi kita, ya kan?"
"Makanya itu dibutuhkan sinkronisasi. Apalagi untuk LDR atau long distance relationship alias hubungan jarak jauh kayak kita ini, bukan hanya kecocokan tapi juga kepercayaan. Tanpa ada saling percaya.. ya aku akan selalu jadi buronanmu seperti dulu-dulu!"
"Itu kan pemikiranmu, padahal aku tidak berniat seperti itu. Apa salah bertanya pada pasangannya tentang sapa aja yang meneleponnya?"
"Tidak salah, tapi tidak setiap hari, apalagi ujung-ujungnya nanti kamu karang sendiri akhir ceritanya kayak wartawan gosip aja, gerah banget tauk selalu digituin!"
"Ya udah, mulai sekarang aku akan diem gak nanya-nanya lagi!"
"Tuh kan.. begtulah kamu kalo km dikasi tau, bukannya menyerap maksud tukar pikiran ini malah senang tidak bersolusi!"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku diem salah, nanya-nanya juga salah, terus aku harus gimana doooong?"
Hmm..rupanya aku benar-benar harus dibuat super ekstra dengan perempuan ini. Ekstra sabar dan ekstra bawel menjelaskan kalimatku dengan sedetil-detilnya.
Umurnya 3 tahun diatasku tapi pola pikirnya seperti 3 tahun lebih muda dariku. Padahal aku sendiri juga merasa belum dewasa-dewasa amat. Tapi untuk ngadepin perempuan ini, aku jadi harus dewasa pada waktunya.
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia" (Kahlil Gibran: Cinta, Keindahan, Kesunyian. Page: 270)
Aku terdiam. Aku bukan tak ingin menjawab. Aku sedang berpikir bagaimana aku menata satu persatu kalimat yang akan meluncur dari bibirku agar perempuan tersebut mengerti dan tidak salah paham.
"Begini.." Aku menghela nafas panjang. "Yang tahu perasaanku dan kedalaman hatiku, hanya aku. Kamu tahu dengan pasti kalo aku bukan tipe orang yang suka membicarakan tentang perasaan, apalagi sampai berulang-ulang, sekali setelah itu cukup. Analoginya begini, kalo km merasa aku tidak menyayangimu, lalu kenapa hubungan kita masih bertahan sampai detik ini? Kalo memang aku seperti yang kamu katakan, aku bisa saja kan tiba-tiba meninggalkanmu, bukankah itu sangat mudah bagiku, tapi kenapa itu tidak kulakukan? Harusnya kamu renungkan itu!"
Perempuan itu trdiam.
"Jadi masalahnya bukan karena suka, sayang atau cinta. Masalahnya bukan soal perasaan, tapi soal sinkronisasi!"
"Apa itu sinkronisasi?" tanya suara di seberang dengan nada polos.
Ah, nada suaramu yang lugu banget ini kerap membuatku ingin tergelak. Tapi tak kulakukan karena akan memecah konsentrasi berpikirku atas apa yang akan kuutarakan, lagian kami kan sedang berbincang serius.
"Sinkronisasi itu kecocokan. Kecocokan antara kita!"
"Tapi kan kita dua orang, otomatis berbeda dong.. anak kembar saja beda, apalagi kita, ya kan?"
"Makanya itu dibutuhkan sinkronisasi. Apalagi untuk LDR atau long distance relationship alias hubungan jarak jauh kayak kita ini, bukan hanya kecocokan tapi juga kepercayaan. Tanpa ada saling percaya.. ya aku akan selalu jadi buronanmu seperti dulu-dulu!"
"Itu kan pemikiranmu, padahal aku tidak berniat seperti itu. Apa salah bertanya pada pasangannya tentang sapa aja yang meneleponnya?"
"Tidak salah, tapi tidak setiap hari, apalagi ujung-ujungnya nanti kamu karang sendiri akhir ceritanya kayak wartawan gosip aja, gerah banget tauk selalu digituin!"
"Ya udah, mulai sekarang aku akan diem gak nanya-nanya lagi!"
"Tuh kan.. begtulah kamu kalo km dikasi tau, bukannya menyerap maksud tukar pikiran ini malah senang tidak bersolusi!"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku diem salah, nanya-nanya juga salah, terus aku harus gimana doooong?"
Hmm..rupanya aku benar-benar harus dibuat super ekstra dengan perempuan ini. Ekstra sabar dan ekstra bawel menjelaskan kalimatku dengan sedetil-detilnya.
Umurnya 3 tahun diatasku tapi pola pikirnya seperti 3 tahun lebih muda dariku. Padahal aku sendiri juga merasa belum dewasa-dewasa amat. Tapi untuk ngadepin perempuan ini, aku jadi harus dewasa pada waktunya.
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia" (Kahlil Gibran: Cinta, Keindahan, Kesunyian. Page: 270)
Tuesday, August 5, 2008
ARRGGHHH!!!
Pernah ada rasa cinta antara kita kini tinggal kenangan ....
“Arrgghhh!!! Kenapa aku jadi mellow begini!” gerutuku kesal. “Kenapa harus perasaan ini lagi?” umpatku dalam-dalam. Aku pernah mengalami perasaan ini sekitar dua tahun lalu dan sekarang aku terjebak dalam perasaan yang sama. “Ah, bodoh atau tolol aku ini!!” makiku tak henti-henti.
PUTUS! Aku mengambil keputusan ini sebagai jalan terakhir untuk lepas dari perbedaan dan konflik tak berujung ini. Dan kondisi sesudahnya lah yang membuatku mengecap kembali pahitnya menjalani waktu yang seakan lamban bergulir. Meski untuk yang sekarang ini tidak separah waktu itu tapi tetap saja, mau tak mau, suka tak suka, aku seolah dibawa kebali ke masa lalu. Beruntung rasa sesak, insomnia mendadak dan kelakuan seperti orang “kurang waras” selama berbulan-bulan gak masuk itungan kali ini. Hanya rasa kehilangan, dari yang tadinya ada menjadi tiada, yang tadinya biasa menjadi tak biasa, itu yang harus kulewati.
Meski sudah dikategorikan sayang, tak terlalu sayang memang, paling tidak tak sebesar rasa sayangku waktu itu, tapi dengan jangka waktu setahun sudah lebih dari cukup untuk membekaskan ragam memori aku dengannya yang sekarang harus kukubur dalam-dalam. Dan bagiku itu butuh waktu. Mau seberapapun berartinya ia dalam hidupku, sayang atau tidak kek, tapi semua yang tadinya ada menjadi tidak ada, hadir jadi tidak hadir, biasa menjadi tidak biasa, semuanya emang butuh proses.
Tapi kenapa perasaan ini muncul? Bukankah ini yang kuinginkan? Lepas dari kurungan tuduhan, fitnahan dan situasi yang selalu memojokkanku. Ah, mungkin hanya masalah waktu, aku akan bisa melaluinya, toh aku yang menginginkannya tapi kenapa ada rasa tak senang menghinggapiku ketika mendengar selentingan ia sudah menemukan penggantiku. Cemburukah aku?
Ah, mana mungkin kan kamu cemburu untuk orang yang dengan mudahnya berpaling darimu setelah tak lagi bersamamu? Sisi hatiku berkata demikian.
Telepon dia karena kamu masih sayang padanya, jangan gengsi! Timpal sudut hatiku yang lain.
Ngapain juga telepon, masih ingat kan ketika kamu terakhir kali meneleponnya ia sedang bersama orang lain. Apa kau akan jatuh ke lubang yang sama? Lupakan dia! Ingat saja semua kejelekannya padamu!
Yah ... cara paling jitu untuk cepat melupakan seseorang kan dengan mengingat kejelekan-kejelekan orang tersebut?
Yah, ingatlah kejelekan-kejelekannya! Dia tak mau dikekang, tapi dia mengekangmu. Dia tau semua teman-temanmu, tapi kau tak pernah tau siapa teman-teman ngobrolnya di dunia maya. Dia menyuruhmu untuk selalu terbuka, tapi ia selalu berahasia. Kalo itu yang dikatakannya serius, apa yang begitu itu yang dinamakan hubungan serius?
Arrgghhh ... tidakkk!!! Otakku teracuni suara-suara yang bersahutan dari dalam diriku sendiri.
* # * # *
Baru saja akan kutekan tombol send di hapeku ketika tepat bersamaan benda elektronik itu berdering. Kamu.
“Hallo, apa kabar?” sapamu ramah seolah tak ada apa-apa sebelumnya.
Tuh kan, liat saja, nada suaranya sok innocent begitu. Mending putus! Putus! Putus!
“Hei, kok malah diam?” teguranmu membuyarkan lamunanku.
“Kamu nggak salah pencet nomer kan?” godaku padanya. Terus terang aku masih agak gondok.
“Kok gitu sih ngomongnya!” Nada suaramu terdengar tak senang. “Di telpon baik-baik malah nyolot”
Pasti dia salah pencet nomer atau kalo gak dia gak diperhatiin tuh ama gebetan barunya, makanya dia hubungi kamu lagi. Beberapa hari ini kan dia sudah nggak hubungi kamu gara-gara orang baru itu, tapi sekarang dia mulai hubungi kamu lagi pasti ada udang dibalik rempeyek!
Sudah, hilangkan gengsimu!
Suara-suara itu beradu dalam benakku.
Arrgghhh ... pusing! Kututup telingaku dengan kedua tangan. Suara-suara itu lenyap.
“Tau ga, tadi tepat sebelum kamu telpon, aku mau kirim sms juga lho ke kamu!”
“Benarkah?” tanyamu tak percaya.
“Iya, kok kita sehati ya, aku mau telpon, kamu mau sms,”
“Tapi kenapa kita sehatinya setelah status kita sudah bukan sepasang kekasih?”
Arrgghhh!!!!!
Dua manusia.
Dua hati.
Dua pikiran.
Dua karakter.
Kalau tidak tanpa perbedaan, apa kata dunia???
“Arrgghhh!!! Kenapa aku jadi mellow begini!” gerutuku kesal. “Kenapa harus perasaan ini lagi?” umpatku dalam-dalam. Aku pernah mengalami perasaan ini sekitar dua tahun lalu dan sekarang aku terjebak dalam perasaan yang sama. “Ah, bodoh atau tolol aku ini!!” makiku tak henti-henti.
PUTUS! Aku mengambil keputusan ini sebagai jalan terakhir untuk lepas dari perbedaan dan konflik tak berujung ini. Dan kondisi sesudahnya lah yang membuatku mengecap kembali pahitnya menjalani waktu yang seakan lamban bergulir. Meski untuk yang sekarang ini tidak separah waktu itu tapi tetap saja, mau tak mau, suka tak suka, aku seolah dibawa kebali ke masa lalu. Beruntung rasa sesak, insomnia mendadak dan kelakuan seperti orang “kurang waras” selama berbulan-bulan gak masuk itungan kali ini. Hanya rasa kehilangan, dari yang tadinya ada menjadi tiada, yang tadinya biasa menjadi tak biasa, itu yang harus kulewati.
Meski sudah dikategorikan sayang, tak terlalu sayang memang, paling tidak tak sebesar rasa sayangku waktu itu, tapi dengan jangka waktu setahun sudah lebih dari cukup untuk membekaskan ragam memori aku dengannya yang sekarang harus kukubur dalam-dalam. Dan bagiku itu butuh waktu. Mau seberapapun berartinya ia dalam hidupku, sayang atau tidak kek, tapi semua yang tadinya ada menjadi tidak ada, hadir jadi tidak hadir, biasa menjadi tidak biasa, semuanya emang butuh proses.
Tapi kenapa perasaan ini muncul? Bukankah ini yang kuinginkan? Lepas dari kurungan tuduhan, fitnahan dan situasi yang selalu memojokkanku. Ah, mungkin hanya masalah waktu, aku akan bisa melaluinya, toh aku yang menginginkannya tapi kenapa ada rasa tak senang menghinggapiku ketika mendengar selentingan ia sudah menemukan penggantiku. Cemburukah aku?
Ah, mana mungkin kan kamu cemburu untuk orang yang dengan mudahnya berpaling darimu setelah tak lagi bersamamu? Sisi hatiku berkata demikian.
Telepon dia karena kamu masih sayang padanya, jangan gengsi! Timpal sudut hatiku yang lain.
Ngapain juga telepon, masih ingat kan ketika kamu terakhir kali meneleponnya ia sedang bersama orang lain. Apa kau akan jatuh ke lubang yang sama? Lupakan dia! Ingat saja semua kejelekannya padamu!
Yah ... cara paling jitu untuk cepat melupakan seseorang kan dengan mengingat kejelekan-kejelekan orang tersebut?
Yah, ingatlah kejelekan-kejelekannya! Dia tak mau dikekang, tapi dia mengekangmu. Dia tau semua teman-temanmu, tapi kau tak pernah tau siapa teman-teman ngobrolnya di dunia maya. Dia menyuruhmu untuk selalu terbuka, tapi ia selalu berahasia. Kalo itu yang dikatakannya serius, apa yang begitu itu yang dinamakan hubungan serius?
Arrgghhh ... tidakkk!!! Otakku teracuni suara-suara yang bersahutan dari dalam diriku sendiri.
* # * # *
Baru saja akan kutekan tombol send di hapeku ketika tepat bersamaan benda elektronik itu berdering. Kamu.
“Hallo, apa kabar?” sapamu ramah seolah tak ada apa-apa sebelumnya.
Tuh kan, liat saja, nada suaranya sok innocent begitu. Mending putus! Putus! Putus!
“Hei, kok malah diam?” teguranmu membuyarkan lamunanku.
“Kamu nggak salah pencet nomer kan?” godaku padanya. Terus terang aku masih agak gondok.
“Kok gitu sih ngomongnya!” Nada suaramu terdengar tak senang. “Di telpon baik-baik malah nyolot”
Pasti dia salah pencet nomer atau kalo gak dia gak diperhatiin tuh ama gebetan barunya, makanya dia hubungi kamu lagi. Beberapa hari ini kan dia sudah nggak hubungi kamu gara-gara orang baru itu, tapi sekarang dia mulai hubungi kamu lagi pasti ada udang dibalik rempeyek!
Sudah, hilangkan gengsimu!
Suara-suara itu beradu dalam benakku.
Arrgghhh ... pusing! Kututup telingaku dengan kedua tangan. Suara-suara itu lenyap.
“Tau ga, tadi tepat sebelum kamu telpon, aku mau kirim sms juga lho ke kamu!”
“Benarkah?” tanyamu tak percaya.
“Iya, kok kita sehati ya, aku mau telpon, kamu mau sms,”
“Tapi kenapa kita sehatinya setelah status kita sudah bukan sepasang kekasih?”
Arrgghhh!!!!!
Dua manusia.
Dua hati.
Dua pikiran.
Dua karakter.
Kalau tidak tanpa perbedaan, apa kata dunia???
Sunday, August 3, 2008
Tentang Dia
SEMUA TAK SAMA
By PADI
Dalam benakku lama tertanam
Sejuta bayangan dirimu
Redup terasa cahaya hati
Mengingat apa yang t'lah kau berikan
Waktu berjalan lamban mengiring
Dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah, aku tertahan
Dalam persimpangan masa silamku
Coba tuk melawan
Getir yang harus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan
Aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku
Semua tak sama, tak pernah sama
Apa yang kusentuh, apa yang kukecup
Sehangat pelukmu, selembut belaimu
Tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu
Apalah arti hidupku ini
Memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh
Lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Tak bisa, sungguh tak bisa
Mengganti dirimu dengan dirinya
Sampai kapan ku harus bertahan
Sampai kapan ku tetap tenggelam
Sampai kapan harus ku terlepas
Buka mata dan hatiku relakan semua...
Hmm...mendengar lagu ini aku jadi teringat si ida, teman kerjaku dulu waktu aq di Jakarta. Ia menjadikan lagu ini sebagai lagu wajib dengarnya setelah patah hati dari laki-laki yang teramat sangat dicintainya. Bahkan sampai kini pun ia "menghindari" lagu ini dengan alasan tak ingin teringat kenangan yang masih membekas erat dalam benaknya meski tlah hadir laki-laki lain silih ganti.
Kalo dipikir-pikir terdengar konyol memang, cuma lagu aja
kok bisa sampe segitunya, tapi yah..apa sih yang tidak bisa dilakuin dalam hidup. Kadang hanya dengan lagu aja sudah bisa bikin hati arti yang dalem banget bagi seseorang
Beberapa hari lalu entah kenapa aku tiba-tiba mimpiin kamu.
"Tumben!' pekikku esok paginya ketika kuputar rekaman alam bawah sadarku semalam. Pasalnya, sudah lama aku tak ada kontak lagi dengan kamu.
Untukmu... Moga mimpiku itu hanya sebatas bunga tidurku... Hope u fine there, hahh!!
By PADI
Dalam benakku lama tertanam
Sejuta bayangan dirimu
Redup terasa cahaya hati
Mengingat apa yang t'lah kau berikan
Waktu berjalan lamban mengiring
Dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah, aku tertahan
Dalam persimpangan masa silamku
Coba tuk melawan
Getir yang harus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan
Aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku
Semua tak sama, tak pernah sama
Apa yang kusentuh, apa yang kukecup
Sehangat pelukmu, selembut belaimu
Tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu
Apalah arti hidupku ini
Memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh
Lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Tak bisa, sungguh tak bisa
Mengganti dirimu dengan dirinya
Sampai kapan ku harus bertahan
Sampai kapan ku tetap tenggelam
Sampai kapan harus ku terlepas
Buka mata dan hatiku relakan semua...
Hmm...mendengar lagu ini aku jadi teringat si ida, teman kerjaku dulu waktu aq di Jakarta. Ia menjadikan lagu ini sebagai lagu wajib dengarnya setelah patah hati dari laki-laki yang teramat sangat dicintainya. Bahkan sampai kini pun ia "menghindari" lagu ini dengan alasan tak ingin teringat kenangan yang masih membekas erat dalam benaknya meski tlah hadir laki-laki lain silih ganti.
Kalo dipikir-pikir terdengar konyol memang, cuma lagu aja
kok bisa sampe segitunya, tapi yah..apa sih yang tidak bisa dilakuin dalam hidup. Kadang hanya dengan lagu aja sudah bisa bikin hati arti yang dalem banget bagi seseorang
Beberapa hari lalu entah kenapa aku tiba-tiba mimpiin kamu.
"Tumben!' pekikku esok paginya ketika kuputar rekaman alam bawah sadarku semalam. Pasalnya, sudah lama aku tak ada kontak lagi dengan kamu.
Untukmu... Moga mimpiku itu hanya sebatas bunga tidurku... Hope u fine there, hahh!!
Hanya Inginku
Miris kutatapmu berbalut duka
Sendu tiada daya
Kau tegarkan saat ingin sapa
Tanpa ekspresi, tanpa kata
Ku tak tau kan berujar apa
Terpekur sendiri berjubah sepi
Gugah emosi raba simpati
Manik mata itu ... Sunyi
Tak berisi
Bersandar di dinding kering, pucat pasi
Meski naluri ingin berkata:
Kan kuberikan dada tuk hapus lara
Bila sanggup ingin kurasakan jua
Bagikanku lara yang sama
Namun aku bukan siapa-siapa
Hanya pemuja cinta berkelana
Kutinggalkanmu
Kendati tak rela kalbuku
Ekor mataku menatapmu...
Menatap kehampaan di wajah kecil itu
Menatap kekosongan matamu
Dan harap angin kan hembuskan pesanku
Jabarkan wewangian yang mati bisu
Tak pernah terucap kelu lidahku
Aku menyayangimu...
Kan kutanam setumpuk impian asa
Moga kelak berbuah nyata
Mengapit pagi dan malam bersama
Walau untuk sehari saja
Sendu tiada daya
Kau tegarkan saat ingin sapa
Tanpa ekspresi, tanpa kata
Ku tak tau kan berujar apa
Terpekur sendiri berjubah sepi
Gugah emosi raba simpati
Manik mata itu ... Sunyi
Tak berisi
Bersandar di dinding kering, pucat pasi
Meski naluri ingin berkata:
Kan kuberikan dada tuk hapus lara
Bila sanggup ingin kurasakan jua
Bagikanku lara yang sama
Namun aku bukan siapa-siapa
Hanya pemuja cinta berkelana
Kutinggalkanmu
Kendati tak rela kalbuku
Ekor mataku menatapmu...
Menatap kehampaan di wajah kecil itu
Menatap kekosongan matamu
Dan harap angin kan hembuskan pesanku
Jabarkan wewangian yang mati bisu
Tak pernah terucap kelu lidahku
Aku menyayangimu...
Kan kutanam setumpuk impian asa
Moga kelak berbuah nyata
Mengapit pagi dan malam bersama
Walau untuk sehari saja
Sebuah Gengsi
Bercerita...
Bercengkrama dalam perhelatan aura
Diriku dengan kemelut jiwa
Menanti gema pantul untaian nada
Nyanyikan bait kalbu semestinya
Ingkari nurani memang tak mudah
Kini kucoba melampauinya
Menantang dunia, aku tak punya rasa
Dada sesak terbelit cinta
Mainkan peran bintang layar kaca
Tutupi kehendak angan manipulasi kata
Menahan himpitan berjuta rasa
Ingin lari tuk kata sejujurnya
Aku tak bisa ...
Separuh hatiku melarangnya
Karang es menjulang menengadah
Meraung-raung melilit raga
Kaku... Berlaku bertutur kata
Sajikan kepalsuan kala bersua
Kebisuan jadi alternatifnya
Kulepas merpati di hati
Jawaban tuk tentramkan diri
Bercengkrama dalam perhelatan aura
Diriku dengan kemelut jiwa
Menanti gema pantul untaian nada
Nyanyikan bait kalbu semestinya
Ingkari nurani memang tak mudah
Kini kucoba melampauinya
Menantang dunia, aku tak punya rasa
Dada sesak terbelit cinta
Mainkan peran bintang layar kaca
Tutupi kehendak angan manipulasi kata
Menahan himpitan berjuta rasa
Ingin lari tuk kata sejujurnya
Aku tak bisa ...
Separuh hatiku melarangnya
Karang es menjulang menengadah
Meraung-raung melilit raga
Kaku... Berlaku bertutur kata
Sajikan kepalsuan kala bersua
Kebisuan jadi alternatifnya
Kulepas merpati di hati
Jawaban tuk tentramkan diri
Saturday, August 2, 2008
Impian Semu
Tatkala kuterpaku sepi
Terlintas bayangmu temani diri
Menjelma bak pujaan hati
Yang t'lah lama kurindui
Oh Tuhan ... Benarkah rasa hati ini
Benarkah aku telah jatuh hati?
Oh sang pecinta...
Kini kurasa gelora kalbuku
Namun lidahku kelu bila dekatmu
Aku tak tau kenapa begitu
Apakah pertanda aku menyayangmu?
Kala sosokmu di depan wajah
Getar di dada kian membara
Meronta tuk berkata
Oh ... Aku telah jatuh cinta!
Oh hujan .. Bantulah aku tuk buatnya mengerti
Bentangkan pelangi berukir rahasia diri
Tentang rasa hati yang bersemi
Tentang penantian tuk lewati waktu berganti
Dengan senyum tawa sepanjang hari
Bersama makhluk Tuhan paling sensi
Yang slama ini kusayangi
Sembilu tertancap di kalbu
Mengharapmu dalam satu
Menyayang yang bukan milikku
Hanya asaku ingin bersamamu
Menatapmu jauh kendati kau di hadapku
Menikmati senyum dan semua tentangmu
Hanya berbatas impianku yang semu
Terlintas bayangmu temani diri
Menjelma bak pujaan hati
Yang t'lah lama kurindui
Oh Tuhan ... Benarkah rasa hati ini
Benarkah aku telah jatuh hati?
Oh sang pecinta...
Kini kurasa gelora kalbuku
Namun lidahku kelu bila dekatmu
Aku tak tau kenapa begitu
Apakah pertanda aku menyayangmu?
Kala sosokmu di depan wajah
Getar di dada kian membara
Meronta tuk berkata
Oh ... Aku telah jatuh cinta!
Oh hujan .. Bantulah aku tuk buatnya mengerti
Bentangkan pelangi berukir rahasia diri
Tentang rasa hati yang bersemi
Tentang penantian tuk lewati waktu berganti
Dengan senyum tawa sepanjang hari
Bersama makhluk Tuhan paling sensi
Yang slama ini kusayangi
Sembilu tertancap di kalbu
Mengharapmu dalam satu
Menyayang yang bukan milikku
Hanya asaku ingin bersamamu
Menatapmu jauh kendati kau di hadapku
Menikmati senyum dan semua tentangmu
Hanya berbatas impianku yang semu
Ketika Rindu...
Ketika rindu menyapa raga
Jalinkan mimpi bertautan tiara
Rajut cerita bermuara bahagia
Jejali hari bak mantra guna-guna
Tuk songsong penantian tak bermakna
Ketika rindu menuai sepi
Kunanti pelangi di terik mentari
Tinggalkan sebongkah obsesi
Terombang-ambing dalam ilusi
Kulihat kunang-kunang
Dalam bentuk semu tak berjenjang
Memukau bercahaya terang
Dan kuminta tuk datang
Saat langit penuh bintang
Ditengah kemelut bersimpang
Oleh seorang yg kurindu terbayang
Tuk sejenak lupakan, riang-riang
Dambamu tuk dekat di sanubari
Impikanmu tuk bunuh sepi
Abadikan rasa hati yang takkan pernah mati
Nobatkan kisah cinta yang tak berpengganti
Jalinkan mimpi bertautan tiara
Rajut cerita bermuara bahagia
Jejali hari bak mantra guna-guna
Tuk songsong penantian tak bermakna
Ketika rindu menuai sepi
Kunanti pelangi di terik mentari
Tinggalkan sebongkah obsesi
Terombang-ambing dalam ilusi
Kulihat kunang-kunang
Dalam bentuk semu tak berjenjang
Memukau bercahaya terang
Dan kuminta tuk datang
Saat langit penuh bintang
Ditengah kemelut bersimpang
Oleh seorang yg kurindu terbayang
Tuk sejenak lupakan, riang-riang
Dambamu tuk dekat di sanubari
Impikanmu tuk bunuh sepi
Abadikan rasa hati yang takkan pernah mati
Nobatkan kisah cinta yang tak berpengganti
Friday, August 1, 2008
Just A Memory
Jika dawai bukanlah gitar,
Lalu apa bunyi sang gitar?
Jika cintamu tlah tak berpijar,
Lalu apa hati ini nak kejar?
Bukan raga yang nak kau gerogoti
Bukan lelah jiwa
Tak juga hati yang tlah mati
Benak akanmu yang tak bercelah
Kau senyumkanku sesaat sebelum layu
Aku terlanjur mencintamu
Mendamba dalam keharuman semu
Luruh...
Lalu apa bunyi sang gitar?
Jika cintamu tlah tak berpijar,
Lalu apa hati ini nak kejar?
Bukan raga yang nak kau gerogoti
Bukan lelah jiwa
Tak juga hati yang tlah mati
Benak akanmu yang tak bercelah
Kau senyumkanku sesaat sebelum layu
Aku terlanjur mencintamu
Mendamba dalam keharuman semu
Luruh...
Subscribe to:
Posts (Atom)